Hari Kamis yang Melelahkan

Desember 24, 2010 zunlynadia

Hari ini adalah hari kamis, hari yang benar-benar melelahkan bagi kami santriwati. Seperti biasa, kami memulai aktifitas dengan belajar di kelas mulai jam 07.00 hingga jam 13.00. Berbeda dengan hari-hari biasanya, pulang dari sekolah dan sholat dhuhur , kami tidak lagi di kejar waktu untuk kembali masuk kelas, tetapi aktifits belajar di kelas di ganti dengan pramuka. Ya..pramuka (praja muda karana) adalah salah satu kegiatan yang paling aku suka, karena pramuka lebih banyak diisi dengan bermain dan bernyanyi serta di alam terbuka.

Kegiatan pramuka di pesantren ini dibagi menjadi 6 kelompok yang disebut pangkalan, Semua santriwati masuk kedalam 6 pangkalan yang ada, ada pangkalan 02,04, 06, 08, 10, dan 12. Pangkalan adalah satuan kelompok pramuka di bawah gugus depan 16028. Pembagian pangkalan ini untuk mempermudah para kakak pembina dan koordinator pramuka dalam memberikan materi kepramukaan. Sehingga menjadi lebih efektif. Satu pangkalan terdiri atas dua kelompok, yakni kelompok penggalang dan kelompok penegak.

Kelompok penggalang diisi oleh santriwati kelas 1 hingga kelas 3 tsanawiyah, dan dipimpin oleh seorang pratama. Kelompok penggalang ini terdiri atas beberapa kelompok kecil yang dinamakan regu dan tiap regu terdiri atas sepuluh anak. Sementara kelompok penegak berisi santriwati kelas IV dan III pintas atau setara dengan kelas 1 aliyah dan dipimpin oleh seorang pradana.  Dalam kelompok penegak juga terdiri atas kelompok kecil yang berisi 10 anak yang dinamakan sangga. Kelompok-kelompok ini di buat untuk mempermudah koordinasi, karena pramuka banyak melatih kami untuk saling bekerjasama antar anggota regu dan sangga.

Aku sendiri memangku jabatan sebagai seorang pratama, yang bertanggung jawab terhadap para anggota penggalang, memimpin permainan-permainan dan kegiatan yang di berikan oleh kakak pembina. Pratama juga menyiapkan dan melatih petugas upacara pembukaan yang bertugas bergiliran setiap regunya. Terbersit rasa bangga dalam hatiku ketika dipercaya menjadi seorang pratama. Aku selalu mengobarkan semangat untuk anggota pangkalan dengan bernyanyi, tepuk tangan, dan meneriakkan yel-yel pangkalan.  Pangkalan seolah menjadi sepi tanpa kehadiranku. Ya..teriakan-teriakanku membuat semangat anggota penggalang selalu membara. Meski sang surya memperlihatkan keperkasaannya dengan pancaran sinarnya yang cukup menyengat. Tetapi hal itu tidak pernah menyurutkanku untuk tetap bersemangat. Disini aku benar-benar tidak pernah merasa kelelahan, aku hanya merasakan kepuasan batin yang belum pernah aku rasakan dalam melakukan kegiatan yang lain. Aku merasa pramuka adalah bagian dari jiwaku yang tidak bisa dipisahkan. Ya..aku suka pramuka, aku cinta pramuka.

Seluruh kegiatan pramuka dipandu oleh para kakak pembina yakni para santriwati sendiri kelas V atau kelas 2 aliyah. Mereka memberikan berbagai materi seperti tentang P3K dan mempraktekkannya, tentang baris berbaris, tentang kedisiplinan, tentang pentingnya bekerja sama dalam tim dan lain sebagainya. Selain materi-materi tersebut, kami juga selalu diberikan lagu-lagu baru dan permainan-permainan. Semua terasa indah, menyenangkan dan tidak membosankan.

Kegiatan pramuka dimulai dengan berkumpul di depan masjid. Kami berkumpul berdasarkan pangkalan masing-masing. Tiap pangkalan bersaing memberikan yel-yel dan menyanyikan lagu pangkalan masing-masing. Aku sendiri masuk dalam pangkalan 08. Sebagai seorang pratama, aku berdiri di depan dan memimpin teman-teman di pangkalanku untuk meneriakkan yel-yel dan menyanyikan lagu pangkalan. Suaraku yang cukup keras bak halilintar memberikan semangat para anggota pangkalan untuk bernyanyi meskipun di bawah terik sinar matahari yang panas, karena memang masih jam 2 siang. Lagu kebangsaan pangkalan 08 diciptakan oleh kakak penegak di pangkalan kami.

Kami pramuka al-Mawaddah

Siap Sedia

Korbankan jiwa raga

Demi Indonesia

Bina diri bakti bangsaku

Demi masa depan

Jangan mundur sebelum Maju

Demi Ibu pertiwi

Baktikan dasa darma

Tri Satya janji kami

Hilangkan rasa dengki

Sayang sesama insan

Jangan bimbang dan ragu

Walaupun banyak rintangan

Kami pramuka al-Mawaddah

Lagu ini tidak hanya membuat kami bersemangat, tetapi juga memberikan rasa patriotisme yang tinggi terhadap bangsa dan negara. Ya..pramuka memang menjadikan kami lebih cinta terhadap tanah air dan memiliki jiwa patriotik. Ada satu motto kami sebagai seorang pramuka yakni “we are scout but moslem” yang artinya kami pramuka tapi kami muslimah dan bukan sebaliknya kami muslimah tapi kami pramuka. Dengan motto ini kami selalu diajarkan meski kami seorang anggota pramuka dengan segala kreativitas dan aktifitasnya tetapi kami tetap menjaga nilai-nilai sebagai seorang muslimah.

Setelah selesai bernyanyi dan berlomba dalam memberikan yel-yel, kakak-kakak koordinator pramuka memberikan pengumumam pemenang pionering pada minggu ini. Ya..setiap pangkalan memang harus membuat pionering pada hari rabu, kemudian dinilai oleh kakak-kakak koordinator, pangkalan manakah yang berhak membawa bendera kemenangan bergilir yang diumumkan setiap hari kamis sebelum kegiatan pramuka dilaksanakan di tiap-tiap pangkalan.

Pionering adalah seni merangkai tongkat pramuka dengan simpul tali-temali yang diajarkan dalam pramuka, ada simpul jangkar, simpul pangkal, simpul mati dan lain sebagainya. Setiap pangkalan mempunyai tongkat dengan warna yang berbeda-beda. Kebetulan warna tongkat di pangkalanku berwarna dasar putih dengan loreng-loreng berwarna hijau yang tidak beraturan, sepintas nampak terlihat lebih artistik. Sengaja tongkat tersebut di cat seperti itu, untuk memberikan sentuhan yang berbeda dengan pangkalan yang lain. Tongkat-tongkat tersebut di rangkai menjadi berbagai bentuk. Disinilah kreatifitas kami sebagai anggota pramuka di uji. Sebagai seorang pratama, aku bertanggung jawab atas pembuatan pionering untuk pangkalanku. Sehingga setiap minggu (pada hari rabu) aku selalu mengkoordinir anggota regu tiap-tiap pangkalan untuk membuat pionering.

Setiap pangkalan baik kelompok penggalang maupun penegak mengeluarkan kreatifitasnya dalam pionering. Tidak hanya membuat pionering dengan bentuk yang baik tetapi juga cara tali-temali yang benar dan kekuatan dari rangkaian tongkat-tongkat tersebut hingga bisa di naiki oleh kami.

Membuat pionering dimulai sejak sehari sebelum hari Kamis atau pada hari rabu. Setelah sholat shubuh, aku bersama teman-teman pengurus pangkalan bergegas ke gudang koordinator untuk mengambil tongkat dibantu anggota regu yang kujadwal untuk membuat pionering setiap minggu. Setelah mengambil tongkat dan membawanya ke depan masyroh (panggung tempat berbagai acara dan pagelaran), mulailah kami merangkai tongkat-tongkat tersebut dengan berbagai macam bentuk). Masyroh ini terletak di tengah-tengah tiga gedung bertingkat yakni gedung sakinah, aisyah dan ar-Rohmah yang membentuk letter U. Ketiga gedung bertingkat itu merupakan kamar para santriwati. Dengan begitu, kesibukan semua anggota pramuka yang membuat pionering dari semua pangkalan akan terlihat oleh para santriwati yang menempati ketiga gedung tersebut. Kekompakan dan kerjasama dalam tim juga akan dinilai oleh kakak koordinator pramuka. Sehingga sedapat mungkin kami memperlihatkan kerjasama yang baik dalam membuatnya.

Pembuatan pionering ini, di beri batas waktu hingga jam 2 siang. Kami membuat pionering tersebut, di sela-sela aktifitas kami sebagai pelajar. Sehingga tidak heran jika 2x waktu istirahat sekolah menjadi waktu yang paling berharga untuk meneruskan pembuatan pionering karena tidak mungkin kami bisa menyelesaikannya sebelum berangkat ke sekolah.

Masa-masa menjadi seorang pratama adalah masa kejayaan pangkalan 08. Ya..hampir setiap minggu, bendera kemenangan pionering itu jatuh ke pangkalan kami. Seperti minggu ini, lagi-lagi aku kedepan untuk menerima bendera kemenangan. Diikuti dengan sorak sorai yel-yel dan tepuk tangan anggota pangkalan 08, aku menerima bendera tersebut. Aku memang cukup populer dan dikenal handal dalam bidang kepramukaan. Kali ini pionering kami yang berbentuk menara eiffel mendapat apresiasi yang tinggi oleh kakak koordinator pramuka. Pionering ini tinggi menjulang dengan kokohnya seolah memamerkan ketangguhannya. Dengan beberapa hiasan tali temali di ke empat sisinya menambah kesan anggun. Hiasan tali ini membentuk seperti anyaman yang rapi dan indah. Dengan menggunakan simpul jangkar untuk tali yang berhadapan dan simpul pangkal untuk tali yang berada di seberangnya menambah kesan yang artistik. Tidak lupa kami pasangkan bendera-bendera kecil berwarna hijau berbentuk segitiga di keempat sisinya yang menghubungkan antara ujung menara dengan bagian pangkalnya, dan tidak lupa di tengah pionering ini, kami juga memasangkankan bendera pangkalan 08. Tidak mengherankan jika minggu ini kami kembali membawa bendera kemenangan itu.

Setelah acara pemberian bendera kemenangan, kami semua bergegas menuju lapangan dan melakukan upacara pembukaan di setiap pangkalan. Segala aturan dalam kepramukaan di pesantren ini memang disesuaikan dengan aturan kepramukaan nasional. Misalnya dalam upacara, disitu ada pengibaran bendera, pembacaan dasa darma pramuka, dan sambutan dari kakak pembina. Model barisan dalam upacarapun berbeda antara kelompok penggalang dan penegak. Jika kelompok penggalang membentuk letter U, maka kelompok penegak berbaris lurus sebagaimana biasa. Semuanya berdasarkan buku panduan pramuka dari kwartir nasional.

Setelah melakukan upacara kami dikumpulkan oleh kakak pembina untuk mendapatkan materi, bermain dan bernyanyi. Tidak jarang diadakan perlombaan antar pangkalan, seperti perlombaan wadegame, perkemahan kamis jum’at (perkajum), lomba cipta lagu pramuka, lomba pionering akbar (yang biasanya adalah membuat gapura dengan berbagai macam bentuk dan kreasi, dengan menggunakan tongkat pramuka tentunya) dan lain sebagainya. Semua kegiatan kepramukaan bagiku merupakan refressing yang sangat-sangat menyenangkan dan merupakan satu-satunya kegiatan di pesantren yang dilakukan di alam terbuka.

Dalam kegiatan penjelajahan atau wadegame misalnya, meskipun harus berjalan  berkilo-kilo meter mencari jejak dan tanda-tanda serta memecahkan teka-teki yang di pecahkan oleh kakak pembina, bagiku semuanya benar-benar menyenangkan. Perjalanan menyusuri sungai, sawah, dan bukit-bukit di desa Coper tempat pesantren kami berada, mengendurkan segala ketegangan dan melancarkan sendi dan otot-otot dalam pikiran kami. Udara yang sejuk, pemandangan yang serba hijau, diiringi dengan gemericik suara air, semuanya menyatu membentuk harmoni fatamorgana yang sangat indah, yang dapat memenuhi kehausan jiwa kami yang selama ini kering dengan berbagai rutinitas di pesantren.  Mengungkap pesan-pesan dari kakak pembina melalui morse dan bendera smaphore, menjadi tantangan yang mengasyikkan. Pos demi pos di lalui dengan riang, sambil terus bernyanyi dan berbaris rapi kami meneruskan langkah. Kecepatan, kerapian, kekompakan tiap regu memang selalu dinilai.

Ketika tiba di pos halang rintang, keceriaan kami semakin bertambah. Menyusuri sungai dengan berpegangan pada tali, dilanjutkan dengan merayap di bawah terowongan yang juga terbuat dari tali temali dan ban-ban bekas dengan tanah yang sengaja di buat becek seperti lumpur di sawah, membuat baju-baju kami tidak lagi tampak seperti baju pramuka. Kami juga harus menaiki tangga-tangga yang masih terbuat dari tali yang di kaitkan diantara dua pohon kelapa. Semuanya memang cukup melelahkan badan kami, tetapi tidak dengan jiwa kami. Pos halang rintang ini biasanya selalu diakhiri dengan pemberian bedak oleh kakak pembina. Bedak ini terbuat dari tepung beras yang di beri warna-warna dan di oleskan pada wajah kami dengan sabut kelapa mendinginkan wajah kami yang sepanjang hari hanya berlindung di bawah terik matahari. Perjalanan wadegame ini terus berlanjut hingga pos terakhir yakni kembali ke pesantren.

Adapun lomba-lomba dalam bidang kepramukaan seperti pionering, baca puisi, dan lain lain biasanya dilakukan pada hari Jum’at. Lomba pionering akbar seperti membuat gapura biasanya diikuti oleh sepuluh orang peserta dari tiap-tiap pangkalan. Waktu pembuatan biasanya dibatasi sampai satu jam hingga gapura yang terbuat dari sambungan tongkat-tongkat itu dapat berdiri dengan kokoh. Kekompakan dan kebersamaan anggota tiap-tiap sangat menentukan kemenangan. Sebagai seorang pratama, jauh-jauh hari aku bersama pengurus pangkalan yang lain sudah memikirkan bentuk gapura yang akan di buat dalam perlombaan.  Setelah itu bersama-sama dengan tim yang akan mengikuti perlombaan, kami berlatih kembali tentang tali temali agar dalam perlombaan nanti dapat menggunakan tali dengan benar.

Ketika hari perlombaan tiba, kami semua telah siap untuk memenangkan lomba pionering kali ini. Dengan aba-aba peluit panjang, semua peserta lomba segera membuka ikatan tongkat dan mengambil tongkat masing-masing. Semua peserta terlihat begitu terlatih dan sigap, sehingga tahu apa yang harus mereka lakukan. Semuanya karena kami sudah terbiasa membuat pionering setiap minggunya. Hanya saja pionering yang dibuat dalam perlombaan ini lebih besar dan membutuhkan banyak orang, apalagi dengan waktu yang sangat terbatas, sehingga kecekatan, kecepatan dan kekuatan pionering yang telah dibuat betul-betul harus dijaga. Tim pangkalanku sendiri telah mengerti apa yang harus mereka lakukan. Dari kesepuluh orang, masing-masing dua orang yang berpasangan menyambung dua tongkat lurus. Dua tongkat yang telah tersambung dan berjumlah lima tersebut, empat sambungan tongkat digunakan sebagai kaki gapura, dua untuk sebelah kanan dan dua untuk sebelah kiri, dan satu lagi digunakan sebagai atasanya. Setelah kelima sambungan dua tongkat yang berbentuk lurus tersebut telah selesai, masing-masing kami telah menempati posisi yang telah ditentukan. Tiga orang merangkai kaki gapura sebelah kanan berikut menghiasnya, tiga orang lagi merangkai kaki gapura sebelah kiri serta tiga orang lagi bertugas membuat bagian atas gapura. Sementara aku sendiri sebagai ketua tim selalu mengecek dan memperhatikan setiap langkah yang dilakukan oleh para anggota tim, mengontrol kekuatan tali yang dibuat serta memperhatikan setiap detail tali yang dibuat sebagai hiasan dan aksesoris gapura. Selama perlombaan berlangsung, panitia menyelenggarakan berbagai atraksi di panggung. Atraksi tersebut ditampilkan oleh para anggota dari tiap-tiap pangkalan. Mulai dari atraksi semaphore, morse, nyanyi-nyanyi yang semuanya memberikan semangat serta untuk mengendorkan ketegangan para peserta lomba yang dikejar-kejar oleh waktu dalam menyelesaikan gapura tongkat. Pada detik-detik akhir perlombaan, kami semua berusaha mendirikan gapura dengan menggunakan patok-patok pramuka. Tidak lupa sebelum gapura didirikan, berbagai atribut seperti bendera-bendera kecil dan bendera pangkalan dipasang. Akhirnya tim kami dari pangkalan 08 dapat menyelesaikan pionering gapura tepat waktu. Sebelum peluit panjang tanda pembuatan pionering selesai, kami semua sudah berkumpul, bernyanyi-nyayi dibawah gapura yang kami buat. Begitulah kemeriahan dari lomba pionering yang mungkin tidak akan pernah kami dapatkan jika kami bersekolah di luar pesantren ini. Semuanya menyenangkan dan serba menggembirakan. Kami tidak pernah berfikir menang ataupun kalah yang penting kami selalu senang. Apalagi jika di tengah-tengan perlombaan tiba-tiba kemudian hujan turun, membuat kami semakin senang dan kegirangan, justru akan semakin menambah semangat kami untuk menyelesaikannya tanpa memperdulikan baju-baju kami yang basah. Biasanya pionering gapura ini akan terus berdiri hingga hari pramuka minggu berikutnya tiba. Begitu juga pengumuman perlombaan akan diumumkan sebelum kegiatan pramuka tiap pangkalan bersamaan dengan pengumumam pionering mingguan.

Kegiatan pramuka di hari kamis sore selalu di akhiri dengan upacara penutupan. Dalam kegiatan kepramukaan, kami justru dianjurkan untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ini adalah kesempatan bagi kami untuk mengekspresikan diri dengan menggunakan bahasa Indonesia. Meskipun berteriak-teriak dengan bahasa Indonesia, kami tidak akan dicatat sebagai pelanggar bahasa. Hal ini juga yang membuatku semakin suka dengan kegiatan pramuka, bisa bebas berekspresi tanpa merasa diawasi dan dibatasi.

Kami juga di wajibkan memakai celana panjang. Celana panjang yang di desain khusus untuk pramuka dengan kancing di bagian bawah celana. Desain ini di maksudkan agar kami bisa bebas melakukan aktifitas kepramukaan, seperti duduk, jongkok, loncat dan sebagainya tanpa harus khawatir terlihat bagian kaki kami. Selain celana panjang, atribut kepramukaan lain yang wajib kami kenakan adalah lambang tunas kelapa,  pin yang bergambar bunga teratai yang merupakan lambang untuk anggota pramuka putri Indonesia, serta dasi merah putih ala pramuka yang diikatkan di leher kami, dan satu lagi kaos kaki dan sepatu berwarna hitam. Biasanya kakak pembina akan memeriksa kelengkapan atribut kami, dan jika ada satu atribut kami yang tidak lengkap jangan harap akan selamat dari hukuman. Tidak heran jika kedai pramuka sangat ramai pada hari rabu dan kamis, karena hidup bersama dengan begitu banyak santriwati, akan sangat mudah sekali kehilangan terutama hal-hal kecil seperti pin dan lambang pramuka.

Selesai kegiatan pramuka, aku beserta teman-teman di pangkalan membongkar pionering dan menaruh kembali tongkat-tongkat pramuka tersebut kedalam gudang. Kelelahan setelah selesai mengikuti kegiatan pramuka bukan akhir dari segalanya. Masih ada satu kegiatan lagi yang harus kami ikuti pada hari kamis, yaitu muhadloroh. Muhadloroh adalah latihan berpidato yang juga merupakan kegiatan ekstra kulikuler wajib bagi semua santriwati tanpa kecuali. Muhadloroh mengajarkan kami untuk berani berbicara di depan orang banyak, memupuk rasa percaya diri, serta belajar untuk bertanggung jawab atas segala yang kami ucapkan. Dalam muhadloroh, kami di bagi menjadi kelompok-kelompok yang disebut firqoh. Setiap firqoh berisi 20-30 orang santriwati antara kelas I sampai dengan kelas III. Beberapa orang dari kelas III dipilih oleh para anggota untuk menjadi pengurus firqoh.

Di pesantren ini, kegiatan muhadloroh dilakukan 3x dalam seminggu. Hari minggu siang untuk pidato berbahasa arab, selasa malam untuk berpidato dalam bahasa Inggris dan kamis malam untuk berpidato dalam bahasa Indonesia. Tidak ada seorangpun yang bisa menghindar dari seluruh kegiatan. Karena semua tempat akan di kontrol dan di periksa. Sehingga tidak ada tempat bagi kami untuk bersembunyi. Jika kami sakit dan tidak bisa mengikuti kegiatan, maka kami harus meminta surat izin kepada bagian keamanan pesantren. Tidak akan ada yang berani untuk berpura-pura sakit, karena bagian keamanan tidak akan mudah memberikan izin tanpa melihat langsung kondisi kami yang sakit. Ya…semua aturan di pesantren ini betul-betul berjalan dengan disiplin yang tinggi, sehingga hampir dipastikan tidak ada celah bagi orang yang malas untuk tidak melakukannya.

Pernah suatu ketika seorang teman sekamarku merasa tidak enak badan, dia menderita sakit maag. Akhirnya pengurus kamar yang memintakan surat izin untuk tidak mengukuti muhadloroh. Pada saat bagian keamanan pengurus muhadhoroh memeriksa semua kamar, dia sedang tertidur lelap. Dengan membangunkannya secara perlahan-lahan, bagian keamanan menanyakan apakah dia sakit? Bagian mana yang sakit?dst…akhirnya setelah lama ditanya dan diinterogasi, diapun mengakui bahwa sebenarnya dia mendapat tugas pidato dan merasa tidak siap sehingga harus berpura-pura sakit atau dalam istilah pesantren disebut “tatamarrodh”. Dengan “dikawal” oleh bagian keamanan, akhirnya mau tidak mau, dia harus memakai baju seragam dan pergi ke firqah untuk mengikuti muhadloroh. Persoalaan tatamarrodh ini memang sering melanda santriwati yang malas untuk melakukan aktifitas di pesantren. Karenanya bagian keamanan selalu meneliti setiap sudut kamar-kamar bahkan belakang lemari, kamar mandi, dan wc untuk memastikan bahwa semua santriwati mengikuti kegiatan yang telah diwajibkan. Beberapa kali terjadi seorang santriwati yang bersembunyi di WC atau kamar mandi hanya karena takut mendapat iqob[1] jika dia tidak hafal dan lancar berpidato.

Selain sebagai pratama, kebetulan aku juga menjadi salah satu pengurus firqoh muhadloroh. Sebagai pengurus firqoh muhadloroh, aku membagi tugas secara bergilir kepada seluruh anggota firqoh baik untuk berpidato, membawakan acara, memimpin lagu, maupun mengisi acara resting/istirahat. Aku sendiri harus bersiap-siap untuk berpidato menggantikan anggota jika tiba-tiba ada yang berhalangan atau sakit. Setiap firqoh akan ada 6 orang yang berpidato, 1 orang pembawa acara, pembaca al-Qur’an, dan pemimpin lagu hymne pesantren. Bagi yang mendapat giliran pidato, mereka harus membuat konsep pidato yang akan dibawakan. Konsep ini ditulis dalam buku minimal dua halaman dan dikumpulkan dua hari sebelumnya atau pada saat muhadloroh sebelumnya. Judul-judul pidatopun harus dibuat sendiri tanpa boleh mencontek pidato teman yang lain. Konsep pidato ini diserahkan kepada pengurus muhadloroh yang datang ke firqoh untuk dibaca dan dibenarkan susunan bahasanya terutama konsep pidato dalam bahasa arab dan inggris. Tidak ada yang merasa tidak siap untuk berpidato atau tidak ada kata tidak bisa. Karena jika sampai kita tidak bisa berpidato selama 10 menit, maka pengurus muhadloroh akan siap memanggil dan memberikan iqob dan peringatan. Iqob yang diberikan biasanya adalah berupa mengulang pidato pada hari muhadloroh berikutnya atau berpidato di firqoh lain. Jika sampai terkena iqob untuk berpidato di firqoh lain, maka hal itu akan menjadi hal yang sangat memalukan. Lagi-lagi semua kegiatan harus berjalan dengan baik, tanpa kecuali.

Awal masuk pesantren ini, aku selalu merasa takut jika mendapat tugas berpidato, apalagi berpidato dalam bahasa Inggris. Bagi santriwati baru biasanya hanya diberi tugas berpidato dalam bahasa Indonesia dan baru dalam waktu setengah tahun kemudian mereka akan mendapat tugas berpidato dalam bahasa arab dan inggris. Pengalaman pertamaku berpidato bahasa Inggris memang cukup mengesankan. Jujur bahasa Inggris cukup sulit bagiku, apalagi jika harus membuat konsep pidato sendiri. Untuk membaca dalam bahasa Inggris saja aku merasa sangat kesulitan, apalagi harus berpidato. Untuk mempermudah menghafalkan pidato dalam bahasa Inggris aku menulis pembukaan dan isi pidato sesuai bacaannya. Misalnya kata-kata “before beginning my speak”, maka aku akan menulis “befor begining mai spek”, dengan begitu aku akan bisa berbicara dengan benar dalam bahasa Inggris. Karena aku masih kesulitan membaca kata-kata bahasa Inggris.  Pengalaman pertama berpidato bahasa Inggris juga membuatku dipanggil oleh pengurus muhadloroh untuk mendapatkan bimbingan dan peringatan, sehingga minggu depan aku mendapat tugas untuk berpidato kembali. Ya..aku memang tidak hafal dengan isi pidato yang akan aku pidatokan di depan teman-teman. Menghafal pembukaan saja memerlukan waktu berhari-hari, apalagi isi pidato yang isinyapun sebenarnya aku juga kurang faham.

Dengan suata lantang aku mengucapkan salam bahkan hingga tiga kali, sehingga terkesan mantab seperti para da’i yang sesungguhnya. Memasuki pembukaan pidato aku masih bersuara keras dan lancar karena aku telah hafal, setelah pembukaan pidato akupun menyebutkan judul dengan suata keras “Praying” (judul pidatoku yang berarti sholat), dan selanjutnya aku mulai terbata-bata tidak tahu apa yang harus aku katakan, sehingga bisa ditebak setelah muhadloroh aku segera menemui pengurus muhadloroh. Pengalaman tersebut membuatku malu dan berjanji dalam hati untuk lebih rajin belajar bahasa Inggris, sehingga kejadian memalukan itu tidak terjadi lagi.

Seperti biasanya, aku bergegas menuju firqoh tempat muhadloroh sesaat setelah selesai kegiatan pramuka di sore hari. Meskipun acara muhadloroh baru akan dilakukan setelah sholat Isya’ tapi kami harus membersihkan dan mendekorasi ruangan muhadloroh dengan berbagai hiasan kertas yang berwarna-warni, balon-balon serta menghias papan tulis dengan kapur warna. Dekorasi ini membuat semarak acara muhadloroh. Aroma persaingan antar firqohpun sangat terasa. Sesama teman kelas, bisa jadi berbeda dalam pangkalan dan firqoh. Kami pun saling bersaing untuk mendapatkan firqoh terbaik. Semangat, kekompakan, dan kepandaian anggota firqoh menjadi acuan dalam penilaian untuk menjadi firqoh terbaik. Untuk itu, tidak lupa akupun ikut mempersiapkan anggota firqohku dalam berpidato, jangan sampai mereka di panggil pengurus muhadloroh hanya karena ketidaksiapannya dalam berpidato. Karena hal ini juga akan berimbas pada penilaian firqoh.

Setiap enam bulan sekali, pengurus Muhadhoroh mengadakan muhadloroh bersama. Biasanya muhadloroh diadakan di depan masjid atau di depan masyroh. Yang akan berpidato dalam muhadloroh ini adalah santriwati pilihan dari tiap-tiap firqoh. Muhadloroh bersama ini diadakan untuk memberikan model pidato yang baik untuk para santriwati. Dalam muhadloroh ini, biasanya juga akan di umumkan mana firqoh terbaik, pengurus firqoh teladan, yang semuanya itu akan memacu semangat kami untuk selalu menjadi yang terbaik.

Ya begitulah rutinitas kami setiap hari kamis. Hari yang paling melelahkan diantara hari-hari kami yang lain. Tidak jarang banyak santriwati yang membenci adanya hari kamis. Kamis yang padat dengan kegiatan. Tapi semuanya itu akan terasa ringan, jika kami mengingat bahwa esok hari adalah hari Jum’at. Hari libur bagi kami para santriwati. Tapi bagi aku pribadi, bagaimanapun banyaknya kegiatan yang harus dilakukan pada hari kamis, tetap saja hari kamis adalah adalah hari yang menyenangkan karena hari kamis adalah satu-satunya hari dimana kami bisa belajar, bernyanyi dan berekspresi dengan bebas di alam terbuka.


[1] Iqob artinya hukuman

Entry Filed under: diary pesantren

One Comment Add your own

  • 1. reyvi  |  Agustus 7, 2012 pukul 1:18 pm

    pangkalan 08 skrg kk koor n.a deyra ya??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: