2. Zaid bin Haristah (Sang panglima kesayangan Nabi)

April 15, 2010 zunlynadia

Zaid adalah salah satu orang yang sangat dekat dengan Rosulullah, seorang yang bukan berasal dari golongan bangsawan dan berparas buruk. Tetapi meski demikian Zaid bin Haritsah adalah termasuk salah satu sahabat yang sangat dekat dengan Nabi dan ikut berjuang dalam menyebarkan ajaran Allah pada awal perkembangan Islam, bahkan Zaid dikenal sebagai panglima yang sangat tangguh yang memimpin berbagai peperangan dan senantiasa pulang membawa panji-panji kemenangan.

Kisah hidup Zaid pernah membawanya menjadi seorang budak. Hal ini berawal ketika ibunya Su’di binti Tsa’labah ingin membawanya untuk berziarah kerumah salah seorang keluarganya di bani Ma’an. Dengan membawa bekal yang cukup berangkatlah Zaid kecil dan ibunya bersama rombongan kafilah menuju pemukiman bani Ma’an. Perjalanan ini memakan waktu selama berhari-hari. Sementara ayah Zaid Haritsah tidak menyertai dalam perjalanan ini. Meski dengan berat hati tetap Haristah melepaskan dua orang yang amat dicintainya, meski ada keinginan besar untuk menyertai perjalanan istri dan anaknya tetapi apa daya, Haristah tidak dapat turut serta, hal ini karena Haritsah sendiri harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tidak mungkin ditinggalkannya.

Akhirnya perjalanan panjang dan melelahkan itu membawa keduanya di kampung Ma’an, namun ketika mereka tinggal disana, terjadi musibah yang membuat duka mendalam kedua orang tua Zaid. Kampung Ma’an tiba-tiba diserang oleh kelompok Badui yang memusuhi mereka mejadikan kampung tersebut porak poranda. Tidak hanya itu seluruh harta benda dikuras habis bahkan beberapa orang menjadi tawanan termasuk si kecil Zaid bin Haritsah.

Dengan perasaan terpukul, pulanglah ibunda Zaid Su’di binti Tsa’labah menemui suaminya dan mencerikan semua peristiwa yang telah menimpanya. Setelah peristiwa yang memilukan tersebut, Haritsah beserta istrinya selalu mencari tahu tentang keberadaan Zaid, dengan berjalan mengitari padang pasir, menjelajahi kampung-kampung hingga bertanya kepada setiap kafilah yang lewat. Namun tidak pernah ada jawaban mengenai keberadaan Zaid.

Sementara Zaid sendiri, yang menjadi tawanan para perampok, dibawa ke sebuah pasar oleh kelompok badui untuk dijual bersama dengan harta hasil rampokannya. Kemudian Zaid dibeli oleh seorang Quraisy yang bernama Hakim bin Huzam bin Khuwailid yang kemudian menghadiahkan kepada bibinya Khadijah binti Khuwailid yang pada saat itu telah menjadi istri Muhammad.

Kemudian Khadijah menyerahkan Zaid kepada Muhammad sebagai pelayannya. Demikianlah pertemuan Zaid dengan Muhammad. Karenanya Zaid termasuk orang yang dididik secara langsung oleh Rosulullah semenjak dia masih kecil. Rosulullah sendiri mendidik dan mengasuh Zaid dengan penuh kasih sayang dan memperlakukannya sebagai anaknya sendiri, sehingga Zaid sering dipanggil dengan Zaid bin Muhammad. Sebagai seorang yang mulia dan penuh kasih sayang, Muhammad juga memerdekakan Zaid.

Pada suatu hari, Zaid bertemu dengan seseorang yang berasal dari desa tempat ayahnya Haritsh tinggal. Pertemuan tersebut menjadikan ayah Zaid Haritsah mengetahui dimana keberadaan Zaid. Kemudian dengan perasaan yang sangat gembira, berangkatlah Haritsah menuju Makkah untuk menemui Zaid ditemani dengan pamannya. Setelah bertemu dengan Muhammad, Haritsah berkata:”Hai Muhammad, engkau adalah orang yang mulia yang suka membebaskan orang yang tertindas dan memberikan makan para tawanan, sudikah kiranya engkau memberikan Zaid kepadaku? Maka aku akan memberikanmu uang sebagai tebusan”

Kemudian Muhammad menjawab: “Panggillah Zaid kemari, biarkanlah dia bebas untuk memilih dengan siapa dia akan tinggal. Jika dia akan memilihmu, maka saya akan merelakannya pergi bersamamu tanpa uang tebusan, dan begitu pula sebaliknya”

Mendengar perkataan Nabi, Zaid sangat bergembira dan tanpa berpikir panjang Zaid berkata kepada Muhammad:”aku akan memilih tinggal bersamamu  karena engkau ayahku dan juga pamanku”.

Mendengar perkataan Zaid kemudian Nabi memeluk dan mengusapnya dengan kasih sayang hingga air matanya menetes. Kemudian Nabi membawanya berkeliling ka’bah dan berkata di tengah-tengah kerumunan orang-orang Quraish: “Saksikanlah mulai saat ini Zaid adalah anakku dan dia dia berhak menjadi ahli waris dariku dan aku berhak menjadi ahli waris darinya”. Zaid sendiri merasa sangat berbahagia karena telah diakui sebagai anak Muhammad, seorang yang dikenal mulia dan berasal dari suku Quraisy. Sementara ayah Zaid Haristah, meski telah lama merindukan kehadiran putranya, dia merasa pasrah dan lebih tenang karena Zaid diasuh dan berada di tengah keluarga yang sangat baik dan mulia.

Setelah Muhammad diangkat menjadi Rosul dan menjalankan tugas kenabiannya, Zaid termasuk golongan orang yang pertama menyatakan dirinya mengikuti ajaran Rosulullah. Zaid juga menjadi orang yang selalu mengawal Rosulullah dalam setiap dakwahnya. Rosulullahpun sangat mencintainya sebagai seorang yang jujur, berjiwa besar, serta terpelihara lidah dan tangannya. Zaid juga merupakan panglima yang gagah berani, yang mempunyai keahlian terbaik dalam memanah. Sehingga setiap peperangan yang diikuti oleh Zaid, sudah dipastikan bahwa ia akan menjadi panglimanya. Diantara peperangan yang pernah diikuti oleh Zaid adalah perang Badr, perang Uhud, perang Khandak, perang Hunain, penaklukan Khaibar dan lain sebagainya.

Setelah Rosulullah mengizinkan para sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah, Zaidpun turut serta berhijrah. Kemudian Rosul menikahkannya dengan ummu Aiman yang kemudian melahirkan seorang putra bernama Usamah bin Zaid. Dalam sejarahnya, sebagaimana ayahnya, Usamah juga tumbuh menjadi seorang pemberani, bahkan Rosulullah pernah menunjuknya sebagai panglima di usianya yang ke 17 tahun.

Sebagai seorang panglima, Zaid akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang syuhada’ di sebuah pertempura dalam perang mu’tah. Perang Mu’tah adalah peperangan pertama kaum muslimin melawan bangsa adidaya di masa itu, yakni bangsa Romawi. Perang ini dilakukan pada tahun ke delapan hijriyah. Pada saat itu bangsa Romawi dipimpin oleh seorang yang bernama Heraklius. Peperangan ini dipicu oleh terbunuhnya salah seorang utusan Nabi Saw yang bernama Harist bin Umair oleh salah satu gubernur di bawah bangsa Romawi di Syam.

Dalam perang mu’tah ini Rosulullah menunjuk tiga orang panglima yakni Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawanah. Rosulullah berkata pada saat melepas pasukan ini ke nedan perang: “Kalian harus tunduk kepada Zaid bin Harits sebagai pimpinan, seandainya ia gugur pimpinan dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib, dan senadainya Ja’far gugur pula, maka tempatnya diisi oleh Abdullah bin Rawabah.”

Pertempuran ini berlangsung sangat sengit, denga jumlah pasukan yang sangat tidak berimbang, pasukan muslim terdiri atas 3000 pasukan, sementara pasukan Romawi terdiri atas 200 ribu pasukan. Meski demikian, jumlah korban tewas sebagai syuhada di kalangan orang muslim tercatat hanya 12 orang termasuk di dalamnya ketiga panglima perang yang meninggal secara berurutan sesuai dengan amanah yang diberikan oleh Rosulullah, mulai dari Zaid bin Haritsah, yang setelah meninggal bendera kepemimpinan beralih pada Ja’far bin Abi Thalib, kemudian Ja’farpun akhirnya gugur sebagai syuhada dengan 90 luka di badannya, setelah Ja’far gugur bendera kepemimpinanpun beralih pada Abdullah bin Rawanah yang akhirnya juga menghembuskan nafas terakhirnya di medan pertempuran. Melihat bendera kepemimpinan yang tidak bertuan tersebut, akhirnya Tsabit bin Arqam mengambil inisiatif untuk mengambil bendera tersebut dan para sahabat menunjuk Khalid bin Walid sebagai panglimanya menggantikan ketiga panglima yang telah gugur sebelumnya. Demikian hingga akhirnya usai peperangan Khalid bin Walid menjadi panglima perang terakhir dalam perang mu’tah yang merugikan kaum Romawi dengan banyaknya korban yang tewas di medan peperangan.

Perang mu’tah mengakhiri hidup Zaid bin Haritsah sebagai seorang syuhada dengan imbalan surga Allah yang tentunya terbuka menanti kehadiran Zaid bin Haritsah[1].


[1]http://risalahrasul.wordpress.com/2008/05/29/zaid-bin Haritsah/,http://id.wikipedia.org/wiki/Zaid_bin_Haritsah,

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: