Posts filed under: ‘Studi Islam‘




Perdamaian dalam Perspektif al-Qur’an dan Bible (Upaya membangun dialog antar agama di Indonesia)

Pengantar

Akhir-akhir ini hubungan antar umat beragama di Indonesia kembali diuji. Penyerangan terhadap kelompok ahmadiyah, pembakaran gereja, demostrasi anarkis, hingga penyerangan terhadap jamaah gereja, peledakan bom, hingga teror-teror yang mengarah pada isu hubungan antar agama. Apa yang terjadi selama ini sangat mengiris nurani kemanusiaan. Bagaimana tidak, kasus penyerangan terhadap jamaah ahmadiyah di Cikeusik baru-baru ini misalnya memperlihatkan bagaimana bringas dan kejinya mereka melakukan kekerasan, ketika diantara jamaah sudah babak belur dan meninggalpun masih juga dipukul bahkan ditelanjangi bak seorang penjahat. Apa sebenarnya yang terjadi dengan negeri yang plural dan majemuk ini? Sudah hilangkah rasa kemanusiaan sehingga kekerasan seolah sudah menjadi hal yang lumrah? Adakah sesuatu yang salah dalam ajaran agama?

Pertanyaan-pertanyaan diatas terus menerus menggelayut di benak penulis. Bagaimana mungkin seorang yang beragama justru menjadi “preman” yang siap untuk menyerang siapa saja yang berbeda agama dan keyakinan. Apakah religiusitas seseorang justru akan menghantarkannya menjadi seorang yang membenci orang lain yang berbeda agama. Kegelisahan-kegelisahan ini membuat penulis mencoba untuk mengetahui lebih jauh tentang konsep perdamaian yang ada dalam ajaran agama (dalam hal ini adalah Islam dan Kristen) serta bagaimana konsep perdamaian itu diterapkan dalam kehidupan pemeluknya.

 

Perdamaian dalam Perspektif Al-Qur’an

Perdamaian merupakan salah satu ajaran pokok dalam ajaran Islam. Perintah untuk selalu berdamai tidak hanya terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an tetapi juga dicontohkan langsung dalam kehidupan Rosulullah Saw. Sebagaimana diketahui Muhammad adalah sosok yang sangat dikenal dengan kepribadian dan budi pekertinya yang baik. Ada banyak peristiwa bersejarah yang memperlihatkan pribadi Rasulullah sebagai seorang juru damai. Bahkan jauh sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi. Banyak perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Muhammad selama menjalankan misi dakwahnya dimana hal tersebut bertujuan untuk menghindari konflik dan berupaya membangun perdamaian. Mulai dari perjanjian Hudaibiyah, piagam Madinah, Perjanjian dengan delegasi Najran dan masih banyak lagi.

Kata Islam sendiri juga diambil dari kata “salama” yang berarti selamat dan juga “silm dan salaam” (damai) yang secara jelas menegaskan bahwa karakter dasar dari ajaran Islam adalah menyebarkan perdamaian.

Dalam ungkapan teks agama, perdamaian sering dibahaskan dengan al-aman, Dalam terminologi al-amān, adalah sebuah kesepakatan untuk menghentikan peperangan dan pembunuhan dengan pihak musuh. Selain al-aman, masih ada beberapa istilah lain yang juga merujuk pada perdamaian yakni al-sulh, al-hudnah, al-mu’ahadah dan aqd al-zimmah. Banyak ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang menunjukkan ajaran perdamaian. Meski diantara ayat-ayat tersebut tidak secara eksplisit menyatakan perintah perdamaian akan tetapi secara tersirat ayat tersebut mengajak umat muslim untuk membuat perdamaian. Misalnya ayat-ayat tentang berbuat adil, larangan untuk berbuat kekerasan[1], serta ayat-ayat tentang hubungan antar agama[2] serta universalitas agama.

Jika melihat teks-teks yang ada dalam al-Qur’an, maka akan terlihat wajah Islam yang damai dan menjadi penebar kedamaian. Dalam ayat tentang universalitas agama misalnya, terlihat bahwasanya Islam mengakui adanya pluralitas[3]. Islam juga mengajarkan umatnya untuk tidak memaksakan kehendak dalam beragama[4]. Bahkan Islam juga mengajarkan bagaimana cara berhubungan dengan pemeluk agama lain. Ungkapan salam yang selalu diucapkan oleh kaum muslimin tidak hanya sekedar ucapan salam tetapi lebih dari itu, yakni merupakan perintah untuk selalu menebarkan perdamaian dimanapun berada. Namun demikian dalam tataran praktis wajah damai Islam yang merupakan salah ajaran yang paling penting dalam agama Islam ini sering dinodai oleh praktik-praktik kekerasan dan pemaksaan oleh beberapa oknum dengan mengatasnamakan agama dan dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar. Sebuah konsep dakwah yang diwajibkan bagi setiap umat muslim. Prilaku-prilaku demikian ini membuat wajah Islam dinodai dan dipersepsikan sebagai agama kekerasan. Sebagaimana yang ditulis oleh Max Weber bahwa Islam adalah agama yang memiliki etos keprajuritan, tetapi tidak memiliki etos kewiraswastaan. Penyebaran Islam bahkan sering difahami dengan gambaran seseorang yang “memegang al-Quran di tangan kanan dan pedang di tangan kirinya”. Pendapat Max Weber ini memang tidak “sepenuhnya salah” ketika melihat prilaku radikalisme agama di kalangan kaum muslimin sehingga berwujud pada munculnya kekerasan serta pemaksaan dalam beragama. Namun pendapat ini jelas merupakan pendapat yang sangat tidak diterima ketika melihat secara menyeluruh ajaran Islam serta ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur’an. Artinya jelas bukan ajaran Islam yang memiliki etos keprajuritan karena sesungguhnya Islam adalah agama perdamaian.

Dalam mengajarkan perdamaian, ayat-ayat di dalam al-Qur’an tidak banyak menyebut kata perdamaian secara eksplisit, akan tetapi banyak sekali ayat-ayat yang mengajarkan untuk senantiasa berbuat baik dan menekankan adanya keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama manusia dimana jika ajaran-ajaran ini dilakukan dengan baik tentu saja akan berimplikasi pada perdamaian di dunia. Perintah atau anjuran berbuat baik kepada sesama adalah modal awal membangun perdamaian. Perbuatan baik kepada sesama adalah pintu utama dalam mewujudkan perdamaian. Perdamaian tidak akan tercipta dengan kezaliman karena akan selalu muncul perlawanan dari orang yang dizalimi. Ibarat kata pepatah, semut pun akan marah jika diinjak. Oleh karena itu, perintah Islam kepada umatnya agar beramal saleh merupakan fondasi bagi terwujudnya perdamaian dunia.

Dalam perintah dalam shalat misalnya, sebagai bentuk ibadah tertinggi dalam Islam. Shalat dimulai dengan takbir, yaitu menjunjung tinggi Asma Allah menhunjam erat ke dalam jiwa sang pelaku. Maka shalat adalah bentuk dzikir (mengingat Allah) tertinggi, yang dengannya seorang Muslim merasakan kedamaian bathin yang tak terhingga. Namun kedamaian jiwa tidak berakhir, tetapi harus diteruskan dengan kedamaian yang lebih luas, yaitu kedamaian sosial. Untuk itu, shalat tak akan menjadi valid ketika tidak diakhiri dengan komitmen menyebarkan perdamaian kepada sesama. Salam yang diucapkan di akhir shalat adalah bentuk komitmen tertinggi dari seorang Muslim dalam mewujudkan perdamaian sosial.

Demikianlah konsep damai yang ada dalam al-Qur’an. Semua ajaran, perintah yang ada dalam ajaran Islam sebenarnya berujung pada terciptanya perdamaian dan keadilan di dunia. Kedatangan Islam di tengah bangsa arab yang pada masa itu jelas mempunyai misi perdamaian. Bangsa Arab yang saat itu terpecah belah kedalam suku-suku dan suka berperang menjadi sebuah satu komunitas dibawah konsep keumatan. Sehingga semua manusia disamakan kedudukannya kecuali atas dasar iman. Disinilah kemudian kedatangan Islam membawa pergeseran yang cukup fundamental dalam system sosial bangsa Arab dari yang awalnya terpusat pada pertalian atas dasar kekeluargaan menjadi pertalian atas dasar keimanan dibawah konsep ummat[5].

Muhammad Abduh dalam al-Islam wa al-Nashraniyyah: bayn al-’Ilm wa al-Madaniyyah juga menulis bahwa ajaran perdamaian Islam mewujud dalam struktur kekuasaan. Sebab dalam sejarah kekuasaan Islam, utamanya pada dinasti Umayyah dan Abbasiyah, ditemukan sejumlah orang-orang Yahudi dan Kristen yang menjadi bendahara, sekretaris, tim dokter, bahkan penasehat raja. Ini tidak lain disemangati, bahwa dalam sistem kekuasaan sekalipun, perdamaian harus diutamakan, karena hampir tidak mungkin membangun tatanan masyarakat yang maju, adil, dan sejahtera tanpa basis perdamaian yang kuat[6]. Ini merupakan fakta sejarah Islam bagaimana sikap tasāmuh (toleran) dan kasih sayang kaum muslimin terhadap pemeluk agama lain, baik yang tergolong ke dalam ahl al-Kitab maupun kaum mushrik, bahkan terhadap seluruh makhluk, Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan dan dan kedamaian[7].

 

Perdamaian dalam Perspektif Bible

Pesan damai sangat terasa bagi umat kristiani, Yesus sebagai tokoh sentral dalam agama Kristen senantiasa mengajarkan umatnya untuk cinta damai. Yesus tidak hanya dikenal sebagi juru selamat tetapi juga diberi gelar sebagai Raja damai karena Dia adalah seorang yang anti terhadap kekerasan. Banyak cerita yang menggambarkan betapa Yesus adalah sang juru damai, bahkan di dalam bible dapat dilihat baha tidak satupun ayat yang mengindikasikan bahwa Yesus pernah mengajak orang untuk berperang. Diantara ajaran Yesus tentang perdamaian adalah Yesus mengajarkan untuk melawan kekerasan tanpa kekerasan. Ajaran melawan kekerasan tanpa kekerasan ini bukan berarti mengajarkan kepasrahan atau tanpa perlawanan, tetapi juga mengajarkan jalan ketiga misalnya dengan menggunakan kekuatan moral daripada kekuatan fisik, mencari alternatif lain daripada menggunakan kekerasan, tidak membalas dendam, dan lain sebagainya[8].

Ada banyak ayat di dalam bible yang menunjukkan secara jelas tertulis bagaimana perdamaian juga menjadi tujuan utama dari ajaran Yesus. Bible berbicara tentang keadilan, pentingnya pemberian maaf serta mengasihi sekalipun terhadap musuh dan lain sebagainya. Yesus sebagai pembawa pesan damai juga memberikan teladan kepada umatnya bagaimana konsep tentang perdamaian itu dipraktekkan dalam kehidupan. Satu-satunya cerita yang menceritakan bahwa Yesus marah adalah ketika Yesus mengambil cambuk dari tali dan mengusir pedagang-pedagang dan penukar uang di halaman Bait Allah[9]. Tindakan ini tentu saja sama sekali tidak membahayakan siapapun kecuali nyawanya sendiri, karena semenjak peristiwa tersebut para pejabat Yahudi sepakat untuk menghukum mati Yesus. Masih banyak lagi cerita-cerita tentang Yesus dalam mengajarkan perdamaian dimana hal tersebut membuat umat kristiani terinspirasi untuk senantiasa membawa membawa misi perdamaian di muka bumi.

Damai dalam pandangan agama kristiani merujuk pada kata eirene dalam bahasa Yunani atau syallom di dalam bahasa Ibrani yang kemudian diterjemahkan menjadi damai sejahtera. Damai tidak hanya berarti bahwa tidak ada perang, pertikaian atau kekacauan, tetapi suasana hati dan lingkungan masyarakat di mana hubungan manusia dengan sesama, lingkungan dan diri sendiri tenang, bahagia dan terbuka kepada sang pemberi damai.

Upaya membangun perdamaian sebagaimana pesan bible ini juga menginspirasi gereja katolik, dimana dalam peribadatan dilengakapi dengan saling menyampaikan salam damai. Pesan damai dalam bible juga menginspirasikan pacem in terris dalam salah satu ensiklik[10]. Pacem in Terris berarti damai di bumi. Ensiklik ini ditulis oleh Paus Yohanes XXIII dan diterbitkan pada tanggal 11 April 1963 yang hingga saat ini masih diperingati dan masih cukup relevan. Didalam Pacem in Terris disebutkan bahwa perdamaian bertumpu pada empat tiang penyangga, yakni kebenaran, keadilan, cinta dan kemerdekaan.

Kebenaran merupakan tiang pertama, karena temasuk di dalamnya pengakuan bahwa manusia itu bukan merupakan penentu dirinya sendiri melainkan bahwa dia dipanggil untuk memenuhi kehendak Tuhan, pencipta segalanya, yang merupakan Sang kebenaran mutlak. Dalam hubungan manusiawi, kebenaran itu mengandaikan ketulusan, yang merupakan syarat untuk saling percaya dan dialog menuju perdamaian.

Perdamaian tidak dapat terjadi tanpa keadilan, hormat kepada martabat dan hak perorangan. Tanpa keadilan baik dalam hubungan pribadi, sosial maupun internasional akan menyebabkan kekacauan dan kekacauan akan menyebabkan kekerasan di bumi. Keadilan juga harus dilengkapi dengan cinta. Dengan cinta, maka sesama manusia akan menjadi saudara, sehingga akan terjadi hubungan untuk saling berbagi baik dalam kesengsaraan maupun kegembiraan. Cinta juga akan membuat manusia untuk sanggup mengampuni dan memaafkan karena pengampunan adalah salah satu faktor yang penting dalam memulihkan perdamaian setelah pecah pertikaian.

Baik kebenaran, keadilan maupun cinta itu mengandaikan adalanya kemerdekaan sebagai salah satu sifat hakiki yang dimiliki dengan manusia. Kemerdekaan akan memungkinkan manusia untuk bertindak berdasarkan akalnya dan memikul tanggungjawab atas segala tindakannya sendiri, karena manusia secara pribadi akan bertanggung jawab dihadapan Tuhan atas segala tindakannya[11].

Dari sini sangat terlihat bagaimana perdamaian yang tertulis dalam teks bible itu kemudian coba dikembangkan oleh umat kristiani (katolik) dalam Pacem Terris, sehingga apa diajarkan oleh Yesus di dalam bible dapat dilaksanaan oleh para jemaat.

Lebih Jauh tentang Perdamaian dalam al-Qur’an dan Bible

Perdamaian tidak hanya bermakna damai dalam arti tidak dalam kondisi peperangan, tetapi perdamaian juga mencakup makna yang lebih luas, yakni suatu kondisi dimana sudah tidak ada lagi kekerasan struktural atau terciptanya keadilan sosial. Perdamaian dalam konsep ini meliputi semua aspek tentang masyarakat yang baik, seperti: terpenuhinya hak asasi yang bersifat universal, kesejahteraan ekonomi, keseimbangan ekologi dan nilai-nilai pokok lainnya. Berdasarkan konsep ini, perdamaian bukan hanya merupakan masalah pengendalian dan pengurangan tercapainya semua aspek tersebut, namun perdamaian merupakan konsep yang cukup luas dan pencapaiannya membutuhkan proses yang panjang. Dari sini dapat dilihat bahwa baik di dalam al-Qur’an maupun dalam bible, perdamaian juga mencakup makna yang luas ini. Disana terdapat konsep keadilan, kasih sayang, hubungan antar agama hingga ayat-ayat yang menjelaskan pada tataran praktis bagaimana cara mengakhiri konflik, pentingnya pemberian maaf dan lain sebagainya.

Perdamaian dalam bahasa al-Qur’an disebut salam dan dalam bahasa bible disebut syalom, merupakan inti ajaran dari kedua agama baik Islam maupun Kristen. kedua kitab tersebut sama-sama mengajarkan bagaimana membangun perdamaian di muka bumi ini, meski dalam prakteknya banyak sekali terjadi konflik yang menyebabkan peperangan dan munculnya banyak kekerasan atas nama agama.  Karena meski di dalam al-Qur’an dan bible terdapat banyak ayat-ayat yang mengajarkan perdamaian tetapi disana juga terdapat ayat-ayat tentang peperangan yang seringkali dijadikan landasan untuk melakukan peperangan dan kekerasan. Didalam al-Qur’an misalnya ayat-ayat tentang jihad seringkali dimaknai sebagai ayat perang, sehingga perintah untuk berjihad ditafsirkan sama dengan perintah untuk berperang. Padahal jihad mempunyai makna yang sangat luas dan tidak hanya bisa dimaknai dengan perang. Disinilah sebenarnya yang menjadi persoalan besar di kalangan umat baik Islam maupun Kristen. Persoalan penafsiran terhadap ayat-ayat yang terdapat di dalam al-Qur’an dan bible, sehingga memunculkan “persoalan” dalam tataran praktis di kalangan umatnya, padahal al-Qur’an dan bible sendiri justru malah memperingatkan umatnya untuk tidak saling membunuh dan berperang. Peperangan hanya diperbolehkan jika dalam kondisi untuk mempertahankan diri.

Disini sengaja penulis tidak berupaya untuk membuat komparasi diantara keduanya dan hanya sekedar memaparkan bagaimana sebenarnya konsep perdamaian itu dalam perspektif al-Qur’an dan Bible, karena pada dasarnya di dalam kedua kitab tersebut banyak sekali ayat-ayat yang terkait dengan perdamaian, sehingga dapat dikatakan bahwa kedua ajaran agama tersebut sama-sama mengajarkan dan mengajak umatnya untuk senantiasa membuat perdamaian di muka bumi. Sang pembawa damai (Muhammad dan Yesus) juga sama-sama memberikan teladan bagaimana perdamaian dapat dicapai meski keduanya sama-sama harus mengalami berbagai pengalaman pahit untuk mewujudkan itu.

Perdamaian dalam konteks Pluralitas agama di Indonesia

Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah panjang perkembangan agama-agama dinodai dengan berbagai peperangan dan kekerasan. Sejarah memang banyak mencatat berbagai macam konflik dan perang di kalangan umat manusia, baik konflik antar suku, negara maupun konflik atas nama agama. Berapa banyak nyawa melayang dan dikorbankan karena tujuan-tujuan yang tidak semestinya. Dalam konflik atas nama agama misalnya, tercatat sebuah perang besar yang disebut dengan “the holy war” atau seringkali dikenal dengan perang salib yang masih meninggalkan trauma bagi sebagian besar pengikut agama baik Islam maupun Kristen. hingga saat ini. Selain itu berapa banyak kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia yang juga melibatkan nama agama secara tidak langsung, seperti kekerasan yang terjadi di Bosnia, Palestina, Irlandia, hingga Irak yang membuat ada jarak dan sekat yang cukup lebar antar pemeluk agama[12].

Apa yang terjadi diatas juga terjadi di Indonesia. Sebagai sebuah negara yang pluralis dan multikultur, dengan bermacam-macam agama, beragam budaya, suku, bahasa, pluralitas dan kemajemukan ini di satu sisi merupakan salah satu kekayaan bangsa yang cukup membanggakan, tetapi disisi lain jika pluralitas dan keragaman ini tidak bisa dikelola dengan baik, maka akan menjadi konflik yang dapat memecah belah kesatuan bangsa ini.

Ada beberapa catatan tentang konflik dan kekerasan yang mengatasnamakan agama di Indonesia, sebutlah konflik di Ambon, Poso, kasus terorisme, pembakaran gereja dan yang baru-baru ini terjadi kekerasan terkait dengan ahmadiyah. Kekerasan atas nama agama ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun, tidak hanya kekerasan antar agama tetapi juga kekerasan diantara umat seagama. Hal ini bisa dilihat dari hasil survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga diantaranya CRCS UGM, Wahid Institute yang menyatakan bahwa angka kekerasan berbasis agama dan diskriminasi terhadap aliran dan agama minoritas baik yang dilakukan oleh individu, kelompok maupun organisasi kemasyarakatan dan keagamaan semakin meningkat[13].

Jika melihat pada teks-teks agama diatas (baca : al-Qur’an dan bible), maka ada semacam “jurang” atau “kesenjangan” antara apa yang ada dalam ajaran agama dengan apa yang telah dipraktekkan oleh para pemeluk agama. Dalam konteks Indonesia terutama dalam hal ini adalah umat Islam, dimana beragam stigma negatif muncul terkait dengan berbagai konflik dan kekerasan atas nama agama. Hal ini sungguh memprihatinkan –untuk tidak mengatakan memalukan-karena sebagai kelompok agama mayoritas bukannya bisa mengayomi kelompok minoritas tetapi justru malah menjadi penebar terror dan kekerasan.

Kekerasan atas nama agama seringkali diawali dengan perasaan curiga terhadap kelompok agama lain. Bagi kalangan muslim stigma bahwa umat kristiani pasti akan menggunakan beragam cara untuk mempengaruhi dan menyebarkan agamanya dan begitu juga sebaliknya bagi umat kristiani, stigma teroris dan preman berjubah membuat mereka tidak nyaman dengan kelompok muslim. Prejudice semacam ini sangat sulit untuk dihilangkan bahkan ada kalanya justru sengaja dipupuk sehingga menjadi semakin kuat.  Hal inilah yang membuat hubungan antar agama seolah sulit menjadi harmonis.

Dari sinilah kemudian perlu adanya membangun sebuah dialog yang intensif antar pemeluk agama. Karena tanpa adanya dialog, saling mengenal antar berbagai pemeluk agama, upaya menghilangkan prasangka-prasangka tentu akan sulit dan selama prasangka-prasangka itu masih ada, maka benturan dan kekerasan antar agama akan terus terjadi.

Berbagai program dialog antar agama seringkali dimunculkan dalam rangka menjembatani berbagai agama ini[14]. Tetapi sampai saat ini dialog antar agama belum menyentuh pada masyarakat bawah yang notabene sebenarnya selalu menjadi korban dari kekerasan yang terjadi. Dialog antar agama hanya sekedar proyek yang cukup melibatkan kalangan atas dan intelektual. Hal inilah yang menyebabkan dialog antar agama mengalami kebuntuan tanpa memberikan kontribusi. Dialog antar agama tidak hanya menjadi  pekerjaan rumah bagi pemerintah, tetapi juga bagi kaum intelektual dan para tokoh agama. Karena tanpa peran kaum intelektual dan agamawan maka dialog antar agama secara luas dan intensif tidak akan terlaksana. Proses dialog yang dilakukan secara terus menerus akan membawa dampak bagi terciptanya perdamaian. Perdamaian yang selalu didambakan semua pihak.

 

Penutup

Ajaran agama sesungguhnya adalah ajaran tentang perdamaian. Namun demikian, pada kenyataannya, apa yang telah diajarkan dalam agama tidak selalu sama dengan apa yang telah dipraktekkan oleh para pemeluknya. Berbagai kekerasan atas nama agama masih terus saja terjadi. Semua bersikukuh sebagai pihak yang benar. Begitu mudahnya isu terkait dengan agama disulut dan memecah perdamaian.

Semua ini terjadi karena masing-masing pemeluk agama mempunyai prasangka dan kecurigaan terhadap pemeluk agama lain. Disinilah kemudian perlu adanya dialog antar umat beragama. Dialog yang terbangun dan dilakukan secara terus-menerus tidak hanya di kalangan atas tetapi juga di masyarakat kalangan bawah. Dengan terbangunnya dialog maka prasangka dan perasaan curiga yang selama ini mengungkung pemeluk agama dan menghalangi toleransi perlahan-lahan akan semakin terbuka, sehingga dengan sendirinya perdamaian akan tercapai.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Armstrong, Karen, Berperang Demi Tuhan, (Jakarta: Serambi dan Mizan, 2001), cet-II.

 

Dumartheray, Roland dkk, Agama dalam Dialog: Pencerahan, Perdamaian dan Masa Depan, Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003, cet-2.

 

Harold Coward and Gordon S Smith (ed.), Religion and Peacebuilding, (USA : State University of NewYork, 2004.

Harun, Hermanto Islam dan Perdamaian dalam http://ibnuharun.multiply.com/journal/item/12

 

Muhaimin AG (ed.), Damai di dunia Damai untuk Semua Perspektif berbagai Agama, Jakarta : Proyek Peningkatan Pengkajian Hidup Umat Beragama, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Departemen Agama RI, 2004.

Suherlan, Ian, Menegakkan Perdamaian dan Keadilan, Buletin No. 185, http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A4473_0_3.

 

Wahid, Abdurrahman dkk, Dialog : Kritik dan Identitas Agama, Yogyakarta: Dian Interfidei, t.th.

 

www.wahidinstitute.org.

 

www.crcs.ugm.ac.id

 

 

 


[1] QS Adz-Dzariyat [51]: 56

[2] QS Al-Kafirun 1-6

[3] QS al-Hujurat [49]: 13

[4] QS Al-Baqarah 256

[5] Harold Coward and Gordon S Smith (ed.), Religion and Peacebuilding, (USA : State University of NewYork, 2004), hlm 130-131

[6] Ian Suherlan, Menegakkan Perdamaian dan Keadilan, Buletin No. 185, http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A4473_0_3.

[7] Hermanto Harun, Islam dan Perdamaian dalam http://ibnuharun.multiply.com/journal/item/12

[8] Muhaimin AG (ed.), Damai di dunia Damai untuk Semua Perspektif berbagai Agama, (Jakarta : Proyek Peningkatan Pengkajian Hidup Umat Beragama, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Departemen Agama RI, 2004), hlm 130-147

[9] Yohanes 2 : 13-25

[10] Istilah ensilik secara etimologis berasal dari bahasa Yunani egkyklios, kyklos yang berarti edaran. Pada dasarnya itu adalah surat edaran. Sekarang ini istilah itu dipergunakan didalam kalangan gereja katolik untuk menunjuk pada surat-surat Paus yang disampaikan kepada umat katolik.

[11] Muhaimin AG (ed.), Op.Cit, hlm 166-167

[12] Lihat Karen Armstrong, Berperang Demi Tuhan, (Jakarta: Serambi dan Mizan, 2001), cet-II.

[13] tentang laporan keberagaman di Indonesia tahun 2010 oleh CRCS UGM bisa dilihat di www.crcs.ugm.ac.id, laporan kebebasan agama yang dibuat oleh The Wahid Institute tahun 2010 bisa dilihat di www.wahidinstitute.org.

 

[14] Roland Dumartheray dkk, Agama dalam Dialog: Pencerahan, Perdamaian dan Masa Depan, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003), cet-2. Lihat juga Abdurrahman Wahid dkk, Dialog : Kritik dan Identitas Agama, (Yogyakarta: Dian Interfidei, t.th)

1 komentar Februari 12, 2011

Epistemologi Keilmuan Integratif-Interkonektif Amin Abdullah dan Relevansinya bagi ilmu-ilmu Keagamaan.

oleh: Zunly Nadia

Pengantar

Jargon integratif-interkonektif memang cukup populer di dengar terutama bagi kalangan civitas akademika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jargon ini tidak hanya sekedar jargon pasca peralihan IAIN menjadi UIN tetapi lebih dari itu menjadi core values dan paradigma yang akan dikembangkan UIN Sunan Kalijaga yang mengisyaratkan tidak ada lagi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Gagasan integratif-interkonektif ini muncul dari mantan rektor UIN Sunan Kalijaga Amin Abdullah yang kemudian mengaplikasikannya dalam pengembangan IAIN menjadi UIN.

Gagasan keilmuan yang integratif dan interkonektif ini muncul dari sebuah “kegelisahan” pak Amin terkait dengan tantangan perkembangan zaman yang sedemikian pesatnya yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Teknologi yang semakin canggih sehingga tidak ada lagi sekat-sekat antar bangsa dan budaya, persoalan migrasi, revolusi IPTEK, genetika, pendidikan, hubungan antar agama, gender, HAM dan lain sebagainya. Perkembangan zaman mau tidak mau menuntut perubahan dalam segala bidang tanpa tekecuali pendidikan keislaman, karena tanda adanya respon yang cepat melihat perkembangan yang ada maka kaum muslitimin akan semakin jauh tertinggal dan hanya akan menjadi penonton, konsumen bahkan korban di tengah ketatnya persaingan global. Menghadapi tantangan era globlalilasi ini, umat Islam tidak hanya sekedar butuh untuk survive tetapi bagaimana bisa menjadi garda depan perubahan. Hal ini kemudian dibutuhkan reorientasi pemikiran dalam pendidikan Islam dan rekonstruksi sistem kelembagaan.

Jika selama ini terdapat sekat-sekat yang sangat tajam antara “ilmu” dan “agama” dimana keduanya seolah menjadi entitas yang berdiri sendiri dan tidak bisa dipertemukan, mempunyai wilayah sendiri baik dari segi objek-formal-material, metode penelitian, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan hingga institusi penyelenggaranya. Maka tawaran paradigma integratif-interkoneksi berupaya mengurangi ketegangan-ketegangan tersebut tanpa meleburkan satu sama lain tetapi berusaha mendekatkan dan mengaitkannya sehingga menjadi “bertegus sapa” satu sama lain[1].

Dalam makalah ini, penulis berusaha untuk mendalami dan memaparkan lebih jauh bagaimana paradigma integratif-interkonektif ini dibangun dan bagaimana relevansinya bagi ilmu-ilmu keagamaan serta implikasinya ketika paradigma ini coba diterapkan di IAIN yang saat ini berubah menjadi UIN.

 

Mengenal Sosok M Amin Abdullah

M. Amin Abdullah lahir di Margomulyo, Tayu, Pati, Jawa Tengah, 28 Juli 1953. Pada 1972, dia menamatkan pendidikan menegah di Kulliyat al-Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI), Pesantren Gontor, Ponorogo, yang kemudian dilanjutkan dengan Program Sarjana Muda (Bakalaureat) pada Institut Pendidika Darusslam(IPD)1977 di pesantren yang sama.[2] M. Amin Abdullah dalah Guru Besar Filsafat Islam Pada Fakultas Ushuluddin IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dikukuhkan pada tanggal 13 Mei 2000, menyelesaikan S1 Jurusan Perbandingan Agama di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1981, menyekesaikan studi S3  (Program Ph.D) pada METTU (Middle East Technical University), Departemen of Philosopy, Fakulty of Art and Sciences, Ankara Turki tahun 1990,[3] dengan disertasinya, “The Idea of Universality of Ethical Normas in Ghazali and Kant”, diterbitkan di Turki  (Ankara: Turkiye Diyanet Vakfi, 1992).[4] Mengikuti program Post Doktoral di McGill University, Montreal Canada selama enam bulan (Oktober 1997s/d Februari 1998). Dan Sejak tahun 2001 hingga tahun 2010 menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.[5] Sebuah karir tertinggi dalam bidang akademis, setelah sebelumnya pernah menjabat sebagai pembantu rektor I yang membawahi bidang akademik serta asisten direktur program pasca sarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Amin dikenal sebagai salah satu pakar dalam Islamic studies, banyak karya-karyanya yang telah dibukukan menjadi rujukan bagi para akademisi. Disertasinya, The Idea of University of Ethical Norms in Ghazali and Kant, diterbitkan di Turki (Ankara: Turkiye Diyanet Vakfi, 1992). Karya-karya ilmiah lainnya yang diterbitkan, antara lain: Falsafah Kalam di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995); Studi Agama: Normativitas atau Historisitas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996). Dinamika Islam Kultural : Pemetaan atas Wacana Keislaman Kontemporer, (Bandung, Mizan, 2000); Antara al-Ghazali dan Kant : Filsafat Etika Islam, (Bandung: Mizan, 2002) serta Pendidikan Agama Era Multikultural Multireligius, (Jakarta: PSAP Muhammadiyah, 2005). Sedangkan karya terjemahan yang diterbitkan adalah Agama dan Akal Pikiran: Naluri Rasa Takut dan Keadaan Jiwa Manusiawi (Jakarta: Rajawali, 1985); Pengantar Filsafat Islam: Abad Pertengahan (Jakarta: Rajawali, 1989).

Selain karya-karyanya yang telah dibukukan, tulisan-tulisannya juga dapat dijumpai di berbagai jurnal keilmuan, antara lain Ulumul Qur’an (Jakarta), Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies (Yogyakarta) dan beberapa jurnal keilmuan keislaman yang lain. Di samping itu, dia aktif mengikuti seminar di dalam dan luar negeri. Seminar internasional yang diikuti, antara lain: “Kependudukan dalam Dunia Islam”, Badan Kependudukan Universitas Al-Azhar, Kairo, Juli 1992; tentang “Dakwah Islamiyah”, Pemerintah Republik Turki, Oktober 1993; Lokakarya Program Majelis Agama ASEAN (MABIM), Pemerintah Malaysia, di Langkawi, Januari 1994; “Islam and 21st Century”, Universitas Leiden, Belanda, Juni 1996; “Qur’anic Exegesis in the Eve of 21st Century”, Universitas Leiden, Juni 1998, ”Islam and Civil Society : Messages from Southeast Asia“, Tokyo Jepang, 1999; “al-Ta’rikh al- Islamy wa azamah al-huwaiyah”, Tripoli, Libia, 2000; “International anti-corruption conference”, Seol, Korea Selatan, 2003; Persiapan Seminar “New Horizon in Islamic Thought”, London, Agustus, 2003; “Gender issues in Islam”, Kualalumpur, Malaysia, 2003; “Dakwah and Dissemination of Islamic Religious Authority in Contemporarry Indonesia, Leiden, Belanda, 2003.

Dalam organisasi masyarakat dia menjadi Ketua Divisi Ummat, ICMI, Orwil Daerah Istimewa Yogyakarta, 1991-1995. Setelah Muktamar Muhammadiyah ke-83 di Banda Aceh 1995, diberi amanat sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1995-2000). Kemudian terpilih sebagai salah satu Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Wakil Ketua (2000-2005)[6].

Pemikiran M Amin Abdullah : dari Normativitas-historisitas menuju Integratif-interkonektif

Jika dilihat dari karya-karyanya, setidak-tidaknya ada dua pemikiran besar Amin Abdullah yang pada dasarnya kedua-duanya merupakan respon dari konteks dan persoalan yang sedang dihadapi oleh kaum muslimin. Pertama adalah persoalan pemahaman terhadap keislaman yang selama ini dipahami sebagai dogma yang baku, hal ini karena pada umumnya normativitas ajaran wahyu ditelaah lewat pendekatan doktrinal teologis. Pendekatan ini berangkat dari teks kitab suci yang pada akhirnya membuat corak pemahaman yang tekstualis dan skripturalis.

Sedangkan disisi lain untuk melihat historisitas keberagamaan manusia, pendekatan sosial keagamaan digunakan melalui pendekatan historis, sosiologis, antropologis dan lain sebagainya, yang bagi kelompok pertama dianggap reduksionis. Kedua pendekatan ini bagi Amin Abdullah merupakan hubungan yang seharusnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kedua jenis pendekatan ini – pendekatan yang bersifat teologis-normatif dan pendekatan yang bersifat histories-empiris ini sangat diperlukan dalam melihat keberagamaan masyarakat pluralistik. Kedua pendekatan ini akan saling mengoreksi, menegur dan memperbaiki kekurangan yang ada pada kedua pendekatan tersebut. Karena pada dasarnya pendekatan apapun yang digunakan dalam studi agama tidak akan mampu menyelesaikan persoalan kemanusiaan secara sempurna. Pendekatan teologis-normatif saja akan menghantarkan masyarakat pada keterkungkungan berfikir sehingga akan muncul truth claim sehingga melalaui pendekatan histories-empiris akan terlihat seberapa jauh aspek-aspek eksternal seperti aspek sosial, politik dan ekonomi yang ikut bercampur dalam praktek-praktek ajaran teologis[7].

Di sinilah, Amin Abdullah berusaha merumuskan kembali penafsiran ulang agar sesuai dengan tujuan dari jiwa agama itu sendiri, dan di sisi yang lain mampu menjawab tuntutan zaman, dimana yang dibutuhkan adalah kemerdekaan berfikir, kreativitas dan inovasi yang terus menerus dan menghindarkan keterkungkungan berfikir. Keterkungkungan berfikir itu salah satu sebabnya adalah paradigma deduktif, dimana meyakini kebenaran tunggal, tidak berubah, dan dijadikan pedoman mutlak manusia dalam menjalankan kehidupan dan untuk menilai realitas yang ada dengan “hukum baku” tersebut.

Sedangkan yang kedua adalah paradigma keilmuan integratif-interkonektif. Paradigma ini juga dibangun sebagai respon atas persoalan masyarakat saat ini dimana era globalilasi banyak memunculkan kompleksitas persoalan kemanusiaan. Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, paradigma keilmuan integratif dan interkonektif ini merupakan tawaran yang digagas oleh Amin Abdullah dalam menyikapi dikotomi yang cukup tajam antara ilmu umum dan ilmu agama. Asumsi dasar yang dibangun pada paradigma ini adalah bahwa dalam memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang dihadapi dan dijalani manusia, setiap bangunan keilmuan apapun baik ilmu agama, keilmuan sosial, humaniora, maupun kealaman tidak dapat berdiri sendiri. Kerjasama, saling membutuhkan dan bertegur sapa antar berbagai disiplin ilmu justru akan dapat memecahkan persoalan yang dihadapi oleh manusia, karena tanpa saling bekerjasama antar berbagai disiplin ilmu  akan menjadikan narrowmindedness.

Secara aksiologis, paradigma interkoneksitas menawarkan pandangan dunia manusia beragama dan ilmuwan yang baru, yang lebih terbuka, mampu membuka dialog dan kerjasama serta transparan. Sedangkan secara antologis, hubungan antar berbagai disiplin keilmuan menjadi semakin terbuka dan cair, meskipun blok-blok dan batas-batas wilayah antar disiplin keilmuan ini masih tetap ada. Lebih lanjut tentang paradigma interkonektif dan integratif ini akan penulis paparkan di bawah ini.

 

Mengenal lebih jauh tentang Paradigma Integratif-Interkonektif dan Relevansinya bagi ilmu-ilmu keagamaan

Apa yang terjadi selama ini adalah dikotomi yang cukup tajam antara keilmuan sekuler dan keilmuan agama (baca ilmu keislaman). Keduanya seolah mempunyai wilayah sendiri-sendiri dan terpisah satu sama lain. Hal ini juga berimplikasi pada model pendidikan di Indonesia yang memisahkan antara kedua jenis keilmuan ini. Ilmu-ilmu sekuler dikembangkan di perguruan tinggi umum sementara ilmu-ilmu agama dikembangkan di perguruan tingga agama. Perkembangan ilmu-ilmu sekuler yang dikembangkan oleh perguruan tinggi umum berjalan seolah tercerabut dari nilai-nilai akar moral dan etik kehidupan manusia, sementara itu perkembangan ilmu agama yang dikembangkan oleh perguruan tinggi agama hanya menekankan pada teks-teks Islam normative, sehingga dirasa kurang menjawab tantangan zaman. Jarak yang cukup jauh ini kemudian menjadikan kedua bidang keilmuan ini  mengalami proses pertumbuhan yang tidak sehat serta membawa dampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik dan keagamaan di Indonesia[8].

Selain dikotomi yang tajam antara kedua jenis keilmuan ini, tantangan berat yang harus dihadapi oleh masyarakat saat ini adalah perkembangan zaman yang demikian pesat. Era globalisasi yang seolah datang dengan perubahan yang cukup fundamental dimana sekat-sekat antar individu, bangsa seolah sudah tidak ada lagi sehingga memunculkan kompleksitas persoalan.

Paradigma integratif-interkonektif  yang ditawarkan oleh Amin Abdullah ini merupakan jawaban dari berbagai persoalan diatas. Integrasi dan interkoneksi antar berbagai disiplin ilmu, baik dari keilmuan sekuler maupun keilmuan agama, akan menjadikan keduanya saling terkait satu sama lain, “bertegur sapa”, saling mengisi kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Dengan demikian maka ilmu agama (baca ilmu keislaman) tidak lagi hanya berkutat pada teks-teks klasik tetapi juga menyentuh pada ilmu-ilmu sosial kontemporer.

Dengan paradigma ini juga, maka tiga wilayah pokok dalam ilmu pengetahuan, yakni natural sciences,social sciences dan humanities[9] tidak lagi berdiri sendiri tetapi akan saling terkait satu dengan lainnya. Ketiganya juga akan menjadi semakin cair meski tidak akan menyatukan ketiganya, tetapi paling tidak akan ada lagi superioritas dan inferioritas dalam keilmuan, tidak ada lagi klaim kebenaran ilmu pengetahuan sehingga dengan paradigma ini para ilmuwan yang menekuni keilmuan ini juga akan mempunya sikap dan cara berfikir yang berbeda dari sebelumnya.

Hadarah al-‘ilm (budaya ilmu), yaitu ilmu-ilmu empiris yang menghasilkan, seperti sains, teknologi dan ilmu-ilmu yang terkait dengan realitas tidak lagi berdiri sendiri tetapi juga bersentuhan dengan hadarah al-falsafah sehingga tetap memperhatikan etika emansipatoris. Begitu juga sebaliknya, hadarah al-falsafah (budaya filsafat) akan terasa kering dan gersang jika tidak terkait dengan isu-isu keagamaan yang termuat dalam budaya teks dan lebih-lebih jika menjauh dari problem-problem yang ditimbulkan dan dihadapi oleh hadarah al-‘ilm.[10]

Skema Single Entity

 

Skema Isolated Entities

 

 

 

Skema Interconected Entities

 

 

 

 

Dari skema di atas tampak jelas bahwa ketiga keilmuan tersebut menjadi bentuk dialektika

atau tegur sapa. Hal inilah yangmenjadi tolak ukur signifikansi dalam penerapan integrasi-interkoneksi dalam keilmuan UIN Sunan Kalijaga.[11] Tiga demensi pengembangan keilmuan ini bertujuan untuk mempertemukan kembali ilmu-ilmu modern dengan ilmu-ilmu keislmanan (integrasi-interkoneksi).

Sementara itu, sebagaimana yang terlihat dalam jaring laba-laba diharapkan dengan paradigma integratif-interkonektif akan terjadi perkembangan dalam ilmu keislaman, dimana tidak lagi terfokus pada lingkar 1 dan lingkar ke 2 tetapi juga melangkah pada lingkar ke 3 dan ke 4. Selama ini pengajaran di perguruan tinggi agama masih berkutat pada lingkar 1 dan ke 2 dan masih baru akan memasuki lingkar ke 3 serta belum menyentuh pada lingkar ke 4. Jaring laba-laba ini menampakkan adanya pergerakan zaman dan kompleksitas persoalan masyarakat yang akan bisa diselesaikan dengan perkembangan ilmu-ilmu keislaman. Lingkar 1 dan 2 disebut sebagai Ulumuddin yang merupakan representasi dari “tradisi lokal” keislaman yang berbasis pada “bahasa” dan “teks-teks” atau nash-nash keagamaan. Lingkar ke 3 disebut sebagai al-Fikr al-Islamiy sebagai representasi pergumulan humanitas pemikiran keislaman yang berbasis pada “rasio-intelek”. Sedangkan lingkar ke 4 disebut Dirasat Islamiyyah atau Islamic Studies sebagai kluster keilmuan baru yang berbasis pada paradigma keilmuan sosial kritis-komparatif lantaran melibatkan seluruh “pengalaman” (experiences) umat manusia di alam historis-empiris yang amat sangat beranekaragam[12].

Paradigma integrative-interkonektif ini terlihat sangat dipengaruhi oleh Abid al-Jabiri yang membagi epistemology Islam menjadi tiga, yakni epistemologi bayani, epistemologi burhani dan epistemologi irfani.[13] Berbeda dengan Abid al-Jabiri yang melihat epistemologi irfani tidak penting dalam perkembangan pemikiran Islam, bagi Amin Abdullah ketiga epistemologi seharusnya bisa berdialog dan berjalan beriringan. Selama ini epistemologi bayani lebih banyak mendominasi dan bersifat hegemonik sehingga sulit untuk berdialog dengan tradisi epistemology irfani dan burhani, pola pikir bayani ini akan bekembang jika melakukan dialog, mampu memahami dan mengambil manfaat sisi-sisi fundamental yang dimiliki oleh pola pikir irfani dan burhani[14]. Karenanya hubungan yang baik antara ketiga epistemologi ini tidak  dalam bentuk pararel ataupun linier tetapi dalam bentuk sirkular. Bentuk pararel akan melahirkan corak epistemologi yang berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya hubungan dan persentuhan antara satu dengan yang lain. Sedangkan bentuk linier akan berasumsi bahwa salah satu dari ketiga epistemologi menjadi “primadona”, sehingga sangat tergantung pada latar belakang, kecenderungandan kepentingan pribadi atau kelompok, sedangkan dengan bentuk sirkular diharapkan masing-masing corak epistemologi keilmuan dalam Islam akan memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga dapat mengambil manfaat dari temuan-temuan yang ditawarkan oleh tradisi keilmuan lain dalam rangka memperbaiki kekurangan yang ada.[15]

Apa yang ditawarkan oleh Amin Abdullah dengan paradigma integratif-interkonektif secara konseptual memang sangat relevan bagi perkembangan keilmuan islam (Islamic Studies), dimana dialog antar disiplin ilmu akan semakin memperkuat keilmuan islam dalam menghadapi tantangan zaman dengan segala kompleksitas yang ada. Namun demikian apa yang telah digagas oleh Amin Abdullah ini ketika diaplikasikan dalam bentuk pendidikan model UIN menurut subyektifitas penulis menjadi tidak applicable dalam pengembangan studi islam, karena dalam hal ini tenyata pekembangan IAIN menjadi UIN –sekali lagi menurut pandangan penulis- justru semakin menyisihkan keilmuan agama dari ilmu alam dan sosial humaniora dan membuat ketidakjelasan. Hal ini bisa dilihat adanya kerancuan dalam program studi yang ditawarkan, ada sosiologi agama, ada sosiologi umum, ada psikologi dan psikologi agama, kemudian jika fakultas Ushuluddin akan membuka antropologi agama dan kemudian fakultas sosial humaniora juga akan membuka antropologi maka yang tejadi adalah ketidakjelasan yang justru akan merugikan banyak pihak terutama bagi out put dari produk UIN. Dalam hal ini bisa jadi kerancuan ini akibat belum “mapannya” epistemologi dalam keilmuan integratif-interkonektif yang digagas oleh Amin Abdullah ini. Dalam hal ini penulis curiga jangan-jangan paradigma yang dibangun oleh pak Amin ini hanya untuk dijadikan legitimasi dalam mengubah IAIN menjadi UIN dan bukan untuk kebutuhan pengembangan Islamic studies murni. Disini berbeda dengan terobosan pemikiran Amin Abdullah tentang historisitas dan normativitas dalam pendekatan studi agama yang selalu relevan baik dalam konsep maupun aplikasinya hingga saat ini, apalagi dalam konteks Indonesia saat ini dimana banyak muncul kelompok-kelompok Islam tekstualis-skripturalis dimana aspek historisitas dan normativitas seringkali sulit dibedakan atau bahkan aspek historisitas sengaja dilupakan.

Penutup

Paradigma baru yang dibangun oleh Amin Abdullah dengan integratif-interkonektif ini memang sangat relevan dengan kebutuhan zaman saat ini. Koneksitas ini diharapkan mampu menjawab kebuntuan dalam keilmuan islam dan lebih jauh lagi dapat menjawab kompleksitas problem kemanusiaan di era globalisasi. Namun paradigma ini tidak mudah untuk diaplikasikan, hal ini bisa dilihat ketika paradigma ini coba diterapkan dalam pengembangan perguruan tinggi agama yang mengejawantah dengan perubahan IAIN menjadi UIN ternyata banyak menimbulkan kerancuan terutama bagi program-program studi yang muncul kemudian, dan hal ini menurut harus segera dicarikan solusi, sehingga tujuan ideal dari integrasi dan interkoneksi ini dapat terwujud.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin,  Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Paradigma Integratif-Interkonektif,  Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, Cet II.

———————— ,-Pendidikan Agama Era Multikultural Multi Religius, Jakaarta: PSAP Muhammadiyah, 2005.

 

——————–  , dkk., Seri Kumpulan Pidato Guru Besar: Rekonstruksi Metodologi Ilmu –ilmu keislaman,Yogyakarta: SUKA Press, 2003.

 

———————, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, cet-3.

————————-, Mempertautkan ‘Ulum al-din al-fikr al-islami dan dirasat islamiyah; sumbangan keilmuan Islam untuk peradaban global, disampaikan dalam Workshop Pembelajaran Inovatif Berbasis Integrasi-Interkoneksi, Yogyakarta, 19 Desember 2008

 

———————, Tafsir Baru Studi Eslam dalam Era Multikultural, Yogyakarta: Panitia Dies IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ke 50 dan Kurnia Alam Semesta, 2002.

 

Al-Jabiri, Muhammad Abid, Takwin al-’Aql al-’Araby, Beirut : al-Markaz al-Taqhafy al-’Araby, 1990.

 

—————————–,Bunyah al-’Aql al-Araby: Dirasat Tahliliyah Naqdiyyah li Nazm al-Ma’rifah fi al-Saqifah al-’Arabiyah Beirut: Markaz Dirasat al-Wihdah al-’Arabiyyah, 1990.

 

http://aminabd.wordpress.com/perihal/

 

 


[1] M. Amin  Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Paradigma Integratif-Interkonektif,  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, Cet II), hlm 92-93

[2] M. Amin Abdullah, Pendidikan Agama Era Multikultural Multi Religius (Jakaarta: PSAP Muhammadiyah, 2005), hlm. 191.

[3] M. Amin Abdullah, dkk., Seri Kumpulan Pidato Guru Besar: Rekonstruksi Metodologi Ilmu –ilmu keislaman (Yogyakarta: SUKA Press, 2003), hlm. 363.

[4]M. Amin Abdullah, Pendidikan Agama Era Multikultural…,hlm. 191-192.

[5] M. Amin Abdullah, dkk., Seri Kumpulan Pidato…hlm. 363.

[6]Lihat http://aminabd.wordpress.com/perihal/

 

[7] M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, cet-3), hlm v-18

[8] M. Amin Abdullah, Islamic Studies…, Op.Cit., hlm 92-94

[9]M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan…,hlm. 370.

[10]M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan…,hlm. 402-403.

[11] Mashudi, “Reintegrasi Epistemology Keilmuan…, hlm. 145.

[12] Pembatasan istilah Ulumuddin, al-Fikr al-Islamy dan Dirasat Islamiyah ini hanya akan mempermudah dalam pembahasan. Dalam pembagian ini Amin Abdullah merujuk pada perspektif sejarah perkembangan studi agama-agama yang telah melewati 4 (empat) fase, yaitu, lokal, kanonikal, kritikal dan global dari Keith Ward. Pertama, adalah tahapan Local. Semua agama pada era presejarah (Prehistorical period) dapat dikategorikan sebagai lokal. Semua praktik tradisi, kultur, adat istiadat, norma, bahkan agama adalah fenomena lokal. Fase kedua adalah fase Canonical atau Propositional. Era agama-agama besar dunia (world religions) masuk dalam kategori tradisi Canonical ini. Kehadiran agama-agama Ibrahimi (Abrahamic Religions), dan juga agama-agama di Timur, yang pada umumnya menggunakan panduan Kitab Suci (the Sacred Text) merupakan babak baru tahapan sejarah perkembangan agama-agama dunia. Dalam Islam, fase ini corak keberagamaan yang scripturalis-tekstualis. Fase ketiga adalah fase Critical. Pada abad ke-16 dan 17, kesadaran beragama di Eropa mengalami perubahan yang radikal, yang terwadahi dalam gerakan Enlightenment. Tradisi baru ini berkembang terus, yang kemudian membudaya dalam dunia akademis, penelitian (research), scholarly work dan wilayah intelektual pada umumnya. Dalam fase ini muncul keilmuan baru dalam Islam sebagaimana dalam lingkar ke 3 jaring laba-laba. Fase keempat adalah fase Global sebagaimana yang terjadi saat ini dan memunculkan keilmuan baru berikut juga metodenya yang lebih kritis dan tidak hanya terpaku pada rasio. Disini bisa terlihat pada lingkar ke 4 jaring laba-laba. Lebih lanjut lihat M. Amin Abdullah, Mempertautkan ‘Ulum al-din al-fikr al-islami dan dirasat islamiyah; sumbangan keilmuan Islam untuk peradaban global, disampaikan dalam Workshop Pembelajaran Inovatif Berbasis Integrasi-Interkoneksi, Yogyakarta, 19 Desember 2008

[13] Epistemologi bayani yang bersumber pada teks (wahyu), epistemologi bayani yang bersumber pada akal dan rasio dan epistemologi irfani yang bersumber pada pengalaman (experience). Lebih lanjut tentang ketiga epistemologi ini lihat Muhammad Abid al-Jabiri, Takwin al-’Aql al-’Araby, (Beirut : al-Markaz al-Taqhafy al-’Araby, 1990), Bunyah al-’Aql al-Araby: Dirasat Tahliliyah Naqdiyyah li Nazm al-Ma’rifah fi al-Saqifah al-’Arabiyah (Beirut: Markaz Dirasat al-Wihdah al-’Arabiyyah, 1990).

[14] M. Amin Abdullah dkk, Tafsir Baru Studi Eslam dalam Era Multikultural, (Yogyakarta: Panitia Dies IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ke 50 dan Kurnia Alam Semesta, 2002), hlm 13-14

[15] Ibid., hlm 28-33

2 komentar Januari 27, 2011

Signifikansi Hermeneutika dalam Tafsir al-Qur’an Kontemporer (Sebuah Pengantar)

Oleh : Zunly Nadia/SQH

Pendahuluan

Seiring dengan perkembangan zaman, persoalan kemanusiaan juga berkembang semakin kompleks, mulai dari persoalan genetika, eksplorasi ruang angkasa, pendidikan, hubungan antar agama, persoalan gender, HAM, dan lain sebagainya, dimana hampir tidak ada lagi sekat-sekat yang antara manusia karena  teknologi telah membuat semua orang diseluruh dunia berinteraksi dengan mudahnya. Pesatnya perkembangan zaman ini membuat ilmu-ilmu keIslaman mau tidak mau harus segera berbenah dan mengikuti arus zaman, dan tanpa terkecuali ilmu tafsir.

Ilmu tafsir juga dituntut untuk selalu berkembang dalam menghadapi kompleksnya persoalan kemanusiaan. Disinilah kemudian gagasan tentang penggunaan hermeneutika menjadi sebuah keniscayaan bagi para penafsir saat ini. Hermeneutika sebagai sebuah metodologi dalam tafsir al-Qur’an dirasa cukup penting dan mendesak untuk dilakukan karena hermeneutika tidak hanya berbicara dalam tataran teks semata melainkan juga mempertimbangkan konteks serta peran subyektifitas seorang penafsir, sehingga tafsir atau kajian terhadap al-Qur’an menjadi kontekstual dan bisa menjawab tantangan zaman.

Namun demikian kehadiran hermeneutik sebagai sebuah metode dalam menafsirkan teks al-Qur’an ini tidak diterima begitu saja dikalangan umat Islam dan justru menimbulkan reaksi bagi sebagian mereka. Bagi yang menolak hermeneutika sebagai salah satu metode dan metodologi dalam menafsirkan al-Qur’an, mereka beranggapan bahwa hermeneutika bukanlah berasal dari tradisi Islam dan merupakan metode yang dipakai dalam mengkaji bible, tentu saja mereka menolak, karena menggunakan hermeneutika dalam mengkaji al-Qur’an sama saja dengan mensejajarkan al-Qur’an dengan bible dan juga teks-teks yang lain seperti teks sastra dan lain sebagainya, padahal al-Qur’an adalah kalam ilahi dan bukan hasil karya cipta manusia.

Dalam makalah ini penulis mencoba akan memaparkan signifikansi hermeneutika dalam kajian tafsir al-Qur’an berikut ragam corak hermeneutika al-Qur’an yang dipakai oleh para penafsir al-Qur’an kontemporer.

 

Seputar Hermeneutika

Kata Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani “Hermeneuo” yang berarti menafsirkan. Kata ini sering diasosiasikan dengan nama salah satu dewa bagi manusia. Hermes adalah utusan para dewa di langit untuk membawa pesan kepada manusia[1]. Hermeneutika secara ringkas biasa diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi tahu dan mengerti. Lebih jelasnya jika melihat dari dari teminologinya, kata hermeneutika ini bisa didefinisikan menjadi sebagai tiga hal, yakni[2]:

  1. Pengungkapan pikiran dalam kata-kata, penerjemahan dan tindakan sebagai penafsir.
  2. Usaha pengalihan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh si pembaca
  3. Pemindahan ungkapan pikiran yang kurang jelas, diubah menjadi bentuk ungkapan yang lebih jelas.

Adapun pengasosiasian etimologis antara hermeneutik dengan hermes secara inhern menggambarkan suatu struktur triadic seni penafsiran, yaitu[3]:

  1. Tanda, pesan atau teks yang menjadi sumber atau bahan dalam penafsiran yang diasosiasikan dengan pesan yang dibawa oleh Hermes.
  2. Perantara atau penafsir (Hermes),
  3. Penyampaian pesan itu oleh sang perantara agar bisa dipahami dan sampai kepada yang menerima.

Masih terkait dengan pengertian hermeneutik, Ben Vedder membedakan empat keberagaman dan kebertingkatan definisinya, sebagimana yang dikutp oleh Sahiron empat terma yang dimaksud adalah hermeneuse, hermeneutic, philosophical hermeneutics, dan hermeneutical philosophy[4].

Hermeneuse didefinisikan sebagai penjelasan atau interpretasi sebuah teks, karya seni dan prilaku seseorang. Dari definisi ini maka hermeneuse merujuk pada aktifitas penafsiran terhadap obyek-obyek tertentu seperti teks, symbol-simbol seni (lukisan, novel, puisi dan lain sebagainya) serta prilaku manusia. Disini hermeneuse tidak terkait secara substansial dengan metode-metode atau hal-hal yang melandasi penafsiran.

Sementara itu hermeneutik merupakan aturan, metode, strategi atau langkah penafsiran, sedangkan Philosophical hermeneutics tidak lagi berbicara persoalan metode tertentu tetapi merupakan hal-hal yang terkait dengan “kondisi-kondisi kemungkinan” yang dengannya seseorang dapat memahami dan menafsirkan sebuah teks, symbol atau prilaku. Lebih jelasnya disini lebih menekankan pad kerangka atau framework dimana sebuah penafsiran didasarkan. Terakhir adalah hermeneutical philosophy atau filsafat hermeneutic yang merupakan bagian dari pemikiran filsafat yang mencoba menjawab problem kehidupan manusia dengan cara menafsirkan apa yang diterima oleh manusia dari sejarah dan tradisi[5]. Dengan keempat tema ini maka hermeneutik merupakan cabang ilmu pengetahuan yang membahas hakekat, metode dan syarat serta prasyarat penafsiran.

Dalam sejarah perkembangannya, hermeneutika dibagi dalam tiga fase[6]:

1. Dari mitologi Yunani ke teologi Yahudi dan Kristen

2. Dari teologi Kristen yang problematik ke gerakan rasionalisasi dan filsafat

3. Dari hermeneutika filosofis menjadi filsafat hermeneutika

 

 

 

Dari Mitologi Yunani ke Teologi Yahudi dan Kristen[7]

Dalam mitologi Yunani, dewa-dewa dipimpin oleh Zeus bersama Maia.Pasangan ini mempunyai anak bernama Hermes. Hermes inilah yang bertugas untuk menjadi perantara dewa dalam menyampaikan pesan-pesan mereka kepada manusia. Metode hermeneutika secara sederhana merupakan perpindahan fokus penafsiran dari makna literal atau makna bawaan sebuah teks kepada makna lain yang lebih dalam. Dalam artian ini, para pengikut aliran filsafat Antisthenes yang didirikan sekitar pertengahan abad ke-4 sebelum masehi telah menerapkan hermeneutika pada epik-epik karya Homer (abad IX SM).

Dasar mereka adalah kepercayaan bahwa dibalik perkataan manusia pun sebenarnya ada inspirasi Tuhan. Kepercayaan tersebut sejatinya refleksi pandangan hidup orang-orang Yunani saat itu. Walaupun hermeneutika sudah diterapkan terlebih dahulu, namun istilah hermeneutika pertama kali ditemui dalam karya Plato (429-347 SM). Dalam Definitione Plato dengan jelas menyatakan hermeneutika artinya “menunjukkan sesuatu” dan dalam Timeus Plato mengaitkan hermeneutika dengan otoritas kebenaran. Stoicisme (300 SM) kemudian mengembangkan hermeneutika sebagai ilmu interpretasi alegoris.

Metode alegoris ini dikembangkan lebih lanjut oleh Philo of Alexandria (20 SM-50M), seorang Yahudi yang disebut sebagai Bapak metode alegoris. Ia mengajukan metode bernama typology yang menyatakan bahwa pemahaman makna spiritual teks tidak berasal dari teks itu sendiri, akan tetapi kembali pada sesuatu yang berada di luar teks. Philo menerapkan metode ini atas Kitab Perjanjian Lama, ia menginterpretasikan “pohon kehidupan” sebagai “takut kepada Tuhan”, “pohon pengetahuan” sebagai “hikmah”, “empat sungai yang mengalir di surga” sebagai “empat kebajikan pokok”, “Habil” sebagai “takwa yang bersumber dari akal”, “Qabil” sebagai “egoisme” dan sebagainya. Keempat Hermeneutika alegoris ini kemudian diadapsi dalam Kristen oleh Origen (185-254 M). Ia membagi tingkatan pembaca Bibel menjadi tiga:

a. Mereka yang hanya membaca makna luar teks.

b. Mereka yang mampu mencapai ruh Bibel.

c. Mereka yang mampu membaca secara sempurna dengan kekuatan

spiritual.

Origen juga membagi makna menjadi tiga lapis, yang kemudian dikembangkan oleh Johannes Cassianus (360-430 M) menjadi empat: makna literal atau historis, alegoris, moral dan anagogis atau spiritual. Namun metode ini ditentang oleh gereja yang berpusat di Antioch. Hingga munculnya St. Augustine of Hippo (354-430 M) yang mengenalkan semiotika. Di antara pemikir Kristen lain yang ikut menyumbangkan pemikirannya dalam asimilasi teori hermeneutika dalam teologi Kristen adalah Thomas Aquinas (1225-1274). Sementara itu, Kristen Protestan membentuk sistem interpretasi hermeneutika yang bersesuaian dengan semangat reformasi mereka. Prinsip hermeneutika Protestan berdekatan dengan teori yang digulirkan Aquinas. Di antaranya keyakinan bahwa kehadiran Tuhan pada setiap kata tergantung pada pengamalan yang diwujudkan melalui pemahaman yang disertai keimanan (self interpreting). Protestan juga berpandangan bahwa Bibel saja cukup untuk memahami Tuhan (sola scriptura), di sisi lain, Kristen Katolik dalam Konsili Trent (1545) menolak pandangan ini dan menegaskan dua sumber keimanan dan teologi Kristen, yaitu Bibel dan tradisi Kristen.

 

2. Dari Teologi Kristen ke Gerakan Rasionalisasi dan Filsafat[8]

Dalam perkembangan selanjutnya, makna hermeneutika bergeser menjadi bagaimana memahami realitas yang terkandung dalam teks kuno seperti Bibel dan bagaimana memahami realitas tersebut untuk diterjemahkan dalam kehidupan sekarang. Satu masalah yang selalu dimunculkan adalah perbedaan antara bahasa teks serta cara berpikir masyarakat kuno dan modern. Dalam hal ini, fungsi hermeneutika berubah dari alat interpretasi Bibel menjadi metode pemahaman teks secara umum. Pencetus gagasan ini adalah seorang pakar filologi Friederich Ast (1778-1841). Ast membagi pemahaman teks menjadi tiga tingkatan:

a. Pemahaman historis, yaitu pemahaman berdasarkan perbandingan satu teks dengan yang lain.

b. Pemahaman ketata-bahasaan, dengan mengacu pada makna kata teks.

c. Pemahaman spiritual, yakni pemahaman yang merujuk pada semangat, mentalitas dan pandangan hidup sang pengarang terlepas dari segala konotasi teologis ataupun psikologis.

Dari pembagian di atas, dapat dicermati bahwa obyek penafsiran tidak dikhususkan pada Bibel saja, akan tetapi semua teks yang dikarang manusia.

 

3. Dari Hermeneutika Filosofis ke Filsafat Hermeneutika[9]

Pergeseran fundamental lain yang perlu dicatat dalam perkembangan hermeneutika adalah ketika hermeneutika sebagai metodologi pemahaman berubah menjadi filsafat. Perubahan ini dipengaruhi oleh corak berpikir masyarakat modern yang berpangkal pada semangat rasionalisasi. Dalam periode ini, akal menjadi patokan bagi kebenaran yang berakibat pada penolakan hal-hal yang tak dapat dijangkau oleh akal atau metafisika.

Babak baru ini dimulai oleh Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768-1834) yang dianggap sebagai bapak hermeneutika modern dan pendiri Protestan Liberal. Salah satu idenya dalam hermeneutika adalah universal hermeneutic. Dalam gagasannya, teks agama sepatutnya diperlakukan sebagaimana teks-teks lain yang dikarang manusia.

Pemikiran Schleiermacher dikembangkan lebih lanjut oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911), seorang filosof yang juga pakar ilmu-ilmu sosial. Setelahnya, kajian hermeneutika berbelok dari perkara metode menjadi ontologi di tangan Martin Heidegger (1889-1976) yang kemudian diteruskan oleh Hans-Georg Gadamer (1900-1998) dan Jurgen Habermas (1929- ).

Pro Kontra Terhadap Hermeneutik

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemunculan hermeneutika dalam kajian al-Qur’an menjadi kontroversial dikalangan umat muslim. Disini penulis akan memaparkan sedikit mengapa sebagian dari kalangan muslim menerima dan menolak hermeneutik dalam mengkaji al-Qur’an.

Ada beberapa hal yang menjadi alasan bagi kalangan muslim yang menolak hermeneutika sebagai salah satu teori dan metode penafsiran dalam al-Qur’an, diantaranya adalah:

  1. Berangkat dari sejarah hermeneutika yang berasal dari penafsiran terhadap mitos Yunani, maka hermeneutika dianggap sebagai sebuah desakan rasionalisasi terhadap sebuah mitos yang kemudian hal ini menemukan relevansinya dalam kitab bible yang dianggap sudah tidak otentik bagi kalangan muslim, karena ditulis oleh manusia sehingga jurang perbedaan dan pertentangan yang cukup tajam di dalam teks  dapat didamaikan dengan hermeneutik. Bagi penolak hermeneutik hal ini tentu saja berbeda dengan al-Qur’an yang tidak mengalami permasalahan dari segi sejarah karena diyakini sebagai wahyu Tuhan/kalam ilahi dan bukan perkataan Muhammad.
  2. Hermeneutika dalam hal ini adalah teori interpretasi yang hanya dapat digunakan terhadap teks-teks yang manusiawi. Sedang konsep al-Quran, wahyu dan sejarahnya membuktikan otentisitas bahwa al-Quran lafzhan wa ma‘nan dari Allah Swt. Konsekuensinya, konsep Hermeneutika tidak dapat diterapkan atas al-Quran.
  3. Tafsir al-Quran yang diterima oleh jumhur selalu bertolak dari arti kosakata bahasa Arab. Al-Quran dan sunnah berbahasa Arab. Tafsir bi al-ra’yi dan alisyârî pun disyaratkan untuk tidak menafikan dan menyimpang jauh dari arti kata yang sebenarnya. Takwil yang dilakukan para ulama pun harus dengan alasan yang menyebabkan sebuah kata tidak dapat diartikan dengan makna aslinya. Dengan nash sebagai titik tolak, al-Quran terhindar dari penafsiran-penafsiran yang liar. Sedang dalam hermeneutika, interpretasi sebuah teks dapat saja berbeda menimbang unsur yang terlibat dalam penafsiran jauh lebih banyak. Perbedaan tempat, waktu dapat menyebabkan perbedaan arti. Belum lagi perbedaan pengetahuan antara penafsir satu dengan lainnya mengenai sisi sejarah teks, psikologis sang pengarang dan sejauh mana kedua faktor tersebut mempengaruhi pemikiran pengarang dalam teks. Sekian faktor tersebut menjadikan hermeneutika lebih bernilai relatif.
  4. Tafsir dianggap lebih mempunyai pondasi tradisi yang kuat. Sumber primer tafsir dalam Islam adalah al-Quran, Rasulullah Saw. dan sahabat. Tafsir yang berasal dari ketiga sumber tersebut ditransmisikan melalui jalur riwayat yang jelas. Rasulullah Saw menjelaskan arti ayat dengan otoritas yang diberikan oleh Allah Swt. Kepada para sahabat. Selanjutnya para sahabat mendirikan madrasah-madrasah tafsir sebagai wadah untuk meneruskan rantai riwayat kepada tabi’in. Usai masa tabi’in, muncul upaya untuk mengkodifikasikan tafsir diikuti dengan penetapan syarat-syarat mufassir. Sementara itu bible dianggap bermasalah dengan persoalan otentisitas, sehingga penggunaan hermeneutika dari tradisi Yunani dianggap untuk mempertahankan status Bibel sebagai kitab suci. Tetapi kemudian ketika hermeneutika mulai diterapkan, “kesucian” Bibel justru dibongkar karena dianggap merintangi upaya penafsiran yang ilmiah. Puncaknya terjadi ketika Schleiermacher menyamakan antara teks bibel dan teks Yunani atau Romawi kuno.

Keempat hal diatas yang menyebabkan sebagian kalangan muslim menolak hermeneutika secara mentah-mentah untuk diterapkan dalam metode tafsir al-Qur’an. Ada ketakutan akan hilangnya kesakralan al-Qur’an jika al-Qur’an ditafsirkan secara hermeneutis. Sehingga mereka lebih suka menyukai metode-metode tafsir yang telah dilakukan dan dirumuskan oleh para ulama terdahulu, tanpa bersusah payah membuat metode baru. Disini metode tafsir al-Qur’an yang sudah ada dianggap sudah final dan tidak perlu dikembangkan. Istilah hermeneutik sendiri juga dipermasalahkan karena memang tidak ada dalam kamus arab atau Islam terutama bagi kalangan muslim yang anti barat, sehingga apapun yang berbau barat akan ditolak secara mentah-mentah[10].

Bagi kalangan yang pro terhadap hermeneutik, mereka melihat hermeneutik sebagai jawaban atas keterpurukan umat muslim karena persoalan dan kemunduran yang terjadi dalam masyarakat muslim saat ini persoalan terhadap penafsiran baik terhadap al-Qur’an maupun hadis. Sehingga diperlukan perangkat-perangkat dan metode-metode baru dalam menafsirkan al-Qur’an. Tentu saja hermeneutika tidak akan merubah al-Qur’an atau mendesakralisasi al-Qur’an tetapi justru hal ini akan membawa penyegaran dalam penafsiran al-Qur’an, sehingga al-Qur’an menjadi lebih kontekstual dan bermakna dalam setiap zaman.

Istilah hermeneutika memang tidak dikenal dalam sejarah keilmuan Islam, tetapi sebenarnya praktek hermeneutika telah dilakukan oleh kalangan muslim sejak lama. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Farid Esack dalam bukunya Membebaskan yang Tertindas: Al-Qur’an, Liberalisme, Pluralism, dimana hal itu dibuktikan, pertama, problematika hermeneutik senantiasa dikaji dan dialami meski tidak dihadapi secara tematis, seperti kajian mengenai asbabun-nuzul dan nasikh mansukh. Kedua, perbedaan antara tafsiran aktual dengan aturan, metode, atau teori interpretasi yang mengaturnya, sudah ada dalam literatur awal tafsir. Ini disistematisasikan dalam prinsip-prinsio tafsir dan ketiga, tafsir tradisional telah di kategorisasi. Beberapa kategori seperti syi’ah, mu’tazilah, ‘Asy’ariyah, dan sebagainya menunjukkan afiliasi ideology, periode, dan aspek historis si penafsir[11].

Namun demikian, meskipun dalam tradisi Islam telah mempraktekkan hermeneutik, tetapi sedikit sekali karya tafsir yang bersifat historis-kritis tentang hubungan antara aspek sosial si penafsir dengan tafsirannya, serta tentang asumsi-asumsi sosiopolitis dan filosofis eksplisit dan implisit yang mendasari kecenderungan teologisnya, hal-hal yang merupakan fokus utama dalam hermeneutika kontemporer[12].

Apa yang telah dijelaskan oleh Farid Esack ini sebenarnya adalah merupakan bantahan bahwa tradisi hermeneutik adalah bukanlah semata-mata merupakan produk keilmuan barat. Meski dalam kenyataanya memang demikian tetapi sebenarnya dalam Islampun akar-akar hermeneutik bukanlah sesuatu yang asing sama sekali karena memang bisa di dapatkan dalam tradisi Islam, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Sehingga penolakan terhadap hermeneutik yang hanya mendasarkan bahwa hermeneutik merupakan metode asing yang coba dipaksakan di dalam kajian al-Qur’an dianggap terlalu berlebihan.

Lebih lanjut ketakutan para penolak hermeneutik yang menganggap penggunaannya (baca hermeneutik) akan menyamakan al-Qur’an dengan teks-teks yang lain termasuk kitab suci agama lain tidak perlu terjadi. Hal ini karena setiap umat beragama memiliki hermeneutika sendiri sebagaimana masing-masing memiliki kitab sucinya sendiri.[13] Sehingga ada hermeneutika al-Qur’an, hermeneutika bible, hermeneutika Upanishad, yang memiliki kekhasan masing-masing yang tidak dimiliki oleh lainnya. Diantara yang berpengaruh dalam penentuan perbedaan antara masing-masing hermeneutika kitab suci adalah hakekat teks atau kitab suci itu sendiri, baik secara historis, teologis, dan linguistik. Dari sini kemudian kitab seci sebagai obyek penafsiran sangatlah menentukan metodologi penafsiran yang dipergunakan. Meskipun metodologi ini ditentukan juga oleh subyek yang menafsirkan tetapi cara pandang subyek terhadap obyek (penafsir terhadap kitab suci), akan sangat berpengaruh terhadap hermeneutika yang diterapkannya.[14] Disinilah kemudian hermeneutika al-Qur’an jelas tidak akan sama dengan hermeneutika bible ataupun hermeneutika teks yang lain, karena al-Qur’an dipandang sebagai wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad untuk semua manusia di segala zaman dan bukan hanya eksklusif bagi zaman Muhammad. Al-Qur’an yang ada sekarang ini juga diyakini sama dengan al-Qur’an yang ada pada zaman Nabi.  Selain itu bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an yakni bahasa Arab dimana penerjemahannya kedalam bahasa lain tetap tidak akan mendapatkan status yang sama dengan al-Qur’an. Hal-hal yang telah disebutkan tersebut tentunya akan membawa hermeneutika al-Qur’an berbeda dengan hermeneutika teks yang lain.

Selain itu hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an ini baru berfungsi setelah Nabi Saw menyampaikan wahyu tersebut. Hermeneutika tidak berurusan dengan sifat hubungan antara Tuhan dan Rasul-Nya dan bagaimana Nabi menerima wahyu tersebut, melainkan dengan kata-kata yang diturunkan dalam sejarah dan disampaikan dari satu manusia kepada manusia lain. Dengan demikian hermeneutika melihat kata-kata tersebut bukan dalam dimensi vertikalnya, tetapi dalam dimensi horizontalnya.[15]

 

Berbagai Corak Hermeneutika al-Qur’an

Ada satu hal yang cukup mendasar yang membedakan antara hermeneutika dengan metode tafsir sebelumnya, yakni hermeneutika bisa dikatakan bergerak dalam tiga horizon, yakni horizon pengarang, horizon, teks dan horizon penerima atau pembaca atau secara prosedural langkah hermeneutika itu menggarap wilayah teks, konteks, dan kontekstualisi, baik yang berkenaan dengan aspek operasional metodologisnya maupun dimensi epistemologis penafsirannya[16]. Sementara dalam tafsir klasik, wilayah yang dikaji lebih banyak bertumpu pada teks. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, meski embrio pendekatan hermeneutik dalam pemikiran Islam sesungguhnya telah ada, tetapi ruang lingkup cakupan bahasannya masih sangat terbatas pada tradisi keilmuan bayani dan belum sampai masuk terkait dengan tradisi burhani[17].

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi asumsi dasar dalam penafsiran al-Qur’an melalui pendekatan hermeneutik, yakni[18]:

  1. Para penafsir adalah manusia. Siapapun yang menafsirkan teks kitab suci adalah manusia biasa yang terikat oleh ruang dan waktu tertentu, dimana hal ini akan berpengaruh terhadap corak penafsirannya. Dengan asumsi ini maka vonis mutlak akan benar dan salahnya penafsiran diharapkan tidak akan terjadi, sehingga lebih mengarah pada pemahaman dan analisa yang kritis terhadap penafsiran.
  2. Penafsiran tidak lepas dari bahasa, sejarah dan tradisi. Sehingga pergulatan umat muslim dengan al-Qur’an juga berada dalam “ruang” ini.
  3. Tidak ada teks yang menjadi wilayah bagi dirinya sendiri.

Dengan tiga asumsi dasar yang dibangun dalam hermeneutika al-Qur’an ini maka hermeneutika diharapkan mampu “kemandegan” dalam keilmuan Islam (baca : ilmu tafsir), yang selama ini dianggap menjadi penyebab kemunduran umat muslim.

Hermeneutika al-Qur’an kontemporer ini diawali dengan munculnya gerakan pembaharuan pada abad ke 18 yang ternyata membawa implikasi pada munculnya suatu penafsiran baru yang diilhami oleh modernitas seperti Ahmad Khan, Amir Ali. Kemudian di Mesir muncul Muhammad Abduh yang menawarkan penafsiran yang bertumpu pada analisis sastra dan sosial. Terma hermeneutika memang belum dikenal dalam tradisi keilmuan Islam. Baru setelah dekade 1960 telah muncul tokoh-tokoh yang serius memikirkan masalah metodologi tafsir. Meskipun kemunculan hermeneutika al-Qur’an ini mulai pada dekade 1960, tetapi kenyataanya baru pada tahun 1970 hermeneutika al-Qur’an mendapat sambutan yang luas tepatnya setelah Fazlur Rahman merumuskan hermeneutika sistematiknya yang dikenal dengan hermeneutika doble movement atau hermeneutika bolak-balik[19]. Metode gerak bolak balik ini secara sederhana dipahami “dari situasi masa kini ke masa al-Qur’an diturunkan dan kembali lagi ke masa kini”. Gerak yang pertama  merupakan tahap pemahaman tekstual al-Qur’an dan konteks sosio-historis ayat-ayatnya dan tahap generalisasi. Gerak pertama disini disebut sebagai tugas pemahaman  (task of understanding). Sedangkan pada gerak kedua merupakan perumusan dan realisasi dalam konteks sosio—historis yang konkret di masa sekarang. Dalam gerak kedua ini bukan hanya berkaitan dengan upaya “penubuhan” (embodied) dalam konteks kekinian tetapi juga sebagai “pengoreksi” terhadap hasil-hal atas penafsiran pada gerakan pertama[20]. Metode gerak bolak-balik ini diterapkan Rahman dalam bukunya Tema Pokok al-Qur’an yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat sosial dan kemanusiaan. Sedangkan untuk ayat-ayat eskatologi dia menggunakan metode sintetik-logik.[21]

Kemunculan Rahman yang merumuskan hermeneutika al-Qur’annya menjadi titik tolak bagi perkembangan hermeneutika al-Qur’an kontemporer. Karena meskipun hermeutika al-Qur’an secara sistematik sudah diperkenalkan pada dekade sebelumnya[22] tetapi pada kenyataannya baru mendapatkan sambutan yang luas setelah Rahman merumuskan hermeneutika al-Qur’annya. Lebih lanjut, Fazlur rahman telah menumbuhkan kesadaran baru dilakangan kaum muslimin tentang bagaimana seharusnya menafsirkan al-Qur’an.

Selain Rahman, terdapat juga beragam corak hermeneutika al-Qur’an yang diperkenalkan diantaranya oleh Hassan Hanafi yang dikenal dengan hermeneutika sosial karena lebih berorientasi pada pemecahan problem sosial, hermeneutika pembebasan Farid Esack, karena berorientasi pada pembebasan kaum Muslimin dari penindasan rezim apartheid, serta hermeneutika feminis Amina Wadud Muhsin karena berorientasi pada pembebasan kaum perempuan dari sistem patriarkhis[23]. Berbagai corak hermeneutika al-Qur’an yang lahir ini tentu saja melahirkan bentuk tafsir yang berbeda yang lahir dari perbedaan konteks sosio kultur sang penafsir. Disini penulis tidak akan menjelaskan secara detail perbedaan beragam corak hermeneutika al-Qur’an tetapi yang perlu digarisbawahi dalam hal ini adalah bahwa hermeneutika al-Qur’an menawarkan sebuah penafsiran yang lebih kontekstual dan berorientasi pada pemecahan atas berbagai persoalan umat kekinian. Meski begitu hermeneutika al-Qur’an tidak begitu saja meninggalkan teks-teks al-Qur’an, tetapi hermeneutika justru akan mendialogkan teks-teks al-Qur’an dengan konteks masyarakat saat ini. Dialektika yang terjadi secara terus-menerus ini kemudian akan menampilkan teks yang lebih bermakna sehingga inspirasi al-Qur’an tidak pernah kering sepanjang zaman. Sebaliknya tanpa adanya persentuhan antara teks dan konteks justru teks akan “mati” dan menjadi tidak bermakna.

 

Signifikansi Hermeneutika dalam diskursus Tafsir al-Qur’an Kontemporer

Bahasa agama (baca al-Qur’an) sebagai representasi bahasa Tuhan bukanlah lahir dalam ruang yang kosong. Hal inilah yang membuat teks-teks al-Qur’an menjadi teks-teks yang bersifat dialogis ketika dibaca, karena memang teks al-Qur’an tersebut memberikan respon terhadap konteks masyarakat arab saat itu. Dalam perkembangannya para pembaca teks al-Qur’an menjadi semakin menemukan “kerumitan” karena jarak, waktu, tempat antara pembaca dengan teks semakin jauh. Teks al-Qur’an yang lahir sekian abad yang lalu di dunia timur tengah kemudian hadir di tengah masyarakat Indonesia kontemporer. Jangankan masyarakat Indonesia yang mempunyai budaya yang jelas-jelas jauh berbeda dengan budaya arab, masyarakat Arab dan Islam secara umum juga menghadapi persoalan yang sama terutama terkait perkembangan dunia dengan berbagai persoalan yang semakin kompleks. Umat muslim seolah tidak berdaya menghadapi perkembangan dunia yang semakin pesat, sehingga bisa dikatakan kondisi umat muslim saat ini menjadi sangat terpuruk diantara dua pilihan terbawa oleh arus zaman atau menghindari pesatnya perkembangan zaman. Hal inilah yang membuat para intelektual muslim seperti Fazlur Rahman, Hassan Hanafi, Farid Esack, Syahroor dan lain sebagainya memberikan tawaran hermeneutik dalam mengkaji al-Qur’an sebagai upaya dalam menjawab tantangan zaman.

Sebagai sebuah teori interpretasi yang kemudian berkembang menjadi sebuah disiplin filsafat, tugas pokok hermeneutika adalah bagaimana menafsirkan sebuah teks klasik atau teks yang asing sama sekali menjadi milik kita yang hidup di zaman dan tempat serta suasana kultural yang berbeda. Disini pra konsepsi dan pra disposisi seorang penafsir dalam memahami teks memiliki peran yang besar dalam membangun makna. Selain itu dalam tradisi hermeneutika teks menawarkan berbagai kemungkinan untuk ditafsirkan berdasarkan sudut pandang serta teori yang hendak dipilihnya[24]. Lebih lanjut dalam diskursus hermeneutika kontemporer, orang tidak lagi berbicara tentang salah atau benarnya suatu pendapat karena makna jauh lebih penting daripada kebenaran. Hal ini kemudian -sebagaimana yang dinyatakan oleh Amin Abdullah- dalam wilayah epistemologis, orang sekarang lebih tertarik untuk menerangkan implikasi dan konsekuensi dari sebuah pendapat yang dipegang teguh oleh seseorang atau kelompok bukan soal benar atau salahnya suatu pendapat.[25] Meskipun demikian tidak berarti hermeneutika mendukung paham relativisme-nihilisme, melainkan justru hendak mencari pemahaman yang benar atas sebuah teks yang ada sebagai “tamu asing”. Dengan kata lain hermeneutika berusaha menemukan gambaran dari sebuah bangunan makna yang benar yang terjadi dalam sejarah yang dihadirkan kepada kita oleh teks.[26]

Dengan demikian peran hermeneutika menjadi cukup signifikan dalam penafsiran teks-teks al-Qur’an.  Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, hermeneutika menjadi kunci untuk menjembatani jarak antara teks dengan konteks saat ini sehingga al-Qur’an tidak lagi gagap dalam menjawab tantangan zaman yang dirasakan semakin berat.

 

Penutup

Demikianlah meski hermeneutika merupakan produk dari keilmuan barat, tetapi kehadiran hermeneutika sebagai sebuah teori interpretasi cukup signifikan dalam mengembangkan penafsiran al-Qur’an. Hal ini karena dalam hermeneutika tidak hanya mempertimbangkan teks tetapi juga konteks dan kontekstualisasi, sehingga dengan menggunakannya teks-teks al-Qur’an menjadi kontekstual dalam menghadapi tantangan zaman

Daftar Pustaka

Abdullah, Amin, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Paradigma Integratif-Interkonektif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet II,  2010.

 

Esack, Farid, Membebaskan yang Tertindas: Al-Qur’an, Liberalisme, Pluralisme, Bandung : Mizan, 2000.

 

Faiz, Fahruddin Teks, Konteks dan Kontekstualisasi (Hermeneutika modern dalam Ilmu Tafsir al-Qur’an Kontemporer), dalam buku Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural, Yogyakarta: Panitia Dies IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ke 50, 2002

 

Hanafi, Hassan, Muqaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab, Kairo: al-Dar al-Fanniyah, 1991.

 

Hidayat, Komaruddin, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, Jakarta: Paramadina, 1996.

 

Kurdi dkk, Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadis, Yogyakarta:: Elsaq press, 2010.

 

Nur Ichwan, Moch, Hermeneutika al-Qur’an: Analisis Peta Perkembangan Metodologi Tafsir al-Qur’an Kontemporer, Skripsi Jurusan Tafsir Hadis IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1995

 

Palmer, Richad E, Hermeneutika : Teori Baru Mengenai Interpretasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

 

Prilakusuma, Angga dalam Telaah Kritis Aplikasi Hermeneutika Dalam Tafsir Al-Qur’an, dalam http://inzacky.indrawebmaster.com/data_ikpm/Hermeneutika.pdf.

 

 

Rahman, Fazlur, Islam dan Modernitas: tentang Transformasi Intelektual, terj. Ahsin Muhammad, Bandung: Pustaka, 1985.

 

——————, Tema Pokok Al-Qur’an, terj. Anas Mahyudin, Bandung: Pustaka, 1983.

 

Syamsudin, Sahiron, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an, Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009.

 

http://www.youtube.com/watch?v=yvxcAka1j8U,

 


[1] Dalam Islam, nama Hermes sering diidentikkan dengan Nabi Idris, yang dikenal sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan dan mengetahui tulisan, teknologi, astrologi, dan lain-lain. Moch Nur Ihwan, Hermeneutika al-Qur’an: Analisis Peta Perkembangan Metodologi Tafsir al-Qur’an Kontemporer, Skripsi Jurusan Tafsir Hadis IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1995, hlm 27

[2] Fahruddin Faiz, Teks, Konteks dan Kontekstualisasi (Hermeneutika modern dalam Ilmu Tafsir al-Qur’an Kontemporer), dalam buku Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural, (Yogyakarta: Panitia Dies IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ke 50, 2002), hlm 41

[3] Ibid., hlm 42

[4] Dr. Phill, Sahiron Syamsudin MA, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009), hlm 7

[5] Ibid., hlm 7-10.

[6] Untuk memudahkan dalam memahami sejarah perkembangan hermeneutika disini penulis merujuk pada Hamid Fahmi Zarkasyi yang dikutip oleh Angga Prilakusuma dalam Telaah Kritis Aplikasi Hermeneutika Dalam Tafsir Al-Qur’an, dalam http://inzacky.indrawebmaster.com/data_ikpm/Hermeneutika.pdf. Pembagian sejarah perkembangan hermeneutik ini agak mirip dengan apa yang ditulis oleh Sahiron Syamsuddin yang membaginya dalam (1) Hermeneurika teks mitos, (2) Hermeneutika teks Bibel dan (3) Hermeneutika umum, lihat Dr. Phill Sahiron Syamsuddin, Ibid., hlm 11. Sementara itu meski mempunyai tujuan yang sama Richad E Palmer mempunyai kategori yang berbeda dalam menjelaskan sejarah perkembangan hermeneutika, dia membaginya dalam  enam bentuk yakni (1) Hermeneutika sebagai teori eksegesis bible, (2) Hermeneutika sebagai metodologi filologi, (3) Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistic, (4) Hermeneutika sebagai fondasi metodologis geisteswessenshaften, (5)Hermeneutika sebagai fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial, (6) Hermeneutika sebagai system interpretasi, baik recollektif maupun iconoclastic. Lihat Richad E Palmer, Hermeneutika : Teori Baru Mengenai Interpretasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm 38-49

[7] Angga.., Ibid.

[8] Ibid.,

[9] Ibid.,

[10] Di Indonesia, sebagai contoh tokoh yang  saat ini cukup tegas dalam menolak penggunaan hermeneutik  dengan penafsiran al-Qur’an adalah Adian Husaini, Roem Rowi dan lain sebagaianya. Adian Husaini sering menyatakan betapa bahayanya metode hermeneutika dalam menafsirkan al-Qur’an, dia bahkan menunjuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Syarif hidayatullah Jakarta sebagai “agen barat” yang mempromosikan hermeneutik dan menjadikannya sebagai mata kuliah wajib. Tidak heran jika dalam hal ini orang-orang seperti Amin Abdullah dkk menjadi sasaran kritik tajam dari Adian Husaini. Lihat dalam http://www.youtube.com/watch?v=yvxcAka1j8U,

[11] Farid Esack, Membebaskan yang Tertindas: Al-Qur’an, Liberalisme, Pluralisme, (Bandung : Mizan, 2000), hlm 94-95

[12] Ibid.,

[13] Pendapat ini juga dikemukakan oleh S.J Samarta sebagaimana yang dikutip oleh Moch NurIkhwan., Op.Cit, hlm 48

[14] Ibid.,

[15] Fahruddin Faiz, Op.Cit hlm 53

[16] Ibid., hlm 44

[17] Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Paradigma Integratif-Interkonektif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet II,  2010), hlm 244-245

[18] Fahruddin Faiz, Op.Cit., hlm 49-50

[19] NurIkhwan, Op.Cit., hlm 42-44

[20] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: tentang Transformasi Intelektual, terj. Ahsin Muhammad, (Bandung: Pustaka, 1985), hlm 7-8.

[21] Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Qur’an, terj. Anas Mahyudin, (Bandung: Pustaka, 1983), hlm 9-10.

[22] Sebelum Fazlur Rahman, Arkoun telah menawarkan “cara baca” semiotik dalam penafsiran al-Qur’an dan Hassan Hanafi telah mempublikasikan tiga karyanya tentang hermeneutika, yang pertama terkait dengan metode yang digunakan dalam upaya rekonstruksi ilmu usul al-Fiqh, karya keduanya tentang hermeneutika fenomenologis dalam menafsirkan fenomena keagamaan dan keberagamaan dan yang terakhir tekait dengan kajian kritis tehadap hermeneutika eksistensial dalam konteks penafsiran perjanjian baru. NurIkhwan, Op.cit., hlm 44, Lihat juga Hassan Hanafi, Muqaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab, (Kairo: al-Dar al-Fanniyah, 1991), hlm 84-86.

[23] Lihat Kurdi dkk, Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadis, (Yogyakarta:: Elsaq press, 2010)

[24] Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama, (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm 17-18

[25] Amin Abdullah, Op.Cit., hlm 257-258

[26] Komaruddin Hidayat., Op.Cit., hlm 18

1 komentar Januari 23, 2011

PENDEKATAN ANTROPOLOGIS DALAM PENELITIAN AGAMA (ISLAM) “Sebuah Upaya Peneguhan Relevansi”

Oleh: Syafi’, Yahya, dan Zunly Nadia

A. Belajar dari Jagapura: Sebuah Pengantar[1]

Awal tahun 2009 silam, salah satu penulis sedikit termangu saat mendapatkan tugas untuk membaca al-Qur’an secara estafet di (sekitar) tempat peristirahatan kakek penulis, yang baru saja meninggal dunia. Saat itu penulis mendapatkan putaran waktu keempat, yakni sekitar pukul 22:00 hingga 06:00 WIB. Kegiatan tersebut berlangsung hingga pukul 06:30 WIB pada hari ketujuh, yakni pada saat tim muqaddaman tiba untuk khataman al-Qur’an berikut pembacaan tahlil-nya. Ketermanguan tersebut bukan karena penulis tidak ingin memenjalankannya, melainkan karena munculnya ragam pertanyaan dalam alam pikir penulis, yang mungkin pada saat itu cenderung “liar”.

Pada mulanya, penulis mengira bahwa kegiatan tersebut hanya inisiatif dari bibi penulis, yang notabene cinta dengan al-Qur’an. Beberapa hari sepeninggal kakek penulis, sekelompok orang lain juga terlihat sedang melakukan hal yang sama. Di lain waktu, saat penulis sedang menikmati liburan di kampung halaman, perihal yang sama juga nampak di beberapa makam. Bahkan, suatu hari penulis diminta untuk melakukannya di makam seseorang yang sama sekali tidak penulis kenal dengan tawaran honor bersih Rp. 300.000. Akan tetapi, penulis menolaknya karena dua hari setelahnya harus kembali ke Yogyakarta.

Sesampainya di kota pelajar, penulis mulai sadar bahwa ada tradisi baru yang hidup di masyarakat penulis, yang sekitar 11 tahun sebelumnya tidak pernah penulis jumpai. Saat itu juga penulis melakukan wawancara via Short Massage Sent (SMS) dengan salah satu saudara penulis, yang kebetulan “berprofesi” sebagai pembaca al-Qur’an dalam kegiatan seperti di atas. Dalam diskusi tersebut, penulis bersamanya membincangkan persoalan apakah ritual tersebut dilakukan dalam rangka menahan kedatangan Malaikat Munkar-Mangkir, untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan alam kubur, atau ada persoalan lain yang mendasarinya? Pada saat yang bersamaan, dalam paradigma mereka yang skriptualis tidak ada seruan untuk melakukan hal tersebut. Menurutnya, dengan tegas mengatakan bahwa kegiatan tersebut hanya bersifat ta’abbudi. Namun demikian—dalam pembacaan pendek penulis—ekspresi keberagamaan tersebut tidaklah lahir secara instan. Artinya, ada proses interpretasi panjang terhadap ajaran agama masyarakat setempat yang kemudian terakumulasi menjadi sebuah tradisi. Untuk memahami ritual tersebut, pendekatan etnografis yang bersifat holistik-integratif—yakni model pendekatan yang bertujuan untuk mendapatkan data atas dasar native’s point of view—dan dengan acuan model pendekatan emik—pendekatan yang memandang fenomena sosial budaya atas dasar sudut pandang masyarakat yang menjadi objek kajian,[2] yakni masyarakat Jagapura—barangkali sebagai alternatif pendekatan, di samping juga berbagai pendekatan lain.

Pengalaman sekilas di atas mengindikasikan bahwa studi al-Qur’an maupun hadis dalam bentuk living adalah sebuah keniscayaan yang mesti dirambah oleh para pegiatnya, tanpa meninggalkan juga kajian-kajian yang bersifat teoritis-normatif. Pada saat yang bersamaan, kajian living Qur’an dan living hadis tidak akan mendapatkan hasil maksimal—untuk tidak mengatakan tidak mungkin bisa—jika tidak memanfaatkan pendekatan ilmu-ilmu sosial, termasuk antropologi. Karena demikian, dalam catatan ini penulis bermaksud meneguhkan tentang relevansi pendekatan antropologis dalam penelitian agama. Judul kecil di atas dengan sengaja dibuat karena titik tolak penulis adalah asumsi penerimaan para pembaca atas relevannya pendekatan antropologis dalam penelitian agama. Dalam catatan ini, penulis akan mengawalinya dengan kilasan tentang antropologi, sebagai disiplin ilmu, sebagai sebuah pengantar. Ulasan mengenai relasi agama dan budaya juga akan turut diulas sebagai peneguhan akan relevannya pendekatan antropologis dalam penelitian agama. Sedangkan contoh aplikatifnya penulis deskripsikan secara singkat pada studi al-Qur’an dan hadis melihat pembacanya adalah para pegiat kajian tersebut. Selanjutnya, catatan ini akan ditutup dengan simpulan dan saran untuk para pegiat Qur’anic and prophetic tradition studies dalam memperjelas arah kajian di era kekinian yang lebih kompetitif lagi acap kali berorientasi profit.

B. Antropologi: Ma Huwa, Li Ajli Ma, wa Ma Fih?

Sebelum mendeskripsikan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan antropologi kaitannya dengan penelitian agama, sejarah ringkas tentang antropologi merupakan perihal penting untuk disampaikan dalam catatan ini. Hal ini dilakukan mengingat fakta para pembaca yang beragam dan juga dalam rangka memposisikan maksud antropologi dalam catatan ini. Sehingga, kontroversi terkait dengan antropologi itu sendiri dapat dihindari.

Beberapa kalangan menyebutkan bahwa antropologi[3] muncul pada pertengahan abad XIX, tepatnya sekitat tahun 1860, di mana pada saat itu beberapa karangan yang mengklasifikasikan bahan-bahan mengenai berbagai kebudayaan di dunia dalam berbagai tingkat evolusi. Dalam pada itu, Koentjaraningrat, the father of anthropology di Indonesia, memetakan perkembangan antropologi, yang dalam hemat penulis sangat mudah dipahami, menjadi empat fase, yaitu:[4]

  1. Sebelum era 1800-an. Fase ini dimulai dengan singgahnya bangsa Eropa di benua Afrika, Asia, dan Amerika sekitar awal abad XVI. Dalam persinggahan tersebut, banyak catatan yang dibuat oleh mereka tentang segala aspek yang berkaitan dengan penduduk setempat, baik berupa adat-istiadat, aneka ragam suku, bentuk fisik, dan lain sebagainya. Berbagai catatan tersebut tersusun secara kabur, tidak teliti, atomistik, dan tidak rapi. Namun demikian, hampir semua catatan tersebut berkelindan pada aspek etnografi. Di kemudian hari, catatan-catatan tersebut diupayakan untuk diintegrasikan dengan penyusunan yang rapi.
  2. Pertengahan abad XIX. Fase ini dimulai dengan tersusunnya upaya integrasi catatan-catatan pada fase pertama, di mana susunan tersebut didasarkan pada cara berfikir evolusionis. David N. Gellner mengatakan bahwa para antropolog abad ini berfikir bahwa seluruh masyarakat manusia tertata dalam keteraturan, seolah sebagai eskalator historis raksasa, di mana mereka sendiri berada pada posisi puncak, sedangkan masyarakat Eropa dan lainnya yang kurang berkembang berada di tengah. Sementara masyarakat primitif berada di posisi yang paling bawah.[5] Pada fase ini juga muncul karya-karya hasil penelitian yang mengupas persoalan sejarah penyebaran kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa yang juga masih dianggap sebagai sisa-sisa kebudayaan manusia kuno.
  3. Awal Abad XX. Dalam fase ini antropologi lebih banyak mengamati kebudayaan bangsa di luar Eropa. Hal tersebut terjadi mengingat kolonialisme bangsa Eropa atas non-Eropa semakin memantapkan posisinya. Kondisi demikian menjadikan antropologi sebagai ilmu praktis yang digunakan untuk kepentingan pemerintah kolonial dalam memahami Negara jajahannya.
  4. Pasca-tahun 1930-an. Sasaran penelitian para antropolog pada era ini beralih ke wilayah penduduk pedesaan, baik secara fisik, masyarakat, maupun kebudayaannya. Pedesaan di sini bersifat umum dalam arti tidak hanya di luar Eropa dan Amerika, di dalam dua benua itu pun juga menjadi bagian dari objek kajianannya.

Bertolak dari empat fase perkembangan tersebut, pada era saat ini corak antropologi di masing-masing wilayah nampak berbeda.[6] Pun juga demikian di Indonesia, dasar-dasar antropologinya hingga sekarang belum ditentukan. Kondisi demikian, menurut Koentjaraningrat justru memberikan ruang kebebasan tersendiri, di mana antropolog dapat memilih ragam corak di atas, dan bahkan mengkombinasikannya sekalipun.[7] Berkaitan dengan itu, penulis memposisikan diri pada antropologi model Meksiko dan India, di mana antropologi didefinisikan sebagai ilmu praktis tentang kemanusiaan yang bersama sosiologi digunakan untuk mengumpulkan data tentang kebudayaan-kebudayaan daerah untuk menemukan dasar-dasar bagi suatu kebudayaan nasional dengan kepribadian yang khas serta dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial-budaya dan merencanakan pembangunan nasional.

Secara garis besar antropologi dapat dipetakan menjadi dua macam, antropologi fisik dan budaya. Antropologi fisik atau biologi merupakan antropologi yang mengkaji manusia sebagai mahkluk biologi. Ia mempelajari manusia dari sudut jasmaniah, dalam arti yang seluas-luasnya. Hal yang diselidiki ialah asal-usul manusia, perkembangan evolusi organik, struktur tubuh dan kelompok manusia yang kita sebut ras.[8] Selain itu, antropologi jenis ini juga mempelajari pengaruh lingkungan terhadap struktur tubuh manusia. Dalam hal ini, lingkungan alam dianggap sangat mempengaruhi ekologi manusia. Sementara itu, antropologi budaya dapat didefinisakan dengan ilmu yang mempelajari kebudayaan pada umumnya dan kebudayaan-kebudayaan dalam berbagai bangsa di seluruh dunia. Ilmu ini menyelidiki bagaimana manusia mampu berkebudayaan dan mengembangkan kebudayaanya sepanjang zaman; bagaimana manusia dengan akal dan struktur fisiknya yang unik mampu menciptakan lingkungannya yang tidak diciptakan secara naluriah; dan mengapa suatu bangsa itu cara hidupnya, adat-istiadatnya, sistem kepercayaannya, sistem ekonomi dan hukumnya, keseniannya, sistem moral dan keindahannya, yang dimungkinkan—untuk tidak mengatakan pasti—berbeda antara satu bangsa dengan yang lainnya.[9] Sehingga, cara kerja antropologi budaya adalah mengamati, memahami, dan mendeskripsikan kebudayaan yang terdapat di dalam komunitas manusia. Dari penelitian secara komparatif tentang kebudayaan itu, akhirnya diperoleh sebuah konsepsi tentang kebudayaan manusia pada umumnya, yang merupakan pengertian yang sistematis dan kemudian dapat di gunakan sebagai alat menganalisa masalah kehidupan sosial-kebudayaan manusia.

Selanjutnya, dapatkah agama (Islam) dikaji dengan pendekaatan antropologis, pada saat yang bersamaan ia merupakan produk Tuhan? Sejauh mana relevansi pendekatan antropologis dalam kajian keagamaan? dan bagaimana kerja-kerja oprasionalnya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan diulas dalam dua sub bab selanjutnya sebelum ditutup dengan kesimpulan dan saran-saran.

C. Membincang Agama dalam Studi Kemanusiaan: Sebuah Keniscayaan

Fenomena agama merupakan fenomena kemanusiaan yang bersifat universal.[10] Meskipun pada tataran sosial acap kali mengalami disorientasi, bukan berarti eksistensi agama dalam masyarakat mengasap tanpa jejak. Universalitas tersebut menunjukkan bahwa kajian tentang manusia atau masyarakat tidak akan lengkap tanpa melihat agama sebagai salah satu elemen. Karena itu, kajian tentang persoalan-persoalan sosial dalam suatu masyarakat yang menafikan aspek agama, sebagai salah satu faktor determinan, tidak akan dapat menggambarkannya secara radikal dan komprehensif.

Sebagai sebuah agama, Islam diyakini berasal dari wahyu yang kemudian diadaptasi dengan kondisi real dalam suatu masyarakat. Adaptasi tersebut nampak sangat jelas dalam praktik ritual keagamaan. Ia merupakan ajaran agama yang disampaikan melalui kitab suci al-Qur’an, yang dalam dataran praktis setiap masyarakat mengaplikasikan ajarannya secara berbeda. Persoalan zakat misalnya, al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci bagaimana perintah tersebut diaplikasikan. Di era Nabi dan beberapa generasi setelahnya hanya mewajibkan pada aspek pertanian, perdagangan, dan perhiasan, itu pun hanya jenis-jenis tertentu.[11] Berbeda di era sekarang, pada sektor profesi juga merupakan bagian dari harta yang wajib dizakati.[12] Bahkan, dengan melihat transformasi perdaban manusia, konsep zakat klasik, yang lebih membebankan sektor pertanian daripada yang lain, di era sekarang, oleh beberapa kalangan dianggap sudah saatnya harus direkonstruksi.

Perubahan-perubahan demikian mengindikasikan bahwa agama adalah suatu fenomena abadi di satu sisi, dan di sisi yang lain juga memberikan gambaran bahwa keberadaan agama tidak bisa lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya. Keterkaitan tersebut dimungkinkan terjadi karena agama tidak berada dalam realitas yang hampa. Pemahaman demikian sejalan dengan apa yang telah dinyatakan oleh Atho’ Mudzar tentang bagian Islam yang merupakan produk sejarah.

“Orang dapat berkata, andaikata Islam tidak berhenti di Viena mungkin sejarah Islam di Eropa akan lain. Andaikata Islam terus di Spanyol, sejarahnya lain lagi. Andaikata Islam tidak bergumul dengan budaya Jawa, sejarahnya di Indonesia akan berubah pula. Andaikata Inggris tidak dating ke India, sejarah Islam di anak benua itu akan lain lagi. Demikianlah sebagian wajah Islam di berbagai belahan dunia adalah produk sejarah. Paham muktazilah, kembali kepada pemikiran, sebetulnya juga produk sejarah…. Demikian juga filsafat Islam, kalam, fikih, ushul fikih, juga produk sejarah. Tasawwuf dan akhlak, sebagai ilmu adalah produk sejarah. Akhlak sebagai nilai bersumber dari wahyu, tetapi sebagai ilmu yang disistematisir akhlak adalah produk sejarah.”[13]

Sehingga, bisa dikatakan bahwa mengingkari keterpautan tersebut berarti mengingkari realitas agama sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang berada dalam lingkaran budayanya.

Realitas faktual di atas juga mengandung arti bahwa dinamika agama dalam sebuah masyarakat, baik secara doktrinal maupun praktiknya, mengindikasikan adanya campur tangan manusia dalam konstruksinya. Namun demikian, pernyataan ini tidak serta merta berarti bahwa agama merupakan kreasi murni manusia, melainkan dialektika antara kreasi Tuhan, yang tercermin dalam kitab suci, dan konstruksi manusia berupa interpretasi dari nilai-nilai universal agama yang direpresentasikan pada dataran praktis. Interpretasi yang dilakukan tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang melingkar di sekelilingnya. Dengan melihat kenyataan di atas, pernyataan bahwa agama, pada bagian tertentu, merupakan aspek kebudayaan manusia dapat dibenarkan.[14]

Sebagai sesuatu yang inheren dalam kebudayaan manusia tersebut menjadikan realitas keagamaan seseorang (masyarakan) semakin kompleks. Kompleksitas tersebut sebenarnya menandai adanya kompleksitas dalam kehidupan sosial dan budaya, dan bukan agama in it self. Karenanya, kajian terhadap agama pun tidak bisa tidak juga menjadi semakin kompleks, di mana kompleksitas ini sebenarnya menuntut adanya perkembangan dalam studi agama,[15] dan sebagai salah satu kebutuhan yang mendesak dalam menghadapi kompleksitas ini adalah dibutuhkannya berbagai pendekatan, termasuk di dalamnya adalah pendekatan antropologi.

Sebagai sebuah disiplin ilmu, yang secara sederhana dapat didefinisikan dengan studi tentang manusia (masyarakat) dalam segala perbedaan perilaku, termasuk dirinya sebagai kreator dan produk budaya, [16] antropologi menjadi pendekatan yang sangat signifikan untuk memahami agama (Islam). Dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama (Islam) dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya.[17] Hal ini tidak hanya karena pertemuan keduanya yang telah memunculkan terjadinya perbedaan dalam penafsiran dan praktik keagamaan,[18] tetapi juga karena pergumulannya yang tentu saja akan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan yang dapat terlihat dari berbagai aspek; baik sosial, ekonomi, maupun politik. Dari sini kemudian pendekatan antropologi dapat menjelaskan mengapa interpretasi terhadap ajaran agama berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya.[19]

Dengan demikian, maka sudah barang tentu jika agama yang dipelajari adalah agama sebagai fenomena budaya, bukan ajaran agama sebagai produk Tuhan. Antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap perangkatnya, seperti kepercayaan, ritual, dan kepercayaan kepada yang sakral.[20] Wilayah kajian antropologi kaitannya dengan agama hanya terbatas pada kajian terhadap fenomena yang muncul. Dalam konteks keindonesiaan, menurut Atho Mudzhar, ada lima fenomena agama (Islam) yang dapat dikaji, yaitu:[21]

  1. Scripture atau naskah atau sumber ajaran dan simbol agama;
  2. Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya;
  3. Ritus, lembaga dan ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan, dan waris;
  4. Alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng, peci, dan semacamnya;
  5. Organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja Protestan, Syiah, dan lain-lain.

Kelima obyek di atas dapat dikaji dengan pendekatan antropologi, melihat kelima obyek tersebut memiliki unsur budaya dari hasil pikiran dan kreasi manusia. Namun demikian, peneliti juga harus melihat bagaimana kaitan antara agama dan praktik pertanian, kekeluargaan, politik, magi, dan pengobatan secara bersama-sama. Dengan kata lain, agama tidak bisa diposisikan sebagai sistem otonom yang tidak terpengaruh oleh unsur-unsur sosial lainnya. Inilah ciri dari antropologi modern, yaitu holisme, yakni pandangan bahwa praktik-praktik sosial harus diteliti dalam konteks dan secara esensial dilihat sebagai praktik yang berkaitan dengan yang lain dalammasyarakat yang sedang diteliti.[22] Memang, beberapa tahun terakhir para penganut dekonstruksi posmodernisme beramai-ramai melakukan serangan terhadap metode tersebut, tetapi bukan berarti akurasi metode tersebut diragukan. Di samping karena sebagaian antropolog tetap mempertahankannya sebagai keputusan metodologis, menurut penulis konstruksi keagamaan masyarakat juga rentan dipengaruhi oleh beberapa faktor di atas.

Kajian tentang agama (Islam) dan budaya di Indonesia tentunya dapat mengembangkan konsep-konsep di atas. Sebab bukan saja Islam di Indonesia menawarkan suatu kekayaan realitas keagamaan, tetapi lebih dari itu, Islam di Indonesia dapat dijadikan model dalam menghadapi dua hal; Pertama, model untuk menjembatani antara budaya lokal dan Islam, mengingat Indonesia terdiri dari beberapa etnis budaya. Perbedaan-perbedaan manifestasi Islam di setiap wilayah akan memberikan model bagi penjelajahan teori. Kedua, Islam lokal di Indonesia mungkin bisa dijadikan model untuk melihat hubungan antara Islam dan dunia modern. Situasi pluralitas budaya Indonesia yang Islam dapat dijadikan suatu model bagaimana negara Islam menerima ide-ide global.

  1. D. Memahami al-Qur’an dan Hadis dengan Pendekatan Antropologi

Kajian antropologi adalah kajian yang terpusat pada manusia. Selama ini pendekatan antropologi dalam mengkaji agama kerap digunakan dalam mengkaji praktik-praktik keagamaan dalam masyarakat secara empiris, seperti yang dilakukan oleh Clifford Geertz dalam mengkaji secara etnografis masyarakat Jawa, sehingga memunculkan istilah santri, abangan, dan priyayi,[23] Andrew Beatty yang mengkaji agama melalui praktek slametan,[24] dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana pendekatan antropologi jika diaplikasikan dalam studi al-Qur’an dan hadis yang notabene merupakan teks agama (sacred text)?

Al-Qur’an sebagai sebuah teks sakral yang dipercaya sebagai wahyu Tuhan bagi umat muslim dan Hadis sebagai ucapan dan prilaku Muhammad yang dipercaya sebagai Nabi yang menyampaikan wahyu Tuhan bukanlah teks-teks yang lahir dari ruang hampa. Ada kondisi dan situasi yang melingkupi teks-teks tersebut dalam rangka sebuah “dialog” dengan manusia yang menjadi sasaran dari teks tersebut. Dari sini kemudian memahami teks al-Qur’an dan hadis juga meniscayakan akan adanya pemahaman realitas manusia. Sehingga dalam konteks ini pendekatan antropologi menemukan relevansi dan signifikansinya dalam studi al-Qur’an dan hadis.

Pentingnya mempelajari realitas manusia ini juga terlihat dari pesan Al-Qur’an ketika membicarakan konsep-konsep keagamaan. Al-Qur’an seringkali menggunakan “orang” untuk menjelaskan konsep kesalehan. Untuk menjelaskan tentang konsep takwa, misalnya, al-Qur’an menunjuk pada konsep “muttaqien“. Pun juga demikian untuk menjelaskan konsep sabar, misalnya, al-Qur’an menggunakan kata “shabirin”. Merujuk pada pesan al-Qur’an yang demikian itu, sesungguhnya konsep-konsep keagamaan itu termanifestasikan dalam perilaku manusia.[25] Dengan demikian, maka melihat realitas manusia yang ada dalam konteks, di mana al-Qur’an dan hadis disampaikan dengan realitas manusia saat ini, diharapkan akan terlihat pesan  universal agama yang senantiasa kontekstual dalam berbagai ruang dan waktu (salih li kull zaman wa makan).

Sementara dalam memahami hadis, perangkat-perangkat keilmuan yang ada selama ini juga menuntut adanya perkembangan lebih lanjut. Karena, perkembangan manusia yang sedemikian cepat membuat ulum al-hadis sudah tidak lagi memadai dalam menyelesaikan persoalan umat saat ini. Ketika menemukan hadis-hadis yang saling bertentangan, misalnya, para ulama hadis kerap menempuh metode tarjih, nasikh-mansukh, al-jam’u, dan/atau tawaqquf. Sikap tawaqquf ini sebenarnya masih bisa diberikan solusi dengan cara memberikan takwil terhadap hadis tersebut.[26] Di samping itu, melalui pendekatan modern—baik antropologi, sosiologi, maupun psikologi—para ulama tidak hanya akan mendapatkan pemahaman yang kontekstual, tetapi juga akan bisa membedakan secara jelas; mana hadis yang mutlak dan terbebas dari ruang waktu, yakni hadis yang berkaitan dengan akidah dan ibadah, serta mana hadis yang bersifat nisbi, yang terikat oleh ruang dan waktu, yakni hadis yang menyangkut bidang mua’malah, pergaulan hidup, adat-istiadat, yang lebih mencerminkan suatu tradisi atau sunnah yang hidup dalam suatu fase penggal sejarah tertentu.

Selain itu, pendekatan antropologi juga sangat penting dalam meneliti periwayat hadis. Melihat kondisi mikro dan makro seorang periwayat hadis melalui analisa antropologi juga akan sangat membantu dalam menganalisa bagaimana dan mengapa teks-teks hadis tersebut “muncul”  apalagi jika hadis-hadis tersebut tidak mempunyai asbabul wurud yang jelas. Hadis tentang larangan wanita pergi sendirian yang berbunyi; “Tidak diperbolehkan seorang perempuan bepergian jauh-jauh kecuali ada seorang mahram bersamanya (HR. Bukhari dan Muslim), misalnya, kerap dipahami oleh para ulama sebagai larangan bagi perempuan untuk bepergian yang bersifat sunnah atau mubah, tanpa disertai mahram. Sedangkan untuk bepergian yang bersifat wajib, seperti menunaikan ibadah haji mayoritas ulama hadits menyatakan bahwa wajib hukumnya bagi perempuan disertai mahram atau suaminya. Hadis ini muncul tanpa adanya asbabul wurud secara khusus. Sehingga, memahami hadis ini seharusnya juga melihat lebih jauh konteks sosio kultur Arab pada masa itu.

Kondisi geografis bangsa Arab memang tidak terlalu “bersahabat”, sebagian besar wilayahnya adalah padang pasir dan hanya ada beberapa daerah yang cukup air dan subur. Selain itu posisi bangsa Arab juga jauh dari pusat-pusat kerajaan besar yang pada saat itu kerajaan yang berkuasa adalah kerajaan Romawi Bizantium di wilayah bagian timur dan kerajaan Persia di wilayah bagian barat, karena memang kondisi alamnya yang cukup sulit untuk dijangkau.

Kondisi bangsa arab yang sedemikian ini tentunya juga cukup bepengaruh terhadap kondisi masyarakatnya yang notabene seolah berada dalam suasana perang, baik perang menghadapi ganasnya alam, perang memperebutkan sumber air sebagai sumber kehidupan, perang antar suku/kabilah karena memang kelangsungan hidup mereka sangat tergantung pada alam. Hal inilah yang kemudian menyebabkan pembagian peran dalam masyarakat juga sangat tergantung pada kondisi geografis. Laki-laki yang menjalankan peran publik mulai dari mencari nafkah dan mempertahankan keutuhan kabilah, sedangkan perempuan menjalankan peran domestik, seperti mengasuh anak dan mengatur urusan rumah tangga. Selain itu, situasi perang antar suku, di samping melahirkan struktur dan stratifikasi sosial dengan gejala seperti munculnya konsep bangsawan, budak, harem dan Mawali, juga turut mempengaruhinya.

Dari sini, maka bisa dilihat bahwa posisi perempuan memang tidak pernah diperhitungkan pada masa itu. Perempuan adalah salah satu kelompok dalam masyarakat yang hampir tidak pernah menikmati kebebasan hingga kemudian kedatangan Islam di tanah arab yang membawa misi pembebasan.[27] Meskipun kemunculan Muhammad sebagai sang pembawa kebebasan ini membawa perubahan dan angin segar bagi bangsa Arab, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kontinuitas budaya pra-Islam ke dalam Islam masih terjadi dalam berbagai bidang termasuk yang masih terlihat adalah pada struktur keluarga dan ideology patriarkhi.[28] Sebagaimana masyarakat patriarkhi lainnya, perempuan tidak pernah dicantumkan sebagai nama marga (nasab), betapapun hebatnya perempuan itu. Tinggi rendahnya status sosial ditentukan dari pihak bapak (baca: laki-laki). Jika seorang putri bangsawan menikah dengan laki-laki biasa maka status sosial anak-anaknya akan mengikuti bapaknya. Sementara dalam struktur keluarga, peran dominan laki-laki ada dalam berbagai bidang. Laki-laki sebagai kepala rumah tangga mempunyai hak utama seperti menjadi wali yang “berhak” menentukan jodoh anaknya, mempunyai hak poligami, jika terbunuh nilai tebusannya lebih besar, dan lain sebagainya. Hal-hal yang demikian tentu mempunyai pengaruh besar dalam ajaran-ajaran agama yang dibawa Nabi Saw.

Hadis tentang larangan bepergian sendirian bagi seorang perempuan tentu mempunyai relevansinya pada masa itu, jika dilihat dari kondisi geografis hingga sosio kultur bangsa Arab. Dalam kondisi gurun pasir, tidak ada otoritas atau kekuasaan polisi, yang ada adalah keamanan yang dijamin oleh kelompok atau kabilah masing-masing, apalagi kendaraan yang ada pada masa itu adalah onta, keledai, dan juga kuda. Jadi, bisa dibayangkan jika kemudian seorang perempuan pergi sendirian mengarungi lautan pasir dengan mengendarai seekor keledai, tentu saja keamanan dan keselamatannya sangat dikhawatirkan. Apalagi nilai yang berlaku pada masa itu adalah tabu jika seorang perempuan pergi sendirian, sehingga akan mencemarkan citranya jika dia bepergian sendirian.

Kondisi demikian tentu sangat berbeda dengan perempuan pada saat ini, di mana perempuan tidak lagi bermasalah dengan persoalan keamanan dan keselamatannya karena adanya sistem keamanan yang telah menjamin keselamatan bagi perempuan. Sehingga, sah-sah saja jika perempuan pergi sendiri untuk berbagai macam tujuan termasuk dalam menuntut ilmu, bekerja, dan lain sebagainya. Dengan demikian mahram tidak lagi dipahami sebagai person tetapi juga dipahami sebagai sistem keamanan yang menjamin keselamatan bagi kaum perempuan.

Ini merupakan contoh sederhana dari sebuah pendekatan antropologi dalam memahami hadis, yang tentu saja juga tidak dapat dilepaskan dari pendekatan lain, yakni pendekatan historis dan pendekatan sosiologi. Pendekatan antropologi dalam hal ini adalah memperhatikan pola-pola perilaku pada tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan manusia.[29] Di sini, antropologi ingin membuat uraian yang meyakinkan tentang apa yang sesungguhnya terjadi dengan manusia dalam berbagai situasi. Sedangkan pendekatan historis menekankan pada alasan mengapa Nabi Saw bersabda dilihat dari konteks sosio-kultur bahkan politik masyarakat masa itu. Sementara pendekatan sosiologi lebih menyoroti pada posisi manusia yang membawanya kepada suatu prilaku.[30] Dengan memahami teks-teks bagi al-Qur’an maupun hadis melalui berbagai pendekatan, diharapkan muncul sebuah pemahaman baru yang lebih apresiatif terhadap perkembangan zaman tanpa harus kehilangan semangat dan nilai yang terkandung dalam teks-teks tersebut.

  1. E. Penutup

Simpulan yang dapat diambil dari uraian di atas adalah bahwa meskipun agama sebuah entitas yang bukan semata-mata produk manusia, namun bukan berarti tidak bisa didekati dengan antropologi. Sebaliknya, penggunaan pendekatan tersebut sangat relevan guna melihat sejauh mana kandungan nilai, ragam aplikasi, dan perihal lain yang berkelindan dalam unsur-unsur keagamaan itu sendiri. Bahkan, pembacaan sebuah kebudayaan suatu masyarakat tidak akan radikal-komprehensif tanpa melihat sistem agama (keyakinan) yang ada di dalamnya, karena prilaku seseorang dan/atau masyarakat kerap dipengaruhi oleh konstruksi paham keagamaannya. Terlebih jika melihat agama di Indonesia yang secara mayoritas adalah sinkretis, sudah barang tentu pendekatan antropologi adalah sebuah keniscayaan, di samping juga membutuhkan pendekatan-pendekatan lain, seperti sosiologis, historis, psikologis, feminis, dan lain sebagainya.

Wa Allah A’lam bi al-Shawab

BAHAN BACAAN

Abdullah, Amin (dkk.). Metode Penelitian Agama. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2006.

Abdullah, Taufik dan M. Rusli Karim. Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991.

Abdurrahman, Dudung. Sosial-Humaniora dan Sains dalam Studi Keislaman. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2006.

Beatty, Andrew. Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account. United Kingdong: Cambridge University Press, 1999.

Connolly, Peter (ed.). Aneka Pendekatan dalam Studi Agama. Terj. Imam Khoiri. Yogyakarta: LKiS, 2002.

Geertz, Clifford. Islam Observed: Religious Development in Morocco and Indonesia. USA: The University of Chicago Press, 1971.

____________. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.

____________. Abangan Santri Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Terj. Aswab Mahasin dan Bur Rasuanto. Jakarta: Pustaka Jaya, 1982.

Harsoyo. Pengantar Antropologi. Ttt: Bina Cipta, tt.

Honko, Iauri (ed.). Science of Religion: Studies and Methodology. Ttt: Mouton Publishers, 1979.

Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2005.

_____________. Pengantar Antropologi: Pokok-pokok Etnografi. Jakarta: Rineka Cipta, 2005.

Saefudin, Ahmad Fedyani. Antropologi Kontemporer. Jakarta: prenada Media Grup, 2006.

Morris, Brian. Anthropological Studies of Religion: An Introductory Text. Cambridge: Cambridge University Press, 1987.

Mudzar, M. Atho’. Pendekatan Studi Islam: dalam Teori dan Praktik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.

Munawwar, Said Agil Husein al-. “Metode Pemahaman Hadis; Pendekatan Historis, Sosiologis dan Antropologis”, dalam Jurnal Metafora. Jakarta: HMJ TH Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah , 1998.

Olson, Carl (ed.). Theory and Method in the Study of Religion: A Selection of Critical Readings. Ontario: Nelson Thomson Learning, 2003.

Sujono, Pendekatan Studi Agama dalam Kajian Islam, dalam http://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/03/22/antropologi-agama/. Diakses pada tanggal 23 Desember 2010.

Tibi, Bassam. Islam Kebudayaan dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999.

Umar, Nasaruddin. Argumen Kesetaraan Gender Perspektif  al-Qur’an. Jakarta: Paramadina, 1999.

Zahwu, Abu. Al-Hadis wa al-Muhadditsun. Mesir: Syirkah Mishriyyah, tt.


[1]Jagapura merupakan nama dari sebuah kampung pelosok yang secara teritorial berada di perbatasan Cirebon-Indramayu bagian tengah (2 KM. arah selatan dari pangkalan migas Mundu, Indramayu). Secara administratif ia termasuk dalam wilayah kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Saat ini, kampung Jagapura dibagi menjadi empat wilayah; Jagapura Kidul, Jagapura Lor, Jagapura Wetan, dan Jagapura Kulon. Umumnya, keislaman masyarakat Jagapura beraliran sunni yang bertradisikan Nahdlatul Ulama konservatif. Mata pencahariaan utama masyarakatnya adalah sektor pertanian. Kedekatannya dengan Ibu Kota Jakarta sedikit banyak mempengaruhi transformasi perekonomian masyarakat Jagapura secara perlahan ke sektor perdagangan dan buruh, meski belum sampai menandingi sektor pertanian.

[2]Baca, James P. Spradley, Metode Etnografi (Yogyakarta: Tiara wacana, 1997), hlm. 35-76.

[3]Term antropologi merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa Yunani yang berupa; antrhos (manusia) dan logos (ilmu). Sehingga, secara harfiah ia dapat dimaknai dengan ilmu tentang manusia.

[4]Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 2-4.

[5]David N. Gellner, “Pendekatan Antropologis”, dalam Peter Connolly (ed.), Aneka Pendekatan dalam Studi Agama, terj. Imam Khoiri (Yogyakarta: LKiS, 2002), hlm. 15-16.

[6]Telusuri perbedaan corak tersebut dalam  Koentjaraningrat, op. Cit., hlm. 5-6.

[7]Ibid., hlm. 6-7.

[8]Yang termasuk dalam kategori ini adalah; Palaenontologi, yaitu ilmu yang mempelajari deskripsi dari varitas manusia yang telah tidak ada lagi dan makhluk lain yang masih erat hubungannya denga manusia; Evolusi manusia, yaitu ilmu yang mempelajari proses perkembangan dari tipe-tipe manusia duimulai dari makluk-makluk bukan manusia; Antropometri, yaitu studi tentang teknik pengukuran tubuh manusia; Somatologi, yaitu studi tentang varietas manuisa yang masih hidup dan tentangperbedaan sex dan variasi perseorangan; Antropologi rasial, ilmu yang mempelajari penggolongan manusia dalam kelompok-klompok ras, sejarah ras manusia dan hal-hal tentang percampuran ras, dan lain sebagainya. Harsoyo, Pengantar Antropologi (Ttt: Bina Cipta, tt), hlm.15-16.

[9]Yang termasuk dalam kategori ini adalah; Arkeologi Prasejarah, adalah ilmu yang mempelajari perkembangan kebudayaan manusia di masa lampau ketika belum dapat bahan-bahan tertulis. Cara kerja penelitian antropologi ini tidak berdasarkan pada bahan-bahan tertulis, maka penelitiannya menggunakn bahan-bahan peninggalan materiil yang berupa artefak atau fosil-fosil; Antropologi Linguistik; antropologi linguistik ini digunaklan sebagai penelitian terhadap timbulnya bahasa dan bagaimana terjadinya variasi dalam bahasa-bahasa selama jangka waktu selama berabad-abad. Selain itu, juga merupakan bagian dari kajian mengenai bahasa, akan tetapi khususnya yang terkait dengan keaneka ragamannya. Wilayah kajian ini lebih kecil dibandingkan dengan kajian linguistik secara umum, karena antropologi linguistik memang hanya memfokuskan diri pada kaitannya dengan antropologi, bukan pada semua bahasa; Etnologi, adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia dengan mengadakan pendekatan perbandingan dari kebudayaan-kebudayaan secara individual yang terdapat di muka bumi ini. Etnologi meneliti secara teoritis masalah-masalah persamaan dan perbedaan yang ada antara kebudayaan-kebudayaan setelah diadakan perbandingan; Kebudayaan dan Kepribadian, cabang antropologi ini bertujuan untuk mencari penjelasan terhadap kebutuhan, keinginna, perangsang dan implus-implus serta tingkah laku yang beraneka ragam yang dijalankan orang untuk mencapai kepuasan sosial kultural dan sosial-psikologis. Masalah-masalah yang yang dikemukakan oleh antropologi ini adalah sejahuh mana individu dapat melepaskan diri atau keluar dari batas-batas tradisi dan kebiasaan kebudayaannya dan dengan jalan apakah masyarakat itu membentuk kepribadian anggota-anggotanya. Harsoyo, Pengantar Antropologi…, hlm. 19-23, lihat pula, Yayasan Obor Indonesia, Pokok-pokok Antropologi Budaya, terj. Yasan Obor Indonesia, (Jakarta: Yasan Obor Indonesia, 1996), hlm.10, dan Ahmad Fedyani Saefudin, Antropologi Kontemporer (Jakarta: prenada Media Grup, 2006), hlm. 21

[10]Max Muller, sebagaimana dikutip Brian Morris, mengakui bahwa suatu keyakinan terhadap Tuhan merupakan hal yang universal di kalangan manusia dan bersamaan dengan bahasa ia membentuk dasar identitas etnik. Brian Morris, Anthropological Studies of Religion: An Introductory Text (Cambridge: Cambridge University Press, 1987), hlm. 93.

[11]Lihat, Abu Yahya Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahhab bi Syarkh Minhaj al-Thullab (Surabaya: al-Hidayah, tt), juz I, hlm. 102-113. Periksa juga beberapa hadis yang menjadi landasan konstruksi tersebut dalam, Hasan Sulaiman al-Nuri dan Alawi Abbas al-Maliki, Ibanat al-Ahkam: Syarkh Bulugh al-Maram (Beirut: dar al-Fikr, 2004), juz II, hlm. 213-248.

[12]Jenis zakat ini diposisikan sama dengan sektor perdagangan. Sebab, berprofesi sama halnya dengan menjual jasa. Contoh yang sederhana adalah profesi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

[13]M. Atho’ Mudzar, Pendekatan Studi Islam: dalam Teori dan Praktik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 23.

[14]C. Kluckhohn, sebagaimana dikutip Koentjaraningrat, dalam karyanya, Universal Categories of Culture (1953), mengidentifikasi bahwa terdapat tujuh unsur-unsur pembentuk suatu kebudayaan manusia, yaitu; bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencahariaan hidup, sistem religi, dan kesenian. Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi…, hlm. 80-81. Lihat juga kerangka gambar Koentjaraningrat berikut penjelasannya pada halaman 92-94. Baca juga penjelasan Clifford Geertz tentang agama sebagai sebuah sistem kebudayaan dalam, Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), hlm. 87-125.

[15]Dalam hal ini menarik apa yang diungkapkan oleh Ibrahim Moosa ketika memberikan kata pengantar dalam buku Fazlur Rahman, Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism, yakni sebagai berikut:… “Having raised the question of international relations, politics and economics, that does not mean that scholars of religion must become economics and political scientists. However, the study of religion will suffer if its insights do not take coqnizance of how the discources of politics, economics, and culture impact on the performance of religion and vice-verse”. Ebrahem Moosa “Introduction” dalam Fazlur Rahman, Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism, (Oxford:Oneworld Publication, 2000), hlm 28

[16]Carl Olson, “Antropology”, dalam Carl Olson (ed.), Theory and Method in the Study of Religion: A Selection of Critical Readings (Ontario: Nelson Thomson Learning, 2003), hlm. 238.

[17]Sujono, Pendekatan Studi Agama dalam Kajian Islam, dalam http://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/03/22/antropologi-agama/. Diakses pada tanggal 23 Desember 2010.

[18]Karena pada saat manusia melakukan interpretasi terhadap ajaran agama, maka mereka dipengaruhi oleh lingkungan budaya―primordial―yang telah melekat di dalam dirinya.

[19][1]Pendekatan antropologi dalam kajian komparatif Islam di Indonesia dan Maroko yang dilakukan oleh Clifford Geertz, misalnya, membuktikan adanya pengaruh budaya dalam memahami Islam. Di Indonesia Islam menjelma menjadi suatu agama yang sinkretik, sementara di Maroko Islam mempunyai sifat yang agresif dan penuh gairah. Perbedaan manifestasi agama itu menunjukkan betapa realitas agama sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya. Lihat, Clifford Geertz, Islam Observed: Religious Development in Morocco and Indonesia (USA: The University of Chicago Press, 1971).

[20]M. Atho’ Mudzar, op. Cit., hlm. 15.

[21]Ibid., hlm. 60.

[22]David N. Gellner, op. Cit., hlm. 34.

[23]Lihat, Clifford Geertz, Abangan Santri Priyayi dalam Masyarakat Jawa, terj. Aswab Mahasin dan Bur Rasuanto (Jakarta: Pustaka Jaya, 1982).

[24]Lihat, Andrew Beatty, Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account, (United Kingdong: Cambridge University Press, 1999).

[25]Sujono, loc. Cit.

[26]Orang yang pertama kali berbicara mengenai ta’wil al-hadis adalah Imam Syafi’i. Lihat, Abu Zahwu, Al-Hadis wa al-Muhadditsun (Mesir: Syirkah Mishriyyah, tt), hlm 471. Lihat juga, Said Agil Husein al-Munawwar, “Metode Pemahaman Hadis; Pendekatan Historis, Sosiologis dan Antropologis”, dalam Jurnal Metafora (Jakarta: HMJ TH Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah , 1998), hlm 33.

[27]Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif  al-Qur’an (Jakarta: Paramadina, 1999), hlm. 104-107.

[28]Kontinuitas nilai dalam masyarakat merupakan hal yang wajar, karena setiap kelompok masyarakat tidak bisa bebas dari nilai-nilai lokal dan nilai universal. Kalau beberapa institusi keagamaan pra-Islam di dalam Islam diakomodir di dalam Islam, bukan berarti hal ini adalah kelanjutan dari agama-agama selanjutnya tanpa pesan-pesan baru, tetapi konsep universalitas dalam ajaran Islam antara lain dibangun atas nilai-nilai lokal yang boleh jadi bersumber dari agama-agama sebelumnya. Ibid.

[29]Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), hlm 1.

[30]Said Agil Husein Al-Munawwar…, op. Cit, hlm. 34-35.

1 komentar Desember 31, 2010

Perdamaian dalam Perspektif al-Qur’an dan Bible

Pengantar

Sejarah memang banyak mencatat berbagai macam konflik dan perang di kalangan umat manusia, baik konflik antar suku, negara maupun konflik atas nama agama. Berapa banyak nyawa melayang dan dikorbankan karena tujuan-tujuan yang tidak semestinya. Dalam konflik atas nama agama misalnya, tercatat sebuah perang besar yang disebut dengan “the holy war” atau seringkali dikenal dengan perang salib yang masih meninggalkan trauma bagi sebagian besar pengikut agama baik Islam maupun Kristen. hingga saat ini. Selain itu berapa banyak kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia yang juga melibatkan nama agama secara tidak langsung, seperti kekerasan yang terjadi di Bosnia, Palestina, Irlandia, hingga Irak yang membuat ada jarak dan sekat yang cukup lebar antar pemeluk agama, sehingga konsepsi terhadap pemeluk agama lain seringkali dipenuhi dengan berbagai kecurigaan yang pada akhirnya membangunkan kembali konflik atas nama agama.

Kenyataan ini membuat berbagai kalangan mempertanyakan kembali konsep perdamaian yang ada dalam setiap agama. Karena pada dasarnya kelahiran agama di muka bumi ini adalah untuk membuat kedamaian, keteraturan serta menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan dan bukannya justru membuat sekat dan konflik antar sesama manusia. Perdamaian merupakan sebuah keniscayaan bagi umat manusia yang ada di bumi. Tanpa adanya perdamaian tidak akan mungkin tercipta kehidupan yang harmonis.

Sebagai sebuah kitab suci, al-Qur’an dan Bible, menjadi pedoman bagi pemeluknya untuk selalu cinta akan kedamaian. Dalam kedua kitab suci tersebut memuat banyak sekali ayat-ayat yang menyuruh umatnya untuk terus merealisasikan perdamaian di muka bumi. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kedua kitab tersebut juga diungkapkan ayat-ayat tentang peperangan. Persoalan penafsiran terhadap teks-teks keagamaan inilah kemudian yang menjadikan perdamaian seolah menjadi sesuatu yang sulit untuk dijangkau oleh kedua pemeluk agama. Sehingga kedua pemeluk agama sering terlibat dalam perseturuan yang seolah tidak pernah berakhir.

Dalam tulisan ini penulis berusaha akan menjelaskan bagaimana konsep perdamaian dalam perspektif al-Qur’an dan Bible. Sengaja penulis hanya memaparkan konsep perdamaian dalam al-Qur’an sebagai kitab suci bagi umat muslim dan bible sebagai kitab pedoman umat kristiani, karena pertama; kedua pemeluk agama ini sama-sama sering terlibat perseteruan atas nama agama, catatan sejarah perjalanan kedua agama ini telah membuktikan hal ini. Kedua; kedua pemeluk agama Abraham ini merupakan penganut mayoritas  di dunia dan ketiga; data-data diantara kedua agama ini cukup banyak dan sangat mudah untuk diakses.

Perdamaian dalam Perspektif Al-Qur’an

Perdamaian merupakan salah satu ajaran pokok dalam ajaran Islam. Perintah untuk selalu berdamai tidak hanya terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an tetapi juga dicotohkan dalam kehidupan Rosulullah Saw. Sebagaimana diketahui Muhammad adalah sosok yang sangat dikenal dengan kepribadian dan budi pekertinya yang baik. Ada banyak peristiwa bersejarah yang memperlihatkan pribadi Rasulullah sebagai seorang juru damai. Bahkan jauh sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi. Banyak perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Muhammad selama menjalankan misi dakwahnya dimana hal tersebut bertujuan untuk menghindari konflik dan berupaya membangun perdamaian. Mulai dari perjanjian Hudaibiyah, piagam Madinah, Perjanjian dengan delegasi Najran dan masih banyak lagi.

Kata Islam sendiri juga diambil dari kata “salama” yang berarti selamat dan juga “silm dan salaam” (damai) yang secara jelas menegaskan bahwa karakter dasar dari ajaran Islam adalah menyebarkan perdamaian. Beberapa point penting tentang ajaran perdamaian dalam al-Qur’an, diantaranya adalah:

  1. Ajaran tentang perdamaian, larangan perang dan berbuat kekerasan

Diantara ayat-ayat al-Qur’an yang mengajarkan larangan perang dan berbuat kekerasan adalah:

Q.S Al-Maidah : 32

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

Q.S Al-Nisa : 29

Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

  1. Diperbolehkannya upaya untuk mempertahankan diri

Q.S Al-Hajj : 39 (22)

(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata:” Tuhan kami hanyalah Allah “. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

  1. Cara mengakhiri konflik

Q.S Yunus : 25

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.

Q.S Al-Hujurat ( 49): 9

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

Q.S Al-Anfal : 61

Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.

Q.S Mumtahanah : 7

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

  1. Pemberian maaf dan rekonsiliasi

Q.S Yunus: 107

Katakanlah:” Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu untuk kecelakaan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu “.

Q.S Ali Imron 3: 103

Dan janganlah kamu menyerupai orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

Q.S al-Baqarah : 263

Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir

  1. Tuhan sang Maha adil

QS An-Nisa: 40

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).

Q.S 6 : 160

Katakanlah:” Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik “.

  1. Keadilan

Q.S Al-An’am : 151

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sehingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.

QS Al-Maidah:9

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka.

Q.S Annisa : 135

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

7. Rahmat

Dengan Nama Allah yang Maha pengasih lagi maha penyayang (ada di setiap awal surat)

QS Al-Baqarah : 218

218. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Q.S Al-Baqarah : 83

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Q.S Al-An’am : 54

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun alaikum [476]. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang [477], (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan [478], kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

8. Cara menunjukkan Kasih sayang

Q.S Al-insan: 8-9

(8)Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.(9) Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

QS. Al-isra: 26,28

(26)Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.(28) Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas [851].

[851] Maksudnya: apabila kamu tidak dapat melaksanakan perintah Allah seperti yang tersebut dalam ayat 26, maka katakanlah kepada mereka perkataan yang baik agar mereka tidak kecewa lantaran mereka belum mendapat bantuan dari kamu. Dalam pada itu kamu berusaha untuk mendapat rezki (rahmat) dari Tuhanmu, sehingga kamu dapat memberikan kepada mereka hak-hak mereka.

QS. Al-Baqarah : 271

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan

Q.S An-Nur: 22

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [1033],

9. Ajaran tentang toleransi dan saling menghargai

Q.S al-Hujurat:13

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Q.S Luqman: 18

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Q.S al-Furqan:63

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Q.S Al-Hujurat:11

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri [1410] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman [1411] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Q.S Al-Qashash: 55

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”.

Q.S Al-Imron : 159

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu [246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

[246] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

10. Kebebasan beragama dan dialog antar agama

Q.S Al-Baqarah : 256

“Tidak ada paksaan utk agama itu . Sesungguhnya telah jelas jalan yg benar daripada jalan yg sesat..”

Q.S Yunus: 99-100

(99)Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?(100) Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

11. Muslim, Kristen dan Yahudi

Q.S Al-Maaidah : 14

Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan.

Q.S Al-Maidah: 82-83

(82)Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.

(83)Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad SAW).

Q.S Al-Ankabut: 46

Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka [1155], dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”.

[1155] Yang dimaksud dengan “orang-orang yang zalim” ialah: orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.

12. Hubungan Antar Agama

Q.S Al-kafirun:1-6

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

Q.S Az-Zukhruf: 88-89

88. dan (Allah mengetabui) ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman”.

89. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).

13. Dialog antar agama

Q.S An-Nahl: 125

125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah [845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

[845] Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil

Q.S Ibrahim: 24

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik [786] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, [786] Termasuk dalam “kalimat yang baik” ialah kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. Kalimat tauhid seperti “laa ilaa ha illallaah”.

Dalam ungkapan teks agama, perdamaian sering dibahaskan dengan al-aman, Dalam terminologi al-amān, adalah sebuah kesepakatan untuk menghentikan peperangan dan pembunuhan dengan pihak musuh. Selain al-aman, masih ada beberapa istilah lain yang juga merujuk pada perdamaian yakni al-sulh, al-hudnah, al-mu’ahadah dan aqd al-zimmah. Ayat-ayat diatas adalah ayat-ayat yang menunjukkan ajaran perdamaian. Meski banyak diantara ayat-ayat diatas tidak secara eksplisit menyatakan perintah perdamaian akan tetapi secara tersirat ayat tersebut mengajak umat muslim untuk membuat perdamaian. Misalnya ayat-ayat tentang berbuat adil, larangan untuk berbuat kekerasan[1], serta ayat-ayat tentang hubungan antar agama[2] serta universalitas agama.

Melihat teks-teks yang ada dalam al-Qur’an tersebut, maka akan terlihat wajah Islam yang damai dan menjadi penebar kedamaian. Dalam ayat tentang universalitas agama misalnya, terlihat bahwasanya Islam mengakui adanya pluralitas[3]. Islam juga mengajarkan umatnya untuk tidak memaksakan kehendak dalam beragama[4]. Bahkan Islam juga mengajarkan bagaimana cara berhubungan dengan pemeluk agama lain. Ungkapan salam yang selalu diucapkan oleh kaum muslimin tidak hanya sekedar ucapan salam tetapi lebih dari itu, yakni merupakan perintah untuk selalu menebarkan perdamaian dimanapun berada. Namun demikian dalam tataran praktis wajah damai Islam yang merupakan salah ajaran yang paling penting dalam agama Islam ini sering dinodai oleh praktik-praktik kekerasan dan pemaksaan oleh beberapa oknum dengan mengatasnamakan agama dan dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar. Sebuah konsep dakwah yang diwajibkan bagi setiap umat muslim. Prilaku-prilaku demikian ini membuat wajah Islam dinodai dan dipersepsikan sebagai agama kekerasan. Sebagaimana yang ditulis oleh Max Weber bahwa Islam adalah agama yang memiliki etos keprajuritan, tetapi tidak memiliki etos kewiraswastaan. Penyebaran Islam bahkan sering difahami dengan gambaran seseorang yang “memegang al-Quran di tangan kanan dan pedang di tangan kirinya”. Pendapat Max Weber ini memang tidak “sepenuhnya salah” ketika melihat prilaku radikalisme agama di kalangan kaum muslimin sehingga berwujud pada munculnya kekerasan serta pemaksaan dalam beragama. Namun pendapat ini jelas merupakan pendapat yang sangat tidak diterima ketika melihat secara menyeluruh ajaran Islam serta ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur’an. Artinya jelas bukan ajaran Islam yang memiliki etos keprajuritan karena sesungguhnya Islam adalah agama perdamaian.

Dalam mengajarkan perdamaian, ayat-ayat di dalam al-Qur’an tidak banyak menyebut kata perdamaian secara eksplisit, akan tetapi banyak sekali ayat-ayat yang mengajarkan untuk senantiasa berbuat baik dan menekankan adanya keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama manusia dimana jika ajaran-ajaran ini dilakukan dengan baik tentu saja akan berimplikasi pada perdamaian di dunia. Perintah atau anjuran berbuat baik kepada sesama adalah modal awal membangun perdamaian. Perbuatan baik kepada sesama adalah pintu utama dalam mewujudkan perdamaian. Perdamaian tidak akan tercipta dengan kezaliman karena akan selalu muncul perlawanan dari orang yang dizalimi. Ibarat kata pepatah, semut pun akan marah jika diinjak. Oleh karena itu, perintah Islam kepada umatnya agar beramal saleh merupakan fondasi bagi terwujudnya perdamaian dunia.

Dalam perintah dalam shalat misalnya, sebagai bentuk ibadah tertinggi dalam Islam. Shalat dimulai dengan takbir, yaitu menjunjung tinggi Asma Allah menhunjam erat ke dalam jiwa sang pelaku. Maka shalat adalah bentuk dzikir (mengingat Allah) tertinggi, yang dengannya seorang Muslim merasakan kedamaian bathin yang tak terhingga. Namun kedamaian jiwa tidak berakhir, tetapi harus diteruskan dengan kedamaian yang lebih luas, yaitu kedamaian sosial. Untuk itu, shalat tak akan menjadi valid ketika tidak diakhiri dengan komitmen menyebarkan perdamaian kepada sesama. Salam yang diucapkan di akhir shalat adalah bentuk komitmen tertinggi dari seorang Muslim dalam mewujudkan perdamaian sosial.

Demikianlah konsep damai yang ada dalam al-Qur’an. Semua ajaran, perintah yang ada dalam ajaran Islam sebenarnya berujung pada terciptanya perdamaian dan keadilan di dunia. Kedatangan Islam di tengah bangsa arab yang pada masa itu jelas mempunyai misi perdamaian. Bangsa Arab yang saat itu terpecah belah kedalam suku-suku dan suka berperang menjadi sebuah satu komunitas dibawah konsep keumatan. Sehingga semua manusia disamakan kedudukannya kecuali atas dasar iman. Disinilah kemudian kedatangan Islam membawa pergeseran yang cukup fundamental dalam system sosial bangsa Arab dari yang awalnya terpusat pada pertalian atas dasar kekeluargaan menjadi pertalian atas dasar keimanan dibawah konsep ummat[5].

Muhammad Abduh dalam al-Islam wa al-Nashraniyyah: bayn al-’Ilm wa al-Madaniyyah juga menulis bahwa ajaran perdamaian Islam mewujud dalam struktur kekuasaan. Sebab dalam sejarah kekuasaan Islam, utamanya pada dinasti Umayyah dan Abbasiyah, ditemukan sejumlah orang-orang Yahudi dan Kristen yang menjadi bendahara, sekretaris, tim dokter, bahkan penasehat raja. Ini tidak lain disemangati, bahwa dalam sistem kekuasaan sekalipun, perdamaian harus diutamakan, karena hampir tidak mungkin membangun tatanan masyarakat yang maju, adil, dan sejahtera tanpa basis perdamaian yang kuat[6]. Ini merupakan fakta sejarah Islam bagaimana sikap tasāmuh (toleran) dan kasih sayang kaum muslimin terhadap pemeluk agama lain, baik yang tergolong ke dalam ahl al-Kitab maupun kaum mushrik, bahkan terhadap seluruh makhluk, Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan dan dan kedamaian[7].

Perdamaian dalam Perspektif Bible

Pesan damai sangat terasa bagi umat kristiani, Yesus sebagai tokoh sentral dalam agama Kristen senantiasa mengajarkan umatnya untuk cinta damai. Yesus tidak hanya dikenal sebagi juru selamat tetapi juga diberi gelar sebagai Raja damai karena Dia adalah seorang yang anti terhadap kekerasan. Banyak cerita yang menggambarkan betapa Yesus adalah sang juru damai, bahkan di dalam bible dapat dilihat baha tidak satupun ayat yang mengindikasikan bahwa Yesus pernah mengajak orang untuk berperang. Diantara ajaran Yesus tentang perdamaian adalah Yesus mengajarkan untuk melawan kekerasan tanpa kekerasan. Ajaran melawan kekerasan tanpa kekerasan ini bukan berarti mengajarkan kepasrahan atau tanpa perlawanan, tetapi juga mengajarkan jalan ketiga misalnya dengan menggunakan kekuatan moral daripada kekuatan fisik, mencari alternatif lain daripada menggunakan kekerasan, tidak membalas dendam, dan lain sebagainya[8]. Adapun ayat-ayat yang mengajarkan perdamaian dalam bible diantaranya adalah:

  1. Perdamaian, larangan perang dan berbuat kekerasan

Bible kitab keluaran 20:13

Jangan Membunuh

2. Mengakhiri Konflik

Yesaya 14:7

(7) Segenap bumi sudah aman dan tenteram; orang bergembira dengan sorak-sorai.

Matius 5: 9

(9) Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Yesaya 2 : 4

Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.

Yesaya 32 : 17

Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

3. Pemberian maaf dan rekonsiliasi

Daniel 9: 9

Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

Yohanes 4:16

Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.

Imamat 19:17-18

(18) Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. (19) Kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan.

memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir

Lukas 6 : 27

Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;

Matius 6: 12

(12) dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

Matius 18 : 21-22

(21) Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (22) Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Matius 5 : 38-39

(38) Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. (39) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Lukas 6:35

(35) Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

Q.S 41:34

Lukas 6:37

(37) Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

4. Tuhan Sang Maha Adil

Ulangan 32 : 4

Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.

Mazmur 116: 5-6

(5) TUHAN adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang. 6) TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku.

5. Keadilan

Mazmur 146:8

8) TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.

Amtsal 14 : 34

(34) Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.

Amtsal 15: 6

6) Di rumah orang benar ada banyak harta benda, tetapi penghasilan orang fasik membawa kerusakan.

Imamat 19: 15

(15) Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.

Matius 7:12

(12) Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Samuel 26:23

(23) TUHAN akan membalas kebenaran dan kesetiaan setiap orang, sebab TUHAN menyerahkan engkau pada hari ini ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah orang yang diurapi TUHAN.

Matius 5:6

(6) Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

  1. Rahmat/Kasih sayang

Lukas 6 :36

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

Matius 5 : 7

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Ulangan 4 : 31

(31) Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu.

1 Korintus 13: 4-6

4.Kasih itu sabar. Kasih tahu tidak iri atau cemburu. Cinta itu tidak maju dan self-tegas, tidak sombong dan sombong. 5. Dia tidak berperilaku unbecomingly, atau berusaha untuk memperluaskan dirinya sendiri, maupun kobaran api di kemarahan bergairah, atau merenung atas kesalahan. 6. Dia tidak menemukan kesenangan dalam ketidakadilan yang dilakukan kepada orang lain, tetapi dengan sukacita sisi dengan kebenaran.

Amtsal 19:17

Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.

Mazmur 146: 1, 7-9

(1)               Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! (7) yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, (8) TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. (9) TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.

7. Cara menunjukkan kasih sayang

Galatia 5: 13-14

5:13 Sebab, saudara-saudara, kamu telah dipanggil kepada kebebasan, hanya [menggunakan] bukan kebebasan untuk sebuah kesempatan untuk daging, tetapi oleh kasih melayani satu sama lain. 5:14 Untuk semua hukum itu terpenuhi dalam satu kata, [bahkan] di ini; Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Imamat 25:35

Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu.

Keluaran 23 : 9

Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.

Imamat 19:33-34

19:33 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. 19:34 Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.

Ayub 31:31-32

31:31 Jikalau orang-orang di kemahku mengatakan: Siapa yang tidak kenyang dengan lauknya? 31:32 –malah orang asingpun tidak pernah bermalam di luar, pintuku kubuka bagi musafir!

Matius 25: 35-36,40

(35) Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; (36) ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. (40) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

8. Ajaran tentang toleransi dan saling menghargai

Amtsal 11:12

Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri.

Amtsal 15:4

Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati.

Lukas 6 : 37

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

Lukas 6 : 41-42

6:41Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?6:42Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

9. Kebebasan beragama dan dialog antar agama

Apokrifa, Sirakh 15:14

Dia sendiri membuat manusia dari awal, dan meninggalkannya di tangan nasihatnya;

10. Dialog antar agama

Amtsal 16:20-21

(20) Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN. (21) Orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan.

Amtsal 15: 28

(28) Hati orang benar menimbang-nimbang jawabannya, tetapi mulut orang fasik mencurahkan hal-hal yang jahat.

Lukas 6 : 43-44

43) Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. (44) Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.

Lukas 6 : 45

(45) Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”

Ayat-ayat yang tersebut diatas sangat jelas tertulis bagaimana perdamaian juga menjadi tujuan utama dari ajaran Yesus. Bible berbicara tentang keadilan, pentingnya pemberian maaf serta mengasihi sekalipun terhadap musuh dan lain sebagainya. Yesus sebagai pembawa pesan damai juga memberikan teladan kepada umatnya bagaimana konsep tentang perdamaian itu dipraktekkan dalam kehidupan. Satu-satunya cerita yang menceritakan bahwa Yesus marah adalah ketika Yesus mengambil cambuk dari tali dan mengusir pedagang-pedagang dan penukar uang di halaman Bait Allah[9]. Tindakan ini tentu saja sama sekali tidak membahayakan siapapun kecuali nyawanya sendiri, karena semenjak peristiwa tersebut para pejabat Yahudi sepakat untuk menghukum mati Yesus. Masih banyak lagi cerita-cerita tentang Yesus dalam mengajarkan perdamaian dimana hal tersebut membuat umat kristiani terinspirasi untuk senantiasa membawa membawa misi perdamaian di muka bumi.

Damai dalam pandangan agama kristiani merujuk pada kata eirene dalam bahasa Yunani atau syallom di dalam bahasa Ibrani yang kemudian diterjemahkan menjadi damai sejahtera. Damai tidak hanya berarti bahwa tidak ada perang, pertikaian atau kekacauan, tetapi suasana hati dan lingkungan masyarakat di mana hubungan manusia dengan sesama, lingkungan dan diri sendiri tenang, bahagia dan terbuka kepada sang pemberi damai.

Upaya membangun perdamaian sebagaimana pesan bible ini juga menginspirasi gereja katolik, dimana dalam peribadatan dilengakpi dengan saling menyampaikan salam damai. Pesan damai dalam bible juga menginspirasikan pacem in terris dalam salah satu ensiklik[10]. Pacem in Terris berarti damai di bumi. Ensiklik ini ditulis oleh Paus Yohanes XXIII dan diterbitkan pada tanggal 11 April 1963 yang hingga saat ini masih diperingati dan masih cukup relevan. Didalam Pacem in Terris disebutkan bahwa perdamaian bertumpu pada empat tiang penyangga, yakni kebenaran, keadilan, cinta dan kemerdekaan.

Kebenaran merupakan tiang pertama, karena temasuk di dalamnya pengakuan bahwa manusia itu bukan merupakan penentu dirinya sendiri melainkan bahwa dia dipanggil untuk memenuhi kehendak Tuhan, pencipta segalanya, yang merupakan Sang kebenaran mutlak. Dalam hubungan manusiawi, kebenaran itu mengandaikan ketulusan, yang merupakan syarat untuk saling percaya dan dialog menuju perdamaian.

Perdamaian tidak dapat terjadi tanpa keadilan, hormat kepada martabat dan hak perorangan. Tanpa keadilan baik dalam hubungan pribadi, sosial maupun internasional akan menyebabkan kekacauan dan kekacauan akan menyebabkan kekerasan di bumi. Keadilan juga harus dilengkapi dengan cinta. Dengan cinta, maka sesama manusia akan menjadi saudara, sehingga akan terjadi hubungan untuk saling berbagi baik dalam kesengsaraan maupun kegembiraan. Cinta juga akan membuat manusia untuk sanggup mengampuni dan memaafkan karena pengampunan adalah salah satu faktor yang penting dalam memulihkan perdamaian setelah pecah pertikaian.

Baik kebenaran, keadilan maupun cinta itu mengandaikan adalanya kemerdekaan sebagai salah satu sifat hakiki yang dimiliki dengan manusia. Kemerdekaan akan memungkinkan manusia untuk bertindak berdasarkan akalnya dan memikul tanggungjawab atas segala tindakannya sendiri, karena manusia secara pribadi akan bertanggung jawab dihadapan Tuhan atas segala tindakannya[11].

Dari sini sangat terlihat bagaimana perdamaian yang tertulis dalam teks bible itu kemudian coba dikembangkan oleh umat kristiani (katolik) dalam Pacem Terris, sehingga apa diajarkan oleh Yesus di dalam bible dapat dilaksanaan oleh para jemaat.

Kesimpulan

Perdamaian tidak hanya bermakna damai dalam arti tidak dalam kondisi peperangan, tetapi perdamaian juga mencakup makna yang lebih luas, yakni suatu kondisi dimana sudah tidak ada lagi kekerasan struktural atau terciptanya keadilan sosial. Perdamaian dalam konsep ini meliputi semua aspek tentang masyarakat yang baik, seperti: terpenuhinya hak asasi yang bersifat universal, kesejahteraan ekonomi, keseimbangan ekologi dan nilai-nilai pokok lainnya. Berdasarkan konsep ini, perdamaian bukan hanya merupakan masalah pengendalian dan pengurangan tercapainya semua aspek tersebut, namun perdamaian merupakan konsep yang cukup luas dan pencapaiannya membutuhkan proses yang panjang. Dari sini dapat dilihat bahwa baik di dalam al-Qur’an maupun dalam bible, perdamaian juga mencakup makna yang luas ini. Disana terdapat konsep keadilan, kasih sayang, hubungan antar agama hingga ayat-ayat yang menjelaskan pada tataran praktis bagaimana cara mengakhiri konflik, pentingnya pemberian maaf dan lain sebagainya.

Perdamaian dalam bahasa al-Qur’an disebut salam dan dalam bahasa bible disebut syalom, merupakan inti ajaran dari kedua agama baik Islam maupun Kristen. kedua kitab tersebut sama-sama mengajarkan bagaimana membangun perdamaian di muka bumi ini, meski dalam prakteknya banyak sekali terjadi konflik yang menyebabkan peperangan dan munculnya banyak kekerasan atas nama agama.  Karena meski di dalam al-Qur’an dan bible terdapat banyak ayat-ayat yang mengajarkan perdamaian tetapi disana juga terdapat ayat-ayat tentang peperangan yang seringkali dijadikan landasan untuk melakukan peperangan dan kekerasan. Didalam al-Qur’an misalnya ayat-ayat tentang jihad seringkali dimaknai sebagai ayat perang, sehingga perintah untuk berjihad ditafsirkan sama dengan perintah untuk berperang. Padahal jihad mempunyai makna yang sangat luas dan tidak hanya bisa dimaknai dengan perang. Disinilah sebenarnya yang menjadi persoalan besar di kalangan umat baik Islam maupun Kristen. Persoalan penafsiran terhadap ayat-ayat yang terdapat di dalam al-Qur’an dan bible, sehingga memunculkan “persoalan” dalam tataran praktis di kalangan umatnya, padahal al-Qur’an dan bible sendiri justru malah memperingatkan umatnya untuk tidak saling membunuh dan berperang. Peperangan hanya diperbolehkan jika dalam kondisi untuk mempertahankan diri.

Disini sengaja penulis tidak berupaya untuk membuat komparasi diantara keduanya dan hanya sekedar memaparkan bagaimana sebenarnya konsep perdamaian itu dalam perspektif al-Qur’an dan Bible, karena pada dasarnya di dalam kedua kitab tersebut banyak sekali ayat-ayat yang terkait dengan perdamaian, sehingga dapat dikatakan bahwa kedua ajaran agama tersebut sama-sama mengajarkan dan mengajak umatnya untuk senantiasa membuat perdamaian di muka bumi. Sang pembawa damai (Muhammad dan Yesus) juga sama-sama memberikan teladan bagaimana perdamaian dapat dicapai meski keduanya sama-sama harus mengalami berbagai pengalaman pahit untuk mewujudkan itu.

Upaya perdamaian dunia hendaknya memang dilakukan oleh berbagai pihak, baik agamawan, cendekiawan, negarawan hingga masyarakat secara luas. Disini agamawan mempunyai peran yang cukup penting dan menjadi ujung tombak dari terselesaikannya  konflik atas nama agama. Hal ini karena konflik-konflik atas nama agama menjadi isu yang cukup rawan dalam masyarakat. Untuk itu penting kiranya adanya berbagai upaya seperti dialog antar agama sehingga perdamaian yang diimpikan dapat betul-betul terwujud.


[1] QS Adz-Dzariyat [51]: 56

[2] QS Al-Kafirun 1-6

[3] QS al-Hujurat [49]: 13

[4] QS Al-Baqarah 256

[5] Harold Coward and Gordon S Smith (ed.), Religion and Peacebuilding, (USA : State University of NewYork, 2004), hlm 130-131

[6] Ian Suherlan, Menegakkan Perdamaian dan Keadilan, Buletin No. 185, http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A4473_0_3.

[7] Hermanto Harun, Islam dan Perdamaian dalam http://ibnuharun.multiply.com/journal/item/12

[8] Muhaimin AG (ed.), Damai di dunia Damai untuk Semua Perspektif berbagai Agama, (Jakarta : Proyek Peningkatan Pengkajian Hidup Umat Beragama, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Departemen Agama RI, 2004), hlm 130-147

[9] Yohanes 2 : 13-25

[10] Istilah ensilik secara etimologis berasal dari bahasa Yunani egkyklios, kyklos yang berarti edaran. Pada dasarnya itu adalah surat edaran. Sekarang ini istilah itu dipergunakan didalam kalangan gereja katolik untuk menunjuk pada surat-surat Paus yang disampaikan kepada umat katolik.

[11] Muhaimin AG (ed.), Op.Cit, hlm 166-167

Add a comment Desember 27, 2010

Quo Vadis Studi Hadis ? (Merefleksikan Perkembangan dan Masa depan Studi Hadis)

Pengantar

Tidak dapat diragukan lagi bahwa hadis mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kajian Islam. Sebagai sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an, hadis menjadi rujukan dari berbagai problem sosial keagamaan yang dihadapi oleh umat muslim karena hadis tidak hanya sebagai bayan dan tafsir dari al-Qur’an tetapi juga mencakup semua kegiatan hidup Nabi Saw yang umum dan luas meliputi semua informasi, bahkan pesan, kesan dan sifat yang semuanya bersumber dari Nabi.

Meskipun diyakini sebagai sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an, hadis mempunyai problem yang cukup rumit terkait dengan proses kodifikasinya yang memakan waktu cukup panjang yakni setelah hampir seratus tahun tinggal dalam hafalan para sahabat dan tabi’in yang banyak berpindah-pindah dari hafalan seorang guru kepada hafalan  muridnya. Sehingga setelah penulisan dan pembukuan hadis itu berkembang dengan pesat muncul berbagai persoalan apakah hadis yang dituliskan dan dibukukan itu benar-benar hafalan yang berasal dari Nabi, atau merupakan hafalan yang keliru dan sengaja dibuat-buat untuk maksud tertentu? Disamping itu juga timbul pertanyaan apakah hafalan itu redaksinya persis seperti yang diucapkan Nabi atau hanya maksud dan maknanya saja? kalau itu riwayah bil makna, apakah benar maksudnya sama seperti yang dimaksud oleh Nabi?dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul dan memerlukan berbagai penelitian lebih lanjut untuk melihat otentisitas hadis sehingga memunculkan ilmu hadis dengan berbagai cabangnya[1].

Dalam ilmu-ilmu tersebut, para ahli hadis menyusun kriteria para perawi hadis yang dapat dipercaya dalam meriwayatkan hadis, mulai dari ketentuan akan adanya persambungan dan urutan pertalian hadis dari rawi sampai kepada Nabi Saw, hingga meneliti cara dan waktu dalam meriwayatkan hadis bahkan juga kepribadian para perawi yang dapat menghalangi dan mengurangi anggapan kecurangan dan kebohongan dalam membawakan hadis. Selain ilmu yang terkait dengan sanad, masih ada beberapa cabang ilmu lagi yang dikembangkan oleh para ahli hadis meski masih belum sempurna[2].

Meski berbagai perangkat keilmuan hadis sudah dirintis oleh para ulama hadis, namun dalam perkembangannya keilmuan hadis seolah berjalan ditempat (stagnan). Hal ini sangat berbeda dengan perangkat keilmuan dalam studi Islam yang lain seperti studi al-Qur’an  yang terus berkembang dengan cukup pesat. Kemandegan perkembangan keilmuan hadis ini menjadi keprihatinan banyak pihak mengingat pentingnya ilmu hadis dalam kerangka studi Islam secara umum. Dalam makalah ini, penulis akan berusaha merefleksikan dan memaparkan problem-problem ilmu hadis di dalam ranah Islamic studies dan mencoba untuk menawarkan solusi untuk perkembangan keilmuan hadis kedepan.

Perkembangan Studi Hadis

Sebagaimana yang telah penulis ungkapkan diatas, dalam sejarahnya hadis memang terlambat untuk dibukukan. Para ahli sejarah mencatat, hadis baru seabad lebih kemudian dibukukan. Selama itulah hadis bertebaran di masyarakat Islam dan umumnya dilestarikan hanya dalam bentuk hafalan saja. Setidaknya dalam proses historiografinya, hadis mengalami beberapa periode, dari periode keterpeliharaan dalam hafalan hingga periode dibukukannya hadis tersebut (pentadwinan). Pertama adalah periode keterpeliharaan hadis dalam hafalan yang berlangsung pada abad I hijriyah. Kedua, periode pentadwinan hadis, yang masih bercampur antara hadis dengan fatwa sahabat dan tabi’in yang berlangsung pada abad ke 2 hijriyah. Ketiga, periode pentadwinan dengan memisahkan hadis dari fatwa sahabat dan tabi’in, berlangsung sejak abad ke 3 hijriyah. Keempat periode seleksi keshahihan hadis dan kelima periode pentadwinan hadis tahdzib dengan sistematika penggabungan dan penyarahan yang berlangsung semenjak abad ke 4 hijriyah[3].

Pada masa khalifah Umar bin Khattab sebenarnya sudah terpikir untuk membukukan hadis, tetapi setelah sebulan beristikharah iapun membatalkan niatnya dengan alasan kekhawatiran akan bercampurnya al-Qur’an dengan hadis[4]. Kemudian pada masa tabi’in banyak muncul hadis-hadis palsu dimana awal kemunculannya dikaitkan dengan peristiwa politik yang sering disebut sebagai fitnatul kubro yang diawali dengan terbunuhnya khalifah Ustman bin Affan, sehingga berimplikasi pada perpecahan umat Islam menjadi beberapa golongan, seperti khawarij, syi’ah, murji’ah dan lain sebagainya. Dalan situasi yang cukup “rumit” ini, setiap golongan menggunakan dalil-dalil yang dinisbatkan kepada Nabi Saw untuk mendukung kelompoknya. Kondisi inilah yang menyebabkan kebutuhan akan kodifikasi dan menyeleksi hadis semakin dirasakan, karena jika tidak segera diambil tindakan kodifikasi hadis akan semakin banyak hadis palsu bercampur dengan hadis asli.[5]

Berbeda dengan kodifikasi al-Qur’an, dimana para sahabat tidak menemukan banyak kendala dalam pengerjaannya, karena tugas “panitia” kodifikasi hanya mengumpulkan naskah-naskah al-Qur’an yang sudah ada di tangan para sahabat untuk disesuaikan dengan hafalan para sahabat lainnya yang secara mutawathir mereka terima dari Nabi Saw dan secara ilmiyah dapat dipastikan sebagai ayat-ayat al-Qur’an. Sementara dalam kodifikasi hadis banyak menemui berbagai macam kendala dan kerumitan terkait dengan hadis yang lebih banyak terpelihara dalam ingatan daripada dalam catatan. Apalagi hadis dalam ingatan para sahabat ini telah tersebar secara luas ke berbagai daerah Islam yang dikunjungi oleh para sahabat nabi. Rentang waktu yang cukup lama serta munculnya perbedaan misi politik serta madzhab pada masa itu juga menambah sulitnya “proyek” kodifikasi ini karena untuk menghimpun hadis-hadis yang cukup banyak tersebut tentunya dibutuhkan ketelitian yang cukup tinggi baik dalam kerangka ontologis[6], epistemologis[7] maupun aksiologis[8], sehingga hadis benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiyah[9].

Kodifikasi hadis secara resmi pertama kali digagas oleh khalifah Umat ibn Abd Aziz memalui surat edarannya kepada para gubernur di daerah agar menunjuk ulama ditempat masing-masing untuk menghimpun hadis-hadis, dan salah satu gubernur yang cukup tanggap dengan perintah khalifah adalah gubernur Madinah Abu Bakar Muhammad ibn Amr ibn Hazm yang pelaksanaanya ditangani oleh Ibn Syihab al-Zuhri. Pada abad ini juga para ulama mulai menyusun kitab hadis dan meletakkan pula landasan epistemologisnya. Sejak dikeluarnya perintah tersebut, kegiatan kodifikasi ini terus berlanjut sampai abad ke 4 dan ke 5 Hijriyah dan mencapai puncaknya pada abad ke 3 H, karena pada abad ini banyak muncul para pengumpul hadis seperti imam Ahmad bin Hanbal, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibn Majah, al-Damiri, dan lain sebagainya.

Pada abad-abad tersebut perkembangan ilmu hadis cukup dinamis, disamping munculnya karya monumental di abad ke-3 H yang berupa kitab hadis yang dikenal dengan al-Kutub al-Sittah juga banyak bermunculan kitab-kitab yang menghimpun hadis-hadis dengan sistematika dan metode pemilahan hadis yang berbeda-beda[10]. Selain itu juga ada juga ulama yang melakukan kritik terhadap hadis-hadis yang dihimpun oleh ulama sebelumnya, baik kritik matan maupun kritik sanad, seperti kritik matan yang dilakukan oleh ulama mu’tazilah seperti al-Nazhzham dan kritik sanad yang dilakukan oleh al-Daruquthni terhadap Shahihayn[11]. Kemudian muncul lagi kalangan ulama kemudian yang merupakan anti tesis terhadap kritik-kritik tersebut, sehingga membuat keilmuan hadis semakin berkembang.

Dalam menyusun kitab hadis, para ulama tidak hanya mendasarkan pada aspek-aspek ontologi[12] tetapi juga meliputi aspek epitemologi yang berupa kritik sanad dan matan serta aspek aksiologi yang berupa tujuan penyusunannya baik secara praktis maupun teoritis. Penyusunan kitab-kitab hadis berdasarkan aspek-aspek tersebut disebut ilmu riwayah dan ilmu dirayah. Ilmu riwayah menekankan pada ketepatan menghimpun segala yang dinisbahkan kepada Nabi Saw, sedangkan ilmu dirayah lebih menekankan pada faktor diterima dan tidaknya sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi tersebut.[13]Kedua ilmu tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam menentukan status hadis. Tetapi dengan dibukukannya hadis Nabi SAW dan selanjutnya dijadikan rujukan oleh ulama yang datang kemudian, maka pada periode selanjutnya ilmu hadis riwayah tidak lagi banyak berkembang. Berbeda halnya dengan ilmu hadis dirayah yang senantiasa berkembang dan melahirkan berbagai cabang ilmu hadis. Oleh karena itu, pada umumnya yang dibicarakan oleh ulama hadis dalam kitab-kitab ulumul hadis yang mereka susun adalah ilmu hadis dirayah[14].

Dalam perspektif keilmuan hadis, ada tiga hal penting yang perlu mendapat perhatian, yaitu, sanad hadis, matan hadis dan kemunculan kritik hadis, dimana ketiganya berkembang menjadi cabang-cabang dalam ilmu hadis yang disusun para ulama masa itu dalam kitab-kitabnya diantaranya adalah: pertama ilmu yang berkaitan dengan sanad yakni ilmu rijalil hadis[15], ilmu jarh wa ta’dil[16], kedua ilmu yang berkaitan dengan matan hadis yakni ilmu mukhtalaf al-Hadis[17], ilmu ilalul hadis[18], ilmu gharibul hadis[19], ilmu nasikh dan mansukh[20] dan lain sebagainya.

Demikian dinamisnya para ulama hadis masa itu sehingga karya-karya dalam bidang hadis terus berkembang dan menjadi rujukan ulama pada masa kini dalam mengkaji dan mempelajari hadis-hadis Nabi Saw.

Perkembangan Islamic Studies

Pembicaraan mengenai studi Islam memang tidak pernah selesai. Karena studi Islam ini memang tidak pernah mengenal kata berhenti dan terus-menerus berkembang sesuai dengan semangat zaman. Setidaknya ada empat fase perkembangan yang dilalui dalam studi agama yakni fase lokal, kanonikal, kritikal dan global[21], dimana empat tahapan ini berpengaruh juga terhadap perkembangan studi Islam. Pertama, adalah tahapan Lokal. Semua agama pada era presejarah (Prehistorical period) dapat dikategorikan sebagai lokal. Semua praktik tradisi, kultur, adat istiadat, norma, bahkan agama adalah fenomena lokal. Kelokalan ini tidak bisa dihindari sama sekali karena salah satu faktor utamanya adalah bahasa. Bahasa yang digunakan oleh penganut tradisi dan adat istiadat setempat adalah selalu bersifat lokal.

Fase kedua adalah fase Canonical atau Propositional. Kehadiran agama-agama Ibrahimi (Abrahamic Religions), dan juga agama-agama di Timur, yang pada umumnya menggunakan panduan Kitab Suci (the Sacred Text) merupakan babak baru tahapan sejarah perkembangan agama-agama dunia paska prehistoric religions di atas[22].). Era ini disebut “canonical’ karena semuanya menerima adanya wahyu yang kebenarannya dianggap final dan absolute, yang terjelma dalam kitab suci (sacred text). Panduan  keagamaan yang  didasarkan pada teks kitab suci inilah yang  berkembang pesat di abad tengah dan di kemudian hari nanti akan mempunyai andil dalam membentuk corak keberagamaan yang scripturalis-tekstualis, selain tradisi-tradisi lain yang lebih kontekstual juga ikut berkembang dalam menginterpretasikan kitab suci.

Fase ketiga adalah fase Critical. Fase ini dipicu oleh semangat Enlightenment dimana pada abad ke-16 dan 17, kesadaran beragama di Eropa mengalami perubahan yang radikal[23]. Meskipun ini adalah pengalaman Eropa, tetapi dalam perkembangannya juga merambah ke seluruh tradisi  agama-agama dunia. Hal ini menimbulkan pergesekan sehingga tidak dapat diingkari sama sekali bahwa antar pengikut dan pendukung keberagamaan yang bersifat Canonical-texstual sendiri seringkali muncul ketegangan-ketegangan sosial-politik yang tak terhindarkan[24]. Sejarah perkembangan studi terhadap fenomena agama, ibarat gerak jarum jam, tidak bisa diputar kembali. Ketiga tradisi tersebut berjalan bersama. Kadang bersenggolan, kadang berjalan bersama lalu pisah dipersimpangan jalan, bahkan kadang bertubrukan juga. Dalam kondisi seperti itu muncul fase keempat yaitu fase Global.

Dalam fase global, Era teknologi informasi mempercepat terwujudkannya impian borderless society ini. Dalam era global, fenomena glokalisasi juga tampak jelas di sini. Tradisi lokal dibawa ke arena global. Muslim diaspora, immigrant muslim di Eropa, gerakan transnasionalisme menempati salah satu bagian dari kompleksitas kehidupan agama di era global ini.

Keempat fase dalam studi agama ini tentunya sangat berpengaruh terhadap perkembangan keilmuan dalam Islam -merujuk pada tulisan Prof. Dr Amin Abdullah- dalam perspektif keilmuan Islam empat fase tersebut dapat dikerucutkan menjadi, fase Ulum al-Diin, fase al-Fikr al-Islamiy (Islamic thought) dan fase Dirasat Islamiyyah (Islamic Studies). Dalam Ulum al-Diin[25] muncul kluster ilmu-ilmu agama (Islam) seperti Kalam, Fikih, Tafsir, Hadis, Qur’an, Faraidl, Aqidah, Akhlaq, Ibadah dan begitu seterusnya dengan ilmu bantunya bahasa Arab (Nahwu, Saraf, Balaghah, Badi’, ‘Arudl). Ulum al-Diin ini kemudian berkembang menjadi al-Fikr al-Islamiy[26] yang isinya  secara komprehensif meliputi Studi al-Qur’an dan al-Sunnah, pemikiran Hukum (Legal thought), pemikiran Kalamiyyah (Theological thought), pemikiran Mistik (Mystical thought atau Sufism), Ekspresi Artistik, pemikiran Filsafat (Philosophical thought), pemikiran politik (Political thought), dan pemikiran Modern dalam Islam. Disini al-Fikr al-Islamiy mempunyai struktur ilmu dan the body of knowledge yang kokoh dan komprehensif-utuh tentang Islam. Kemudian Ketika pergumulan dan silang pendapat antara Ulum al-Diin dan al-Fikr al-Islamiy belum selesai dan belum duduk, dunia akademis keilmuan Islam terus berkembang dan kemudian muncul Dirasat Islamiyyah (Islamic Studies)[27]. Dalam Dirasat Islamiyyah ini dialog, perbincangan dan pembahasan yang mendalam tentang isu-isu kontemporer seperti Hak Asasi Manusia, gender (partisipasi wanita dalam kegiatan politik, sosial, ekonomi, pendidikan), pluralitas agama, hubungan dan hukum Internasional yang menggunakan metode dan pendekatan campuran antara al-Fikr al-Islamiy dan Dirasat islamiyyah menjadikan keilmuan dalam Islam mengalami progress yang cukup cepat dan tentunya dengan tantangan yang semakin berat. Lalu pertanyaannya kemudian adalah dimana posisi studi hadis selama ini? Apakah masih bertahan dalam ranah Ulum al-Diin ataukah sudah beranjak kearah al-Fikr al-Islamiy atau bahkan sudah memasuki fase Dirasat Islamiyyah? Mengenai hal ini penulis akan mencoba untuk memaparkannya dibawah ini.

Kedudukan Hadis dalam Islamic Studies

Sebagaimana yang telah penulis paparkan diatas, masa keemasan dalam studi hadis terjadi pada masa abad ke-2 hingga abad ke-5, dimana para ulama cukup kreatif dan sangat produktif tidak hanya dalam rangka kodifikasi hadis tetapi juga meletakkan dasar-dasar dalam keilmuan hadis. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya ternyata tidaklah demikian. Ilmu hadis seolah hanya berjalan di tempat tanpa adanya perkembangan yang berarti. Ilmu hadis yang pernah digagas oleh para ulama seolah telah final. Sehingga hadis yang merupakan “produk” ulama pada masa tersebut diterima oleh umat muslim sebagai produk jadi yang sudah tidak perlu lagi dikritik dan dikembangkan. Sampai disini kemudian teks-teks hadis menjadi teks yang sakral yang seolah sulit untuk dijangkau dan dilakukan berbagai pengembangan. Sangat berbeda dengan studi Islam yang lain seperti studi al-Qur’an. Dinamika dalam studi terhadap al-Qur’an begitu terasa, sehingga perkembangan dalam studi al-Qur’an begitu cepat. Berbagai pendekatan dan analisis banyak bermunculan terkait dengan kajian atas al-Qur’an. Sebut saja misalnya dalam khazanah pemikiran Islam kontemporer seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad Syahrur, Al-Jabiri dan lain sebagainya. Tawaran-tawaran baru dalam menafsirkan teks al-Qur’an terus bermunculan seiring dengan perkembangan zaman, seperti pendekatan hermeneutik, sejarah, antropologi, sosiologi, semantik dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian diskursus seputar penafsiran al-Qur’an ini menjadi diskursus yang tidak pernah usai dengan berbekal keyakinan bahwa al-Qur’an adalah salih li kulli zaman wa makan[28].

Sementara dalam kajian hadis, para intelektual muslim sedikit enggan untuk melakukan kritik ataupun mengkajinya dengan berbagai pendekatan dan lebih suka menggunakan hadis sebagai produk yang sudah jadi. Ada beberapa hal menurut penulis yang menjadi penyebab atas stagnansi keilmuan hadis, diantaranya adalah:

  1. 1. Problem otentisitas hadis

Problem otentisitas hadis ini memang menyita banyak perhatian para ulama, baik para ulama hadis pada masa lalu hingga saat ini. Perpecahan umat Islam menjadi berbagai golongan dan persoalan politik menjadi salah satu sumber dari problem otentisitas hadis. Menurut Imam Muhammad bin Sirin, beliau menyatakan bahwa “pada mulanya kaum muslimin tidak pernah menanyakan sanad dalam menerima suatu hadis tetapi semenjak terjadi fitnah (terbunuhnya Usman bin Affan), apabila mendengar hadis mereka selalu menanyakan dari siapa hadis itu diperoleh[29]. Sehingga kritik sanad dan matan menjadi kunci untuk menyelesaikan problem ini. Sanad memiliki kedudukan yang sangat penting dalam hadis, hal ini karena sanad terkait dengan mata rantai dari periwayat hadis, sehingga kritik sanad sangat berperan dalam menyelamatkan hadis dari segala pemalsuan. Sedangkan dalam persoalan matan, hal ini terkait dengan redaksi matan yang diriwayatkan baik secara lafal (riwayah bil lafz) maupun secara makna (riwayah bil ma’na)[30]. Setidaknnya ada lima syarat yang disepakai oleh para ulama untuk menetapkan kesahihan hadis yang terkait dengan sanad dan matan, yakni hadis yang tersambung sanadnya, diriwayatkan oleh orang-orang yang adil dan dabit serta terhindar dari syaz dan illat.

Karena problem otensitisa hadis ini merupakan problem utama dalam hadis karena terkait dengan diterima dan ditolaknya suatu hadis maka banyaknya perhatian pada wilayah ini akhirnya agak mengenyampingkan persoalan-persoalan lain yang sebenarnya juga penting tekait dengan kontekstualisasi dan pengembangan keilmuan hadis yang lain.

  1. 2. Persoalan terkait dengan rijalil hadis

Masih terkait dengan problem dalam sanad hadis. Studi kritis terhadap para periwayat hadis ini memakai metode-metode yang sudah baku sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu melalui kitab-kitab rijalil hadis yang juga ditulis oleh para ulama terdahulu. Sehingga metode dalam kritik sanad ini tidak banyak mengalami perkembangan. Padahal selain menggunakan metode dan kitab rujukan yang telah dibuat oleh para ulama abad ke 3 sampai abad ke 5 tersebut, ada banyak celah dan cara yang bisa dilakukan kritik terhadap rijalil hadis, yakni melalui pendekatan-pendekatan baru misalnya pendekatan historis kritis, pendekatan sosio antropologis dan lain sebagainya yang bisa melihat kondisi makro dari periwayat hadis. Menurut penulis sangat penting sekali upaya melihat kondisi makro para periwayat hadis, karena dengan memperhatikan kondisi makro dari periwayat yang meliputi kondisi sosial, politik dari periwayat hadis akan bisa terlihat bagaimana corak hadis yang dihasilkan, bagaimana teks-teks yang tertulis dalam matan dan lain sebagainya. Bagaimanapun juga hadis-hadis yang disampaikan sangat diwarnai dengan persoalan politik masa itu. Dengan melihat suasana politik masa itu, kita dapat melihat inkonsistensi dalam periwayatan hadis. Sehingga ilmu sejarah akan sangat membantu kita dalam meneliti rijal hadis disamping kitab-kitab rijalil hadis yang telah ada[31].

  1. 3. Penilaian terhadap keadilan sahabat

Definisi yang diberikan ulama mengenai sahabat memang berbeda-beda. Namun secara umum para ulama hadis mengatakan bahwa yang dikatakan sahabat itu adalah umat Islam yang pernah melihat Rasul Allah[32]. Beberapa ulama menyatakan bahwa semua sahabat Nabi adalah orang yang adil dan tidak satupun dari mereka yang tercela. Baik al-Qur’an maupun hadis Nabi yang menyatakan hal tersebut menjadi dalil dan alasan yang kuat, dan karena para sahabat Nabi ini sudah bersifat adil maka tidak perlu lagi dilakukan kritik sanad terhadap mereka.

  1. 4. Stigma inkar sunnah

Berbeda dengan al-Qur’an, tidak ada stigma inkar al-Qur’an bagi para ulama sekritis apapun ia memahami al-Qur’an. Stigma inkar sunnah ini membuat para ulama mengendalikan diri dan segan dalam melakukan telaah dan mengembangkan pemikiran terhadap hadis. Para ulama lebih suka menerima hadis berikut keilmuan hadis dalam bentuk jadi tanpa berusaha untuk mengembangkannya. Sehingga yang terjadi adalah pemahaman hadis secata tekstual tanpa bersusah payah memperdulikan proses panjang sejarah terkumulnya hadis dan proses pembentukan ajaran ortodoksi.

Keempat hal diatas membuat studi hadis jalan di tempat tanpa adanya perkembangan yang berarti. Jika dilihat dalam kerangka pemikiran Islam, studi hadis masih berada dalam fase ulum al-Diin dan masih mulai beranjak pada al-Fikr al-Islamiy. Sehingga bisa dilihat pengajaran dalam ilmu hadis ini cenderung tidak mendalam dan mengulang-ulang masih terus terkutat dengan kritik sanad dan matan dengan metode yang seolah sudah baku tersebut. Sebenarnya ketiga kluster tersebut sebenarnya bersaudara, hanya saja cara atau sudut pandang, keluasan horison  pengamatan (Approaches) dan metode (Process dan Procedure) pengambilan dan pengumpulan data serta aneka ragam sumber data yang diperoleh dari berbagai bahasa (termasuk bahasa asing) berbeda antar ketiga tradisi kelimuan keislaman tersebut sehingga hasilnya pun berbeda[33]. Perbedaan itu muncul karena perkembangan intelektual manusia itu sendiri. Dengan berbagai pendekatan diharapkan studi hadis ini menjadi lebih konstekstual dan tidak lagi menjadi teks-teks yang sakral yang sulit untuk “dijamah”.

Menuju arah baru dalam Studi Hadis

Sebagaimana yang telah penulis paparkan diatas, studi hadis menjadi bidang yang sangat rigit, kaku dan sensitif. Kaku karena selama ini menjadi bidang yang monodisipliner, yakni pendekatan yang dianggap sah adalah kritik sanad dan kritik matan, itupun dengan aturan-aturan yang sudah baku. Seharusnya fase ini sudah dianggap selesai, tetapi kenyataannya tidaklah demikian, studi hadis lebih menekankan pada pengulangan pengulangan daripada pengembangan. Dari sini kemudian tanpa disadari teks hadis menjadi lebih suci dibanding dengan al-Qur’an. Menurut penulis, ada dua hal yang perlu dilakukan dalam rangka mengembangkan studi hadis, yang pertama terkait dengan kajian terhadap teks hadis dan yang kedua terkait dengan persoalan tehnis pengajaran hadis.

Pertama adalah kajian (Istiqro’) terhadap hadis. Setidaknya ada tiga level utama dalam kajian hadis[34]. (1) Kajian terhadap hadis dalam hubungannya dengan Nabi. Dalam hal ini menggunakan kritik sanad yang menguji kredibilitas periwayat dengan melihat tidak hanya pada unsur mikro tetapi juga pada unsur makro[35] melalui berbagai pendekatan. Selain itu penting juga mempertimbangkan analisis terhadap aspek-aspek psikologis Nabi ketika menyampaikan hadis baik secara qaqli, fi’li maupun taqriri. (2) Kajian terhadap teks hadis itu sendiri. Dalam mengkaji teks hadis sangat penting kiranya untuk mengembangkan berbagai pendekatan dalam mengkaji teks hadis misalnya dengan mengembangkan hermeneutika hadis, yakni teori dan metodologi interpretasi teks hadis dengan mempertimbangkan hubungan antara Nabi Saw, teks hadis dan pembaca serta pendekatan-pendekatan lainnya seperti pendekatan historis, antropologi, pendekatan sastra dan lain sebagainya. (3) Kajian terhadap teks hadis dalam kaitannya dengan masyarakat pembaca/penafsirnya. Hal ini mulai dikembangkan dalam studi hadis meski masih dalam level yang terbatas seperti kajian tentang studi living sunnah/hadis[36].

Kedua adalah terkait dengan tehnis pengajaran hadis. Menurut penulis sangat penting kiranya untuk memisahkan jurusan tafsir dengan jurusan hadis dalam pengajaran tafsir hadis di perguruan tinggi. Jika sebelumnya telah terjadi perpindahan jurusan tafsir hadis dari fakultas Syari’ah ke fakultas Ushuluddin yang menandai pergeseran sebuah paradigma legal formalistik ke paradigma yang –katakanlah-lebih substantif dan membebaskan. Maka saat ini penting kiranya untuk segera mungkin memisahkan studi hadis dan studi al-Qur’an dengan harapan akan lebih mengembangkan kedua bidang tersebut. Setidaknya pemisahan ini bertujuan untuk (1) Mendorong dinamisasi dan kegairahan dalam studi hadis, (2) Agar perhatian akademik terhadap studi hadis menjadi ;lebih besar daripada ketika studi hadis itu masih digabungkan dengan studi al-Qur’an. (3) ini yang lebih bersifat akademis, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam studi hadis dalam Islamic studies diatas bahwa studi hadis ternyata memiliki karateristik yang berbeda dengan studi al-Qur’an baik dari segi epistemologi, ontologi dan aksiologi maupun dari pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan.

Penutup

Demikianlah makalah ini dibuat tidak hanya dalam rangka memenuhi tugas kuliah tetapi juga merupakan refleksi atas kegelisahan penulis terhadap studi hadis selama ini. Melihat posisi hadis/sunnah yang berada di urutan kedua setelah al-Qur’an dalam sumber hukum, moral, etika dan keseluruhan kehidupan umat Islam, maka sudah selayaknyalah studi hadis ini mendapatkan perhatian yang tidak sedikit dari umat islam. Namun nampaknya sependek yang penulis lihat, setidaknya dalam makalah ini, studi hadis selama ini masih menempati posisi yang peripheral dalam dinamika studi keislaman dan keagaman secara umum. Kondisi seperti inilah yang kemudian, di antaranya, mengakibatkan kurang dinamisnya studi hadis dari pada studi-studi dalam ranah Islamic studies yang lain seperti tafsir, fiqh, tashawwuf, dlsb. Oleh karena itu, penulis berharap semoga makalah singkat ini dapat memberikan sedikit inspirasi bagi pengembangan studi hadis kedepan. Amin.

***

Daftar Pustaka

Abdullah, M.Amin, dalam http://aminabd.wordpress.com/category/tulisan-2008/

Abdurrahman, M, Pergeseran Pemikiran Hadis: Ijtihad al-Hakim dalam menentukan status hadis, Jakarta: Paramadina, 2000

Al-Khatib, Ajjaj, Ushul al-Hadis wa Musthalahuh Beirut: Darul Fikr, 1979

As-Shalih, Subhi, Membahas Ilmu-ilmu Hadis, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993

Assa’idi, Sa’dullah, Hadis-hadis Sekte, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996

Hadi, Pardodo, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, Yogyakarta: Kanisius, 1994

Ilyas, Yunahar dan M Mas’udi (ed.), Pengembangan Pemikiran terhadap Hadis, Yogyakarta: LPPI UMY, 1996

Ikhwan, Nur, Beberapa gagasan tentang Pengembangan Studi al-Qur’an dan Hadis (Refleksi atas Perkembangan Jurusan Tafsir Hadis di Indonesia), dalam buku Hermeneutika al-Qur’an Madzhab Yogya Yogyakarta: Forstudia dan Islamika, 2003

Khaeruman, Badri Otentisitas Hadis; Studi Kritis atas Kajian Hadis Kontemporer, Bandung: ROSDA, 2004

Mansyur, M, Dkk, Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis, Yogyakarta : Teras, 2007

Rahmat, Jalaluddin, Pemahaman hadis Perspektif histories, dalam buku Pengembangan Pemikiran terhadap Hadis, Yogyakarta: LPPI UMY, 1996

Suriasumantri, Yuyun S, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer Jakarta: Sinar Harapan, 1988

Syamsuddin, Sahiron, dkk, Hermeneutika al-Qur’an Mazhab Yogya, Yogyakarta: Forstudia dan Islamika, 2003

Yaqub, Ali Mustafa Kritik Hadis, Jakarta : Pustaka firdaus, 2000

Zuhri, Muh, Hadis Nabi: Telaah Historis dan Metodologis, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997


[1] Drs Yunahar Ilyas Lc dan Drs M Mas’udi (ed.), Pengembangan Pemikiran terhadap Hadis, (Yogyakarta: LPPI UMY, 1996), hlm 100

[2] Ibid., hlm 101

[3] Drs. Badri Khaeruman, Otentisitas Hadis; Studi Kritis atas Kajian Hadis Kontemporer, (Bandung: ROSDA, 2004), hlm 44

[4] Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadis wa Musthalahuh (Beirut: Darul Fikr, 1979), hlm 154

[5] Sebagaimana pernyataan al-Zuhri: Sekiranya tidak ada hadis yang datang dari arah timur yang asing bagi saya, niscaya saya tidak menulis hadis dan tidak pula mengizinkan orang menulis. Dr. Muh Zuhri, Hadis Nabi: Telaah Historis dan Metodologis, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), hlm 52-53

[6] Ontologi merupakan asas dalam menetapkan batas ruang lingkup objek penelaahan dan penafsiran tentang hakikat realitas dari objek ontology tersebut, hadis dalam wilayah ontologis disini adalah kandungan hadis, seperti aqidah, syariah, muamalah akhlak, sejarah dan lain – lain.

[7] Epistemologi merupakan asas cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi satu tubuh pengetahuan. Dalam kerangka ini secara epistemologis, dalam keilmuan hadis dititikberatkan kepada cara-cara menentukan derajat hadis yang berkaitan dengan kandungannya.

[8] Aksiologis merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan, dalam kerangka ini hadis disini berkaitan dengan tujuan ulama yang mengumpulkan hadis.

[9] Pertanggungjawaban secara ilmiyah karena memang setiap pengetahuan harus mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyangga batang tubuh pengetahuan yang disusunnya, yakni dari segi epistemologis, ontologis serta aksiologis. Ketiga istilah ini dikutip dari filsafat ilmu. Penjelasan istilah ini dapat dilihat dalam Yuyun S Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1988), cet ke-5 hlm 10. Lihat juga Dr. Pardodo Hadi, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta: Kanisius, 1994)

[10] Ada kitab-kitab yang disusun dengan menggunakan sistematika yang digunakan ulama pada abad sebelumnya, ada juga yang ulama yang menyusun kitab al-Mustakhraj seperti kitab al-Mustakhraj terhadap shalih Bukhari yang disusun oleh Abu Bakar Ahmad bin ibrahim al-Isma’ili dan Abu Bakar Ahmad bin Muhammad al-Burqani, kitab al-Mustakhraj terhadap shahih Muslim yang disusun oleh Abu Ja’far Ahmad al-Naysaburi, dan Abu Bakr Muhammad bin Muhammad bin Raja’ al-Naysaburi, ada juga ulama yang menambahkan yang belum terhimpun dalam shahihayn dengan menyusun kitab al-Mustadrak.

[11] Abu Hasan ‘Ali bin Umar bin Ahmad bin Mahdi al-Daruquthni, selanjutnya disebut al-Daruquthni. Ia mengarang kitab al-Istidrakat wa al-Tatabbu’ sebagai kritikan terhadap 218 sanad hadis yang digunakan oleh Bukhari dan Muslim. Kritikan tersebut selanjutnya dijawab oleh al-Asqalani dalam Hadyu al-Sariy: Muqaddimah Fath al-Bari, Dr. M. Abdurrahman, Pergeseran Pemikiran Hadis: Ijtihad al-Hakim dalam menentukan status hadis, (Jakarta: Paramadina, 2000), hlm 6-7

[12] Seperti munculnya kitab-kitab musnad dan mushannaf

[13] Dr. Subhi as-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), hlm 101

[14] Dalam perkembangannya, istilah ulumul hadis menjadi sinonim bagi ilmu hadis dirayah. Selain itu, ilmu hadis dirayah disebut juga mustalahu al-hadits (ilmu peristilahan hadis) atau ‘ilm usul al-hadis (ilmu dasar hadis).

[15] Dengan ilmu ini dapat diketahui apakah para perawi itu layak diterima menjadi perawi hadis, diantara ulama yang menyusun kitab tentang tokoh-tokoh hadis ini adalah al-Bukhari , Ibn Sa’ad dalam kitabnya Thabaqat, Ibn Hajar al-Asqalani dan lain sebagainya.Ibid., 104

[16] Ilmu Jarh wa ta’dil adalah ilmu yang membahas mengenai para perawi yang membuat mereka tercela atau bersih dalam menggunakan lafadz-lafadz tertentu. Ibid., hlm 102

[17] Ilmu yang mempelajari hadis-hadis yang secara lahiriyah bertentangan namun ada kemungkinan dapat diterima dengan syarat. Ibid.,

[18] Ilmu yang membahas tentang sebab-sebab tersembunyi yang dapat merusak keabsahan suatu hadis seperti memarfu’kan hadis mauquf, dan lain sebagainya sehingga dengan ilmu ini dapat menentukan apakah suatu hadis termasuk hadis dhaif atau dapat melemahkan suatu hadis yang secara lahiriyah luput dari segala illat. Ibid.,

[19] Ilmu yang membahas dan menjelaskan hadis Rosulullah Saw yang sukar diketahui dan dipahami orang banyak karena telah bercampur dengan bahasa lisan atau bahasa arab pasar. Ibid., hlm 105

[20] Ilmu yang membahas hadis-hadis yang bertentangan dan tidak mungkin diambil jalan tengah. Hukum hadis yang satu menasikh hokum hadis yang lain mansukh. Ibid.,

[21] Empat fase ini dikemukakan oleh Prof. Dr. Amin Abdullah dalam tulisannya Mempertautkan Ulum Al-Diin, Al-Fikr Al-Islamiy dan Dirasat Islamiyyah: Sumbangan Keilmuan Islam untuk Peradaban Global dalam http://aminabd.wordpress.com/category/tulisan-2008/

[22] Budaya baca tulis (Literacy) dengan menggunakan huruf, sudah mulai dikenal dalam kehidupan umat manusia. Tradisi yang dulunya “oral” (lesan) berubah menjadi “written” (tulisan)

[23] Pandangan keagamaan yang mewakili “insider” dan  “outsider”mulai muncul di sini. Objektif dan subjektif, fideistic subjectivism dan scientific objectivism, believer dan spectator mulai dikenal. Belakang para ilmuan membedakan antara “faith” dan “tradition”; antara “essence” dan “manifestation” dalam beragama.

[24] Pengalaman hubungan disharmonis dan penuh ketegangan dan kekerasan  antara Katolik dan Protestan di Barat pada abad tengah, antara kelompok Sunni dan Syi’iy di Timur Tengah pada abad-abad  sebelumnya bahkan hingga sekarang, Mahayana dan Hinayana di lingkungan tradisi keagamaan Buddha, Brahmaisme, Wisnuisme dan Syivaisme di lingkungan Hindu dan masih banyak lagi yang lain, yang menjadikan atau mendorong munculnya “doubt” seperti telah diungkap di depan. Doubt inilah yang memicu munculnya tradisi baru dalam sejarah pemikiran keagamaan yang disebut penelitian atau research. Tradisi keilmuan baru dalam mempelajari agama-agama dunia ini, selain didorong rasa ingin tahu tentang hakekat agama, asal-usul, sejarah perkembangannya, juga didorong oleh cara berpikir Kritis atau Critical dalam beragama.

[25] Disini Ulum al-Diin sebagai representasi “tradisi lokal” keislaman yang berbasis pada “bahasa” dan “teks-teks” atau nash-nash keagamaan

[26] Disini al-Fikr al-Islamiy sebagai representasi pergumulan humanitas pemikiran keislaman yang berbasis pada “rasio-intelek”,

[27] Dirasat Islamiyyah atau Islamic Studies merupakan kluster keilmuan baru yang berbasis pada paradigma keilmuan sosial kritis-komparatif lantaran melibatkan seluruh “pengalaman” (experiences) umat manusia di alam historis-empiris yang amat sangat beranekaragam.

[28] Sahiron Syamsuddin dkk, Hermeneutika al-Qur’an Mazhab Yogya, (Yogyakarta: Forstudia dan Islamika, 2003), hlm xvii

[29] Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, (Jakarta : Pustaka firdaus, 2000), hlm 4

[30] Drs. Sa’dullah Assa’idi, Hadis-hadis Sekte (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm 27

[31] Jalaluddin Rahmat, Pemahaman hadis Perspektif histories, dalam buku Pengembangan Pemikiran terhadap Hadis, Op,Cit., hlm 144

[32] Diantara para ulama yang mendefinisikan sahabat adalah:

1. Muhammad Nawawi al-Jawi berpendapat bahwa orang

[33] Amin Abdullah., Op.Cit

[34] Nur Ikhwan, Beberapa gagasan tentang Pengembangan Studi al-Qur’an dan Hadis (Refleksi atas Perkembangan Jurusan Tafsir Hadis di Indonesia), dalam buku Hermeneutika al-Qur’an Madzhab Yogya, Op.Cit., hlm 240-241

[35] Unsur mikro dan makro di sini penulis adaptasi dari konsep asbabun nuzul yang melihat latar belakang turunnya ayat yang spesifik (mikro) dan global (makro). Sedangkan konsep mikro dalam studi hadisi disini, menurut hemat penulis, adalah meliputi analisis terhadap kepribadian (personality) periwayat, sedangkan unsure makro meliputi kondisi sosial politik yang ada “di sekitar” kehidupan periwayat masa itu.

[36] Tradisi yang hidup di masyarakat yang disandarkan kepada hadis, Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis, (Yogyakarta : Teras, 2007)

Add a comment Desember 27, 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Juli 2014
S S R K J S M
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.