Jum’at yang selalu di nanti

Desember 24, 2010 zunlynadia

Setelah beraktifitas penuh selama seminggu, dan mencapai puncaknya pada hari kamis. Kini saatnya untuk libur dari aktifitas ke sekolah dan ekstra kulikuler. Meskipun tidak ada kegiatan belajar, tetapi hari jum’at ternyata bukankah hari yang benar-benar kosong dari aktifitas. Kami tetap tidak akan bisa seenaknya untuk bangun siang. Jadwal bangun pagi pukul 4 di lanjutkan dengan sholat shubuh di masjid, tetap menjadi rutinitas yang tidak bisa di ganggu gugat.

Selesai sholat shubuh, kami segera bergegas mengganti pakaian kami dengan pakaian olah raga lengkap dengan papan nama, kaos kaki dan sepatu. Ya..sudah menjadi jadwal rutin setiap jum’at pagi untuk berolahraga. Sebelum olah raga di mulai kami berkumpul di depan masyroh berbaris berhadap-hadapan dengan teman sekamar untuk muhadastah. Muhadatsah adalah percakapan dalam bahasa arab atau inggris. Muhadatsah selama 15 menit ini, dimaksudkan untuk melatih kami untuk lebih mahir dalam berbahasa arab dan inggris.

Ketika muhadatsah sedang berlangsung, pengurus bagian bahasa terlihat mondar-mandir diantara kami, sambil sesekali membuka kamus yang di pegang untuk membenarkan atau menjawab pertanyaan para santriwati tentang kosakata. Muka-muka serius yang seolah memperlihatkan kewibawaannya berlalu lalang. Aku yang saat itu malas untuk berbicara akhirnya terkena teguran keras. Tidak jarang teman-temanku berbicara dalam bahasa arab dengan suara keras ketika pengurus bahasa ada di dekatnya, dan diam ketika mereka sudah menjauh. Suatu gerakan tipuan yang hebat.

Akhirnya muhadastahpun selesai. Kami berbaris bebas untuk melakukan senam. Senam ini di pandu oleh salah satu bagian olahraga yang berdiri di panggung untuk memberikan contoh pada kami. Sementara yang lain juga mondar-mandir untuk melihat-lihat siapa diantara kami yang tidak bergerak untuk senam.

Secara tidak langsung, semua aktifitas kami selalu di awasi oleh para pengurus sesuai dengan bagian masing-masing. Seperti bagian olahraga misalnya, mereka mengotrol ke setiap kamar dan ruang yang ada di dalam pesantren untuk memastikan bahwa semua santriwati tidak ada yang mangkir dari olahraga. Begitu juga bagian-bagian yang lain yang semuanya berfungsi sesuai kapasitas dan wilayah kerjanya masing-masing.

Setelah senam pagi selesai di lakukan, kami pun bebas untuk berolahraga yang lain. Ada yang bermain bulu tangkis, bola voli, basket, lari-lari dan lain sebagainya. Aku sendiri lebih suka duduk-duduk dan menjadi supporter mereka yang berolahrga. Aku termasuk orang yang sangat malas olahraga. Meskipun malas, tetapi tidak ada alasan bagi kami untuk menyudahi kegiatan olah raga dengan masuk kamar, mandi, mencuci atau berganti pakainan. Sebelum sang jaros berbunyi tanda waktu olahraga telah usai, kami di larang untuk masuk ke kamar.

Akhirnya jaros yang kami tunggu-tunggupun berbunyi, tanpa harus berganti pakaian aku langsung menuju ke dapur untuk mengambil sarapan pagi. Pagi ini kami makan nasi goreng dengan krupuk plus susu coklat hangat. Ya..seminggu sekali kami mendapatkan tambahan menu istimewa susu. Susu coklat yang berasal dari susu kaleng bendera ini sangat encer karena memang volume susu dan gula yang tidak berimbang. Tapi semuanya tetap terasa nikmat. Apalagi kami memakannya secara bersama-sama dan dengan kondisi yang lapar, semakin menambah cita rasa makanan yang kami makan.

Tidak lama setelah makan, aku ingin segera bergegas ke pancuran untuk mendapatkan antrian mencuci. Semua aktifitas disini dilakukan dengan antrian yang panjang. Tidak hanya mengambil makan, tetapi juga mandi dan mencuci. Tidak heran jika sebagian besar santriwati memilih untuk bangun lebih awal, sebelum jaros pukul 04.00 pagi berbunyi, untuk mandi dan mencuci. Karena jika tidak, bisa jadi kami berangkat sekolah tanpa mandi.

Belum sampai aku berjalan hingga pancuran. Tiba-tiba terdengar bunyi jaros lagi. Bunyi jaros yang tidak biasa ini menimbulkan tanda tanya bagi kami. Tetapi kemudian terdengar pengumuman dari bagian penerangan bahwa seluruh santriwati diharapkan untuk masuk kedalam kamar masing-masing. Akhirnya aku tahu bahwa, pagi ini akan ada pemeriksaan kuku dan kutu rambut dari bagian kesehatan. Pemeriksaan kuku dan kutu rambut ini memang  seringkali di adakan secara mendadak. Sesampai di kamar, aku sudah mendapati dua orang pengurus bagian kesehatan yang siap memeriksa rambut dan kuku-kuku kami. Beruntung kemaren aku baru saja keramas, mencuci rambutku, tetapi aku lupa untuk memotong kukuku yang sudah terlihat panjang.

Kakak bagian kesehatan itu hanya memberi peringatan buatku untuk segera memotong kuku yang panjang. Berbeda dengan beberapa teman sekamarku yang lain, yang ketahuan memelihara kutu rambut, mereka di panggil untuk datang ke bagian kesehatan untuk mendapatkan peringatan dan pengarahan. Tidak hanya itu, bagi yang memiliki rambut panjang dan ketahuan memelihara kutu rambut, maka bersiap-siaplah… bagian kesehatan akan memangkas rambut menjadi lebih pendek.

Hidup di pesantren bersama banyak orang, bahkan kami tinggal bersama 40 orang dalam satu kamar besar, memang mempermudah penyebaran kutu-kutu rambut. Hal ini kemudian menjadi perhatian bagi para pengurus bagian kesehatan untuk melakukan sidak, agar kami semua terbiasa untuk hidup bersih dan sehat.

Usai sidak dari pengurus kesehatan, kami semua berbagi tugas untuk melakukan kerja bakti. Kerja bakti ini di bagi menjadi beberapa tempat. Ada yang membersihkan dan mengepel kamar, masjid, kamar mandi, WC, ruang pertemuan, ruang tamu santriwati dan kantor.

Kebetulan hari ini aku kebagian untuk kerja bakti di masjid. Sesampai di masjid, aku sudah mendapati banyak teman-teman utusan dari tiap-tiap kamar yang mendapatkan tugas yang sama denganku. Dengan di pandu oleh pengurus bagian pengajaran yang juga bertugas sebagai takmir masjid, kami mulai menyapu, mengepel, membersihkan kaca-kaca, sampai  merapikan al-Qur’an. Setelah semuanya selesai , aku bergegas manuju kamar, mengganti pakaian, dan tidur untuk melepaskan lelah yang telah menggunung selama seminggu beraktifitas.

Namun, baru beberapa menit aku terbuai dalam mimpi indah, bagian penerangan memanggilku untuk meminta kedatanganku di ruang tamu. Dengan langkah sedikit gontai, karena baru saja terbangun dari tidur, aku memakai jilbab dan mendatangi ruang tamu pesantren. Seketika aku langsung bersemangat melihat bapak dan ibu duduk menantiku di ruang tamu. Aku langsung menyalami dan mencium tangan kedua orang tuaku. Hari jum’at adalah hari dimana banyak orang tua yang mempercayakan pendidikan anaknya disini punya waktu lebih untuk bertemu anak-anaknya. Di luar hari ini, akan sulit bagi para orang tua untuk menemui anaknya karena padatnya aktivitas yang tidak mungkin ditinggalkan oleh kami dengan alasan kedatangan orang tua.

Kedatangan orang tuaku tidak hanya sekedar untuk melepas kangen, tetapi juga untuk memberikan uang saku dan kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti sabun mandi, sabun cuci, odol, sampo, me instant, jajanan dan lain sebagainya. Orang tuaku lebih senang membawakannya daripada aku harus membelinya di sini, karena seringkali ada selisih harga yang lumayan antara koperasi dengan toko di luar dan bagi kami keluarga yang kurang mampu, hal-hal kecil seperti itu pasti akan diperhatikan.

Selain banyaknya para orang tua yang menjenguk anaknya di pesantren, hari jum’at juga merupakan satu-satunya hari dimana kami bisa jalan-jalan keluar pesantren. Biasanya teman-teman suka memanfaatkannya untuk pergi ke kota ponorogo, hanya untuk sekedar melihat-lihat suasana yang berbeda, makan bakso atau nasi goreng yang tentunya berbeda cita rasanya dengan bakso dan nasi goreng ala pesantren. Meskipun kami bisa jalan-jalan keluar pesantren, tetapi untuk mendapatkan izin ternyata juga tidak mudah meskipun juga tidak sesulit hari-hari biasa.

Perizinan untuk jalan-jalan ke kota Ponorogo di mulai dengan memberikan kartu izin ke bagian keamanan. Bagian keamanan pesantren ini kemudian akan menyeleksi siapa yang bisa pergi untuk jalan-jalan. Penyeleksian ini didasarkan pada sering dan tidaknya santriwati izin untuk keluar pesantren. Dalam kartu perizinan itu akan terlihat siapa yang belum lama mendapatkan izin jalan-jalan keluar, dan akan sulit bagi dia untuk mendapatkan izin kembali, kecuali memang kuota yang ada cukup untuknya. Keberangkatan kami yang ingin pergi ke kota Ponorogo memang terokordinir karena mengendarai bus pesantren, sehingga kuota santriwati yang ingin pergi ke kota Ponorogo di batasi sesuai dengan kapasitas bus. Kecuali bagi mereka yang izin bersama orang tua, akan diizinkan untuk pergi sendiri tanpa bus pesantren.

Dengan alasan keamanan, karena kami semua perempuan, pesantren tidak akan memberikan izin keluar kecuali ada wali yang mengantarkannya atau bersama-sama mengendarai bus pesantren. Bus yang mengangkut para santriwati ini berhenti di depan toko buku Latansa Ponorogo. Setelah menurunkan para santriwati di depan toko milik pondok modern Gontor itu, kami di bebaskan untuk berjalan-jalan sesuai dengan tujuan masing-masing. Waktu untuk bepergian pun di batasi maksimal hanya sampai jam 2 siang dan tepat jam 2 siang, bus akan  mengantar kembali para santriwati ke pesantren.

Perjalanan keluar pesantren bagi kami adalah suatu anugerah yang tak terkira yang membuat kami senang bukan kepalang. Padahal kota Ponorogo bukanlah kota besar, tetapi rasa-rasanya kami seperti datang ke kota metropolitan setelah lama tinggal di pedesaan. Ketika pergi keluar pesantren, kami para santriwati juga di wajibkan untuk memakai seragam. Seragam yang khusus kami pakai ketika jalan-jalan keluar dari pesantren. Seragam batik cokelat atau jubah berwarna abu-abu lengkap dengan papan nama dan pin pesantren. Tidak hanya itu kami juga wajib mengenakan sepatu dan kaos kaki. Seragam ini merupakan identitas kami sebagai santriwati dari sebuah pesantren putri.  Dalam soal belanja, kami juga di batasi bahkan di larang untuk membeli barang-barang yang sudah tersedia di koperasi pesantren. Barang-barang belanjaan selalu di periksa oleh bagian keamanan pesantren, sehingga kami tidak mungkin melanggar aturan yang ada.

Di kota ponorogo, kami juga banyak mendapati para santri dari pesantren lain pergi berbelanja. Ya..ponorogo memang di kenal dengan kota santri, karena banyak sekali pesantren yang tersebar disini. Dari sekian banyak pesantren di ponorogo, setidaknya ada empat pesantren yang di kenal sebagai pesantren modern dengan kurikulum yang sama, yakni mengacu pada kurikulum pondok modern Gontor. Empat pesantren itu adalah ponpes walisongo Ngabar, ponpes Ar-risalah, ponpes Gontor,dan pesantren kami, pesantren putri Al-Mawaddah. Dari keempat pesantren tersebut, pesantren kami adalah satu-satunya pesantren yang khusus untuk putri. Dari seragam yang di kenakan, kami sudah mengetahui dari pesantren mana mereka berasal. Karena mereka pun juga mempunyai seragam yang wajib di kenakan ketika keluar pesantren.

Pulang dari ponorogo pukul 15.30, dan kami harus segera bergegas ke masjid untuk sholat asar. Tidak ada dispensasi bagi kami untuk sholat di dalam kamar, jadi harus tetap ke masjid. Begitulah aktifitas kami sebagai seorang santriwati, di hari liburpun ternyata kami tidak benar-benar libur, tetapi mengganti aktifitas belajar di kelas dengan aktifitas-aktifitas yang lain. Sehingga kami tidak pernah mempunyai waktu yang terbuang secara percuma, karena waktu-waktu luang yang sedikit saja akan kami pergunakan baik untuk aktifitas organisasi, maupun aktifitas pribadi.

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: