Mengajarkan anak menulis

Desember 27, 2010 zunlynadia

Menulis adalah suatu ketrampilan yang di dukung oleh beberapa komponen aspek pendukung dan perlu di pelajari tahap demi tahap. Oleh karena itu, belajar menulis seharusnya di hadirkan dalam bentuk stimulasi melalui kegiatan sehari-hari maupun permainan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak.  Mengajarkan menulis tidak cukup dengan memberikan pensil, kertas, contoh, dan latihan saja, tetapi ketrampilan menulis baru bisa di pelajari setelah aspek kemampuan yang lain di kuasai, yakni kemampuan motorik halus dan persepsi visual[1].

Ketrampilan motorik halus adalah penggunaan bagian tubuh dan otot-otot kecil, seperti kemampuan tangan untuk menggenggam. Dalam hal menggenggam, anak pada usia 12-15 bulan sudah bisa menggenggam dengan ibu jari dan telunjuk, sehingga sudah dapat menyusun dua balok keatas.  Pada masa ini, stimulasi yang sesuai dengan usia anak adalah dengan melatih gerakan ibu jari-telunjuk dan lengan. Diantara kegiatan stimulasi yang dapat dilakukan diantaranya adalah menyusun balok, memindahkan uang logam atau kancing ke dalam kotak, memukul pasak dengan kayu, menyendokkan tepung atau pasir dari satu wadah ke wadah yang lain, dan lain sebagainya.

Pada usia dua tahun, pensil di pegang dengan melatih gerakan ibu jari disisi kiri dan jari telunjuk menjulur keluar untuk membantu mengontrol gerakan pensil. Hasil gambar anak masih merupakan coretan berulang. Dengan bantuan imajinasi mereka, coretan yang tak bermakna itu bisa di rangkai menjadi suatu gambar dengan cerita sendiri. Menghadapi situasi yang seperti ini, orang tua di harapkan dapat menerima dan merespon dengan tepat.

Memasuki usia tiga tahun, anak sudah bisa meniru orang dewasa. Pensil di pegang diantara ibu jari dan jari telunjuk dengn ujung jari diletakkan di bagian atas pesil, serta ujung jari tengah ikut menempel pada pensil. Anak usia tiga tahun sudah dapat menggambar bentuk lingkaran, kotak, persegi, segitiga, dan silang. Sekitar usia 3,5 tahun, mereka mulai bisa mengkombinasikan bentuk-bentuj menjadi gambar yang lebih kompleks, misalnya gambar orang.

Stimulasi pada masa ini dapat diberikan dalam bentuk kegiatan meremas lilin, meronce balok atau ndus besar, menjelujur dengan tali sepatu pada karton berlubang. Selain itu anak juga bisa di perkenalkan dengan menyambung titik untuk membentuk garis diagonal, vertical, horizontal dan lengkung.  Memasuki usia 3,5 tahun, menyambung titik membentuk huruf dan angka sudah bisa di perkenalkan dalam jumlah terbatas.

Pada usia 4 tahun, sudah dapat menggambar orang cukup lengkp, melipat kertas segitiga, dan mulai menulis huruf dengan hasil yang kurang rapi. Stimulasi halus yang di berikan juga lebih kompleks antara lain meronce sedotan,

Stimulasi juga dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan seharu-hari, sepertu menyendok makanan, menyusur rambut, menggosokkan sabun kebadan, mengancingkan baju, menarik resleting, mengikat tali sepatu dan lain sebagainya. Latihan motorik halus ini penting karena koordinasi motori halus ini berarti juga koordinasi mata-tangan yang sangat berguna untuk kegiatan menulis[2].

Selain memerlukan latihan untuk kemampun motorik halus, di perlukan juga stimulasi untuk kemampuan persepsi visual anak. Persepsi visual dapat di definisika sebagai menjadi bagaimana otak menginterpretasikan apa yang kita lihat. Salah satu aspek persepsi visual adalah lemampuan membedakan ndust dan latar belakang. Aspek ini dapat dijabarkan sebagai kemampuan memilih suatu stimulus sebagai fokus perhatian diantara stimulus lain yang beperan sebagai latar belakang yang tersamar. Pada stimulus visual di perlukan pengamatan yang tidk hanya sekedar melihat tetapi memperhatikan, agar anak dapat menemukan bentuk tertentu yang tersembunyi dalam latar belakang.

Latihan-latihan untuk menstimulasi persepsi visual sebenarnya dapat di temukan dengan mudah di banyak majalah atau buku aktifitas anak.  Teka-teki seperti temukan 7 ekor sapi yang tersembunyi dalam gambar ini, cari perbedaan antar dua gambar dan lain sebagainya merupakan latihan yang sangat bermanfaat bagi persepsi visual anak[3].

Mengajarkan menulis kepada anak ternyata juga membutuhkan proses. Berbagai latihan motorik dan persepsi visual sesungguhnya sangat bermanfaat dalam mempersiapkan anak dalam belajar menulis, namun hal ini seringkali kurang di sadari oleh orang tua. Padahal stimulasi-stimulasi tersebut bisa dilakukan dalam kegiatan sehari hari anak  sambil bermain. Kegiatan menggambar, mewarnai, dan corat-coret anak ternyata butuh di apresiasi sebagai salah satu tahap anak untuk belajar menulis. Akan sangat sulit bagi anak untuk bisa belajar menulis tanpa ada latihan dan stimulasi pada masa sebelumnya. Untuk itu sekali lagi bagi orang tua jangan terburu-buru untuk memasukkan anak untuk kursus menulis bagi balita. Tetapi langkah terbaik bagi orang tua adalah menstimulasi berbagai motorik terlebih dahulu secara bertahapm sehingga pada saatnya nanti anak akan dengan mudah belajar menulis.


[1] Widian Nur Indriyani….hlm 90-92

[2] Ibid.,

[3] Ibid.,

Entry Filed under: Parenting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: