Pentingnya Interaksi sosial bagi anak

Desember 27, 2010 zunlynadia

Interaksi sosial menjadi hal yang mutlak untuk di ajarkan pada anak semenjak dini. Hal ini untuk menyadarkan pada anak bahwa manusia hidup tidak akan lepas dari lingkungan sosial di sekitarnya dengan beragam persoalan yang ada. Interaksi sosial menurut ilmu sosiologi adalah bentuk yang nampak bila orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia saling mengadakan hubungan satu sama lain. Dengan demikian interaksi sosial adalah kunci dari kehidupan sosial karena tanpa adanya interaksi maka tidak akan ada kehidupan bersama. Interaksi sosial ini terwujud karena adanya kontak dan komunikasi[1].

Sebenarnya semenjak masih berada di dalam kandungan bayi sudah mempunyai cara sendiri untuk melakukan komunikasi dengan sang ibu melalui tendangan-tendangan kecil pada perut. Kemampuan komunikasi inipun terus berkembang sesuai dengan perkembangan usianya.  Ada beberapa faktor yang mendasari  interaksi sosial diantanya adalah: faktor imitasi, yakni kecenderungan untuk meniru atau mencontoh. Ini ada menjadi salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi interaksi sosial pada balita. Untuk orang tua harus menjadi supermodel atau contoh yang baik bagi sang buah hati karena tanpa melalui perkataan kecenderungan untuk meniru ini justru akan banyak berpengaruh pada karakter, cara pandang serta tingkah laku pada anak. Yang kedua adalah faktor sugesti adalah suatu proses mempengaruhi dari individu kepada individu yang lain. Masa kanak-kanak sebenarnya adalah masa yang cukup mudah dalam membentuk karakter anak. Karena pada masa ini anak belum punya pemikiran atau pertimbangan yang matang untuk menolak atau menerima suatu aturan tertentu. Dengan demikian, orang tua harus memanfaatkan masa-masa ini untuk membentuk suatu sikap yang baik, sehingga  anak akan terbiasa berlaku dengan baik juga. Faktor ketiga adalah faktor identifikasi yakni suatu kecenderungan yang tanpa disadari untuk menyamakan diri atau bertingkah laku yang sama dengan seperti yang dilakukan oleh orang lain. Seorang anak secara tidak langsung akan bertingkah laku sebagaimana lingkungan yang ada di sekitarnya. Terutama lingkungan terdekatnya dalam hal ini adalah orang tua. Sehingga tanpa disadari karakter seseorang akan terbentuk sesuai dengan lingkungannya. Faktor keempat adalah faktor simpati yaitu suatu sikap kecenderungan merasa dekat dan tertarik untuk mengadakan hubungan saling mengerti dan kerjasama dari pihak individu yang satu terhadap individu yang lain[2].  Orang tua yang bersikap simpatik akan lebih mudah mengarahkan anaknya, tanpa di paksa sang anakpun sudah merasa senang karena ada rasa simpatik.

Yang penting untuk di perhatikan oleh orang tua adalah bagaimana mengawal serta mengasah secara baik proses komunikasi dan interaksi sosial anak dengan lingkungan sekitarnya. Sebelum mengajarkan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, orang tua harus mengasah kemampuan komunikasi anak. Di mulai dari proses komunikasi yang baik dengan anggota keluarga terutama orang tuanya. Interaksi sosial pada anak juga bisa di asah melalui permainan-permainan. Permainan yang melatih anak untuk dapat bekerjasama satu sama lain.  Dalam hal ini permainan tradisional secara tidak langsung lebih banyak mengajarkan interaksi dan kerjasama yang baik. Berbeda dengan permainan modern yang membuat anak menjadi individualis dan tidak bisa bersosialisasi seperti game dan internet. Untuk itu orang tua harus lebih memperhatikan jika sang anak mulai banyak menghabiskan waktunya dengan permainan seperti itu. Banyak orang tua yang kurang menyadari hal ini karena satu sisi orang tua merasa nyaman dan aman jika anaknya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan game. Banyaknya kasus kriminalitas terkait dengan anak membuat para orang tua harus lebih ekstra hati-hati dalam menjaga dan merawat sang anak terutama jika harus berhubungan dengan dunia luar. Tapi ternyata di sisi lain, jika sang anak dibiarkan terus untuk tidak banyak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya dia akan menjadi anak yang individual dan tidak mempuyai rasa empati pada orang lain kelak jika dia dewasa.


[1] http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_sosiologi_dan_ilmu_sosial_dasar/bab3_proses-proses_sosial_dan_interaksi_sosial.pdf

[2] Ibid.,

Entry Filed under: Parenting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: