Perpulangan menjelang ramadhan

Desember 24, 2010 zunlynadia

Bulan ramadhan sebentar lagi akan tiba dan kami semua menyambutnya dengan gembira. Kegembiraan ini bukan karena datangnya bulan puasa, tetapi lebih karena bulan ramadhan yang selalu bertepatan dengan liburan kami semua. Hari libur utama bagi kami santriwati adalah bulan puasa. Kami tidak pernah libur diluar liburan bulan ramadhan dan libur akhir tahun ajaran baru karena tidak ada libur cawu (catur wulan setelah ujian) ataupun libur tanggal merah dalam memperingati hari besar, kecuali hari raya idul adha dan 17 agustus, itupun kami tidak diperbolehkan untuk pulang dan tetap harus tinggal di pesantren, hanya saja aktifitas belajar mengajar tidak diadakan.

Berbeda dengan hari libur yang lain, liburan Ramadhan memang merupakan liburan yang paling panjang. Jika liburan akhir tahun ajaran baru hanya kurang lebih seminggu, maka liburan Ramadhan dimulai dari sepuluh hari sebelum bulan ramadhan dan berakhir hingga tanggal sepuluh syawal dengan total 50 hari. Liburan yang panjang dan memuaskan bahkan terkadang malah sampai membosankan dan membuat kangen untuk segera beraktifitas di pesantren. Kebijakan menyatukan liburan menjadi satu dalam liburan Ramadhan adalah karena memberi kesempatan bagi para santriwati terutama yang berasal dari luar jawa untuk dapat berlibur dan pulang ke kampung halaman. Kalau aku yang tinggal di Magetan, hanya membutuhkan waktu 2 sampe 3 jam hingga sampai ke rumah, tetapi bagi teman-teman lain yang berada di luar jawa butuh waktu berhari-hari untuk sampai ke kampung halamannya. Bahkan teman-teman yang berasal dari Ambon dan Irian harus rela menyesuaikan jadwal kapal yang hanya ada seminggu bahkan dua minggu sekali. Sehingga tidak jarang mereka harus pulang belakangan atau malah pulang lebih dahulu, belum lagi kembalinya mereka ke pesantren sudah dapat dipastikan tidak pernah tepat waktu, terkadang harus kembali di saat teman-teman lain masih menikmati liburan dan sebaliknya harus telat dari jadwal liburan karena lagi-lagi harus menyesuaikan dengan jadwal kapal.

Pulang liburan tidak hanya sekedar pulang. Ada banyak PR yang harus kami kerjakan di rumah, mulai dari tugas sekolah hingga, hingga tugas-tugas lain seperti mengikuti aktifitas di masjid selama bulan ramadhan mulai dari ceramah, tadarus dan lain sebagainya. Sehingga 50 hari liburan bukanlah liburan yang tanpa aktifitas sama sekali.

Seperti biasanya sebelum hari libur tiba, ada satu rutinitas yang wajib diikuti oleh semua santriwati sebelum mudik ke rumah masing-masing yakni pemberian etiket. Selama 2 sampai tiga hari semua santriwati dikumpulkan di depan masyroh (panggung). Disana sudah dipasang tenda (terop) yang diisi dengan bangku-bangku sekolah. Semua santriwati duduk diatur sesuai kelas masing-masing. Sebagaimana acara dalam rangka khutbatul ‘Arsy (pekan perkenalan), selama dua sampai tiga hari kami semua diberikan ceramah umum yang langsung diberikan oleh para pimpinan pesantren secara bergantian, mulai dari ibu pengasuh, direktur dan ketua yayasan pesantren. Hanya saja yang membedakan dengan khutbatul ‘Arsy adalah materinya. Jika dalam pekan perkenalan materi dan ceramah yang diberikan berkenaan dengan pesantren serta tujuan belajar di pesantren, maka dalam ceramah menyambut liburan ini yang diberikan adalah ceramah seputar etika sebagai bekal kami selama liburan. Semua santriwati diberi buku etiket sebagai pegangan. Materi etiket yang diberikan menyangkut hal-hal yang sangat tehnis dalam kehidupan sehari-hari, seperti bagaimana sikap kita terhadap orang tua, kakak, adik dan keluarga yang lain, bagaimana sikap kita selama perjalanan, bagaimana jika kita bertemu dengan lawan jenis, hingga bagaimana jika diajak bersalaman dan berkenalan dengan lawan jenis baik ketika dalam perjalanan, dan lain sebagainya. Pemberian etiket ini selalu dilakukan setiap kali santriwati akan liburan dengan materi yang diambil dalam buku etiket yang disusun oleh pesantren sendiri. Meski sudah bertahun-tahun menjadi santriwati, semua tetap wajib untuk mengikutinya. Meski materi etiket yang disampaikan selalu sama setiap tahunnya, semua santriwati tetap wajib mendengarkannya.

Setiap ada kegiatan ceramah umum seperti ini, kami tidak akan bisa menghindarinya, bagian keamanan akan memeriksa ke setiap kamar dan sudut pesantren untuk memastikan bahwa semua santriwati mengikuti kegiatan ini. Bagian pengajaran akan memeriksa apakah para santriwati masih mempunyai buku etiket atau tidak, karena buku etiket tidak hanya menjadi panduan dari apa yang akan disampaikan oleh para pimpinan pesantren, tetapi juga bisa dibaca sendiri sewaktu-sewaktu jika dibutuhkan. Sementara para pengurus OSWAH mendapatkan giliran untuk menjaga dan berkeliling untuk memastikan bahwa semua santriwati mendengarkan apa yang disampaikan oleh para pimpinan pesantren tanpa mengantuk dan mengobrol sendiri. Sehingga selama acara pemberian etiket ini bisa dipastikan semua santriwati diam mendengar dan memperhatikan tanpa mengantuk.

Hari-hari menjelang liburan para santriwati juga banyak yang disibukkan dengan persiapan perpulangan bersama konsulat masing-masing. Para santriwati yang berasal dari berbagai daerah terutama dari luar jawa sebagian besar akan pulang bersama rombongan yang didampingi oleh ustad atau ustadzah yang juga berasal dari daerah yang sama. Kami memang tidak diperbolehkan keluar dari pesantren sendirian, harus ada orang tua atau saudara yang menjemput, kalaupun orang tua tidak bisa menjemput sendiri bisa diwakili oleh wali yang ditunjuk oleh orang tua dan diberikan mandat dari orang tua, atau bisa juga mengikuti rombongan dari konsulat masing-masing. Hanya saja bagi para orang tua yang tidak bisa menjemput sendiri putrinya harus memberikan surat kuasa kepada wali pengganti yang menjemputnya. Surat kuasa tersebut akan diperiksa secara ketat, sehingga tidak akan ada yang berani membuat surat kuasa palsu. Meskipun pulang bersama rombongan konsulat, surat kuasa dari orang tua tetap menjadi syarat utama untuk mendapatkan kartu izin agar bisa pulang liburan ke rumah.

Beberapa konsulat memang mengadakan perpulangan bersama untuk mempermudah para orang tua yang tidak bisa menjemput langsung putrinya ke pesantren dan hanya cukup menjemput di kota masing-masing. Bahkan beberapa konsulat bekerjasama dengan beberapa pondok pesantren lain dari kota yang sama seperti pondok pesantren Darussalam Gontor dan pondok pesantren Ar-risalah. Karena pondok pesantren tersebut selain mempunyai akar yang sama dalam hal pimpinan juga mempunyai sistem yang sama dan dapat dipastikan mempunyai kesamaan hari libur. Meski dengan bis yang berbeda dan tetap dalam penjagaan para ustad dan ustadzah, teman-teman yang pulang bersama-sama rombongan konsulat yang berbarengan dengan ponpes lain seperti gontor dan arrisalah, sudah pasti akan merasa senang. Apalagi mereka adalah para santri putra, dan kami semua adalah santri putri, bisa dipastikan akan terjadi kasak-kusuk dan menjadi kesempatan besar untuk melihat lawan jenis meski dalam tempat yang berbeda.

Diantara konsulat yang mengadakan perpulangan bersama adalah konsulat Jakarta, biasanya konsulat Jakarta membawa rombongan terbesar santriwati hingga empat bis besar, hal ini karena konsulat Jakarta adalah konsulat dengan jumlah santriwati paling banyak di pesantren ini. Konsulat lain yang juga mengadakan perpulangan bersama adalah konsulat jawa barat, konsulat jatim dalam hal ini adalah konsulat Surabaya dan Madura, konsulat jambi, Riau, Padang, Lampung, Kalimantan, Ambon, dan Papua. Selain itu setiap daerah biasanya juga akan mengadakan halal bihalal setelah bulan syawal bersama para wali murid. Dalam acara halal bihalal tersebut berbabagai atraksi digelar, mulai dari pidato bahasa Indonesia, Arab dan Inggris hingga tari-tarian dan lain sebagainya. Karenanya tiap-tiap konsulat akan disibukkan dengan persiapan dan latihan sebelum hari H perpulangan tiba.

Saat hari libur tiba, semua santriwati disibukkan dengan berkemas-kemas barang pribadi yang akan dibawa pulang, ada juga yang mengantri untuk mendapatkan kartu izin, ada juga yang duduk-duduk sambil menunggu kedatangan orang tua yang menjemput. Sementara para ustadzah juga ikut disibukkan dengan acara perpulangan ini. Terutama para ustadzah yang ada di bagian administrasi karena bagi santriwati yang ingin pulang berlibur harus melunasi uang administrasi terlebih dahulu termasuk SPP, uang kalender, dan lain sebagainya.

Di bagian penerimaan tamu kesibukan juga terlihat. Para pengurus dan ustadzah di bagian penerima tamu terlihat sibuk menerima tamu para wali santri yang ingin menjemput putrinya. Sementara pengurus bagian penerangan tidak pernah beranjak dari mic untuk memanggil santriwati yang telah dijemput oleh orang tuanya ke ruang tamu. Para santriwati yang memakai baju atas bawah batik atau memakai jubah berwarna ungu bersliweran, ya..kami memang diwajibkan memakai baju seragam khusus untuk keluar pesantren dan tetap lengkap dengan papan nama, pin dan tentu saja harus memakai sepatu.

Pagi ini teman-teman santriwati yang berasal dari konsulat Jakarta akan diberangkatkan. Teman-teman yang lain ikut mengantarkan mereka di pintu gerbang. Sebelum berangkat salah satu pimpinan pesantren memimpin do’a dan memberikan sedikit wejangan agar selamat sampai tujuan. Setelah selesai do’a para santriwati yang akan pulang ke Jakarta memasuki bis-bis yang telah disediakan. Empat bis besar telah terparkir di halaman pesantren, di salah satu dinding bis terpasang spanduk yang bertuliskan perpulangan bersama santriwati pesantren putri al-Mawaddah Ponorogo Jatim Indonesia. Akhirnya mereka meninggalkan pesantren dengan lambaian tangan. Sebelum meninggalkan kota Ponorogo, mereka terlebih dahulu bergabung dengan bis-bis yang lain dari pondok pesantren Gontor dan Arrisalah dan bersama-sama pergi menuju kampung halaman.

Setelah konsulat Jakarta di berangkatkan, tiba giliran konsulat Jawa barat. Santriwati yang berasal dari propinsi Jawa barat ini terdiri dari dua bis besar yang dibagi berdasarkan kota-kota yang saling berdekatan. Tidak seperti konsulat Jakarta, kali ini teman-teman santriwati dari Jawa barat tidak pulang bersama rombongan dari pondok pesantren lain. Setelah konsulat Jawa barat diberangkatkan, giliran teman-teman dari konsulat Jambi yang akan berangkat menuju kampung halaman mereka. Mereka terdiri dari dua bis yang di dalamnya juga termasuk beberapa santriwati dari daerah sekitar kota Jambi seperti Kerinci dan lain sebagainya. Teman-teman yang berasal dari daerah Jambi ini biasanya memang selalu pulang bersama dengan santri dari pondok pesantren Gontor dan Ar-Risalah. Setelah teman-teman dari konsulat Jambi diberangkatkan, menyusul teman-teman dari Riau dan Lampung. Mereka semua yang diberangkatkan biasanya memang menggunakan transportasi darat hingga kota tujuan. Sementara para santriwati dari daerah kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Papua biasanya mereka menggunakan transportasi laut dan pesawat untuk sampai ke kota tujuan, sehingga keberangkatan mereka selalu menyesuaikan jadwal alat transporasi yang digunakan sehingga seringkali tidak pada hari H perpulangan.

Dibalik semangat dan cerianya wajah santriwati yang ingin pulang berlibur, ada juga wajah-wajah sendu bahkan tidak jarang diantara mereka menangis, mereka adalah para santriwati kelas tiga tsanawiyah dan kelas enam atau santriwati akhir pesantren. Mereka memang harus bermukim pada bulan ramadhan selama dua puluh hari. Ada beberapa kegiatan yang diberikan kepada santriwati kelas tiga dan kelas enam, diantaranya adalah belajar kitab kuning. Kitab kuning memang hanya dipelajari pada saat bulan Ramadhan karena memang tidak ada kurikulum kitab kuning yang diajarkan pada pelajaran kami sehari-hari. Selain itu kelas tiga dan kelas enam memang masih harus masuk sekolah untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir tahun. Begitu banyak kegiatan yang diadakan di pesantren sehingga bulan Ramadhan akan semakin bermakna bagi para santriwati. Para santriwati kelas tiga dan kelas enam ini baru diperbolehkan untuk pulang berlibur seminggu sebelum hari raya.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, akupun masih duduk-duduk di depan masjid bersama beberapa teman sambil menunggu orang tua yang akan datang menjemput. Kondisi pesantren sudah tidak seramai tadi pagi karena sebagian dari mereka memang sudah pergi meninggalkan pesantren. Banyak dari wali santri yang sudah datang sejak kemaren bahkan dua hari yang lalu. Mobil-mobil pribadi, tukang ojek, becak, hingga delman berlalu lalang di depan gerbang. Pesantren ini memang terletak agak masuk dari jalan besar beberapa ratus meter, sehingga memberikan peluang bagi tukang ojek, pak kusir dan tukang becak yang sebagian besar dari mereka adalah penduduk asli desa Coper tempat pesantren ini berada. Menggunakan jasa mereka memang tidak perlu harus tawar menawar harga, karena telah ada standar harga yang di pasang di pangkalan ojek pas di sebelah pesantren. Para tukang ojek ini juga memakai kaos yang sama. Kaos yang memang diberikan dari pesantren ini sengaja diberikan kepada para tukang ojek agar para wali santri dan siapapun yang menggunakan jasa mereka merasa aman karena para tukang ojek ini telah bekerja sama dengan baik dengan pihak pesantren.

Akhirnya jaros untuk sholat dhuhurpun terdengar, aku dan teman-temanpun segera mengambil air wudhu dan pergi ke masjid. Meski liburan, tetapi aktifitas pesantren tetap berjalan seperti biasanya, kewajiban untuk sholat di masjid lima waktu juga tetap berjalan. Masjid yang biasanya ramai dan penuh hingga teras, kini terlihat sepi. Setelah selesai sholat berjama’ah akhirnya akupun dipanggil ke ruang tamu. Segera aku berjalan dengan tergesa-gesa ke kamar dan mengganti mukena. Di ruang tamu sudah terlihat bapak menunggu. Segera aku mencium tangan beliau, setelah berbincang sebentar akupun bergegas menuju ruang administrasi untuk menyelesaikan uang SPP yang belum terbayar semenjak tiga bulan terakhir. Aku memang anak seorang petani yang hidup pas-pasan, sehingga tidak jarang aku harus menunggak uang SPP hingga batas akhir perpulangan karena aku akan terancam tidak bisa pulang jika tidak melunasi uang SPP. Tidak hanya melunasi uang SPP, ada beberapa iuran lainnya yang harus dibayarkan sebelum pulang, seperti membayar uang kalender (setiap liburan kami selalu membawa kalender pesantren untuk media informasi), serta membayar iuran-iuran yang lain. Setiap tahun memang selalu ada saja iuran yang harus dibayar diluar SPP bulanan dan uang makan, seperti membayar baju seragam konsulat yang berbeda antara anggota dan pengurusnya, seragam pengurus ketika kelas lima, seragam pengurus majalah, seragam kaos panitia mulai dari panitia bazar, panitia KMD, panitia khutbatul arsy, dan lain sebagainya.

Setelah urusan administrasi selesai, akupun segera menuju kamar untuk berkemas-kemas dan berganti baju seragam batik, seragam khas untuk keluar dari pesantren. Tidak lupa akupun berpamitan dengan beberapa teman-teman dan para ustadzah yang masih terlihat di pesantren.

Tidak seperti teman-teman yang lain yang pulang ke rumah dengan dijemput mobil ataupun pulang dengan rombongan  konsulat. Jarak pesantren dan rumah yang bisa dijemput dalam waktu kurang lebih dua atau tiga jam membuatku dijemput dengan menggunakan motor karena memang orang tuaku tidak mempunyai mobil. Sementara untuk pulang dengan bis justru akan menambah banyak ongkos dan memerlukan waktu lebih lama karena harus menggunakan jasa ojek, harus berganti bis dan lain sebagainya. Sehingga motor menjadi satu-satunya pilihan kendaraan yang paling nyaman.

Ada rasa senang dan rasa rindu yang menyeruak dengan kampung halaman, tapi ada rasa berat meninggalkan pesantren dan berpisah dengan teman-teman, semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu ketika aku mulai keluar dari gerbang pesantren meski hanya keluar hanya kurang lebih dua bulan. Akhirnya…aku akan liburan ….

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: