Awas Jasus ..

Desember 24, 2010 zunlynadia

Sholat magrib dan dzikir sudah selesai kami lakukan, kini saatnya menunggu beberapa pengumuman yang akan dibacakan pengurus bagian penerangan. Tidak ada yang berdiri untuk pulang sebelum bagian penerangan selesai membacakan pengumuman. Salah satu pengumuman yang akan dibacakan adalah pengumumam pelanggaran bahasa. Di pesantren ini ada aturan untuk menggunakan bahasa arab dan bahasa inggris untuk berkomunikasi, meskipun bahasa arab dan inggris kami sebenarnya juga berantakan karena masih banyak menggunakan logika bahasa Indonesia, tetapi aturan ini paling tidak memberikan bekal kami dalam berbahasa asing. Penggunaan bahasa Indonesia jelas-jelas di haramkan, apalagi menggunakan bahasa daerah, hukumannya bisa dua kali lipat. Tetapi meskipun aturan ketat ini diterapkan selama 6 tahun aku belajar disini, ternyata bahasa arab dan inggrisku termasuk dalam katagori lumayan untuk tidak mengatakan buruk. Mungkin memang otakku yang memang pas-pasan untuk soal bahasa.

Jasus artinya mata-mata. Pelanggar bahasa adalah orang yang ketahuan menggunakan bahasa Indonesia dan daerah oleh mata-mata bahasa. Mata-mata ini laksana intel yang di beri tugas oleh pengurus bagian bahasa untuk mencatat dan melaporkan kepada mereka. Para intel ini bisa berasal dari teman kelas, teman di kamar bahkan teman dekat kita sendiri.

Para pelanggar bahasa akan diumumkan namanya di masjid sesaat sebelum kami meninggalkan masjid. Terdengar luapan kegembiraan dengan teriakan “al-Hamdulillah” bagi kami yang tidak menjadi pelanggar bahasa hari itu, seolah lepas dari bencana.

Ya…menjadi pelanggar bahasa adalah bencana terberat kami. Seperti hari ini, sama seperti dua hari sebelumnya aku juga termasuk pelanggar bahasa. Dengan langkah lesu aku mendatangi halaman monas (tugu kecil yang ada di depan masjid tempat orang lalu lalang) untuk menjalani hukuman. Setelah absen kami di beri beberapa mutarodifat (kosakata dalam bahasa arab) kemudian baru kami mengantri untuk di pukul. Sebagaimana hukuman yang lain, pukulan yang kami terima sebanyak 5 kali. Namun yang membedakan pukulan pelanggar bahasa dengan pukulan yang lain adalah 20 x lebih keras, sehingga tak ayal lagi membuat tangan kami melepuh. Padahal bekas pukulan kemaren masih terlihat membekas di tanganku. Dan bekas itupun akan semakin terlihat dan bahkan membengkak. Aku sudah menyiapkan balsem dan mengoleskannya di tanganku sebelum dipukul. Konon memberikan balsem akan mengurangi rasa sakit akibat dipukul, meskipun sebenarnya yang aku rasakan juga sama saja..

Hukuman tidak berhenti sampai disini, kami di suruh berkumpul esok sore untuk kerja bakti membersihkan masjid, mulai menyapu, mengepel, membersihkan kaca-kaca masjid. Selain itu kami juga di suruh untuk mengumpulkan insya’ yaitu karangan dalam bahasa arab. Jadi lengkap sudah penderitaan, padahal tugas kami sebagai santriwati dan pelajar sudah cukup menyita perhatian dan otak dengan berbagai hafalan, seperti muthola’ah, mahfudzot dan lain sebagainya.

Sebagai pelanggar bahasa, otomatis akupun menjadi mata-mata bagi pelanggar bahasa yang akan diumumkan keesokan harinya, sehingga setiap pelanggar bahasa juga mempunyai kewajiban untuk menyerahkan satu nama santriwati yang melanggar bahasa pada hari itu. Untuk menyerahkan nama pelanggar bahasa kepada bagian bahasa, kami diberi kertas blangko untuk diisi. Blangko tersebut berisi nama, kelas, kamar, isi pembicaaan, lawan bicara dan pada jam berapa dan dimana dia berbicara. Blangko tersebut harus diisi dengan sebenar-benarnya sehingga jika salah satu pelanggar bahasa komplain karena merasa tidak melanggar bahasa pada saat itu, maka bagian bahasa akan memperlihatkan data yang masuk dan mengkonfrontir dengan pencatatnya.

Pengisian data lengkap santriwati yang terkena pelanggaran bahasa ini penting karena sering terjadi jasus dijadikan ajang saling dendam. Misalnya ada santriwati yang bermasalah dengan temannya, maka dia tidak segan-segan mencatat nama temannya sebagai pelanggar bahasa dengan data yang dibuat-buat. Begitu seterusnya, sehingga pengurus bagian bahasa mengambil langkah untuk mengkonfrontir pelanggar bahasa jika dia komplain dan merasa tidak memakai bahasa selain bahasa yang diwajibkan.

Aku melangkahkan kaki dengan lesu, apalagi jika melihat muka para pengurus bagian bahasa yang sangar tanpa senyum itu dengan agak takut. Yah..mereka memang tidak pernah terlihat tersenyum, selalu dingin dan seram. Mungkin hal itu dilakukan untuk menjaga wibawa mereka dihadapan para santriwati. Karenanya bagian bahasa adalah bagian yang paling di takuti dan di jauhi oleh semua santriwati di sini. Mereka bagaikan musuh yang selalu mengintai di dalam segala aktifitas kami sehari-hari. Tak jarang ketika kami ketahuan menggunakan bahasa indonesia di depan mereka. Langsung di berikan hadiah pukulan di tempat tanpa harus menunggu pengumuman di sore hari. Kemanapun mereka pergi tidak lupa membawa gagang peluit untuk memukul siapa saja yang terdengar menggunakan bahasa daerah. Telinga mereka sangat tajam seperti seekor ular yang siap memangsa. Mereka juga tidak pandang bulu ketika harus memukul meskipun dengan teman dekat atau teman sekelas mereka sendiri. Karenanya bisa dilihat, bagian bahasa biasanya tidak akan mempunyai teman yang banyak, mereka seakan terisolir dan hanya bergaul dengan sesama bagian bahasa.

Pengurus bagian bahasa ini terdiri dari sekitar 6-7 orang. Beberapa diantara pengurus bahasa ini sebenarnya adalah kakak kelas yang sangat akrab denganku. Tetapi semenjak dilantik menjadi pengurus bahasa, seolah ada jarak antara kami. Akupun jadi enggan untuk dekat dengan mereka, takut kena pelanggaran bahasa jika aku keceplosan. Apalagi salah satu dari kakak kelas yang sangat dekat denganku ini adalah pengurus bagian bahasa yang amat ditakuti, sebut saja namanya kak Mia. Biasanya jika kak Mia sedang bertugas memberikan iqob, semua orang akan merasa ketakutan, takut karena pukulan yang diberikan oleh kakak satu ini terkenal paling keras diantara yang lain. Sebaliknya jika yang bertugas selain kak Mia, maka para pelanggar bahasa akan merasa sedikit lega karena meski tetap mendapat pukulan keras tetapi tidak seperti pukulan kak Mia.

Saat itu kak Mia memang menjadi ikon pengurus bahasa yg paling menakutkan. Melihat dia dari kejauhan saja rasanya sudah malas. Padahal sebelumnya dia adalah kakak kelas yang baik dan perhatian. Pernah suatu ketika kak Mia sakit di bagian tangannya. Para santriwati yang mengetahui bahwa kak Mia sedang sakit, termasuk aku justru semakin senang karena kalaupun menjadi pelanggar bahasa tidak akan bertemu dengan dia. Maaf ya kak..bukannya kami mendo’akan kakak untuk selalu sakit, tetapi saat itu memang kak Mia adalah sosok tergalak yang selalu menghantui para santriwati. Bayangkan saja aku pernah merasakan pukulannya selama berhari-hari, meski sebenarnya aku sudah merasa semaksimal mungkin menggunakan bahasa asing yang diwajibkan. Hanya saja memang aku malas untuk komplain menanyakan pelanggaran yang aku buat selama berhari-hari itu, karena bagiku akan membuat capek dan menambah masalah. Akhirnya semuanya dihadapi dengan biasa saja dan tanpa beban, bahkan jika namaku disebut sebagai pelanggar bahasa, aku seringkali menganggap kakak-kakak bagian bahasa sedang kangen dengan kedatanganku.

Meski aku adalah seorang santriwati yang sangat aktif dengan berbagai kegiatan sehingga berbagai kepengurusan pernah aku pegang, tetapi aku juga dikenal sebagai top score dalam pelanggaran bahasa. Pernah suatu ketika ada peraturan baru yang diberikan oleh pengurus bagian bahasa bagi para rekor pelanggar bahasa yang paling sering, yakni memakai jilbab yang berwarna sangat-sangat ngejreng (yakni berwarna merah dan orange yang diberi tulisan di bagian belakangnya seperti stempel besar yang bertuliskan “saya pelanggar bahasa”). Jilbab “gaul” ini harus dipakai selama tiga hari berturut-turut dalam berbagai aktifitas termasuk aktifitas formal belajar di dalam kelas. Aku bersama kelima orang rekor pelanggar bahasa lainnya menjadi korban pertama yang menjalankan aturan baru tersebut. Saat itu aku merasa kesal, marah, jengkel dan malu. Akupun sempat menangis di kamar setelah menerima “hadiah” jilbab tersebut. Tapi apa boleh buat, aku harus menjalankannya.

Memakai jilbab berwarna merah menyala memang membuat  pandangan mata semua orang mengarah padaku. Bayangkan ketika semua santriwati memakai jilbab putih ketika berangkat sekolah, aku harus memakai jilbab merah menyala. Dari kejauhanpun semua akan tahu kalau itu sang rekor pelanggar bahasa. Selama tiga hari aku lebih banyak berada di kamar, jika tidak ada aktifitas. Tidak lagi duduk-duduk di depan kamar ketika ada waktu luang, tidak pergi ke kafetaria ataupun ke koperasi, tidak bisa bebas berjalan-jalan kesana kemari, semua karena jilbab “gaul” yang harus aku kenakan. Sempat sedikit stress juga dengan kondisi seperti ini dan saat itu juga aku merasa sangat benci dengan kakak-kakak yang ada di bagian bahasa. Mereka benar-benar kejam karena telah mempermalukanku dan merenggut kebebasanku.

Akhirnya waktu tiga hari yang menyiksa itu terlewati juga, akupun sudah bisa beraktifitas normal seperti biasanya. Hari-hari selanjutnya, semakin banyak santriwati yang mendapat “hadiah jilbab gaul” sepertiku. Semakin lama hukuman seperti ini ternyata tidak lagi efektif, karena para santriwati sudah tidak merasa malu lagi bahkan cenderung semakin PD dengan jilbab yang berwarna menyala tersebut. Saat aku mengenakannya dengan sejuta rasa malu karena memang aku adalah orang yang pertama yang harus merasakannya. Kenyataan ini memang membuat para pengurus bagian bahasa harus memutar otak untuk membuat kembali aturan-aturan baru.

Yah..begitulah di pesantren ini, bahasa selalu menjadi momok yang paling menakutkan. Banyak para santriwati yang tidak tahan berada di pesantren hanya karena hukuman yang diberikan terkait dengan pelanggaran bahasa. Meskipun demikian, ternyata aku tetap bisa bertahan di pesantren ini hingga akhir. Yah.. lagi-lagi harus di sadari bahwa semuanya adalah pembelajaran dan pendidikan memang harus ditempa oleh kami untuk menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, kuat dan bisa membagi waktu dengan berbagai aktifitas antara belajar, berorganisasi dan aktifitas pribadi.

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: