14. Aisyah binti Abu Bakar (Perempuan Cerdas Kecintaan Rosulullah Saw)

April 15, 2010 zunlynadia

Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abi Khafafah berasal dari keturunan mulia suku Quraisy at-Taimiyah al-Makkiyah adalah putri kesayangan dari sahabat Nabi Saw Abu Bakar Al-Shiddiq dari istri keduanya Ummu Ruman binti Amir karena istri pertama Abu Bakar telah diceraikannya setelah tidak mau diajak untuk masuk ke dalam ajaran Islam. Aisyah sendiri termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam, hal ini karena memang kedua orang tuanya sudah memeluk Islam dan termasuk orang yang pertama masuk Islam, sehingga Aisyah berkata:” Sebelum aku berakal, kedua orang tuaku sudah menganut Islam.”

Aisyah adalah seorang perempuan cerdas dan berwibawa, sosok perempuan cantik yang dermawan, sabar dan sangat dicintai oleh Rosulullah, yang menjadi teladan bagi seluruh perempuan muslim di dunia. Selain itu dia juga dikenal sebagai politisi yang handal dan pandai dalam strategi perang, sesuatu hal yang tidak banyak dipunyai oleh perempuan saat itu dan bahkan perempuan masa kini. Dia lahir sebelum tahun 610 Masehi.

Rosulullah menikahi Aisyah setelah 6 tahun wafatnya Khadijah. Menjadi istri ketiga Rosulullah setelah Rosulullah Saw menikah dengan Saudah binti Zam’ah. Aisyah menikah dengan Rosulullah pada usia 7 tahun, tetapi Aisyah baru serumah dengan Rosulullah ketika dia berusia 9 tahun setelah Nabi Saw berhijrah ke Madinah. Aisyah menjadi satu-satunya istri Rosulullah yang dinikahi ketika masih gadis karena semua istri Rosulullah adalah janda. Diusianya yang belum dewasa dan masih kecil (belum genap sepuluh tahun) Aisyah sudah menjadi istri Rosulullah, dan Rosulullah sangat memakluminya sehingga beliaupun membiarkan Aisyah bermain-main bersama teman-temannya.

Pernikahan Rosulullah dengan Aisyah merupakan perintah langsung dari Allah, diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Rosulullah Saw pernah bersabda:” ‘Aku pernah melihat engkau dalam mimpiku tiga hari berturut-turut (sebelum aku menikahimu). Ada malaikat yang datang kepadaku dengan membawa gambarmu yang ditutup dengan secarik kain sutera. Malaikat itu berkata: ‘Ini adalah istrimu’. Aku pun lalu membuka kain yang menutupi wajahmu. Ketika ternyata wanita tersebut adalah engkau (‘Aisyah), aku lalu berkata: ‘Jika mimpi ini benar dari Allah, kelak pasti akan menjadi kenyataan.”

Mendengar kabar tersebut, Abu Bakar dan istrinya sangat gembira dan menyetujui untuk menikahkan Aisyah putri kesayangannya dengan Rosulullah. Setelah itu Rosulullah Saw menikahi Aisyah. Akad nikah dilaksanakan di Makkah sebelum Nabi berhijrah ke Madinah dengan mas kawin 400 dirham. Setelah kurang lebih tiga tahun Aisyah tidak tinggal bersama dengan Rosulullah Saw, baru setelah beliau hijrah ke Madinah tepatnya setelah perang badar, Rosulullah tinggal serumah dengan Aisyah. Keduanya tinggal di salah satu kamar di komplek masjid Nabawi, kamar yang begitu sederhana yang terbuat dari batu bata dan beratap pelepah kurma. Tidur hanyalah beralaskan kulit hewan yang diisi rumput kering; sedangkan alas duduknya berupa tikar; dan tirai kamarnya terbuat dari bulu hewan sementara lampunya hanyalah lentera kecil dengan minyak samin (minyak dari hewan). Selama berbulan-bulan hidup bersama Rosulullah, tidak terdapat panggangan roti ataupun bekas api untuk memasak, mereka hidup apa adanya dan hanya makan kurma dan air putih.

Meskipun hidup dalam kesederhanaan, tetapi rumah tangga yang mereka bangun selalu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan. Aisyah menjadi istri yang sabar dan taat kepada suaminya, dia senantiasa menjadi penghibur hati Nabi Saw dikala dirundung duka. Aisyah juga sangat menjaga dari hal-hal yang tidak disenangi oleh Rosulullah Saw. Dia selalu berpakaian bagus dan berhias untuk Rosulullah, dia juga selalu memperhatikan hal-hal yang kecil seperti memakai Parfum dan wewangian ketika bersama Rosulullah Saw. Karenanya Aisyah menjadi istri yang sangat dicintainya. Rosulullahpun mempunyai panggilan khusus kepada istrinya ini yakni Humairo yang berarti yang kemerah-merahan. Sebuah panggilan yang mencerminkan kasih sayang dan rasa cinta kepada Aisyah. Kecintaan Rosulullah Saw tehadap Aisyah juga digambarkan dalam sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa suatu hari Amr bin Ash bertanya kepada Rosulullah Saw: “Siapakah orang yang paling engkau cintai, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab: ”’Aisyah.” ‘Amr bertanya lagi: “Kalau laki-­laki?” Rasul menjawab: “Ayahnya.

Begitulah sosok Aisyah, istri kecintaan Rosulullah Saw. Aisyah juga dikenal sebagai perempuan yang cerdas, karena kecerdasannya dia termasuk salah seorang al-mukatsirin (orang yang terbanyak meriwayatkan hadis). Jumlah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah dari Rasulullah saw. sebanyak 2210 hadis. Di antaranya, terdapat 297 hadis yang ada di dalam kitab shahihain dan sebanyak 174 hadis yang mencapai derajat muttafaq ‘alaih. Bahkan para ahli hadits menempatkan Aisyah pada urutan kelima dari para penghapal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan Ibnu Abbas. Aisyah memang tidak pernah menyianyiakan waktunya bersama Rosulullah untuk menimba ilmu. Dia selalu menanyakan sesuatu yang belum dia pahami dari suatu ayat kepada Rosulullah. Selain sebagai termasuk golongan al-mukatsirin dia juga dikenal sebagai orang yang menguasai ilmu faraid. Sehingga banyak sahabat senior yang bertanya kepada Aisyah tentang faraid. Kecerdasan Aisyah juga dinyatakan oleh Hisyam bin Urwah yang meriwayatkan hadis dari ayahnya. Dia mengatakan: “Sungguh aku telah banyak belajar dari ‘Aisyah. Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih pandai daripada ‘Aisyah tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan kepadanya, hari-hari yang digunakan di tanah Arab, nasab, hukum, serta pengobatan. Aku bertanya kepadanya: ‘Wahai bibi, dari manakah engkau mengetahui ilmu pengobatan?’ ‘Aisyah menjawab: ‘Aku sakit, lalu aku diobati dengan sesuatu; ada orang lain sakit juga diobati dengan sesuatu; dan aku juga mendengar orang banyak, sebagian mereka mengobati sebagian yang lain, sehingga aku mengetahui dan meng­hafalnya. ”

Aisyah juga dikenal seorang yang mahir dalam bidang bahasa dan sastra, kemahirannya tersebut diungkapkan oleh Urwah: “Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih fasih dariipada Aisyah selain Rasulullah sendiri.” Selain itu Al-Ahnaf bin Qais juga berkata, “Aku telah mendengar khutbah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Alii bin Abi Thalib. Hingga saat ini aku belum pernah mendengar satu perkataan pun dari makhluk Tuhan yang lebih berisi dan baik daripada perkataan Aisyah.” Salah satu contoh kefasihannya dapat kita lihat dari kata-katanya pada kuburan ayahnya, Abu Bakar:

“Allah telah mengilaukan wajahmu, dan bersyukur atas kebaikan yang telah engkau perbuat. Engkau merendahkan dunia karena engkau berpaling darinya. Akan tetapi, untuk engkau adalah mulia, karena engkau selalu menghadap untuknya. Kalau peristiwa terbesar setelah Rasulullah wafat dan musibah terbesar adalah kematianmu, Kitab Allah rnenghibur dengan kesabaran dan menggantikan yang baik selainmu. Aku merasakan janji Allah yang telah ditetapkan bagirnu dan ikhlas atas kepergianmu. Dengan memohon dari-Nya gantimu dan aku berdoa untukmu. Kami hanyalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Bagimu salam sejahtera dan rahmat Allah.”

Kata-kata yang keluar dari mulut Aisyah merupakan kata-kata mutiara yang selalu sarat akan hikmah di dalamnya, kata-kata tersebut selalu terbingkai dengan bahasa yang indah. Sebagai contoh kata-kata hikmah yang sering keluar dari mulut Aisyah adalah: “Bagi Allah mutiara takwa. Takkan ada kesembuhan bagi orang yang di dalarn hatinya terbersit kemarahan. Pernikahan adalah perbudakan, maka seseorang hendaklah melihat kepada siapa dia mengabdikan putri kemuliaannya.”

Selain dikenal sebagai sosok perempuan cerdas, Aisyah juga dikenal sebagai seorang yang sederhana dan dermawan. Tidak pernah di rumahnya terdapat uang satu dirham atau satu dinarpun. Dia selalu menyedekahkan hartanya untuk orang lain. Aisyah juga seorang yang sangat rajin berpuasa. Karenanya dia adalah wanita yang tidak pernah merasa disengsarakan oleh kemis­kinan dan tidak pernah pula dilalaikan oleh kekayaan. Keduniawian bagi Aisyah bukanlah sesuatu hal yang penting sehingga dia menghiraukannya. Dalam suatu kisah juga diceritakan ketika kaum muslim telah menguasai berbagai pelosok negeri dan kekayaan datang melimpah, ‘Aisyah pernah diberi uang seratus ribu dirham. Uang itu langsung ia bagikan kepada orang-orang hingga tak tersisa sekeping pun di tangannya, padahal pada waktu itu di rumahnya tidak ada apa-apa dan saat itu ia sedang berpuasa. Salah seorang pelayannya berkata: “Alangkah baiknya kalau engkau membeli sekerat daging meski­pun satu dirham saja untuk berbuka puasa!” Ia menjawab: “Seandainya engkau katakan hal itu dari tadi, niscaya aku melakukannya.

Demikianlah kepribadian Aisyah, pribadi yang senantiasa diliputi oleh kemuliaan. Meski Rosulullah tidak mendapatkan keturunan dari Aisyah, Aisyah merupakan salah satu istri Rosulullah yang mempunyai banyak keistimewaan dibandingkan dengan istri-istri Rosulullah Saw yang lain. Diantara keistimewaan Aisyah adalah Aisyah adalah satu-satunya istri yang pernah menemani Rosulullah ketika menerima wahyu. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Aisyah yang mengatakan: “Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin sehingga beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau.“ Aisyah juga merupakan satu-satunya istri Rosulullah yang dinikahi ketika masih gadis dan atas perintah langsung dari Allah SWt, satu-satunya istri Rosulullah yang telah diturunkan kepadanya permaafan (udzur) dari langit yakni dalam peristiwa ‘haditsul ifki’; adanya berita bohong yang dituduhkan kepada Aisyah sehingga Allah menurunkan wahyu kepada Rosulullah mengenai kesuciannya. Aisyah juga merupakan satu-satunya istri yang berada disamping Rosulullah Saw ketika beliau sedang sakit hingga akhir hayat beliau. Bahkan Rosulullah meninggal dalam pangkuan Aisyah. ‘Aisyah melukiskan detik-detik terakhir dari kehidupan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut: “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia di rumahku, pada hari giliranku, dan beliau bersandar di dadaku. Sesaat sebelum beliau wafat, ‘Abdur Rahman bin Abu Bakar (saudara lakik-laki Aisyah) datang menemuiku sambil membawa siwak, kemudian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam melihat siwak tersebut, sehingga aku mengira bahwa beliau menginginkannya. Siwak itu pun aku minta, lalu kukunyah (supaya halus), kukebutkan, dan kubereskan sebaik-baiknya sehingga siap dipakai. Selanjutnya, siwak itu kuberikan kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun bersiwak dengan sebaik-baiknya, sehingga belum pernah aku melihat cara ber­siwak namun tangan beliau lemas. Aku pun mendo’akan beliau dengan do’a yang biasa diucapkan Jibril untuk beliau dan yang selalu beliau baca bila beliau sedang sakit. Akan tetapi, saat itu beliau tidak membaca do’a tersebut, melainkan beliau mengarahkan pandangannya ke atas, lalu membaca do’a: ‘Arrofiiqol a’laa (Ya Allah, kumpulkanlah aku di surga bersama mereka yang derajatnya paling tinggi: para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin). Segala puji bagi Allah yang telah menyatukan air liurku dengan air liur beliau pada penghabisan hari beliau di dunia. Bagi Aisyah merawat Rosulullah selama sakit hingga akhir hayatnya merupakan suatu pernghormatan dan penghargaan bagi dirinya, sehingga Aisyah berkata, “Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah wafat di pangkuanku.”

Setelah Rosulullah Saw meninggal, beliau dimandikan dan dimakamkan di kamar Aisyah tersebut, tempat dimana beliau meninggal.  Sebelumnya Aisyah pernah bermimpi dalam tidurnya Aisyah melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya. Ketika dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, Abu Bakar berkata, “Jika yang engkau lihat itu benar, maka dirumahmu akan dikuburkan tiga orang yang paling mulia dimuka bumi.” Ketika Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar berkata, “Beliau adalah orang yang paling mulia diantara ketiga bulanmu,” dan ternyata Abu Bakar dan Umar juga dikuburkan di rumah Aisyah.

Sepeninggal Rosulullah, Aisyah mengabdikan dirinya demi kemajuan dan penyebaran Islam. Rumah Aisyah tidak pernah sepi dikunjungi oleh para sahabat dan orang-orang dari segala penjuru untuk berziarah ke makam Rosulullah dan menimba ilmu kepadanya. Keilmuan Aisyah memang sangat dibutuhkan setelah wafatnya Rosulullah Saw. Tidak jarang Aisyah menjadi tempat bertanya berbagai macam hal tentang permasalahan-permasalahan keagamaan. Hal itulah yang menjadikan Aisyah juga diangkat menjadi penasehat khalifah pada masa Umar bin Khattab dan Ustman hingga dia wafat.

Aisyah wafat pada usia 66 tahun, pada malam selasa bertepatan dengan bulan Ramadhan, tahun ke-58 hijriah, dan dikuburkan di Baqi’. Dia wafat dengan meninggalkan kemuliaan. Kepribadiannya yang sarat akan kezuhudan , ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya kepada Rasulullah SAW seharuskan menjadi contoh tauladan bagi semua perempuan di dunia[1].


[1] http://mumtaz-anas.com/2007/05/29/aisyah-binti-abu-bakar/, http://www.gaulislam.com/aisyah-binti-abu-bakar, http://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan_Muhammad, http://id.wikipedia.org/wiki/Aisyah, http://kisahislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8:aisyah-binti-abu-bakar-rodhiallahu-anha&catid=11:siroh-istri-rosul&Itemid=83, http://poligami.jeeran.com/aisyah.htm, http://abihumaid.wordpress.com/2008/06/20/%E2%80%98aisyah-binti-abu-bakar-wafat-57-h/, http://wafisheva.blogspot.com/2009/06/aisyah-binti-abu-bakar.html

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

2 Comments Add your own

  • 1. Haris Istanto  |  April 15, 2010 pukul 8:48 am

    Selamat siang, posting yang menarik, salut untuk anda.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru berjudul : “Proses kerja usaha cuci sepeda motor?”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan kalau berkenan tolong dikasi komentar.
    Terima kasih.

  • 2. 2010 in review « WE&hellip  |  Januari 4, 2011 pukul 5:57 am

    […] 14. Aisyah binti Abu Bakar (Perempuan Cerdas Kecintaan Rosulullah Saw) April 2010 1 comment 4 […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: