Begadang…

Desember 24, 2010 zunlynadia

Malam ini adalah malam jum’at, setelah melewati kegiatan yang melelahkan sepanjang hari kamis, aku tidak bisa langsung merebahkan tubuhku untuk beristirahat. Aku hanya mengganti pakaian, duduk sebentar kemudian aku pergi keluar kamar untuk bergabung dengan teman-teman yang lain. Kami berkumpul di masyroh (panggung) tempat biasa diadakan pertunjukan, tetapi perkumpulan kali ini bukan untuk pentas tetapi untuk menyelesaikan mading (majalah dinding) yang harus terbit besok pagi.

Setiap hari Jum’at akan ada majalah dinding baru yang terbit. Majalah dinding yang terbit merupakan kumpulan kreatifitas para santriwati dalam bentuk tulisan, mulai dari artikel, cerpen, cerita bergambar, lukisan, atau apapun yang ditampung oleh para pengurus rayon. Pengurus rayon adalah pengurus di setiap gedung yang ada di pesantren. Ada empat gedung di pesantren yang menjadi tempat tinggal atau kamar santriwati, yakni gedung Ar-Rohmah, gedung Aisyah yang sama-sama berlantai tiga dan berhadap-hadapan, kemudian gedung as-Sakinah yang berada diantara kedua gedung sehingga membentuk letter U. Satu lagi adalah gedung Kartini, yang berada di sisi gedung Aisyah. Setiap gedung atau disebut dengan rayon harus mengeluarkan majalah dinding secara bergantian setiap minggunya. Untuk itu para pengurus ini menunjuk beberapa orang untuk menjadi pengurus majalah dinding yang bertugas untuk menampung kreatifitas santriwati pada rayon masing-masing dan kemudian menjadikannya majalah dinding. Para pengurus majalah dinding ini diambil dari santriwati kelas empat atau kelas satu aliyah.

Selain majalah dinding yang terbit dari setiap rayon, ada juga majalah dinding yang terbit di bawah pengurus pusat OSWAH bagian penerangan. Aku sendiri menjadi salah satu pengurus dari majalah dinding dibawah bagian penerangan OSWAH. Sehingga ada lima majalah dinding di pesantren yang terbit secara bergantian dalam setiap minggunya, yakni setiap hari Jum’at.

Sudah menjadi kebiasaan, jika majalah dinding akan terbit, kami semua pasti akan begadang untuk membuatnya. Hal ini karena kami sudah tidak mempunyai waktu lagi, semua sudah full dengan aktifitas yang padat. Hari-hari yang lain kami gunakan untuk mencari bahan-bahan yang akan ditampilkan di dalam mading. Selebihnya seluruh pengerjaannya dikerjakan selama semalam. Sehingga tidak heran jika selama semalaman kami tidak tidur hingga pagi hanya untuk mengerjakan mading.

Semua bahan-bahan mading di tulis tangan dengan rapi. Ini sebenarnya yang membuat pengerjaan mading menjadi lama. Karena semua bahan-bahan ditulis dengan tangan di atas kertas HVS yang berwarna-warni. Setelah selesai menulis semua bahan-bahan, kemudian bahan-bahan tersebut di tempel pada karton yang tebal yang telah dilapisi kertas berwarna-warni. Setelah semua ditempelkan baru kemudian kami menghiasnya agar menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Hiasan yang ditampilkan biasanya kami ambil dari bahan-bahan yang ada dilingkungan sekitar, seperti tutup-tutup botol bekas, daun-daun kering, bungkus-bungkus permen dan snack-snack, serbuk-serbuk kayu, sendok kayu bekas es krim dan lain sebagainya. Kami memang dituntut untuk kreatif tanpa harus mengeluarkan banyak budget. Dengan hiasan yang kreatif dan menarik, diharapkan dapat menarik perhatian para santriwati yang pada akhirnya dapat menumbuhkan minat baca mereka.

Ada beberapa rubrik yang ditulis dalam majalah dinding. Mulai dari pengantar, profil (biasanya diisi profil ustadzah atau santriwati yang berprestasi), artikel, tips-tips, cerpen dan cerbung, wawancara, iptek, karikatur, lukisan, dan tidak lupa profil kami para pengurus mading berikut foto-fotonya. Seminggu sebelum terbitnya mading, biasanya kami berkumpul untuk menentukan tema yang akan diangkat. Mulai tema tentang pendidikan, remaja, atau tema tentang emansipasi wanita, setelah menetukan tema baru kemudian kami mencari bahan-bahan yang akan ditampilkan dan ditulis dalam mading. Biasanya kami memberikan pengumuman kepada para santriwati siapa saja yang ingin mengirimkan tulisannya dalam mading. Tetapi tidak jarang kami tidak menerima sama sekali karya para santriwati sehingga para pengurus mading sendiri yang akhirnya harus mengisi madingnya. Banyak hal yang bisa aku pelajari dari majalah dinding. Aku jadi harus rajin membaca dan belajar menulis, merangkai kata demi kata agar dapat dibaca dengan baik oleh para pembaca.

Ada satu lagi rutinitas yang biasa kami lakukan di tengah proses pembuatan mading yang membutuhkan waktu semalam suntuk, yakni melakukan operasi. Operasi yang dimaksud disini adalah operasi dalam menyerbu dapur untuk mendapatkan nasi dan sisa lauk pauk. Biasanya di tengah malam kami selalu merasa kelaparan, apalagi harus bekerja keras membuat mading. Di tengah rasa lapar tersebut, kami mempunyai inisiatif untuk mencari sisa nasi dan lauk pauk di dapur. Ada dua dapur yang biasa menjadi sasaran operasi, jika kami tidak menemukan makanan pada dapur yang satu maka kami akan mencarinya di dapur satu lagi. Daripada nasi di dapur harus terbuang keesokan harinya dan menjadi mubadzir, maka akan lebih baik kalau nasi tersebut kami makan. Apalagi malam Jum’at biasanya kami mendapatkan lauk yang paling enak diantara hari-hari yang lain, yakni daging, karenanya jika kami mendapatkan sisa daging, kami memang cukup beruntung tetapi kalaupun kami tidak mendapatkan apa-apa, krupukpun tidak masalah, yang penting dapat mengisi perut kami yang sudah keroncongan. Pernah pada suatu malam kami tidak menemukan apa-apa, bahkan nasipun tidak kami dapatkan di dapur, semuanya telah habis. Jika sudah begitu, maka yang dilakukan adalah membuat me instant. Membuat me instant tidak mungkin dimasak atau direndam dengan air panas, karena di pesantren kami memang tidak diperbolehkan untuk memasak sehingga tidak ada fasilitas untuk itu. Air panas pada tengah malam tidak mungkin kami dapatkan, akhirnya me instan tersebut direndam dengan air dingin, syukur jika masih punya persediaan air yang matang, jika tidak ada air krampun jadi dan tetap terasa nikmat.

Setelah mengisi perut yang keroncongan, kamipun meneruskan pekerjaan menyelesaikan mading. Tim mading al-Fath (nama mading kami) berjumlah delapan orang, sebagian kami adalah teman-teman satu kelas di kelas empat A. Dengan membagi tugas akhirnya madingpun selesai tepat pada jam 4 pagi saat jaros untuk sholat shubuh berbunyi. Setelah selesai, segera kami memasang mading di papan yang telah disediakan, kebetulan papan tersebut terletak di samping pendopo di dekat papan koran. Pendopo tersebut terletak di tengah-tengah pesantren menghadap ke pintu gerbang utama pesantren dan menjadi tempat berlalu lalang para santriwati, dari yang mau ke masjid, ke perpustakaan, ke arah koperasi, ke kantin, ke ruang tamu, semuanya harus melewati pendopo. Sehingga sangat memungkinkan majalah dinding di pasang disitu akan dibaca oleh siapapun yang melewatinya.

Selesai memasang mading ditempatnya, akupun langsung menuju ke midhoah untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat shubuh. Setelah sholat, akupun langsung menggelar kasur dan tidur, menggantikan waktu tidur malam yang tidak dapat sempat dinikmati.

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: