Jaros….jaros ……

Desember 24, 2010 zunlynadia

Teng..teng..teng..teng..teng..teng

Jam 04.00 dini hari

Bunyi jaros menggugah tidurku dari mimpi indah. Ingin rasanya meneruskan mimpi-mimpi itu, tetapi teriakan pengurus kamarku membuatku harus bergegas untuk mengambil air wudhu dan terus ke masjid. Sampai di masjid aku menggelar sajadahku dan membuka al-Qur’an sambil menunggu adzan shubuh. Baru satu baris aku membaca deretan huruf arab yang ada al-Qur’an, aku kembali terbuai dengan mimpi yang sempat tertunda. Dengan posisi duduk, tak ayal lagi kepalaku melambai-lambai bak pohon kelapa yang terkena tiupann angin, semakin keras terkena angin semakin keras pula lampaian daunnya. Dan buk…aku kaget dan mendapati kepalaku sudah dalam posisi sujud di atas sajadah. Aku buru-buru bangun dan melihat para santriwati yang berada di samping kanan kiri dan belakangku  tersenyum melihatku, meskipun tidak sedikit juga diantara mereka yang juga terkantuk-kantuk menunggu adzan.

Akhirnya adzan shubuh berkumandang. Kami mendengarkan adzan dari radio yang di beri pengeras suara, sehingga terdengar seolah-olah ad seorang muadzin yang berdiri di dalam masjid kami. Ya..karena kami semua adalah perempuan, maka tidak ada yang mengumandangkan adzan. Begitu terdengar adzan, aku beranjak menuju midhoah untuk mengambil wudhu untuk menunaikan sholat shubuh.

Jaros adalah tonggak kedisiplinan dalam pesantren ini. Jaros adalah istilah dalam bahasa arab yang artinya lonceng. Sebuah lonceng yang sangat besar di letakkan di depan kamar pengurus pesantren. Lonceng ini besarnya hampir separo badan kami. Begitu besarnya sehingga ketika lonceng ini berbunyi, suaranya membahana keseluruh penjuru pesantren bahkan terdengar hingga kampung sekitar pesantren sebagai tanda di mulainya aktifitas. Semua aktifitas yang kami lakukan disini sangat bergantung pada sang jaros. Begitu jaros di bunyikan maka secara serentak santriwati akan meninggalkan kamar-kamar dan aktifitas pribadinya.

Sang jaros memulai aksinya untuk memerintah kami pada jam 04.00 dinihari, kami di paksa untuk bangun dan berangkat untuk menunaikan sholat shubuh ke masjid meski adzan shubuh belum terdengar. 10-15 menit setelah jaros berbunyi kami semua harus sudah berkumpul di masjid, jika tidak kami dianggap masbuk[1]. Jika hukuman pada para masbuk selain sholat shubuh hanya dipukul 5 kali, tetapi khusus bagi para masbuk sholat shubuh ditambahkan untuk mengaji di depan masjid sambil berdiri hingga adzan shubuh dan kemudian baru dipukul. Hal ini yang membuat kami malu sehingga jangan sampai kami menjadi masbuk pada sholat shubuh. Pernah suatu ketika aku terlambat bangun tetapi aku bisa selamat dari mengaji di depan masjid. Hal ini karena begitu aku bangun dari tidur dan menyadari hampir terlambat ke masjid dan menjadi masbuk, aku langsung saja masuk masjid tanpa berwudhu terlebih dahulu, karena kalau aku masih harus berwudhu, dipastikan aku akan termasuk masbuk. Akupun langsung mengambil tempat di lantai dua. Karena di lantai dua, tidak terlalu banyak diawasi oleh pengurus. Sehingga seringkali tidak ketahuan apakah kami mengaji atau tidak. Para santriwati yang sholat di lantai dua juga biasanya sangat sedikit, disamping malas untuk menaiki tangga, biasanya santriwati yang sholat di lantai dua seringkali kehilangan sandalnya setelah keluar dari masjid, mungkin karena dari turun dari lantai dua memakan waktu lebih lama daripada harus keluar dari lantai satu yang sebenarnya lebih banyak orang. Setelah adzan shubuh terdengar, barulah aku keluar dari masjid untuk mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat shubuh. Cara ini ternyata memang cukup efektif untuk menghindari masbuk sholat shubuh dan mengaji di depan masjid sambil berdiri.

Pukul 06.00 pagi sang jaros memberikan tanda untuk kami bisa pergi ke dapur dan mengambil nasi beserta lauk, sebelum jaros berbunyi jangan harap kami bisa masuk dapur dan mendapatkan nasi. Tak jarang dari para santriwati sudah bersiap di depan kamar masing-masing dengan membawa piring dan begitu jaros berbunyi, kami berlari untuk berlomba mengambil nasi yang ada di dapur bak harimau yang kelaparan dan tidak makan selama seminggu. Dapur kami terdiri dari loket-loket. Kami akan mengantri di depan loket itu dengan membawa kartu makan untuk mengambil lauk. Tanpa kartu makan jangan harap kami akan mendapatkan lauk pauk. Kartu makan perlu di bawa untuk menghindari korupsi lauk, sehingga tidak mungkin kami mendapatkan lebih dari jatah yang diberikan.

Antrian di depan loket itu bisa menjadi sangat panjang dan berdesak-desakan, terutama pada hari Rabu malam dan kamis malam.Hari rabu malam adalah jadwal kita untuk makan bakso atau ikan lele. Bakso kecil yang berjumlah dua biji ini dimasukkan kedalam plastik beserta kuah dan mihun yang sudah dicampur dengan saos dan kecap. Sementara pada hari kamis malam, adalah hari dimana kami bisa makan daging. Daging sapi sebesar ibu jari yang di masak kare dengan kuah yang sangat encer karena memang menggunakan santan yang hanya sedikit. Bakso dan daging menjadi lauk yang sangat istimewa dan nikmat karena itu adalah lauk kami yang paling enak diantara tahu, tempe dan krupuk pada hari-hari kami yang lain. Kenikmatan ini akan semakin terasa, karena kami harus berjuang habis-habisan dengan antrean panjang dan berdesak-desakan, saling dorong, seperti antrean tiket kereta api ekonomi di saat mudik lebaran.

Tidak hanya antrean lauk pauk yang panjang dan melelahkan. Nasi putih yang tersaji diatas meja yang bisa diambil sesuai porsi perut kami juga harus diambil dengan berebut. Tidak jarang nasi yang diambil dengan susah payah itu jatuh berserakan melawan desakan para pengambil nasi yang lain. Belum lagi jilbab yang tertarik-tarik dan dada yang serasa sesak terhimpit orang-orang yang berkumpul berebutan. Memang memerlukan waktu yang panjang untuk makan, mulai dari antrean panjang lauk di depan loket yang tersedia, hingga berjuang untuk memperebutkan nasi di atas, padahal nasi yang tersedia dipastikan cukup untuk kami semua. Tapi entah karena di dorong oleh rasa lapar, maupun tertuntut oleh sang jaros penanda waktu ke sekolah, sehingga kami harus berjuang untuk mendapatkan nasi secepat mungkin.

Untuk mempersingkat waktu, biasanya kami membentuk kelompok makan. Kelompok makan ini bekerjasama untuk mengambil makan laksana tim yang solid. Tiap kelompok berbeda-berbeda anggotanya. Ada yang berlima, ada yang berempat, bertiga bahkan berdua. Dalam kelompok makan, kami mempunyai piring sendok dan termos air yang menjadi inventaris kelompok. Kelompok makan secara tidak langsung membentuk ikatan emosiaonal diantara anggotanya. Aku sendiri beserta empat temanku yang membentuk kelompok makan ini. Kami saling berkoordinasi dalam mengambil makan. Satu orang antri untuk mengambil lauk pauk. Satu orang  mengambil nasi, satu orang mengambil air minum, satu orang lagi menunggu untuk menangkap nasi yang sudah diambil. Karena ketika sudah berhasil mengambil nasi, akan sangat sulit untuk membawanya dengan selamat menembus kerumunan dan desakan sesama pengambil nasi. Dan satu orang lagi bertugas untuk mencuci peralatan makan kami setelah selesai makan. Tugas-tugas tersebut kami lakukan dengan penuh pengertian tanpa harus di jadwal. Karena kerjasama yang baik waktu kami tidak akan terbuang hanya untuk antri tanpa sempat memakannya, karena lagi-lagi sang jaros akan berbunyi…

Teng teng teng…teng teng teng….teng teng teng….

Jam 06.50 jaros kembali berbunyi pertanda bahwa kami sudah harus berada di dalam kelas. Pintu gerbang menuju kelaspun sudah tertutup. Tidak ada jalan lain bagi kami untuk bisa menyelinap. Pintu gerbang itu adalah satu-satunya jalan. Jadi jangan harap kami akan selamat dari pukulan para pengurus OSWAH jika terlambat.

Pukul 13.00 jarospun berbunyi lagi untuk memberikan tanda bahwa belajar di kelas harus segera berakhir, dan segeralah kami pergi ke masjid untuk menunaikan sholat dhuhur. Setelah sholat dhuhur kami pun pergi ke dapur untuk makan siang. Suasana di dapurpun sedikit berbeda dengan pagi dan malam, karena tidak terlalu panjang antrian untuk mendapatkan lauk. Rupanya para santriwati sedikit malas untuk makan siang karena mereka terlalu banyak jajan pada jam-jam istirahat sekolah. Berbeda denganku yang tidak pernah punya uang saku. Makan adalah suatu kewajiban, karena jika tidak makan, bisa di pastikan akan kelaparan karena tidak pernah jajan. Pukul 14.00 jaros kembali mengingatkan kami untuk masuk kelas dan memulai kembali kegiatan belajar hingga pukul 16.00. Berbeda dengan sekolah di pagi hari, sekolah pada siang hari hingga sore diajarkan oleh kakak-kakak kelas V yang telah terpilih. Belajar pada siang hari hingga sore merupakan mengayaan dari pelajaran pada sekolah pagi. Khusus pada hari selasa, tidak ada aktifitas belajar di dalam kelas pada siang hari dan sebagai gantinya akan ada kegiatan ekstrakulikuler pilihan bagi para santriwati. Ada kaligrafi, seni baca al-Qur’an (qiro’ah), drumband, qosidah, menjahit, menulis atau jurnalistik dan lain sebagainya. Kegiatan ekstrakulikuler dimaksudkan untuk mengasah bakat para santriwati agar bisa lebih siap ketika harus terjun dalam masyarakat.

Pukul 17.00 jaros berbunyi lagi tanda aktifitas untuk pergi ke masjid. Sembari menunggu adzan magrib, para santriwati dibagi menjadi firqoh-firqoh kecil, biasanya satu firqoh terdiri dari 5 hingga 7 orang sesuai tingkatan kelas yang kemudian dipandu oleh seorang kakak kelas. Disitu kami tidak hanya diajari mengaji dan mengenal ilmu tajwid, tetapi juga mendalami fikih terutama terkait dengan fikih perempuan dan fikih dalam kehidupan sehari-hari. Setelah sholat magrib kamipun bergegas untuk makan dan pada pukul 19.00 akan terdengar kembali jaros panggilan untuk menunaikan sholat Isya’.

Selesai sholat isya’ para santriwati tidak langsung pergi ke kamar melainkan masih harus berkumpul sesuai dengan kelas masing-masing sambil membawa buku untuk mendapatkan mutarodifat[2] atau vocabularies[3] harian.  Setiap hari kami mendapatkan tiga kata dalam bahasa arab dan inggris sebagai bekal untuk percakapan kami sehari-hari. Baru setelah pemberian mutarodifat dan vocabularies selesai kami bergegas untuk pergi ke kamar dan mempersiapkan diri untuk sekolah keesokan harinya. Terkadang ada PR ataupun hafalan yang harus kami persiapkan pada malam harinya. Terakhir pukul 22.00 jaros berbunyi  mengingatkan kami untuk segera masuk kamar dan tidur. Tidak ada lagi santriwati yang berada di luar kamar. Semuanya masuk kamar, mengambil kasur yang telah di tumpuk-tumpuk rapi di pagi hari dan tidur dengan lampu kamar yang dimatikan.

Begitulah rutinitas kami sehari-hari, di kendalikan oleh sang jaros. Dia laksana sang raja yang berkuasa dan memerintah kami untuk melakukan berbagai aktifitas. Tanpa jaros, segala kegiatan tidak akan berjalan tepat waktu. Kami dididik untuk disiplin dalam hal apapun. Tak heran kadang kami merasa sebagai seorang prajurit yang selalu siap mendengarkan perintah dan melaksanakannya dengan cepat dan tepat. Tidak ada kata terlambat karena akan ada hukuman yang menanti disana, Tidak tanggung-tanggung 5 kali pukulan untuk setiap keterlambatan. Bisa di bayangkan berapa pukulan yang harus di terima setiap hari kalau kami terlambat sedikit saja. Terlambat masuk masjid, terlambat sekolah, terlambat pramuka semuanya di ganjar sama, 5 kali pukulan. Hanya terlambat makan yang tidak ada hukumannya. Tapi meskipun diganjar dengan pukulan, kami tidak patah arang. Semangat kami tetap membara untuk belajar di sini.


[1] Masbuk adalah istilah yang menunjuk pada seorang makmum yang terlambat sholat, tetapi di pesantren ini istilah masbuk digunakan untuk menunjuk santriwati yang terlambat masuk ke masjid, biasanya kami hanya diberi waktu 10-15 menit setelah jaros untuk masuk ke dalam masjid sebelum dinyatakan sebagai masbuk dan harus mendapat iqob.

[2] Mutarodifat adalah Kosakata dalam bahasa arab

[3] Vocabularies adalah kosakata dalam bahasa Inggris

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: