28. Abu Dzar Al-Ghiffari

April 15, 2010 zunlynadia

Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah bin Sakan, tetapi dia dikenal dengan sebutan Abu Dzar al-Ghiffari. Dia adalah sahabat Rosulullah yang berasal dari suku ghiffar dan termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam. Sebelum menjadi seorang muslim, Abu Dzar dikenal sebagai seorang perampok yang suka merampok para kabilah yang pedagang yang melewati padang pasir. Suku Ghiffar memang sudah dikenal sebagai binatang buas malam dan hantu kegelapan. Jika bertemu dengan mereka, jarang sekali orang yang selamat dari perampokan.

Meski dia adalah seorang perampk, tetapi hidayah Allah telah menghampiri diri Abu Dzar. Sebelum Rosulullah Saw diangkat menjadi utusan Allah dengan ajaran Islam, Abu Dzar memang sudah tidak percaya dengan berhala-berhala buatan yang menjadi sesembahan sebagian besar masyarakat jazirah Arab. Karenanya ketika dia mendengar akan hadirnya seorang yang membawa kebenaran. Diapun ingin pergi dan bertemu dengan beliau. Dengan langkah yang terhuyung karena lemah setelah melewati perjalanan yang cukup jauh. Perjalanan dari kampung halamannya ke Makkah memang merupakan perjalanan panjang dengan medan yang sulit ditambah dengan teriknya panas matahari serta udara padang pasir membuat siapapun akan merasa sangat kelelahan dan membuat kondisi fisik menjadi lemah. Setelah Abu Dzar telah sampai ke kota Makkah. Dia menyamar seolah-olah ia adalah seorang yang hendak melakukan thawaf keliling berhala-berhala besar di Kabah atau seolah-olah musafir yang sesat dalam perjalanan atau lebih tepat orang yang telah menempuh jarak amat jauh, yang memerlukan istirahat dan menambah perbekalan. karena seandainya orang-orang Mekah mengetahui kedatangannya untuk menemui Muhammad Saw dan mendengar keterangannya, pastilah mereka akan membunuhnya. Tetapi, lelaki ini tak perduli apakah akan dibunuh atau dianiaya asalkan ia dapat menjumpai laki-laki yang dicarinya dan menyatakan iman kepadanya. Kebenaran dan dakwah yang diberikan Muhammad SAW dapat memuaskan hatinya.

Dia terus melangkah sambil memasang telinga, dan setiap didengarnya orang memerkatakan Muhammad  SAW, ia pun mendekat dan menyimak dengan hati-hati; hingga dari cerita yang tersebar di sana-sini, diperolehnya petunjuk yang dapat menunjukkan tempat persembunyian Muhammad SAW, dan mempertemukannya dengan beliau.

Di pagi suatu hari ia pergi ke tempat itu, didapatinya Muhammad SAW sedang duduk seorang diri. Didekatinya Rasulullah, dan berkata, “Selamat pagi wahai kawan sebangsa!” “Alaikum salam, wahai sahabat”, jawab Rasulullah. Kemudian Abu Dzar berkata, “Bacakanlah kepadaku hasil gubahan Anda!” Mendengar hal itu Rosulullah menjawab: “Ia bukan syair hingga dapat digubah, tetapi adalah Quran yang mulia!”.

Kemudian Dibacakanlah oleh Rasulullah Saw ayat-ayat al-Qur’an, sedangkan Abu Dzar mendengarkan dengan penuh perhatian, hingga tidak berselang lama ia pun berseru, “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.” Setelah itu Rosulullah bertanya: “Anda dari mana, saudara sebangsa?”, “Dari Ghifar,” jawab Abu Dzar.

Akhirnya Abu Dzar telah resmi menyatakan dirinya sebagai seorang muslim. Setelah itu Rosulullah Saw menyuruhnya untuk kembali ke kampung halamannya hingga Rosulullah akan memberi perintah setelah dia sampai disana. Tetapi Abu Dzar berkata kepada beliau: “Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid!”

Sebagai seorang yang radikal dan revolusioner, dia kemudian pergi menuju masjidil haram dan menyerukan dengan sekeras-kerasnya, “Asyhadu Alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.” Pada saat itu Rosulullah masih berdakwah dengan sembunyi-sembunyi, sehingga teriakan Abu Dzar tersebut merupakan teriakan pertama tentang agama Islam yang menentang kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakkan telinga mereka. Kalimat itu diserukan oleh seorang perantau asing yang di Mekah tidak mempunyai bangsa, sanak keluarga, maupun pembela. Dan sebagai akibatnya, ia mendapat perlakuan dari mereka yang sebetulnya telah dimaklumi akan ditemuinya. Orang-orang musyrik mengepung dan memukulnya hingga rebah.

Berita mengenai peristiwa yang dialami Abu Dzar itu akhirnya sampai juga kepada paman Nabi Saw, Abbas bin Abdul Muthalib. Ia segera mendatangi tempat terjadinya peristiwa tersebut, dengan menggunakan diplomasi halus Abbas bin Abdul Muthalib berusaha membebaskannya dari cengkraman kaum kafir Quraisy, maka kemudian berkatalah Abbas kepada mereka, “Wahai kaum Quraisy! Anda semua adalah bangsa pedagang yang mau tak mau akan singgah di kampung Bani Ghifar. Dan, orang ini salah seorang warganya, bila ia bertindak akan dapat menghasut kaumnya untuk merampok kafilah-kafilahmu nanti!”

Mereka pun akhirnya menyadari hal itu, kemudian pergi meniggalkannya. Tetapi Abu Dzar memang seorang yang berani dan tidak mengenal rasa takut. Karenanya dia mengulang kejadian yang sama pada hari berikutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang dua orang wanita sedang thawaf keliling berhala-berhala Usaf dan Na-ilah sambil memohon kepadanya. Abu Dzar segera berdiri menghadangnya, lalu di hadapan mereka berhala-berhala itu dihina sejadi-jadinya. Kedua wanita itu memekik dan berteriak, hingga orang-orang gempar dan berdatangan laksana belalang, dan seperti yang pernah dialami sebelumnya oleh Abu Dzar, mereka lalu menghujani Abu Dzar dengan pukulan hingga tak sadarkan diri. Ketika ia siuman, maka yang diserunya tiada lain hanyalah, “Tiada Tuhan yang haq diibadahi, melainkan Allah, dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.”

Rasulullah SAW sangat memaklumi watak dan tabiat murid barunya yang ulung serta mempunyai keberaniannya yang menakjubkan dalam melawan kebathilan. Sayang saatnya belum tiba,  karenanya Rosulullah Saw kembali memerintahkannya untuk pulang, sampai akhirnya nanti Rosulullah memerintahkan untuk berdakwah secara terang-terangan.

Setelah itu, diapun kembali ke kampung halamannya dan ikut menyampaikan ajaran kebenaran dari Rosulullah Saw kepada orang-orang di sekitarnya. Diantara para muallaf yang masuk Islam melalui dia, adalah : Ali-al-Ghifari, Anis al-Ghifari, Ramlah al-Ghifariyah. Pernah suatu hari Abu Dzar berkata di hadapan banyak orang, “Ada tujuh
wasiat Rasulullah SAW yang selalu kupegang teguh. Aku disuruhnya agar
menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri dengan mereka. Dalam
hal harta, aku disuruhnya memandang ke bawah dan tidak ke atas (pemilik
harta dan kekuasaan). Aku disuruhnya agar tidak meminta pertolongan
dari orang lain. Aku disuruhnya mengatakan hal yang benar seberapa
besarpun resikonya. Aku disuruhnya agar tidak pernah takut membela agama
Allah. Dan aku disuruhnya agar memperbanyak menyebut  la haula walaa
quwwata illa billah’.

Abu Dzar selalu membawa pedang yang sangat tajam di pinggangnya yang
digunakannya untuk menebas musuh-musuh Islam. Ketika Rasulullah bersabda
padanya, “Maukah kamu kutunjukkan yang lebih baik dari pedangmu? (Yaitu)
Bersabarlah hingga kamu bertemu denganku di akhirat?” Sejak itulah
ia mengganti pedangnya dengan lidahnya yang ternyata lebih tajam dari
pedangnya.

Keberanian Abu Dzar juga ditunjukkan ketika dia berani mengkritik pemerintahan Ustman bin Affan. Ketika itu dia berteriak di jalanan, lembah, padang pasir dan sudut
kota menyampaikan protesnya kepada para penguasa yang rajin menumpuk
harta di masa kekhalifahan Ustman bin Affan. Setiap kali turun ke jalan,
keliling kota, ratusan orang mengikuti di belakangnya, dan ikut
me­­neriakkan kata-katanya yang menjadi panji yang sangat terkenal dan
sering diulang-ulang, “Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang
menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan api neraka,
kening dan pinggang mereka akan diseterika di hari kiamat!”

Teriakan-teriakannya telah menggetarkan seluruh penguasa di jazirah
Arab. Ketika para penguasa saat itu melarangnya, dengan lantang ia
berkata, “Demi Allah yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya! Sekiranya
tuan-tuan sekalian menaruh pedang diatas pundakku, sedang mulutku masih
sempat menyampaikan ucapan Rasulullah yang kudengar darinya, pastilah
akan kusampaikan sebelum tuan-tuan menebas batang leherku”. Sepak terjangnya menyebabkan penguasa tertinggi saat itu Ustman bin
Affan turun tangan untuk menengahi. Bahkan Ustman bin Affan menawarkan tempat
tinggal dan berbagai kenikmatan, tetapi Abu Dzar yang zuhud berkata, “aku
tidak butuh dunia kalian!”.

Abu Dzar memang tidak hanya seorang yang berani tetapi dia juga seorang yang zuhud dan tidak pernah berfikir tentang dunia. Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak ada di dunia ini orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar”, pada saat yang lain Rosulullah SAW juga pernah bersabda, “Abu Dzar – di antara umatku – memiliki sifat zuhud seperti Isa ibn Maryam”.

Kezuhudannya juga diperlihatkannya ketika Abu Dzar menjelang detik-detik kematiannya. Saat itu istrinya menangis. Abu Dzar kemudian bertanya, “Mengapa
engkau menangis wahai istriku?, sang istripun menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, engkau sekarat di hamparan padang pasir sedang aku tidak mempunyai kain
yang cukup untuk mengkafanimu dan tidak ada orang yang akan membantuku
menguburkanmu”. Namun akhirnya datanglah pertolongan dari Allah melalui serombongan musafir yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud ra (salah seorang sahabat Rasulullah SAW juga). Abdullah bin Mas’ud pun membantunya dan berkata,
“Benarlah ucapan Rasulullah!. Kamu berjalan sebatang kara, mati sebatang
kara, dan nantinya (di akhirat) dibangkitkan sebatang kara”.

Begitulah kisah seorang sahabat Nabi Saw  Abu Dzar, sosok yang selalu berani dalam menyerukan kebenaran yang diyakini. Dia tidak pernah takut dengan apapun bahkan nyawanya sendiri menjadi taruhannya karena dia yakin bahwa Allah akan selalu bersama dengan orang-orang yang berada di jalan kebenaran[1].


[1] http://www.majalahdzikir.com/index.php?option=com_content&task=view&id=547&Itemid=95, http://www.bimasislam.depag.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=176&catid=49:artikel&Itemid=92&Itemid, http://sunatullah.com/sahabat-nabi/abu-dzar-al-ghiffari.html, http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Dzar_Al-Ghifari

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: