SEPUTAR ILMU HADIS

Desember 29, 2010 zunlynadia

Dalam hirarkis sumber ajaran Islam, posisi Hadis menempati urutan ke dua setelah al-Qur’an.  Posisi hadis yang seperti itu karena fungsinya sebagai tibyanan atau penjelas bagi hal-hal yang memang belum dijelaskan secara terperinci dalam al-Qur’an. Sebagaimana kita ketahui, bahwa al-Qur’an adalah firman Allah yang masih bersifat global. Pesan-pesan dan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh al-Qur’an masih sangat umum dan tidak merinci secara praktis. Karena itu, dibutuhkan sebuah penjelas atau perinci terhadap yang umum itu sehingga mudah dipahami oleh umat Islam. Nah, merinci dan menjelaskan keglobalan al-Qur’an itulah yang dilakukan oleh Hadis.

Sedangkan dalam struktur hukum Islam, posisi Hadis juga tidak kalah urgennya dengan al-Qur’an. Hadis menjadi sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Artinya, bila suatu masalah itu tidak bisa ditemukan dalil-dalilnya dalam al-Qur’an, maka hendaklah dicarinya di dalam Hadis. Sebagaimana dalam firman Allah: “Ta’atlah engkau kepada Allah dan kepada Rasulmu dan kepada Ulil Amri (pemimpinmu)….”. Ayat ini bermakna bahwa kita harus merujuk pada al-Qur’an dalam menyelesaikan masalah, akan tetapi bila dalam al-Qur’an tidak ada, maka merujuklah kepada Hadis Rasul, dan bila dalam Hadis Rasul tidak ada, maka mintalah pertimbangan kepada pimpinanmu.

Melihat posisi Hadis yang begitu penting seperti di atas, maka urgensi mempelajarai Hadis sebenarnya sama urgennya dengan mepelajari al-Qur’an. Selain alasan-alasan  yang menyangkut keistimewaan posisi Hadis di atas, sebenarnya ada alasan-alasan yang tak kalah pentingnya kenapa kita perlu mempelajari Hadis. Alasan-alasan itu adalah menyangkut  orisinalitas sebuah hadis. Berbeda dengan al-Qur’an yang sudah dijaga keasliannya oleh Allah, maka Hadis sebenarnya berpotensi mengalami pemalsuan. Karena itu, problem yang selalu muncul dan senantiasa menjadi perdebatan dalam ilmu hadis adalah menyangkut orisinalitas. Problem orisinalitas ini sebenarnya hendak mempertanyakan apakah sebuah hadis itu benar-benar bersumber dari Nabi atau tidak? Karena itu, dalam ilmu Hadis pasti akan ditemukan sebuah metode yang disebut dengan kritik sanad dan kritik matan. Kritik sanad adalah untuk menguji ketersambungan sanad sebuah hadis beserta kualifikasi-kualifikasi para perawynya, sedangkan kritik matan bertujuan untuk menguji keaslian sebuah materi hadis (matan hadis) apakah ia benar-benar bersumber dari nabi atau tidak.

Dengan demikian, di antara alasan yang paling pokok dari urgensi mempelajari ilmu Hadis adalah karena hadis itu statusnya bermacam-macam; ada yang shahih, hasan dan dha’if.. Dan di antara bermacam-macam hadis itu tidak semuanya bisa dijadikan sumber ajaran Islam apalagi sumber hukum Islam. Suatu contoh, Hadis-hadis Dha’if, menurut sebagian besar Ulama, tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum Islam. Ia hanya bisa dijadikan sebagai rujukan bagi perilaku-perilaku keseharian kita yang tidak terkait dengan hukum. Seperti keutaman makan, tidur, berjalan, dan sebagainya. Yang bisa dijadikan sebagai sumber hukum hanyalah hadis yang benar-benar berstatus shahih dan bersumber dari Nabi Muhammad. Persoalan-persoalan seperti inilah yang kerap kali tidak banyak diketahui oleh umat Islam, sehingga tidak sedikit Hadis dha’if yang dijadikan sebagai sumber hukum Islam dan Hadis Shahih tidak dijadikan sebagai rujukan apapaun.

Hal lainnya yang menjadi alasan kenapa kita penting mempelajari ilmu Hadis adalah karena sebagian Hadis ada yang memiliki asbabul wurud (sebab-sebab turunnya Hadis). Secara fungsional Asbabul wurud Hadis berguna untuk: 1). Menolong dalam memahami dan menafsirkan pesan-pesan yang terkandung dalam Hadis. Karena sebagaimana diketahui bahwa pengetahuan tentang sebab-sebab terjadinya sesuatu itu merupakan sarana untuk mengetahui musabbab (akibat) yang ditimbulkannya. Seseorang tidak mungkin mengetahui penafsiran suatu Hadis secara tepat tanpa mengetahui sebab-sebab dan keterangan-keterangan tentang latar belakang suatu Hadis yang bersangkutan. 2). Untuk mengetahui hikmah-hikmah ditetapkannya sebuah syariah hukum. Dan 3). Untuk mentakhsiskan (merinci) suatu hukum yang bisa jadi bersifat global dalam sebuah Hadis.

Oleh sebab itu, urgensi mempelajari ilmu Hadis semakin relevan karena ternyata dalam sebuah Hadis itu terdapat berbagai macam problem yang tidak sederhana. Kalau kita coba sederhanakan, alasan-alasan yang mendorong kita perlu mempelajari ilmu Hadis itu adalah karena:

    1. Hadis sebagai sumber pedoman kedua dalam agama Islam setelah al-Qur’an
    2. Hadis menjadi sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an
    3. Terdapat berbagai macam jenis Hadis Dha’if yang perlu kita hindari untuk digunakan sebagai sumber hukum Islam.
    4. Potensi pemalsuan terhadap Hadis cukup besar
    5. Proses periwayatan sebuah Hadis melalui waktu yang panjang dan melibatkan banyak perawy sehingga kita perlu menyelidiki mana Hadis yang betul-betul Sahih
    6. Ada Hadis-hadis tertentu yang memiliki Asbabul Wurud

Keenam alasan di atas adalah sejumlah alasan kenapa kita perlu mempelajari ilmu Hadis. Namun demikian, keenam alasan di atas bisa jadi akan mengalami perkembang sesuai kebutuhan orang yang hendak mempelajari ilmu Hadis. karena sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam mempelajari ilmu Hadis itu terdapat berbagai macam cabang ilmunya. Namun secara garis besar, ilmu Hadis itu terbagi dua, yaitu, ilmu Hadis riwayah dan Ilmu Hadis Dirayah.

Ilmu Hadis Riwayah adalah suatu ilmu pengetahuan untuk mengetahui cara-cara periwayatan, pemeliharaan dan pembukuan Hadis Nabi. Sedangkan ilmu Hadis Dirayah adalah kaidah-kaidah untuk mengetahui hal-ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan Hadis, sifat-sifat Rawi dan lain sebagainya. Jadi, obyek ilmu Hadis riwayah adalah bagaimana sebuah Hadis itu diterima dan disampaikan kepada orang lain. Terlepas matannya Hadis itu ada yang janggal atau beri’llat, itu bukan wilayah kajian ilmu Hadis riwayah. Sementara itu, obyek kajian ilmu Hadis dirayah adalah meneliti kelakuan para rawy dan keadaan marwynya (sanad dan matannya). Manfaat ilmu ini adalah untuk menetapkan maqbul (diterima) atau mardud (ditolaknya) suatu Hadis sehingga benar-benar bisa diamalkan.

Kedua ilmu di atas secara metodologis masih bersifat umum. Selain kedua ilmu tersebut masih ada cabang-cabang ilmu lainnya yang secara khusus mempelajari aspek-aspek tertentu dalam ilmu Hadis. Misalkan ilmu-ilmu yang berfokus pada sanad seperti:

  1. Ilmu Rijalil Hadis yaitu ilmu pengetahuan yang dalam pembahasannya membicarakan hal ihwal dan sejarah kehidupan para rawy dari golongan sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Ilmu Rijalil Hadis sendiri terbagi menjadi 4 kelompok, yaitu:
  2. Ilmu Tawarihi’r Ruwah yaitu ilmu yang membahas tentang kapan dan dimana seorang rawy dilahirkan dan dari siapa dia menerima Hadis, siapa yang pernah mengambil Hadis darinya, serta kapan dan dimana dia itu wafat.
  3. Ilmu Jarh wa Ta’dil adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang caranya memberikan kritikan terhadap Aib seorang rawy dan cara memberikan pujian bagi keunggulan rawy.
    1. Ilmu Thabaqatir Ruwah, yaitu ilmu yang membahas tentang pengelompokan para rawy ke dalam suatu angakatan atau generasi tertentu.
    2. Ilmu Mu’talif wal Mukhtalif, yaitu suatu ilmu yang membahas tentang persamaan bentuk tulisan dari nama asli, nama samaran, dan nama keturunan para rawy, namun bunyi bacaannya berlainan.
    3. Ilmu Muttafiq wal Muftariq, yaitu suatu ilmu yang membahas tentang persamaan bentuk tulisan dan bunyi bacaannya akan tetapi berlainan orangnya.
    4. Ilmu almubhamat yaitu suatu ilmu yang membahas nama-nama rawy yang tidak disebut dengan jelas.

Ilmu-ilmu yang berpangkal pada matan seperti:

  1. Ilmu Gharibil Hadis ialah ilmu pengetahuan untuk mengetahui lafadz-lafadz dalam matan Hadis yang sulit dan sukar difahami karena jarang sekali digunakannya.
  2. Ilmu Asbabi Wurudil Hadis ialah ilmu pengetahuan yang menerangkan tentang sebab-sebab turunnya sebuah Hadis.
  3. Ilmu Tarikhil Mutun. Bila asbabul wurud itu titik beratnya membahas latar belakang dan sebab-sebab lahirnya Hadis, maka tarikhil mutun ini menitik beratkan pembahasannya kepada kapan atau di waktu apa Hadis itu diucapkan atau perbuatan itu dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.
  4. Ilmu Nasikh wa Mansukh ialah ilmu pengetahuan yang membahas tentang Hadis yang datang belakangan sebagai penghapus terhadap ketentuan hukum yang berlawanan dengan kandungan Hadis yang datang sebelumnya.
  5. Ilmu Mukhtaliful Hadis yaitu ilmu yang membahas Hadis-hadis yang secara lahir nampak bertentangan dengan Hadis yang lainnya, padahal sebenarnya kalau mau diteliti tidak ada pertentangan di dalamnya. Yang menjadi obyek ilmu ini adalah Hadis-hadis yang nampak berlawanan untuk kemudian dikompromikan kandungannya, baik dengan cara membatasi (taqyid) kemutlakannya maupun dengan mengkhususkan (takhsis) keumumannya dan lain sebagainya.

Sedangkan ilmu yang berfokus pada sanad dan matan sekaligus adalah: Ilmu ‘Ilalil Hadis yaitu sebuah ilmu pengetahuan yang membahas sebab-sebab yang samar-samar serta tersembunyi dari segi membuat kecacatan sebuah Hadis. Seperti memuttashilkan (mengganggap bersambung) sanad suatu hadis yang sebenarnya sanad itu mungkhati’ (terputus), merafa’kan (mengangkat sampai ke Nabi) berita atau kabar yang mauquf (yang hanya sampai kepada sahabat), menyisipkan suatu Hadis pada Hadis yang lain, serta meruwetkan sanad dengan matannya atau sebaliknya.

Sejumlah cabang ilmu di atas adalah alat yang dibuat ulama (muhaddisin) untuk mempelajari Hadis Nabi pada saat masa hidup ulama dahulu. Kini, para ulama kontemporer sudah banyak juga yang melengkapi ilmu Hadis dengan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan masa kini. Para ulama masa kini tidak segan-segan memakai pendekatan sosiologi, antropologi, sejarah, linguistik, hermeneutika, politik dan sebagainya dalam mempelajari Hadis Nabi. Pendekatan politik misalkan berusaha menelusuri apakah seorang rawy itu pernah terlibat pada urusan politik atau tidak. Karena bila ia pernah terlibat  dengan politik, maka bisa jadi Hadis-hadis yang diriwayatkannya ada yang bermuatan politis sehingga diragukan orisinalitasnya. Pendekatan politik ini nampaknya penting karena para sahabat yang nota bene banyak meriwayatkan Hadis itu juga tidak sedikit yang pernah menjadi panglima atau gubernur pada masa itu. Sehingga kepentingan-kepentingan politiknya dikhawatirkan akan terbawa dalam meriwayatkan sebuah Hadis.

Begitu pula dengan pendekatan sejarah juga amat penting untuk memahami konteks sejarah sosial budaya pada saat munculnya Hadis. Sejarah di sini adalah sejarah Nabi (sirah Nabawiyah) dan sejarah kebudayaan Arab pada masa lalu. Dengan mengetahui sejarah kebudayaan Arab masa lalu, kita bisa mengkaitkan sebuah Hadis dengan peristiwa-peristiwa atau kebiasaan-kebiasaan bangsa Arab pada saat itu. Misalkan tentang Jilbab. Jilbab sebanarnya adalah budaya masyarakat Arab yang sudah ada sejak lama. Ketika Islam datang, jilbab lalu diwajibkan oleh Islam untuk dipakai oleh perempuan muslim sehingga seolah-olah jilbab itu hanya keputusan Islam saja. Dengan mengetahui sejarah dan kebudayaan Arab pada saat itu kita bisa memahami dan memposisikan bahwa jilbab adalah bagian dari budaya Arab yang dilestarikan oleh agama Islam sehingga kini lebih dikenal sebagai pakaian muslim.

Beberapa pendekatan kontemporer dalam mempelajari Hadis Nabi di atas biasanya dipadu dengan pendekatan klasik dalam ilmu Hadis. Misalkan pendekatan asbabul wurud dipadukan dengan pendekatan sejarah kebudayaan Arab sehingga Hadis yang kita teliti benar-benar bisa diandalkan orisinalitasnya. Begitu pula dengan ilmu rijalil Hadis bisa dipadukan dengan pendekatan politik dalam melihat para erawy Hadis sehingga kredibilitas seorang perawy betul-betul bisa diketahui secara sempurna.

Selain kita  mempelajari hal ihwal tentang sanad dan matan Hadis, kita juga perlu mempelajari kitab-kitab Hadis yang tersebar ke dalam ribuan kitab Hadis. Mungkin kitab hadis yang kita kenal selama ini hanyalah kitab Shahih Bukhori dan Kitab Shahih Muslim. Padahal, terdapat ribuan kitab hadis yang dikarang oleh ribuan ahli Hadis (muhaddisin) dari berbagai negara dan masa.

 

Entry Filed under: Hadis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: