11. Abdullah bin Mas’ud (Pembaca al-Qur’an pertama setelah Rosulullah)

April 15, 2010 zunlynadia

Nama lengkap Abdullah bin Mas’ud adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Hubaib, bin Samh bin Far bin al-Harits bin Taim bin Sa’id bin Hudail, bin Madrakah, bin Ilyas bin Madhr al-Hazly Abu Abdurrahman. Dia sering dipanggil dengan Ibn Ummi Abdillah.

Abdullah bin Mas’ud adalah seorang buruh dari orang-orang Quraisy yang ingin menggembalakan ternaknya. Sosok Abdullah bin Mas’ud ini digambarkan sebagai seorang yang kurus, kecil, bahkan bias dibilang kerdil, dengan kedua betis yang kecil,dengan perut yang besar, bermuka imut serta berkulit coklat. Meski bertubuh kecil, dia adalah seorang yang lembut, alim, sabar dan cerdik serta pemberani. Dia juga sosok yang cerdas dan pandai dalam ilmu agama. Keluasan ilmunya diakui oleh banyak sahabat bahkan oleh Rosulullah Saw sendiri.

Abdullah bin Mas’ud termasuk dalam golongan orang-orang yang pertama tama masuk Islam. Sebagai golongan pertama yang menyatakan keIslamannya, Abdullah bin Mas’ud juga banyak merasakan berbagai penderitaan sebagaimana sahabat-sahabat yang lain. Apalagi dia bukan termasuk dari golongan bangsawan yang mempunyai keluarga besar serta harta yang banyak, melainkan hanya dari kalangan buruh yang fakir. Karenanya penderitaannya menjadi semakin terasa dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain. Masuknya Abdullah bin Mas’ud kedalam Islam dimulai dari pertemuannya secara langsung dengan Rosulullah ketika Rosulullah bersama Abu Bakas al-Shiddiq akan berhijrah secara diam-diam ke Madinah. Meski sebelumnya dia sudah sering mendengar dakwah yang diserukan oleh Rosulullah Saw, tetapi dia tidak menghiraukannya. Tetapi ketika pada suatu hari dia bertemu langsung dengan Rosulullah, dia melihat bagaimana mulianya beliau serta keistimewaan dan mukjizat yang dimilikinya. Saat itu dia sedang menggembalakan kambing milik ‘Uqbah abi Mu’ith, kemudian dia berpapasan dengan Rosulullah dan Abu Bakar, kemudian Rosulullah berkata kepadanya:” Hai ghulam (anak kecil), adalah susu di kambing ini?, kemudian Abdullah bin Mas’ud menjawa: “ada tetapi kambing ini bukanlah kepunyaanku?”. Kemudian Rosulullaj Saw berkata :”adakah kambing betina yang belum didekati si jantan?”, kemudian Ibn Mas’ud memberikan kambing betina kepada Rosulullah Saw. Setelah itu Rosulullah mengusap perut kambing tersebut dan memeras susunya, setelah meminum susu kambing bersama Abu Bakar, Rosulullah berkata kepada kambing:”menyusutlah engkau”, kemudian menyusutlah perut kambing yang sebelumnya terisi susu.

Melihat kejadian tersebut, tanpa ragu Abdullah bin Mas’ud menyatakan keIslamannya kepada Rosulullah dan mengucapkan syahadat. Kemudian Rosulullah Saw mengusap kepalanya dan berkata: “Semoga Allah merahmatimu,sesungguhnya engkau adalah anak kecil yang diilhami Allah sebuah kebenaran dan kebaikan”.

Setelah keislamannya tersebut, Abdullah bin Mas’ud selalu ikut serta dalam dakwah dan perjuangan Rosulullah Saw. Saat Rosulullah dan Abu Bakar harus bersembunyi di dalam sebuah goa untuk menghindari perlawanan dan sergapan orang kafir Quraisy menjelang keberangkatannya ke Madinah, putri Abu Bakar berperan mengirimkan makanan kepada keduanya selama berada di dalam goa, sementara putra Abu Bakar Abdullah berperan mengabarkan semua tentang apa saja yang terjadi, sementara Abdullah bin Mas’ud juga mempunyai peran yakni menghilangkan jejak yang dilalui oleh putra dan putri Abu Bakar dengan kambing-kambing gembalaanya. Itulah kali pertama dia membantu Rosulullah dalam rangka hijrahnya beliau ke Madinah.

Abdullah bin Mas’ud juga dikenal sebagai seorang yang berilmu tinggi, dia tidak segan-segan terus menimba ilmu, sehingga dia termasuk seorang ulama dan seorang ahli fikih yang pandai. Abdullah bin Mas’ud juga termasuk orang pertama yang membacakan al-Qur’an secara jahr setelah Rosulullah Saw, ia memang dikenal sebagai pembaca al-Qur’an yang baik bahkan dia juga sangat memahami makna-maknanya serta mengetahui semua sebab diturunkannya ayat-ayat tersebut kepada Nabi Saw. Suatu ketika Rosulullah pernah bersabda:” , ” Barang siapa senang membaca Al-Qur’an dengan cara yang baik (merendahkan diri) sebagaimana diturunkan maka dengarkanlah bacaan Ibnu Mas’ud.

Dalam suatu kisah disebutkan bahwa pada suatu hari para sahabat Nabi Saw sedang berkumpul di Makkah. Saat itu kaum muslimin masih menjadi kelompok minoritas yang masih sering tertindas, kemudian para sahabat ini berkata:” Demi Allah, kaum Quraisy belum pernah mendengar Al Qur’an dibacakan dengan keras kepada mereka. Siapakah orang yang berani membacakannya kepada mereka?!”. Kemudian dengan berani Abdullah bin Mas’ud berkata:” “Aku yang akan membacakan Al Qur’an kepada mereka!”. Mendengar perkataan Ibnu Mas’ud, kemudian para sahabat tadi berkata: “Kami khawatir mereka akan mencelakakanmu. Yang kami inginkan adalah seseorang yang memiliki keluarga besar yang dapat melindungi dan menjaganya dari kejahatan mereka, bila mereka berniat melakukannya.”. Kemudian Ibnu Mas’ud kembali berkata “Biarkan aku melakukannya, karena Allah akan menjaga dan melindungiku!”

Kemudian dengan segenap keberanian yang dimilikinya, ia pergi ke Masjidil Haram dan berjalan ke arah maqam Ibrahim pada waktu dhuha. Saat itu suku Quraisy sedang duduk di sekeliling Ka’bah. Abdullah lalu berdiri di depan Maqam Ibrahim dan membacakan Al-Qur’an dengan suara yang lantang:

“Bismillahirrahmaanirrahiim…
Allah yang Maha Rahman…
Yang telah mengajarkan Al-Qur’an…
Menciptakan insan…
Dan menyampaikan padanya penjelasan…
Matahari dan bulan beredar menurut…
Perhitungan…
Sedang bintang dan kayu-kayuan sama…
Sujud kepada Tuhan…

Lalu dia melanjutkan bacaanya, melihat seorang Ibnu Mas’ud membacakan al-Qur’an, orang-orang kafir Quraisy melihatnya dengan pandangan yang tidak percaya karena seorang buruh yang selama ini bekerja kepada mereka berani berdiri dan membacakan ayat-ayat dengan suara yang keras. Kemudian salah seorang dari orang Quraisy itu berkata:”Apa yang telah dibaca oleh Ibnu Ummi Abdin ini? Celaka dia! Dia sedang membaca sebagian ayat yang dibawa oleh Muhammad!”

Mereka pun langsung menghampiri Abdullah dan memukuli wajahnya. Namun, ia masih saja meneruskan bacaannya sehingga batas yang Allah tentukan. Kemudian ia datang menghampiri para sahabat dengan darah yang mengalir dari tubuhnya. Para sahabat berkata: “Inilah yang sebenarnya selalu kami khawatirkan pada dirimu!”

Tetapi kemudian Abdullah menjawab: “Demi Allah, mulai saat ini tidak ada yang lebih berat dari para musuh Allah. Jika kalian mau, besok pagi aku akan membuat mereka semua seperti ini!” Para sahabat langsung menjawab: “Jangan, cukuplah karena engkau telah berani membacakan kepada mereka apa yang mereka benci!”

Keberanian Abdullah bin Mas’ud memang tidak bisa diragukan lagi, dia juga banyak telibat dalam setiap peperangan pada masa Nabi, seperti perang badar, perang Uhud, perang khondaq dan lain sebagainya. Tubuhnya yang kecil justru membuatnya lebih lincah dan mudah untuk berlari menghindari serangan musuh. Dalam suatu kisah  disebutkan bahwa suatu ketika pada perang Badar Rasulullah bersabda, ” siapa yang mau datang kepadaku dengan membawa kabar Abu Jahal ? ” Maka Abdullah bin Mas’ud menjawab, ” Saya ya rasulullah. “: lantas ia pergi. tiba-tiba dijumpai dua anak ‘Afra’ telah memukul abu Jahal sehingga pingsan. Keudian Abdullah menginjak leher Abu Jahal dengan kakiknya dan ditebasnya kepala Abu Jahal. Kepala Abu Jahal kemudian dibawa ke hadapan Rasulullah dan Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ya Rasulullah inilah kepala Abu Jahal”. Kemudian rasulullah bersabda:” Allah yang tiada ilah kecuali Dia (3x). kemudian beliau melanjutkan, “Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah yang telah benar janji-Nya dan telah menolong Hamba-Nya, serta mengalahkan golongan-golongan.

Abdullah bin Mas’ud juga termasuk seorang sahabat yang sangat dekat dengan Rosulullah. Dia menjadi seorang sahabat yang sering membawakan siwak dan kedua sandal Rasulullahs serta sahabat yang membangunkan Rasulullah tatkala tidur dan mengambilkan wudlunya. Semua ini ia lakukan waktu safar. Mengambilkan air untuk Nabi, dan orang yang memasuki kamar Nabi ketika ia berada di rumah beliau. Dia juga seorang sahabat yang menyerupai Nabi dalam hal ketenangan dan wibawanya dan orang yang sangat wara’ dan bijaksana. Keistimewaan Abdullah bin Mas’ud ini juga diakui oleh para sahabat Nabi yang lain, diantaranya adalah Umar bin Khattab yang pernah berkata:”Ibn Mas’ud adalah bejana yang sarat ilmu pengetahuan”. Sementara Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata:”Ibnu Mas’ud membaca dan mempelajari al-Qur’an, menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan apa yang diharamkan. Ia adalah seorang ahli fiqh dalam agama dan seorang yang alim dalam masalah hadis”. Begitulah sosok Abdullah bin Mas’ud, meski dia dikenal sebagai seorang pelayan Nabi Saw, tetapi dia juga mendapatkan kemuliaan dan kehormatan baik di depan Nabi Saw maupun dihadapan para sahabat.

Sebagai seorang yang dekat dan sering bersama Nabi Saw, tidak mengherankan jika Abdullah bin Mas’ud adalah salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadis Nabi Saw. Bahkan karena pengagungannya terhadap Rosulullah Saw, setiap dia akan membacakan sebuah hadis, badannya selalu gemetar. Hal ini karena dia merasa ketakutan dan khawatir menambah-nambahi ataupun lupa satu kata dari hadis yang dibacanya. Kedekatannya dengan Rosulullah memang diakui oleh para sahabat. Dia juga dijuluki “Shahibus Showad” yang berarti pemilik rahasia, karena Rosulullah banyak bercerita kepadanya tentang rahasia-rahasia beliau. Suatu hal yang menunjukkan rasa percaya Rosulullah yang tinggi terhadapnya. Para sahabatpun berkata tentang kedekatannya dengan Rosulullah: “Dia diperbolehkan masuk ke kamar Rosulullah, sedangkan kami tidak diperbolehkan masuk, dialah yang menyaksikan bila kami tidak ada”. Demikianlah bagaimana para sahabatpun menggambarkan kedekatannya dengan Rosulullah yang tidak dimiliki oleh para sahabat lainnya. Pintu rumah Nabipun juga selalu terbuka untuk Abdullah bin Mas’ud kapanpun dia akan datang kepada Rosulullah Saw.

Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud diangkat sebagai seorang bendahara Baitul Mal di kota Kufah. Selama menjabat sebagai bendahara Baitul Mal, dia mendapat tempat di hati penduduk Kufah. Padahal belum ada pejabat sebelumnya mendapat tempat dan pengakuan di hati penduduk Kufah. Sehingga kecintaan mereka kepada Abdullah merupakan sesuatu yang langka dan tidak lazim.  Hal ini karena sepanjang sejarah penduduk Kufah memang dikenal sebagai penduduk yang mudah terombang-ambing dan sangat suka berperang.

Kecintaan meraka terhadap Abdullah bin Mas’ud ditunjukkan ketika pada masa khalifah Utsman bin Affan, Abdullah dipanggil oleh sang kholifah untuk kemudian dipecat dari jabatannya tersebut. Kemudian datanglah para penduduk Kufah dengan berbondong-bondong kepada Ibnu Mas’ud dan berkata:”Sebaiknya engkau tetap saja disini dan jangan keluar. Kami akan mempertahankan engkau dari sesuatu yang tidak diinginkan”. Tetapi dengan kebesaran jiwanya Abdullah bin Mas’ud berkata:”Khalifah mempunyai hak atas diriku untuk ditaati dan dipatuhi. Sesungguhnya kelak akan terjadi banyak masalah dan fitnah. Aku tidak ingin diriku menjadi pembuka pintu masalah dan fitnah tersebut”. Setelah dipecat dan diputuskan gajinya, Ibnu Mas’ud tidak pernah sepatah katapun berkata sesuatu yang buruk tentang khalifah Utsman bin Affan. Sesuatu yang semakin menunjukkan kebesaran jiwa dan keluhuran budi pekertinya.

Setelah tidak menjabat menjadi bendahara baitul mal di Kufah, Abdullah kemudian memutuskan untuk tinggal di Madinah hingga akhir hayatnya. Abdullah bin Mas’ud meninggal pada masa pemerintahan Utsman bin Affan di usianya yang sudah cukup tua. Ketika ‘Abdulah hampir meninggal, Khalifah ‘Utsman datang menjenguknya.“Sakit apa yang engkau rasakan, hai ‘Abdullah?” tanya Khalifah“Dosa-dosaku,” jawab ‘Abdullah.“Apa yang engkau inginkan?” tanya ‘Utsman.“Rahmat tuhanku,” jawab Abdullah. “Tidakkah engkau ingin supaya kusuruh orang membawakan gaji-gajimu yang tidak pernah engkau ambil selama beberapa tahun?” tanya ‘Utsman. Kemudian Ibnu Mas’ud menjawab: “Saya tidak membutuhkannya,”.“Bukankah engkau mempunyai anak-anak yang harus hidup layak sepeninggal engkau?” kata ‘Utsman.“Saya tidak kuatir anak-anak saya akan hidup miskin. Saya menyuruh mereka membaca surat Al Waqi ‘ah setiap malam. Karana saya mendengar Rasulullah bersabda, “sesiapa membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, dia tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya. Demikianlah kemudian pada suatu malam Abdullah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Jasadnya di sholatkan oleh ribuan umat muslim dan pada malam itu pula dia dimakamkan di baqi’, sebuah pemakaman di Madinah.

Begitulah sosok bersahaja dan wara’ seorang Abdullah bin Mas’ud, sebuah kisah yang pantas diteladani oleh semua umat Muslim. Kefakiran, status sebagai seorang buruh tidaklah menghalangi seseorang untuk mencapai kemuliaan dan kedudukan yang tinggi di hadapan Allah dan rosulnya[1].


[1] Hilme Ali Sya’ban, Salman al-Farisi, Abd al-Rahman bin Auf, Abdullah bin Mas’ud, (Yogyakarta: Mitra Wacana, 2004), http://micr0byt3.wordpress.com/2007/09/06/abdullah-bin-masud/, http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Mas%27ud, http://www.kaunee.com/index.php?option=com_content&view=article&id=253:abdullah-bin-masud&catid=100:riwayat-tokoh&Itemid=140, Abdullah Bin Mas’ud, http://onesaiful.blogspot.com/2007/10/abdullah-ibn-masud.html

Entry Filed under: Kisah para Assabiqunal Awwalun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

April 2010
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: