21. Abdullah bin Zubair

April 15, 2010 zunlynadia

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin az-Zubair bin al-Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bi Qushai. Abdullah bin Zubair atau dikenal dengan ibnu Zubair adalah putra Zubair bin Awwam, salah satu sahabat Nabi yang sangat setia dan temasuk ke dalam golongan sepuluh sahabat yang dikabarkan masuk surga dan ibunya bernama Asma binti Abu Bakar Al-Shiddiq. Dia masih keponakan dari istri pertama Rosulullah Saw, Khadijah dan merupakan keponakan dari istri Rosulullah Aisyah jika dilihat dari jalur ibunya. Ia termasuk salah seorang dari “Empat ‘Ibadillah” (empat orang yang bernama Abdullah) dari 30 orang lebih sahabat Nabi yang dikenal menghafal seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, Tiga orang ‘Ibadillah lainnya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar bin Khatab, dan Abdullah bin Amr bin As.

Kelahiran Abdullah bin Zubair merupakan kelahiran yang ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin di Madinah. Hal ini karena konon katanya orang-orang Yahudi mengutuk kaum muslimin agar tidak melahirkan bayi. Sehingga lahirnya Abdullah bin Zubair sebagai bayi pertama kaum muslimin setelah hijrah ke Madinah disambut dengan sangat gembira.

Mengenai kelahirannya, Asma (ibunya) bercerita bahwa suatu hari ketika sedang hamil tua keluar rumah. kira-kira kandungan itu sudah berumur sembilan bulan. Ibunya pergi ke Madinah dan berhenti di Quba ketika dirinya merasa bayinya hendak keluar. Firasatnya itu betul. Tak lama setelah berhenti sejenak di Quba, bayinya lahir. Setelah ibunya membawa bayi itu ke tempat Rasulullah agar didoakan. Rasulullah pun mengunyah kurma hingga lembut kemudian menyuapkan kepada bayi itu sembari berdo’a. Jadi pertama-pertama yang masuk di tenggorokan bayi itu adalah suapan Rasulullah. Bayi itu diberi nama Abdullah.

Masa kecil Abdullah bin Zubair banyak dihabiskan bersama Rosulullah selama 8 tahun 4 bulan dia bergaul dan dekat dengan Rosulullah sebelum kemudian beliau wafat kehadapan Ilahi. Bahkan Aisyah bibi ibnu Zubair telah menganggapnya seolah sebagai anaknya sendiri. Sehingga masa kecil Ibnu Zubair banyak dididik oleh Rosulullah. Karenanya dia juga menjadi salah satu sahabat Nabi Saw yang meriwayatkan hadis.

Ibnu Zubair tumbuh menjadi sosok yang sangat pemberani, hal ini tidak lepas dari didikan langsung Rosulullah dan ayahnya Zubair. Di usianya yang masih cukup belia yakni 12 tahun, dia sudah aktif dalam mengikuti berbagai peperangan. Pada saat terjadi perang Yarmuk di masa pemerintahan Umar bin Khattab, Ibnu Zubair ikut ayahnya berperang, dia dibonceng dibelakang ayahnya yang mengendarai kuda. Pada masa pemerintahan khalifah Ustman bin Affan, Ibnu Zubair juga mengikuti perang dalam rangka penaklukan Afrika, Andalusia dan Konstatinopel melawan orang-orang Byzantium. Dalam peperangan menaklukkan Afrika, jumlah pasukan kaum Muslimin hanya sekitar 20.000 orang, sedangkan tentara musuh mencapai 100.000 pasukan. Abdullah bin Zubair melihat kekuatan musuh terletak pada rajanya. Karenanya, ia berseru kepada pasukannya, “Lindungi aku,” dengan maksud untuk menerobos ke arah raja mereka dan menyerangnya dengan pedang. Kemudian Abdullah berhasil membunuhnya sehingga musuh pun berhasil dikalahkan.
Semua peristiwa tersebut mengundang kekaguman penduduk Madinah kepadanya.

Dalam sebuah kisah lain juga disebutkan bahwa suatu hari Umar bin Khatthab lewat di jalan, anak-anak yang melihat kehadiran Umar bin Khattab berlari ketakutan hanya Ibnu Zubair yang tetap di tempat dan tidak berlari. Maka, Umar pun bertanya, “Hai nak, mengapa engkau tidak lari seperti mereka?”, kemudia ia menjawab, “Mengapa aku harus Iari. Bukankah jalan ini tidak sempit sehingga aku harus memberikan jalan untukmu dan aku pun tidak berbuat salah?”. Mendengar jawaban iIbnu Zubair, Umar bin Khatthabpun berkata, ”Jika engkau telah besar, ia akan menjadi orang besar.”

Selain sebagai seorang yang pemberani dan ksatria Ibnu Zubair juga dikenal sebagai seorang yang ahli beribadah. Ia juga sering menangis karena takut kepada Allah. Dia juga seorang yang rajin sholat malam dan berpuasa di siang hari. Jika sedang sholat, Ibnu Zubair ibarat kayu yang ditancapkan dan tidak bergerak karena khusu’nya. Pada saat hendak melakukan shalat, Abdullah bin Zubair pun melupakan segala sesuatu, dan hanya memikirkan shalat, sehingga, andaikata burung-burung dara hinggap di punggungnya, pada saat sedang melakukan shalat, maka dia tidak merasakannya. Andaikata ada anak panah meluncur di antara jenggot dan dadanya, ia juga tidak akan merasakannya. Dalam shalat, ia tidak akan terkejut, apalagi ketakutan karena sesuatu di luar shalat. Sehingga tidak mengherankan jika di kalangan para sahabat dia dijuluki al-hammam al-masjid yang berarti merpati masjid.

Di masa Khalifah Usman bin Affan, ia duduk sebagai anggota panitia yang bertugas menyusun Al-Qur’an. Sedangkan pada masa Khalifah Ali bin Abi Talib, ia bersama Aisyah mengatur langkah untuk menantang Khalifah tersebut untuk menuntut penyelesaian kasus pembunuhan Khalifah Usman. Gerakan ini didukung oleh beberapa tokoh, seperti Ja’la bin Umayyah dari Yaman, Abdullah bin Amr Basra, Sa’ad bin As, dan Wahid bin Uqbah (pemuka kalangan Umayyah di Hedzjaz) dan beberapa sahabat senior (Talhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam), dan ayahnya. Akhirnya perselisihan tersebut diakhiri dengan meletusnya perang jamal yang menewaskan banyak kaum muslimin yakni sekitar kurang lebih dua ribu kaum muslimin termasuk kematian ayahnya Zubair bin Awwam.

Pada masa pemerintahan dinasti Umayyah. Ibnu Zubair juga menjadi salah satu penentang sang khalifah. Dia tidak mengakui penunjukan Yazid sebagai khalifah. Ia memprotes Yazid, putra Mu’awiyah, yang naik menjadi khalifah atas penunjukan ayahnya setelah ayahnya wafat. Setelah diangkat sebagai khalifah, Yazid memerintahkan walinya di Madinah untuk memaksa Ibnu Zubair bersama Husein bin Ali (cucu Nabi) dan Abdullah bin Umar agar menyatakan kesetiaan (berbai’at) kepadanya. Tetapi permintaan tersebut ditolak Ibnu Zubair dan Husein, sehingga mereka tetap membangkang Ketidaksetujuannya berbaiat dengan Yazid akhirnya berpengaruh luas di kalangan kaum muslimin sehingga melahirkan pemberontakan. Karena alas an keamanan, maka Ibnu Zubair dan Husein bin Ali akhirnya pindah ke Makkah.

Setelah kematian Husain bin Ali secara menyedihkan pada Pertempuran yang sangat tidak berimbang di Karbala, Ibnu Zubair kembali ke Hejaz, dimana ia menyatakan dirinya sebagai khalifah yang sebenarnya, dan dia mulai membentuk pasukan. Secepatnya ia mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan mengirim seorang gubernur ke Kufah. Segera, Ibnu Zubair memantapkan keuasaannya di Iraq, Selatan Arabia dan bagian terbesar Syria, serta sebagian Mesir. Ibnu Zubair memperoleh keberuntungan yang besar karena ketidakpuasan rakyat terhadap kekuasaan Bani Umayyah. Salah seorang pendukungnya adalah Muslim bin Shihab, ayah dari Ibnu Shihab al-Zuhri yang kemudian menjadi cendekiawan muslim terkenal.

Khalifah dari bani Umayyah Yazid mencoba untuk menghentikan pemberontakan Ibnu Zubair dengan menyerbu Mekkah pada tahun 64 H, ia mengirim pasukan yang dipimpin oleh Husain bin Numair. Pada saat pengepungan Mekkah, Husain menggunakan ketapel, dimana peluru ketapel ini pernah menghancurkan Ka’bah. Tetapi karena mendengar kematian Yazid yang tiba-tiba, maka Husain bin Numair menghentikan pengepungan tersebut dan kembali ke Damaskus. Ibnu Zubair menjadi khalifah hingga tahun 9 Hijriyah. Beberapa prestasi yang dicatat oleh sejarah dalam masa kepemimpinannya adalah pembaharuan dan renovasi Ka’bah dengan tidak membuang tiang-tiang penting yang diletakkan nabi Ibrahim. Prestasi lain yaitu beliau orang pertama yang membuat mata uang dirham berbentuk bulat. Uang dirham itu di salah satu sisinya bertulis Muhammad Rasulullah. Dan pada sisi lainnya, “Amrullah bil fawa’ wal adl.”

Selama beberapa tahun kekuasaan Islam terbagi menjadi dua dengan dua orang khalifah. Sementara perang saudara di dalam dinasti Umayyah dapat di akhiri dan diambil alih oleh Marwan, pemerintahan Ibnu Zubair pun mengalami pemberontakan dari kaum khawarij di Iraq, hal ini mengakibatkan kekuasaan Ibnu Zubair berakhir di Hejaz.

Kekalahan terakhir Ibnu Zubair terjadi di ketika kekhalifahan Umayyah dipegang oleh Abdul-Malik, dimana Abdul-Malik mengirim Hajjaj bin Yusuf untuk menggabungkan kekaisaran Islam. Khalifah Abdul Malik adalah putra dari Marwan  bin Hakam. Hajjaj bin Yusuf diberi tugas untuk menyelesaikan perlawanan Ibnu Zubair yang menantang beberapa khalifah mulai dari kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Yazid,  Marwan bin Hakam, sampai dengan khalifah Abdul Malik.

Pasukan Hajjaj melakukan pengepungan terhadap kota Makkah selama kurang lebih depalan bulan 17 hari. Selama itu pasukan Hajjaj terus melemparkan bola api melalui ketapel ke kota Makkah. Bahkan penutup ka’bah dan penyangganya ikut terbakar terkena bola api. Pengepungan dan penyerangan yang terus-menerus tersebut membuat Ibnu Zubair kewalahan, tetapi dia masih tetap bertahan meskipun banyak dari pengikut bahkan putra-putranya mulai menyerahkan diri kepada Hajjaj. Disaat-saat yang kritis, Ibnu Zubair kemudian menemui ibunya Asma binti Abu Bakar, pertemuan dengan sang ibu mendorongnya dengan memberikan semangat juang. Padahal sebelumnya, ia sempat menyatakan kepada ibunya rasa khawatir, bahwa mayatnya akan diperlakukan secara sadis oleh para pembunuhnya kelak. Asma menasihatinya agar tetap bertahan sampai kematian datang menjemput dengan berkata, “Demi Allah, tebasan sebilah pedang demi kemuliaan adalah jauh lebih balk daripada cambukan sepotong cemeti dalam kehinaan.” Abdullah bin Zubair menjawab perkataan ibunya, “Wahai ibuku, aku takut bila mereka telah membunuhku, mereka akan menjadikan jasadku sebagai contoh di tengah-tengah penduduk.” Lalu Asma berkata dengan perkataannya yang sangat masyhur, “Adakah kambing yang telah disembelih akan merasakan sakitnya dikuliti?” Maka, Abdullah bin Zubair pun lalu pergi menghadapi Hajaj sampai menemui ajalnya sebagai syahid. Setelah itu, Hajjaj bin Yusuf mendatangi Asma binti Abu Bakar menanyakan tentang hajatnya. Namun, dengan penuh keberanian Asma menjawab, ‘`Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa akan muncul dari bani Tsagif seorang pendusta dan seorang yang kejam. Adapun pendusta itu kami telah mengetahuinya, sedangkan seseorang yang kejam dan sewenang-wenang itu aku tidak menemukannya selain dirimu.”

Akhirnya Ibnu Zubair tewas dalam pertempuran tesebut badannya kemudian disalibkan. Atas perintah sang khalifah, mayat Ibnu Zubair kemudian diserahkan kepada ibunya dan kemudian dimakamkan. Ibnu Zubair meninggal pada tahun 94 H, sementara sang ibu Asma binti Abu Bakar yang berusia 100 tahun terus menangisi kepergian sampai akhirnya menyusul ke pangkuan ilahi tidak lama setelah putra tercintanya meninggal[1].


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Zubair, http://awie-doank.blogspot.com/2007/08/abdullah-bin-zubair-bin-al-awwam.html, http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=425330410601, http://mustafit.wordpress.com/peluang-investasi-2/sahabat-sahabiyah/abdullah-bin-zubair/,

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

One Comment Add your own

  • 1. Anthy  |  November 26, 2010 pukul 2:23 pm

    Kisahx bgs buangat,…semangat dr kisah abdullah bin zubair ini seakan hdp dlm jw pembc.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: