Mengajarkan anak untuk bisa mengelola rasa marah

Desember 27, 2010 zunlynadia

Rasa marah adalah keadaan emosi yang muncul karena keinginan yang dihambat atau rasa frustasi. Pada anak-anak, sumbernya bisa berasal dari konflik antara kebutuhan yang tidak terpenuhi, mengalami kekerasan fisik, konflik verbal (dikata-katai oleh teman, perang mulut dengan teman, dan lain lain) , mengalami penolakan atau dipaksa melakukan sesuatu yang tidak disukai.

Memahami rasa marah berhubungan dengan memahami emosi yang melatarinya. Kemampuan anak untuk memahami emosi, masih sangat terbatas, hingga orang tua harus berperan dalam membantu anak untuk memahaminya.

Mengolah rasa marah ini juga merupakan implementasi dari sifat sabar. Rasa marah adalah sifat manusiawi yang setiap orang pasti pernah marah. Namun sikap marah harus dapat di kelola dengan baik sesuai porsi dan tempatnya, karena dengan bisa mengelola marah maka tidak akan merugikan baik pada diri sendiri maupun orang lain, sebaliknya marah yang dapat di kelola dengan baik justru akan bermanfaat bagi diri untuk melatih kesabaran dan memahami orang lain secara lebih baik.

Hal-hal yang harus dipahami orang tua dalam melatih anak untuk mengelola marah antara lain adalah [1]:

Memori

Memori berkembang sejak masa kanak-kanak awal. Orang tua harus mengusahakan agar anak lebih dapat mengingat hal-hal atau aspek yang dapat menimbulkan kemarahan, sehingga orang tua dapat mewaspadai situasi-situasi atau pola interaksi yang dapat memicu kemarahan anak.

Sosialisasikan pada anak untuk mengembangkan cara-cara yang tidak agresif dalam mengekspresikan rasa marahnya (contoh; bila kakak kesal karena mainan di rusak oleh adik, ajarkan untuk tidak memukul adik tapi cukup berkata dengan tegas pada adik bahwa ia tidak boleh merusak mainan kakak) , dan kemudian bantu untuk selalu mengingat cara-cara tersebut ketika ia marah.

Bahasa

Anak kadang mengalami emosi senang, sedih ataupun marah. Orang tua harus bisa mengkondisikan anak agar selalu dapat mengkomunikasikan perasaan-perasaannya dengan ayah, ibu atau guru. Sebab hal itu akan membantunya memahami emosi dan apa yang sedang dirasakan. Dan juga akan membantu orang tua untuk mengenali apa yang dirasakan oleh anak.

Kontrol Diri

Kontrol diri berkaitan dengan kemampuan mengontrol dorongan, menunda keinginan dan mengatasi kekecewaan. Pada anak kemampuan ini masih sangat minim, tetapi ini merupakan dasar untuk mengembangkan kemampuan mengatasi/mengatur rasa marah (anger regulation).

Adapun cara untuk melatih mengelola marah pada anak, diantaranya adalah[2]:

  1. a. Ciptakan iklim di rumah yang nyaman. Lingkungan yang nyaman, sehat dan tentram membantu anak mengerti berbagai macam perasaan baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Anak juga lebih dapat memahami aturan, norma dan ajaran orang tua dengan lebih jelas.
  2. b. Orang tua sebagai contoh. Orang tua bertanggung jawab terhadap pengelolaan rasa marahnya dan mengekspresikannnya dalam bentuk yang tidak agresif. Orang tua yang tidak mampu mengelola kemarahan akan memberikan contoh yang buruk pada anak. Penelitian menunjukkan anak-anak yang diasuh oleh orang tua yang sering marah akan menunjukkan kemampuan yang minim dalam memahami emosinya (Denham, Zoller, & Couchoud, 1994).
  3. c. Bantu anak mengembangkan kemampuan kontrol diri. Membiasakan situasi untuk tidak selalu menuruti segala keinginan anak dengan segera serta melatih kemampuan anak untuk menunda keinginannya. Berikan alasan yang logis, dan bila orang tua membuat janji akan sesuatu hal yang perlu ditunda, usahakan untuk menepatinya. Kemudian berkomunikasi dan berdialog dengan anak ketika anak merasa kecewa akan membantunya mengatasi rasa sakit dan kecewa yang dialaminya.
  4. d. Mengembangkan kemampuan mengenali perasaan-perasaan marah. Ketika anak merasa marah coba berkomunikasi dengan mereka. Tanyakan apa yang dirasakannya? Apakah tersinggung, kesal, tidak suka, geram dan lain-lain. Ajarkan anak untuk dapat mengidentifikasikan perasaannya sendiri.
  5. e. Mendengarkan ketika anak mengkomunikasikan perasaannya. Mendengarkan setiap keluh kesah, curahan hati dan protes anak tanpa membuat tuduhan (judgement), kritik dan evaluasi yang membuat anak merasa lebih buruk. Sedikit meluangkan waktu sibuk anda untuk mendengarkan keluh kesah sang buah hati, akan memberikan dampak positif yang besar dalam kehidupan mereka kelak.
  6. f. Gunakan waktu mendongeng atau membacakan buku cerita sebagai moment dalam memberikan pemahaman mengenai rasa marah. Dalam suasana yang tenang seperti dongeng dan membaca buku cerita, anak-anak akan lebih mudah untuk diam, mendengarkan dan memahami dengan lebih baik. Ceritakanlah kisah-kisah atau orang -orang yang suka marah dan tidak disukai. Cerita tentang raja kodok yang pemarah akan membuat rakyatnya menderita dan akan merugikan diri sendiri akan membantu anak memahami bahwa marah yang agresif dan berlebihan itu tidak baik.

 


[1] http://jisc.eramuslim.com/gentong_ilmu/display/32-bantu-anak-mengelola-rasa-marah

[2] Ibid.,

Entry Filed under: Parenting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: