Pagelaran panggung gembira

Desember 24, 2010 zunlynadia

Pagelaran Panggung gembira adalah pagelaran penutup dari rangkaian acara Khutbatul ‘Arsy. Kesibukan dalam mempersiapkan panggung gembira sudah di mulai jauh-jauh hari, di sela-sela kesibukan kami para satriwati kelas enam yang juga menjadi panitia Khitbatul ‘Arsy yang harus mempersiapkan upacara pembukaan hingga berbagai atraksi yang ditampilkan. Jadi harus pandai-pandai berbagi waktu.

Sebagai pagelaran akbar di akhir tahun kami di pesantren, kami sangat antusias menyiapkan atraksi kreatif kami dalam panggung gembira. Semua santriwati kelas enam yang berjumlah hampir 200 orang di libatkan untuk menyukseskan acara tersebut. Untuk itu kami membagi kepanitian menjadi beberapa bagian, seperti bagian acara, bagian dekorasi, penanggung jawab drama, pop song, tari dan lain sebagainya. Sebagai salah satu penanggung jawab acara, aku dan beberapa teman bertanggung jawab terhadap suksesnya acara PG. Aku mengkoordinir para penanggung jawab tiap-tiap atraksi yangn akan di tampilkan. Selain itu aku juga bertanggung jawab untuk membuat acara pembukaan PG dengan meriah.

Pengalaman kami di tahun sebelumnya dalam drama arena (pertunjukan yang di gelar pada saat kami kelas lima) menjadi sangat penting. Apa aja kekurangan pada acara kami setahun yang lalu menjadi pelajaran berharga untuk membuat pagelaran kali ini menjadi lebih baik.

Dalam panggung gembira ini, melanjutkan pagelaran yang kami dalam dalam drama arena setahun yang lalu, kami mengambil setting Eropa. Semua acara, dekorasi panggung, back ground, kostum menyesuaikan menjadi ala eropa. Teman-teman di bagian dekorasi membuat berbagai macam background mulai dari yang berlukiskan gedung-gedung  Eropa Kuno, sampai dengan lukisan taman bunga Tulip. Tidak hanya itu, dekorasi panggungpun dihias dengan membuat taman-taman buatan yang ada air mancur di dalamnya, sebuah jembatan buatan serta ribuan bunga tulip yang terbuat dari kertas krep beraneka warna yang tampak seperti bunga tulip hidup yang memenuhi taman dan mengelilingi air mancur. Di tambah dengan hiasan lampu yang berwarna-warni menambah kesan semarak dekorasi panggung.

Karena kami tidak mempunyai dana yang besar untuk membeli, maka kreatifitas kami di uji disini. Untuk membuat background lukisan, kami menggunakan kertas bekas  bungkus semen yang banyak terdapat di pesantren. Beberapa kertas pembungkus semen tersebut dirobek pada sisi bawahnya sehingga terbuka,  kemudian di lem antara satu dengan yang lain sampai sebesar back ground panggung. Setelah itu baru kemudian di lukis di atasnya dengan cat. Hiasan panggung yang terdiri dari ribuan bunga tulip yang membentuk seperti taman bunga tulip di buat dengan kertas krep berwarna-warni. Satu bunga terdiri dari lima kelopak yang ditali dengan benang di atas satu batang lidi. Kemudian lidi tersebut di bungkus dengan kertas krep berwarna hijau agar terlihat seperti tangkai bunga. Sementara daun-daun bunga tulip dibuat dari daun kelapa yang dipotong dengan ketinggian yang sama dengan bunga tulip dan kemudian ditancapkan dipinggir-pinggir pelepah pisang sementara ribuan bunga tulip kertas ini, disematkan di atas tengah pelepah pisang. Di malam hari dengan lampu-lampu yang berwarna warni, sungguh bunga-bunga tulip kertas ini tampak  seperti bunga tulip hidup.

Sebagai santriwati di pesantren khusus putri, semua hal kami lakukan secara mandiri. Seringkali kami para santriwati dijuluki dengan perempuan-perempuan yang kuat dan perkasa. Dalam berbagai even, kami terbiasa melakukannya sendiri, konsep acara, membuat gapura, memasang back ground, mengangkat batu bata dengan menggunakan gerobak untuk membuat taman-taman, semua kami lakukan sendiri tanpa campur tangan laki-laki. Kami memang telah terlatih untuk mandiri dalam berbagai macam hal.

Acara Panggung Gembira ini di mulai pukul 19.30 WIB. Acara di mulai dengan penjemputan pengasuh pesantren dari gerbang depan pesantren menuju tempat acara. Penjemputan dengan memakai kereta kuda ini di iringi dengan pasukan pengawal khusus dan pasukan drum band.  Pasukan drum band memakai baju putih-putih dengan sayap-sayap di kedua lengan baju yang dibuat dari jilbab berikut memakai topi panjang khas Eropa. Bak pengawalan seorang presiden, suasana sangat khidmat, tidak ada suara apapun kecuali suara drum band pengiring.

Memasuki tempat acara, semua santriwati berdiri memberikan sambutan, lampu lampu sengaja di matikan, diganti dengan nyala kembang api dari segala penjuru. Kebetulan panggung tempat berlangsungnya pagelaran Panggung gembira di kelilingi oleh tiga gedung bertingkat yang membentuk letter U, sehingga dari atas ketiga gedung itulah berbagai jenis kembang api di nyalakan. Kontan suasana menjadi riuh, sampai akhirnya para pengawal menghentikan langkahnya di depan panggung dan kemudian berhadap-hadap sambil memberikan hormat, bersamaan dengan itu, lampu-lampupun kembali dinyalakan. Sementara ibunda (panggilan para santri kepada ibu pengasuh) disusul oleh empat peri cantik yang memakai baju serba putih lengkap dengan sayap-sayapnya serta mahkota yang terbuat kertas emas. Kemudian ibunda naik ke atas panggung setelah melewati taman bunga tulip yang sangat indah dengan air mancur buatannya. Dari atas panggung, turunlah salju-salju buatan yang terbuat dari gabus yang di potong kecil-kecil yang di lemparkan dari jendela kamar as-Sakinah 7 yang letaknya tepat di atas panggung. Sampai di atas panggung, back ground terbuka perlahan-lahan dan di dalamnya terdapat bunga tulip raksasa berwarna orange. Bunga tulip raksasa ini terbuat dari karton yang paling tebal yang dipotong-potong besar dan dibentuk menjadi empat kelopak bunga tulip. Antar satu kelopak dengan kelopak yang lainnya disambung dengan kawat. Kemudian keempat kelopak tersebut dicat berwarna orange. Bunga tulip raksasa yang diletakkan di tengah-tengah panggung tersebut terlihat dari depan panggung seperti bunga tulip raksasa sungguhan. Kemudian perlahan-lahan kelopak bunga tulip terbuka karena keempat kelopaknya ditarik oleh benang dari balik panggung, sehingga terlihat seperti bunga raksasa yang mekar dalam sebuah taman bunga lalu muncullah seorang putri cantik yang memberikan jas bulu panjang  dan mengenakannya pada ibunda pengasuh, selain itu sang putri juga memberikan bunga tulip berwarna merah yang terbuat dari kaca sebagai tanda mata. Jas bulu panjang yang berwarna putih tersebut menambah kental suasana yang seolah-olah berada di belahan bumi eropa. Setelah menerima tanda mata, kemudian ibu pengasuh diantar oleh sang putri dan keempat peri cantik menempati tempat duduk yang telah disediakan di depan panggung. Bersamaan dengan itu semua lampu-lampu yang sebelumnya dimatikan kemudian kembali dinyalakan.

Setelah acara pembukaan tersebut, pembawa acara mengambil alih dan memandu acara. Sebagaimana acara apapun di pesantren, selalu di awali dengan membaca ayat suci al-Qur’an yang dilanjutkan dengan menyanyikan lagu mars pesantren al-Mawaddah. Setelah itu pembawa acara akan menyerahkan kepada pembawa acara kedua yang akan memandu acara inti pagelaran panggung gembira dengan lebih segar dan santai sembari menampilkan berbagai atraksi kreatif kami sebagai santriwati tingkat akhir.

Ada beberapa atraksi yang kami tampilkan, yakni pop song (vocal group) yang menyanyikan lagu ciptaan kami sendiri. Pop song ini terdiri dari 30 orang yang memakai baju putih dengan rompi berwarna cerah dan rok yang juga berwarna putih lengkap dengan topi bundar dan pita besar di atasnya. Yang kami sebut dengan rompi dan topi itu sebenarnya terbuat dari kertas karton yng di lapisi dengan kertas emas warna, sedangkan pita besar yang menghiasi topi tersebut terbuat dari kertas krep dengan warna yang senada dengan rompi. Meski demikian dari area penonton semuanya tampak seperti sungguhan, sehingga tidak terlihat jika hiasan dalam kostum yang dipakai tersebut sebenarnya hanya terbuat dari kertas krep.

Atraksi selanjutnya adalah tari-tarian. Ada dua tarian yang di tampilkan. Yang pertama adalah tari cheer leader. Tari cheer leader memang belum pernah ditampilkan sebelumnya di pesantren ini. Ya..meskipun kami adalah santriwati, kami memang tetap diperbolehkan mengekspresikan diri sejauh tetap menutup aurat. Tarian ini memang cukup menghebohkan dan mendapat sambutan yang meriah dari para penonton. Jika biasanya para penari cheer leader memakai rok mini, maka para penari cheer leader ini memakai baju yang dilengkapi dengan rompi dan celana putih yang kemudian memakai kertas krep didepannya  yang panjangnya hanya sampai di atas lutut. Kertas krep tersebut berwarna orange dan ditempeli dengan potongan-potongan kertas emas dengan artistik, sehingga terkesan seorang seperti rok mini. Tidak lupa jilbab para penari di hiasi dengan topi dengan warna yang senada yang diberi hiasan seperti bunga matahari di tengahnya. Semuanya di buat dari kertas karton dan kertas krep. Para penonton semakin histeris ketika beberapa penari naik di atas punggung penari yang lain hingga tinggi membentuk sebuah formasi. Pada awalnya memang punya kesulitan untuk bisa membuat formasi yang bertingkat-tingkat apalagi kami semua adalah perempuan. Tetapi dengan latihan yang terus menerus, tarian ini akhirnya sukses di bawakan.

Setelah atraksi tarian cheer berhasil di bawakan para penari dengan baik. Kemudian dilanjutkan dengan atraksi lainnya yakni tarian daerah. Dalam tarian ini, melibatkan jumlah penari sebanyak 20 orang, hampir memenuhi panggung. Kedua puluh orang penari tersebut memakai kostum yang berbeda-beda. Ada yang memakai baju khas padang, ada yang memakai bagi baju khas bali, baju khas jawa, baju khas Ambon dan lain sebagainya. Mereka menari bersama dengan diiringi musik gabungan yang terdiri atas berbagai berbagai musik daerah. Meski semua penari menari secara bersama-sama tetapi ketika salah satu musik daerah terdengar, maka penari yang memakai baju daerah yang bersangkutan maju kedepan, begitu seterusnya hingga akhir.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pertunjukan wayang orang. Wayang orang adalah salah satu pertunjukan wajib bagi para santriwati kelas enam dalam panggung gembira. Meski banyak santriwati dari berbagai daerah di luar jawa yang tidak mengerti makna wayang orang tetapi untuk mempermudah jalan ceritanya teks wayang orang yang biasanya memakai bahasa jawa kemudian diganti dengan teks berbahasa asing (arab atau Inggris). Pertunjukan wayang orang menjadi salah satu pertunjukan yang membutuhkan banyak persiapan. Disamping persiapan kostum yang khas jawa untuk pertunjukan, (mulai dari pakaian hingga aksesoris para pemain wayang seperti topi dengan bentuknya yang khas, selendang dan lain-lain), para pemain juga harus banyak belajar tentang wayang orang yang tidak hanya hafal teks skenario dalam ceritanya tetapi yang lebih sulit adalah belajar gerak tari dan lenggak-lenggok khas pemain wayang, sehingga dapat seperti para pemain wayang sungguhan. Khusus untuk  pertunjukan wayang orang ini, kami harus memanggil guru wayang untuk mengajarkan gerak tari jawa, berikut logat bicaranya serta lenggak lenggok pemain wayang yang tentu saja berbeda dengan pertunjukan drama ataupun lainnya. Pendiri pesantren kami memang mewajibkan pertunjukan wayang orang dalam setiap pagelaran panggung gembira, disamping almarhum kyai Sahal adalah salah satu penggemar wayang orang, pagelaran ini dimaksudkan untuk mengingatkan kepada kami bahwa dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. Karena pesantren kami berada di jawa, maka kami harus bisa beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat. Akhirnya satu sesi pertunjukan wayang telah dapat dilewati dengan baik, meskipun masih banyak kekurangan, tetapi sangat dapat dimaklumi karena memang mereka bukan pemain wayang yang sebenarnya.

Puncak acara pagelaran panggung gembira diisi dengan drama berbahasa asing dan untuk pagelaran kali ini kami memilih bahasa inggris sebagai bahasa pengantarnya mengikuti setting eropa yang kami pilih. Drama yang berjudul “please for give me” dengan peran utama pangeran Richad dan putri Laura sangat menarik perhatian penonton. Meski malam telah semakin larut, tetapi para santriwati yang menonton acara tetap terjaga dengan setia mengikuti setiap adegan dalam drama. Drama yang dibumbui dengan cerita percintaan memang sangat diminati oleh para santriwati karena mereka semua adalah para remaja yang sedang dalam masa-masa puberitas. Drama ini juga memerlukan persiapan yang rumit, karena mulai dari jalan cerita, menerjemahkan teks skenario dalam bahasa asing hingga kostum yang dipakai oleh para pemain adalah betul-betul karya kami santriwati kelas enam tingkat akhir pesantren. Sebagai puncak acara dalam pagelaran panggung gembira, kami akan mempersembahkan karya kami yang terakhir.

Ada empat orang yang aku sendiri sebagai seksi acara yang menentukan untuk menjadi orang dibalik layar dalam drama ini. Mereka adalah teman-teman sekelasku, keempat orang tersebut berbagi tugas, satu sebagai penulis skenario, satu lagi sebagai penerjemah teks skenario kedalam bahasa asing, satu lagi sebagai sutradara yang mengarahkan setiap adegan yang harus diperankan oleh para pemain dan satu lagi sebagai perancang kostum para pemain. Mereka sangat kompak satu dengan yang lain, sehingga puncak acara dalam panggung gembira dapat terlewati dengan sukses.  Tidak sedikit penonton yang akhirnya menitikkan air mata, merasa terharu dan larut dengan adegan yang diperankan oleh para pemain drama.

Kesibukan pada saat drama memang tidak hanya melibatkan para seksi drama yang empat orang, tetapi juga melibatkan bagian yang lain seperti bagian dekorasi dan bagian penerangan. Bagian dekorasi membuatkan beberapa background khusus untuk drama sesuai dengan setting adegan. Ketika adegan berada di sebuah kerajaan, di taman, ataupun di sungai, maka background panggungpun menyesuaikan. Butuh kerjasama yang baik memang untuk mengganti setiap background pada setiap adegan. Dua orang standby di sisi kanan panggung dan dua orang lagi standby disisi kiri panggung. Mereka bertugas khusus untuk mengganti background dengan menarik ulur tali background yang diinginkan. Sementara satu orang lagi bertugas untuk memberi pengarahan background apa yang akan ditampilkan dalam setiap adegan. Sementara bagian penerangan adalah teman-teman yang bertugas di bagian soundsystem yang bertugas untuk memutar musik ataupun lagu-lagu instrumental yang melengkapi setiap adegan drama.

Panggung pertunjukan memang terdiri dari dua, sehingga memudahkan teman-teman yang bekerja dibalik layar. Satu panggung utama dan satu lagi panggung kecil yang berada di depan panggung utama yang dipenuhi dengan taman bunga tulip lengkap dengan air mancurnya. Ketika para pemain drama sedang berada di panggung depan, maka panggung utama akan ditutup. Pada saat panggung utama ditutup, maka para kru drama mempersiapkan berbagai peralatan yang akan digunakan oleh para pemain drama untuk sesi adegan berikutnya dipanggung utama, seperti kursi, papan, dan lain sebagainya. Pada saat itu juga teman-teman yang bertugas sebagai penarik background akan menurunkan background yang sesuai dengan adegan yang akan dimainkan berikutnya. Begitu seterusnya sehingga pergantian background serta kesibukan para kru drama di belakang layar tidak akan terlihat oleh para penonton. Meski semua serba manual, tetapi dengan kerjasama yang baik, semuanya dapat dilalui dengan lancar dan sukses.

Setelah puncak acara terlewati dapat terlewati dengan baik, kini saatnya acara berikutnya yakni evaluasi. Evaluasi ini diberikan oleh ibu pengasuh atas semua penampilan kami di panggung. Mulai dari pertunjukan, MC yang membawakan, hingga dekorasi, semuanya tidak lepas dari evaluasi sebagai pelajaran bagi adik-adik di tahun mendatang yang pasti akan menggelar pertunjukan yang sama. Kata sukses yang keluar dari ibu pengasuh atas pagelaran yang ditampilkan menjadi puncak kebahagiaan kami semua, apa yang kami lakukan dengan segala persiapan yang banyak membutuhkan perhatian, kekuatan fisik, kreativitas hingga kekompakan dari semua santriwati kelas enam yang berjumlah kurang lebih 250 santriwati akhirnya  tidak sia-sia. Kami memang sudah mempersembahkan penampilan terbaik kami sebagai kenang-kenangan yang tidak pernah kami lupakan.

Entry Filed under: diary pesantren

One Comment Add your own


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: