Mengembangkan kreativitas anak

Desember 27, 2010 zunlynadia

Kreativitas dibutuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitas harus dikembangkan sejak dini karena merupakan salah satu dari perilaku inteligen dan merupakan manifestasi dari proses kognitif. Banyak keluarga yang tidak menyadari bahwa sikap orangtua yang otoriter yang banyak melarang terhadap anak akan mematikan bibit-bibit kreativitas anak, sehingga ketika menjadi dewasa hanya mempunyai kreativitas yang sangat terbatas.

Kreativitas dan potensi anak seharusnya berkembang sejak kecil, dan masa usia pra-sekolah merupakan masa-masa yang paling efektif. Pada usia ini mereka memiliki kreativitas alami yang seringkali muncul dalam keinginan tahu yang besar, mereka sering bertanya, senang meniru dan tertarik menjajaki lingkungannya. Bahkan dalam permainan, anak pra-sekolah sudah dapat mengembangkan imajinasi dan potensi yang ada dalam dirinya. Pada saat-saat seperti inilah peranan orang-tua sangat besar dalam menyediakan sarana yang cocok, memberikan waktu dan perhatian yang besar bagi anak.

Penelitian yang dilakukan pada anak-anak yang berbakat dan orang- orang yang berprestasi ternyata menunjukkan bahwa mereka kebanyakan berasal dari keluarga yang kaya dengan bacaan, aktivitas-aktivitas yang merangsang pemikiran, juga orang-tua yang menekankan keingintahuan serta yang menerima keunikan pribadi setiap anak.

Di pihak lain kreativitas orang-tua sering bersangkut-paut dengan pemilihan jenis permainan anak-anak mereka. Memang memilih permainan yang edukatif merupakan tantangan yang tersendiri. Banyak orang-tua yang tidak terlatih, sehingga permainan-permainan edukatif yang mereka pilih justru menghilangkan bagian penting dari jiwa anak yang menikmati, bercanda dan bermain dengan riang gembira. Orang-tua seharusnya waspada bahwa tidak setiap alat permainan yang mahal mempunyai ndust edukatif yang sehat, sesuai dengan keunikan si anak dan fase pertumbuhan jiwanya[1].

Ada beberapa hal penting yang perlu di lakukan dan diperhatikan oleh orang tua yang menginginkan anaknya mempunyai kreativitas yang tinggi, diantaranya adalah[2]:

  1. Orang-tua harus mengenali keunikan pribadi setiap anak. Banyak anak yang tidak menaruh minat pada apa yang orang-tua anggap”sangat menarik.” Dalam hal ini orang-tua tidak perlu memaksakan kehendak mereka. Mungkin ada anak-anak yang lebih lambat dalam hal-hal tertentu. Biarkan secara natural selera mereka berkembang sendiri, karena sikap memaksa dari pihak orang-tua seringkali menghambat atau justru memperlambat keinginan si anak untuk belajar dengan memakai sarana-sarana yang baru.
  2. Orang-tua juga perlu konsisten dan menciptakan suasana yang kondusif bagi anak untuk belajar. Hal ini sebaiknya dimulai pada usia sedini mungkin, dan secara khusus pada usia 3-5 tahun di mana keinginan tahu (curiosity) anak sedang berkembang dan potensi kreativitas mereka siap untuk dikembangkan. Jangan sampai usia-usia kritis ini terlewatkan begitu saja, karena orang-tua seringkali tidak menyadari betapa pentingnya kehadiran mereka untuk merangsang kreativitas. Akibatnya, mereka baru sadar setelah anak masuk ke sekolah formal atau sekolah dasar dan potensi kreativitas anak yang sudah mulai menurun bahkan mandeg pada tahun-tahun setelah itu.
  3. Tidak dapat disangkali bahwa setiap orang-tua mengharapkan anak- anak dapat melakukan yang terbaik dan sukses di kemudian hari. Namun perlu disadari, seringkali keinginan ini membuat orang-tua melakukan tekanan yang berlebihan terhadap anak. Tekanan untuk membuat anak hebat, bahkan memaksakan kehendak agar anak-anaknya melebihi anak- anak lain, seringkali menjadi kebanggaan semu yang ada dalam batin orang-tua. Sukses orang-tua dianggap identik dengan sukses anak, sehingga banyak orang-tua yang cenderung selalu mencampuri dan mengambil alih tanggung jawab si anak. Dengan demikian orang-tua merebut inisiatif anak dengan menentukan apa yang mereka harus dipelajari, kapan, dan kepada siapa mereka harus belajar. Tanpa sadar mereka sendirilah yang sebenarnya menjadi sumber penghambat perkembangan kreativitas anak.
  4. Sebagai orang-tua jangan terlalu melindungi anak dan ini biasanya terjadi banyak pada anak pertama, sehingga kesempatan bagi dirinya untuk belajar justru berkurang. Mungkin anda tanpa sadar, seringkali memaksa anak menyesuaikan diri dengan imajinasi dan fantasi anda sebagai orang-tua.
  5. Setiap anak unik, jangan ndustryc-bandingkan. Apabila anda membandingkan dengan adiknya justru menghasilkan perasaan inferior sehingga ia merasa diri bodoh. Seringkali bagi anak-anak semacam ini orang-tua perlu untuk dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk supaya anak berani mencoba sesuatu yang baru. Anda dapat mulai lebih sering bermain dan berusaha untuk mensejajarkan diri dengannya. Keikutsertaan anda sebagai orang-tua akan dapat menciptakan semangat yang baru, dan ada keinginan untuk berpartisipasi. Setelah hal ini menjadi pola dalam dirinya anda dapat sedikit demi sedikit membiarkan anak mengembangkan kreativitasnya. Keberhasilan yang anda ungkapkan dalam bentuk pujian, dan dorongan seringkali menjadi perangsang untuk anak lebih berprestasi lagi.
  6. Orang tua harus mempunyai kedekatan emosi dengan anak. Anak yang kreatif membutuhkan kehangatan, perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Namun bukan ketergantungan emosional yang besar pada orang tuanya. Potensi kreatif anak akan terhambat jika anak lebih banyak diliputi oleh suasana emosi yang penuh permusuhan, penolakan dan rasa diasingkan.
  7. Orang tua harus memberikan penekanan pada prestasi, bukan angka. Orang tua mendorong dan memotivasi anak untuk mencapai prestasi tertinggi dan menghasilkan karya-karya terbaiknya. Tetapi orang tua tidak terlalu menekankan anak untuk mencapai nilai atau rangking tertinggi di kelasnya. Mereka lebih menekankan proses yang jujur dan bertanggungjawab, dari pada sekedar menekankan nilai tinggi tetapi hasil perbuatan curang.
  8. Orang tua harus aktif dan mandiri. Maksudnya orang tua menjadi model bagi anak sehingga anak mencontoh perilaku orang tuanya. Orang tua dari anak yang kreatif menunjukkan kepercayaan diri, tidak terlalu terpengaruh oleh status sosial dan tuntutan sosial yang hanya menekankan pada pencapaian materi. Mereka menunjukkan kemampuan terbaiknya pada anak dan sekaligus menunjukkan kreativitasnya pada anak. Sehingga menjadi jelas bahwa anak yang kreatif ikut dipengaruhi oleh orang tua yang kreatif pula.
  9. Menghargai kemandirian, artinya orang tua tidak memanjakan anak, terlalu over-protective pada anak, tidak terlalu membatasi kegiatan anaknya, namun mendorong anak untuk melakukan kegiatannya secara mandiri. Orang tua dari anak yang kreatif justru menginginkan anaknya untuk belajar mandiri, dan memberi kesempatan pada anak untuk melatih kemandiriannya.
  10. Menghargai pendapat anak dan mendorongnya untuk mengungkapkan.
  11. Memberi waktu kepada anak untuk berpikir, merenung dan berkhayal.
  12. Memperbolehkan anak mengambil keputusan sendiri. Dengan anak mengambil keputusannya sendiri, maka anak akan belajar bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
  13. Mendorong keingintahuan anak, untuk menjajaki dan mempertanyakan banyak hal. Orang tua menfasilitasi keingintahuan anak dengan memberikan informasi yang layak. Bisa dilakukan dengan memberikan buku-buku untuk dibacakan pada anak, bisa pula dengan mengajak anak ke objek yang ingin diketahuinya, misalnya ke museum biologi.
  14. Meyakinkan anak bahwa orang tua menghargai apa yang ingin dicobalakukan anak dan hasil akhirnya ini bisa dilakukan dengan memberikan anak kesempatan untuk melakukan eksperimennya secara aman.
  15. Menikmati keberadaannya bersama anak. Orang tua senang bersama anak dan menjalani komunikasi dua arah yang terbuka, empatis dan hangat.
  16. Menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan anak. Artinya orang tua mau membantu anak ketika anak membutuhkannya. Bukan dalam arti membantu secara penuh, tetapi mengarahkan anak. Kerja sama ini bisa ditunjukkan orang tua dengan mendukung kegiatan kreatif anak. Tetapi menyediakan waktu di kala anak membutuhkan saran-saran dari orang tuanya.

Memang tidak mudah menjadikan anak kreatif karena membutuhkan perhatian, komunikasi dan kerjasama yang baik antar orang tua dan anak. Yang perlu di perhatikan oleh orang tua adalah selalu mendampingi buah hati saat bermain, karena pada proses bermain itulah sebenarnya sang anak sedang belajar memahami sesuatu sembari berfikir dan mengembangkan kreativitas dan imajinasinya.


[1] http://lead.sabda.org/mengembangkan_kreatifitas_anak

[2] Ibid., liat juga http://syakira-blog.blogspot.com/2009/01/kreativitas-anak.html

 

Entry Filed under: Parenting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: