9. Ubay bin Kaab (Sang Qari’ terhebat di masa Nabi)

April 15, 2010 zunlynadia

Ubay bin Ka’ab dikenal dengan sebutan Abu Mundzir. Selain mempunyai sebutan Abu Mundzir dari Rosulullah Saw, Ubay bin Ka’ab juga dipanggil dengan Abu Thufail oleh Amr bin Ashl. Nama lengkapnya adalah Ubay bin Ka’ab bin Qais bin ‘Ubaid bin Zaid bin Mu’awiyah bin Umar bin Malik bin Nijar bin Tyim. Dia termasuk sahabat dari golongan anshor Madinah dari suku Khajraj yang pertama masuk Islam dan ikut bagian dalam perjanjian Aqobah.

Ubay bin Ka’ab adalah salah satu sahabat Nabi Saw yang sangat fasih dalam membaca al-Qur’an. Apalagi dia dikaruniai oleh Allah suara yang sangat indah, serak-serak basah, syahdu dan mempunyai intonasi yang bagus, sehingga dia dapat membaca al-Qur’an dengan merdu dan syahdu. Dalam sebuah kisah diceritakan jika Rosulullah ingin mendengarkan Ubay bin Ka’ab membaca al-Qur’an dengan merdu berulang-ulang kali, beliau tinggal pergi ke rumahnya.

Dalam sebuah kisah lain disebutkan bahwa pada suatu hari, Rasulullah SAW menanyainya, “Hai Abul Mundzir! Ayat manakah dari Kitabullah yang teragung?” “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!” jawab orang itu. Nabi SAW mengulangi pertanyaannya, “Abul Mundzir! Ayat manakah dari Kitabullah yang teragung?” Maka ia menjawab, “Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk)-Nya” (QS. al-Baqarah : 255). Mendengar jawaban tersebut, kemudian Rosulullah pernah menepuk dadanya dengan perasaan bangga yang tercermin dari pancaran wajah beliau dan mengucapkan selamat atas ilmu yang telah dia miliki. Rosulullah berkata Ubay:” “Hai Abul Mundzir, selamat bagimu atas ilmu yang kamu capai.”

Selain itu, Ubay juga dikenal  sebagai seorang yang cerdas, cepat faham, dan fasih berbicara dalam bahasa Arab dengan kata-kata yang sangat indah, sesuai dengan makhraj dan kaidah-kaidah bahasa. Karena itu dia sangat pandai dalam berpidato. Sehingga siapapun tidak akan bosan mendengarkan pidato Ubay. Sosok Ubay digambarkan sebagai seorang yang sedikit tinggi, berkulit putih, berwajah cerah dan dua pipinya nampak begitu jelas. Wajahnya sangat jernih dan cerah seolah memancarkan sinar yang semuanya mencerminkan kesucian dan kebersihannya. Meskipun secara lahiriyah Ka’ab terlihat sebagai sosok yang tenang dan kalem, tetapi sebenarnya dia juga seorang yang bisa bersikap keras, galak bahkan terkadang bersikap agak kasar. Sebuah sosok yang agak kotradiktif. Namun demikian dia memang orang yang dikenal dengan pendiriannya yang tegas, berkata jelas, serta sangat menjunjung tinggi kejujuran.

Ubay juga dikenal sebagai orang yang zuhud, sholeh dan bertaqwa. Karena kesalehan dan ketakwaannya, Ubay selalu menangis setiap teringat Allah dan hari akhir. Ayat-ayat Alquran, baik yang ia baca atau yang didengarnya, selalu menggetarkan hati dan persendiannya. Ada salah satu ayat yang membuat hatinya selalu diliputi rasa duka yang tidak dapat terlukiskan, ayat tersebut adalah “Katakanlah, Ia Kuasa akan mengirim siksa kepada kalian, baik dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau membaurkan kalian dalam satu golongan berpecah-pecah, dan ditimpakan-Nya kepada kalian perbuatan kawannya sendiri ….” (Al-an’am: 65).

Sifat zuhudnya ditunjukkan dengan cara menjahui hal-hal yang bersifat keduniawian. Hidup Ubay hanya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah. Bagi Ubay, apa yang ada di dunia ini hanyalah bersifat sementara. Harta yang melimpah, bangunan yang megah, istri dan anak-anak semua adalah titipan dari Allah dan hanya amal perbuatan selama hidup di dunia yang akan membawa kebahagiaan yang sesungguhnya, yakni kebahagiaan di akhirat. Sehingga dia sama sekali orang yang tidak terpengaruh dengan segala sesuatu yang bersifat keduniawian hingga akhir hayatnya. Hari-hari Ubay hanya dihabiskan dengan pulang pergi antara masjid dan rumahnya. Hingga suatu saat ketika Ubay menderita sakit, penyakit yang dideritanya tidak menghalanginya untuk beribadah, melaksanakan ibadah haji dan umroh.

Masuknya Ubay bin Ka’ab ke dalam Islam terjadi setelah Rosulullah Saw berhijrah ke Madinah. Pada saat itu para penduduk Yasrib (Madinah) menjadi kaum anshor-penolong Nabi Saw, dan mereka percaya kepada agama yang dibawa oleh beliau. Kemudian para penduduk Madinah mengajak Nabi untuk bertemu di Aqabah. Disana terjadi baiat pertama yang terdiri dari 12 orang. Setelah perjanjian di Aqabah, Rosulullah Saw menyuruh Mush’ab bin Umair untuk pergi ke Madinah dan mengajari kaum muslimin di Madinah tentang ilmu-ilmu agama. Pada saat mendengarkan Mush’ab berdakwah itulah Ubay langsung menyatakan keIslamannya.

Sejak menyatakan dirinya sebagai seorang muslim, Ubay bin Ka’ab menjadi seorang yang ikut memperjuangkan agama secara total. Bersama Rosulullah Saw dia ikut serta dalam berdakwah dan menata kota Madinah dengan baik bersama umat muslim lainnya. Ubay juga sangat aktif dalam mengikuti berbagai peperangan pada masa Rosulullah.

Selain itu Ka’ab juga sangat dikenal sebagai seorang penghafal al-Qur’an, yang dapat membaca al-Qur’an dengan indah serta dapat memahaminya dengan sangat baik. Rosulullah sendiri pernah mengatakan bahwa Ubay bin Ka’ab adalah seorang qari'(pembaca al-Qur’an) terbaik di kalangan umat beliau. Ubay bin Ka’ab juga salah satu sahabat yang pernah membaca seluruh Al-Qur’an dalam shalat Tahajud selama delapan malam berturut-turut.

Pernah pada suatu ketika Rasulullah saw sedang mengimami shalat dan tertinggal satu ayat dalam bacaan beliau. Kemudian Ubay bin Ka’ablah membetulkan kesalahan tersebut dengan berbisik pelan di belakang beliau. Setelah selesai shalat berjamaah, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah yang telah membenarkan bacaanku?”, kemudian Rasulullah saw. diberi tahu bahwa Ubay r.a yang telah membetulkan bacaannya. Lalu, beliau berkata, “Aku telah menduga memang Ubay orangnya.”

Dalam kisah lain diceritakan bahwa suatu ketika Rosulullah dating kepada Ubay dan berkata:” Wahai Ubay bin Ka’ab, saya dititahkan untuk menyampaikan Alquran kepadamu.” Mendengar perkataan Nabi Saw, dengan perasaan bingung Ubay berkata, “Wahai Rasulullah, demi ibu dan bapakku. Adakah Allah telah menyebutku dengan memanggil namaku?”, maka Rasulullah sawpun menjawab, “Ya, benar, Allah SWT telah menyebut engkau dengan memanggil namamu.” Jawaban Rasulullah saw tentu membuatnya sangat terharu. Bayangkan saja jika seseorang yang sangat kita kasihi dan dambakan menyebut nama kita, sungguh kebahagiaan yang luar biasa.

Begitulah sosok Ubay yang banyak diliputi kemuliaan, bahkan Rosulullah sendiri memujinya. Ubay juga menjadi salah satu sahabat yang pertama tama mencatatkan ayat-ayat al-Qur’an dalam bentuk tulisan dari kalangan anshor. Sebelum Nabi Saw berhijrah ke Madinah, Abdullah bin Sa’di bin Sarh yang selalu mencatatkan wahyu bagi Rosulullah. Setelah beliau berhijrah ke Madinah, kemudian Rosulullah menemukan sosok yang pas menjadi penulis wahyu pada diri Ubay bin Ka’ab. Tidak hanya menuliskan wahyu saja, Ubay bin Ka’ab juga  banyak menuliskan surat-surat  dan catatan-catatan beliau yang ditujukan kepada  orang-orang, yang bersifat penting dan rahasia yang menuntut penulisnya harus bersikap jujur, amanah, terpercaya, serta bias menjaga rahasia. Meski pada masa hidupnya Rosulullah mempunyai banyak juru tulis seperti Abu Bakar Al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Amr bin Ash dan masih banyak lagi, tetapi Ubay adalah salah satu sahabat yang paling sering menuliskan wahyu dan termasuk orang yang setia menjadi sang juru tulis Rosulullah sampai akhir. Ubay bin Ka’ab memang dikenal mempunyai tulisan yang sangat bagus.

Selain menjadi sekretatis Rosulullah, Ubay juga diangkat menjadi salah seorang hakim, disamping para sahabat Nabi Saw lainnya, seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari dan Zaid bin Tsabit, yang bertugas untuk memutuskan persoalan-persoalan hukum umat Islam pada saat itu. Hal ini karena Ubay termasuk salah satu  orang yang alim dan seorang Faqih. Pada masa kholifah Abu Bakar Al-Shiddiq, Ubay juga termasuk sebagai salah satu anggota  penasehat khalifah diantara para sahabat yang lain seperti Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit. Para dewan ini bertugas sebagai tempat bertanya atas berbagai permasalahan umat.  Pada masa khalifah Umat bin Khattab, Ubay juga selalu dijadikan rujukan jika sang kholifah sedang menghadapi persoalan dan kesulitan yang besar. Demikianlah sosok Ubay bin Ka’ab yang mempunyai keistimewaan dan kedudukan tersendiri baik di mata Rosulullah maupun di mata para sahabat yang lain.

Ubay bin Ka’ab wafat pada tahun 22 Hijriyah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Begitu mendengar berita kematiannya, sang kholifah berkata:”Hari ini seorang pemimpin ummat Islam telah meninggal dunia”. Kematiannya membuat perasaan duka di kalangan kaum muslimin, karena telah kehilangan seorang pahlawan yang selalu ikhlas berjuang, yang namanya telah tercantum di langit[1].


[1] …………….., ‘Abbas bin Abd al-Muthalib, Nu’man bin Muqarrin, Ubay bin Ka’ab, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2004), http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=326, http://id.wikipedia.org/wiki/Ubay_bin_Ka%27ab, http://www.voa-islam.net/teenage/moslem-heroes/2009/08/23/780/ubay-bin-ka%27ab/, http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/02/semangat-ubay-bin-kaab-ra-dalam-belajar.html

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: