Ana Haritsah

Desember 24, 2010 zunlynadia

Hari ini aku boleh sedikit bermalas-malasan. Aku tidak perlu mandi sebelum bunyi jaros jam 4 pagi berbunyi. Aku juga tidak harus pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat. Hari ini aku bertugas sebagai haritsah. Haritsah artinya adalah penjaga. Menjadi haritsah berarti dibebastugaskan dari semua kegiatan sebagai santriwati termasuk masuk sekolah, sholat berjamaah, serta kegiatan ekstra lainnya seperti pramuka, muhadloroh dan lain sebagainya. Kebetulan hari ini adalah hari selasa. Ada kegiatan ekstra yakni muhadloroh pada malam harinya sehingga membuatku semakin senang untuk tidak mengikutinya.

Haritsah terdiri dari dua hingga tiga orang setiap rayon. Istilah rayon merujuk pada setiap gedung tempat kamar para santriwati, dimana disana juga ada pengurus rayon yang bertanggungjawab atas kebersihan serta mengontrol aktifitas para santriwati dalam satu gedung yang biasanya terdiri dari 10 kamar. Pengurus rayon yang memilih dan menentukan kami untuk menjadi haritsah. Jadwal para haritsah ditempel di papan pengumuman yang ada di setiap rayon. Meski dibebaskan dari semua kegiatan, tetapi sebagai haritsah aku mengemban tugas-tugas khusus. Diantaranya adalah menyapu dan mengepel teras kamar yang ada dalam satu gedung dimana aku tinggal, menyusun sandal-sandal, membersihkan dan menyiram bunga di taman yang ada di depan setiap kamar, membersihkan tempat ember, jemuran dan kamar mandi. Hal ini terus berlangsung hingga malam hari. Teras-teras di depan kamar selalu menjadi tempat untuk makan para santriwati, karena kami memang tidak diperbolehkan makan di dalam kamar. Sehingga setelah makan pagi, siang maupun malam sudah dipastikan teras kamar-kamar akan menjadi kotor. Untuk itulah para haritsah bertugas untuk menyapu dan mengepel semua teras kamar terutama setelah aktifitas makan.

Meskipun mendapatkan tugas yang demikian, tetapi hal ini tidak seberapa dibandingkan dengan harus beraktifitas sehari-hari. Haritsah bagi kami menjadi hari libur yang lebih enak daripada hari jum’at. Karena pada hari jum’at meski kami semua libur dari kegiatan tetapi kami tetap harus tetap antri untuk mandi dan mencuci, sementara sebagai haritsah, aku tidak perlu untuk mengantri mandi, mencuci serta beraktifitas pribadi yang lain karena di saat semua satriwati sekolah dan beraktifitas, aku bisa melakukannya dengan bebas asalkan tugas utamaku sebagai haritsah sudah dijalani.

Sebaliknya bagi yang menjadi haritsah pada hari jum’at akan menjadi hari yang tidak menyenangkan. Karena pada hari itu semua santriwati libur sehingga tetap saja melakukan aktifitas pribadi seperti mencuci dan lain sebagainya dengan mengantri, sehingga tidak akan berbeda dengan hari-hari jum’at yang lain bahkan di saat teman-teman pada tidur siang, sang haritsah harus tetap menjalankan tugasnya untuk bersih-bersih.

Pesantren ini memang cukup bersih dan rapi. Ada tempat bunga di depan setiap kamar,yang dibawahnya dibuat tempat sepatu dan sandal, sehingga dari depan terlihat rapi dan tidak berserakan. Sementara jemuran para santriwati ada di lantai tiga pada setiap gedung, kamar mandi berjajar di belakang kamar santriwati sekaligus terdapat tempat untuk membuang pembalut di setiap pojok gedung, desain yang demikian membuat pesantren ini selalu terlihat bersih dan rapi.

Kebersihan pesantren juga di dukung dengan adanya jasa sang haritsah pada setiap rayon. Selain itu juga karena pengawasan dari pihak yayasan pesantren yang selalu mengotrol kebersihan pesantren. Salah satu anggota yayasan pesantren yang paling ditakuti adalah pak Farid. Setiap hari pak Farid selalu berkeliling di area pesantren, melihat-lihat di depan kamar hingga pojok-pojok kamar mandi. Kehadiran pak Farid selalu menjadi “bencana” bagi sebagian santriwati. Tidak hanya karena sosoknya yang terlihat garang tak bersahabat tetapi juga karena pak Farid tidak segan-segan membuang ember dan memecahkannya jika tidak diletakkan pada tempatnya. Apalagi jika ember tersebut ada di depan kamar, tanpa banyak bicara pak Farid akan membantingnya. Pantang bagi kami untuk meletakkan ember atau barang-barang lainnya di depan kamar, sehingga depan kamar santriwati selalu terlihat bersih. Kehadiran sosok seperti pak Farid diakui memang membuat pesantren ini menjadi bersih dan rapi meskipun cara yang dilakukannya seringkali dianggap melampaui batas dan membuat para santriwati kurang menyukainya.

Menjadi haritsah terkadang akan dicari banyak orang sejak pagi hari. Karena haritsah dibebastugaskan dari berbagai aktifitas, maka para haritsah tidak butuh menggunakan seragam, pin atau atribut lain yang biasa digunakan dalam kegiatan. Banyak para santriwati yang mencari haritsah hanya untuk meminjam baju seragam, pin, atau perlengkapan-perlengkapan yang lain. Apalagi yang menjadi haritsah pada hari kamis, hari dimana semua santriwati harus mengikuti pramuka dan muhadloroh yang pastinya membutuhkan banyak atribut untuk dipakai. Ya..sebagai seorang santriwati, kehilangan baju seragam, kaos kaki, sandal apalagi pin dan papan nama yang kecil adalah hal biasa. Sehingga untuk menghindari hukuman karena tidak mempunyai atribut yang lengkap salah satunya adalah dengan meminjam kepada para haritsah untuk satu hari. Meski baju seragam, jilbab dan lain-lain telah diberi nama besar-besar dengan spidol, tetap saja barang-barang tersebut rawan hilang, karena memang hidup bersama-sama dengan banyak orang menjadi mudah untuk kehilangan barang-barang. Meskipun barang-barang tersebut tidak harus dicuri orang tetapi bisa jadi jatuh saat dijemur dan kemudian dibersihkan dan disingkirkan, sehingga menjadi hilang.

Pagi ini setelah sarapan, akupun segera memulai tugasku sebagai haritsah dengan menyapu dan mengepel lantai bersama satu orang teman lainnya. Tanpa adanya haritsah pasti pesantren ini akan kotor karena semua santriwati selalu terburu-buru dalam beraktifitas, setelah makan langsung segera berangkat ke kelas masing-masing sebelum jaros berbunyi. Setelah selesai mengepel akupun menata sandal-sandal yang telah berserakan di depan kamar-kamar, kemudian dilanjutkan dengan menyapu halaman dan menyiram bunga-bunga yang ada di depan setiap kamar. Selesai membersihkan teras dan halaman, akupun mulai membersihkan kamar mandi serta selokan-selokan yang ada disekitar gedung, banyak kotoran-kotoran mulai dari plastik bekas jajanan hingga bekas pembalut yang menghambat jalannya air di selokan sehingga seringkali membuat air meluap. Setelah semua telah selesai, baru aku menikmati aktifitas pribadiku dengan tenang dan tanpa terburu-buru, mencuci baju, sepatu, membersihkan lemari dan mandi.

Sesudah semuanya selesai, akupun pergi ke kamar untuk tidur. Aku beristirahat hingga tanpa terasa para santriwati telah pulang dari sekolah. Setelah makan siang, disaat teman-teman akan kembali masuk kelas, aku memulai kembali aktifitasku sebagai haritsah dengan menyapu dan mengepel seluruh teras. Statusku sebagai haritsiahpun berakhir pada malam hari setelah aku kembali membersihkan teras dan halaman setelah selesai makan malam. Begitulah haritsah yang bagiku adalah kesempatan untuk libur karena tidak mengikuti seluruh kegiatan sebagai sebagai seorang santriwati dan beralih profesi sebagai penjaga dan cleaning servis gedung. Sebuah kesempatan yang sangat jarang terjadi, karena belum tentu dalam setahun mendapatkan kesempatan seperti itu.

Entry Filed under: diary pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: