Pekan perkenalan

Desember 24, 2010 zunlynadia

Pada awal masuk ke pesantren ini, aku agak sedikit heran. Setelah sholat shubuh, semua santriwati berkumpul sesuai dengan konsulatnya (daerah) masing-masing. Kami semua latihan baris-berbaris. Jujur aku masih belum mengerti dengan kegiatan baris-berbaris yang harus dilakukan setiap pagi selama berhari-hari. Tetapi setelah beberapa hari, akupun menjadi tahu bahwa kami semua sedang mempersiapkan sebuah event besar tahunan pesantren yakni khutbatul ‘Arsy.

Sudah menjadi tradisi di pesantren kami, setiap memulai tahun ajaran baru mengadakan suatu hajatan besar yang disebut dengan khutbatul ‘arsy. Khutbatul ‘arsy ini juga sering di sebut sebagai pekan perkenalan. Berbagai persiapan dalam rangka khutbatul ‘arsy di lakukan, mulai dari latihan baris-berbaris tiap-tiap konsulat (konsulat adalah perkumpulan daerah asal para santriwati), latihan paskibraka untuk acara pembukaannya, latihan berbagai atraksi-atraksi, seperti drum band, pramuka dan lain sebagainya.

Segenap keluaga besar pesantren sangat antusias menyambut khutbatul ‘Arsy, tidak hanya para pengurus yang di buat sibuk dalam kepanitiaan tetapi semua elemen pesantren mulai dari para ustadzah, pengurus, dan semua santriwati ikut dibuat sibuk dalam menyukseskan acara khutbatul arsy ini. Pekan perkenalan ini dimaksudkan tidak hanya untuk mengenalkan pesantren kepada santriwati baru, tetapi juga mengenalkan pesantren kepada masyarakat luar.

Acara khutbatul ‘arsy ini diadakan selama seminggu. Dimulai dengan upacara pembukaan. Upacara pembukaan khutbatul ‘arsy dipersiapkan secara matang. Sebagaimana upacara 17 belas agustus di istana negara,  dalam upacara khutbatul ‘arsy ini dipimpin oleh komandan upacara yang tidak lain adalah ibu pengasuh pesantren. Rangkaian acaranyapun di buat seperti upacara kebesaran di istana negara, ada pasukan paskibraka sebagai pengibar bendera merah putih, ada pasukan kopassus, yang berpakaian seperti pasukan paskibraka tetapi membawa bendera merah putih setinggi dua meter, ada pasukan drum band, pasukan bhineka tunggal ika yang memakai pakaian adat daerah masing-masing, pasukan pramuka, ada barisan pop song (vocal group) yang menyanyikan lagu Indonesia raya, dan lain sebagainya.

Sementara peserta upacara berbaris sesuai dengan konsulat masing-masing, dengan satu orang yang membawa papan nama konsulat. Barisan peserta ini akan berjajar secara berurutan di mulai dari konsulat Nanggro Aceh Darussalam dan berakhir dengan konsulat Irian Jaya. Pimpinan barisan wajib mengetahui berapa jumlah santriwati yang ada dalam barisannya, karena pada saat inspeksi barisan nanti, para pimpinan pesantren akan menanyakan jumlah santriwati di setiap barisan untuk melihat perkembangan jumlah santriwati dari tahun ke tahun.

Selama enam tahun di pesantren, hanya pada tahun pertama aku tidak mendapatkan tugas apapun dalam pekan perkenalan dan hanya menjadi anggota pasukan dari konsulat (perkumpulan asal daerah santriwati). Pada tahun kedua dan seterusnya, aku selalu menjadi bagian dari petugas upacara dalam pekan perkenalan, yakni sebagai salah satu anggota paskibraka. Ya..posturku yang cukup tinggi memang menjadikanku selalu ditunjuk sebagai anggota paskibraka.

Di lapangan upacara terdapat panggung yang besar tempat para pimpinan dan para ustadzah. Puncak acara dalam upacara ini adalah kesuksesannya dalam mengibarkan bendera merah putih. Detik-detik pengibaran bendera terlihat cukup menegangkan. Semua pasang mata tertuju pada pasukan pengibar bendera. Dengan berbaris rapi, para pasukan pengibar bendera mulai memasuki tempat pengibaran. Pasukan pengibar bendera yang terdiri atas 17 orang ini berjalan dengan sangat anggun. Dengan pakaian yang serta putih. Baju putih, celana putih, jilbab putih, kaos tangan, sepatu dan kaos kaki yang putih, memakai songkok hitam dengan bulu merah putih, dan tidak lupa memakai dasi merah putih, sungguh tampak seperti pengibar bendera di istana. Yang membedakan hanya lah pada baju panjang dan jilbab yang di kenakan.

Suasana sangat sunyi, hanya suara hentakan sepatu dari para paskibraka yang terdengar. Prok prok prok, suara itu terdengar semakin keras memasuki area pengibaran bendera, sesampainya di depan tiang bendera, ke 17 orang ini kemudian membentuk formasi menjadi dua barisan. Tiga orang sebagai tim pengibar tetap berdiri di depan, sementara pasukan di belakangnya membelah menjadi dua barisan, setelah itu berbalik saling berhadap-hadapan.

Tiga orang pengibar bendera kemudian maju ke arah panggung untuk mengambil bendera merah putih dari inspektur upacara, persis seperti upacara 17 agustus di istana negara. Setelah mengambil bendera maka ketiga orang pengibar bendera ini kembali menuju tiang bendera untuk mulai mengibarkannya. Ketika tim pengibar bendera mulai mengibarkan bendera, semuanya hormat sambil menyanyikan lagu Indonesia raya yang diiringi dengan suara barisan pop song dan musik dari barisan drum band. Setelah selesai, para pasukan pengibar bendera kembali membentuk barisan seperti semula dan berbaris menuju ke tempat semula.

Jujur, aku sendiri tidak pernah merasakan begitu hikmatnya upacara selain di pesantren. Meskipun pesantren di kenal sebagai lembaga pendidikan yang berbasis agama, tetapi ternyata pesantren juga memupuk rasa nasionalisme yang tinggi terhadap negara, terbukti dengan upacara yang di gelar dengan begitu megahnya, dengan persiapan yang tinggi dan berlangsung sangat hikmat. Persiapan upacara seperti ini memang memakan waktu berminggu-minggu bahkan satu bulan. Semuanya harus tampil se perfect mungkin dan tanpa ada kesalahan, karena jika terjadi kesalahan, maka panitia akan sangat malu terutama dihadapan para pimpinan dan akan merasa gagal. Beberapa hari sebelum hari H, pasti akan di adakan gladi bahkan gladi tidak cukup dilaksanakan sekali tetapi juga berkali-kali. Hal ini juga berlaku untuk acara-acara lainnya. Sehingga setiap acara apapun selalu dapat berjalan dengan baik dan sempurna.

Setelah prosesi upacara telah selesai dilaksanakan, acara di lanjutkan dengan berbagai atraksi yang menunjukkan aktivitas dan kreatifitas santriwati. Mulai dari atraksi para anggota pramuka yang menampilkan atraksi tongkat, morse dan smapore yang dimotori oleh bagian kepramukaan, atraksi olahraga oleh bagian olahraga dan juga atraksi kesenian seperti tarian daerah. Semuanya menambah semarak acara pekan perkenalan.

Upacara pembukaan khutbatul ‘Arsy ini di akhiri dengan inspeksi barisan oleh komandan upacara. Inspeksi ini dilakukan oleh para pimpinan pesantren untuk melihat berapa jumlah barisan dari santriwati tiap-tiap daerah. Pimpinan barisan akan melaporkan kepada komandan upacara jumlah santriwati yang ada dalam barisan.

Di penghujung akhir upacara, para pimpinan pesantren memimpin pemberangkatan santriwati untuk keliling desa coper, desa tempat pesantren kami berada, sebagai salah satu cara mengenalkan diri pada masyarakat luas dan memperlihatkan eksistensi pesantren. Pemberangkatan pasukan ini dimulai dengan pasukan pengibar bendera, di lanjutkan dengan pasukan drum band, pasukan paskibraka, pasukan pramuka, pasukan bhineka tunggal ika yang merupakan utusan dari tiap daerah dengan memakai pakaian adat masing-masing mirip karnaval 17 agustusan, pasukan drum band, pasukan pop song, pasukan aktifitas santriwati; yang berisi barisan santriwati yang memperlihatkan aktifitas santriwati sehari-hari mulai dari yang memakai pakaian seragam sekolah, seragam pramuka, seragam olahraga, seragam pramuka, pakaian tidur lengkap dengan bantalnya, pakaian biasa dengan membawa handuk dan alat mandi dan lain sebagainya. Kemudian diakhiri dengan pasukan tiap-tiap konsulat atau daerah. Beberapa konsulat ada yang menyertakan atraksi di depan barisannya, seperti barisan konsulat Jakarta yang di dahului dengan ondel-ondel, konsulat Jawa barat, yang di dahului dengan atraksi patung singa yang dinaiki oleh seorang santri dan diangkat oleh empat orang. Semuanya memang menambah semarak acara pembukaan khutbatul arsy.

Iring-iringan barisan ini menjadi hiburan bagi masyarakat di sekitar pesantren, sehingga banyak sekali orang-orang di pinggir jalan yang kami lalui melihat dengan antusias. Hal ini membuat acara pekan perkenalan khutbatul ‘arsy semakin terlihat megah dan meriah.

Selesai berkeliling, kami kembali memasuki area pesantren.  Setelah istirahat dan makan nasi bungkus yang dibagi-bagikan melalui pimpinan barisan, kami segera menuju ke depan masyroh (panggung) dan duduk di tempat yang disediakan. Disinilah acara khutbatul ‘arsy yang sebenarnya di mulai.

Khutbatul ‘Arsy adalah pidato dari para pimpinan pesantren tentang seluk beluk pesantren secara detail, mulai dari sejarah, status, struktur kepemimpinan, kurikulum, kegiatan-kegiatan pesantren, keorganisasian dan lain sebagainya. Khutbah atau ceramah ini tidak hanya ditujukan kepada santriwati baru, tetapi juga di tujukan kepada santriwati lama. Bagi santriwati baru, ceramah ini sangat penting untuk mengenalkan pesantren, sebaliknya bagi santriwati yang lama, khutbah ini penting untuk mengingatkan kembali tujuan awal belajar di pesantren. Khutbatul ‘Arsy ini berlangsung selama sepekan dan diikuti oleh semua santriwati bahkan para ustadz dan ustadzah.

Pada malam harinya terdapat berbagai acara hiburan dan atraksi kreatif dari para santriwati dalam acara aneka ria nusantara. Dalam acara ini, para santriwati dari berbagai daerah menampilkan kreatifitasnya yang menunjukkan ciri khas daerah masing-masing. Karena acara inilah, aku banyak mengenal berbagai tari-tarian dari seluruh penjuru negeri, cerita rakyat nusantara dan kesenian tradisional lainnya, seperti angklung, ondel-ondel, dan lain sebagainya. Penampilan yang di tampilkan sangat luar biasa. Ada tari hikmah fajar dari santriwati yang berasal dari Aceh, tarian kipas ini sangat memukau setiap mata yang memandang, sehingga menghilangkan kantuk yang menyerang, Tarian kipas ini mencapai puncaknya ketika dua kipas yang terbuat dari bulu yang sangat halus berwarna merah dan kuning yang masing-masing di pegang oleh ke delapan penari membentuk lingkaran besar bak bunga matahari raksasa yang terus berputar diiringi dengan musik khas Aceh, di tengah-tengah bunga matahari raksasa tersebut, terdapat seorang putri dengan memakai mahkota  indah diatas kepalanya. Tarian ini adalah salah satu kesenian yang memperlihatkan betapa besar mahakarya yang diciptakan oleh masyarakat Aceh. Setiap tahun para santriwati dari propinsi NAD ini selalu tampil memukau, terutama dalam hal kesenian tari-tariannya.

Tari piring dan kesenian pencak silat juga di tampilkan oleh para santriwati yang berasal dari Padang. Dengan memakai pakaian adat Minang lengkap dengan kerudung khasnya yang membentuk seperti dua tanduk, kedua kesenian khas Sumatra barat itu tampil dengan sangat elok.Tari sekapur sirih dari Jambi juga tidak kalah cantiknya. Tarian ini merupakan tari penghormatan bagi tamu yang datang, yang di akhiri dengan memberikan kapur dan sirih oleh sang putri kepada pimpinan pesantren sebagai tanda hormat.

Demikian juga santriwati dari daerah lain, seperti Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Irian jaya, yang semuanya menampilkan kesenian khas daerah masing-masing. Sementara itu santriwati yang berasal dari daerah Jakarta biasanya menampilkan drama dari cerita rakyat betawi seperti Si Pitung, Si Jampang dan lain sebagainya.

Sebagai orang yang terlahir dengan suku Jawa, aku sangat terpukau dan mengagumi tari-tarian yang di pertunjukkan oleh para santriwati dari daerah luar Jawa, sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Tari-tarian yang ditampilkan terutama oleh teman-teman dari Sumatra memang cukup menarik untuk dilihat, berbeda dengan tari-tarian dari temen-temen yang berasal dari jawa (terutama jawa tengah dan Yogyakarta), yang menampilkan tarian khas keraton dan cenderung kalem dan bagiku sangat membosankan, mungkin karena aku sudah biasa melihatnya). Sementara sebagai anggota dari konsulat jawa timur, kami tidak pernah menampilkan tari-tarian. Konsulat jawa timur selalu menampilkan ludruk atau terkadang juga lawak yang menampilkan tokoh dan pelawak jawa timur seperti Sakerah (dari Madura), atau Kirun yang saat itu sedang naik daun. Ludruk dan lawak yang menggunakan bahasa Jawa, membuat teman-teman dari luar jawa tidak mengerti. Ketika sebagian teman-teman tertawa mendengar lawakan yang ditampilkan, sebagian teman-teman lain terlihat ekspresi bingung dan tidak tahu karena memang mengerti.

Selain pertunjukan kesenian dari para santriwati yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Pekan perkenalan khutbatul ‘Arsy juga di meriahkan dengan dua acara besar yakni Drama Arena yang di gelar oleh santriwati kelas lima (kelas dua Aliyah) dan Panggung Gembira yang di gelar oleh santriwati kelas enam (kelas tiga Aliyah) sebagai acara penutup dari rangkaian acara pekan perkenalan khutbatul Arsy.

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: