4. Abu Bakar Al-Shiddiq (Sahabat yang selalu berkata benar)

April 15, 2010 zunlynadia

Abu Bakar Al-Shiddiq mempunyai nama asli Abdul ka’bah yang berarti hamba ka’bah, kemudian Nabi Saw mengubahnya dengan Abdullah yang berarti hamba Allah, yang kemudian Nabi Saw juga memberikan gelar kepadanya Al-Shiddiq (orang yang selalu berkata benar/jujur) sehingga dikenal dengan Abu Bakar Al-Shiddiq. Gelar Al-Shiddiq ini diberikan karena Abu Bakar selalu menjadi orang yang membenarkan segala apa yang diberitakan oleh Rosulullah.

Abu Bakar digambarkan sebagai orang yang berperawakan kurus, berwajah tampan, berkulit putih, bermata hitam, dan selalu mewarnai jenggotnya dengan innai ataupun katam, sehingga terlihat bagaimana keperkasaan dan kekuatannya. Pada masa jahiliyah Abu Bakar dikenal dengan sebutan ‘Atiq yang berarti ganteng dan gagah.

Abu Bakar dilahirkan dua tahun beberapa bulan lebih muda dari Nabi Saw. Lahir dari keluarga yang terhormat yang berasal dari kafilah yang disegani diantara kafilah-kafilah suku Quraisy di Makkah. Kafilahnya juga mempunyai posisi terhormat di kalangan masyarakat Mekkah. Disamping itu Abu Bakar juga hidup dengan kekayaan yang berlimpah, HIdupnya diliputi kemudahan dan kemewahan. Hal ini karena Abu Bakar adalah seorang yang sangat pandai dalam berdagang, dimana hal itu dilakukannya dengan penuh kejujuran. Sehingga dia dapat meraih kesuksesan dalam berbisnis. Meski hidup dalam kecukupan Abu Bakar adalah sosok yang lemah lembut, berpengetahuan luas, cerdas serta mudah bergaul dengan siapapun, sehingga ruang lingkup pergaulannya sangatlah luas. Abu Bakar juga mempunyai gaya hidup yang berbeda jauh dengan kebiasaan pemuda Makkah pada masa itu. Dia tidak pernah minum Khamr sejak zaman jahiliyah hingga datangnya agama Islam, sehingga dia dikenal sebagai seorang yang bersih, jauh dari segala hal yang membuat hidupnya ternoda dan sangat terjaga kehormatan dan muru’ahnya.

Pertemuan Abu Bakar dengan Muhammad, bermula ketika Muhammad bekerja dengan Khadijah. Hubungan keduanya sangat akrab, karena disamping umur keduanya tidak terpaut jauh, keduanya juga sama-sama mempunyai kesamaan pandangan. Abu Bakar juga sangat terpukau dengan sifat Muhammad yang terpuji, berbudi luhur dan bersih, sehingga pantas untuk diteladani. Keakraban keduanya semakin terjalin ketika Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, dimana dikabarkan bahwa Muhammad kemudian tinggal di rumah Khadijah yang bersebelahan dengan rumah Abu Bakar.

Ketika Muhammad diangkat sebagai Nabi dan menyampaikan kabar kenabiannya, Abu Bakar juga menjadi orang yang masuk dalam golongan orang-orang yang pertama masuk Islam. Tanpa keraguan Abu Bakar menyatakan keislamannya dan menerima semua ajakan menuju kebenaran tanpa harus berfikir panjang. Meski keislamannya berdampak pada rumah tangganya, dimana dia harus menceraikan istrinya karena istrinya belum mau menerima ajaran Islam, tetapi Abu Bakar tetap pada pendiriannya. Masuknya Abu Bakar ke dalam Islam memang mempunyai implikasi yang besar terhadap penyebaran Islam di masa awal. Hal ini karena Abu Bakar adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang, serta mempunyai pergaulan yang luas dan semangat dakwah yang tinggi. Sehingga tidak mengherankan jika masuknya Abu Bakar ke dalam Islam juga diikuti oleh beberapa orang sahabatnya yang mempunyai cakrawala berfikir dan mempunyai pandangan yang tidak jauh berbeda dengannya. Diantara sahabat-sahabat Abu Bakar yang mengikuti jejaknya untuk menerima ajaran Islam adalah Utsman bin Affan, ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Zubair bin al-Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan masih banyak lagi pemuda Makkah yang terpilih mengikuti langkahnya.

Masuknya Abu Bakar ke dalam Islam memang menjadi berkah tersendiri, jika Khadijah adalah orang yang pertama masuk Islam dari kalangan perempuan, Ali bin Abi Thalib menjadi orang yang pertama masuk Islam dari kalangan remaja, dan Zaid bin Haritsah menjadi orang yang pertama masuk Islam dari kalangan budak, maka Keislaman Abu Bakar ini mempunyai manfaat yang besar dibandingkan dengan keislaman orang yang termasuk golongan assabiqunal awwalun (orang yang perama-tama masuk Islam).

Abu Bakar menjadi mitra dakwah yang baik bagi Rosulullah. Abu Bakar adalah sahabat yang banyak mengeluarkan hartanya untuk kepentingan dakwah Islam. Abu Bakar banyak memerdekakan budak-budak yang disiksa karena keimanannya kepada Allah dan rosulnya. Pada suatu hari ketika Abu Bakar sedang berjalan-jalan, Abu Bakar melihat Bilal bin Rabah al-Habsyi, muadzin Rosulullah sedang disiksa oleh majikannya dengan sangat kejam, dipukul-pukul dan kemudian diletakkan ketengah-tengah udukan pasir panas di bawah terik matahari, kemudian sebuah batu besar ditimpakan kedadanya. Sang majikan memaksa Bilal untuk meninggal keyakinannya. Tidak ada rintinhan yang keluar dari mulut Bilal kecuali kata-kata “ahad, ahad (Tuhan yang Maha Esa)”. Kemudian Abu Bakar memanggil sang majikan dan membeli dengan harga yang ditentukan, dan Abu Bakar membebaskan Bilal.

Masih banyak budakbudak yang dibebaskan oleh Abu Bakar, karena sebagai seorang yang mempunyai harta berlebih, Abu Bakar memang mampu melakukan semua itu. Tidak hanya itu, Abu Bakar juga berkeyakinan bahwa manusia adalah saudara bagi manusia yang lainnya. Apalagi kaum budak adalah orang yang paling tersiksa pada saat itu. Jika orang-orang seperti Abu Bakar, meski dia mendapatkan kecaman ketika menyatakan dirinya masuk Islam dari orang-orang disekitarnya bahkan keluarganya, tetapi karena kedudukan yang tinggi, dia masih dilindungi oleh keluarganya. Hal yang berbeda dirasakan oleh para budak, karena tidak mempunyai kabilah permanent, sehingga mereka tidak bisa melindungi dirinya dari berbagai siksaan dari fihak lain. Karena budak-budak menjadi salah satu target utama dari kaum kafir Quraisy untuk menentang dan menghambat perkembangan Islam. Untuk itulah Abu Bakar, sebagai seorang yang merasa mempunyai kemampuan untuk membebaskan budak melakukan hal tersebut. Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar ini banyak dikritik oleh keluarganya terutama ayahnya, karena menganggap Abu Bakar banyak hambur-hamburkan uang hanya untuk membebaskan budak. Tetapi Abu Bakar tidak pernah mengindahkan ucapan ayahnya, justru dia malah membebaskan budak wanita dari bani Ma’mal seperti Zanirah dan al-Hindiyah putrinya sekalian. Begitulah Abu Bakar, dia selalu menjalankan apa yang diyakininya benar.

Abu Bakar tidak menjadi sahabat yang sangat dekat dengan Nabi Saw, tetapi juga menjadi orang yang selalu ada disamping beliau. Ketika Nabi sedang berada dalam bahaya seperti pada saat ‘Uqbah bin Abi Mu’aith hendak menewaskan Rosulullah dengan cara mencekiknya pada saat beliau sedang menjalankan sholat di depan ka’bah, Abu bakarlah yang menyelamatkan beliau. Disaat kaum musyrikin mencibir Rosulullah yang sedang bercerita tentang peristiwa isro’ mi’roj yang hanya memakan waktu semalam, Abu Bakar adalah orang langsung yang membenarkan tanpa ada keraguan sedikitpun. Ketika itu orang-orang muslim juga berada dalam kebimbangan, perjalanan ke negeri Syam yang hanya memakan waktu semalam adalah sesuatu yang sangat tidak rasional dan diluar nalar pada saat itu, karena biasanya perjalanan menuju Syam memakan waktu hingga satu bulan. Namun ketika Abu Bakar turut meyakinkannya dengan membenarkan apa yang dikatakan Rosulullah, apalagi ketika Rosul menceritakan tentang kondisi Baitul Maqdis, karena memang Abu Bakar sudah pernah pergi ke Baitul Maqdis, maka orang-orang muslim kemudian ikut meyakininya.

Abu Bakar juga satu-satunya orang yang menemaninya Rosulullah ketika berhijrah ke Madinah. Tidak ada seorangpun yang mengetahui kecuali kedua putri dan seorang putra Abu Bakar serta Ali bin Abi Thalib. Saat itu penindasan secara besar-besaran memang sedang menimpa kaum muslimin, sehingga Allah memerintahkan Nabi Saw untuk berhijrah ke Madinah.

Ketika Rosulullah Saw sedang sakit, Rosulullah menunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya menjadi imam dalam sholat jama’ah. Sebagian orang muslim meyakini bahwa penunjukan tersebut adalah indikasi bahwa Abu Bakar memang layak menjadi Khalifah sepeninggal Rosulullah. Wafatnya Rosulullah menjadikan duka yang amat mendalam bagi orang muslim. Bahkan sebagian mereka tidak percaya bahwa Nabi Saw telah wafat, termasuk Umar bin Khattab yang mengecam siapa saja yang menyatakan Nabi telah meninggal.

Melihat kondisi kaum muslimin yang demikian, kemudian Abu Bakar berkata di hadapan kaum muslim:”Wahai semua orang, dengarkanlah! Siapa saja yang menyembah Muhammad maka ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat. Tetapi siapa saja yang menyembah Allah, maka Allah masih hidup dan tidak akan pernah mati”, kemudian Abu Bakar membaca ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Mendengarkan pidato dari Abu Bakar tersebut, para sahabat termasuk Umar akhirnya menyadari bahwa Rosulullah Saw telah meninggal dan harus ada pemimpin pengganti sesudah Rosulullah.

Melalui berbagai perdebatan dan pembicaraan yang panjang diantara kaum muslimin, akhirnya Abu Bakar terpilih sebagai khalifah pengganti Rosulullah. Sebagai seorang Khalifah, Abu Bakar dikenal sebagai pemimpin yang arif dan terbuka terhadap segala kritikan. Dia juga mempunyai sikap tenggang rasa yang tinggi terutama setelah peperangan melawan kaum murtad.

Dalam masa kepemimpinannya Abu Bakar berhasil mempersatukan kembali komunitas muslim yang sempat terpecah. Beberapa suku Arab yang berasal dari Hijaz dan Nejed membangkang kepada khalifah baru dan sistem yang ada. Selain itu Abu Bakar juga berhasil mengembalikan kaum muslimin yang kembali murtad dan kembali kepada kepercayaan lamanya. Ada juga kaum muslimin yang meski tidak murtad tetapi enggan untuk membayar zakat. Suku-suku tersebut mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen dengan Nabi Muhammad SAW dan dengan kematiannya komitmennya tidak berlaku lagi. Persoalan-persoalan tersebut berhasil diselesaikan oleh Abu Bakar dengan baik. Sehingga Abu Bakar dapat mengendalikan kondisi internal kaum muslimin serta dapat menguasai Arab secara penuh dan mengembalikan persatuan bangsa Arab di bawah bendera Islam.

Setelah kondisi internal umat muslim dan bangsa Arab telah stabil. Abu Bakar memerintahkan untuk melakukan penaklukan Irak dan Suriah, dimana semuanya berjalan dengan sukses. Dalam masa kepemimpinannya Abu Bakar juga merintis penghimpunan al-Qur’an. Hal ini dilatarbelakangi oleh perang Yamamah, dimana banyak sekali para penghafal al-Qur’an yang meninggal. Atas saran dari Umar bin Khattab, Abu Bakar segera mengambil kebijakan untuk itu. Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk memimpin proyek tersebut.

Abu Bakar wafat dalam usia 63 tahun setelah mengalami sakit keras, sehingga dia hanya bisa duduk dan tidak bisa berjalan ataupun berdiri. Jasad Abu Bakar dimakamkan di di rumah Aishah di dekat masjid Nabawi, di samping makam Rasulullah SAW[1].


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakar_Al-Shiddiq, http://abuthalhah.wordpress.com/2009/05/18/abu-bakar-ash-shiddiq-khalifah-rasulullah-shallallahu-%E2%80%98alaihi-wasallam-yang-pertama/, Lihat juga Hilmi Ali Sya’ban, Ja’far bin Abi Thalib, Abu Bakar Al-Shiddiq, Shuhaib bin Sinan, (Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2004)

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: