16. Ustman bin Affan (Sahabat yang Kaya raya dan suka bersedekah)

April 15, 2010 zunlynadia

Nama lengkapnya adalah Utsman bin affan Al-Amawi Al-Quarisyi yang berasal dari Bani Umayyah. Utsman bin Affan berasal dari keluarga yang kaya dan terpandang yang dengan kekayaannya tersebut Utsman menjadi seorang dermawan yang selalu menyedekahkan hartanya bagi siapa saja yang membutuhkan. Karena kedermawanannya tesebut dia menjadi salah satu pendonor dana terbesar pada masa dakwah Nabi Saw. Ustman dillahirkan pada tahun ke enam tahun gajah, jadi kira-kira lebih muda 5 tahun dari Nabi Muhammad Saw.

Sosok Utsman bin Affan digambarkan sebagai seorang yang tinggi, badannya sedang-sedang saja dan berkulit putih, namun ada juga yang mengatakan bahwa warna kulit Utsman adalah sawo matang. Dia adalah seorang laki-laki yang berkulit luar tipis, berwajah tampan, memilki tulang persendian yang besar, jarak antara kedua pundaknya lebar, berambut lebat, dan memilki jenggot yang diberi warna kuning.

Ustman adalah seorang pedagang kain yang sukses dalam bisnisnya. Mempunyai banyak sekali ternak melebihi orang-orang Arab pada umumnya. Ustman bin Affan masuk Islam karena ajakan Abu Bakar Al-Shiddiq, sebagai sesama pedagang keduanya memang berteman dekat, kedekatan tersebut yang membuat Ustman akhirnya tertarik untuk mengikuti ajaran Rosulullah, sehingga dia juga termasuk golongan orang-orang yang pertama masuk Islam (assabiqunal awwalun).

KeIslaman Utsman bin Affan dimulai dari ketika Ustman mendengar bahwa Rukoyyah putri dari Rosulullah Saw telah dinikahkan dengan sepupunya Utbah bin Abi Lahab. Ustman merasa menyesal karena keduluan oleh Utbah dan tidak mendapatkan istri sebaik Rukoyyah baik budi dan nasabnya.

Utsman pun kembali pulang ke rumah dengan perasaan kesal dan sedih.  Saat pulang, ia mendapati bibinya yang bernama Su’da binti Kuraizin sedang berada di rumah. Su’da adalah seorang perempuan yang tegas, cerdas dan sudah berusia senja. Su’da berhasil menghilangkan kekesalan Utsman dengan memberitahukan kepadanya bahwa akan muncul seorang Nabi yang menghancurkan penyembahan kepada berhala, dan menyeru untuk beribadah kepada Tuhan Yang Esa. Su’da menyuruh Utsman untuk mengikuti ajaran agama Nabi tersebut, dan ia menjanjikan bahwa Utsman akan mendapatkan apa yang pantas bagi dirinya.  Utsmanpun segera memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh bibiku tadi dan segera menemui Abu Bakar sahabatnya untuk menceritakan kepadanya apa yang telah diberitahukan bibinya Su’da. Mendengar cerita dari Ustman, Abu Bakar berkata: “Demi Allah, bibimu telah berkata benar atas apa yang ia sampaikan kepadamu dan dengan kebaikan yang ia janjikan untukmu, ya Utsman! Engkau pun adalah seorang yang bijak dan tegas yang mampu membedakan kebenaran,dan ada kebathilan yang samar bagi dirimu.”

Kemudian Abu Bakar meneruskan perkataanya: “Apakah makna dari berhala yang disembah oleh kaum kita ini?!  Bukankah berhala ini terbuat dari batu yang tuli. Tidak bisa mendengar dan melihat?” Ustmanpun menjawab: “Benar.” Abu Bakar berkata: “Apa yang telah dikatakan oleh bibimu telah terbukti, ya Utsman! Allah Swt telah mengirimkan Rasul-Nya yang dinanti-nanti. Ia mengutusnya untuk semua orang dengan membawa agama petunjuk dan kebenaran.” Kemudian Ustman bertanya: “Siapakah dia?!” Abu Bakar menjawab: “Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib.” Dalam kondisi keheranan, Ustmanpun bertanya kembali: “Muhammad As Shodiq Al Amin (orang yang terkenal jujur dan terpercaya) itu?” Abu Bakar menjawab: “Benar. Dialah orangnya.” Ustmanpun segera berkata kepada Abu Bakar: “Apakah engkau mau menemaniku untuk menemuinya?” Abu Bakar menjawab: “Baiklah.” Maka kami pun berangkat untuk menemui Nabi Saw.  Begitu Beliau melihatku Beliau langsung bersabda: “Ya Utsman, sambutlah seruan orang yang mengajak ke jalan Allah! Sebab aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus, dan kepada semua makhluk Allah secara umum.”

Utsman berkata: “Demi Allah, begitu aku melihat Beliau dan mendengarkan sabdanya, maka aku langsung merasa nyaman dan aku percaya akan keRasulannya. Kemudian akupun langsung bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.”

Tidak lama setelah Ustman menjadi seorang muslim, dia kemudian mendengar Utbah bin Abu Lahab menceraikan istrinya Rukoyyah. Dengan perasaan senang, Ustman segera meminang Rukoyyah untuk menjadi istrinya. Akhirnya keduanyapun menikah.  Keduanya menjadi pasangan yang serasi, Ustman adalah seorang pemuda yang tampan, sementara Rukoyyah adalah seorang yang dikenal dengan kecantikannya. Apa yang pernah dikatakan oleh Su’da bibi Ustman bin Affan ternyata menjadi kenyataan bahwa dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan setelah mengikuti ajaran Rosulullah.

Namun demikian, Ustman kemudian ditinggal mati terlebih dahulu oleh istrinya. Setelah istrinya meninggal, Rosulullah Saw menikahkan ustman dengan putrinya yang lain yaitu Ummi Kultsum, sehingga Ustman mendapat julukan dzunnurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Ummi Kultsumpun akhirnya juga meninggal terlebih dahulu sehingga Rosulullah berkata:”seandainya aku punya putri yang ketiga, maka akan aku nikahkan dia denganmu”.

Meski Ustman adalah seorang yang kaya raya, tetapi masuknya Ustman ke dalam Islam bukanlah tanpa halangan. Paman Ustman yang bernama Hakam sangat malu karena salah satu anggota keluarganya berani meninggalkan agama nenek moyangnya dan mengikuti ajaran baru. Hakam bersama beberapa orang lainnya berusaha menghalangi Ustman untuk beribadah dan bergabung dengan orang-orang muslim dengan keras dan kejam. Bahkan  Hakam menangkap Utsman dan mengikatkan tubuh Utsman dengan tali. Hakam bertanya kepada Utsman: “Apakah engkau membenci agama ayah dan kakek moyangmu, dan kini engkau masuk ke dalam agama yang dibuat-buat itu?! Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu hingga engkau meninggalkan agama yang kau anut ini!” Mendengar pertanyaan pamannya, Utsmanpun menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk selamanya, dan aku tidak akan berpisah dengan Nabiku selagi aku hidup.

Meski pamannya terus menyiksa dirinya, akan tetapi ia semakin teguh dan tak tergoyahkan dalam berakidah sehingga pamannya merasa putus asa dan akhirnya melepaskan Utsman dan tidak lagi mengganggunya. Ketika siksaan dari kaum Quraisy kepada kaum muslimin semakin menjadi-jadi, Rosulullah memerintahkan para sahabat untuk berhijrah ke Habasyah. Ustman bersama istrinya juga ikut berhijrah ke Habasyah. Sekembalinya dari Habasyah, Rosulullah Saw kemudian diperintahkan oleh Allah untuk berhijrah ke Yasrib (Madinah) dan Ustmanpun beserta keluarganya juga ikut kembali berhijrah bersama kaum muslimin lainnya ke Madinah.

Ustman memang mempunyai pribadi yang istimewa baik di hadapan Nabi Saw maupun di depan para sahabat. Pernah pada suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berbaring di rumah dalam keadaan kedua paha atau betisnya tersingkap. Kemudian datang Abu Bakr meminta izin (untuk masuk). Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  mengizinkannya untuk masuk, dalam keadaan beliau masih dalam kondisinya yang semula. Kemudian beliau berbincang-bincang dengan Abu Bakar. Tiba-tiba datang ‘Umar bin Al-Khaththab meminta izin, dan beliau pun mengizinkannya, dalam keadaan beliau masih dalam kondisinya yang semula, Rosulullah Saw masih melanjutkan perbincangannya. Kemudian datanglah ‘Utsman bin ‘Affan meminta izin, tiba-tiba Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam segera duduk sambil membenarkan pakaiannya. Maka masuklah ‘Utsman bin ‘Affan, dan beliau pun terus berbincang. Ketika beliau keluar, ‘Aisyahpun berkata kepada Rosulullah Saw : “Telah masuk Abu Bakr tetapi engkau tak nampak ceria dan tidak terlalu peduli. Begitu pula ketika ‘Umar masuk, engkau pun tidak nampak ceria dan tidak terlalu peduli dengannya. Namun ketika ‘Utsman bin ‘Affan masuk, engkau segera duduk dan membenahi pakaianmu.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  menjawab : “Tidakkah aku akan malu kepada seseorang yang sesungguhnya para malaikat telah malu kepadanya?”

Dalam cerita lain disebutkan ketika suatu hari Ustman sedang mendapatkan tamu laki-laki. Sebelum bertemu dengan Ustman, laki-laki tersebut baru saja bertemu dengan seorang perempuan di tengah jalan, lalu ia menghayalkannya. Kemudian ‘Utsman berkata kepada laki-laki itu, “Aku melihat ada bekas zina di matamu.” Laki-laki itu bertanya, “Apakah wahyu masih diturunkan sctelah Rasulullah Saw wafat?” `Utsman menjawab, “Tidak, ini adalah firasat seorang mukmin.” `Utsman r.a. mengatakan hal tersebut untuk mendidik dan menegur laki-laki itu agar tidak mengulangi apa yang telah dilakukannya.

Apa yang dilihat Ustman tersebut menunjukkan kejernihan hati yang dimilikinya. bila seseorang hatinya jernih, maka ia akan melihat dengan nur Allah, sehingga ia bisa mengetahui apakah yang dilihatnya itu kotor atau bersih. Hal tersebut hanya diketahui oleh orang yang memiliki mata batin yang tajam seperti ‘Utsman bin `Affan, sehingga ia bisa mengetahui kotoran hati meskipun kecil, karena menghayalkan seorang perempuan merupakan dosa yang paling ringan, `Utsman dapat melihat kotoran hati itu dan mengetahui sebabnya. Begitulah sosok Ustman, seorang mempunyai hati yang bersih dan istimewa.

Ustman bin Affan pernah menjadi utusan Nabi Saw dalam perjanjian hudaibiyah. Utsman dikirim oleh Rasullah untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka’bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.

Suasana sempat tegang ketika Utsman tak kunjung kembali. Kaum muslimin sampai membuat ikrar Rizwan – bersiap untuk mati bersama untuk menyelamatkan Utsman. Namun pertumpahan darah akhirnya tidak terjadi. Abu Sofyan lalu mengutus Suhail bin Amir untuk berunding dengan Nabi Muhammad SAW. Hasil perundingan tersebut kemudian dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah. Ustman juga salah satu sahabat yang aktif mengikuti berbagai peperangan pada masa Rosulullah Saw kecuali pada perang badar. Karena pada saat itu, Ustman sedang menunggui istrinya Rukoyyah yang sedang sakit dan akhirnya meninggal dunia setelah selesai perang badar.

Sebagai seorang kaya raya, ahli ekonomi yang handal, kedermawanan Ustman juga tidak bisa diragukan lagi. Sejarah mencatat bagaimana kedermawanan Ustman sangat membantu kehidupan masyarakat muslim pada masa itu. Keislaman Ustman menjadi berkah tesendiri bagi kaum muslimin. Dia selalu datang di saat orang kesusahan. Dalam suatu kisah disebutkan ketika kaum muslimin hendak menghadapi perang tabuk. Saat itu Rosulullah membutuhkan berbagai perlengkapan, logistik dan orang-orang untuk menjadi prajurit. Banyak orang yang menginginkan untuk menjadi syuhada dalam perang tersebut tetapi ditolak oleh Rosulullah karena memang kurangnya kendaraan dan logistik yang disebabkan masa paceklik yang sedang melanda jazirah Arab. Maka orang-orang tadi kembali pulang ke tempat masing-masing dengan mata yang berlinang.  Pada saat itulah Rasulullah Saw naik ke atas mimbar. Beliau memuji Allah Swt, kemudian Beliau menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan segala kemampuan mereka dan menjanjikan mereka dengan balasan yang besar.

Mengetahui adanya kesulitan tersebut, dengan segera Ustman berdiri dan berkata kepada Rosulullah Saw: “Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!” Kemudian Rasulullah Saw turun satu anak tangga dari mimbarnya dan Beliau terus menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan apa yang mereka punya. Maka untuk kedua kalinya Utsman berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!”

Wajah Rasul Saw menjadi cerah, kemudian Beliau turun satu anak tangga lagi dari mimbar dan Beliau masih saja menyerukan umat Islam untuk mengerahkan segala yang mereka miliki. Utsman untuk ketiga kalinya berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!”

Pada saat itu Rasulullah Saw mengarahkan tangannya ke arah Utsman pertanda Beliau senang dengan apa yang telah dilakukan Utsman ra. Beliau pun bersabda: “Utsman setelah hari ini tidak akan pernah kesulitan….” Belum lagi Rasulullah Saw turun dari mimbarnya, namun Utsman sudah berlari pulang ke rumah. Ia segera mengirimkan semua unta yang ia janjikan dan disertai dengan 1000 dinar emas.  Begitu uang-uang dinar tadi diserahkan kepangkuan Rasulullah Saw, Beliau lalu membolak-balikkan uang dinar tersebut seraya bersabda: “Semoga Allah Swt akan mengampunimu, ya Utsman atas sedekah yang kau berikan secara terang-terangan maupun sembunyi. Semoga Allah juga akan mengampuni segala sesuatu yang ada pada dirimu, dan apa yang telah Ia ciptakan hingga terjadinya hari kiamat.”

Kedermawanan Ustman juga ditunjukkan, ketika terjadi musim paceklik pada masa pemerintahan khalfah Umar bin Khattab. Ustman menyedekahkan bahan makanan berupa gandum, minyak dan anggur kering yang diangkut dengan 1000 ekor unta bagi kaum fakir yang membutuhkan. Selain itu Utsman bin Affan juga pernah membeli sumur yang jernih airnya dari seorang lelaki Yahudi yang berasal dari kaum ghifar seharga 200.000 dirham yang kira-kira sama dengan dua setengah kg emas pada waktu itu. Sumur tersebut kemudian diwakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Demikianlah seorang Ustman, sosok yang selalu peduli dengan kesulitan orang lain dan tanpa mengharapkan imbalan apa-apa kecuali ridho Allah SWT.

Setelah khalifah Umar bin Khattab wafat, diadakanlah musyawarah untuk memutuskan siapa khalifah yang akan melanjutkan roda pemerintahan. Musyawarah tersebut terdiri atas 6 orang sahabat yang menjadi panitia, yakni Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Diantara kedua orang sahabat ini akhirnya Ustman dipilih untuk menjadi khalifah menggantikan khalifah Umar bin Khattab. Peristiwa ini terjadi pada tahun 24 H. Pengangkatan Ustman menjadi khalifah kemudian diumumkan selesai sholat di masjid Madinah. Ustman adalah satu-satunya khalifah yang dipilih dalam usia yang sudah tua yakni 70 tahun. Dia menjadi khalifah pada saat pemerintahan Islam dalam kondisi yang cukup mapan sepeninggal khalifah Umar bin Khattab.

Banyak hal yang dilakukan Ustman bin Affan selama menjadi khalifah, diantaranya adalah melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji) dan Ustman adalah khalifah pertama yang melakukan perluasan tersebut. Ustman mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; serta membangun dan mengembangkan pertanian.

Pada masa pemerintahannya, kekuatan Islam juga melebarkan ekspansi. Untuk pertama kalinya, kaum muslimin mempunyai armada laut yang tangguh. Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada tersebut. Sekitar 1.700 kapal dipakainya untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau Rodhes digempur. Bahkan Konstantinopel pun sempat dikepung oleh pasukan laut kaum muslimin. Pada masa Ustman juga pernah dilakukan ekspedisi damai ke Tiongkok. Dimana saat ekspedisi tersebut dilakukan Saad bin Abi Waqqas bertemu dengan Kaisar Chiu Tang Su dan sempat bermukim di Kanton.

Selain itu sebagai seorang ekonom, bisa dikatakan kesejahteraan rakyat sangat terjamin dimasa pemerintahan Ustman. Setiap jum’at selalu ada budak yang dibebaskannya bahkan dihargai sesuai dengan berat timbangannya. Bahkan konon banyak dari rakyat Ustman yang haji hingga berkali-kali. Karena kesejahteraan terjamin, maka kondisi masyarakat menjadi aman.

Pada masa khalifah Ustman bin Affan juga dilakukan penyelesaikan pengumpulan naskah al-Quran yang telah dirintis oleh khalifah sebelumnya. Sehingga al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin saat ini dikenal dengan mushaf Ustmani. Dalam menyelesaikan penulisan naskah al-Qur’an ini, Ustman menunjuk empat pencatat al-Quran yakni; Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits, untuk memimpin sekelompok juru tulis. Kertas didatangkan dari Mesir dan Syria. Tujuh Quran ditulisnya, Masing-masing dikirim ke Mekah, Damaskus, San’a, Bahrain, Basrah, Kufah dan Madinah.

Meski banyak hal yang diraih pada masa pemerintahan khalifah Ustman bin Affan, tetapi sempat terjadi perselisihan di akhir masa pemerintahannya. Hal ini diantaranya karena adanya beberapa pejabat yang dirasa tidak sesuai dan kurang baik bagi Ustman dicopot dan diganti. Kemudian jabatan-jabatan yang kosong tersebut diganti dengan pejabat baru yang kebanyakan berasal dari keluarga besarnya. Meski pejabat baru tersebut dianggap professional tetapi tindakan sang khalifah yang terkesan nepotisme membuat ketidakpuasan sebagian masyarakat terutama pejabat-pejabat yang dipecat. Bahkan sempat ada hasutan yang anti bani Muawiyah asal keluarga besar Ustman bin Affan hingga pernah terjadi pengepungan di rumah khalifah sampai empat puluh hari karena tuntutan mereka tidak diipenuhi oleh Ustman. Situasi dari hari kehari semakin memburuk. Rumah Ustmanpun dijaga ketat oleh para sahabat seperti Ali bin Thalib, Zubair bin Awwam, Muhammad bin Thalhah, Hasan dan Husein bin Ali bin Abu Thalib. Karena kelembutan dan kasih sayangnya, Ustman hanya menanggapi pengepung-pengepung itu dengan sabar dan tutur kata yang santun.

Suatu hari tanpa diketahui oleh para pengawal dan para sahabat Ustman, masuklah kepala gerombolan yaitu Muhammad bin Abu Bakar (Gubernur Mesir yang Baru) dan membunuh Utsman bin Affan yang sedang membaca Al-Qur’an.

Sebelum terjadi pembunuhan terhadap dirinya, Utsman sempat memejamkan matanya, ia melihat Nabi Saw yang diiringi oleh kedua sahabatnya yang bernama Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab. Utsman mendengar Rasulullah Saw bersabda kepadanya: “Segeralah menyusul kami, ya Utsman!” Maka Utsman merasa yakin bahwa ia akan segera berjumpa dengan Tuhannya dan Nabinya.

Pagi itu Utsman bin Affab berpuasa. Ia meminta untuk dibawakan celana panjang dan kemudian ia mengenakannya karena ia merasa khawatir bahwa auratnya dapat tersingkap jika ia dibunuh oleh orang-orang durjana. Ustnab meninggal pada hari Jum’at 18 Dzul Hijjah, Ia berpulang ke pangkuan Tuhan pada saat ia sedang kehausan karena berpuasa, sementara Kitabullah terbentang di antara kedua tangannya[1].


[1] http://halaqohdakwah.wordpress.com/2008/07/21/utsman-bin-affan-biografi-singkat-khalifah-ke-3/, http://id.wikipedia.org/wiki/Utsman_bin_Affan, http://haulasyiah.wordpress.com/2007/09/16/sekelumit-tentang-keutamaan-utsman-bin-affan/, http://kawansejati.ee.itb.ac.id/utsman-bin-affan-r-a, http://www.kaunee.com/index.php?option=com_content&view=article&id=302:utsman-bin-affan&catid=100:riwayat-tokoh&Itemid=140, http://yudhim.blogspot.com/2008/01/khalifah-utsman-bin-affan-33-45.html,

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

2 Comments Add your own

  • 1. Haris Istanto  |  April 15, 2010 pukul 8:56 am

    Selamat siang, posting yang menarik, salut untuk anda.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru berjudul : “Proses kerja usaha cuci sepeda motor?”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan kalau berkenan tolong dikasi komentar.
    Terima kasih.

  • 2. 2010 in review « WE&hellip  |  Januari 4, 2011 pukul 5:57 am

    […] The busiest day of the year was May 26th with 75 views. The most popular post that day was 16. Ustman bin Affan (Sahabat yang Kaya raya dan suka bersedekah). […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: