Ujian Lisan

Desember 24, 2010 zunlynadia

Hari ini adalah hari tenang. Biasanya para santriwati  pada jam-jam segini sudah pada antri untuk beli jajanan di kafetaria, tapi hari ini berjalan biasa saja, tidak ada antrian disana sini. Ya..begitulah kalau sedang musim ujian lisan. Setiap semester di pesantren ini selalu diadakan ujian lisan. Ujian lisan diadakan sebelum ujian tulis selama kurang lebih seminggu. Setiap santriwati mendapatkan jatah untuk ujian lisan dua kali yakni untuk mata pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Arab. Ujian lisan dalam bahasa Inggris meliputi speaking, reading, grammar, vocabularies dan kata2 mutiara dalam bahasa Inggris. Sedangkan untuk ujian lisan bahasa arab, mata pelajaran yang diuji meliputi muhaddatsah (percakapan), mahfudhot (kata-kata mutiara), mutholaah (cerita) serta nahwu dan shorof (tata bahasa). Semua mata pelajaran yang telah diuji dalam ujian lisan itu tetap akan diujikan dalam ujian tulis. Karenanya untuk beberapa mata pelajaran yang telah diujikan dalam ujian lisan akan mempermudah kami pada ujian tulis nantinya.

Ujian yang diadakan sebelum ujian tulis ini diawali dengan seremonial upacara di hari pertama. Dalam upacara ini biasanya dibuka oleh ibu pengasuh atau bapak direktur yang intinya memberikan berbagai wejangan kepada kami sebelum menghadapi ujian. Upacara ini diikuti oleh seluruh santriwati ini biasanya diadakan di depan masjid kebanggaan kami “masjid al-Marzuqoh”. Para ustad dan ustadzah berdiri di teras masjid, sementara para santriwati berdiri di halaman masjid hingga monas (tugu kecil yang berada di halaman masjid). Upacara ini hanya berlangsung sekitar setengah sampai satu jam. Setelah upacara selesai, para santriwati membubarkan diri dan mulai mencari tempat ujian masing-masing. Biasanya ujian dilaksanakan sesuai dengan urutan nama-nama absen di kelas. Urutan nama-nama ini bisa dari atas dan bisa dari urutan bawah dan para ustadz dan ustadzah yang akan menguji biasanya akan menempelkan nama-nama yang akan diuji hari itu. Bagi yang tidak mendapatkan giliran untuk ujian hari ini, maka akan mendapat giliran pada hari berikutnya.

Jika musim ujian tiba, suasana pesantren memang lain. Dimana-mana para santriwati membawa buku sambil sesekali terlihat mulutnya bergerak-gerak menghafalkan sesuatu. Di pojok-pojok masjid, di taman-taman, di bawah pohon, bahkan di pojok-pojok jemuran akan didapati para santriwati yang asyik dengan bukunya. Pada masa ujian seperti ini aktifitas ekstrakulikuler memang terhenti sama sekali, sehingga waktu terasa lebih longgar dan tidak di kejar-kejar oleh sang jaros. Hanya saja kewajiban untuk sholat lima waktu di masjid yang tidak mungkin berhenti. Para santriwati juga tidak harus tidur pada jam setengah sepuluh malam seperti hari-hari biasanya. Mereka bebas untuk tidur kapan saja di musim ujian. Hanya saja untuk bangun pagi jam empat tetap diwajibkan untuk bangun.

Di musim ujian seperti ini, rutinitaskupun berubah. Aku lebih suka untuk tidur lebih awal dan bangun di tengah malam. Terkadang aku bangun bangun disaat bel untuk untuk tidur terdengar atau bangun jam 12 malam dan belajar hingga waktu shubuh tiba. Pada jam-jam itu, suasana pesantren lebih sepi, meski tetap terlihat beberapa santriwati yang masih lalu lalang dan belajar hingga larut. Pada saat itu adalah saat yang paling baik bagiku untuk menghafal. Aku bisa menghafal dengan suara keras-keras tanpa ada yang mengganggu.

Setelah jaros shubuh terdengar, maka akupun segera menutup buku dan bergegas mengambil air wudhu untuk kemudian sholat shubuh. Baru setelah sholat shubuh, aku memejamkan mataku untuk mengganti jam tidurku yang sedikit kacau hingga jaros untuk makan tiba. Setelah makan baru kemudian aku mandi, pada saat-saat ujian lisan seperti inilah aku baru bisa merasakan mandi agak siang tanpa mengantri, seperti hari-hari libur. Karena pada hari-hari biasa aku biasa bangun sebelum jaros sholat shubuh jam empat berbunyi untuk mengantri mandi, karena antrian mandi setelah sholat shubuh akan semakin panjang, sehingga waktu yang paling aman untuk mandi pagi adalah pada jam 3 hingga jam 4 pagi.

Setelah mandi, akupun bergegas untuk pergi ke kelas tempat ujian lisan berlangsung. Aku melihat-lihat jadwal, kapan aku akan mendapat giliran untuk diuji secara lisan. Jika melihat teman-teman yang sudah diuji hari kemaren, kemungkinan hari ini aku akan mendapat giliran untuk ujian lisan. Kebetulan nama absensiku berada di urutan tengah, sehingga jarang sekali aku mendapat giliran ujian lisan pada hari pertama.

Siang hari akupun kembali ke kelas untuk melihat giliran ujian lisan, dan ternyata memang hari ini aku mendapatkan giliran ujian lisan bahasa arab. Akupun segera kembali ke kamar dan mempersiapkan diri, memakai baju seragam sekolah lengkap dengan sepatu, pin dan tidak lupa papan nama. Sembari menunggu giliran untuk dipanggil, akupun membuka kembali buku-buku yang telah aku pelajari tadi malam untuk mengulang kembali hafalan-hafalan. Kini giliran aku untuk masuk ke ruang ujian. Meski sudah terbiasa dengan ujian lisan, tetapi rasa deg-degan selalu saja timbul ketika akan memasuki ruangan. Sebelum masuk ke dalam ruangan, akupun mengucapkan salam dari depan pintu. Setelah dijawab dan dipersilahkan masuk, barulah aku masuk ke dalam ruangan. Disana sudah ada dua orang ustadzah yang duduk berdampingan dan siap untuk mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Seperti biasanya, sebelum memasuki pertanyaan tentang pelajaran,, di awal pertanyaan aku akan ditanya nama, nomor ujian, asal daerah, aktifitas sehari-hari, hobi, hingga latar belakang keluarga serta pengalaman-pengalaman lainnya. Hal ini adalah cara untuk menguji percakapan dalam bahasa arab. Setelah itu akupun ditanya tentang pelajaran mahfudzot (kata-kata mutiara dalam bahasa Arab). Pelajaran mahfudzot adalah salah satu pelajaran favorit sebagian besar santriwati. Di kelas para ustadzah mengajarkan dengan semangat, kami harus berteriak-teriak untuk menirukan para ustadzah menyampaikan kata-kata mutiara, seperti man jadda wa jada (barang siapa bersungguh-sungguh pasti ia dapat), lan tarji’a ayyamulladzi madzot (tidak akan kembali hari yang telah lalu), dan lain sebagainya. Semakin tinggi kelas, maka kata-kata mutiara yang diberikan juga semakin panjang. Kata-kata mutiara tersebut tidak hanya memberi semangat dalam diri kami semua karena cara mengajar para ustadzah, tetapi juga memberi semangat hidup karena maknanya yang mendalam. Kata-kata mutiara tersebut menjadi petunjuk dalam perjalanan kami selanjutnya terutama setelah keluar dari pesantren ini.

Setelah menguji pelajaran mahfudhot, para ustadzah mengujiku dengan pelajaran muthola’ah. Muthola’ah adalah pelajaran yang berisi tentang cerita-cerita dalam bahasa arab. Cerita-cerita dalam bahasa arab tersebut tidak hanya mengajarkan hikmah yang ada di dalamnya. Tetapi dengan cerita-cerita tersebut, kami juga dilatih untuk memahami teks arab serta menceritakan kembali cerita-cerita tersebut dengan bahasa kami sendiri. Pelajaran muthola’ah adalah pelajaran di pondok yang sangat seru. Karena para ustadzah selalu menceritakan isi cerita dalam buku muthola’ah dengan intonasi dan ekspresi yang sangat baik. Sehingga meski dijelaskan dalam bahasa arab, kami tidak mengalami kesulitan untuk memahami arti dan maknanya. Baik mahfudhot maupun muthola’ah adalah sama-sama pelajaran yang menyenangkan dan dijamin tidak mengantuk di dalam kelas. Dalam ujian lisan kali ini, aku disuruh untuk menceritakan kembali cerita tentang al-Asadu wal fa’ru (singa dan tikus), seekor singa yang dikenal sebagai raja hutan dan selalu ditakuti oleh seluruh penghuni hutan terperangkap dalam sebuah jaring seorang pemburu dan akhirnya diselamatkan oleh seekor tikus yang kecil tetapi mempunyai gigi yang tajam sehingga dapat membuka jaring-jaring pemburu dengan gigi runcingnya. Cerita ini memberikan pelajaran bahwa sekecil dan selemah apapun makhluk yang ada di bumi ini, mereka tetap mempunyai kelebihan tersendiri sehingga kita tidak boleh sombong dan meremehkan siapapun yang dianggap lebih rendah atau lebih lemah karena bisa jadi suatu saat akan membutuhkannya. Dengan cukup lancar akupun dapat menceritakan kembali cerita tentang singa dan tikus dalam bahasa arab tanpa ada kesulitan berikut maksud dan hikmah dari cerita tersebut.

Setelah menguji pelajaran muthola’ah, ustadzah mengujiku dengan pelajaran nahwu. Pelajaran nahwu adalah pelajaran tata bahasa arab. Kapan satu kata dalam bahasa arab itu harus berharokat fathah, dhommah atau sukun, atau dhomir apa yang seharusnya harus dipakai, semua ada dalam pelajaran nahwu. Akupun disuruh untuk menyebutkan suatu kaidah tertentu dalam bahasa arab dan memberikan contoh-contohnya. Setelah itu ustadzah juga menyuruhku untuk mengi’rab salah satu kalimat panjang dalam bahasa arab. I’rab adalah menerangkan secara detail tata bahasa dalam kalimat bahasa arab berikut alasan-alasannya. Sedikit menemui kesulitan aku menjawab pertanyaan dalam pelajaran ini, tapi alhamdulillah secara umum aku bisa melaluinya dengan lancar. Setelah hampir 45 menit di dalam ruangan ujian, akhirnya akupun dipersilahkan untuk keluar. Tidak lupa aku mengucapkan salam sebelum meninggalkan ruang kelas. Ucapan salam akan dinilai sebagai salah satu adab sopan santun, sehingga jangan sampai lupa mengucapkan salam kepada para ustadzah pada saat masuk dan keluar ruang ujian.

Satu ujian lisan telah terlewati, kini aku tinggal mempersiapkan ujian lisan selanjutnya yakni ujian bahasa Inggris. Di tengah perjalanan dari ruang kelas menuju kamar, aku bertemu dengan teman sekelas Rina. Melihatku Rina langsung menghampiri dan mengatakan bahwa aku mendapat giliran untuk ujian bahasa inggris sore ini. Dengan setengah kaget, aku langsung membalik arah menuju ruang tempat ujian lisan bahasa Inggris dilaksanakan. Di depan ruang ujian, namaku tertera di urutan ketiga. Tanpa sempat membuka buku kembali, akupun mempersiapkan diri untuk masuk ke ruangan, karena sebentar lagi aku akan dipanggil untuk masuk ke ruang ujian. Tidak seperti biasanya, ternyata ujian lisan kali ini dimulai dari urutan tengah nama-nama absen. Hal ini membuatku merasa tidak siap menghadapinya, tapi apa boleh buat hari ini aku harus menghadapi dua ujian sekaligus dalam satu hari.

Panggilan dari dalam ruang ujianpun terdengar, akupun masuk ke dalam ruang kelas dan tidak lupa mengucapkan salam. Setelah diawali dengan obrolan pembuka dalam bahasa Inggris, para ustadzah mulai fokus mencecarku dengan materi pelajaran bahasa Inggris yang selama satu semester ini aku pelajari di kelas. Dimulai dari reading, aku disuruh membaca sebuah cerita dalam bahasa inggris dan menjelaskan kembali isi cerita tersebut dengan bahasa inggris sendiri. Setelah menguji reading, akupun ditanya tentang grammar yang ada dalam reading tersebut. Pertanyaan yang agak sulit bagiku karena pelajaran bahasa inggris baru aku temui di pesantren ini. Sementara pelajaran bahasa arab, aku telah memperolehnya di madrasah ibtidaiyyah dan madrasah diniyyah sebelum aku sekolah di pesantren ini, sehingga lebih mudah untuk menangkap pelajaran bahasa arab daripada bahasa inggris.

45 menit aku berada di ruang ujian serasa berjam-jam. Hal ini karena aku kurang mempersiapkannya. Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu telah tiba. Ujian lisan bahasa Inggris telah selesai dan akupun dipersilahkan untuk keluar ruang ujian. Perasaan lega sekaligus kecewa menyelimuti karena aku tidak merasa puas dengan jawaban-jawaban yang aku berikan dalam ujian, lega karena apapun hasilnya aku telah melewati ujian lisan. Kini masih ada waktu beberapa hari guna mempersiapkan ujian tulis dan untuk memperbaiki nilai ujian lisan terutama mata pelajaran bahasa inggris.

Meski ujian tulis masih akan dilaksanakan minggu depan, tetapi aku tetap harus mempersiapkannya mulai sekarang. Hari tenang memang dirasa seperti hari libur, tetapi hari-hari itu selalu aku pergunakan untuk belajar dan belajar. Tidak waktu yang aku sia-siakan. Sambil mengantri mandi dan mencuci akupun memanfaatkannya untuk membuka buku. Dimanapun aku berada tidak lupa selalu membawa buku. Aku memang tipe anak rajin, karena aku menyadari tanpa kerja keras belajar dan rajin aku tidak akan mampu mendapatkan hasil yang maksimal. Sebenarnya aku iri melihat beberapa teman sekelasku, tanpa harus bersusah payah belajar mereka bisa. May, salah satu temanku asal Surabaya, sering tidur di dalam kelas, dikenal sangat pemalas, tetapi dia juga dikenal seorang yang sangat cerdas. Tanpa harus banyak belajar dan membuka buku, dia bisa memahami semua pelajaran dengan sangat baik. Tidak hanya bahasa arab tetapi juga bahasa inggris. Dia menjadi tempat bertanya bagi teman-teman yang kurang memahami pelajaran dengan baik. Berbeda dengan aku, jika aku terlena sedikit saja dan tidak memanfaatkan waktuku dengan baik, sudah bisa dilihat hasil yang akan aku perolehpun tidak maksimal. Tapi aku bersyukur, karena Allah memberiku kesempatan untuk terus berusaha hingga titik maksimal, hingga Dia juga akan memberikan hasil yang sesuai dengan kerja kerasku.

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: