Meriahnya Bazar

Desember 24, 2010 zunlynadia

Sejak kemaren aku sudah disibukkan dengan kepanitian dalam bazar. Aku sendiri menjadi seksi acara yang bertugas menyiapkan segala hal terkait dengan berlangsungnya kegiatan bazar, mulai dari acara pembukaan hingga penutupan. Setiap tahun pesantren mengadakan dua kali bazar. Ide untuk membuat bazar pada awalnya diinspirasi oleh banyaknya baju-baju dari jemuran yang berjatuhan dan tidak lagi diambil oleh pemiliknya. Tidak hanya itu, banyak sekali barang-barang seperti sepatu, tas serta barang-barang lain milik para santriwati yang masih bagus tetapi dibuang atau ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya saat perpindahan kamar. Hal ini kemudian membuat ide mengadakan bazar di pesantren.

Bazar biasanya berlangsung satu hari dengan cukup meriah. Hari jum’at dipilih karena merupakan hari libur. Kepanitiaan bazar diambil dari para pengurus OSWAH dan koordinator pramuka, tetapi secara umum semua pengurus dilibatkan dalam kegiatan bazar. Hal ini karena setiap bagian dari kepengurusan OSWAH diberikan tempat untuk membuka stand masing-masing. Stand yang paling besar adalah stand bagian keamanan. Bagian keamanan menjual baju-baju santriwati yang berjatuhan. Baju-baju itu kemudian dicuci bersih, dilipat dengan rapi dan dimasukkan kedalam plastik, sehingga menjadi layak untuk dijual kembali. Sementara baju-baju yang tertera nama, disendirikan untuk nanti diserahkan kembali kepada sang punya dengan menuliskan nama-nama para santriwati di yang mempunyai baju diatas kertas karton dan ditempel di depan stand. Sebagian besar santriwati memang memberi nama pada semua barang yang dimilikinya, mulai dari baju, jilbab, celana, ember, sandal, bahkan BH serta celana dalam juga ditulis nama agar tidak mudah hilang, meski pada kenyataannya kehilangan barang tetap tidak bisa dihindarkan. Harga baju-baju ini juga bervariasi, mulai dari dua ribu hingga lima ribu rupiah. Untuk baju-baju yang tidak ada namanya, siapapun bisa membelinya, tidak hanya para santriwati tetapi juga penduduk yang ada disekitar pesantren.

Ada lagi stand makanan. Biasanya stand makanan ini dimotori oleh pengurus konsulat masing-masing. Banyak jenis makanan yang baru aku kenal lewat bazar di pesantren. Mulai dari empek-empek, rendang, tempoyak yang berbahan durian hingga nasi pecel dan dawet jabung khas Ponorogo, semuanya ada di bazar. Stand makanan menjadi sasaran yang paling banyak dicari setelah stand baju bagian keamanan. Ada juga stand bagian photografi, yang menawarkan untuk berfoto baik indoor mauupun out door, mereka membuat stand di sekitar taman di sebelah masjid. Di pesantren kami memang dilarang untuk membawa kamera. Kamera akan disita oleh bagian keamanan dan hanya boleh diambil ketika pesantren mempunyai acara seperti pekan perkenalan, khutbatul wada’ serta acara-acara yang lain.

Selain itu ada juga stand pramuka yang menjual alat-alat kepramukaan. Stand pramuka selalu dibuka dengan tenda. Selain itu stand pramuka juga menjual berbagai koleksi prangko unik. Kebetulan saat ini PT pos Indonesia baru mengeluarkan prangko dengan gambar artis terkenal Nike Ardila. Prangko-prangko ini sangat laris meski dijual dengan harga agak tinggi.

Bazar tidak hanya dimeriahkan oleh berbagai stand tetapi juga dengan berbagai perlombaan. Mulai dari lomba fashion show antar kamar, lomba mading antar rayon, lomba masak antar daerah, lomba pionering, lomba cerdas cermat, lomba debat dan lomba menerjemah hingga lomba-lomba dalam permainan seperti lomba memasukkan pensil dalam botol, lomba meniup balon dan lain sebagainya. Semuanya ada di bazar. Kemeriahan bazar bisa dilihat dari berbagai hiasan yang terdapat pada tiap-tiap stand, umbul-umbul serta spanduk yang dipasang di beberapa tempat. Semua stand berlomba-lomba untuk membuat standnya semenarik mungkin hingga bisa dikunjungi banyak orang.

Sebelum acara bazar dimulai, biasanya ada semacam seremonial untuk membuka dan menutup bazar. Dalam acara pembukaan maupun penutupan bazar, para santriwati berseragam lengkap dan menempati tempat yang telah disediakan di depan panggung. Ada beberapa sambutan mulai dari ketua panitia hingga pengasuh pesantren. Dalam sambutannya ibu pengasuh selalu mengingatkan bahwa bazar bukan ajang untuk befoya-foya tetapi lebih pada memanfaatkan barang-barang bekas seperti baju-baju yang berjatuhan untuk kemudian diberikan kembali kepada pemiliknya ataupun dapat dipakai dan dimanfaatkan oleh yang membutuhkannya. Meski pada kenyataanya tradisi bazar ini kemudian semakin berkembang dan menjadi ajang bagi para pengurus untuk mencari uang dengan menjual barang-barang sesuai kreatifitas mereka masing-masing.

Pada acara pembukaan bazar kali ini, dibuka dengan pemotongan pita yang menjadi tanda dimulainya bazar oleh Ibu pengasuh pesantren. Setelah itu ibu pengasuh beserta para rombongan para ustadzah melakukan inspeksi dan melihat stand-stand yang ada dalam bazar sebelum akhirnya kembali. Tidak jarang ibu pengasuh dan para ustadzah ikut meramaikan bazar dengan berbelanja. Sementara para santriwati yang telah selesai mengikuti acara pembukaan biasanya langsung menyerbu stand-stand yang telah disediakan. Biasanya para santriwati telah bersiap-siap untuk mengeluarkan uang mereka dalam bazar. Aku sendiri yang mempunyai uang pas-pasan harus berfikir berkali-kali untuk mengeluarkan uang. Biasanya aku akan berkeliling ke semua stand terlebih dahulu untuk memilih-milih apa yang akan aku beli dengan melihat ke kantong. Setelah semua stand aku lihat baru kemudian akupun berbelanja.

Ada satu hal yang pasti terjadi ketika bazar berlangsung. Dapur-dapur menjadi sepi dari antrian para santriwati yang akan mengambil makan. Kebanyakan para santriwati enggan makan makanan dari dapur yang telah disediakan. Mereka lebih memilih untuk membeli makanan yang ada pada stand bazar. Menu yang ada lebih bervariasi dan tentu saja akan terasa berbeda di lidah. Aku sendiri meski sebenarnya juga malas pergi ke dapur untuk mengambil jatah makan, tetapi tetap harus kulakukan daripada aku kelaparan. Karena uangku tidak akan cukup untuk membeli berbagai makanan yang ada dalam bazar. Kali ini aku akan membeli rok hijau seragam sekolah yang hilang satu bulan yang lalu. Akupun ikut berkerumun di depan stand bagian keamanan. Suasana sangat ramai,  banyak para santriwati baik yang sedang mencari baju mereka karena tertera namanya di papan stand maupun para santriwati yang memilih baju-baju bekas yang masih layak pakai. Akhirnya akupun menemukan rok seragam yang cocok dengan postur tubuhku yang panjang dan ramping. Selama rok seragam hilang, aku selalu meminjam kepada para haristah ataupun teman yang sedang sakit yang tidak bersekolah. Setiap hari rabu dan kamis tiba, aku selalu berkeliling ke kamar-kamar untuk mencari pinjaman rok. Karenanya dalam bazar kali ini akupun bertekad untuk membeli rok seragam bekas dan dengan harga tiga ribu rupiah akhirnya akupun mendapatkannya.

Setelah mendapatkan rok seragam, akupun kembali menghitung uang yang ada dalam saku bajuku. Tinggal lima ribu rupiah. Uang ini adalah uang sakuku hingga akhir bulan yang masih tinggal beberapa hari lagi. Akupun harus bisa berhati-hati membelanjakan uangku, karena kalau tidak, bisa habis dalam sehari ini. Semua makanan yang dijual pada stand-stand memang sangat menggiurkan. Tetapi aku harus betul-betul memilih. Pilihankupun jatuh pada makanan khas Palembang empek-empek. Dengan uang seribu lima ratus, akhirnya akupun mendapatkannya. Aku memang senang mencoba makanan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dan di pesantren ini aku tidak hanya jadi tahu berbagai makanan khas nusantara tetapi juga bisa merasakannya. Hanya saja aku tidak bisa merasakan lebih banyak makanan lagi, karena uang di kantong hanya tinggal tiga ribu lima ratus rupiah dan itu artinya aku harus lebih bisa menahan diri dari berbagai godaan untuk mengeluarkan uang.

Teng..teng..teng..

Suara jaros terdengar tepat menunjukkan jam setengah satu siang, tanda waktu sholar dhuhur telah tiba. Seluruh aktifitas santriwati dalam bazarpun dihentikan dan bersiap-siap untuk pergi ke masjid. Tidak ada alasan untuk sholat di dalam kamar meski sedang ada acara. Bagian keamanan yang mempunyai stand paling besar dan cukup ramaipun harus menutup standnya dan kembali menjalankan tugas mereka untuk mengontrol para santriwati untuk segera sholat ke masjid. Tidak lupa merekapun membawa peluit  di tangan untuk memukul santriwati yang terlambat sholat ke masjid. Sekali lagi pesantren memang selalu mengajarkan untuk disiplin terutama dalam aktifitas-aktifitas sehari-hari dan dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agama. Dalam kondisi apapun kecuali terpaksa (dalam hal ini terpaksa adalah dalam kondisi sakit) tidak ada alasan sedikitpun untuk tidak ikut sholat berjama’ah di masjid lima waktu.

Suasana bazar memang tetap meriah hingga sore hari, meski beberapa stand sudah tutup dari siang karena telah habis terjual, apalagi kalau bukan stand makanan. Sementara setelah sholat dhuhur warga masyarakat sekitar pesantren mulai berdatangan untuk melihat stand terutama stand pakaian. Dari siang hingga sore hari stand bagian keamanan ini memang terlihat cukup ramai. Banyaknya pakaian yang masih layak pakai memang menarik perhatian para masyarakat sekitar. Sehingga stand pakaian ini banyak diserbu oleh masyarakat.

Tepat pukul lima sore terdengar kembali jaros berbunyi tanda agar para santriwati segera bersiap pergi ke masjib untuk mengaji dan sholat magrib. Semua stand sudah tutup dan tidak ada lagi yang buka. Sementara para panitia disibukkan dengan menghitung jumlah penghasilan mereka dari setiap stand untuk dilaporkan nanti malam pada acara penutupan bazar.

Penutupan bazar dimulai pada jam 8 tepat atau setelah para santriwati pulang dari masjid. Meski malam hari dan hanya beberapa jam, semua santriwati duduk di bangku-bangku yang telah disediakan dengan memakai baju seragam resmi lengkap dengan sepatu. Tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mengikuti acara penutupan. Acara penutupan bazar dimeriahkan dengan lomba fashion show terlebih dahulu. Fashion show yang melombakan baju muslimah untuk pesta memang menuntut kreatifitas para santriwati karena dengan baju apa adanya tetapi dengan berbagai modifikasi. Setelah lomba fashion show selesai acara penutupanpun dimulai dengan laporan ketua panitia atas kegiatan bazar selama sehari. Hasil dari bazar memang cukup mencengangkan diatas angka lima juta rupiah. Hasil yang diperoleh dalam bazar tersebut akan diberikan seluruhnya untuk kepentingan pesantren. Sebuah ide sederhana yang ternyata dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Akhirnya setelah acara pemberian hadiah kepada para pemenang lomba dalam bazar, acara bazarpun ditutup secara resmi oleh ibu pengasuh. Perasaan lega kami rasakan terutama para panitia termasuk aku karena acara bazar bisa berlangsung dengan lancar dan meriah serta dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat terutama bagi pesantren.

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: