Menikmati Bulan Ramadhan di pesantren

Desember 24, 2010 zunlynadia

Tahun ini aku kembali merasakan untuk menikmati bulan Ramadhan di pesantren setelah sebelumnya di kelas tiga aku juga pernah mengalaminya. Sepi memang sangat terasa di pesantren apalagi pada bulan ramadhan. Biasanya dimana-mana didapati lautan jilbab, tetapi di bulan ramadhan tidak akan ditemui. Meskipun demikian, aktifitas santriwati dalam sehari-hari tetap tidak berubah. Kami tetap harus sholat berjamaah lima waktu, tetap harus sekolah, tetap akan mengalami hukuman jika kami terlambat, semuanya tidak ada yang berubah, hanya saja kami merasa lebih santai dan tidak perlu terburu-buru karena kami tidak mendapati antrian panjang untuk mandi, mencuci, berwudhu, mengambil nasi di dapur dan lain sebagainya.

Perasaan rasa sepi itu memang akan terobati dengan berbagai tambahan kegiatan di bulan ramadhan, mulai dari kuliah shubuh, belajar kitab kuning di pagi hari, tadarus serta ada satu kegiatan khusus yang dirancang selama bulan ramadhan untuk kelas enam sebagai santriwati akhir di pesantren. Diantaranya ada fathul kutub, pelatihan guru TPA serta berbagai pembekalan-pembekalan lainnya yang berguna bagi kami ketika keluar dari pesantren ini.

Fathul kutub yang berarti adalah membuka buku adalah kegiatan yang khusus diisi oleh KH Hasan Abdullah Sahal pimpinan pondok modern Gontor untuk mengajarkan berbagai kitab secara umum. Mulai dari kitab-kitab hadis, kitab Rijalil hadis, kamus-kamus seperti kamus berbahasa arab, fathurrohman (kamus untuk mencari ayat-ayat dalam al-Qur’an dan lain sebagainya. Bukan mengajari isi dari kitab-kitab secara mendetail tetapi lebih mengajarkan pada bagaimana cara membaca dan mempelajarinya. Fathul kutub ini berlangsung selama seminggu. Semua santriwati kelas enam dikumpulkan menjadi satu dengan formasi meja melingkar sehingga sang ustad berada di tengah-tengah. Tidak jarang aku merasakan ngantuk yang teramat sangat dan sampai tertidur karena hawa panas dan terbawa kondisi sebagai orang yang berpuasa.

Selain fathul kutub ada satu kegiatan lain yang sangat menyenangkan bagi kami, yakni pelatihan guru TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Dalam pelatihan tersebut dijamin tidak ada yang mengantuk meski kami dalam kondisi berpuasa, karena disitu kami diberikan pembekalan cara-cara mengajar TPA serta diajarkan berbagai lagu-lagu untuk anak-anak TPA dengan diiringi musik orgen yang dimainkan oleh sang tutor. Kami juga diajarkan berbagai macam tepuk untuk anak-anak TPA, seperti tepuk anak sholeh dan lain sebagainya. Beban berat yang selama ini melanda santriwati kelas enam karena berbagai ujian yang akan dijalani seolah sirna sudah. Semuanya gembira, semuanya menjadi ceria dalam pelatihan guru-guru TPA. Tutor yang mengajar terlihat sangat santai dalam pembawaannya. Hal ini memang penting untuk ditiru karena jika kelak kami menjadi seorang guru TPA, kami dituntut untuk selalu ceria, santai sehingga anak-anak bisa senang dan tanpa beban ketika diajarkan membaca al-Qur’an. Tutor-tutor tersebut didatangkan langsung dari AMM Yogyakarta yang dikenal memperkenalkan metode iqro’ yang banyak dipakai oleh para guru TPA maupun orang tua yang ingin mengenalkan al-Qur’an dan cara membacanya sejak dini.

Masih ada lagi pembekalan-pembekalan yang diberikan bagi santriwati kelas enam diantaranya pembekalan dalam hal kerumahtanggaan seperti bagaimana cara memandikan bayi, cara merias dan merawat wajah agar dapat selalu tampil  cantik dan alami, cara menata meja makan dan lain sebagainya. Hal ini diberikan untuk mempersiapkan  para calon alumni agar bisa menjadi seorang perempuan yang terampil dalam hal-hal kerumahtanggaan, apalagi bagi mereka setelah lulus dan segera akan menikah, karena memang tidak jarang dari teman-teman santriwati yang lulus kemudian langsung menikah. Selain pembekalan masalah kerumahtanggaan kami juga diajarkan hal-hal keagamaan praktis yang sangat berguna dalam masyarakat, diantaranya memandikan dan mengkafani jenazah. Kami memang diberi bekal agar selalu siap terjun dalam bermasyarakat.

Begitu banyak kegiatan dilakukan pada bulan ramadhan, sehingga bulan ramadhan menjadi lebih bermakna, apalagi ini adalah ramadhan terakhir, sebelum akhirnya kami akan meninggalkan pesantren ini.

Pesantren sendiri juga mengadakan berbagai kegiatan yang harus diikuti oleh para santriwati secara umum, baik santriwati kelas enam maupun santriwati kelas tiga yang bermukim di pesantren. Diantaranya adalah simaan al-Al-Qur’an yang selalu diadakan pada tanggal 17 Ramadhan. Pihak pesantren mengundang beberapa orang hafidzah untuk membaca al-Qur’an, dimulai setelah sholat Shubuh, kemudian kami semua menyimak apa yang telah dibaca oleh para penghafal al-Qur’an, hingga waktu berbuka tiba para penghafal al-Qur’an ini akan menyelesaikan bacaannya hingga juz 30. Biasanya setelah sholat shubuh kami semua menyimak bersama-sama hingga pukul 7 pagi, kemudian setelah itu acara menyimak digilir tiap-tiap kelas hingga pada jaros jam lima sore kami semua sudah diwajibkan untuk berkumpul di masjid dan menyimak hingga selesai. Beberapa teman masih asing dengan kegiatan simaan ini. Aku pribadi sudah terbiasa dengan kegiatan simaan al-Qur’an sejak sebelum mondok di pesantren. Tradisi simaan al-Qur’an sering diadakan di masjid-masjid di desa. Jika ada simaan, maka semua anak sekolah akan dipulangkan lebih cepat dan diharapkan untuk bisa mengikuti acara simaan. Meski simaan al-Qur’an diadakan di masjid tetanga desa yang jaraknya cukup jauh, kami tetap dipulangkan lebih awal. Akupun bersama teman-teman sekolah biasanya pergi bersama-sama dengan berjalan kaki meski jaraknya cukup jauh untuk mengikuti acara simaan tersebut. Ya karena kami selalu diajarkan bahwa menyimak al-Qur’an akan mempunyai pahala yang sama dengan orang yang membacanya.

Selain kegiatan simaan al-Qur’an, pesantren juga membuka kegiatan pesantren kilat bagi para pelajar mulai dari SD, SMP maupun SMA yang ingin bermukim dan merasakan hidup di pesantren. Dalam kegiatan pesantren kilat ini, para pelajar diajarkan tentang berbagai hal terkait dengan persoalan agama, mulai dari hal-hal yang praktis hingga pengetahuan keagamaan secara umum. Biasanya beberapa santriwati kelas enam ikut dilibatkan dalam kepanitiaan pesantren kilat ini. Biasanya pesantren kilat ini dikoordinir oleh sekolah masing-masing yang berkeinginan mengadakan kegiatan ramadhan bagi anak didiknya di pesantren, meski demikian ada juga yang mengikuti dan mendaftar pesantren kilat secara individual. Memang tidak banyak yang mengikuti kegiatan pesantren kilat ini tetapi telah membuat suasana pesantren lebih semarak di bulan ramadhan.

Akhirnya Ramadhan di pesantren dirasakan sangat menyenangkan. Banyaknya kegiatan terutama bagi kami santriwati kelas enam membuat bulan ramadhan semakin bermakna dan menjadi kenangan yang tidak pernah kami lupakan. Ada rasa sedih memang ketika awal liburan tiba, ketika melihat adik-adik kelas pulang berlibur, tetapi ketika sudah dijalani ternyata menjadi hal yang indah dan sangat menyenangkan.

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: