13. Mua’dz bin Jabal (Pemimpin para Faqih)

April 15, 2010 zunlynadia

Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji mendapat julukan Abu Abdurrahman. Dia termasuk golongan anshor dan seorang bangasawan yang berasal dari Madinah yang termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam. Sosok Mua’dz bin Jabal digambarkan sebagai seorang yang berbadan tinggi, cakep, putih bersih, besar kelopak matanya, putih mengkilat giginya, berambut pendek lagi keriting, gagah perkasa, berbudi bahasa dan manis tutur katanya serta cerdas dan cemerlang otaknya. Mua’dz terbuka hatinya untuk menerima kebenaran Islam pada usia yang masih muda 18 tahun. Saat itu dia ikut di bai’at di Aqobah bersama 73 orang anshor lainnya. Setelah di bai’at dia menjadi pendakwah di Madinah dan berhasil mengislamkan beberapa sabahat yang terkemuka disana, salah satu diantaranya adalah Amr bin al-Jamuh.

Ketika Rosulullah Saw memutuskan berhijrah di Madinah, Mua’dz tidak menyianyiakan kesempatan untuk selalu dekat dengan Rosulullah Saw dan mempelajari al-Qur’an dan menimba banyak ilmu dari beliau. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kemudian dia menjadi sosok yang dikenal sangat menguasai ilmu agama dan orang yang bisa membaca dengan sangat baik. Penguasaan ilmu terutama dalam hal ilmu fikih menjadikannya seorang ahli fikih bahkan immamul fuqoha (pemimpin para faqih) yang terkenal di kemudian hari. Dia juga dijuluki sebagai kanzul ilmu yang berarti gudangnya ilmu. Para sahabat bahkan Rosulullah sendiri juga sangat memuji kemampuannya dalam hal ilmu fikih. Hal ini juga pernah dinyatakan oleh Umar bin Khattab yang mengatakan:” ” Barangsiapa yang ingin bertanya tentang Al-Qur’an hendaknya ia datang kepada Ubay bin Kaab, dan barang siapa yang ingin tanya tentang hukum halal dan haram, hendaknya ia datang kepada Mu’adz bin Jabal. Dan barang siapa yang ingin bertanya tentang harta hendaknya ia datang kepadaku. Sesungguhnya Allah menjadikanku tukang penyimpan (baitulmal)”. Sementara Rasulullah sendiri juga pernah bersabda, “Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz bin jabal.”

Ketika kota Makkah sudah ditaklukkan oleh kaum muslimin, para penduduk Makkah meminta tenaga pengajar untuk mengajarkan tentang syari’at, maka Rosulullah Saw memerintahkan kepada Mua’dz untuk tinggal di Makkah dan mengajarkan kepada mereka tentang al-Qur’an dan memberikan pemahaman tentang syari’at agama Allah. Hal ini tidak lain karena Mua’dz memang dianggap mampu dan menguasai ilmu agama dengan baik.

Selain pernah diperintahkan oleh Rosulullah untuk mengajarkan ilmu agama kepada penduduk Makkah. Mua’dz bersama beberapa sahabat yang lain juga pernah diutus oleh Rosulullah Saw untuk mengajarkan al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama lainnya kepada penduduk Yaman, atas permintaan raja-raja Yaman setelah menjumpai Rosaulullah untuk menyatakan keislamannya. Sebelum Rasulullah SAW mengirimnya ke Yaman, beliau bertanya kepada Mua’dz: “Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu’adz?” Kitabullah”, jawab Mu’adz. “Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”, tanya Rasulullah lagi. “Saya putuskan dengan Sunnah Rasul”, jawab Mu’adz. “Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?” “Saya pergunakan fikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia”. Maka berseri-serilah wajah Rasulullah, sabdanya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah ”.

Begitulah sosok Mua’dz, meski dia mempunyai kecintaan yang mendalam terhadap al-Qur’an dan Rosulullah, tetapi dia tetap menggunakan rasio akalnya dalam memahami kebenaran, sehingga dia mampu dan berani untuk berijtihad. Kemampuan dan kecerdasan inilah sehingga Rosulullah mengatakan bahwa Mua’dz adalah orang yang paling tahu tentang halal dan haram, dan kemudian mengutusnya untuk pergi ke Yaman. Rosulullah mempercayakan kepada Mua’dz untuk mendidik dan mengajarkan penduduk Yaman tentang berbagai hal yang terkait dengan syari’at agama. Pada saat hendak berangkat ke Yaman Rosulullah sendiri yang mengntarnya dengan berjalan kaki sedangkan Mua’dz berkendaraan. Kemudian Rosulullah berkata kepada Mua’dz: “Sungguh aku mencintaimu”. Kemudian Rasulullah berwasiat kepadanya dengan bersabda: “Wahai Muadz! Kemungkinan kamu tidak akan dapat bertemu lagi dengan aku selepas tahun ini“. Muadzpun menangis karena merasa sedih dan sangat terharu berpisah dengan Rasulullah Saw. Perpisahan dengan Rosulullah Saw tersebut memang menjadi perpisahan untuk selama-lamanya, karena setahun kemudian Rosulullah dipanggil oleh Allah, pada saat Mua’dz masih berada di Yaman.

Dalam sebuah kisah lain diceritakan, pada masa awal pemerintahan Umar bin Khattab, saat itu beberapa sahabat masuk ke dalam masjid. Di dalam majlis tersebut terdapat sekitar tiga puluh orang sahabat yang masing-masing kemudian mengungkapkan satu hadis yang diperoleh dari Rosulullah Saw. Di dalam majlis tersebut juga terdapat Muadz bin Jabal. Kemudian jika para sahabat tersebut ragu terhadap hadis yang diungkapkan, maka mereka akan bertanya dan meminta kepada Muadz untuk memberikan fatwanya. Lalu Muadz akan memberikan pendapatnya setelah diminta. Muadz memang dikenal sebagai seorang yang pendiam dan tidak akan berkata sampai orang lain yang memintanya, tetapi apa yang dikatakannya selalu bermakna. Sehingga seolah-olah apa yang keluar dari mulut Muadz adalah mutiara.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, sang khalifah mengutus beberapa sahabat untuk pergi ke daerah-daerah untuk mengajarkan al-Qur’an dan ilmu agama disana, diantaranya adalah Abu Darda’, Ubaidah bin As-Somit, Abu Ayub Al-Ansary, Ubai bin Kaab dan Muadz bin Jabal. Ubaidah, Abu Ayub dan Ubay bin Ka’ab ditugaskan ke Hims karena pertimbangan sudah tua dan sering sakit-sakitan. Sementara Abu Darda’ ke Damsyik dan Muadz bin Jaba sendiri pergi ke Urdun. Saat itu kota Urdun sedang terjadi wabah penyakit tho’un atau saat ini dikenal dengan penyakit kusta. Penyakit ini pada akhirnya juga diderita oleh Muadz tepatnya disalah satu jari telunjuknya hingga akhirnya dia meninggal dunia. Muadz meninggal setelah mengemban amanah dari sang khalifah selama beberapa bulan di Urdun, pada usia yang masih cukup muda dan produktif 33 tahun pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab pada tahun 18 Hijriyah.

Meninggalnya Muadz bin Jabal membuat sang Khalifah dan semua umat muslim sangat berduka karena telah kehilangan salah seorang ahli hukum yang cerdas diantara mereka. Sosok Muadz memang begitu membekas di hati Umar, hingga pada saat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Umar bin Khattab pernah ditanyai oleh seseorang: “Bagaimana jika anda tetapkan pengganti anda?” artinya anda pilih sendiri orang yang akan menjadi khalifah itu, lalu kami bai’at dan menyetujuinya? kemudian Umar menjawab: “Seandainya Mu’adz bin Jabal masih hidup, tentu saya angkat ia sebagai khalifah, dan kemudian bila saya menghadap Allah Azza wa Jalla dan ditanya tentang pengangkatannya: Siapa yang kamu angkat menjadi pemimpin bagi ummat manusia, maka akan saya jawab: Saya angkat Mu’adz bin Jabal setelah mendengar Nabi bersabda: Mu’adz bin Jabal adalah pemimpin golongan ulama di hari qiamat.”

Begitulah sosok Muadz bin Jabal yang tidak hanya dicintai oleh Rosulullah tetapi juga sangat dicintai para sahabat-sahabatnya bahkan sampai meninggalnya nama Mua’dz tetap membekas di hati mereka[1].


[1] http://buletinalghifari.wordpress.com/2007/06/22/muadz-bin-jabal/, http://id.wikipedia.org/wiki/Mu%27adz_bin_Jabal, http://haulasyiah.wordpress.com/2008/12/26/mu%E2%80%99adz-bin-jabal-radhiyallahu-%E2%80%98anhu-wafat-18-h/, http://marzokey.wordpress.com/2008/03/12/muadz-bin-jabal/,

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: