Membiasakan anak untuk mandiri

Desember 27, 2010 zunlynadia

Mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil. Mulai dari memakai pakaian sendiri, menalikan sepatu atau bermacam pekerjaan-pekerjaan kecil sehari-hari lainnya. Kedengarannya mudah, namun dalam prakteknya pembiasaan ini seringkali banyak hambatannya. Tidak jarang orang tua merasa tidak tega atau justru tidak sabar melihat si kecil yang berusaha menalikan sepatunya selama beberapa menit, namun belum juga memperlihatkan hasilnya.

Memang masalah yang dihadapi anak sehari-hari dapat dengan mudah diatasi dengan adanya campur tangan orang tua. Namun cara ini tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan terbiasa tergantung kepada orang tua apabila menghadapi persoalan atau hal-hal yang kecil sekalipun.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan orang tua untuk melatih dan membiasakan balita menjadi mandiri [1]:

1. Beri Kesempatan Memilih

Beri kesempatan si kecil membuat keputusan sendiri dalam lingkup kecil sejak dini agar kelak ia terbiasa menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari itu, ibu bisa memberi beberapa alternative masakan yang dapat dipilih anak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian yang akan dipakai untuk pergi jalan-jalan atau ke pesta ulang tahun temannya.

2. Hargailah Usahanya

Hargai sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Misalnya, si kecil membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri bungkus snacknya. Sebaiknya orang tua memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun tangan untuk membantu membukakannya. Jelaskan juga padanya bahwa untuk membukanya akan lebih mudah kalau menggunakan gunting. Kesempatan yang Anda berikan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal lainnya.

3. Tidak Langsung Menjawab Pertanyaan

Meskipun salah satu tugas orang tua adalah memberi informasi sesrta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaiknya berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksi apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Kesempatan ini akan melatihnya untuk mencari alternatif-alternatif dari suatu pemecahan masalah. Misalnya, “Bu, kenapa sih kita harus mandi dua kali sehari?” Biarkan anak memberi jawaban sesuai dengan apa yang ia ketahui. Anak pun terlatih untuk tidak begitu saja menerima jawaban orang tua, yang akan diterima mereka sebagai satu jawaban yang baku.

4. Dorong Untuk Melihat Alternatif

Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk mengatasi suatu masalah, orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong, untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Sehingga anak tidak akan hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya sendiri. Misalnya, ketika si anak datang pada orang tua dan mengeluh bahwa sepedanya mengeluarkan bunyi bila dikendarai, Anda dapat memberi jawaban, “Coba ya, nanti kita periksa ke bengkel sepeda.”

5. Jangan Patahkan Semangatnya

Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan ‘mustahil’ terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus melakukannya. Jangan sekali-kali Anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Jika anak minta ijin Anda, “Bu, Ade mau pulang sekolah ikut mobil antar jemput bolehkan?” Tindakan untuk menjawab, ”Wah, kalau Ade mau naik mobil antar jemput kan Ade harus bangun pagi dan sampai dirumah lebih siang. Lebih baik tidak usah deh ya.” Jawaban seperti itu akan membuat anak kehilangan motivasi untuk mandiri. Sebaiknya Ibu berkata, ” Ade mau naik mobil antar jemput? Wah, kedengarannya menyenangkan ya. Coba Ade ceritakan pada ibu kenapa Ade mau naik mobil antar jemput.” Dengan cara ini, paling tidak anak mengetahui bahwa orang tua sebenarnya mendukung untuk bersikap mandiri. Meski akhirnya dengan alasan-alasan yang Anda ajukan, keinganannya tersebut belum dapat dipenuhi.


[1] http://balita.jawakids.com/wordpress/01/12/2009/melatih-balita-mandiri/

 

Entry Filed under: Parenting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: