Memilih masuk Pesantren

Desember 24, 2010 zunlynadia

Hari ini adalah hari pengumuman NEM ebtanas SD. Setelah sebelumnya aku berhasil menjadi nomor tiga sekabupaten untuk nilai ebtanas MI, aku kembali dibuat dag dig dug karena akan melihat nilai hasil kerja kerasku dalam mengikuti ebtanas SD. Aku adalah seorang anak desa yang sebenarnya bersekolah di sebuah madrasah yakni madrasah ibtidaiyyah maarif yang merupakan sekolah di bawah ormas NU. Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif di desa ini muridnya memang hanya sedikit. Hanya orang tua yang mempunyai komitmen agar anaknya  bisa belajar agama sedari kecil seperti bapakku yang akan memasukkan anaknya di sekolah madrasah. Pada masa dulu, saat ibuku bersekolah madrasah ini, madrasah ini memang sangat maju dan terkenal, tetapi setelah pemerintah orde baru banyak mendirikan SD inpres di daerah-daerah termasuk di desaku, orientasi para orang tua mulai berubah dalam menyekolahkan anak-anaknya. Mereka lebih suka menyekolahkan anaknya di SD daripada di madrasah, karena sekolah di SD lebih menjanjikan karena dengan pelajaran umum tanpa tambahan pelajaran agama, murid-murid dari SD lebih mudah untuk melanjutkan sekolah ke SMP favorit di kota.

Ya…di desaku memang telah berdiri sebuah SD negeri. SD negeri di desa ini cukup maju, murid-muridnyapun jauh lebih banyak. Bahkan banyak yang berasal dari desa-desa sekitar. Sangat berbeda dengan kondisi madrasahku yang hanya segelintir orang mau memasukkan anak-anaknya kesana, terkesan tidak keren dan selama ini tidak pernah mempunyai prestasi jika ada perlombaan antar sekolah. Bahkan dilihat dari sisi pakaian, sekolah di madrasah tidak akan membuat bangga. Seragam kami berwarna coklat putih dan hijau putih. Sementara bersekolah di SD ada seragam batik yang kelihatan keren dan bagus selain juga seragam merah putih sebagai seragam kebangsaan SD secara umum.

Aku sendiri tidak pernah menolak ketika bapak menyekolahkan aku di madrasah ini. Aku cukup gembira meski teman-temanku tidak lebih dari 15 orang. Apalagi jarak antara madrasah dengan rumah sangat dekat, sehingga waktu istirahatpun bisa dibuat untuk pulang ke rumah. Sekolah di madrasah memang ada pelajaran agama yang tidak ada dalam mata pelajaran sekolah SD. Jika madrasah di bawah naungan depag maka SD dibawah naungan diknas. Karenanya ujian akhir MI berbeda dengan ujian akhir SD. Di madrasah ada beberapa ujian akhir seperti pra EBTAN, EBTAN dan EBTANAS yang semua soal-soalnya berasal dari depag yang tidak hanya menguji mata pelajaran umum tapi juga agama seperti fikih, qur’an hadis dan lain sebagainya. Sedangkan untuk sekolah SD hanya ada EBTANAS yang hanya menguji lima mata pelajaran umum. Padahal kalau ingin masuk ke SMP biasanya memakai standar nilai ebtanas SD (NEM), sementara nilai ebtanas madrasah tidak akan laku jika dipakai untuk mendaftar ke SMP, apalagi SMP negeri dan SMP favorit.  Karenanya meski aku bersekolah di madrasah tetapi aku bertekad untuk mengikuti persamaan ujian akhir dalam ebtanas SD.

Kebetulan keinginanku untuk mengikuti ujian persamaan juga di dukung oleh teman-teman. Meski tidak semua anak kelasku mau mengikuti ujian persamaan ini, tetapi paling tidak ada delapan anak yang juga ingin mengikuti ujian persamaan SD.

Mulai pertengahan kelas enam, akupun mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti berbagai ujian akhir tahun. Aku iri melihat anak-anak yang bersekolah di SD, mereka mendapat les dari guru-gurunya. Mereka masuk lebih pagi dari Biasanya dan kembali ke sekolah pada sore hari untuk mendapatkan pelajaran tambahan sebagai persiapan mengikuti ujian ebtanas. Jika nilai hasil ujian akhir bagus, maka tentu saja nama sekolah akan terangkat dan pada akhirnya akan banyak murid-murid baru yang akan mendaftarkan diri ke sekolah tersebut.

Hal yang cukup berbeda aku rasakan di madrasah. Tidak ada perhatian dari guru-guru agar kami bisa mendapatkan hasil ujian dengan baik. Jangankan memberikan les, memberikan doronganpun tidak. Kami dibiarkan begitu saja, sehingga kami harus menyiapkannya sendiri. Berkali-kali secara pribadi aku ke kantor guru supaya kami diberikan les, tapi tidak pernah ada tanggapan. Kenyataan itu membuat aku semakin bersemangat dan ingin menunjukkan bahwa tanpa diberikan les tambahan dan dengan usaha sendiri aku dan teman-teman bisa mendapatkan hasil yang baik.

Akupun membentuk kelompok belajar. Setiap malam kami berkumpul bergilir di rumah-rumah untuk belajar kelompok. Mengerjakan soal secara bersama-sama, saling tanya jawab kami lakukan dari sejak jauh-jauh hari. Tidak lupa akupun mulai hunting buku-buku persiapan ebtanas bekas saudara-saudara sepupu dan juga soal-soal ebtanas tahun-tahun sebelumnya.

Ya..bayangan akan segala usaha yang selama ini telah dilakukan muncul kembali bersamaan dengan hasil ebtanas yang akan diumumkan hari ini. Pagi-pagi aku sudah tidak sabar untuk berangkat ke sekolah. Hasil ebtanas memang telah diberikan di sekolah masing-masing kemaren dan kami baru bisa melihatnya hari ini. Rasa dag dig dug kembali datang, takut jika hasilnya mengecewakan, tetapi ibu sudah wanti-wanti padaku, “gak perlu risau dengan hasil ebtanas apapun itu hasilnya, yang penting kamu sudah berusaha dengan baik”. Pesan ibu menjadi kekuatan buatku, yaach… semoga kali ini aku tidak mengecewakan bapak dan ibu.

Sampai di sekolah, para guru menyambutku dengan ucapan selamat. “Selamat ya …kamu sudah berhasil membawa nama madrasah ini menjadi sedikit terangkat” begitu ucap salah satu guru di madrasah. Sementara di kantor, guru-guru yang lain telah datang dan tersenyum manis kepadaku. Bapak kepala sekolah langsung memanggilku bersama dengan teman-teman untuk memberikan pengumuman resmi sambil memberikan selembar kertas hasil ujian. Dari depalan anak yang mengikuti persamaan ebtanas SD semuanya mendapatkan NEM diatas 40, sebuah prestasi yang bagi sekolah sangat membanggakan. Sementara aku sendiri mendapat NEM tertinggi diantara teman-teman dengan nilai matematika tertinggi 9,5 dan nilai bahasa Indonesia yang terendah 8,7. Selama ini matematika memang menjadi mata pelajaran favorit diantara mata pelajaran yang lain. Yang mengherankan Nem kami yang bersekolah di madrasah ternyata jauh lebih tinggi dari pada nem anak-anak SD yang setiap hari mendapatkan les tambahan dari guru sekolahnya dengan nilai nem tertinggi 39, sehingga tidak satupun anak-anak SD yang mendapatkan nem diatas 40. Sungguh sesuatu yang di luar dugaan.

Melihat hasil ujian ebtanas, dengan perasaan senang akupun segera bergegas pulang ke rumah dan memberitahukan kepada bapak sama ibu. Bagiku nilai yang aku dapatkan tidak lepas dari usaha dan do’a kedua orang tua. Bapak dan ibu juga tidak kalah gembira melihat nilai hasil ujian ebtanas. Selama ini bapak dan ibu selalu memberikan semangat dan motivasi, meski aku sekolah di madrasah yang bukan sekolah yang difavoritkan, nyatanya aku bisa mendapatkan nilai yang tidak kalah dengan sekolah SD negeri yang selama ini menjadi favorit masyarakat setempat.

Setelah melewati berbagai ujian di kelas enam, sekarang yang dipikirkan adalah kemana aku akan meneruskan sekolah setelah dari madrasah? pakde, bude mengusulkan agar aku sekolah di SMP 1 yang merupakan SMP favorit di kotaku, karena dengan hasil nilai ebtanasku, aku pasti diterima disana. Apalagi disitu terlihat nilai mata pelajaran yang paling menonjol adalah matematika dan IPA, kalau aku bersekolah di SMP setidaknya suatu saat aku akan bisa meneruskan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri dan akhirnya bisa mempunyai profesi yang menjanjikan suatu saat kelak.

Tetapi kedua orang tuaku tidak memandang penting bakat dan kemampuan yang aku miliki untuk terus diasah. Mereka lebih memilih pesantren atau sekolah yang berbasis agama untukku. Apapun itu bagi bapak dan ibu, pengetahuan agama sangat penting untuk dipelajari terlebih dahulu sebagai fondasi dan bekal dalam hidup. Karenanya bapak dan ibu mencari informasi berbagai pesantren atau sekolah madrasah dan ada beberapa pilihan pesantren di Ponorogo dan sekitarnya yang kemudian diajukan kepadaku untuk dapat dipilih.

Aku pribadi memang tidak mempermasalahkan aku harus sekolah di pesantren atau di SMP negeri. Karena sekolah dimanapun yang penting aku bisa menjalaninya dengan baik dan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik sesuai dengan kemampuan. Ketertarikanku terhadap pesantren sebenarnya sudah aku rasakan sejak aku duduk di bangku kelas lima di madrasah. Setiap hari kamis sore, aku melihat beberapa anak sedesaku pulang ke rumah karena besoknya adalah hari libur (hari Jum’at). Dengan mengenakan jlbab di kepala, mereka semua tampak menjadi anggun. Saat itu jilbab masih menjadi sesuatu yang asing. Masih jarang orang yang memakai jilbab. Para ibu-ibu kebanyakan memakai kerudung yang kami sebut torpus dan ditutup dengan kerudung panjang seperti selendang itupun jika ada acara-acara keagamaan.

Ketertarikanku kepada jilbab dan pesantren yang memang sejak lama, akhirnya  membuatku menuruti orang tua ketika mereka akan memasukkanku ke pesantren. Aku tidak merasa keberatan untuk tinggal jauh dari orang tua. Tidak ada cerita-cerita yang aneh atau cerita yang tidak mengenakkan tentang pesantren. Kondisi ini juga didukung dengan kakak-kakak sepupuku yang rata-rata mereka juga bersekolah di pesantren. Tidak hanya saudara tetapi juga banyak orang di desa yang bersekolah di pesantren meski dari pesantren yang berbeda-beda. Tetapi kebanyakan dari mereka yang laki-laki mereka memang bersekolah di pondok modern gontor. Sehingga sekolah pesantren bukanlah hal yang  aneh bagi masyarakat di sekitar.

Akhirnya akupun memutuskan untuk mendaftarkan ke salah satu pesantren di kota Ponorogo yang jaraknya hanya 5 km dari pondok modern Gontor. Memilih pesantren ini memang  dengan berbagai pertimbangan dari orang tua. Pertimbangan bahwa jarak antara rumah dan pesantren yang tidak jauh hanya bisa ditempuh kurang lebih satu jam, serta pertimbangan-pertimbangan yang lain seperti meski pesantren ini memakai kurikulum gontor tetapi ada beberapa tambahan pelajaran umum. Selain itu di pesantren ini aku juga tetap bisa mengikuti ujian persamaan setingkat sekolah umum, sehingga tidak sulit jika nanti akan meneruskan di perguruan tinggi. Karena banyak pesantren yang tidak mengadakan ujian persamaan setingkat SMP dan SMU, sehingga banyak lulusan pesantren yang bingung jika hendak meneruskan ke perguruan tinggi karena tidak mempunyai ijazah yang telah disyaratkan oleh depag atau diknas. Bagaimanapun juga ijazah dari pesantren hanya “laku” untuk sekolah atau perguruan tinggi tertentu.

Akhirnya hari ini adalah hari dimana aku harus mendaftarkan diri ke pesantren. Ditemani bapak aku mendaftar ke pesantren, setelah mendaftar aku langsung mengikuti ujian mengaji. Selain ujian mengaji ada ujian tulis dan wawancara pada esok harinya. Seminggu kemudian baru aku diantar oleh bapak, ibu dan kakak sepupuku untuk benar-benar tinggal di pesantren.

Setelah mengurus administrasi, akupun mendapatkan kamar di salah satu gedung baru di pesantren ini, yakni gedung ar-Rohmah, gedung berlantai tiga yang belum jadi semuanya dan baru dipakai lantai I itupun tanpa pintu. Aku disambut oleh pengurus kamar dan diberikan lemari serta diperkenalkan dengan teman-teman sekamar. Dengan masih ditemani oleh ibu, akupun menyusun pakaianku dan barang-barang yang lain ke dalam lemari. Di kamar tersebut telah ada banyak santriwati baru yang datang dari berbagai kota dan propinsi di Indonesia. Aku masih merasa asing di tempat baruku. Akupun masih merasa belum nyaman. Kemudian aku diperkenalkan dengan seorang santriwati  baru yang berasal dari tetangga desaku bernama Maya. Maya baru tinggal dua hari di pesantren ini. Meski baru kenal aku sudah langsung merasa akrab dengannya. Karena dia datang dua hari sebelum aku, Maya banyak memberitahuku hal-hal yang terkait dengan kebiasaan sehari-hari di pesantren.

Setelah kedua orang tuaku meninggalkanku di pesantren ini, akupun langsung bergegas menuju kamar dan  berdiam diri sejenak. Tanpa terasa air mataku menetes, perasaanku bercampur aduk, antara sedih, takut, tidak nyaman dan lain sebagainya. Aku menangis hingga salah satu pengurus kamar mendatangiku untuk menghibur. Dia juga menasehatiku kalau aku pasti akan senang tinggal disini, karena aku akan mempunyai banyak teman seperjuangan.

Hari-hari pertamaku di pesantren, aku mulai belajar budaya di pesantren ini yang sangat berbeda dan tidak terpikirkan sebelumnya seperti budaya mengantri. Aktifitas apapun akan dilakukan dengan mengantri, mulai dari mengambil makan, mandi, wudhu, bahkan BABpun harus dilakukan dengan mengantri terlebih dahulu. “Ba’daki man, ba’daki man”, terdengar kata-kata dan teriakan-teriakan aneh dari mulut para santriwati setiap kali aku mengantri di kamar mandi. Saat itu aku tidak tahu jika kata-kata itu berarti “setelah kamu siapa?”. Hari-hari pertama di pesantren aku masih belum tahu tradisi mengantri di kamar mandi, aku hanya pergi ke kamar mandi dan menanti siapa saja yang keluar dari dalam kamar mandi. Padahal aku harus menanyakan terlebih dahulu kepada yang di dalam kamar mandi dengan “ba’daki man?”, sehingga aku menjadi tahu bahwa apakah ada orang yang mengantri setelah dia untuk mandi atau tidak. Karena ketidaktahuanku, alhasil meski sekian lama aku berdiri di depan kamar mandi, setiap kali ada santriwati yang sudah selesai mandi, ada saja santriwati yang baru datang dan masuk ke kamar mandi tersebut tanpa merasa berdosa melihatku telah lama berdiri disitu untuk mengantri kamar mandi. Kejadian seperti ini berlangsung berkali-kali, hingga pada akhirnya aku tahu bahwa setiap mau mandi aku harus mengetok pintu kamar mandi dan berkata “ba’daki man?” untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengantri setelahnya.

Aku juga harus belajar untuk bangun lebih pagi yakni jam 4. Aku bangun pagi sebelum jam 4 untuk mandi pagi. Hal ini dilakukan karena sangat sulit untuk mendapatkan antrian mandi setelah sholat shubuh. Hari-hari pertama di pesantren aku memang bangun tepat jaros untuk pergi ke masjid menunaikan sholat shubuh berbunyi. Bagiku jam 4 pagi sudah sangat pagi jika dibandingkan dengan kebiasaanku bangun di rumah jam 5. Pulang dari masjid, antrian untuk mandi sudah sangat panjang, sehingga beberapa kali terpaksa aku ke sekolah hanya dengan gosok gigi tanpa mandi dan baru istirahat sekolah, aku bisa mandi. Keadaan seperti ini akhirnya memaksaku untuk bangun lebih pagi (biasanya jam 3 atau jam setengah 4 pagi), agar aku bisa mandi pagi.

Gara-gara aku harus bangun sebelum jam 4 pagi, akupun pernah dibuat sakit dan terpaksa tidak sekolah dan mengikuti kegiatan muhadloroh. Suasana yang masih gelap dengan lampu yang kurang terang membuatku tidak memperhatikan jalan yang harus kulalui ketika harus ke kamar mandi. Apalagi kondisi mata yang masih “belum normal” setelah bangun tidur. Tiba-tiba…gedebuk…aku jatuh kedalam lubang sedalam lebih dari dua meter. Disekitar kamar mandi memang sedang akan dibangun sebuah gedung, sehingga ada beberapa lubang yang sengaja dibuat untuk fondasi bangunan. Terjatuh ke dalam lubang yang cukup dalam membuatku sakit dan luka di beberapa bagian tubuh, beruntung kepalaku tidak membentur batu atau benda tajam lainnya, padahal di dalam lubang ada beberapa alat pertukangan, seperti cangkul, ember, dan beberapa buah besi. Dalam kondisi gelap dan tidak orang yang tahu akupun berteriak-teriak untuk meminta tolong, sehingga membuat beberapa santriwati yang sedang mengantri di kamar mandi bergegas menuju ke arah lubang tempat aku terjatuh. Akhirnya akupun bisa keluar dari lubang tersebut dan dibawa ke kamar. Peristiwa tersebut tidak pernah aku lupakan. Hari itu adalah hari pertamaku sakit di pesantren, sehingga tidak bisa mengikuti aktifitas seperti biasanya. Cukup sehari aku beristirahat, keesokan harinya aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya meskipun masih harus berjalan dengan agak tertatih-tatih karena luka yang masih belum sembuh.

Di pesantren ini aku juga belajar untuk membiasakan diri dengan sang jaros yang selalu memberi tanda pada setiap aktifitas yang akan dilakukan. Di pesantren ini, semua hal diatur sedemikian rupa hingga persoalan pakaian, memakai mukena ketika harus pergi ke masjid, kapan harus memakai jaket, kapan harus memakai celana panjang dan lain sebagainya. Semuanya agar terlihat rapi, disiplin dan teratur.

Para santriwati dilarang memakai sarung untuk pakaian sehari-hari. Hal ini karena sarung dianggap membuat pakaian kami tidak rapi. Tidak memakai sarung juga dianggap akan membedakan kami para santriwati dari pesantren  modern dengan para santriwati dari pesantren tradisional. Memakai sarung justru diwajibkan untuk dijadikan alat sholat yang harus kami pakai mulai dari kamar. Kami dilarang memakai mukena ketika sampai di masjid. Sehingga dari dalam kamar, para santriwati akan memakai sarung dengan rapi dan atasan mukena serta membawa sajadah. Memakai bawahan mukena atau memakai mukena yang langsung dianggap tidak rapi, sehingga justru memakai sarung diwajibkan disini.

Demikian pula aturan dalam hal memakai jilbab. Setiap keluar kamar atau berdiri di pintu kamar, kami diwajibkan untuk memakai jilbab dengan rapi meskipun mungkin hanya untuk keperluan membuang sampah keluar kamar. Bukan hanya sekedar memakai kerudung atau jilbab secara asal di atas kepala, melainkan harus memakai jilbab rapi dengan memakai jarum atau peniti, serta lengkap dengan papan nama dan pin lambang pesantren kemanapun kami pergi tanpa terkecuali. Papan nama dan pin adalah salah satu atribut wajib sehari-hari, sehingga jika salah satu atribut ini tidak kami pakai, kamipun akan ditegur oleh para pengurus. Setiap angkatan mempunyai warna papan nama yang berbeda-beda, kelas satu berwarna ungu, kelas dua berwarna merah, kelas tiga berwarna hijau dan seterusnya. Pembedaan warna papan nama ini akan mempermudah untuk koordinasi serta sebagai alat untuk mengontrol para santriwati. Sementara pin yang dipakai, akan menutup jilbab segitiga yang seringkali terbuka bagian depannya karena angin atau hal lain, sehingga selain membuat pemakaian jilbab lebih rapi juga akan menutup bagian dada. Aturan ini memang tidak sulit, hanya sedikit agak ribet karena setiap akan berganti jilbab, tidak lupa kami juga akan memasang papan nama dan pin.

Selain itu kami juga dilarang untuk memakai jilbab terlalu besar ataupun terlalu kecil. Para santriwati hanya diperbolehkan untuk memakai jilbab secara proporsional. Jilbab yang terlalu besar akan dianggap ekstrem, apalagi memakai cadar. Siapapun yang memakai cadar tidak akan diperbolehkan untuk masuk ke dalam area pesantren. Tidak peduli apakah itu tamu atau wali murid, mereka harus melepas cadar jika masuk ke dalam area pesantren. Pernah suatu ketika seorang dokter di pesantren ini memakai cadar, diapun harus mengkuti aturan yang ada. Sehingga harus membuka cadarnya ketika berada di dalam area pesantren.

Pemakaian jaket dan celana juga diatur sedemikian rupa. Para santriwati dilarang memakai jaket setelah jaros untuk makan pagi pada jam 6 dibunyikan dan baru diperbolehkan memakai jaket setelah sholat magrib kecuali bagi santriwati yang sedang sakit. Sehingga bisa terlihat, jika ada santriwati yang memakai jaket diluar jam-jam tersebut maka sudah dipastikan bahwa dia sedang sakit. Kami juga dilarang memakai celana panjang kecuali pada hari selasa dan jum’at dan pada saat pramuka. Pada hari selasa dan jum’at adalah hari dimana kami akan berolahraga. Sementara untuk pemakaian celana panjang sehari-hari justru diwajibkan ketika terdengar jaros jam 10 malam, tanda bahwa kami semua harus tidur dan harus mengganti celana panjang pada jam 4 pagi ketika jaros untuk sholat shubuh terdengar. Pada awal-awal hidup di pesantren aturan-aturan ini memang agak menyulitkan karena memang belum terbiasa. Tetapi seiring dengan waktu, akupun sudah mulai terbiasa dengan sendirinya melakukan aturan-aturan tersebut.

Dipesantren ini aku juga belajar bersosialisasi dengan teman-teman dari berbagai daerah. Sebagai seorang anak desa, agak sulit bagiku untuk beradaptasi dengan suasana yang baru seperti di pesantren. Tidak seperti teman-temanku sesama santriwati baru yang berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Mereka lebih berani untuk mengekspresikan diri, lebih berani berpendapat dan lebih mudah untuk menyesuaikan diri. Sementara aku lebih cenderung penakut, pendiam dan kurang berani untuk berpendapat dalam lingkungan yang masih baru.

Secara umum, aktifitas sehari-hari aku jalani di pesantren tanpa beban dan tanpa kesulitan yang berarti. Hal ini karena aku sudah terbiasa bangun pagi dan membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah seperti menyetrika, mencuci baju sendiri, menyapu dan lain-lain sebelum berangkat sekolah. Hari-hariku sebelum masuk pesantren sudah terbiasa dengan berbagai aktifitas, mulai dari sekolah pagi dan sekolah diniyah di sore hari, mengaji di masjid, belajar kelompok dan membantu ibu. Sehingga aku memang sudah terbiasa memenej waktu sejak dini. Aku juga sudah terbiasa mandiri semenjak dini. Hanya saja di pesantren aku butuh untuk banyak bersosialisasi dengan teman-teman dari berbagi daerah yang mempunyai karakter dan latar belakang budaya yang berbeda-beda.

Saat pertama masuk ke pesantren ini, belum ada gedung bertingkat megah disana seperti kondisi pesantren saat ini. Hanya masjid al-Marzuqoh yang berdiri dengan kokoh dan termegah disini. Masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah, tetapi juga menjadi tempat untuk belajar, bersosialisai, dan berorganisasi. Setiap ada perkumpulan, masjid menjadi tempat yang paling nyaman. Ruang kelas kami sangat sederhana, hanya terbuat dari gedek bambu yang membatasi antara satu kelas dengan kelas lainnya. Tidak jarang gedek bambu itu berlubang sehingga kami bisa mengintip aktifitas kelas lain. Banyaknya kegiatan di pesantren membuat kami mengantuk dan terbiasa tidur di dalam kelas. Apalagi jika hari sudah semakin siang dan ustad atau ustadzah yang memberikan pelajaran tidak bersemangat, sudah dipastikan sebagian besar dari kami akan tiarap dan tertidur. Namun demikian ada beberapa mata pelajaran yang pasti tidak akan membuat kami tidur, seperti muthola’ah, shorof, dan mahfudzot. Pelajaran mutholaah yang berisi cerita-cerita dalam bahasa arab akan membuat kami senang bersemangat, sementara pelajaran shorof dan mahfudzot mensyaratkan kami untuk berteriak-teriak sehingga tidak membuat kami ngantuk.

Jam-jam istirahat seringkali dimanfaatkan oleh sebagian santriwati termasuk aku untuk tidur. Waktu setengah jam cukup berharga untuk mengistirahatkan organ-organ tubuh daripada harus bangun dan mengeluarkan uang untuk jajan maka lebih baik digunakan untuk tidur. Terkadang malah bisa keterusan tidur hingga bel untuk pulang dari sekolah, sehingga sama sekali tidak mengikuti beberapa pelajaran. Hal ini tentunya jika ustad atau ustadzah yang mengajar tidak galak dan toleran melihat santriwati yang tidur. Jika sudah ditanyakan soal kebiasaan tidur di dalam kelas, maka para santriwati secara serentak akan beralasan bahwa semua ini karena tidak ada santri putra di dalam kelas, sehingga tidak ada yang membuat malu untuk tidur.

Seiring dengan berjalannya waktu, satu demi satu muncul gedung-gedung megah lainnya, mulai dari gedung ar-Rohmah, gedung Aisyah, gedung as-Sakinah, gedung Pujiyama, gedung Mu’awanah, gedung Khodijah, gedung serbaguna, ruang-ruang kelas dan lain sebagainya. Semua gedung-gedung tersebut minimal berlantai dua dan tiga. Setiap tahun selalu ada satu gedung baru berlantai dua atau tiga yang didirikan. Dalam membangun gedung-gedung tersebut, para santriwati juga ikut andil di dalamnya. Kami semua bergiliran untuk ikut ngecor gedung-gedung tersebut. Biasanya ngecor gedung digilir setiap kelas. Dengan berdiri berjajar-jajar, satu persatu ember yang berisi campuran semen berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain hingga lantai atas. Begitu seterusnya, hingga akhirnya aktifitas ngecorpun selesai.

Semakin banyak gedung yang didirikan, ruang kelas yang berdinding gedekpun kemudian kami tinggalkan dan berganti dengan ruang kelas yang lebih bagus dan berlantai yang keramik. Ruang kelas yang lebih bagus ternyata juga membuat kami semakin nyaman untuk tidur di dalam kelas. Mata akan menjadi sayu begitu memasuki ruang kelas di pagi hari. Karenaya akupun memilih duduk di bangku paling belakang, karena disana akan lebih leluasa untuk tidur. Ruang kelas yang dingin dan lantai yang bersih karena kami tidak diperbolehkan untuk memakai sepatu di dalam kelas membuat kondusif tidak hanya untuk belajar tetapi juga untuk tidur. Jika waktu istirahat sudah tiba, maka terlihat anak-anak mulai mencari tempat tidur yang nyaman. Mereka tidak lagi tidur dalam posisi duduk dengan kepala yang ditaruh di atas meja, tetapi tidur diatas lantai, tidak hanya di kolong antar meja bahkan juga bawah meja. Yah…begitulah uniknya menjadi seorang santriwati yang mempunyai kebiasaan tidur massal di dalam kelas yang sepertinya tidak akan didapati di sekolah-sekolah umum.

Di awal-awal masuk pesantren ini, aku tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam pelajaran. Baik pelajaran pondok yang berbahasa arab maupun pelajaran umum. Sebagian pelajaran pondok kelas 1 di pesantren ini seperti bahasa arab, tajwid dan mahfudzot telah aku pelajari di sekolah diniyah sore kelas enam. Sementara pada pelajaran umum seperti biologi, matematika dan fisika, memang menjadi pelajaran favoritku semenjak MI. Tetapi menginjak tahun ketiga, aku mulai merasakan kesulitan terutama dengan mata pelajaran umum, aku semakin tidak bisa mengikuti dan hal ini juga banyak dirasakan oleh sebagian besar teman-temanku. Pelajaran umum menjadi pelajaran nomor dua. Padahal di kelas tiga, kami akan menghadapi ujian akhir tahun tsanawiyah. Mata pelajaran di pesantren memang sangat banyak, karena pesantren menggabungkan kurikulum pondok gontor dan kurikulum departemen agama. Mulai dari pelajaran yang berbau arab hingga pelajaran umum seperti matematika, fisika dan biologi, semuanya ada dalam pelajaran sehari-hari. Belakangan aku baru menyadari hal inilah yang menjadi penyebab mengapa sebagian besar santriwati keluar dari pesantren. Mereka merasa tidak mempunyai fokus dan orientasi yang jelas. Pelajaran umum dan agama memang diajarkan, sehingga kami tahu semua pelajaran tetapi menjadi tidak mendalam.

Hal inilah yang membuat sebagian besar teman-teman di kelas 3 akhirnya memilih untuk keluar dari pesantren dan meneruskan sekolah di sekolah umum. Di tahun ketiga memang menjadi ujian bagi kami untuk memilih meneruskan studi di pesantren atau keluar dan mencari sekolah lain. Akupun sempat mengalami kebimbangan, hingga akhirnya memutuskan untuk tetap konsisten meneruskan perjalanan di pesantren hingga akhir studi di kelas 6. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkan pesantren hingga membawa ijazah. Aku memilih untuk tetap konsisten dengan pilihan. Karena sekali aku memutuskan sesuatu, maka keputusan itulah yang akan aku pertahankan.

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: