Mengajarkan anak berbicara

Desember 27, 2010 zunlynadia

Semenjak berada dalam janin, bayi sudah bisa berkomunikasi dengan orang tuanya terutama dengan sang ibu. Begitu juga setelah bayi di lahirkan, menurut dr. G. Ayu Partiwi Surjadi, SpA, MARS, Direktur Klinik Perkembangan Anak RS Bunda Jakarta

12 bulan pertama kehidupan merupakan masa penting bagi perkembangan bicara. Karena itu, pada masa-masa ini, seorang ibu selayaknya memerhatikan dengan teliti apakah perkembangan bicara anaknya termasuk normal atau tidak, sehingga bila ada gangguan, dapat terdeteksi pada tahap dini.

Bahasa digunakan dalam rangka pertukaran informasi, di mana di dalamnya terkandung simbol-simbol tertentu yang bisa dilihat. Bahasa bayi dan perkembangannya dapat dilihat seperti di bawah ini[1]:

  1. Bahasa reseptif (masa preverbal).

Bahasa ini dimulai dari tangisan pertama sampai bayi dapat melontarkan kata pertama. Bayi memproduksi bahasa prelinguistik yang biasanya sesuai dengan pengasuhnya. Bahasa yang semula dikeluarkan adalah cooing atau suara seperti “tanda” tertentu (seperti “au” atau “u”). Tahap ini biasanya terdengar pada saat bayi berusia 4-6 minggu.

  1. Bahasa ekspresif (masa verbal).

Bahasa ini menunjukkan kemampuan bayi untuk mengeluarkan kata-kata yang berarti, seperti kata “mama” atau “papa” dan biasanya terdengar saat bayi berusia 12-18 bulan.

Bahasa visual (dimulai beberapa minggu setelah kelahiran bayi).

Selain kedua bahasa di atas, ada lagi yang disebut bahasa visual. Bahasa ini merupakan bahasa yang dapat dilihat melalui perubahan sikap tubuh atau ekspresi wajah bayi, baik itu dalam keadaan gembira, sedih, marah, ataupun berbagai emosi lainnya. Bahasa visual yang dapat dilihat pada seorang bayi antara lain[2]:

•           Senyum bayi, terjadi pada saat bayi berusia 4-6 minggu.

•           Bayi mulai memerhatikan orang dewasa yang sedang bicara dan ketika orang dewasa tersebut berhenti bicara, bayi akan mengeluarkan suara.  Lagi. Ini  merupakan dasar adanya interaksi pada seorang anak, yang merupakan awal  tahapan bicara. Hal ini terjadi pada saat bayi berusia 2-3 bulan.

•           Bayi terlihat mencari sumber suara bila ada yang mengajaknya bicara, saat ia berusia 4-5 bulan.

•           Bayi menikmati permainan seperti “ciluk ba”, saat ia berusia 6-7 bulan.

•           Bayi mulai menggunakan tangannya untuk melakukan kegiatan sederhana seperti “melambaikan tangan” sebagai ekspresi interaksi sosial, pada saat ia berusia 9 bulan.

•           Bayi memperlihatkan keinginannya pada suatu obyek dengan meraih atau menangis bila tidak mendapatkannya. Hal ini terjadi pada usia 9-12 bulan.

•           Bayi mulai menggunakan jarinya untuk menunjuk benda-benda yang diinginkan, ketika usianya mencapai 12 bulan.

Bahasa yang di ungkapkan oleh bayi ini akan terus berkembang dan membutuhkan latihan dan stimulasi terus menerus. Melatih bicara anak sejak dini akan membantu kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak dengan lingkungan. Setiap apa yang dikatakan oleh orang tua, akan tersimpan di memori otak anak, dan suatu saat si anak akan meniru apa yang dia perolehnya, baik itu yang diajarkan orang tua maupun oleh orang-orang disekitarnya.

Oleh karena sangat penting mengajarkan bicara anak dengan kata-kata yang patut dicontoh oleh anak, meskipun si anak saat ini belum dapat berbicara satu dua kata pun. Dengan seringnya anak mendengar, dia akan punya banyak kosa kata. Begitu dia bisa berbicara, dia pun akan mengucapkan kata-kata tersebut dengan spontan.

“50% dari kemampuan belajar dibangun dalam 4 tahun pertama dari kehidupan dan 30% lagi mencapai usia 8 tahun. Ini tidak berarti bahwa 50 – 80% dari kecerdasan seseorang, kebijaksanaan, atau pengetahuannya dibentuk selama masa awal kanak-kanak. Tetapi ini berarti bahwa pada rentang usia ini, anak-anak sudah mulai membentuk jalur-jalur pemikiran utama di dalam otaknya. Segala sesuatu yang kita pelajari kemudian berkembang dari pola yang sudah terbentuk selama tahun-tahun ini.

Berikut adalah tips mengajarkan bicara bagi bayi atau anak Anda[3] :

  • Ajaklah anak berbicara sesering mungkin, sejak dini, meskipun sebenarnya mereka belum waktunya berbicara.
  • Berbicara dengan anak menggunakan suara yang lembut, karena anak lebih suka dengan suara yang lembut.
  • Hindarkan berbicara kata kasar dan buruk di depan anak. Karena apa yang Anda ucapkan akan tersimpan di memori otak anak. Suatu saat kata-kata itu akan ditiru oleh anak Anda.
  • Selain Anda mengajak bicara anak sesering mungkin, dengarkan juga apa yang diucapkan oleh anak meskipun kata-katanya belum begitu jelas. Lalu berilah respon terhadap apa yang dia katakan. Hal ini akan membuat si anak senang untuk berbicara.
  • Jangan menyalahkan apa yang dia katakan. Ulangi apa yang disampaikan meskipun salah dengan kata yang benar dan berulang-ulang.
  • Ajak anak berbicara sambil memakai pempers, sambil bermain ataupun sambil berjalan-jalan denan anak. Kombinasi waktu berbicara dengan anak membuat anak tidak bosan dan lebih menyenangkan buat anak.
  • Lihat respon anak saat diajak berbicara. Jika anak masih memperhatikan Anda, maka Anda dapat terus mengajak anak untuk berbicara. Tetapi kalau anak tidak lagi memperhatikan Anda dan mulai mengalihkan perhatian, maka sebaiknya Anda menghentikan untuk sementara waktu berbicara dengan anak, untuk diulang lagi di lain waktu. Mungkin anak mulai bosan, jangan dipaksakan.

Yang paling penting dan harus di perhatikan oleh orang tua dalam mengajarkan anaknya berbicara adalah mengajarkannya untuk berbicara dengan sopan. Kebiasaan meniru bagi anak seringkali membuat anak berbicara tidak sopan, kasar bahkan berbicara kotor, padahal itu dilakukannya secara tidak sadar dan tanpa tahu artinya. Untuk itu yang harus di lakukan oleh orang tua untuk menghindari atau mengingatkan sang buah hati jika berbicara tidak baik adalah[4]:

  1. Memberikan contoh positif

Orangtua sendiri harus berbicara sopan satu dengan yang lain. Bukan hanya kepada anak, tetapi juga kepada orang sekitar, misalnya: pembantu, pegawai, pasangan, orangtua, dan tetangga. Orangtua harus memperhatikan respon spontan yang seringkali keluar begitu saja baik pada saat menonton TV, berada di jalan, dan dalam keadaan emosi. Kata-kata seperti: “mampus lu, gila, monyet lu, awas lu ya,..” (kata-kata yang sering spontan diucapkan begitu saja, tapi harus dihentikan). Berikan juga contoh secara konsisten hal-hal yang bersifat sehari-hari, seperti sapaaan: selamat pagi, terima kasih, maaf, sampai bertemu, dan lain sebagainya.

  1. Memberikan penjelasan pada saat anak mendengar kata-kata kasar dari luar

Orang tua tidak bisa mengisolir anak dari pengaruh lingkungan luar. Pada saat anak mendengar kata-kata kasar dari orang lain baik di luar atau di dalam rumah, orang tua harus memberikan penjelasan. Misalnya: “wah kasar sekali kata yang diucapkan tokoh film kartun itu, ya”.

  1. Jangan terpancing ketika anak mencoba menarik perhatian dengan kata-kata anehnya.

Kadang anak mencoba menguji perhatian kita dengan mengucapkan kata-kata kasar yang ia anggap lucu, misalnya: kata-kata yang kotor. Kita seringkali terpancing tertawa karena terdengar lucu ketika diucapkan seorang anak kecii yang baru bisa bicara. Tapi hati-hatilah, karena respon tertawa dari orang dewasa akan memicu pengulangan di masa mendatang. Jika hal itu adalah pengalaman pertama, usahakan untuk memberikan kesan bahwa kata-kata itu tidak menarik. Dan carilah kesempatan di lain waktu untuk menjelaskan kata-kata tersebut bukanlah kata baik untuk diucapkan dan katakanlah dengan nada serius. Misalnya: “nak, kata “Gila lu” adalah kata yang tidak lucu sama sekali, itu merupakan kata yang kasar dan tidak boleh diucapkan anak Tuhan”.

  1. Hentikan dengan hukuman, iika anak mengulang kata-kata buruknya.
    Jika setelah diberi peringatan anak dengan sengaja memberontak dan sengaja mengatakan kata-kata yang tidak sopan, berilah hukuman yang menunjukkan derajat keseriusan kata-kata itu. Peringatan dapat diberikan ketika anak sudah mengulang dua kali: “Nak, mama/papa sudah mendengar dua kali kamu mengatakan kata-kata kasar itu. Kata-kata itu tidak boleh sama sekali keluar dari mulut kita. Tuhan sedih mendengarnya. Mama/papa akan bantu kamu mengingatkan bahwa kata-kata itu menyakitkan orang lain. Kalau kamu ndustry lagi lain kali, mama/papa akan hokum kamu. Kalau kamu ulang lagi, hukuman akan bertambah. Ketika untuk kesekian kalinya anak melakukan lagi, janganlah beri peringatan lagi, tapi langsunglah laksanakan hukuman itu. Setelah hukuman selesai, berilah kembali pengertian betapa seriusnya kata-kata itu tidak boleh diucapkan karena dapat menyakitkan orang lain. Misalnya: “mbak gila, mati aja!”Hal ini juga berilaku jikalau anak menjulurkan lidah pada orang lain untuk menghina.
  2. Jangan lupa berikan pesan moral.

Pada usia 3 tahun, anak mulai harus diajarkan pesan moral dan peringatan, nasehat, farangan, hadiah atau hukuman. Kata-kata yang indah, manis dan sedap di dengar adalah perintah Firman Tuhan yang harus ditaati. Sedangkan, kata-kata kasar dan menyakilkan menunjukkan rasa tidak hormat kita pada orang lain. Tekankan pada anak bahwa mereka harus menghormati orang lain dengan kata-kata

  1. Ajarkan anak minta maaf kalau dia mengatakan hal yang tidak sopan pada orang lain.

Tidak selalu anak berada dalam pengawasan kita. Pada masa balita dan kanak, bukan tidak mungkin anak melakukan pelanggaran pertama yang tidak sadari oleh orang tua. Kadang ketika mereka jengkel dan marah, kata-kata yang ndustry keluar begitu saja. Orangtua perlu membantu anak menerima perasaan anak, akan tetapi bukan berarti mentolerir perilaku ndustry anak. Misalnya: jika ada orang dewasa meledek/becanda terhadap anak dan anak tidak suka, marah dan berkata: “om jelek”. Anda perlu segera membicarakan hal ini kepada anak secara pribadi ftangan di depan om tersebut). Tanyakan: Apakah kamu marah karena om meledek kamu? Apakah kamu juga akan marah kalau om mengatakan kamu jelek?” Kalau begitu kamu bisa mengatakan: “Om, saya tidak suka om meledek saya” itu jauh lebih baik daripada mengatakan “om jelek”. Selain memberikan peringatan, nasehat, ajarkan anak untuk meminta maaf dengan jelas. Misalnya: Ketika anak marah dan berkata “Om jelek”, dorong anak untuk berkata: “Om, saya minta maaf karena tadi saya menghina om”.

Semua yang ada di sekitar anak adalah merupakan tempat belajar baginya. Karenanya orang tua harus berhati-hati dalam hal apapun terutama dalam bersikap dan berbicara. Karena secara tidak langsung anak akan merekam apa yang terjadi di sekitarnya dan menirukannya. Untuk itu pelajaran terbaik bagi anak adalah contoh dari lingkungan yang ada di sekitarnya.


[1] http://balita.jawakids.com/wordpress/19/08/2009/indahnya-bahasa-bayi/

 

[2] Ibid.,

[3] http://www.tipskeluarga.com/2009/02/24/tips-melatih-bicara-anak-atau-bayi/

[4] http://cy-gb.facebook.com/topic.php?uid=62989930886&topic=8561

 

Entry Filed under: Parenting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: