Amaliyah

Desember 24, 2010 zunlynadia

Hari ini adalah hari pertama dimulainya amaliyah. Pagi-pagi aku telah bersiap-siap bersama teman-teman kelompok. Dengan memakai seragam khusus kelas enam kami semua sudah mulai berkumpul di depan masjid. Setiap anak kelas enam pasti punya baju seragam tersendiri, yang semuanya kami sendiri yang menentukan warna dan desainnya. Kebetulan baju angkatanku berwarna ungu dengan corak kotak-kotak. Sebetulnya sih aku tidak terlalu suka dengan warna baju itu, tetapi mayoritas teman-teman ternyata lebih memilih warna ungu daripada warna lainnya. Baju tersebut adalah baju kebesaran kami, setiap kegiatan resmi selama kelas enam kami selalu memakai baju tersebut, mulai dari amaliyah, rihlah ilmiyah hingga berakhir pada saat khutbatul wada’ kami selalu memakai baju itu. Bisa dibayangkan jika sebanyak kurang lebih dua ratus orang memakai baju setelan atas bawah dengan corak kotak-kotak dan berwarna ungu membuat isi pesantren seolah-seolah menjadi berwarna ungu. Warna yang seringkali disebut sebagai warna janda.

Rasa deg-degan mengalir di seluruh tubuhku, bahkan sejak semalam. Hari ini adalah giliranku untuk praktek mengajar. Kebetulan aku mendapat tugas untuk mengajar bahasa Inggris kelas tiga pintas atau setara dengan kelas satu aliyah. Selama berhari-hari aku latihan mengajar. Meski pada saat kelas lima aku pernah disuruh untuk mengajar adik-adik kelas tsanawiyah tetapi tentu suasananya akan sangat berbeda dalam amaliyah, karena gerak-gerikku sebagai pengajar dinilai oleh ustadzah.

Dua hari sebelumnya aku sudah menghubungi kelas yang akan menjadi tempat praktek mengajarku. Aku minta adik-adik kelas untuk membersihkan kelas dan memperhatikanku dengan baik ketika aku sedang menjelaskan pelajaran kepada mereka, jangan sampai mereka ngantuk sehingga tidak bisa mengerti dengan apa yang akan aku sampaikan. Salah satu ciri kesuksesan seorang guru adalah ketika murid-muridnya merasa antusias dengan materi pelajaran karena cara penyampaian yang baik serta bisa memahami apa yang telah disampaikan oleh guru. Karenanya aku berharap adik-adik kelas ini dapat membantuku menjadi murid yang baik dan pintar ketika aku mengajar. Aku akan memberikan materi baru untuk meneruskan materi yang diajarkan oleh ustadzah. Dengan demikian para ustadzah yang akan menilai bisa melihat seberapa paham adik-adik dengan materi baru yang disampaikan olehku.

Dalam amaliyah, semua santriwati kelas enam dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 15 hingga 20 orang. Jika ada salah satu teman sedang praktek mengajar, maka teman-teman lain akan ikut masuk kelas dan berdiri di belakang murid-murid kelas. Mereka tidak hanya diam melihat teman yang lain sedang praktik, tapi mereka menjadi tim pengawas bagi teman yang sedang amaliyah dan memberikan catatan terutama jika terjadi kesalahan, baik catatan kesalahan secara metode dan tehnis mengajar maupun catatan tentang para murid-murid yang mungkin masih tidak paham, mengantuk, tidak memperhatikan guru di kelas dan lain sebagainya.

Akhirnya..bel pergantian pelajaran terdengar. Saatnya giliranku memasuki kelas, dadaku  semakin bergetar dan seolah terdengar keras di telinga, apalagi ustadz dan ustadzah yang membimbing kelompokku dan memberikan penilaian dikenal sebagai ustadzah senior yang sangat kritis serta pelit dalam memberikan nilai. Akhirnya saat amaliyahpun tiba, dengan mengucapkan bismillah dalam hati aku masuk kedalam kelas. Setelah mengucapkan salam kepada anak-anak, menanyakan tentang kesehatan mereka, menanyakan adakah diantara mereka yang sakit dan tidak masuk kelas, setelah itu akupun memberikan pertanyaan tentang materi sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memperlihatkan apakah para murid siap untuk mendapatkan materi yang baru. Setelah itu barulah aku memberikan materi baru. Ada tehnis dan aturan-aturan tertentu dalam memberikan materi pelajaran yang setiap mata pelajaran tehnis dan aturan-aturan tersebut tidak sama. Teori mengajar memang telah kami peroleh sebelumnya di kelas lima dan saat ini adalah waktu untuk mempraktekkanya. Biasanya mata pelajaran yang akan diberikan dalam amaliyah adalah mata pelajaran yang berkaitan dengan pelajaran pondok. Istilah pelajaran pondok ini merujuk pada mata pelajaran yang diambil dari kurikulum pesantren dan bukan mata pelajaran yang diambil dari kurukulum negara atau depag sebagai institusi yang menaungi pesantren seperti pelajaran bahasa arab, mutholaah, bahasa Inggris, mahfudhot, fikih dan lain sebagainya. Yang kesemuanya memang diharuskan mengajar dalam bahasa arab atau Inggris.

Karena pelajaran yang aku berikan adalah bahasa Inggris, ada beberapa aturan dalam memberikan materi bahasa Inggris, diantaranya adalah guru yang mengajar tidak boleh menggunakan bahasa Indonesia sedikitpun. Semua materi harus disampaikan dalam bahasa Inggris. Kebetulam materi bahasa Inggris yang diberikan dalam bentuk cerita. Memang sebagian besar buku bahasa Inggris di pesantren berisi tentang cerita-cerita. Sehingga para guru dituntut untuk bisa menceritakan setiap cerita dengan baik. Sebelum bercerita akupun mengawalinya dengan memberikan beberapa vocabularies yang sulit. Beberapa vocab sulit yang diberikan juga harus diterangkan dalam bahasa Inggris. Setelah memahami dan mengerti beberapa vocabularies baru kemudian aku menerangkan cerita yang ada di dalam buku panduan.

Dalam bercerita, aku berusaha untuk sedikit kreatif dengan tidak hanya memakai metode ceramah seperti biasanya. Tetapi aku menggunakan alat peraga. Alat peraga yang berupa tongkat telah aku siapkan sebelumnya, hal ini menjadi penting untuk bisa lebih memahamkan kepada murid-murid tentang cerita dalam buku.

Usai bercerita aku meminta para murid-murid ini untuk menulis vocab dalam buku catatan mereka dan bukan menuliskannnya pada buku panduan. Setelah itu baru memberikan beberapa pertanyaan terkait dengan cerita yang telah aku jelaskan. Selain tehnik penyampaian yang dinilai, posisi gurupun juga tidak lepas dari penilaian. Seorang guru harus berjalan berkeliling kelas sambil melihat apakah para murid ada yang tidak memperhatikan, tidak mencatat, tidak membawa buku atau bahkan mengantuk. Jangan sampai sang guru lengah dan tidak mengetahui jika salah satu muridnya ada yang mengantuk dan tidak memperhatikan. Selain itu sebagai seorang guru akupun harus bisa memperhitungkan waktu dengan baik. Bagaimana waktu yang hampir satu jam itu dapat dimanfaatkan dengan baik, mulai dari pemberian vocabularies, penjelasan materi, memberi waktu murid-murid untuk mencatat hingga memberi pertanyaan untuk menguji para murid akan materi yang telah disampaikan. Sehingga semuanya bisa tepat waktu tanpa kurang maupun lebih.

Kali ini aku masih punya waktu lima menit lagi sebelum bel tanda pelajaran selesai berbunyi. Padahal aku telah memberikan beberapa pertanyaan terkait materi yang telah aku sampaikan. Rasanya lama sekali bel pergantian pelajaran itu berbunyi. Waktu lima menit itupun aku pergunakan untuk berkeliling kelas dan memeriksa catatan para murid satu persatu hingga akhirnya terdengar jaros berbunyi.

Teng teng..teng..teng..

Rasanya begitu lega hatiku telah menyelesaikan ujian praktek mengajar hari ini. Meski aku belum sendiri belum tahu hasilnya, tetapi paling tidak aku telah berusaha menjalani dan  menyelesaikannya dengan baik.

Amaliyah merupakan satu dari rangkaian aktifitas wajib bagi santriwati akhir di pesantren ini. Amaliyah adalah ujian praktek mengajar yang merupakan perwujudan dari pelajaran tarbiyah pada kelas empat dan kelas lima. Dalam pelajaran tarbiyah tersebut memang diajarkan tentang teori pendidikan dan pengajaran. Amaliyah menjadi sesuatu yang mendebarkan, menegangkan dan ditakuti oleh setiap santriwati kelas enam. Karenanya semua teman-teman pasti akan mempersiapkan jauh-jauh hari ketika sudah mengetahui mata pelajaran apa yang akan disampaikan dalam amaliyah. Saking tegangnya…tidak jarang para santriwati ini bermimpi dan mengigau seolah sedang amaliyah. Seperti salah seorang teman sekamarku Diana. Dia memang dikenal seorang yang latah dan lucu, meski sebenarnya dia adalah seorang anak yang cerdas. Menjelang amaliyah hampir setiap malam dia mengigau seolah sedang praktek amaliyah. Kebetulan dia dapat mata pelajaran mutholaah. Mutholaah adalah pelajaran yang berisi cerita-cerita dalam bahasa Arab. Makanya ketika mengigaupun, dia mengigau dalam bahasa Arab seperti yang terjadi kemaren malam, dia berteriak “assalamu’alaikum Wr.Wb..kaifa haalukunna”? Setelah terdiam sebentar diapun berteriak kembali “al-Asadu wal Fa’ru” (merupakan salah satu judul cerita dalam bahasa arab yang akan disampaikan dihadapan murid-murid barunya), dia mengulang teriakannya hingga berkali-kali sampai akhirnya satu kamarpun terbangun dan menertawakan diana yang masih belum sadar bahwa dia sedang mengigau.

Amaliyah memang selalu menjadi momok bagi setiap santriwati akhir di pesantren ini. Akan selalu ada banyak peristiwa-peristiwa lucu yang mengiringi setiap praktek amaliyah ini.  Biasanya setelah amaliyah selesai dilakukan, semua anggota kelompok bersama para ustadz dan ustadzah pembimbing berkumpul dan membahas untuk melakukan evaluasi. Evaluasi ini diberikan tidak hanya oleh para ustadz dan ustadzah serta teman-teman dalam satu kelompok. Ada yang lupa ketika memberikan salam pulang kepada para murid karena mungkin saking pengennya untuk mengakhiri praktek mengajar dan ingin segera keluar dari ruang kelas, ada yang lupa terhadap materi yang diberikan, sehingga dia harus menerangkan dengan berputar-putar, dan lain sebagainya, semua itu akan masuk penilaian dan evaluasi setelah amaliyah dilakukan.

Seperti siang ini, setelah amaliyah dan kamipun mengadakan evaluasi. Beberapa teman yang praktek mengajar hari ini termasuk aku tidak lepas dari kritik yang diberikan oleh teman-teman. Meski ustadz pembimbing memberikan sedikit pujian karena aku bisa menyampaikan cerita dengan baik dan menggunakan alat peraga, tetapi ada beberapa kritik yang diberikan oleh teman-teman diantaranya ada beberapa murid yang lepas dari pantauanku selama menjadi guru, sehingga mereka mengobrol dan kurang memperhatikan ketika aku sedang menyampaikan materi pelajaran. Kritik dan evaluasi memang sangat penting untuk diberikan sebagai perbaikan serta panduan jika suatu saat kami menjadi seorang guru. Yaa…Bagaimanapun juga amaliyah telah banyak memberikan pengalaman bagi kami dan mengajarkan kami untuk bisa menjadi guru yang baik. Ini adalah salah satu bekal yang diberikan oleh pesantren bagi para santriwatinya yang akan keluar dan suatu saat nanti akan berkiprah di masyarakat.

Entry Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: