12. Mus’ab bin Umair (Duta Islam pertama)

April 15, 2010 zunlynadia

Mus’ab bin Umair bin Hashim bin Abd Munaf atau yang dikenal sebagai Mus’ab al Khair adalah anak seorang bangsawan dari kaum Quraisy yang kaya raya. Sebagai seorang anak bangsawan yang kaya, hidupnya dilimpahi materi yang berlebih. Dia anak yang selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Apapun yang diminta selalu dituruti. Mus’ab sangat menyukai pakaian yang bagus dan mahal. Tidak jarang dia bersama teman-temannya berlomba untuk memakai pakaian yang bagus. Harta, kedudukan serta kehormatan, semuanya dapat diperolehnya dengan mudah. Kondisi Mus’ab yang demikian menjadikannya seorang idola yang selalu didambakan oleh gadis-gadis Makkah pada masa itu. Mereka berlomba-lomba untuk bisa mengambil hati Mus’ab dan berhasrat untuk bisa menjadi istrinya.

Masuknya Mus’ab bin Umair ke dalam Islam membawa perubahan hidup yang begitu drastis dan berbeda dari kehidupan Mus’ab sebelumnya. Hal ini karena kerelaannya untuk meninggalkan harta benda serta kemewahan yang selama ini menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidupnya dan harus berganti dengan kehidupan yang sangat sederhana dan apa adanya.

Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa ketika itu Mus’ab yang masih muda mendengar munculnya seorang nabi yang terpilih dari kalangan kaum Quraisy. Sebagai seorang yang masih muda, dia mempunyai rasa keingintahuan yang besar tentang sosok Nabi yang telah diturunkan oleh Allah dan membawa ajaran baru yang sama sekali berbeda dengan ajaran orang-orang sebelumnya. Keingintahuan Mus’ab membawanya untuk menemui Nabi Saw , dia ingin mendengarkan secara langsung ajaran baru yang dibawa oleh Muhammad. Pada suatu malam, tidak seperti biasanya Mus’ab yang selalu berkumpul bersama teman-temannya, memutuskan untuk pergi ke rumah Al-Arqaam Ibn Al-Arqam – yang kemudian dikenal dengan Daar al Arqaam di kalangan muslim-, dan meninggalkan teman-temannya yang sedang berkumpul. Di tempat tersebut Mus’ab menemui Rosulullah Saw bersama orang-orang muslim lainnya, tanpa diketahui oleh orang-orang Quraish. Disitu dia mendengarkan Rosulullah membacakan al-Qur’an dan berbicara berbagai hal tentang ajaran Islam. Mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang dilantunkan, Mus’ab merasa tergetar hatinya dan melupakan sejenak segala kesenangan hidup duniawi yang selama ini dia jalani, dia merasakan sesuatu hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, sebuah kebahagiaan dan rasa damai yang merasuk ke dalam jiwa. Sebuah kunci kebahagiaan yang abadi dan begitu mempesona kedalamam batin Mus’ab. Pertemuan dengan Rosulullah inilah yang menjadikan Mus’ab merubah keyakinannya, dari seorang penyembah berhala menjadi seorang yang hanya mengakui ketauhidan Allah SWT. Akhirnya Mus’ab resmi menjadi seorang muslim, meski dia sadar akan segala resiko yang akan di hadapi dengan perubahan keyakinannya dan bertekad untuk mengatasinya karena dia yakin Allah akan selalu melindungi dan bersamanya. Hanya Allahlah yang menjadi tujuan utama dia menjalani kehidupan di dunia.

Perjalanan Mus’ab untuk menjadi seorang muslim memang tidak mudah. Hal ini karena keluarga Mus’ab terutama keduda orang tuanya adalah seorang yang teguh memegang keyakinan ajaran nenek moyangnya dan menjadi penyembah berhala yang kukuh. Meski pada awalnya dia menyembunyikan keIslamannya, tetapi pada akhirnya keluarganya juga mengetahui keislamannya dari berita dan omongan orang-orang kafir Quraisy yang sering melihat Mus’ab berkunjung ke Daarul Arqom. Kenyataan tersebut membuat keluarganya sangat marah terutama ibu Mus’ab. Sebagai seorang anak kesayangan, Mus’ab memang lebih diistimewakan daripada saudara-saudaranya yang lain. Keislaman Mus’ab membuat ibunya sangat terpukul dan kemudian menghukumnya dengan mengurungnya di dalam kamar selama berhari-hari. Lalu Ibu Mus’ab memintanya untuk kembali kepada ajaran dan keyakinannya semula. Tetapi dengan tegas Mus’ab menolaknya. Sebaliknya dengan halus Mus’ab selalu membujuk ibunya untuk mengikuti agama baru yang dianutnya. Kenyataan itu justru membuat ibu Mus’ab semakin marah dan membencinya.

Pada suatu hari Mus’ab melihat ibunya dalam keadaan lesu, kemudian Mus’ad menanyakan hal itu kepada sang ibu. Ternyata ibunya berniat untuk tidak makan di depan berhala sampai putra kesayangannya tersebut meninggalkan ajaran Islam dan kembali kepada kepercayaan awalnya. Mendengar hal tersebut Mus’ab kemudian berkata kepada ibunya:” Andaikata ibu mempunyai seratus nyawa sekalipun, dan nyawa ibu keluar satu demi satu, nescaya saya tetap tidak akan meninggalkan Islam sama sekali”.

Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Mus’ab tesebut, kemudian ibunya mengusirnya dari rumah dan tidak mengakuinya sebagai anak. Setelah terusir dari rumah Mus’ab kemudian ikut bergabung bersama para sahabat Nabi Saw. Ini menjadi tantangan yang berat bagi Mus’ab karena dia harus rela meninggalkan segala bentuk kemewahan, dan kehidupan yang serba ada yang selama ini ia rasakan dan harus beralih pada sebuah kehidupan yang papa. Untuk meneruskan kehidupannya, Mus’ab berusaha sendiri bekerja mencari nafkah dengan menjual kayu api. Berita inipun sampai ke telinga ibunya, keluarganya merasa sangat malu karena gelar kebangsawanan mereka telah tercemar oleh sikap Mus’ab yang berani untuk melakukan pekerjaan yang hina bagi mereka demi ajaran barunya tersebut. Adik-adik Mus’abpun berdatangan kepadanya dan terus membujuknya untuk meninggalkan ajaran Islam, tetapi Mus’ab adalah seorang yang teguh pendirian dan konsisten terhadap pilihan, sehingga berbagai usaha yang dilakukan oleh keluarganya baik yang dilakukan secara halus maupun paling keras tetap tidak menggoyahkan keimanannya.

Pada saat yang bersamaan siksaan dan ancaman juga terus dilakukan oleh kaum kafir Quraisy bahkan semakin keras dan menjadi-jadi. Kemudian Rosulullah Saw memerintahkan para sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah (Etiophia). Mus’abpun turut serta di dalamnya bersama para sahabat yang lain untuk berhijrah ke Habasyah. Tidak lama setelah para sahabat ini berhijrah, mereka kemudian pulang kembali ke Makkah karena mendengar situasi Makkah sudah menjadi lebih baik. Meski sesampainya di Makkah ternyata kondisi Makkah masih belum banyak berubah dari sebelumnya. Hal itu kemudian membuat Rosulullah Saw berinisiatif untuk berhijrah ke Yasiib (lebih dikenal dengan kota Madinah).

Sekembalinya Mus’ab dari Habasyah, sosok Mus’ab menjadi sangat jauh berbeda dengan sebelumnya. Dia menjadi kurus kering, dengan pakaian yang seadanya. Suatu hari Mus’ab pergi untuk bertemu beberapa muslim. Ketika itu mereka sedang duduk bersama Rosulullah SAW. Ketika mereka melihat Mus’ab, mereka menundukkan kepala sambil menangis diam-diam. Ingatan mereka kembali kepada seorang anak muda yang dulunya adalah anak kesayangan sang ibu, dapat meminta apa saja keinginannya. Pakaian mewahnya dulu kini telah berganti dengan pakaian sederhana yang penuh tambalan, yang
hampir saja tak mencukupi badannya. Ketika Mus’ab pergi meninggalkan majlis itu, Rosulullah SAW mengatakan: Aku lihat Mus’ab, dan sungguh tidak ada anak muda di Makkah yang lebih berpunya daripada ia. Tetapi semua kemewahan itu dia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan nabiNya.”

Mendengar bahwa Mus’ab telah kembali dari Habasyah, ibunya kembal menyuruh adiknya al-Rum untuk membujuk Mus’ab untuk meninggalkan ajaran Islam. Tetapi sekali lagi Mus’ab menolak dengan halus tetapi sangat tegas bahwa apapun yang akan terjadi dia akan tetap mempertahankan ajaran yang dibawa oleh Rosulullah Saw. Meski adik Mus’ab Al-Rum membujuknya untuk meninggalkan ajarannya, tetapi ternyata al_Rum sendiri sebenarnya telah menyatakan keislamannya, hanya saja dia masih menyembunyikannya dari keluarganya.

Sebelum Rosulullah beserta umat muslim berhijrah ke Madinah. Rosulullah Saw menyuruh Mus’ab untuk menjadi duta orang muslim untuk penduduk Madinah. Misinya adalah berdakwah untuk menyebarkan ajaran Islam di Madinah, dan hasilnya adalah terdapat 12 orang yang kemudian di bai’at oleh Rosulullah di Aqobah. Peristiwa yang kemudian di kenal dengan ‘Aqobah al-Ula (bai’at Aqobah yang pertama). Mus’ab dipilih Rasulullah untuk tugas ini dan ia terpilih dari sekian banyak sahabat yang jauh lebih tua darinya. Ia dipiliha karena ia memiliki wibawa lebih tinggi daripada sahabat yang lain. Selain itu, ia juga berasal dari kalangan bangsawan dengan perilakunya yang baik dan kecerdasannya. Pengetahuannya tentang ayat-ayat dalam Alquran dan kemampuannya untuk menyampaikannya dengan sangat indah juga menjadi salah satu alasan mengapa Rosulullah menunjuk Mus’ab untuk mengemban tugas yang berat ini. Dengan sifat zuhud, kejujuran, dan kesungguhan hati, iapun berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Selama di Yastrib (Madinah), Mus’ab tinggal sebagai tamu di rumah Sa’ad Ibn Zurarah dari suku Khazraj. Bersama-sama mereka mengunjungi penduduk Yathrib, menjelaskan ajaran tauhid dan melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Dalam sebuah kisah di sebutkan bahwa pada suatu ketika, Mus’ab dan Sa’ad duduk di dekat sumur di daerah bani Zafar. Kemudian mereka didekati oleh Usayd Ibn Khudayr dengan muka merah padam dan tombak ditangan. Sa’ad berbisik kepada Mus’ab: “Dialah pemimpin kaum ini. Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah padanya.” Mus’ab menjawab dengan tenang: “Jika dia mahu duduk, barulah aku akan berbicara dengannya.” Usayd sangat marah kerana Mus’ab telah berhasil menyebarkan islam dengan terus bertambahnya penduduk Yastrib yang memeluk Islam. Usayd berteriak: “Kenapa kalian berdua datang kepada kami dan mempengaruhi kaum yang lemah diantara kami? Jauhi kamu jika kamu masih ingin hidup.”

Mus’ab tersenyum dan berkat: ”Tidak maukah kamu duduk dan mendengarkan
apa yang akan kami sampaikan? Jika kamu tidak menyukai apa yang akan
kami sampaikan, kami akan berhenti dan pergi”. Kemudian Usayd memutuskan untuk duduk dan mendengar apa yang Mus’ab ingin sampaikan.
Mus’ab mulai menerangkan mengenai Islam dan melantunkan sebagian dari Quraan. Seketika ekspresi muka Usayd berubah. Kata pertama yang diucapkannya adalah: “Betapa indahnya ayat-ayat ini dan betapa benarnya kandungannya, bagaimana caranya memasuki agama ini?”. Mus’ab berkata: “Mandilah, bersihkan dirimu dan pakaianmu. Kemudian ucapkanlah shahadat dan laksanakanlah shalat.” Usayd pun bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusanNya. Kemudian ia shalat dua rakaat. Keislamaan Usayd inipun diikuti seorang pemimpin berpengaruh lainnya yaitu Sa’ad ibn Muaadh.

Begitulah yang dilakukan Mus’ab di Madinah. Dia adalah pembuka pintu Islam di kota Madinah dan menyiapkan kota Madinah untuk hijrah Rosulullah Saw beserta para sahabatnya. Setelah Rosulullah hijrah ke Madinah, hampir tidak ada satu rumahpun yang tidak dikunjungi oleh Mus’ab untuk di dakwahi dan mengajak kepada ajaran Islam. Satu tahun kemudian 73 orang penduduk Madinah kembali ke Aqobah untuk di baiat. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan peristiwah Aqobah kedua.

Selain menjadi seorang duta Islam yang pertama. Mus’ab juga menjadi orang yang cukup aktif mengikuti peran pada masa Nabi. Diantaranya adalah perang Badar dan perang Uhud. Dalam sebuah kisah diceritakan, ketika kaum muslimin menang dalam perang Badar, banyak orang-orang kafir yang menjadi tawanan kaum muslimin. Diantara para tawanan tersebut ada salah satu kakak kandung Mus’ab yang bernama Abu Aziz ibn Umayr. Tetapi Mus’ab tidak berusaha untuk membebaskannya bahkan ketika ia berjalan di depan kakaknya tersebut, Mus’ab berkata kepada para penjaga tawanan untuk lebih erat mengikat tali yang diikatkan ke tangan Abu Aziz sambil berkata:” “Ibunya adalah seorang yang kaya dan akan memberi tebusan yang banyak, jagalah ia”. Kakak Abu Aziz menjadi sangat marah melihat apa yang dilakukan oleh Mus’ab, tetapi Mus’ab tidak perduli karena baginya perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan menjaga keIslaman sangat penting bahkan daripada hubungan darah sekalipun.

Ketika perang Uhud terjadi, Mus’ab juga tidak lupa untuk mengambil bagian didalamnya. Pada saat itu, Rosulullah menugasinya untuk membawa bendera perang. Pada pasukan pemanah meninggalkan bukit yang menjadi pengkalannya (melanggar perintah nabi), maka kaum kafir Mekkah menyerang balik dan berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW yang ketika itu dilindungi oleh beberapa sahabat. Seketika ada sebuah teriakan yang mengabarkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah wafat. Dalam kondisi yang kocar-kacir di kalangan kaum muslimin, Ibn Qaami’ah yang seorang panglima pasukan kafir Mekkah. Ibn Qaami’ah kemudiah memukul dan memotong tangan kanan Mus’ab tetap dengan teguh memegang bendera dengan tangan kirinya sambil berkata “Dan sungguh Muhammad SAW itu adalah seorang nabi, dan Nabi-nabi telah meninggal sebelumku”. Kemudian Ibn Qaami’ah memutuskan tangan kiri Mus’ab. Mus’ab tetap menegakkan bendera perang dengan lengan atas dan dadanya sambil berkata “Dan sungguh Muhammad SAW itu adalah seorang nabi, dan Nabi-nabi telah meningal sebelumku”. Kemudian datang prajurit kafir ketiga yang menghujamkan tombaknya ke dada Mus’ab. Saat itulah kemudian tubuh Mus’ab jatuh ke tanah dengan berlumuran darah sebagai seorang syahid.

Setelah gugurnya Mus’ab, Al-Rum (adik Mus’ab), Amir ibn Rabiah dan Suwaibit ibn Sad telah berusaha mendapatkan bendera tersebut daripada jatuh ke bumi. Al- Rum telah berhasil merebutnya dan menyaksikan sendiri syahidnya Mus’ab. Al- Rum tidak dapat lagi menahan kesedihan melihat kesyahidan abangnya. Tangisannya memenuhi sekitar bukit Uhud. Ketika hendak dikafankan, tidak ada kain yang mencukupi untuk menutup jenazahnya. Keadaan itu menyebabkan Rasulullah tidak dapat menahan kesedihan hingga bercucuran air mata sambil berkata: Diantara orang-orang yang beriman ada mereka yang setia dengan janjinya dengan Allah. Kemudian Rasul SAW memandang ke jenazah-jenazah para syuhada dan berkata: Sesungguhnya nabi Allah ini bersaksi bahwa mereka adalah syuhada Allah pada hari Kebangkitan nanti.

Begitulah sosok Mus’ab bin Umair, seorang yang akhirnya menemukan kedamaian yang jhabadi dalam kesyahidannya. Dia menjadi saksi bahwa harta dan tahta tidaklah dapat memberikan kebahagiaan, sehingga dia harus meninggalkannya demi sebuah kebenaran, kebahagian dan kedamaian yang paling hakiki dari sebuah kebahagiaan semu di dunia[1].


[1] http://islamwillneverdie.blogspot.com/2009/12/musab-bin-umair-duta-islam-pertama.html, http://zulyunus.com/2009/02/19/musab-bin-umair-duta-islam-yang-pertama/, http://mpiuika.wordpress.com/2010/02/21/mus%E2%80%99ab-bin-umair-syahid-mempertahankan-panji-islam/, http://defriskeder.blogspot.com/2009/08/musab-ibn-umair.html

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: