18. Abdurrahman bin Auf

April 15, 2010 zunlynadia

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abd Auf  bin Abd bin al-Harist bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah al-Quraisyi al-Zuhri. Abdurrahman bin Auf berasal dari Bani Zuhrah. Seringkali dipanggil dengan Abu Muhammad. Abdurrahman bin Auf temasuk golongan orang yang pertama masuk Islam, bahkan dia masuk Islam sebelum Rosulullah Saw memasuki rumah al-Arqam bin Abi al-Arqom atau yang lebih dikenal dengan Dar al-Arqam. Nama Abdurrahman adalah nama pemberian Rosulullah setelah dia menyatakan keimanannya kepada ajaran Allah. Pada masa jahiliyah namanya adalah Abd ‘Amr, dalam versi lain disebutkan nama jahiliyahnya adalah Abd Ka’bah.

Sosok Abdurrahman bin Auf dapat digambarkan sebagai seorang dengan penampilan tubuh yang agak unik. Kulit tubuhnya putih dengan semu merah merona. Bertubuh sedang, dengn mata bundar dan lebar serta bagian hitam matanya sangat legam. Berhidung mancung dengan kedua telapak tangan besar dan tebal serta dengan jari jemari yang keras. Melihat gambaran tubuhnya yang demikian, maka akan terbayang sebuah kekuatan besar dalam dirinya, sehingga menjadi ancaman bagi musuhnya. Dia siap untuk menerkam siapa saja musuh dalam pertempuran bagaikan seekor harimau. Meskipun gambaran dirinya adalah seorang yang bertubuh kuat dan kekar, tetapi dapam perilaku dan tindak tanduk, Abdurrahman adalah seorang yang cukup tenang dan berbudi halus. Dia adalah orang yang tidak segan membantu siapapun yang membutuhkan uluran tangannya. Bahkan dia siap memberikan nyawa dan ruhnya jika memang demi kebaikan.

Abdurrahman bin Auf merupakan salah satu sahabat yang tidak saja menjadi golongan orang yang pertama menyatakan keIslamannya tetapi dia juga termasuk orang yang termasuk  golongan sepuluh orang yang diberikan kabar gembira bahwa dia akan masuk surga. KeIslaman Abdurrahman ini dikarenakan jasa dari Abu Bakar Al-Shiddiq. Ketika Abu Bakar telah menyatakan keIslamannya, dia mendatangi pemuda dan sahabat-sahabatnya yang telihat mempunyai budi pekerti yang baik untuk diajak kedalam ajaran Islam. Dengan hidayah Allah, maka Abdurrahmanpun masuk Islam dan meyakini ajaran baru tersebut dengan segenap keteguhan hatinya meski tantangan dan penindasan juga dirasakan semakin berat oleh kaum muslimin, tetapi Abdurrahman termasuk sosok yang kuat dan tegar. Abdurrahman juga termasuk sahabat yang mengikuti hijrah pertama kaum muslimin ke Habasyah.

Ketika Rosulullah berhijrah ke Madinah, semua kaum muslimin juga mengikuti beliau untuk berhijrah ke Madinah meski tidak datang secara bersama-sama. Hubungan baik Rosulullah Saw dengan penduduk Madinah yang telah terjalin semenjak ketika masih tinggal di Makkah menjadikan Madinah dianggap sebagai tempat yang pas dan cocok sebagai markas umat muslimin selanjutnya, karenanya Madinah menjadi ibukota dan pusat dakwah bagi penyebaran ajaran Islam di kemudian hari.

Ketika Rosulullah mempersaudarakan antara kaum anshor dengan kaum Muhajirin, Rosulullah mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Robi’ seorang yang kaya raya di Madinah. Sa’ad menawarkan separuh hartanya untuk Abdurrahman, tetapi dengan halus Abdurrahman menolak dan malah menanyakan dimanakah pasar sebagai tempat berdagang di kota Madinah?. Setelah ditunjukkan letak pasar di kota Madinah, maka mulailah Abdurrahman berdagang, meski dengan modal yang tidak seberapa. Sebagai seorang pedagang Abdurrahman sangat berhati-hati dengan kehalalan uang yang akan masuk ke dalam tubuhnya. Dia sangat menjauhi sesuatu hal yang haram bahkan syubhat (tidak jelas statusnya). Dengan kehati-hatiannya ini justru mendatangkan rezeki yang berlimpah dan berlipat ganda. Usahanya berjalan lancer dan mendatangkan keberkahan bagi kehidupannya, sehingga Abdurrahman menjadi salah satu sahabat yang kaya raya selain Ustman bin Affan.

Meskipun telah menjadi seorang yang kaya raya, tetapi Abdurrahman tidaklah menjadi buta dengan kekayaannya tersebut. Meski dikenal sebagai seorang pekerja keras, tetapi dia tidak pernah melalaikan kewajibannya untuk beribadah dan berdzikir kepada Allah SWT disela-sela usaha bisnisnya. Dia juga selalu menyedekahkan sebagian hartanya untuk kepentingan berjihad di jalan Allah. Pernah suatu hari dia mendengar Nabi Saw berpidato, dalam pidatonya itu beliau berkata:” bersedekahlah engkau karena sesungguhnya aku ingin mengirimkan serombongan pasukan”. Serta merta Abdurrahman pulang kerumahnya dan mengambil uang untuk kemudian diserahkan kepada Rosulullah Saw sambil berkata:”Ya Rosulullah Saw, aku hanya mempunyai uang sebanyak empat ribu. Aku menyedekahkan sebanyak dua ribu, sedangkan yang dua ribu aku tinggalkan untuk mencukupi kebutuhan keluargaku”.  Rosulullahpun menjadi terharu, kemudian beliau berkata:”Mudah-mudahan Allah mengucurkan berkah atas apa yang telah kamu berikan. Dan mudah-mudahan Allah melimpahkan berkah pada apa yang kamu simpan untuk keluargamu”.

Setelah doa Rosulullah Saw atas Abdurrahman, berkah dan rezeki yang diterima oleh Abdurrahmanpun semakin deras mengalir. Setiap kali dia menyedekahkan hartanya, semakin banyak rezeki yang datang kepadanya. Dia tidak pernah memperhitungkan harta yang telah diberikan, karena dia yakin atas apa yang telah dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang yang suka bersedekah, yakni berupa rezeki, kebaikan dan pahala.

Pada saat umat muslim akan menghadapi perang tabuk dan kebutuhan umat muslim semakin meningkat. Selain kebutuhan tentara yang banyak, kota Madinah tengah mengalami musim panas, sehingga perjalanan ke Tabuk sangat jauh dan sulit.  Datanglah Abdurrahman dengan membawa 2 ons emas yang diserahkan kepada Rosulullah Saw.

Di saat perang tabuk tengah terjadi, kala itu umat muslimin hendak menunaikan sholat. Pada saat yang sama Rosulullah Saw sedang pergi untuk suatu keperluan. Karena waktu sholat telah tiba dan tidak mau menunggu terlalu lama untuk menunaikannya, maka para sahabat menunjuk Abdurrahman bin Auf sebagai imam dalam sholat. Rosulullah Saw  yang telah menyelesaikan keperluannya kemudian menyusul sholat dibelakang Abdurrahman sebagai makmum. Bagi Abdurrahman peristiwa tersebut merupakan kejadian luar biasa dan merupakan kemuliaan tersendiri karena pernah menjadi imam sedangkan Rosulullah berada di belakangnya.

Abdurrahman juga menjadi sahabat yang sangat aktif dalam mengikuti peperangan yang terjadi pada masa Rosulullah, mulai dari perang badar, perang Uhud, perang tabuk dan lain sebagainya. Dia tidak hanya mengorbankan harta bendanya tetapi juga seluruh jiwa dan raganya untuk kepentingan agamanya. Dalam perang Uhud, digambarkan bagaimana Abdurrahman mengalami luka-luka yang cukup parah. Karena dalam perang tersebut umat muslim memang mengalami kekalahan setelah melanggar perintah Rosulullah Saw. Dengan sekuat tenaga Abdurrahman berusaha melindungi Rosulullah Saw dari serangan kaum Quraisy yang semakin mendesak. Luka dalam tubuhnya tidak dirasakan sama sekali, gigi-giginya rontok bahkan bekas luka dalam perang uhud tersebut membekas dan tidak dapat dihilangkan dan menjadikan dia cacat seumur hidup.

Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat yang mempunyai semangat yang sangat tinggi untuk bersedekah. Hartanya dinafkahkannya dengan kedua belah tangan, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, sehingga mencapai 40.000 dirham perak. Kemudian menyusul pula 40.000 dinar emas. Sesudah itu dia bersedekah lagi 200 uqiyah emas. Lalu diserahkannya pula 500 ekor kuda kepada para pejuang. Sesudah itu 1500 ekor unta untuk pejuang-pejuang lainnya dan tatkala dia hampir meninggal dunia, dimerdekakannya sejumlah besar budak-budak yang dimilikinya. Kemudian diwasiatkannya supaya memberikan 400 dinar emas kepada masing-masing bekas pejuang Perang Badar. Mereka berjumlah seratus orang, dan semua mengambil bagiannya masing-masing. Dia berwasiat pula supaya memberikan hartanya yang paling mulia untuk para ibu-ibu orang mukmin, sehingga ibu Aisyah sering mendoakannya, “Semoga Allah memberikannya minum dengan minuman dari telaga salsabil.”

Dalam kisah lain disebutkan bahwa pada suatu hari, saat kota Madinah sunyi senyap, dikejutkan dengan suara dentuman keras dan beruntun, debu yang sangat tebal mulai mendekat dari berbagai penjuru kota hingga nyaris menutupi ufuk. Debu kekuning-kuningan itu mulai mendekati pintu-pintu kota Madinah. Semua penduduk Madinah terbangun dan kaget melihat fenomena tersebut. Aisyah istri Rosulullahpun bertanya-tanga:”Ada apa ini? Tidak ada hujan, tidak ada angina kenapa ada guncangan seperti ini?” guncangan apakah ini?” Tanya Aisyah kepada salah seorang sahabat. Kemudian sabahat itupun menjawab:”Guncangan ini berasal dari kafilah Abdurrahman bin Auf yang membawa barang dagangan dari Syam”. Aisyah kemudian bertanya kembali dengan sedikit tidak percaya:”Yang benar saja?mana ada kafilah pegadang yang berjalan beriringan bisa membuat tanah bergoncang seperti ini?”. Kemudian dijawab oleh sabahat: “benar Aisyah, kafilah besar ini terdiri dari tujuh ratus ekor unta besar”, Ummul Mukmininpun menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku bermimpi melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak’.”

Perkataan Aisyah ini kemudian didengar juga oleh Abdurrahman, yang kemudian menemui Aisyah dan menanyakan apa yang telah disabdakan oleh Rosulullah. Wajahnya terlihat gembira karena telah dikabarkan masuk surga oleh Rosulullah Saw sendiri. Kemudian tanpa berpikir panjang Abdurrahmanpun membagikan 700 ratus ekor unta beserta harta benda yang ada di dalamnya kepada seluruh penduduk Madinah. Karena pada saat itu kondisi kota Madinah juga sedang dilanda paceklik yang berkepanjangan, sehingga penduduk Madinah merasakan kesengsaraan akibat gagalnya hasil panen karena kekeringan yang panjang.

Khalifah Ustman bin Affanpun berkata tentang Abdurrahman:” Harta Abdurrahman adalah halal dan bersih, dan menikmati harta tersebut menjadi kesembuhan dan keberkahan. “Penduduk Madinah semuanya adalah sekutu Ibnu Auf berkenaan dengan hartanya… karena sepertiganya ia pinjamkan kepada mereka, sepertiganya untuk membayarkan hutang mereka, dan sepertiganya lagi ia sampai-kan dan berikan kepada mereka.”

Begitulah sosok Abdurrahman bin Auf seorang yang kaya raya tetapi selalu membelanjakan hartanya di jalan Allah. Dia sendiri adalah seorang yang zuhud, yang selalu khawatir jika kekayaannya hanya akan membawanya ke neraka. Karenanya setiap dikaruniai kekayaan, kecintaannya terhadap akhiratpun semakin bertambah. Akhirat memang menjadi tujuan utamanya, sehingga dia tidak pernah memikirkan harta kekayaannya yang berlimpah, karena bagi Abdurrahman hal itu hanya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Setelah wafatnya Rosulullah Saw, Abdurrahman bin Auf menjadi pelayan para ummul mukminin. Seluruh kebutuhan istri Rosulullah Saw selalu dipenuhi dan tidak pernah satu haripun dilewatkan tanpa mengunjungi para istri Rosulullah Saw. Jika para ummul mukminin hendak keluar ataupun pergi haji, Abdurrahmanlah yang mendampingi mereka.

Dalam sebuah kisah juga disebutkan bahwa suatu hari Abdurrahman pernah menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian membagikan semuanya untuk keluarganya yaitu Bani Zahrah, untuk Ummahatul Mukminin, dan kaum fakir dari kalangan kaum muslimin

Ketika khalifah Umar bin khattab wafat, Abdurrahman termasuk ke dalam tim 6 yang bermusyawarah untuk menentukan siapa khalifah pengganti setelah wafatnya Umar. Lima sahabat lainnya sepakat menunjuk Abdurrahman sebagai khalifah. Akan tetapi dia menolak kehormatan yang diberikan kepadanya dengan tegas, sambil berkata: “Demi Allah seandainya saja ada pisau yang besar yang ditusukkan di kerongkonganku, kemudian disayatkan ke bagian yang lain, maka aku lebih menyukainya daripada harus menerima jabatan ini.

Abdurrahman bin Auf meninggal pada tahun 32 H di usianya yang ke 75 tahun. Ummul mukminin Aisyah RHA ingin memberikan penghargaan khusus kepadanya yang tidak pernah diberikannya kepada selainnya. Aisyah menawarkan kepadanya, pada saat Ibnu Auf berbaring di atas ranjang kematiannya, untuk dikuburkan di kamarnya di sisi Rasul SAW, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab RA. Tetapi Abdurrahman merasa malu jika jasadnya akan disandingkan bersebelahan dengan Rosulullah Saw. Semasa hidupnya dia pernah berjanji dengan sahabat karibnya yang bernama Ustman bin Mazh’un bahwa jika mereka meninggal, maka akan dikuburkan bersebelahan. Akhirnya Abdurrahman dimakamkan di kota Makkah tepatnya di makam al-Baqi’[1].


[1] http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/02/jadi-enterpreneur-teladani-abdurrahman-bin-%E2%80%98auf/, http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=426, http://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_bin_Auf, http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=229, http://74.125.113.132/search?q=cache:OGC25qaNSQoJ:jilbab.or.id/archives/285-abdurrahman-bin-auf/+abdurrahman+bin+auf&cd=4&hl=id&ct=clnk&gl=id, http://www.acehforum.or.id/abdurrahman-bin-auf-t1671.html?s=bf39d82197271bca161b01ad630e39bb&

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abd Auf  bin Abd bin al-Harist bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah al-Quraisyi al-Zuhri. Abdurrahman bin Auf berasal dari Bani Zuhrah. Seringkali dipanggil dengan Abu Muhammad. Abdurrahman bin Auf temasuk golongan orang yang pertama masuk Islam, bahkan dia masuk Islam sebelum Rosulullah Saw memasuki rumah al-Arqam bin Abi al-Arqom atau yang lebih dikenal dengan Dar al-Arqam. Nama Abdurrahman adalah nama pemberian Rosulullah setelah dia menyatakan keimanannya kepada ajaran Allah. Pada masa jahiliyah namanya adalah Abd ‘Amr, dalam versi lain disebutkan nama jahiliyahnya adalah Abd Ka’bah.

Sosok Abdurrahman bin Auf dapat digambarkan sebagai seorang dengan penampilan tubuh yang agak unik. Kulit tubuhnya putih dengan semu merah merona. Bertubuh sedang, dengn mata bundar dan lebar serta bagian hitam matanya sangat legam. Berhidung mancung dengan kedua telapak tangan besar dan tebal serta dengan jari jemari yang keras. Melihat gambaran tubuhnya yang demikian, maka akan terbayang sebuah kekuatan besar dalam dirinya, sehingga menjadi ancaman bagi musuhnya. Dia siap untuk menerkam siapa saja musuh dalam pertempuran bagaikan seekor harimau. Meskipun gambaran dirinya adalah seorang yang bertubuh kuat dan kekar, tetapi dapam perilaku dan tindak tanduk, Abdurrahman adalah seorang yang cukup tenang dan berbudi halus. Dia adalah orang yang tidak segan membantu siapapun yang membutuhkan uluran tangannya. Bahkan dia siap memberikan nyawa dan ruhnya jika memang demi kebaikan.

Abdurrahman bin Auf merupakan salah satu sahabat yang tidak saja menjadi golongan orang yang pertama menyatakan keIslamannya tetapi dia juga termasuk orang yang termasuk  golongan sepuluh orang yang diberikan kabar gembira bahwa dia akan masuk surga. KeIslaman Abdurrahman ini dikarenakan jasa dari Abu Bakar Al-Shiddiq. Ketika Abu Bakar telah menyatakan keIslamannya, dia mendatangi pemuda dan sahabat-sahabatnya yang telihat mempunyai budi pekerti yang baik untuk diajak kedalam ajaran Islam. Dengan hidayah Allah, maka Abdurrahmanpun masuk Islam dan meyakini ajaran baru tersebut dengan segenap keteguhan hatinya meski tantangan dan penindasan juga dirasakan semakin berat oleh kaum muslimin, tetapi Abdurrahman termasuk sosok yang kuat dan tegar. Abdurrahman juga termasuk sahabat yang mengikuti hijrah pertama kaum muslimin ke Habasyah.

Ketika Rosulullah berhijrah ke Madinah, semua kaum muslimin juga mengikuti beliau untuk berhijrah ke Madinah meski tidak datang secara bersama-sama. Hubungan baik Rosulullah Saw dengan penduduk Madinah yang telah terjalin semenjak ketika masih tinggal di Makkah menjadikan Madinah dianggap sebagai tempat yang pas dan cocok sebagai markas umat muslimin selanjutnya, karenanya Madinah menjadi ibukota dan pusat dakwah bagi penyebaran ajaran Islam di kemudian hari.

Ketika Rosulullah mempersaudarakan antara kaum anshor dengan kaum Muhajirin, Rosulullah mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Robi’ seorang yang kaya raya di Madinah. Sa’ad menawarkan separuh hartanya untuk Abdurrahman, tetapi dengan halus Abdurrahman menolak dan malah menanyakan dimanakah pasar sebagai tempat berdagang di kota Madinah?. Setelah ditunjukkan letak pasar di kota Madinah, maka mulailah Abdurrahman berdagang, meski dengan modal yang tidak seberapa. Sebagai seorang pedagang Abdurrahman sangat berhati-hati dengan kehalalan uang yang akan masuk ke dalam tubuhnya. Dia sangat menjauhi sesuatu hal yang haram bahkan syubhat (tidak jelas statusnya). Dengan kehati-hatiannya ini justru mendatangkan rezeki yang berlimpah dan berlipat ganda. Usahanya berjalan lancer dan mendatangkan keberkahan bagi kehidupannya, sehingga Abdurrahman menjadi salah satu sahabat yang kaya raya selain Ustman bin Affan.

Meskipun telah menjadi seorang yang kaya raya, tetapi Abdurrahman tidaklah menjadi buta dengan kekayaannya tersebut. Meski dikenal sebagai seorang pekerja keras, tetapi dia tidak pernah melalaikan kewajibannya untuk beribadah dan berdzikir kepada Allah SWT disela-sela usaha bisnisnya. Dia juga selalu menyedekahkan sebagian hartanya untuk kepentingan berjihad di jalan Allah. Pernah suatu hari dia mendengar Nabi Saw berpidato, dalam pidatonya itu beliau berkata:” bersedekahlah engkau karena sesungguhnya aku ingin mengirimkan serombongan pasukan”. Serta merta Abdurrahman pulang kerumahnya dan mengambil uang untuk kemudian diserahkan kepada Rosulullah Saw sambil berkata:”Ya Rosulullah Saw, aku hanya mempunyai uang sebanyak empat ribu. Aku menyedekahkan sebanyak dua ribu, sedangkan yang dua ribu aku tinggalkan untuk mencukupi kebutuhan keluargaku”.  Rosulullahpun menjadi terharu, kemudian beliau berkata:”Mudah-mudahan Allah mengucurkan berkah atas apa yang telah kamu berikan. Dan mudah-mudahan Allah melimpahkan berkah pada apa yang kamu simpan untuk keluargamu”.

Setelah doa Rosulullah Saw atas Abdurrahman, berkah dan rezeki yang diterima oleh Abdurrahmanpun semakin deras mengalir. Setiap kali dia menyedekahkan hartanya, semakin banyak rezeki yang datang kepadanya. Dia tidak pernah memperhitungkan harta yang telah diberikan, karena dia yakin atas apa yang telah dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang yang suka bersedekah, yakni berupa rezeki, kebaikan dan pahala.

Pada saat umat muslim akan menghadapi perang tabuk dan kebutuhan umat muslim semakin meningkat. Selain kebutuhan tentara yang banyak, kota Madinah tengah mengalami musim panas, sehingga perjalanan ke Tabuk sangat jauh dan sulit.  Datanglah Abdurrahman dengan membawa 2 ons emas yang diserahkan kepada Rosulullah Saw.

Di saat perang tabuk tengah terjadi, kala itu umat muslimin hendak menunaikan sholat. Pada saat yang sama Rosulullah Saw sedang pergi untuk suatu keperluan. Karena waktu sholat telah tiba dan tidak mau menunggu terlalu lama untuk menunaikannya, maka para sahabat menunjuk Abdurrahman bin Auf sebagai imam dalam sholat. Rosulullah Saw  yang telah menyelesaikan keperluannya kemudian menyusul sholat dibelakang Abdurrahman sebagai makmum. Bagi Abdurrahman peristiwa tersebut merupakan kejadian luar biasa dan merupakan kemuliaan tersendiri karena pernah menjadi imam sedangkan Rosulullah berada di belakangnya.

Abdurrahman juga menjadi sahabat yang sangat aktif dalam mengikuti peperangan yang terjadi pada masa Rosulullah, mulai dari perang badar, perang Uhud, perang tabuk dan lain sebagainya. Dia tidak hanya mengorbankan harta bendanya tetapi juga seluruh jiwa dan raganya untuk kepentingan agamanya. Dalam perang Uhud, digambarkan bagaimana Abdurrahman mengalami luka-luka yang cukup parah. Karena dalam perang tersebut umat muslim memang mengalami kekalahan setelah melanggar perintah Rosulullah Saw. Dengan sekuat tenaga Abdurrahman berusaha melindungi Rosulullah Saw dari serangan kaum Quraisy yang semakin mendesak. Luka dalam tubuhnya tidak dirasakan sama sekali, gigi-giginya rontok bahkan bekas luka dalam perang uhud tersebut membekas dan tidak dapat dihilangkan dan menjadikan dia cacat seumur hidup.

Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat yang mempunyai semangat yang sangat tinggi untuk bersedekah. Hartanya dinafkahkannya dengan kedua belah tangan, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, sehingga mencapai 40.000 dirham perak. Kemudian menyusul pula 40.000 dinar emas. Sesudah itu dia bersedekah lagi 200 uqiyah emas. Lalu diserahkannya pula 500 ekor kuda kepada para pejuang. Sesudah itu 1500 ekor unta untuk pejuang-pejuang lainnya dan tatkala dia hampir meninggal dunia, dimerdekakannya sejumlah besar budak-budak yang dimilikinya. Kemudian diwasiatkannya supaya memberikan 400 dinar emas kepada masing-masing bekas pejuang Perang Badar. Mereka berjumlah seratus orang, dan semua mengambil bagiannya masing-masing. Dia berwasiat pula supaya memberikan hartanya yang paling mulia untuk para ibu-ibu orang mukmin, sehingga ibu Aisyah sering mendoakannya, “Semoga Allah memberikannya minum dengan minuman dari telaga salsabil.”

Dalam kisah lain disebutkan bahwa pada suatu hari, saat kota Madinah sunyi senyap, dikejutkan dengan suara dentuman keras dan beruntun, debu yang sangat tebal mulai mendekat dari berbagai penjuru kota hingga nyaris menutupi ufuk. Debu kekuning-kuningan itu mulai mendekati pintu-pintu kota Madinah. Semua penduduk Madinah terbangun dan kaget melihat fenomena tersebut. Aisyah istri Rosulullahpun bertanya-tanga:”Ada apa ini? Tidak ada hujan, tidak ada angina kenapa ada guncangan seperti ini?” guncangan apakah ini?” Tanya Aisyah kepada salah seorang sahabat. Kemudian sabahat itupun menjawab:”Guncangan ini berasal dari kafilah Abdurrahman bin Auf yang membawa barang dagangan dari Syam”. Aisyah kemudian bertanya kembali dengan sedikit tidak percaya:”Yang benar saja?mana ada kafilah pegadang yang berjalan beriringan bisa membuat tanah bergoncang seperti ini?”. Kemudian dijawab oleh sabahat: “benar Aisyah, kafilah besar ini terdiri dari tujuh ratus ekor unta besar”, Ummul Mukmininpun menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku bermimpi melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak’.”

Perkataan Aisyah ini kemudian didengar juga oleh Abdurrahman, yang kemudian menemui Aisyah dan menanyakan apa yang telah disabdakan oleh Rosulullah. Wajahnya terlihat gembira karena telah dikabarkan masuk surga oleh Rosulullah Saw sendiri. Kemudian tanpa berpikir panjang Abdurrahmanpun membagikan 700 ratus ekor unta beserta harta benda yang ada di dalamnya kepada seluruh penduduk Madinah. Karena pada saat itu kondisi kota Madinah juga sedang dilanda paceklik yang berkepanjangan, sehingga penduduk Madinah merasakan kesengsaraan akibat gagalnya hasil panen karena kekeringan yang panjang.

Khalifah Ustman bin Affanpun berkata tentang Abdurrahman:” Harta Abdurrahman adalah halal dan bersih, dan menikmati harta tersebut menjadi kesembuhan dan keberkahan. “Penduduk Madinah semuanya adalah sekutu Ibnu Auf berkenaan dengan hartanya… karena sepertiganya ia pinjamkan kepada mereka, sepertiganya untuk membayarkan hutang mereka, dan sepertiganya lagi ia sampai-kan dan berikan kepada mereka.”

Begitulah sosok Abdurrahman bin Auf seorang yang kaya raya tetapi selalu membelanjakan hartanya di jalan Allah. Dia sendiri adalah seorang yang zuhud, yang selalu khawatir jika kekayaannya hanya akan membawanya ke neraka. Karenanya setiap dikaruniai kekayaan, kecintaannya terhadap akhiratpun semakin bertambah. Akhirat memang menjadi tujuan utamanya, sehingga dia tidak pernah memikirkan harta kekayaannya yang berlimpah, karena bagi Abdurrahman hal itu hanya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Setelah wafatnya Rosulullah Saw, Abdurrahman bin Auf menjadi pelayan para ummul mukminin. Seluruh kebutuhan istri Rosulullah Saw selalu dipenuhi dan tidak pernah satu haripun dilewatkan tanpa mengunjungi para istri Rosulullah Saw. Jika para ummul mukminin hendak keluar ataupun pergi haji, Abdurrahmanlah yang mendampingi mereka.

Dalam sebuah kisah juga disebutkan bahwa suatu hari Abdurrahman pernah menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian membagikan semuanya untuk keluarganya yaitu Bani Zahrah, untuk Ummahatul Mukminin, dan kaum fakir dari kalangan kaum muslimin

Ketika khalifah Umar bin khattab wafat, Abdurrahman termasuk ke dalam tim 6 yang bermusyawarah untuk menentukan siapa khalifah pengganti setelah wafatnya Umar. Lima sahabat lainnya sepakat menunjuk Abdurrahman sebagai khalifah. Akan tetapi dia menolak kehormatan yang diberikan kepadanya dengan tegas, sambil berkata: “Demi Allah seandainya saja ada pisau yang besar yang ditusukkan di kerongkonganku, kemudian disayatkan ke bagian yang lain, maka aku lebih menyukainya daripada harus menerima jabatan ini.

Abdurrahman bin Auf meninggal pada tahun 32 H di usianya yang ke 75 tahun. Ummul mukminin Aisyah RHA ingin memberikan penghargaan khusus kepadanya yang tidak pernah diberikannya kepada selainnya. Aisyah menawarkan kepadanya, pada saat Ibnu Auf berbaring di atas ranjang kematiannya, untuk dikuburkan di kamarnya di sisi Rasul SAW, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab RA. Tetapi Abdurrahman merasa malu jika jasadnya akan disandingkan bersebelahan dengan Rosulullah Saw. Semasa hidupnya dia pernah berjanji dengan sahabat karibnya yang bernama Ustman bin Mazh’un bahwa jika mereka meninggal, maka akan dikuburkan bersebelahan. Akhirnya Abdurrahman dimakamkan di kota Makkah tepatnya di makam al-Baqi’[1].


[1] http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/02/jadi-enterpreneur-teladani-abdurrahman-bin-%E2%80%98auf/, http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=426, http://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_bin_Auf, http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=229, http://74.125.113.132/search?q=cache:OGC25qaNSQoJ:jilbab.or.id/archives/285-abdurrahman-bin-auf/+abdurrahman+bin+auf&cd=4&hl=id&ct=clnk&gl=id, http://www.acehforum.or.id/abdurrahman-bin-auf-t1671.html?s=bf39d82197271bca161b01ad630e39bb&

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: