7. Abbas bin Abdul Muthalib

April 15, 2010 zunlynadia

Abbas bin Abdul Muthalib adalah paman Nabi saw, saudara termuda ayah beliau Abdullah bin Abdul Muthalib. Abbas adalah nenek moyang dari seluruh khalifah dinasti Abbasiyah. Yaitu sebuah dinasti yang memerintah pasca khulafa'ur rasyidin dan bani Ummayyah yang berkuasa di Baghdad. 
Abbas bin Abdul Muthalib dilahirkan 3 tahun sebelum Nabi Saw dilahirkan, sehingga jarak keduanya yang tidak terlalu jauh membuat keduanya sangat akrab. Abbas juga dikenal dengan sebutan Abu Fadhel. Dia adalah seorang yang yang memiliki ide yang cemerlang, bersuara lantang, cerdas bahkan sampai tingkat jenius, dermawan dan toleran. Selain itu Ia juga dikenal sebagai seorang yang sangat ramah dan membenci perbudakan. Pernah pada suatu ketika Abbas membeli 70 orang budak dan kemudian memerdekakan mereka. 
Sosok Abbas digambarkan sebagai orang yang berpembawaan tenang dan kalem, tubuhnya tinggi tegap, berkulit putih, agak sedikit gemuk sehingga dia sangat sedap untuk dipandang. Kondisi fisiknya mencerminkan bahwa dia adalah seorang yang selalu diliputi kebahagiaan dan tidak perlu bekerja keras dan kasar untuk mendapatkan harta kekayaan serta kedudukan di kalangan suku Quraisy. Abbas menjadi salah satu pembesar Quraisy, dia selalu mengenakan pakaian kebesaran yang menunjukkan kedudukannya di jajaran suku Quraisy. Dia juga seorang jawara dan ksatria yang terkenal dengan kedewasaanya, sehingga memperkuat posisinya sebagai salah satu pembesar bangsa Arab.
Abbas bin Abdul Muthalib adalah termasuk golongan orang yang pertama-tama masuk Islam. Akan tetapi dia masih menyembunyikan keIslamannya sampai tahun pembebasan kota Makkah. Keislaman Abbas dibuktikan dari beberapa kisah diantaranya adalah:
a.       Cerita dari seorang Abdi Rosulullah Saw yang bernama Abu Rafi’. Sebelumnya dia pernah menjadi salah satu pelayan Abbas bin Abdul Muthalib. Pada saat itu Abbas dan keluarganya telah menjadi muslim, hanya keislamannya masih disembunyikan terutama dari keluarga besar Bani Hasyim dan pembesar Quraisy.
b.      Ketika Rosulullah berhijrah ke Madinah, Abbas tetap tinggal di Makkah, tetapi dia mengemban tugas untuk mengawasi gerak-gerik kaum kafir Quraisy dan kemudian melaporkannya kepada Nabi Saw. Hal itu juga dilakukannya sebelum terjadi perang Badar.
c.       Sebelum memberangkatkan pasukan untuk perang badar, Rosulullah berkhutbah di hadapan para tentara muslim:”Ada sejumlah orang dari keluarga bani Hasyim dan selain dari Bani Hasyim yang tidak akan bertempur dengan kita. Karenanya jika kalian bertemu dengan mereka maka janganlah dibunuh, mereka adalah Abu al-Bukhari bin Hisyam bin al-Harist bin Asad dan Abbas bin Abdul Muthalib, karena mereka berada disana dalam keadaan terpaksa”.
Pidato Rosulullah Saw dan kisah di atas menunjukkan bukti keIslaman Abdul Muthalib yang masih disembunyikan dan Rosulullah sangat memahami kondisi yang dialami pamannya, sehingga dia harus menyembunyikannya.
Posisi Abbas sangat penting disisi Rosululloh Saw. Hal ini karena Abbas adalah orang selalu dimintai nasehat dan saran terutama jika Rosulullah berada pada posisi yang sulit. Sehingga Abbas juga termasuk orang yang paling sering diajak berunding dan bermusyawarah dengan Rosulullah Saw dalam semua situasi ketika Rosulullah membutuhkan pendapat dari orang lain. Abbas bin Abdul Muthalib juga menjadi salah satu orang yang menemani Rosulullah dalam bai’at Aqobah, padahal ketika itu Abbas masih belum mengumumkan keislamannya bahkan kepada Nabi Saw sendiri.
Pada saat terjadi perang Badar, Abbas bin Abdul Muthalib berada dalam barisan kaum kafir Quraisy. Hal ini dilakukannya, agar dia tetap dipandang sebagai seorang Quraisy yang masih tetap dalam keyakinannya. Pada perang tersebut kaum muslimin mendapatkan kemenangan yang gemilang atas pasukan kafir. Meskipun Abbas selamat dari kematian karena memang Rosulullah telah memerintahkan pasukan muslim untuk tidak membunuhnya, Abbas menjadi salah satu tawanan pasukan muslim. Melihat pamannya menjadi salah seorang tawanan Rosulullah merasa sedih dan tidak bisa memejamkan matanya saat akan tertidur. Melihat kesedihan di wajah Rosulullah, agaknya pasukan muslim mengetahui penyebabnya, kemudian mereka membebaskan salah satu tawanan yakni Abbas bin Abdul Muthalib. Setelah membebaskan Abbas, mereka meneui Rosulullah Saw dan berkata:”Wahai Rosulullah, sesungguhnya kami telah melepaskan tawanan Abbas, semoga engkau bisa kembali bergembira.”.
Meski Rosulullah Saw merasa gembira dengan dilepaskannya Abbas, tetapi Rosulullah bukanlah orang yang berat sebelah atau pilih kasih. Untuk itu, Rosulullah memerintahkan untuk menukar tawanan dengan tawanan kaum kafir. Sehingga terjadilah pertukaran tawanan.
Setelah penaklukan kota Makkah dan kemenangan kaum muslimin atas kota Makkah, banyak dari kaum Quraisy akhirnya mengakui kemenagan dan masuk ke dalam Islam. Saat itu pula Abbas bin Abdul Muthalib mengumumkan keislamannya. Penguasaan kota Makkah oleh kaum muslimin membuat sejumlah suku-suku Arab yang lain seperti suku Hawazin, Nashr, Jasyam, Tsaqif dan sebagainya khawatir akan perkembangan ajaran baru di seluruh Arab. Karena mereka berkumpul untuk menabuh gendering perang melawan kaum Muslimin.
Kaum muslimin sendiri tidak tinggal diam. Rosulullah Saw juga mempersiapkan pasukannya untuk menghadapi tentara dari suku –suku yang membangkang tersebut. Jumlah kaum muslimin yang berkumpul saat itu sekitar dua puluh ribu orang. Dengan jumlah yang demikian besar, serta keberhasilan sebelumnya dalam berbagai peperangan membuat pasukan muslim dihinggapi rasa sombong dan angkuh apalagi peperangan kali ini musuh yang dihadapi hanya berjumlah sedikit dan tidak sebanding dengan jumlah pasukan kaum muslimin. Perang kali ini disebut dengan perang Hunain terlihat jelas bagaimana Abbas menjadi salah satu pahlawan dalam perang tersebut. 
Banyaknya pasukan muslim membuat mereka lupa untuk selalu bahwa pasukan yang sedikit juga bisa memenangkan peperangan jika menggunakan strategi yang baik. Pada saat itu pasukan lawan menggunakan taktik perang gerilya, sehingga musuh tidak terlihat oleh pasukan muslim. Kemudian secara tiba-tiba mereka menyerang pasukan muslim, sehingga kaum muslimin menjadi mereka kocar-kacir dan lari berhamburan tak tentu arah. Hanya beberapa orang muslim yang masih berada ditempat tanpa beranjak sejengkalpun dari posisi mereka, sehingga mereka disebut sebagai pahlawan Islam yang selalu mengelilingi beliau, diantaranya adalah: Abu Bakar Al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Abbas bin Abdul Muthalib dan putranya Fadhl, Ja’far bin Abu Thalib, Rabi’ah bin al-Harits, Usamah bin Zaid dan lain sebagainya. 
Melihat kondisi kaum muslimin yang  kocar-kacir, Rosulullah kemudian bertaka dengan suara yang keras:” Mau kemanakah wahai kaum Muslimin? Kembalilah kemari, aku adalah Nabi kalian”. Ternyata teriakan Nabi Saw tidak cukup membuat pasukan muslimin kembali. Kemudian Rosulullah menoleh kepada pamannya Abbas bin Abdul Muthalib dan memintanya untuk berseru kepada semua orang. Abbas memang dikenal dengan posturnya yang tinggi serta suaranya yang sangat kuat dan lantang. Bagaikan suara petir, Abbas berseru: “Wahai semua orang Anshor dan Muhajirin! Wahai semua orang yang telah berbai’at, bersatulah kembali kalian, dan jangan bercerai-berai”.
Tidak sia-sia Abbas berteriak karena suara kencang tersebut didengar oleh semua pasukan muslimin seolah mereka dibangunkan dari tidur lelap. Kemudian mereka kembali ke medan perang dan bersatu kembali dengan semangat yang tinggi. Akhirnya peperangan tersebut dimenangkan oleh pasukan muslimin yang sebelumnya sempat kocar-kacir dan kembali dipersatukan oleh suara yang menggelegar dari Abbas bin Abdullah.
Begitulah sosok Abbas bin Abdul Muthalib, sosok sang pahlawan dan jawara yang agung. Sehingga orang-orang muslimpun juga sangat menghormatinya. Bahkan dalam kesehariannya, ketika Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan telah menjadi kholifah, mereka tidak segan-segan untuk turun dari atas tunggangannya ketika berpapasan dengan Abbas. Hal tersebut dilakukan sebagai sikap hormat dan takzim kepada Abbas. Rosulullah Saw sendiri sangat menyayangi dan mencintai pamannya tersebut, sehingga dalam suatu kesempatan beliau pernah berkata:”Sesungguhnya Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa menyakitinya berarti dia juga telah menyakitiku”.
Setelah Rosulullah Saw wafat, sosok Abbas tetap menjadi sosok yang terhormat dan mulia. Kehadirannya di tengah-tengah kaum muslimin dianggap akan membawa keberuntungan tersendiri bagi mereka. Ada suatu kisah ketika pada masa pemerintahan Umar bin Khattab,di kota Madinah sedang terjadi kemarau yang sangat panjang yang menyebabkan paceklik. Banyak tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan yang mati. Kaum muslimin juga merasakan beratnya bencana tersebut hingga menyebut tahun tersebut sebagai “tahun abu” sehingga sangat dikenang sepanjang sejarah. Umar bin Khattab sebagai sang kholifah memerintahkan kepada semua umat muslim untuk melakukan sholat istisqo’ (sholat untuk meminta hujan). Di sebuah hamparan pasir yang sangat luas, kaum muslimin berbondong-bondong datang untuk melaksanakan sholat tersebut. Kemudian Umar naik keatas mimbar sambil memegang tangan Abbas untuk diangkat tinggi-tinggi. Dengan suara yang sangat lantang Umar berdo’a:”Ya Allah, sesungguhnya kami minta diturunkan hujan dengan wasilah Nabimu yang makamnya berada di antara kami.  Ya Allah, hari ini kami supaya diturunkanhujan dengan wasilah paman NabiMu, Abbas bin Abdul Muthalib. Turunkanlah hujan ya Allah”
Tidak lama setelah itu, awan hitam menggumpal dan mulai menghitam dan bersamaan dengan itu petir menyambar dan turunlah hujan yang sangat deras, sehingga mengakhiri kemarau dan paceklik yang panjang. Semua umat muslim bersuka ria dan setelah itu para sahabat menemui Abbas, memeluk dan menciumnya serta mengambil berkat dengannya.
Abbas dikaruniai usia yang cukup panjang yakni mencapai 88 tahun. Sepanjang usianya tersebut selalu dimanfaatkan untuk berdakwah dan berjihad di jalan Allah. Abbas wafat pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, pada tanggal 14 rajab dan dimakamkan di Baqi’[1].

[1] http://haulasyiah.wordpress.com/2008/06/06/abbas-bin-abdul-muthalib-wafat-32-h653-m/, http://id.wikipedia.org/wiki/Abbas_bin_Abdul-Muththalib, http://mypustaka.20m.com/AbbasMutalib.html, http://www.mail-archive.com/kmnu2000@yahoogroups.com/msg08470.html

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: