Sekolah bayi pentingkah?

Desember 27, 2010 zunlynadia

Saat ini orang tua memang di berikan banyak pilihan untuk menjadikam anaknya menjadi anak yang cerdas. Mulai dari sekolah bayi, taman bermain hingga fasilitas –fasilitas lain yang di sediakan untuk anak-anak dengan berbagai tawaran, mulai dengan model internasional dengan bahasa asing, hingga model Islamic yang menonjolkan segi keagamaan. Menyikapi hal ini hendaknya para orang tua bersikap bijak dalam memanfaatkan masa ke emasan (golden age). Tidak terkecoh dengan berbagai promosi program-program yang di tawarkan oleh sekolah, karena bagaimanapun saat ini sekolah juga merupakan salah satu industri pendidikan yang cukup besar mendatangkan income bagi pihak-puhak tertentu. Yang menjadi persoalan para orang tua saat ini adalah, kesadaran memanfaatkan sebaik-baiknya masa balita diartikan sebagai penyegeraan untuk memasukkan anak ke sekolah. Sekolah di anggap satu-satunya institusi yang bisa mencerdaskan dan memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Sehingga tidak heran jika sekolah-sekolah bayi pun marak dan cukup laris diminati oleh orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh dengan cerdas secara intelektual.

Usia bayi, (0-2 tahun) adalah usia dimana dia akan lebih baik menikmati masa-masa indahnya di rumah, mengenal budaya dan kondisi sekitarnya. Begitu juga ketika anak mulai menginjak 3 tahun, jika di rumah dia masih bisa mendapatkan waktu yang berkualitas, punya ruang sosialisasi yang baik, dan berada dalam lingkungan yang kondusif, maka sebenarnya dia akan lebih baik berada di rumah.

Banyak hal yang bisa di lakukan di rumah untuk bisa menstimulasi kemampuan sensorik dan motoriknya, diantaranya adalah[1]:

  1. Mengajak bayi bermain permainan yang melatih motoriknya seperti memanjat tangga untuk melatih visual motornya. Terbukti bahwa latihan akan membawa dampak positif.
  2. Memberi semangat dan respon positif pada tingkah laku eksploratifnya, hal ini menjadikannya lebih percaya diri dan berani untuk mengeksplorasi dunianya.
  3. Mengajak bayi Anda ke acara atau tempat di mana ia bisa bertemu orang lain. Kenalkan pula ia pada bayi lain, bayi sudah memiliki minat dan ketertarikan pada bayi lain.
  4. Sering membacakan cerita pada bayi, selain menumbuhkan minat baca, kemampuan bahasanya juga bertambah dengan mendengarkan berbagai macam kosakata baru. Selain itu jangan lupa untuk mengajaknya bicara.
  5. Memberikan mainan-mainan yang menstimulasi panca inderanya, seperti mainan berwarna-warni, bertekstur, berbagai bentuk dan ukuran. Berikan pula mainan yang merangsangnya untuk bergerak, seperti mengejar bola yang menggelinding.

Memberikan stimulasi dan lingkungan yang baik di rumah tidak hanya membuat bayi menjadi cerdas tetapi juga akan mendekatkan bayi dengan orang tuanya.

Tetapi hal berbeda di rasakan beberapa keluarga modern, dimana kedua orang tuanya juga sibuk dan tidak mempunyai waktu banyak untuk bercengkrama dengan buah hati, serta hidup di tengah lingkungan yang individualistik, sehingga tidak ada ruang sosialisasi yang penting bagi balita. Sekolah menjadi salah satu tempat alternatif untuk menjawab kebutuhan balita dalam hal sosialisasi. Yang menjadi persoalan saat ini adalah seringkali orang tua menyekolahkan anaknya yang masih batita untuk belajar berbagai hal seperti membaca dan menulis, sehingga sekolah yang seharusnya menjadi tempat bermain, berkreatifitas dan belajar bersosialisasi bagi anak justru akan membebani anak dengan berbagai pelajaran yang seharusnya masih dalam fase bermain dari pada belajar secara formal. Hal ini menjadikan anak jenuh dan bosan sehingga justru tidak baik bagi perkembangan anak pada masa selanjutnya.

Untuk itu bagi para orang tua, memasukkan sang buah hati ke sekolah bagi bayi atau batita harus betuk-betul dengan penuh pertimbangan. Apakah sekolah tersebut betul-betul menjawab kebutuhan anak untuk bersosialisasi dan berkreativitas atau malah sebaliknya?  Karenanya memilih sekolah menjadi hal yang cukup rumit karena meski saat ini banyak bermunculan berbagai sekolah untuk bayi dengan berbagai program yang ada, tetapi belum tentu dapat menjawab kebutuhan balita. Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam mencari sekolah untuk bayi atau batita, yakni[2]:

  1. Cari sekolah yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Tanyakan program yang ditawarkan di sekolah tersebut. Contoh; jika di rumah si kecil tidak punya kesempatan untuk bermain di luar ruang. Maka carilah sekolah yang banyak kegiatan di luar ruang, bermain pasir, main di rumput, main air, misalnya.
  2. Pastikan si kecil happy dan nyaman bersekolah di situ.
  3. Pastikan sanitasi di kelas dan sekolah baik.
  4. Tenaga pengajar sebaiknya selain memiliki latar belakang pendidikan anak usia dini, juga sudah dikaruniai anak. Pada umumnya mereka akan memiliki naluri keibuan, kepekaan, kehati-hatian, dan pemahaman akan kondisi bayi secara lebih baik. “Masalah-masalah seperti ini tidak bisa didapatkan di sekolah setinggi apa pun,” ujar Tari.
  5. Pastikan fasilitas pendukung “belajar”, terutama yang dibutuhkan si kecil, lengkap dan tercukupi dengan baik.
  6. Menjalin komunikasi dua arah secera intens dengan sekolah. Selalu cari tahu apa yang sudah diberikan sekolah kepada bayi, acara apa saja yang sudah dilakukan dan bagaimana perkembangan kondisi serta keadaan bayi dari hari ke hari.
  7. Tidak membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain. Justru yang harus dilakukan adalah mempertajam dan meng- uatkan kemampuannya, serta memperbaiki kekurangannya. Ingat tiap anak itu berbeda dan unik.
  8. Sasaran sekolah bayi adalah memberikan stimulasi sebanyak-banyaknya kepada anak, dan mengoptimalkan perkembangan sesuai dengan usia masing-masing anak dan bukan memberikan pelajaran yang hanya akan membebani sang anak. Jadi yang dilakukan di sekolah bayi adalah mengasah dan mengoptimalkan kemampuan motorik. Ini adalah hal pokok yang menjadi sasaran utama sekolah bayi. Bagaimanapun, perkembangan motorik di usia 0-1 tahun adalah hal yang utama. Dari motorik kasar hingga motorik halus. Selain itu merangsang panca- indra. Ini adalah pekerjaan yang juga harus dilakukan sebuah sekolah bayi. Sebab di usia ini pancaindra seorang manusia mulai berkembang, khususnya penglihatan, pendengaran, dan perabaan. Kemudian yang penting juga adalah melatih bayi bersosialisasi dengan lingkungan. Maksudnya adalah melatih bayi bisa menerima keadaan lingkungan, melihat banyak orang, mendengar suara-suara ramai, keras, kencang, misalnya.

[1] http://www.forumbebas.com/topik-Perlukah-Bayi-Sekolah

[2] http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=08398&rubrik=bayi

 

Entry Filed under: Parenting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: