33. Ja’far bin Abi Thalib

April 15, 2010 zunlynadia

Nama lengkapnya adalah Ja’far bin Abi Thalib bin Thalib Abd Manaf bin Abd al-Muthallib bin Hasyim bin Abd Manaf bin Qushai al-Quraisyi al-Hasyimi. Ja’far adalah putra ketiga Abu Thalib, paman Nabi Saw dan kakak kandung Ali bin Abi Thalib yang berusia sepuluh tahun lebih tua diatas Ali bin Thalib. Dia dikenal dengan julukan Ja’far al-Thayyar (Ja’far sebagai burung terbang).

Sosok Ja’far bin Abi Thalib digambarkan sebagai seorang yang bertubuh tinggi, besar serta kuat. Ja’far juga seorang yang mempunyai otak yang cerdas, dia adalah salah satu diantara 5 orang sahabat yang secara fisik mirip dengan Rosulullah Saw, kelima orang tersebut adalah Abu Sufyan bin al-Harist, Qatsam bin al-Abbas, Al-Saib bin Ubaid bin Abd Yazid, al-Hasan bin Abi Thalib, cucu Rosulullah Saw dari putrinya Fatimah al-Zahra, dan Ja’far bin Abi Thalib sendiri. Mengenai kemiripan Ja’far dengan Rosullah Saw, beliau sendiri pernah bersabda: “Engkau ini Ja’far bin Abi Thalib, orang yang paling mirip denganku, baik secara fisik maupun akhlak. Engkau juga berasal dari jajaran keluargaku”.

Ja’far bin Abi Thalib bersama istrinya Asma’ binti Umais termasuk golongan sahabat yang pertama masuk Islam. Semenjak kecil Ja’far diasuh oleh pamannya Abbas bin Abdul Muthalib dimana Abbas juga termasuk ke dalam golongan orang yang pertama masuk Islam. Dia diasuh oleh pamannya karena memang Abu Thalib adalah seorang yang miskin dan mempunyai anak yang banyak, karenanya dia merelakan beberapa putranya untuk diasuh oleh saudaranya, termasuk Ali bin Abi Thalib yang diasuh oleh Rosulullah Saw.

Ja’far bersama istrinya Asma turut serta dalam hijrah pertama kaum muslimin ke negeri Habasya. Negeri yang dipimpin oleh seorang raja Nasrani yang dikenal adil, sehingga sang raja bisa menerima kehadiran kaum muslimin dengan baik dan dengan tangan terbuka. Kepergian kaum muslimin ke negeri Habasya melahirkan kecemasan tersendiri dikalangan kaum musyrikin. Mereka takut jika kaum muslimin akan bertambah kuat setelah berada di sana. Karenanya kaum musyrikin mengutus beberapa orang untuk menghadap raja Negus dan membujuknya untuk menolak kedatangan kaum muslimin dan mengembalikan mereka ke negerinya. Utusan kaum kafir Quraisy ini juga membawa sejumlah hadiah yang akan diberikan kepada para pembesar dan pendeta Habasya agar niat mereka bisa dikabulkan. Pada saat yang sama utusan kaum muslimin yang salah satunya diwakili oleh Ja’far bin Abi Thalib juga sedang menghadap sang raja.

Pada saat raja Negus, dihadapkan dengan utusan Quraisy dan kaum muhajirin Islam, utusan Quraisy mengatakan tuduhan terhadap kaum muslimin bahwa kaum muslimin itu adalah orang-orang bodoh dan tolol yang meninggalkan agama nenek moyang mereka tetapi tidak pula hendak memasuki agama yang dianut oleh raja Negus dan bahkan datang dengan agama baru yang mereka ada-adakan sehingga utusan itu meminta mereka dikembalikan pada kaumnya. Negus pun bertanya kepada kaum muslimin, agama apakah yang menyebabkan mereka meninggalkan bangsanya tetapi juga tidak memandang perlu pula terhadap agamanya(Nasrani). Mendengar pertanyaan raja Habasya tersebut,
Ja’far pun bangkit berdiri untuk menunaikan tugas yang telah diamanahkan padanya oleh kawan-kawannya sesama Muhajirin yang mereka tetapkan dalam rapat yang diadakan sebelumnya. Dengan pandangan ramah penuh kecintaan kepada baginda raja yang telah baik menerima mereka, beliau berkata: “Wahai paduka yang mulia! Dahulu kami memang orang-orang jahil dan bodoh; kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan pekerjaan-pekerjaan keji, memutuskan silaturahmi, menyakiti tetangga dan orang yang berhampiran. Yang kuat waktu itu memakan yang lemah. Hingga datanglah masanya Allah mengirimkan Rasul-Nya kepada kami dari kalangan kami. Kami kenal asal-usulnyam kejujurannya, ketulusan dan kemuliaan jiwanya. Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah dan mengabdikan diri pada-Nya, dan agar membuang jauh-jauh apa yang pernah kami sembah bersama bapak-bapak kami dulu, berupa batu-batu dan berhala. Beliau menyuruh kami bicara benar, menunaikan amanah, menghubungkan silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga dan menahan diri dari menumpahkan darah yang dilarang Allah. Dilarangnya kami berbuat keji dan zina, mengeluarkan ucapan bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh berbuat jahat terhadp wanita yang baik-baik. Lalu kami benarkan ia dan kami beriman kepadanya, dan kami ikuti dengan taat apa yang disampaikannya dari Tuhannya. Lalu kami beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak kami persekutukan sedikitpun juga, dan kami haramkan apa yang dihalalkan-Nya untuk kami. Karenanya kaum kami memusuhi kami dan menggoda kami dari agama kami, agar kami kembali menyembah berhala lagi, dan kepada perbuatan-perbuatan jahat yang pernah kami lakukan dulu. Maka sewaktu mereka memaksa dan menganiaya kami, dan menggecet hidup kami dari agama kami, kami keluar hijrah ke negeri paduka, dengan harapan akan mendapatkan perlindungan paduka dan terhindar dari perbuatan mereka.”

Ja’far mengucapkan kata-kata yang mempesona itu laksana cahaya sehingga membangkitkan perasaan dan keharuan pada jiwa raja Negus. Ketika raja Negus menanyakan wahyu yang dibawa dari Rasulullah, Ja’far langsung membacakan bagian dari surat Maryam. Mendengarnya, sang rajapun langsung menangis, begitu pula dengan para pendeta dan pembesar lainnya. Selanjutnya Negus mengatakan kepada kaum Quraisy bahwa sesungguhnya yang dibaca tadi dan yang dibawa oleh Isa a.s. sama memancar dari satu pelita, karena itu utusan Quraisy dipersilahkan pergi dan beliau tidak akan menyerahkan kaum muslimin kepada mereka.

Tetapi keesokan harinya utusan kaum Quraisy itu datang kembali menghadap Raja Negus hendak memojokkan kaum muslimin telah mengucapkan suatu ucapan keji yang merendahkan kedudukan Isa sehingga hal itu cukup menggoncangkan raja Negus dan para pengikutnya. Raja Negus pun memanggil kaum muslimin kembali untuk menanyai bagaimana sebenarnya pandangan Agama Islam tentang Isa al-Masih.
Ja’far pun kemudian berdiri dan berkata: ”Kami akan mengatakan tentang Isa a.s , sesuai dengan keterangan yang dibawa Nabi kami Muhammad saw, bahwa
“Isa adalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya serta kalimah-Nya yang ditiupkan-Nya kepada Maryam dan ruh daripada-Nya…”. Mendengar ucapan Ja’far, raja Negus bertepuk tangan tanda setuju seraya mengumumkan bahwa memang begitulah yang dikatakan al-Masih tentang dirinya. Akhirnya raja Neguspun mempersilahkan kaum muslimin itu untuk tinggal bebas di negerinya dan akan melindungi mereka serta mengusir para utusan Quraisy dengan mengembalikan hadiah-hadiahnya.

Ja’far juga dikenal dengan julukan bapak orang miskin. Julukan ini diberikan kepadanya karena sikap kedermawanan dan kepeduliannya yang tinggi terhadap orang-orang miskin. Dia tidak pernah menggenggam harta bendanya sendirian, tetapi melibatkan kaum muslimin untuk ikut memilikinya. Dia sering menanggung makanan kaum fakir miskin dan sering menjenguk serta menjamin kebutuhan mereka.

Ja’far juga seorang yang terkenal dengan keberaniannya. Dia selalu mengikuti berbagai peperangan yang terjadi di masa Rosulullah Saw. Sehingga dia menjadi syahid dalam pertempuran Mu’tah. Dalam pertempuran pertama melawan bangsa Romawi tersebut, Ja’far menjadi panglima perang bersama Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawanah. Setelah Zaid tewas di medan peperangan, Ja’far kemudian mengambil bendera kepemimpinan. Dengan gagah berani dan pantang menyerah dia terus menghunuskan pedangnya kekanan dan ke kiri kearah pasukan lawan, hingga akhirnya salah satu tangannya terputus, kemudian dengan sigap, bendera kepemimpinan beralih di tangan kirinya hingga akhirnya tangan kirinyapun terputus, sebelum akhirnya dia tewas menjadi syahid.

Ketika rosulullah Saw mendengar Ja’far bin Abi Thalib dan beberapa sahabat tewas di medan perang, beliau datang ke rumah Ja’far dan menemui istri dan anak-anaknya. Saat itu istri Ja’far Asma sedang membuat adonan kue untuk menyambut kedatangan suaminya Ja’far dari medan peperangan. Anak-anakpun sudah dimandikan dengan rapi. Kemudian Rosulullah berkata kepada Asma: “Kemana anak-anakmu? Bawa kemari”. Setelah anak-anak dibawa kehadapan beliau, Rosulullah Saw mendekap mereka sambil menitikkan air mata. Suasana menjadi begitu mengharukan. Kemudian Asma bertanya kepada Rosulullah Saw: “Wahai Rosulullah, demi ayah ibuku, aku tidak tahu kenapa suasanya jadi menjadi begitu mengharukan. Apa yang membuat engkau menangus seperti ini?, jangan-jangan telah datang berita tentang Ja’far dan para sahabat yang lain dari medan pertempuran?.

Rosulullah Sawpun menjawab: “Betul wahai Asma, tabahkan hatimu, Ja’far bin Abi Thalib dan beberapa orang sahabat telah menjadi syahid”. Sontak Asmapun menangis tersedu-sedu. Rosulullahpun menasihatinya untuk selalu tabah dan berserah diri kepada Allah. Kemudian beberapa anggota keluarga Rosulullah seperti Fatimah putrinya juga segera datang dengan bercucuran airmata untuk menghibur dan mengucapkan bela sungkawa kepada Asma’.

Ja’far meninggal dalam usia 41 tahun. Dia menjadi syahid yang pasti akan diganjar surga oleh Allah karena telah berjuang dengan membawa panji-panji kebenaran[1].


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_bin_Abi_Thalib, http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/06/18/ja%E2%80%99far-bin-abi-thalib/, Hilmi Ali Sya’ban, Ibid, hlm 5-53

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

One Comment Add your own

  • 1. mauna  |  April 2, 2011 pukul 4:47 am

    Trims atas share pengetahuannya.salam kenal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: