Khutbatul Wada’

Desember 16, 2010 zunlynadia

Sudah sebulan ini suasana pesantren agak lain. Setiap selesai sholat Isya’ suasana agak sedikit ramai dengan berbagai latihan untuk persiapan salah satu acara besar yakni khutbatul wada’. Istilah khutbatul wada’ merujuk pada masa Rosulullah yang memberikan pidato terakhirnya sebelum beliau meninggal dunia. Di pesantren ini, khutbatul wada’ merupakan ajang perpisahan bagi santriwati kelas enam yang akan meninggalkan pesantren ini dan melanjutkan pendidikannya atau melanjutkan kehidupannya untuk berkarya di dalam masyarakat. Berbagai persiapan telah disiapkan oleh para panitia sejak jauh-jauh hari bahkan sebulan sebelumnya. Mulai dari latihan pop song (vocal group) yang akan menyanyikan beberapa lagu seperti hymne al-mawaddah, oh pondokku, hymne guru, latihan qosidah, menari dan lain sebagainya. Khutbatul wada’ merupakan puncak sekaligus akhir dari rangkaian perjalanan kami sebagai seorang santriwati.

Hari-hari terakhir di pesantren terasa begitu indah dan aku sangat menikmatinya. Aku begitu menikmati aktifitas sebagai santriwati seperti selalu antri mandi, makan, mencuci, yang sebelumnya terasa sangat menjengkelkan. Akupun mulai menikmati suara jaros yang selama ini terkadang mengganggu aktifitasku untuk kemudian harus memenuhi panggilan sang jaros. Semuanya memang terasa begitu indah pada saat-saat terakhir. Karena aku sadar tidak akan pernah mendapatinya lagi di masa-masa mendatang.

Semua rangkaian kegiatan dan berbagai ujian telah kami lewati hingga kelas enam dan kini saatnya menanti puncak dari seluruh aktifitas itu, yakni pada saat khutbatul wada’. Sebagai santriwati yang akan di sahkan menjadi alumni dalam acara khutbatul wada’, akupun ikut menyambut acara khutbatul wada’ dengan berbagai perasaan yang bercampur baur, antara senang karena akhirnya telah berhasil melewati masa-masa di pesantren selama enam tahun, sedih karena terlalu banyak kenangan yang tersimpan disana.

Seminggu sebelum acara khutbatul wada’ digelar, ada satu sesi yang harus kami lewati sebagai santriwati akhir di pesantren. Satu sesi yang membuat hati dan jantung kami terus berdetak sebelum mendapatkan kepastian, yakni penentuan siapakah diantara kami semua yang wajib untuk mengabdikan diri di pesantren ini setelah kelulusan. Satu persatu kami dipanggil oleh ustadzah, diberikan sedikit nasehat dan motivasi dan setelah itu diberikan satu amplop tertutup yang akan kami buka setelah keluar dari ruangan. Amplop itu berisi ketentuan apakah kami wajib mengabdikan diri di pesantren ini minimal satu tahun ataukah kami bebas untuk meninggalkan pesantren ini dan langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mengabdi di pesantren bagi sebagian besar dari kami memang sesuatu yang berat, meski ada juga beberapa dari santriwati yang dengan rela mengajukan diri untuk mengabdikan diri di pesantren. Karenanya setiap wajah lesu yang keluar dari ruangan bisa dipastikan mereka termasuk wajib mengabdikan diri di pesantren, sebaliknya mereka yang luar dari ruangan dengan wajah ceria, maka mereka termasuk tidak mempunyai kewajiban untuk mengabdi, tetapi bisa memilih untuk mengabdi ataukah meninggalkan pesantren sesuai dengan apa yang dicita-citakan.

Kini saatnya giliranku dipanggil, aku langusung masuk dan duduk di tempat yang telah disediakan. Dihadapanku sudah ada dua orang ustadzah yang keduanya adalah ustadzah pembimbing kelas enam. Setelah menanyakan cita-cita serta keinginanku pasca keluar dari pesantren, ustadzah juga memberikan sedikit nasehat dan semangat. Setelah beberapa saat akupun diberikan amplop tertutup untuk aku lihat setelah keluar dari ruangan. Agak sedikit deg-degan memang tapi akhirnya aku merasa lega setelah membawa surat dalam amplop tersebut yang menyatakan bahwa aku tidak wajib untuk mengabdi di pesantren dan bisa langsung melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Sebenarnya semua santriwati diharapkan untuk bisa mengabdikan diri di pesantren. Mengabdi tidak hanya mengajarkan kami untuk menjadi guru yang sesungguhnya tetapi juga mengajarkan kami keikhlasan. Tetapi pesantren memberikan tetap memberikan keleluasaan bagi kami untuk menentukan pilihan. Hanya saja jika pihak pesantren meminta beberapa dari alumninya untuk mengabdi, akan sangat sulit bagi kami untuk menolaknya kecuali dengan alasan yang sangat kuat. Adapun alasan yang kuat untuk bisa menolak mengabdi di pesantren adalah alasan bahwa setelah keluar dari pesantren akan segera menikah. Alasan menikah akan menjadi alasan yang kuat bagi para alumni yang menolak mengabdikan dirinya untuk mengajar di pesantren.

Meski mengabdi dirasakan sesuatu yang berat, tetapi tidak jarang dari para alumni yang justru mengajukan dirinya untuk mengabdi tanpa harus diminta terlebih dahulu. Mengabdikan diri menjadi guru di pesantren memang tidak akan mendapat gaji sebagaimana para guru yang mengajar di sekolah umum. Tetapi pengalaman mengajar akan menjadi pengalaman yang sangat berharga dan memberikan kami bekal di masa mendatang. Meskipun demikian aku lebih memilih untuk mengabdikan diriku di luar pesantren. Aku berkeinginan keras untuk bisa melanjutkan pendidikan sembari harus berfikir mencari penghidupanku sendiri, karena mengandalkan kedua orang tua sepenuhnya adalah sesuatu hal yang tidak mungkin. Untuk itu jauh-jauh hari sebelum acara khutbatul wada’ digelar, aku sudah mengontak beberapa kakak-kakak kelas untuk mencari informasi dimana saya bisa kuliah sambil bekerja. Aku harus berusaha untuk bisa melanjutkan pendidikan, bagaimanapun caranya. Semoga aku bisa mendapatkan jalan untuk itu.

Akhirnya saat yang dinanti-nantikanpun tiba. Acara khutbatul wada’pun semakin dekat. Pesantren terlihat semakin ramai, baik karena adanya persiapan dari panitia maupun karena dua hari sebelum hari H para orang tua wali sudah pada berdatangan di pesantren. Para orang tua memang diundang dalam acara khutbatul wada’ karena khutbatul tidak hanya mewisuda dan melepas santriwati kelas enam tetapi juga merupakan acara penyerahan kembali para santriwati yang telah enam ataupun empat tahun dididik di pesantren kepada para orang tua. Ibu bersama adikku datang dalam acara khutbatul wada’. Mereka datang satu hari sebelum acara. Senang rasaya melihat ibuku datang, sementara adikku yang setahun lagi akan masuk pesantren memang sengaja diajak oleh ibu untuk mengenalkan kehidupan pesantren padanya.

Sementara kesibukan semakin terlihat disana sini terutama oleh para panitia. Mulai dari mendekorasi panggung, melatih santriwati yang akan tampil, menyiapkan konsumsi dan lain sebagainya. Sore hari sebelum hari H, semua santriwati kelas enam serta para pengisi acara dalam khutbatul wada’ melakukan gladi bersih, mulai dari acara pembukaan hingga penutupan. Gladi bersih ini diadakan agar semua dapat dengan baik dan lancar.

Acara khutbatul wada’ diadakan dalam dua sesi. Pada pagi hari dan malam hari. Acara pada pagi hari seringkali disebut sebagai walimah atau resepsi khutbatul wada’, karena berisi banyak pertunjukan dan hiburan dari para santriwati, sehingga tidak hanya diikuti oleh santriwati kelas enam dan orang tuanya tetapi juga diikuti oleh seluruh santriwati dan para ustadzah. Sementara acara pada malam hari khusus hanya diikuti oleh  santriwati kelas, para ustadzah serta orang tua wali murid. Acara pada malam hari merupakan acara puncak khutbatul wada’ yang di dalamnya hanya berisi pidato-pidato yang berisi wejangan, mulai dari ibu pengasuh, bapak direktur, bapak ketua yayasan dan satu lagi yang paling penting yakni pidato dari salah satu pendiri pesantren ini yakni bapak KH. Hasan Abdullah Sahal yang juga merupakan salah satu pimpinan pondok modern Gontor.

Pagi ini para orang tua dan semua santriwati telah menempati tempat yang telah disediakan. Sementara kami santriwati kelas enam masih belum memasuki tempat acara hingga semua telah siap. Setelah MC mempersilahkan untuk masuk ke tempat acara, barulah kami semua masuk dengan berbaris satu persatu diiringi dengan musik kitaro yang syahdu, sembari MC menyebutkan nama kami satu persatu berikut daerah asalnya. Dengan memakai baju kebesaran kami yakni baju seragam khusus kelas enam lengkap dengan kalung wisuda kami menuju tempat acara khutbatul wada’. Setelah semua duduk di tempat maka acara demi acara dimulai. Seperti acara-acara yang lain, selalu ada tari persembahan di awal acara sebagai tanda penghormatan bagi para tamu yang datang. Tari persembahan kali ini adalah tari sekapur sirih yang merupakan tarian yang berasal dari daerah propinsi Jambi. Karena acara khutbatul wada’ pada pagi hari merupakan acara resepsi, maka banyak acara-acara hiburan yang merupakan penampilan dari para santriwati, seperti tari-tarian, kosidah modern yang memakai penari-penari kipas, musik kolaborasi, dan lain sebagainya.

Ada saat-saat yang membuatku terharu, yakni saat para vocal group menyanyikan lagu hymne guru dan hymne oh pondokku. Kedua lagu itu biasanya hanya dinyanyikan pada momen-momen tertentu seperti khutbatul wada’. Dengan diiringi orgen yang juga dimainkan oleh seorang satriwati, lagu-lagu yang dinyanyikan memang terasa indah terdengar. Di akhir acara resepsi khutbatul wada’ ini, juga diumumkan lima orang santriwati terbaik untuk pelajaran pondok dan lima orang santriwati untuk pelajaran umum. Meski agak sedikit kecewa, karena aku tidak termasuk disana padahal aku merasa usaha yang aku lakukan selama ini untuk menjadi seorang the best telah maksimal, tapi ibuku selalu membesarkan hatiku dengan menghargai semua proses yang telah aku lakukan selama ini.

Acara resepsi khutbatul wada’ telah usai, tinggal satu acara puncak khutbatul wada’ yang sebenarnya pada malam harinya. Akupun segera pergi ke kamar dan mulai berbenah karena besok harus meninggalkan pesantren ini untuk selama-lamanya. Suasana kamar santriwati kelas enam secara umum sangat berantakan. Semua orang mulai mengemasi barang masing-masing dan sibuk dengan kedatangan orang tua masing-masing. Kardus-kardus, ember, kasur berserakan dimana-mana karena sudah tidak ada lagi jadwal piket bagi kami. Debu-debu juga dimana-mana sehingga membuat kami tidak betah berlama-lama di kamar. Kamar hanya menjadi tempat untuk meletakkan barang-barang, sehingga sebagian besar dari kami tidak tidur di kamar melainkan tidur bersama orang tua di kamar yang memang khusus disediakan untuk para tamu.

Setelah isya’ acara khutbatul wada’ kembali dilaksanakan. Semua santriwati akhir dan para orang tua serta para ustadzah duduk di depan panggung untuk mengikuti. Acara ini berisi pidato dan wejangan-wejangan dari para pimpinan pesantren, satu persatu mereka memberikan pidatonya hingga berakhir pada larut malam. Tidak ada hiburan, yang ada hanya khutbah dan khutbah. Acara ini diakhiri dengan acara salam-salaman dengan para pimpinan pesantren, para ustadzah, dan sesama santriwati kelas enam. Dengan diiringi suara sholawat, kami mulai berbaris untuk saling bersalaman. Dimulai dengan menyalami para pimpinan pesantren, para ustadzah baru kemudian sesama kelas enam. Suasana haru sangat terasa,  terdengar suara isak tangis di sela-sela gema sholawat dari para santriwati dan juga para ustadzah yang tidak kalah kerasnya, akupun tak kuasa menahan air mata, tidak terasa enam tahun sudah aku tinggal di pesantren ini dan malam itu adalah malam terakhir bagi kami semua. Ternyata enam tahun begitu cepat berlalu hingga akhirnya mau tidak mau kami harus meninggalkan pesantren ini.

Acara malam khutbatul wada’ akhirnya benar-benar selesai pada dini hari. Tidak jarang dari teman-teman yang akhirnya begadang hingga pagi untuk sekedar bernostalgia dan mengulang kembali kenangan enam dari enam tahun yang lalu, saling mengobrol karena bisa jadi kami tidak tahu, apakah kami bisa bertemu kembali dengan teman-teman suatu saat kelak terutama teman-teman yang berasal dari luar jawa. Rasanya baru kemaren kami makan bersama, terkena jasus, ikut KMD, sibuk dalam panitia bazar, merasakan ramadhan di pesantren, bernyanyi bersama dalam pelatihan guru TPA, semuanya begitu terasa indah pada detik-detik terakhir.

Esok harinya, usai acara pelepasan khutbatul wada’ terlihat kesibukan para santriwati kelas enam yang kini sudah resmi menjadi alumni. Ada yang berbenah dan mengemasi barang-barang mereka, ada yang sibuk menyelesaikan urusan administrasi, ada yang mengantri untuk mengambil ijazah serta legalisir, dan ada juga yang menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke kota Ponorogo, Madiun dan sekitarnya bersama orang tuanya terutama bagi mereka yang berasal dari luar jawa dan akan pulang kembali ke daerah asalnya, sehingga tidak melewatkan  momen untuk jalan-jalan. Aku sendiri antri untuk mengurusi berbagai urusan administrasi yang ternyata cukup banyak dan ribet. Mulai dari membayar iuran makan bulanan dan SPP yang menunggak beberapa bulan, iuran untuk rangkaian kegiatan kelas enam, iuran untuk fandel, kalender, hingga pembayaran untuk legalisir ijazah. Aku memang hanya seorang anak petani yang tidak mempunyai banyak sawah, sehingga urusan menunggak SPP dan uang makan bulanan sudah biasa. Biasanya bapak akan datang ke pondok ketika selesai masa panen untuk membayar uang sekolahku. Kali ini aku harus benar-benar melunasi semuanya karena akan meninggalkan pesantren ini untuk selamanya.

Tidak mudah bagi bapak dan ibu untuk menyekolahkan aku di pesantren ini, karena bagi kedua orang tuaku pesantren ini memang cukup mahal. Tidak heran jika teman-temanku berasal dari kalangan menengah keatas, mereka adalah anak-anak pegawai, anak pengusaha bahkan juga anak pejabat daerah. Karenanya cukup aku yang bersekolah di pesantren ini, sementara kedua adikku bersekolah di madrasah  tsanawiyah yang tidak jauh dari rumah, sehingga urusan biaya pendidikan dapat diminimalisir.

Usai menyelesaikan berbaga urusan administrasi, akupun segera bergegas menuju tempat pengambilan ijazah berikut legalisirnya. Ternyata antrian masih cukup panjang, akupun menunggu tanpa bisa banyak bercengkrama dengan teman-teman karena mereka telah disibukkan dengan urusan masing-masing. Seletah sekian menunggu, akhirnya namaku dipanggil juga, segera aku masuk ke kantor untuk mengambil berkas ijazah dan langsung pergi menuju ke ruang tamu untuk menemui ibu yang juga telah lama menungguku.

Menjelang senja segala urusan akhirnya selesai. Saatnya aku meninggalkan pesantren tercinta. Setelah berpamitan dengan beberapa ustadzah dan teman-teman, akupun pulang ke kampung halaman dengan membawa banyak sekali barang-barang terutama kardus-kardus yang berisi buku-buku. Apalagi tidak seperti sebagaian besar teman-teman pulang dengan menggunakan mobil pribadi, aku harus bersusah payah naik kendaraan umum (bus), bahkan harus berganti bus hingga dua kali dan bersambung dengan becak atau ojek hingga sampai ke rumah. Aku tidak tahu perasaanku saat sampai di rumah, antara capek, lega, sedih,  tapi apapun itu, semuanya tetap aku syukuri karena aku bisa menyekesaikan pendidikan di pesantren selama enam tahun, meski kesulitan ekonomi mendera keluargaku. Ketekadan orang tua disertai dengan do’a mereka memang membuat aku beserta kedua adikku bisa menyelesaikan pendidikan meski dengan segala keterbatasan dan keprihatinan.

 

 

 

 

 

 

Entry Filed under: diary pesantren

One Comment Add your own

  • 1. peduli pendidikan  |  Desember 17, 2010 pukul 12:32 am

    dunia pesantren memang sangat perlu sekali..sebagai benteng n landasan kita..mungkin di indonesia pesantren dianggap kaum non moderen, padahal anggapan seperti itu salah besar…thanks atas artikelnya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: