22. Miqdad bin Aswad

April 15, 2010 zunlynadia

Nama lengkap miqdad bin Aswad adalah Al-Miqdad bin Al-Aswad bin Al-Kalbi. Al Aswad adalah nama ayah angkat dari Miqdad yang bernama Al-Aswad bin Yaghuts Al-Zuhri. Sedangkan ayah kandungnya Amr bin Tsa`labah bin Malik bin Rabiah bin Amir bin Mathud Al-Bahray. Ketika turun firman Allah yang melarang penisbatan nama seseorang kepada ayah angkatnya, maka Miqdad kemudian dipanggil dengan Miqdad bin Amr.

Miqdad bin Amr adalah salah satu sahabat Nabi yang termasuk golongan orang yang pertama menyatakan keIslamannya. Begitu dia menyatakan diri sebagai seorang muslim, dia langsung mengumumkan keislamannya secara terang-terangan. Sebagai seorang maula (golongan kelas orang Arab yang paling rendah), keislamannya secara terang-terangan menimbulkan reaksi yang keras dari orang-orang kafir Quraisy masa itu, sehingga dia tidak lepas dari siksaan kaum kafir.

Sosok Miqdad digambarkan sebagai seorang yang berperawakan tinggi. Kulitnya hitam, rambut dan janggutnya kekuning-kuningan. Miqdad dikenal sebagai seorang yang pemberani. Dia adalah satu-satunya sahabat Nabi Saw yang mengawal beliau dengan menunggang kuda. Keberaniannya dibuktikan ketika pasukan muslim hendak berangkat ke medan perang untuk pertama kalinya, yakni pada perang Badar. Dengan jumlah pasukan yang sedikit dan merupakan pengalaman pertama di medan perang, Rosulullah Saw menangkap adanya sedikit keraguan di mata para tentara muslim. Kemudian Rosulullah Saw meminta pendapat mereka dan para sahabat untuk mengetahui seberapa jauh kesiapan mereka di medan peperangan. Kepada mereka Rosulullah Saw memberikan dua pilihan antara menghadang kafilah dagang pimpinan Abu Sufyan atau berperang melawan pasukan Quraisy. Miqdad yang saat itu juga sebagai salah satu tentara muslim bersiap untuk ikut berperang, dia khawatir jika para pasukan masih berfikir seribu kali untuk maju ke medan perang, karenanya dia ingin berbicara untuk memberikan semangat pasukan muslim. Akan tetapi Abu Bakan Al-Shiddiq telah mendahuluinya berbicara. Abu Bakar berdiri sambil berkata: ”Ya Rasulullah, itu rombongan Quraisy dengan pasukannya. Mereka tidak beriman setelah kafir dan tidak akan merendah setelah perkasa.” Kemudian Rasulullah menyuruhnya duduk Setelah Abu Bakar berbicara, kemudian Miqdad pun ingin berbicara, akan tetapi Umar bin Khattab telah mendahuluinya berbicara yang kurang lebih sama dengan apa pendapat Abu Bakar. Setelah Umar selesai berbicara dan duduk kembali di tempatnya, barulah  kemudian Miqdad, seorang maula berkulit hitam berbicara dengan lantang dan tegas: “Ya Rasulullah, jangan ragu! Laksanakan apa yang dititahkan Allah. Kami akan bersamamu. Demi Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israel kepada Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah! Kami akan duduk menunggu di sini.’ Tetapi kami akan mengatakan kepadamu, ‘Pergilah bersama Tuhanmu dan berperanglah! Kami akan berperang di sampingmu.’ Demi yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami menerjuni lautan lumpur, kami akan patuh. Kami akan berjuang bersamamu dengan gagah berani hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kirmu, di bagian depan dan di bagian belakangmu, sampai Allah memberimu kemenangan.”

Mendengar ucapan dan semangat Miqdad, wajah Rosulullah Sawpun kemudian menjadi berseri-seri. Apa yang telah diucapkan oleh Miqdad telah mengobarkan semangat juang kaum muslimin. Sehingga salah satu dari tokoh anshoapun berkata:” “Ya Rasulullah, sungguh, kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan kami telah saksikan bahwa apa yang engkau bawa adalah benar. Kami juga sudah bersumpah setia kepadamu. Karena itu, majulah wahai utusan Allah, kami akan bersamamu. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke lautan, lalu engkau mengarungi lautan itu, tentu kami juga akan mengarunginya. Tidak seorang pun akan berpaling. Kami akan bersamamu berperang melawan musuh. Kami adalah orang-orang yang gagah berani dalam peperangan, tidak gentar menghadapi musuh. Allah akan memperlihatkan kepadamu kiprah kami dalam peperangan yang akan berkenan di hatimu. Karena itu, maju terus, kami akan bersamamu. Berkah Allah akan bersama kita.”

Akhirnya berangkatlah pasukan muslim ke medan Badar dengan semangat yang membara. Dalam perang Badar tersebut, Miqdad adalah salah satu dari tiga orang yang mengendarai kuda selain Martsad bin Abi Martsad, dan Zubair bin Awwam; sementara yang lain berjalan kaki atau menunggang unta. Sehingga pada akhirnya pasukan muslim membawa kemenangan dalam perang Badar.

Pernah suatu ketika Rosulullah Saw memerintahkan kepada Miqdad untuk menangkap Al-Nadhar bin Al-Harits, seorang kafir musyrik yang selalu mencemooh dan menghina Nabi Saw dan Miqdadpun akhirnya bisa menangkapnya. Atas peran itu Rasulullah mendoakannya, allahumma aghni al-Miqdad min fadlika. Doa Rosulullah Saw atas Miqdad ini kemudian dikalbulkan oleh Allah hingga pada akhirnya dia menjadi seorang yang kaya raya. Hal ini terbukti ketika Miqdad telah wafat, dia mewasiatkan ribuan dirham agar diberikan kepada Hasan dan Husein sebagai penghormatannya kepada Rasulullah wa Ahlulbaytihi.

Miqdad memang seorang muslim yang sangat taat dan cinta kepada Allah dan rosulNya. Kecintaannya kepada Rosulullah Saw telah menumbuhkan rasa tanggung jawab atas keselamatan Rasulullah. Oleh karenanya setiap dia mendengar ada kehebohan di Madinah, maka dengan secepat kilat Miqdad telah berada di ambang pintu rumah Rasulullah dengan menunggang kuda, sambil menghunus pedang atau tombaknya. Rosulullahpun amat menyayanginya, sehingga beliau pernah berkata: “Sungguh, Allah telah menyuruhku untuk mencintaimu, dan menyampaikan pesan-Nya padaku bahwa Ia mencintaimu”.

Meski dia berasal dari golongan Maula berkulit hitam yang dianggap sebagai kelas paling rendah dalam golongan status sosial masyarakat Arab, tetapi ketaqwaan dalam dirinya menjadikannya seorang yang mulia di sisi Allah. Karena memang ajaran Islam tidak pernah mengajarkan perbedaan status dan hanya ketaqwaanlah yang menjadikannya sebagai seorang muslim yang sebenarnya. Terkait dengan hal ini, dalam sebuah kisah disebutkan bahwa pada satu hari, dalam sebuah majelis ilmu Miqdad duduk berdekatan dengan Abdurahman bin Auf. Kemudian Abdurahman bin Auf bertanya kepada Miqdad: “Kenapa kamu belum kawin?” Miqdadpun menjawab, ”Kawinkan aku kepada anak perempuanmu.” Mendengar jawaban tersebut Abdurahman bin Auf sebagai seorang yang dikenal kaya rasa marah dan tesinggung karena merasa dilecehkan oleh seorang maula. Kejadian ini diketahui Rasulullah Saw. Kemudian Nabi SAW berkata, “Aku yang akan menikahkan Miqdad kepada Dhibah binti Zubair bin Abdul Muthalib.”

Menurut sejarah, Dhibah ini seorang syarifah (bangsawan) keturunan Bani Hasyim yang terkenal kecantikannya. Dalam hadits diriwayatkan bahwa akhirnya Rasulullah Saw mengawinkan Miqdad bersamaan dengan Ziad bin Haritsah, dengan akad yang berbunyi, “Aku nikahkan Miqdad kepada Dhibah binti Zubair bin Abdul Muthalib. Dan aku nikahkan Zaid bin Haritsah kepada Zainah untuk menegaskan kepada kalian bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Ukuran kemuliaan di dalam Islam bukan (karena) keturunannya, tapi ketaqwaannya.”

Apa yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan menikahkan Miqdad dan Dhibah binti Zubair telah meruntuhkan tradisi jahiliyah, dimana biasanya maula hanya kawin dengan maula, dan syarif yang hanya mau menikah dengan syarif. Tradisi itu oleh Rasulullah diubah menjadi maula kawin dengan syarifah, atau syarif dengan maulah. Sebuah tindakan yang menghilangkan adanya tindakan-tindakan diskriminatif serta sekat-sekat yang berdasarkan status sosial maupun ras.

Selain sebagai seorang yang pemberani, Miqdad juga dikenal sebagai seorang yang bijak dan mempunyai pola pikir yang amat dalam. Sehingga dia juga dikenal sebagai seorang folosof dan pemikir yang cerdas, pandangan-pandangannya senantiasa memancarkan cahaya hikmah. Pernah suatu ketika Rosulullah mengangkatnya sebagai seorang gubernur untuk suatu wilayah. Pada saat dia kembali dari tugasnya, Rosulullah Saw bertanya kepada Miqdad: “Bagaimana dengan jabatanmu?”, kemudian dia menjawab dengan jujur, “Engkau telah menjadikanku menganggap diri ini di atas rakyat sedang mereka di bawahku. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, mulai saat ini saya tidak akan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang.”

Begitulah sosok Miqdad, dia sangat menyadari jika menjadi seorang gubernur sangat rentan untuk dikuasai oleh kemegahan dan pujian. Meski dia telah menyadari adanya kelemahan tersebut, tetapi dia berjanji untuk tidak lagi menjadi seorang gubernur, dan dia menepati jantinya dengan menolak untuk menerima jabatan sebagai seorang pemimpin. karena jabatan sebagai amir itu dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan atau hampir menimbulkan fitnah bagi dirinya, sehingga lebih baik bagi dirinya untuk menjauhi.

Dalam sebuah kisah lain disebutkan bahwa pada suatu hari Miqdad keluar bersama rombongan tentara yang sewaktu-waktu dapat dikepung oleh musuh. Komandan tersebut mengeluarkan perintah agar tidak seorang pun mengembalakan hewan tunggangannya. Tetapi salah seorang anggota pasukan tidak mengetahui larangan tersebut hingga melanggarnya; dan sebagai akibatnya iapun menerima hukuman yang rupanya lebih besar daripada yang seharusnya, atau mungkin tidak usah sama sekali.

Miqdad yang kebetulan lewat di depan orang yang mendapat hukuman tersebut, melihatnya sedang menangis berteriak-teriak. Kemudian Miqdadpun bertanya dan orang tersebut akhirnya mengisahkan apa yang telah terjadi. Mendengar cerita tersebut, kemudian Miqdad meraih tangan orang itu dan dibawanya kehadapan amir atau komandan yang telah memberinya hukuman, lalu dibicarakan dengannya keadaan bawahannya itu, hingga akhirnya terungkaplah kesalahan dan kekeliruan amir itu. Maka kata Miqdad kepadanya, “Sekarang suruhlah ia membalas keterlanjuran anda dan berilah ia kesempatan untuk melakukan qishash!”. Akhirnya Sang amirpun tunduk dan bersedia, hanya saja si terhukum itu kemudian mau berlapang dada dan memberinya maaf.

Demikianlah kisah seorang maula berkulit hitam dan berkelas rendah yang kemudian dapat menggapai kemuliaannya baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia dia kemudian dikarunia balasan hingga akhirnya menjadi seorang yang kaya dan meninggal dengan meninggalkan kekayaan yang lalu dia sedekahkan, sedangkan di akhirat diapun mendapatkan kemuliaan karena ketaqwaannya. Miqdad akhirnya menemui ajalnya untuk menghadap sang Khalik di usianya yang ke 70 tahun[1].


[1] http://lateralbandung.wordpress.com/2007/08/06/miqdad-bin-aswad-%E2%80%9Cukuran-kemuliaan-di-dalam-islam-bukan-karena-keturunannya-tapi-ketaqwaannya%E2%80%9D/, http://74.125.113.132/search?q=cache:kG46PjoCcqsJ:muchlisin.blogspot.com/2009/03/miqdad-bin-amr.html+Miqdad+bin+Aswad&cd=8&hl=id&ct=clnk&gl=id, http://sunatullah.com/sahabat-nabi/miqdad-bin-%E2%80%98amr.html

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: