32. Ammar bin Yasir

April 15, 2010 zunlynadia

Ammar bin Yasir adalah putra dari Yasir bin Amir dari seorang ibu Sumayyah binti Khayyat. Sebagai anak yang lahir dari keluarga yang fakir dan berasal dari kelas paling rendah dalam strata sosial masyarakat Arab masa itu, maka sejak kecil Ammar juga sudah sangat akrab dengan berbagai penderitaan. Sosok Ammar digambarkan sebagai seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru, dia adalah seorang yang amat pendiam dan tak suka banyak bicara

Setiap hari Rasulullah saw. berkunjung ke tempat disiksanya keluarga Yasir, mengagumi ketabahan dan kepahlawanannya, hati beliaupun hancur menyaksikan mereka menerima siksaan yang sangat menyakitkan. Ketika Rasulullah saw. mengunjungi mereka, ‘Ammar berkata kepada Rosulullah: “WahaiRasulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak”. Mendengar keluhan dari mulut Ammar Rasulullah saw berkata:
“Shabarlah, wahai Abal Yaqdhan, Shabarlah, wahai heluarga Yasir, tempat yang dijanjikan bagi halian ialah Surga.

Siksaan yang diami oleh ‘Ammar banyak dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat. Pernah suatu ketika Ammar disiksa sampai-sampai ia tak menyadari apa yang diucapkannya. Ammar juga pernah dibakar dengan api oleh orang-orang musyrik. Ketika itu Rosulullah Saw lewat di tempat tersebut dan melihat kejadian penyiksaan itu. Kemudian Rosulullah Saw memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda: “Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh ‘Ammar, sebagaimana dulu hamu juga sejuk dingin di tubuh Ibrahim…!”.

Pernah di hari yang lain, Ammar dipukul oleh tukang-tukang cambuk dengan sekuat tenaga mereka. Kemudian dibakar dengan besi yang sangat panas, disalib di atas pasir panas dengan ditindih batu laksana bara merah, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka.
Pada hari itu, ketika ia telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepadanya: “Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!”. Dengan kondisi yang tidak sadar Ammar mengikutinya tanpa mengetahui apa yang diucapkannya. Ketika ia siuman sebentar akibat dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya, segeralah dia memohon ampun atas apa yang telah diucapkannya.

Ketika itu Rasulullah saw. Sedang menemui Ammar dan mendapatinya ia sedang menangis, maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau dan bertanya kepada Ammar: “Orang-orang hafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu …?”, Ammarpun menjawab:
“Benar’: wahai RasuIullah’. Kemudian Rasulullah Saw tersenyum sambil berkata: “Jika mereka memaksaimu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi ….!”
Lalu Rasulullah Saw membacakan sebuah kepadanya sebuah ayat mulia, yakni:
“Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan ..”.(Q.S. 16 an-Nahl: 106). Mendengar sabda Rosulullah Saw Ammarpun merasakan ketenangan.

Setelah Rosulullah berhijrah di Madinah. Ammarpun mengikuti beliau berhijrah dan tinggal di Madinah. Ammar selalu aktif mengikuti berbagai peperangan baik pada masa Rosulullah Saw, maupun peperangan yang terjadi setelah wafatnya beliau. Mulai dari perang Badar, perang Uhud, perang Khondaq, perang tabuk dan lain sebagainya. Dia juga berada pada barisan terdepan ketika berperang melawan para murtaddin setelah wafatnya Rosulullah Saw, bahkan salah satu telinganya terpotong pada saat perang tersebut. Ammar juga berada dalam barisan pasukan muslim ketika terjadi peperangan besar kaum muslimin melawan bangsa Romawi dan Persia.

Ammar juga dikenal sebagai seorang yang zuhud dan tidak memikirkan tentang hal-hal keduniawian. Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, Ammar dipercaya sebagai Amir di kufah dengan Abdullah bin Mas’ud sebagai bendaharanya. Ketika sang khalifah mengangkat Ammar dan Abdullah bin Mas’ud, Umar mengirimkan surat kepada para penduduk Kufah yang isinya adalah sebagai berikut: “Saya kirim kepada tuan-tuan ‘Ammar bin Yasir sebagai Amir, dan Ibnu Mas’ud sebagai bendahara dan wazir… Keduanya adalah orang-orang pilihan, dari golongan sahabat Muhammad SAW, dan termasuk pahlawan-pahlawan Badar!”

Selama menjadi seorang Amir, Ammar tetaplah menjadi seorang yang biasa saja dan tidak rakus dengan jabatan dan harta. Meski sebagai seorang pemimpin ‘Ammar bin Yasir biasa membeli sayuran di pasar, lalu mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung dan membawanya pulang. Suatu ketika, salah seorang awam berkata (menghina) kepada ‘Ammar bin Yasir, “Hai, yang telinganya terpotong!” Mendengar omongan orang itu, sang amir yang tidak kelihatan keamirannya, berkata, “Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik karena ia ditimpa kecelakaan waktu perang fi sabilillah.”

Ammar adalah sahabat kesayangan Rosulullah Saw. Bahkan beliau sering membanggakan Ammar dihadapan para sahabat yang lain dengan berkata: “Diri ‘Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang pungungnya!”. Pernah suatu ketika terjadi selisih faham antara Khalid bin Walid dengan ‘Ammar, Rasullah bersabda:
“Siapa yang memusuhi ‘Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah; dan siapa yang membenci ‘Ammar, maka ia akan dibenci Allah!”. Mendengar perkataan Rosulullah Saw, maka tidak ada pilihan bagi Khalid bin Walid, pahlawan Islam itu, selain segera mendatangi ‘Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf.

Pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib, Ammar berada dibelakang sang khalifah untuk turut serta dalam perang shiffin. Padahal saat usia Ammar sudah tidak muda lagi yakni telah berumur 93 tahun, tetapi semangat Ammar masih sangat tinggi, sehingga diapun bertekad untuk turut serta dalam peperangan demi membela kebenaran. Akhirnya Ammarpun tewas menjadi syahid dalam perang shiffin tersebut. Begitulah sosok Ammar, seorang yang menggapai kemuliaan karena keteguhan dan kekuatannya dalam membela ajaran agamanya. Ajaran agama yang benar. Dia tidak takut kepada siapapun dan apapun kecuali kepada Allah. Dia selalu memasrahkan dirinya kepada sang Maha hidup, sehingga dia selalu siap berkorban seluruh jiwa dan raganya untuk menegakkan kebenaran[1].


[1] http://sabdaislam.wordpress.com/2009/12/01/045-ammar-bin-yasir/, http://www.perindu-syurga.co.cc/2009/12/ammar-bin-yasir.html, http://id.wikipedia.org/wiki/Ammar_bin_Yasir, http://tokohtokohislam.blogspot.com/2009/07/amar-bin-yasir-radhiallahu-anhu.html

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: