5. Ummu Aiman (Sang Pengasuh dan ibu kedua Nabi Saw)

April 15, 2010 zunlynadia

Nama aslinya adalah Barakah binti Tsa’labah bin Amru bin Hishan bin Malik bin Salmah bin Amru bin Nu’man al-Habasyiyah, tetapi kemudian lebih dikenal dengan ummu Aiman. Ummu Aiman adalah perempuan yang selalu menyertai Nabi Saw semenjak beliau dilahirkan hingga wafat. Jasa perempuan ini demikian besar terhadap Nabi Saw, karena dialah yang mengasuh Nabi semenjak beliau kecil. Banyak kenangan tertoreh ketika mengiringi hidup Nabi Saw. Tidak mengherankan jika Nabi Saw kemudian menyebutnya sebagai ibu kedua setelah ibu kandungnya Aminah binti Wahb.

Ummu Aiman adalah salah seorang budak Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Nabi Saw. Kemudian setelah Abdullah meninggal dunia, Rosulullah mewarisinya, suka dan duka kehidupan beliau banyak dirasakan bersama Ummu Aiman. Ummu Aiman adalah orang yang sangat mengetahui bagaimana penderitaan Nabi Saw setelah meninggalnya sang ayah Abdullah, dan kemudian disusul dengan meninggalnya sang ibunda Aminah binti wahb diusinya yang masih sangat kecil 6 tahun, usia yang seharusnya masih sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Sebelum ibunda Muhammad Saw meninggal dunia, Ummu Aimanlah yang menyertai perjalanan ibunda Aminah beserta Muhammad yang ingin mengunjungi keluarga sang ibu dari Bani ‘Adi bin An-Najjar di Madinah. Mereka tinggal selama sebulan lamanya di Madinah. Itulah saat-saat terakhir Nabi Saw bersama sang ibunda, karena dalam perjalanan pulang dari Madinah menuju ke Makkah ibunda Muhammad Aminah bintu Wahb merasakan sakit dan kemudian meninggal di Abwa’ sebuah kota kecil diantara Makkah dan Madinah. Kemudian Aminah dimakamkan di Abwa, sepeninggal Aminah Ummu Aiman bersama Rosulullah meneruskan perjalanan hingga Makkah.

Ummu Aiman melihat adanya keistimewaan dalam diri orang yang diasuhnya (Muhammad Saw) semenjak kecil. Ada satu peristiwa yang tidak pernah dilupakan oleh Ummu Aiman ketika tinggal di Madinah bersama Muhammad dan ibundanya Aminah. Pada saat itu orang-orang Yahudi yang ada di Madinah berkata:” “Dia adalah nabi umat ini dan ini adalah negeri hijrahnya.” Ucapan mereka itu sangat diingat benar oleh Ummu Aiman. Hingga apa yang dikatakan oleh orang Yahudi ini memang terbukti kebenarannya.

Kehadiran Ummu Aiman di sisi Rosulullah di setiap saat beliau membutuhkannya, menjadikannya seorang perempuan yang sangat dihormati dan disayangi oleh Rosulullah. Bahkan Rosulullah seringkali memanggilnya dengan sebutan ibu, Rosulullah juga pernah menyatakan bahwa Ummu Aiman adalah satu-satunya saudaranya yang masih tersisa. Kecintaan Rosulullah kepada pengasuhnya ini juga ditunjukkan dengan selalu berkunjungnya Rosulullah ke rumah Ummu Aiman secara rutin hingga di akhir hayat beliau. Dia menjadi perempuan yang mulia, yang banyak ikut merasakan penderitaan terutama setelah kenabian Nabi Saw. Bahkan perempuan ini juga turut serta dalam beberapa peperangan yang terjadi di masa Nabi Saw, seperti dalam perang Uhud dan perang Hunain.

Ketika Nabi Saw menikah dengan Khadijah Ummu Aiman juga turut ikut bersamanya. Kemudian nabi Muhammad membebaskannya, sehingga dia menjadi orang yang merdeka. Ketika Muhammad menerima wahyu dan diutus dengan tugas kenabiannya, Ummu Aiman termasuk golongan orang pertama yang menyatakan keimanannya terhadap ajaran Nabi Saw. Hal ini dilakukan bukan karena dia adalah bekas budak Nabi yang dimerdekakan, tetapi dia sendiri melihat bagaimana kemuliaan yang ada dalam diri Nabi Saw semenjak kecil, yang menjadi tanda-tanda bahwa beliau akan menjadi seorang yang hebat kelak dikemudian hari.

Ummu Aiman menikah dengan ‘Ubaid bin Zaid dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dari pernikahan ini, lahirlah Aiman bin ‘Ubaid radhiallahu ‘anhu yang kelak di kemudian hari juga turut terjun dalam peperangan bersama Rasulullah hingga menggapai syahid di medan pertempuran Hunain. Sepeninggal suaminya Ummu Aiman kembali menjalani hidupnya bersama putranya. Kemudian Rosulullah pernah berkata:” Barang siapa yang mau menikah dengan perempuan ahli surga, maka hendaknya dia mau menikah dengan Ummu Aiman”. Setelah itu datanglah Zaid bin Haritsah, budak yang juga dimerdekakan oleh Rosulullah dan kemudian dianggapnya sebagai anak sendiri melamar Ummu Aiman. Dari pernikahanya dengan Zaid bin Haritsah ini lahirlah Usamah bin Zaid, yang kelak juga menjadi seorang panglima perang yang memperkuat barisan pasukan Islam.

Ummu Aiman hidup mendampingi Zaid bin Haritsah hingga dia wafat sebagi syahid di medan perang, dalam perang mu’tah dalam rangka penaklukan Syam pada tahun kedelapan hijriyah.

Ketika Rosulullah Saw mengizinkan kaum muslimin untuk ikut berhijrah ke Madinah, Ummu Aiman termasuk perempuan yang ikut berhijrah dalam golongan pertama. Bersama kedua putri Rosulullah Fatimah Az-Zahra, Ummu Kultsum, serta Saudah binti Zam’ah. Dalam perjalanan hijrah tersebut, Ummu Aiman tidak membawa bekal apapun. Suatu ketika dia merasakan haus yang teramat sangat, tiba-tiba kemudian datanglah sebuah ember yang berisi air yang menjulur dari langit. Setelah itu Ummu Aiman meminumnya hingga dia tidak merasakan lagi dahaga. Semenjak peristiwa tersebut, Ummu Aiman berkata:”Aku tidak pernah merasakan haus lagi sesudah itu, padahal aku terbiasa merasakan haus pada siang hari pada saat berpuasa, tetapi aku tidak pernah merasakan haus semenjak aku meminum air tersebut, meskipun aku berpuasa di siang hari yang panas”.

Ummu Aiman adalah seorang yang cadel dalam berbicara sehingga ketika dia mengucapkan salam dia hanya mengucap “Salaamu’alaikum” meskipun maksudnya adalah “Assalamu’alaikum”. Tetapi Rosulullah Saw sangat memakluminya. Rosulullah sangat menyayangi Ummu Aiman, karenanya beliau selalu berkata dengan lemah lembut kepada pengasuhnya tersebut. Tidak hanya itu, Rosulullah juga biasa bercanda dengan pengasuhnya ini, sebagaimana dia bercanda dengan ibunya sendiri. Dalam suatu kisah ketika Rosulullah akan pergi, Ummu Aiman berkata: “Wahai Rosulullah Saw bawalah aku”, kemudian Rosulullah Saw menjawab:”Aku akan membawamu di atas anak Onta”, kemudian Ummu Aiman berkata:”Anak Onta tidak akan mampu membawaku lagipula aku tidak menyukainya”, Nabi Saw berkata:”Aku tidak akan membawamu kecuali dengan anak Onta”. Kisah diatas adalah satu bentuk canda Rosulullah kepada Ummu Aiman, meskipun demikian dalam keadaan bercanda Rosulullah selalu berkata dengan benar, ya..karena setiap onta adalah anak onta.

Ketika Rosulullah telah meninggal, Abu Bakar dan Umar bin Khattab sesekali mengunjunginya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rosulullah Saw kepadanya. Suatu ketika Abu Bakar dan Umar sedang mengunjungi Ummu Aiman, mereka mendapati perempuan ini menangis tersedu-sedu. Kemudian mereka berkata:”apa yang membuatmu menangis? Bukanlah apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ummu Aiman menjawab, “Aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus.” Mendengar penuturan Ummu Aiman, berlinanglah air mata Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma hingga keduanya pun menangis bersama Ummu Aiman.

Ummu Aiman sendiri wafat pada masa pemerintahan khalifah Ustman bin Affan, atau bertepatan dengan 20 hari meninggalnya Umar bin Khattab atau 50 bulan setelah wafatnya Rosulullah Saw. Ketika Umar bin Khattab meninggal Ummu Aiman berkata:”Pada hari ini Islam menjadi lemah”.

Begitulah sosok Ummu Aiman, seorang perempuan yang berasal dari kalangan budak, tetapi dia mempunyai kemuliaan dan derajad yang tinggi. Rosulullah telah mengangkatnya sebagai seorang yang mulia dan menjamin sebagai salah seorang ahli surga. Kebaikan, ketulusan, penderitaan serta perjuangannya dalam mengikuti ajaran Rosulullah telah membawanya menjadi perempuan yang terhormat dan mulia sehingga layak untuk diteladani.[1]


[1] http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=258, http://blog.re.or.id/ummu-aiman-budak-nabi-dan-pengasuhnya.htm, http://id.wikipedia.org/wiki/Barkah_binti_Tsa%E2%80%99labah, http://sabdaislam.wordpress.com/2009/12/01/031-ummu-aiman/

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: