Horee..Tinggal Satu Tahun Lagi

Desember 24, 2010 zunlynadia

Memulai hari dengan semangat. Pagi ini adalah hari pertamaku memasuki kelas yang baru. Kelas VI IPA atau biasa dikenal dengan kelas III aliyah jurusan IPA. Ya kelas yang letaknya berbeda dengan kelasku sebelumnya. Karena kelas ini terpisah lokalnya dengan kelas-kelas yang lain. Kelas yang sedikit istimewa karena hanya ada satu kelas. Kelas yang sedikit bergengsi meskipun sebenarnya secara kualitas tidak berbeda dengan kelas lain. Tapi tetap saja bergengsi, karena di dalamnya berisi santriwati yang sebagian besar berasal dari kelas A. Kelas favorit yang biasa diisi oleh anak-anak pintar. Ya di pesantren ini memang berlaku pengelompokan kelas sesuai dengan kemampuan santriwati. Kemampuan ini tentunya dilihat dari nilai rapor kami setiap semesternya. Bagi mereka yang mempunyai nilai tinggi, akan berkumpul di dalam satu kelas tersendiri, yakni kelas A. Sebaliknya bagi anak yang nilainya kurang ia akan menempati kelas berikutnya B,C, D bahkan E. Di kelas tingkat bawah ini berkumpul anak-anak yang dianggap kurang pintar dan pembuat onar.

Kelas VI IPA, Kelas kami ini juga sering disebut sebagai laboratorium. Di dalamnya terdapat beberapa alat peraga seperti tengkorak manusia beserta isinya, tabung-tabung dan gelas untuk meneliti reaksi kimia dan masih banyak lagi. Sayang alat ini tidak pernah di gunakan hingga kami meninggalkan kelas. Ya kelas VI IPA yang hanya sekedar nama. Karena pada praktiknya terlalu berat bagi kami untuk mempelajari mata pelajaran IPA, karena pelajaran agama di pesantren yang disertai berbagai hafalan telah mengisi sebagian besar otak kami. Sehingga nyaris tidak tersisa sedikitpun ruang untuk mata pelajaran IPA, seperti matematika, kimia dan fisika. Tengkorak manusia yang berada di dalam kelas yang sedianya diperuntukkan untuk praktikum tidak pernah tersentuh. Perlahan namun pasti satu persatu bagian dari tengkorak manusia itu rusak tanpa kami pakai. Tengkorak yang kami namai si ucok ini berdiri di depan kelas seolah mencemooh kami yang tidak pernah sekalipun menyentuhnya untuk di pelajari. Kami lebih sering menggunakannya untuk main sandiwara jika kelas sedang kosong.

Ya, tidak ada jadwal praktikum buat kami anak jurusan IPA, karena banyaknya mata pelajaran yang harus kami pelajari mulai dari pelajaran fiqih, tarikh, mutholaah, bahasa arab, hadis, balaghoh, tarbiyah, ilmu manthiq dan masih banyak lagi mata pelajaran agama, ditambah dengan mata pelajaran matematika, biologi dan lain sebagainya. Semuanya bercampur menjadi satu.  Jam pertama mutholaah, jam kedua fisika, jam ketiga tarbiyah dan seterusnya hingga jam ke tujuh, membuat otak kami sesak dijejali berbagaimacam ilmu pengetahuan.

Entah apa yang sebenarnya ada dalam pikiran para pengasuh dan direktur ketika akan membuka jurusan ini. Jurusan yang menurutku hanya untuk gengsi dan menaikkan nilai jual sekolah kepada masyarakat. Ya kami dipromosikan sebagai pesantren plus yang mengadopsi kurikulum gontor ditambah dengan kurikulum nasional. Hal ini membuat otak kami seperti sebuah ember yang siap dituang berbagai macam air, mulai dari teh, kopi, susu, yang semuanya bercampur menjadi satu sehingga tidak ada rasa yang dominan, bahkan cenderung merusak rasa.

Pesantren ini memang dianggap sebagai pesantren modern, yang dirancang khusus untuk putri. Selama ini pesantren modern selalu dialamatkan pada pondok Gontor. Pondok yang berdiri sudah sejak lama dan menghasilkan alumni yang tersebar di seluruh nusantara memang di kenal sebagai parameter pesantren modern di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, para alumni pondok Gontor ini telah banyak menjadi tokoh nasional yang berpengaruh, sebut saja Nurkholis Majid, Hidayat Nurwahid, Din Syamsuddin, Hasyim Muzadi bahkan hingga Abu Bakar Ba’asyir. Dari tokoh yang dianggap modernis bahkan cenderung liberal hingga tokoh yang dianggap radikal fundamentalis. Mereka semua adalah didikan dari lembaga pendidikan yang menyatakan dirinya sebagai pondok pesantren modern di sebuah kota kecil di Jawa Timur-Ponorogo.  Tidak mengherankan jika citra Gontor yang demikian itu memberikan pesona bagi para orang tua yang ingin menjadikan putra-putrinya sebagai insan yang berguna di masa mendatang.

Pesantren kami memang masih dianggap saudara dengan pondok modern Gontor. Ya pendiri pesantren ini juga didirikan oleh salah satu istri dari pendiri pondok Gontor. Letak pesantren kamipun tidak terlalu jauh dengan Gontor hanya sekitar 5 km. Bahkan pengasuh pesantren kami tinggal di dalam pondok Gontor. Sehingga beliau hanya sesekali saja melihat santrinya. Urusan pengasuhan lebih banyak di tangani oleh para ustadzah yang tinggal di dalam pesantren.

Hubungan pesantren kami yang khusus putri dengan pondok Gontor yang khusus putra ini seperti saudara sepupu yang kadang harus menjaga jarak tetapi terkadang juga saling membutuhkan satu sama lain. Ketika pesantren kami membangun masjid, maka berbondong-bondonglah santri Gontor ikut serta mengecor masjid. Ketika santri Gontor melakukan hajatan besar khutbatul arsy, tidak lupa mereka akan selalu mengundang kami untuk meramaikan upacara pembukaannya. Tidak jarang hal ini menjadi berkah yang luar biasa bagi kami yang setiap harinya tidak pernah melihat makhluk Tuhan yang berbeda jenis dengan kami. Meskipun kami tidak saling kenal dan tidak bertegur sapa tetapi bagi kami melihat mereka saja sudah menjadi anugerah terindah.

Pesantren memang telah banyak memberiku segalanya. Kami diajari untuk bisa mengatur diri kami sendiri, mandiri, menghargai orang lain dan disiplin. Dan tidak terasa sudah hampir enam tahun aku hidup di dalam kehidupan pesantren. Ternyata aku termasuk orang yang bisa bertahan disini, diantara sekian banyak teman-temanku yang hanya bisa bertahan 3 tahun atau hanya mampu menyelesaikan pendidikan sampai tingkat tsanawiyah.

Waktu memang begitu cepat berlalu. Tahun ini adalah tahun terakhirku di pesantren. Tahun ini adalah tahun yang terberat bagi kami sebelum meninggalkan pesantren. Banyak ujian yang harus kami lalui. Mulai dari hafalan juz ‘amma, ujian mengajar atau yang sering kami sebut dengan amaliyah, ujian pondok yang menguji seluruh mata pelajaran pondok mulai dari kelas satu hingga kelas enam yang pastinya semuanya butuh untuk di hafalkan, dan yang tidak kalah penting adalah ujian negara yang menguji mata pelajaran IPA sebagai mata pelajaran utama jurusan kami, matematika, fisika, kimia, biologi yang pastinya membuat otak kami kian bebal.

Selain rangkaian ujian yang harus kami lewati sebagai santriwati tingkat akhir di pesantren, kami juga di hadapkan dengan rangkaian kegiatan yang yang dilalui mulai dari awal tahun ajaran baru hingga detik-detik akhir kami meninggalkan pesantren. Semuanya terjadwal dengan rapi di awal kami memasuki kelas baru. Kelas tingkat paling tinggi di pesantren. Kelas VI. Kegiatan tersebut menuntut kami untuk membuat kepanitian untuk mempermudah dalam pelaksanaannya. Mulai dari panitia pagelaran panggung gembira, rihlah ilmiyah, fathul kutub, hingga khitbatul wada’. Semua anggota kelas VI A,B,C,D dan E mendapat bagian dalam kepanitiaan, sehingga seluruh rangkaian kegiatan kelas VI dapat berjalan dengan baik dan lancar hingga akhir.

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: