Memori di kelas V

Desember 24, 2010 zunlynadia

Hari ini adalah hari pertamaku duduk di kelas lima (kelas dua aliyah). Tidak terasa ternyata sudah lima tahun aku tinggal di pesantren ini, artinya aku sudah berada di titik ujung dari perjalananku belajar di pesantren selama 6 tahun, ya..tinggal satu langkah lagi aku berada disini.

Kelas lima menjadi salah satu tingkat yang paling penting bagi setiap santriwati di pesantren, karena semua aktifitas seluruh santriwati  di pesantren ini sangat ditentukan oleh kami santriwati kelas lima. Semua ini karena kelas lima adalah pemegang kendali kepengurusan tertinggi dalam struktus organisasi santriwati. Pertengahan tahun ajaran baru di kelas lima biasanya kami semua dilantik menjadi pengurus baru menggantikan kakak-kakak pengurus lama. Kepengurusan dalam organisasi santriwati di pesantren ini memang berbeda dengan kepengurusan OSIS di sekolah luar, kepengurusan OSWAH mencakup semua aktifitas santriwati sehari-hari, sehingga banyak sekali bidang dalam kepengurusan. Mulai dari bagian keamanan, bagian penggerak bahasa, bagian penerangan, bagian pengajaran, bagian koperasi, bagian dapur, bagian kafetaria, bagian penerima tamu, bagian olahraga, bagian kebersihan, bagian kesehatan, perpustakaan, ketrampilan serta fotografi. Mereka semua bekerja 24 jam untuk melayani para santriwati. Bagian keamanan misalnya mereka bertugas untuk mendisiplinkan para santriwati yang harus menjalankan sholat lima waktu di masjid. Bagian keamanan akan mengotrol ke setiap kamar untuk memastikan bahwa tidak ada santriwati yang sholat di kamar. Bagian keamaan juga mengontrol para santriwati yang tidak sholat (mengalami datang bulan). Sebagai bagian keamaanan tingkat pusat dibantu para pengurus rayon, bagian keamanan sesekali melakukan sidak bagi para santriwati jangan sampai mereka mengaku datang bulan hanya karena malas untuk sholat di masjid. Sidak ini dilakukan dengan mengontrol data siapa saja yang telah datang bulan. Karena bagi mereka yang datang bulan harus terdata di pengurus rayon dengan melaporkan kapan mereka mulai datang bulan dan kapan mereka selesai. Dengan demikian bagi yang tidak terdata siap-siap saja diperiksa dan diinterogasi bahkan terkena sanksi. Untuk mempermudah dalam mengontrol santriwati yang datang bulan, bagi para santriwati yang terdata namanya karena datang bulan akan diberikan pin khusus yang dipakai selama masa datang bulan. Pin kecil ini bergambar bunga mawar yang harus selalu dipasang pada jilbab yang dipakai. Sehingga dengan menggunakan pin ini akan mudah ketahuan siapa yang memang datang bulan dan siapa yang tidak, setelah masa datang bulan selesai, mereka harus melaporkan kembali kepada pengurus rayon setempat sembari mengembalikan pin kepada pengurus. Aturan ini memang cukup unik dan mungkin tidak pernah didapatkan di pesantren-pesantren yang lain, tetapi pemberlakuan aturan ini cukup manjur untuk membuat para santriwati disiplin dalam melaksanakan sholat di masjid. Bagian keamanan adalah bagian yang paling ditakuti setelah bagian penggerak bahasa. Hal ini dikarenakan bagian keamanan merupakan pengendali para santriwati untuk selalu berdisiplin. Ada motto bagian keamanan yang tertulis besar di kantor keamanan yakni “Biar santriwati kabur karena tidak tahan disiplin asalkan jangan sampai santriwati kabur dengan kesan pesantren tidak disiplin”. Disiplin, disiplin dan disiplin adalah hal yang paling penting diterapkan dan selalu didengungkan di telinga para santriwati di pesantren ini dan bagian keamananlah yang menjadi tonggaknya.

Sementara teman-teman yang bertugas di bagian penerangan bertugas sebagai pemberi pengumuman dan informasi melalui pengeras suara yang akan terdengar seantero pesantren. Di kamar pengurus bagian penerangan memang sudah terpasang sound system yang mempermudah mereka memberikan pengumuman apapun selama 24 jam, segala macam pengumuman harus melalui bagian penerangan. Pengumuman apapun selalu dibacakan dalam bahasa arab atau inggris. Selain bertugas membacakan pengumuman, bagian penerangan juga bertugas membawahi majalah bulanan santriwati serta majalah dinding tiap-tiap rayon yang selalu dipasang setiap hari jum’at secara bergantian. Karenanya mereka biasanya dipilih karena memang punya kecenderungan dalam bidang jurnalistik. Bagian penerangan juga bertugas untuk memperdengarkan musik-musik yang bisa didengar oleh seluruh santriwati pada jam-jam tertentu. Biasanya musik-musik tersebut diperdengarkan pada jam-jam makan, pada saat sore hari setelah pulang sekolah, ataupun pada momen-momen tertentu seperti pada saat hari libur jum’at, pada saat kerja bakti dan lain sebagainya. Musik yang diperdengarkanpun berbeda-beda sesuai suasana. Ketika makan pagi biasanya musik-musik yang ceria sehingga menambah semangat para santriwati yang akan memulai aktifitas pagi, pada saat makan siang hari biasanya diperdengarkan musik-musik pop, baik Indonesia maupun barat, saat makan malam biasanya diperdengarkan musik-musik arab ataupun nasyid. Khusus pada hari kamis ketika akan memulai aktifitas pramuka, maka yang diperdengarkan adalah lagu-lagu pramuka. Yah..meski sebagai santriwati terkadang kami merasa seperti robot yang selalu tepat waktu dalam hal apapun dengan disiplin yang tinggi, tetapi dengan musik-musik yang diperdengarkan di sela-sela aktifitas kami, setidaknya dapat melonggarkan otot-otot yang tegang sehingga dapat menjalani hari-hari yang penuh dengan aktifitas tinggi dengan hati yang senang.

Sementara itu bagian koperasi dan kafetaria, mereka bertugas untuk menjaga dan mengurus koperasi dan kafetaria. Mereka mengurus barang-barang dagangan yang datang serta mendata keluar masuknya keuangan dengan baik untuk nantinya dilaporkan kepada yayasan di setiap bulannya. Barang-barang yang diperdagangkan biasanya sudah ada yang memasok. Sementara untuk kafetaria, biasanya makanan dan minuman yang diperdagangkan dipasok dari masyarakat yang tinggal di sekitar pesantren. Ada beraneka macam makanan mulai dari somay, bakso, serta jajanan-jajanan yang lainnya. Kalau bagian dapur, mereka bertugas untuk membagi-bagikan lauk para santriwati dengan mengecek kartu makan terlebih dahulu. Bagian pengajaran bertugas untuk mendisiplinkan para santriwati agar tidak sampai terlambat masuk ke dalam kelas. Selain itu mereka juga berhak untuk memukul jaros yang menunjukkan kapan harus masuk kelas, harus istirahat dan harus masuk kelas kembali. Semua kegiatan belajar mengajar, kegiatan ekstra kulikuler serta kegiatan apapun di dalam pesantren sangat tergantung kepada pengurus OSWAH. Meski semua bagian dalam kepengurusan dibawah bimbingan langsung para ustadzah tetapi pelaksana dan pengotrol kegiatan belajar mengajar serta kegiatan ekstrakulikuler para santriwati ditentukan oleh para pengurus ini. Para ustadzah pembimbing hanya berfungsi sebagai penasehat serta penghubung yang akan melaporkan segala sesuatunya kepada pengasuh dan pimpinan pesantren. Jadi para ustadzahpun dibagi menjadi beberapa bagian untuk membawahi setiap bagian dari pengurus Oswah, ada ustadzah bagian koperasi, bagian penerima tamu, bagian pengajaran dan lain sebagainya. Para ustadzahlah yang kemudian melaporkan segala sesuatunya kepada pengurus yayasan.

Selain pengurus OSWAH ada juga pengurus koordinator pramuka, yang juga terdiri dari beberapa bagian, andalan koordinator urusan latihan, urusan kedai pramuka, urusan perlengkapan dan dokumentasi, koordinator pangkalan dan lain sebagainya. Aku sendiri menjabat sebagai salah satu koordinator pramuka urusan latihan. Kegiatan kepramukaan yang membuatku senang dan aktif di dalamnya mengantarkanku sebagai salah satu pengurus pramuka. Sebagai pengurus pramuka, kami bertanggungjawab atas segala sesuatu menyangkut kegiatan kepramukaan. Kamipun juga bertanggungjawab untuk menyiapkan para kontingen, jika mendapatkan undangan untuk perlombaan di bidang kepramukaan. Kami bersama ustadzah bidang kepramukaan juga menyeleksi para santriwati yang akan mewakili pesantren. Selain itu kami juga menyiapkan para kontingen yang terpilih dengan berbagai latihan, mulai dari latihan baris-baris berbaris, latihan pionering, latihan dalam hal P3K, latihan dalam membuat tenda dalam waktu yang sangat singkat, serta mempersiapkan hal-hal teknis lainnya yang juga menyangkut berbagai perlombaan yang akan dilombakan dalam perkemahan nanti. Semuanya dipersiapkan dengan baik sehingga tidak heran jika kontingen dari pesantren ini selalu mendapatkan juara dalam berbagai even kepramukaan.

Hampir setiap tahun pesantren mendapat undangan untuk berbagai even kepramukaan baik di tingkat kabupaten, propinsi maupun tingkat nasional. Mulai dari LT 1(Lomba tingkat 1 untuk tingkat kecamatan) hingga jambore daerah untuk tingkat propinsi dan jambore tingkat nasional yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali, bahkan pesantren juga pernah mendapatkan undangan untuk mewakili Indonesia dalam jambore pramuka tingkat dunia.

Ada momen yang paling mengesankan terkait dengan bidang kepramukaan bagi kami santriwati kelas lima. Di awal kelas lima, semua santriwati kelas lima wajib mengikuti cadika atau dikenal dengan KMD (Kursus Mahir Dasar). Cadika atau KMD ini adalah tahapan yang wajib dilalui dari seorang pramuka tingkat penegak untuk menjadi seorang pembina pramuka. Hal ini karena semua santriwati kelas lima akan menjadi pembina bagi pangkalan masing-masing. Tidak hanya itu, dengan sertifikat resmi yang dikeluarkan oleh kwartir cabang sebagai seorang pembina pramuka, kami bisa menjadi pembina pramuka dimanapun kami berada. KMD ini dilaksanakan selama kurang lebih sepuluh hari. Setiap hari diisi dengan berbagai materi kepramukaan yang nantinya akan diberikan kepada para anggota pramuka. Pemateri dalam KMD ini berasal dari kakak-kakak kwartir cabang setempat.

Dua minggu sebelum KMD dilaksanakan, semua santriwati kelas lima dikumpulkan oleh kakak-kakak koordinator pramuka. Semua santriwati kelas lima dibagi dalam empat kelompok yang namanya hampir mirip-mirip, yakni widya wiwaha, widya wiyaha, widya wiraha dan widya wisaha. Masing-masing kelompok harus menyiapkan diri untuk mengikuti cadika, karenanya kesibukan mulai dirasakan di tiap-tiap kelompok sebelum mulai hari H. Mulai dari menyiapkan umbul-umbul, memesan slayer dan topi dengan warna yang khas dari kelompok masing-masing dan tidak lupa menyiapkan berbagai yel-yel dan lagu-lagu penyemangat untuk kelompok. Aku sendiri termasuk dalam kelompok III widya wiraha yang juga didaulat untuk menjadi koordinator kelompok.

Hari-hari ini memang cukup disibukkan dengan berbagai persiapan cadika, sehingga pekerjaan utama sebagai seorang pelajar untuk belajar agak sedikit terbengkalai. Hafalan-hafalan serta beberapa PR menjadi pekerjaan nomor dua untuk dikerjaan. Tiap sore kami mengadakan perkumpulan di markas, tempat yang kami sebut markas adalah jemuran di atas lantai tiga gedung arrohmah. Setiap kelompok pasti punya markas, untuk menyimpan segala perlengkapan dan atribut yang akan dipakai oleh kelompok. Di sana kami  bertemu, bermusyawarah, mengumpukan ide-ide kreatif dan menyiapkan segala sesuatunya untuk cadika. Setiap kelompok dituntut untuk selalu kreatif dan kompak. Karenanya kami membuat berbagai macam atribut dengan warna khas. Kebetulan kami memilih warna merah dan hijau metalik untuk warna kelompok. Perpaduan kedua warna yang mencolok itu sengaja kami pilih untuk memudahkan dalam koordinasi karena dengan warna yang mencolok akan kelihatan mudah mencari ketika ada anggota kelompok yang terpisah. Selain itu warna yang mencolok juga akan mudah dilihat oleh kakak-kakak pembina sehingga mereka akan melihat kekompakan dan aktifitas kami. Semua atribut, mulai dari slayer, topi, bendera hingga sampul buku semuanya berwarna merah dan hijau metalik. Ya..karena cadika atau KMD adalah kursus mahir dasar, maka meski tidak harus berada di dalam ruangan, tetapi waktu kami banyak digunakan untuk diisi berbagai macam teori dan materi kepramukaan, sehingga kami harus menyediakan buku khusus untuk mencatatnya. Materi-materi kepramukaan tersebut akan kami berikan kepada para anggota pramuka jika kami sudah berhasil melewati KMD dan kemudian dilantik menjadi seorang pembina.

Selama sepuluh hari kegiatan ini berlangsung, lima hari berada di dalam pesantren dan lima hari berada di bumi perkemahan. Pagi, siang dan malam diisi dengan materi-materi kepramukaan, mulai dari sejarah pendiri pramuka, bapak pandu dunia Boden Powell hingga materi tentang sejarah kepramukaan di Indonesia, dari materi tentang makna lambang pramuka hingga materi tentang keIndonesiaan, patriotisme serta persoalan-persoalan lingkungan. Semuanya ada di pramuka dan KMD. Ya..sekali lagi pramuka tidak hanya sekedar persoalan tali-temali, P3K, maupun baris berbaris tetapi pramuka banyak mengajarkan tentang berbagai hal termasuk kemandirian hidup, keluasan dalam berfikir serta kecintaan terhadap tanah air.

Hari ini adalah hari Jum’at, aku dan beberapa teman izin untuk pergi ke kota ponorogo. Aku akan pergi ke kota Ponorogo untuk belanja segala macam keperluan kelompok, mulai dari memesan topi dan slayer hingga membeli berbagai keperluan untuk dibawa ke bumi perkemahan. Semuanya memang harus kami persiapkan jauh-jauh hari, karena ketika hari H cadika sudah dimulai, tidak mungkin lagi kami menyiapkan segala sesuatunya termasuk yang akan dibawa ke bumi perkemahan. Terus terang selama lima tahun tinggal di pesantren, ini adalah kali kedua aku keluar dari pesantren untuk sekedar jalan-jalan ke Ponorogo pada hari jum’at. Kedua kali aku izin keluar pesantrenpun karena memang ada keperluan-keperluan tertentu bukan karena alasan pribadi yang ingin jalan-jalan. Aku termasuk orang yang tidak suka memanfaatkan libur hari jum’at untuk jalan-jalan ke Ponorogo, karena disamping tidak punya uang, aku lebih suka memanfaatkan libur rutin seminggu sekali untuk aktifitas pribadi seperti mencuci, menjemur kasur serta beristirahat, karena hari-hari yang lain sangat padat dengan berbagai aktifitas, sehingga tidur siang menjadi sangat langka dan hanya bisa dilakukan pada hari Jum’at. Meski demikian aku tidak merasa bosan tinggal di pesantren. Karena banyaknya kegiatan yang ada, serta kondisi pesantren yang bagiku sendiri membuatku betah dan merasa nyaman di dalamnya.

Sampai di ponorogo aku segera pergi ke tempat tujuan, yakni berbelanja untuk keperluan kelompok, membeli kertas-kertas sampul, membeli beberapa gabus, cat, tali untuk hiasan di tenda perkemahan, serta beberapa barang-barang lain yang diperlukan. Setelah itu tanpa membuang banyak waktu aku segera kembali ke pesantren.

Hari H cadika telah tiba, kami semua telah mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari persiapan pribadi hingga persiapan untuk kelompok. Karena cadika akan berlangsung selama sepuluh hari, akupun telah mempersiapkan beberapa potong baju pramuka dan berikut kaos kaki dan sepatu hitam. Aku telah meminjam kepada kakak kelas dan adek kelas karena aku hanya punya satu stel baju pramuka. Ya..selama berhari-hari itu kami dituntut untuk memakai baju pramuka lengkap dengan berbagai atributnya, mulai lambang tunas kelapa dan bunga melati lambang bagi anggota pramuka putri yang dipasang di kedua sisi leher baju pramuka, dasi pramuka merah putih, papan nama dan lambang pramuka pesantren yang dipasang pada jilbab, serta tidak lupa kaos kaki dan sepatu hitam. Semuanya harus lengkap tanpa terkecuali. Atribut-atribut ini akan diperiksa setiap saat oleh kakak-kakak pembina, dan jika ada satu atribut yang tidak dipakai, maka tentu saja akan ada hukuman serta menjadi cacatan bagi kelompoknya dan akan masuk daftar pelanggaran. Belum lagi atribut kelompok yang juga harus dipakai karena menunjukkan kekompakan tiap-tiap kelompok, yakni topi dan slayer yang di pasang pada bagian leher di luar jilbab. Bisa dibayangkan, semua hal-hal kecil yang dipakai ini tentunya membutuhkan kerepotan tersendiri karena banyaknya atribut yang harus dipakai.

Setelah makan pagi, kami langsung berkumpul di tiap-tiap kelompok. Kebetulan kelompokku berkumpul di depan panggung. Disana aku mulai memimpin untuk memberikan semangat dengan yel-yel yang telah kami buat. Begitu juga dengan kelompok lain. Suasana memang sangat meriah. Setelah selesai adu yel-yel kami bersiap-siap untuk mendengarkan bunyi sirine dari kakak pembina. Sirine yang berbunyi selama kurang lebih tiga menit itu adalah tanda bagi kami untuk melakukan booking. Booking sebenarnya adalah absensi ala cadika yang cukup unik yakni dengan memasukkan kartu kehadiran ke dalam tempat yang telah disediakan oleh kakak pembina. Kami harus mencari dimana kakak pembina yang membawa tempat absensi itu ke seantero pondok dalam waktu singkat sesuai dengan bunyi sirine. Biasanya akan ada dua kakak pembina yang satu membawa tempat untuk absensi sedang yang satu lagi yang membawa spanduk yang bertuliskan nama kelompok. Tidak jarang juga terjadi salah masuk tempat absensi kelompok lain, hal ini karena nama-nama kelompok yang sengaja dibuat mirip satu sama lain, apalagi tulisan dalam spanduk juga sengaja dibuat sedikit artistik sehingga tidak bisa membacanya kecuali dengan jarak yang agak dekat. Jika dalam waktu kurang lebih tiga menit itu kami tidak bisa memasukkan kartu kedalam tempatnya, maka tentu saja akan ada hukuman yang menanti.

Pagi itu, setelah sirine berbunyi, secara serentak kami semua langsung berlari mencari tempat untuk memasukkan kartu absensi. Kami selalu berlari bersama anggota kelompok, tujuan pertama kami adalah gedung kartini, karena di depan gedung tersebut ada sebuah pohon beringin tua yang biasanya menjadi tempat yang sangat strategis untuk bersembuyi. Sampai disana kami memang mendapati kakak pembina yang membawa tempat absensi tetapi tanpa spanduk yang berarti ini adalah salah satu trik mereka yang akan mengecoh kami yang berada dalam kondisi panik, kemudian kami berlari ke arah gebung fujiyama, gedung yang berada disebelah taman dan berdampingan dengan gedung koperasi, tetapi disana kami tidak mendapati apapun. Setelah itu spontan kami berlari menuju kearah masjid dimana disebelahnya terdapat taman, disana kami mendapati kakak pembina tetapi membawa spanduk yang bertuliskan nama kelompok lain. Akhirnya kami berlari menuju ke arah panggung, tempat kami berkumpul sebelum dilaksanakan booking pagi ini dan ternyata disana telah berdiri kakak pembina dengan membawa spanduk bertuliskan “widya wiraha” ya itu adalah nama kelompok kami. Dengan segera kami memasukkan kartu kedalam tempat yang telah disediakan. Banyak teman-teman yang terjatuh karena berebut untuk memasukkan kartu dengan cepat, ada juga beberapa teman yang telah memasukkan kartu tetapi kartu tersebut jatuh tidak pada tempatnya, bahkan tidak sempat memasukkannya karena suara sirine telah berhenti tanda booking telah selesai.

Tidak lama kemudian, terdengar nama-nama dipanggil di depan kantor panitia untuk siap mendapatkan hukuman karena tidak berhasil memasukkan kartu absensi kedalam tempat yang telah disediakan. Ada beberapa teman dalam kelompokku yang juga yang dipanggil untuk menerima hadiah dari kakak pembina. Hukuman yang diberikan sebenarnya lebih hanya sekedar untuk menguatkan mental. Ada yang disuruh baca puisi cinta di depan monas, (monas adalah tugu kecil yang berada di depan masjid, tempat banyak orang berlalu lalang), ada yang disuruh membaca koran sambil dilagukan, ada yang disuruh menyebutkan dasa darma pramuka dalam bahasa arab dan inggris tanpa teks. Sementara beberapa teman-teman sedang mendapatkan hukuman, yang lain mempersiapkan diri di dalam ruangan yang telah disediakan untuk mendapatkan materi KMD.

Dalam sehari booking dilaksanakan hingga tiga kali setelah selesai makan pagi, siang dan malam. Setelah dilakukan booking baru kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi. Booking menjadi salah satu kegiatan yang seru selama cadika. Tidak hanya itu, selama cadika ketika kami dipanggil oleh kakak pembina dalam waktu dan kondisi apapun, kami harus segera datang memakai seragam pramuka lengkap dengan atributnya. Hal ini membuat kami selalu memakai baju pramuka lengkap setiap saat kecuali saat tidur pada malam hari. Setiap dipanggil oleh kakak pembina selalu disertai dengan hitungan, jika sampai pada hitungan kesepuluh yang dipanggil masih belum menghadap, maka jangan ditanya pasti bakal ada hukuman menanti. Persis seperti tradisi militer yang sangat disiplin, hanya bedanya hukuman yang diberikan kepada kami lebih pada hukuman yang bersifat menguatkan mental dan bukan hukuman fisik. Hal-hal seperti ini sekali lagi yang membuat cadika semakin seru dan menjadi kenangan yang tidak mungkin dapat dilupakan.

Setelah lima hari mendapatkan materi kepramukaan di pesantren, kini tiba saatnya untuk mengikuti kegiatan KMD di alam terbuka, yakni di bumi perkemahan. Senangnya…akhirnya kami dapat menghirup udara di luar pesantren. Kali ini perkemahan dilaksanakan di desa Gandu kurang lebih 4 km dari pesantren, di sebuah lapangan yang luas di tengah desa, di sekeliling lapangan terdapat kebun-kebun pisang milik warga, sehingga suasana menjadi segar. Sehari sebelum keberangkatan ke bumi perkemahan, semua ketua kelompok dikumpulkan oleh kakak pembina untuk mendapatkan kaos baru yang akan dipakai dalam perjalanan. Tahun ini kami mendapatkan kaos dengan warna orange dan hitam. Warna yang cukup mencolok, apalagi untuk orang berkulit hitam seperti diriku, bisa dibayangkan kalau memakai kaos dengan warna-warna yang mencolok. Tetapi semua harus disyukuri, yang penting aku bisa menjalankan aktifitas dengan enjoy dan senang.

Pagi itu, kami semua diberangkatkan ke bumi perkemahan dengan berjalan kaki, kami berbaris persangga, yang setiap sangga berisi sepuluh anggota. Sangga adalah nama lain dari regu, kelompok terkecil dalam pramuka, jika regu digunakan bagi satuan terkecil anggota pramuka penggalang, maka sangga digunakan bagi satuan terkecil anggota pramuka penegak. Selama perjalanan menuju ke bumi perkemahan, kami berusaha untuk selalu berjalan serapi mungkin, dengan berbaris dan memegang tongkat pramuka. Tidak jarang di tengah jalan kami berteriak-teriak menyanyikan yel-yel untuk menambah semangat para anggota kelompok. Segala gerak-gerik kami selalu diawasi dan dinilai oleh kakak pembina. Sehingga kami selalu berusaha untuk menjaga semangat dan kekompakan anggota kelompok dan berharap akan menjadi kelompok terbaik dalam KMD tahun ini.

Sampai di bumi perkemahan kami langsung disambut oleh kakak-kakak pembina. Setelah lapor kepada kakak panitia, kami mendapatkan petunjuk tempat dimana kami harus mendirikan tenda. Begitu sampai pada tempat yang telah disediakan, aku dan beberapa teman segera mendirikan tenda. Dua orang memegang sisi kanan tenda, dan dua orang memegang sisi kiri tenda, sementara satu orang di depan dan di belakang tenda untuk menyambungkan bambu yang dimasukkan ditengah tenda dengan tongkat yang menjadi penyangganya. Setelah bambu dan tongkat telah tersambung dengan tali, baru kemudian dipasang patok-patok untuk memperkuat tenda. Patok yang berada di setiap pojok depan dan belakang di pasang terlebih dahulu, baru kemudian patok yang ada di sisi depan belakang dan samping di pasang. Setelah tenda berdiri, kami baru memasang tikar dan memasukkan tas-tas serta perlengkapan kami kedalam tenda. Selain itu tenda juga kami hias agar kelihatan cantik, di dalam tenda disekat dengan menggunakan jilbab atau kain panjang, sehingga ketika pintu tenda dibuka akan terlihat seperti rumah yang disekat dengan korden. Di bagian depan kami hiasan dengan meletakkan boneka, jam weker, serta barang-barang lainnya untuk mempercantik tenda, hal ini juga dilakukan oleh teman-teman yang lain dengan tendanya. Setelah selesai dengan urusan  mendirikan tenda, aku dan beberapa teman bersiap untuk membuat gapura dengan menggunakan tongkat. Gapura tersebut didirikan di depan kelima tenda yang merupakan tenda teman-teman dalam satu kelompok. Teman-teman dari kelompok lain juga mendirikan tenda, sehingga ketika masuk ke dalam area perkemahan seolah-seolah akan memasuki sebuah kompleks perumahan. Dalam satu kompleks akan terdapat sebuah gapura yang didalamnya terdiri dari beberapa tenda.

Setelah gapura yang terbuat dari tongkat sudah jadi, tidak lupa kami memasang bendera kelompok di tengah-tengahnya dan bendera segitiga kecil merah putih yang kami memasukkan kedalam benang terlebih dahulu  sebelum dipasang di sisi kanan dan sisi kiri. Setelah bendera dipasang barulah gapura didirikan dengan menggunakan patok. Setelah gapura berdiri, kemudian di bagian tengah, kami memasang nama kelompok yang terbuat dari gabus yang diberi cat warna khas kelompok yakni hijau dan merah metalik. Sementara itu di bagian kaki gapura, kanan dan kiri, kami memasang dua tampah dari bambu yang ditempel kertas emas warna merah hijau bertuliskan angka tiga yang menunjukkan bahwa kami adalah kelompok tiga. Akhirnya gapura tersebut dapat diselesaikan dengan cepat karena membuat pionering seperti itu memang sudah menjadi hal yang biasa, sehingga tidak ada kesulitan bagi kami.

Selesai membuat gapura, kamipun langsung membuat hiasan lain untuk mempercantik area perkemahan, dengan membuat taman dan kolam-kolam buatan. Kolam-kolam buatan tersebut terbuat dari gabus yang diberi cat berwarna merah, dipasang diatas batu-batuan yang didalamnya diberi plastik terlebih dahulu, sehingga air yang akan dimasukkan tidak akan terserap oleh tanah. Sementara taman-taman dibuat dengan kulit padi yang sebelumnya di cat berwarna hijau, sehingga terkesan seperti rumput yang diatasnya diletakkan beberapa pot bunga serta hiasan lainnya. Semuanya telah kami persiapkan jauh-jauh hari sebelum kegiatan ini dilakukan. Bisa dibayangkan juga perjalanan kurang lebih 4 km dengan berjalan kaki dari pesantren menuju bumi perkemahan dengan membawa berbagai perlengkapan seperti itu, cukup menguras tenaga.

Setelah semua selesai, barulah kami bersiap diri untuk persiapan pribadi sholat dhuhur dan makan siang. Sholat dhuhur tetap dilakukan secara berjamaah sedangkan untuk makan selama di bumi perkemahan telah disediakan oleh panitia. Pada dasarnya semua aktifitas sehari-hari tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan di dalam pesantren, hanya tempat yang membedakannya. Sementara untuk kamar mandi selama di bumi perkemahan, dibuat kamar mandi darurat yang terbuat partisi dengan pancuran yang terbuat dari pipa panjang yang dihubungkan dengan sumur, semuanya serba darurat. Selain itu di dalam tenda meski tidak senyaman  di dalam kamar karena hanya beralaskan tikar dengan bantal tas-tas ransel yang kami bawa, tetapi suasana yang berbeda menjadikan suasana tetap seru dan asyik.

Melewati kegiatan KMD di bumi perkemahan memang sangat menyenangkan karena berada di ruang terbuka. Selain tetap diberikan materi kepramukaan, ada beberapa kegiatan menyenangkan lainnya yang pasti ada saat ajang kepramukaan, yakni penjelajahan atau wade game dan malam api unggun pada malam terakhir yang kemudian dilanjutkan renungan malam pada dini harinya.

Berbagai perlengkapan untuk penjelajahan telah kami persiapkan sejak pagi hari, mulai dari papan jalan untuk mempermudah kita dalam menulis dan mengerjakan tugas-tugas pada setiap pos, alat-alat tulis, buku saku pramuka, untuk membantu memecahkan sandi-sandi yang meski sudah hafal di luar kepala terkadang masih ada yang terlupa, tongkat dengan bendera kecil yang menunjukkan nama sangga, tongkat ini sangat membantu jika kami harus melewati sungai, kemudian tidak lupa kami juga membawa bekal dalam perjalanan berupa minum air putih dan beberapa jenis snack.

Penjelajahan kali ini dimulai dari bumi perkemahan dengan petunjuk semaphore pada awalnya. Semua peserta wade game berkumpul dalam satu area untuk melihat kode semaphore dari kakak pembina. Kode petunjuk dari bendera semaphore ini sangat cepat, sehingga bagi yang tidak hafal pasti akan merasa kesulitan. Setelah selesai maka kami menuliskan apa yang telah diberikan melalui bendera semaphore di atas selembar kertas kemudian kami segera memberikan kepada kakak pembina. Ini merupakan tugas kami di pos pertama, jika kami cepat mengerjakannya, maka otomatis kami akan segera diberangkatkan menuju pos berikutnya. Menghadap kakak pembina dimulai dengan sikap hormat ala militer dan laporan dari pemimpin sangga, kemudian barulah kami diberikan tugas kami. Setelah itu biasanya kakak pembina akan memberikan sedikit nasehat dan segera memberangkatkan kami yang juga diakhiri dengan sikap hormat yang dipimpin oleh ketua sangga. Begitu seterusnya, setiap datang di pos yang baru, kami harus melaporkan kepada kakak pembina, memberikan tugas yang diberikan dari pos sebelumnya, dan meminta tugas baru yang akan diberikan pada pos yang baru di datangi.

Perjalanan kali ini ditempuh dengan melewati tiga pos lagi. Selama perjalanan kami selalu bernyanyi, bertepuk tangan untuk menambah semangat dan menghilangkan rasa lelah. Tidak jarang ketika sampai di perempatan atau di pertigaan kami bingung mencari petunjuk arah, karena kakak pembina selalu memberikan petunjuk di tempat yang tersembunyi, seperti di balik pohon, di atas ranting kecil, atau dengan di pagar bagian bawah. Tapi kami semua adalah anggota pramuka yang sudah sangat terlatih, jadi hal-hal seperti itu adalah hal yang kecil yang pasti akan dapat kami selesaikan.

Setelah sampai pada pos kedua, ternyata kami adalah sangga pertama yang sampai di pos ini. Karena kami tidak mendapati teman-teman yang lain berada disitu. Seperti biasa kami segera melapor kepada kakak pembina dan mendapatkan tugas untuk mengerjakan tugas yang akan diberikan kepada kakak pembina yang ada di pos selanjutnya. Sebelum kembali berangkat menuju pos selanjutnya, kami disuruh berkumpul dengan satu kakak pembina, disana mata kami ditutup, setelah itu kami disuruh mencium bau dari benda-benda yang diberikan kemudian menyebutkan namanya. Beberapa benda tersebut diantaranya kunyit, kencur, bawang putih, jahe, dan masih banyak lagi. Cukup sulit bagi kami untuk membedakan bau dari bumbu-bumbu dapur tersebut, karena sepertinya mirip sekali. Setelah selesai melatih penciuman, baru kami di berangkatkan ke pos berikutnya.

Sepanjang perjalanan menuju pos tiga, kami tetap melaluinya dengan semangat, sesekali kami berhenti untuk menikmati pemandangan yang sangat indah di sawah dan di pinggir-pinggir sungai kecil sambil mengerjakan tugas yang harus diselesaikan selama perjalanan untuk diberikan kepada kakak pembina di pos selanjutnya. Kami juga melewati bukit kecil yang jika melihat kebawah sungguh akan terlihat pesona alam indah dan mengagumkan. Tugas yang di berikan kali ini adalah memecahkan beberapa pertanyaan yang ditulis dengan sandi rumput. Tulisan dalam sandi rumput ini memang perlu dibaca dengan jeli, karena perbedaan antara satu huruf dengan huruf yang lain sangat tipis. Akhirnya tugas tersebut selesai kami kerjakan sebelum sampai pada pos tiga.

Sampai di pos tiga, kami segera lapor dan memberikan tugas sandi rumput. Di pos tiga ini kami akan lama berada disitu karena pos tiga adalah pos halang rintang. Ada beberapa halang rintang yang harus kami lalui disana, mulai berjalan dengan kaki satu, merangkak di dalam kawat-kawat berduri dan ban-ban yang telah disediakan dan lain sebagainya. Setelah selesai melewati halang rintang kami diberikan snack dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan ke pos terakhir.

Dari pos tiga menuju pos terakhir kami masih harus mengerjakan tugas yang harus diberikan kepada kakak pembina pada pos terakhir. Tugas tersebut ditulis dengan sandi paku. Kali ini kami disuruh membuat cerita menarik selama perjalanan wadegame berlangsung. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di salah satu gubuk di pinggir sawah untuk mengerjakan tugas tersebut hingga selesai sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus. Tidak kurang dari 20 menit kami mengerjakan tugas sambil beristirahat disitu, kemudian kami segera meneruskan perjalanan dengan segera. Kami berharap akan menjadi sangga pertama yang sampai di bumi perkemahan. Segera kami melangkahkan kaki dengan semangat meski jam menunjukkan pukul 11 siang. Suasana memang cukup terik karena matahari hampir berada di tengah-tengah bumi tetapi karena kami melakukan perjalanan dengan ceria, maka kami tidak pernah merasa kelelahan.

Akhirnya sampai juga kami pada pos terakhir yakni di bumi perkemahan. Tetapi sayang ternyata kami bukanlah sangga pertama yang sampai terlebih dahulu. Ada beberapa sangga yang telah datang sebelumnya. Setelah memberikan laporan dan memberikan tugas, kamipun segera bubar dan menuju ke tenda masing-masing untuk melakukan aktifitas pribadi, makan dan sholat dhuhur.

Setelah melewati berbagai kegiatan selama lima hari, tidak terasa hari ini adalah dari terakhir kami berada di bumi perkemahan.  Berbagai persiapan dilakukan untuk pesta api unggun nanti malam sebagai tanda akhir dari semua kegiatan cadika atau KMD. Persiapan tidak hanya dilakukan oleh kakak-kakak pembina, tetapi juga oleh para peserta KMD karena kami disuruh untuk menampilkan atraksi terbaik dari tiap-tiap kelompok.

Acara  api unggun berlangsung dengan meriah. Saat api dinyalakan kami semua bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu “api kita sudah menyala, api kita sudah menyala, api, api, api, api, api kita sudah menyala” kemudian kami semua berdiri mengelilingi api dengan bergandeng tangan dan bersama-sama menyanyikan lagu syukur. Suasana menjadi sangat syahdu di tengah malam yang gelap yang hanya disinari oleh nyala api dengan taburan bintang dan cahya rembulan. Setelah selesai menyanyikan lagu syukur acara dilanjutkan dengan  pembacaan dasa darma pramuka oleh adik-adik penggalang. Sebanyak dua puluh orang pasukan penggalang berlari dengan serentak mengelilingi api unggun. Mereka datang dari dua arah yang berbeda dan bertemu di sekeliling api unggun sambil membawa obor. Setelah berhenti di tempat masing-masing dan mengucapkan salam pramuka, dengan serentak mereka berteriak secara bersama-sama “Dasa darma pramuka, pramuka itu” kemudian satu persatu menyebutkan sepuluh darma pramuka, setelah selesai mereka kembali menyebutkan dasa darma tetapi dalam bahasa Inggris. Setelah selesai membacakan dasa darma dalam bahasa Inggris kemudian dilanjutkan dengan dasa darma dalam bahasa arab. Kemudian setelah itu memberi salam dan berlari satu putaran mengelilingi api unggun sebelum akhirnya kembali ke tempat semula.

Setelah pembacaan dasa darma pramuka, acara dilanjutkan dengan atraksi dari setiap kelompok, kemudian dilanjutkan dengan pesan dan kesan selama mengikuti KMD sebelum akhirnya ditutup secara resmi oleh pimpinan pesantren. Setelah acara api unggung telah usai, kami semua segera bergegas ke tenda masing-masing untuk beristirahat.

Malam ini adalah malam terakhir kami tinggal di bumi perkemahan, malam yang pasti berbeda dengan malam sebelumnya, karena biasanya akan ada renungan malam. Oleh karena itu kami semua bersiap-siap baik persiapan mental maupun persiapan lainnya. Aku menginstruksikan kepada semua anggota kelompok untuk tidur dengan baju pramuka lengkap dengan kaos kaki dan sepatu. Karena biasanya pada malam terakhir kami akan dibangunkan secara mendadak dan dalam waktu lima menit harus sudah berada dilapangan menggunakan pakaian pramuka lengkap segala atributnya. Bisa dibayangkan kalau kami tidak mempersiapkan diri sebelum tidur dan harus memakai pakaian pramuka lengkap dari jilbab hingga sepatu hitam dan kaos kaki, tentunya akan kesulitan karena penerangan yang apa adanya di dalam bumi perkemahan. Pengalaman selama berkemah di pesantren selama ini telah membuatku paham dengan apa yang harus kami lakukan.

Aku sendiri pernah mengalami kebingungan pada saat pertama kali berkemah di pesantren. Saat itu aku mengikuti perkemahan dalam rangka khutbatul ‘Arsy untuk mewakili pangkalan 08. Karena aku belum pernah mengikuti kegiatan renungan malam sebelumnya. Saat itu aku tidak mempersiapkan diri dan ketika kakak-kakak pembina membangunkan semua peserta perkemahan di tengah malam, aku dan teman-teman dalam satu tenda sangat kaget dan bingung. Kemudian kakak pembina meminta kami semua untuk berkumpul di lapangan dalam hitungan kesepuluh. Alhasil banyak dari kami yang tidak memakai pakaian lengkap. Ada yang memakai sepatu kiri semua, ada yang pakai sepatu tetapi tidak memakai kaos kaki dan lain sebagainya. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi aku pribadi ketika mengikuti perkemahan.

Seperti yang sudah diprediksi, malam ini kami semua dibangunkan oleh kakak pembina untuk berkumpul di lapangan. Aku dan teman-teman satu kelompok langsung pergi menuju lapangan tanpa harus bersibuk-sibuk ria memakai atribut dan seragam pramuka. Setelah kakak pembina memeriksa atribut kami, mereka memberi pengarahan. Kemudian kami disuruh berjalan sesuai dengan rute yang telah diberikan. Satu persatu kami harus berjalan sendiri dengan di beri jarak sekitar dua meter antara satu sama lain. Sehingga tidak akan terjadi diantara kami saling mengobrol, yang ada nyali dan mental kami diuji dengan berjalan di tengah-ditengah pohon-pohon, melewati semak belukar, terkadang juga harus melewati sungai kecil. Tidak seperti biasanya kali ini kami tidak harus menutup mata, mata kami dibiarkan terbuka lebar untuk melihat apa yang ada disekeliling. Meski dalam hati aku sendiri merasa agak takut, apalagi ketika melewati jalan setapak dengan pohon-pohon yang rimbun di sebelah kanan kiri, sementara angin malam menyapu dengan sepoi-sepoi menebarkan hawa dingin di tengah malam yang gelap serta ikut menggoyangkan daun-daun pada pohon-pohon yang dilalui dan seolah menambah kesan seram, tetapi aku yakin ada kakak-kakak pembina disekitar kami yang senantiasa memantau segala kondisi meski kami tidak melihatnya. Sehingga aku tidak mungkin sendirian, karenanya jika terjadi apa-apa mereka akan menolong. Dengan keyakinan seperti itu aku tidak merasakan takut sama sekali. Setelah hampir dua puluh menit berjalan, sampailah ke sebuah lapangan kecil. Disebelah pojok lapangan terdapat dua pohon beringin besar, kemudian akupun berjalan melewati beringin tersebut. Disana aku sudah melihat beberapa kakak pembina di depan sebuah pemakaman besar di sebelah pohon beringin tersebut. Sebelum memasuki area pemakaman mereka menyuruhku untuk membasuh muda dengan air yang telah disediakan, sehingga mau tidak mau mata tidak akan bisa mengantuk dan harus melihat apa yang ada disekeliling. Akupun dibimbing untuk masuk ke area pemakaman, di sana beberapa teman sudah ada yang datang duluan. Akupun dipersilahkan untuk duduk di depan salah satu makam. Sambil menunggu semua teman-teman masuk area pemakaman, aku membuka permen yang kebetulan ada di dalam saku celana, untuk mengusir rasa takut yang tiba-tiba datang. Ya..meskipun semua peserta cadika masuk ke area pemakaman, tetapi kami tetap tidak boleh bersuara dan kami semua duduk di depan makam dengan berjarak, sehingga tidak memungkinkan bagi kami untuk saling bicara. Rasa takutku tiba-tiba datang ketika melihat gundukan tanah makam yang sepertinya masih basah, tidak jauh dari tempatku duduk. Sementara jarak sekitar satu meter setengah di belakangku terdapat tempat keranda. Aku berusaha untuk memejamkan mata agar bisa tidur tetapi ketika mata terpejam rasa takut itu semakin bertambah, karena berbagai fikiran aneh yang berkecamuk di kepala. Akhirnya aku kembali membuka mata dan melihat teman-teman yang tidak jauh dari tempatku. Mereka semua menundukkan kepala, aku tidak tahu apakah menundukkan kepala merupakan ekspresi dari rasa takut mereka, atau malah karena mereka mengantuk dan tertidur.

Setelah semua masuk di dalam area pemakaman, akhirnya dua dari kakak pembina membacakan puisi tentang kematian, mereka membaca puisi saling bersahut-sahutan  dengan suara yang cukup dapat menghentakkan dada. Tidak jarang beberapa orang dari kami ikut menangis terharu mendengarkan mereka berpuisi. Setelah selesai membacakan puisi, salah satu ustadzah memberikan tausyiah dan masehat kepada kami semua. Intinya mengingatkan kami untuk selalu berbuat kebaikan, karena setiap manusia yang hidup pasti akan mengalami kematian yang tentunya akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama di dunia. Setelah tausyiah selesai, kemudian dilanjutkan dengan do’a bersama dan akhirnya acara renungan malampun telah selesai.

Jam sudah menunjukkan waktu hampir shubuh, sehingga menghantarkan kami untuk langsung mengambil air wudhu dan bersiap untuk sholat shubuh berjamaah. Setelah sholat shubuh, acara dilanjutkan dengan berolah raga, setelah itu baru makan dan bersiap-siap untuk mengikuti upacara penutupan KMD.

Upacara penutupanpun dilaksanakan, senang rasanya akhirnya kegiatan KMD ini dapat berjalan dengan lancar, haru karena kegiatan ini harus berakhir karena banyak sekali hal-hal seru, lucu dan menyenangkan kami lakukan selama kegiatan ini berlangsung. Dengan mengikuti KMD, akhirnya kamipun resmi menjadi seorang pembina pramuka dan bukan lagi seorang anggota pramuka penegak. Di akhir upacara penutupan, panitia mengumumkan kelompok terbaik selama KMD. Akhirnya kelompokku “widya wiraha” berhasil menjadi kelompok terbaik. Selama kegiatan, kami memang terlihat sangat kompak dalam hal apapun. Kami jarang melakukan pelanggaran, dan yang lebih penting lagi kami selalu disiplin dalam melakukan segala aktifitas, baik dalam kegiatan kepramukaan maupun dalam aktifitas pribadi seperti sholat berjama’ah. Sebagai ketua kelompok akupun maju ke depan untuk menerima bendera kemenangan dan hadiah untuk dibagikan kesemua anggota kelompok.

Setelah semua selesai, akhirnya kami semua berbenah diri untuk perjalanan kembali ke pesantren. Tenda-tenda, gapura, pagar-pagar buatan, semuanya dibongkar dan dibersihkan. Lapangan kembali bersih seperti saat pertama kali kami datang. Setelah berkemas-kemas, akhirnya kami pulang kembali ke pesantren dengan berjalan kaki. Meskipun sudah selesai kegiatan, kami tetap harus berjalan dengan berbaris sesuai sangga masing-masing. Sehingga tetap terlihat rapi dan tidak memenuhi jalan raya, hingga akhirnya sampai ke pesantren.

Sampai di pesantren, akupun langusng pergi menuju kamar, dan tanpa harus berlama-lama duduk untuk melepas lelah, aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan, berganti pakaian, dan langsung tidur.

Berbagai kenangan ketika kami kelas lima memang tidak pernah kami lupakan, kelas lima memang menjadi pengendali dari seluruh aktifitas santriwati. Tidak hanya aktifitas belajar mengajar, tetapi juga aktifitas ekstra kulikuler serta event-event besar pesantren. Mulai dari kegiatan muhadloroh, pramuka, hingga aktifitas rutin sehari-hari santriwati mulai dari sholat lima waktu di masjid, olahraga, memberikan mutarodifat (kosakata bahasa arab) dan vocabularies (kosakata dalam bahasa Inggris) setiap harinya hingga kepanitiaan dalam event besar pesantren, di mulai dari tahun ajaran baru yakni khutbatul ‘Arsy, bazar oswah dan bazar akbar, ulang tahun pesantren yang biasanya selalu mengadakan berbagai event besar, hingga panitia KMD dan khutbatul wada’, semua ditangani oleh kami kelas lima. Meski para ustadzah juga berperan penting dalam membimbing kami, tetapi kami selalu dilibatkan dalam segala hal terutama dalam hal teknis acara.

Berada di kelas lima seolah berada dalam puncak tertinggi, hal ini karena di kelas kami tidak lagi bergelut dalam organisasi. Di kelas enam, kami hanya difokuskan pada belajar dan kegiatan khusus kelas enam. Aku sendiri heran, bisa melewati berbagai aktifitas yang sangat padat di luar aktifitas kami sebagai pelajar yang banyak membutuhkan perhatian, tenaga dan pikiran yang tidak sedikit. Tetapi ternyata kami bisa melewati semua dengan baik. Tidak ada lagi waktu kami yang tersisa untuk hal-hal yang tidak berguna, semuanya berjalan penuh makna. Lagi-lagi semua adalah pembelajaran, karena belajar tidak hanya melalui buku atau selalu berada di ruang kelas. Kapanpun dan dimanapun kami bisa belajar, karena kami juga belajar tentang hidup, belajar untuk selalu menghargai waktu, belajar untuk selalu siap mengorbankan diri demi kepentingan umum dan masyarakat yang lebih luas.

Begitulah kehidupan pesantren, semua hal membuat kami selalu merasa belajar dan belajar serta mengambil hikmah dari apa yang telah kami lakukan. Meski kadang merasa terpaksa, tertekan bahkan terampas waktu kami sebagai remaja untuk bersenang-senang sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para remaja pada umumnya, tetapi kami yakin apa yang telah kami lakukan adalah bekal dan fondasi yang akan mengantarkan kami pada kehidupan selanjutnya. Jika saat itu kami tidak menyadari akan manfaatnya, maka suatu saat kelak kami pasti akan tahu dan merasakannya.

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: