Posts filed under: ‘Kisah para Assabiqunal Awwalun‘




33. Ja’far bin Abi Thalib

Nama lengkapnya adalah Ja’far bin Abi Thalib bin Thalib Abd Manaf bin Abd al-Muthallib bin Hasyim bin Abd Manaf bin Qushai al-Quraisyi al-Hasyimi. Ja’far adalah putra ketiga Abu Thalib, paman Nabi Saw dan kakak kandung Ali bin Abi Thalib yang berusia sepuluh tahun lebih tua diatas Ali bin Thalib. Dia dikenal dengan julukan Ja’far al-Thayyar (Ja’far sebagai burung terbang).

Sosok Ja’far bin Abi Thalib digambarkan sebagai seorang yang bertubuh tinggi, besar serta kuat. Ja’far juga seorang yang mempunyai otak yang cerdas, dia adalah salah satu diantara 5 orang sahabat yang secara fisik mirip dengan Rosulullah Saw, kelima orang tersebut adalah Abu Sufyan bin al-Harist, Qatsam bin al-Abbas, Al-Saib bin Ubaid bin Abd Yazid, al-Hasan bin Abi Thalib, cucu Rosulullah Saw dari putrinya Fatimah al-Zahra, dan Ja’far bin Abi Thalib sendiri. Mengenai kemiripan Ja’far dengan Rosullah Saw, beliau sendiri pernah bersabda: “Engkau ini Ja’far bin Abi Thalib, orang yang paling mirip denganku, baik secara fisik maupun akhlak. Engkau juga berasal dari jajaran keluargaku”.

Ja’far bin Abi Thalib bersama istrinya Asma’ binti Umais termasuk golongan sahabat yang pertama masuk Islam. Semenjak kecil Ja’far diasuh oleh pamannya Abbas bin Abdul Muthalib dimana Abbas juga termasuk ke dalam golongan orang yang pertama masuk Islam. Dia diasuh oleh pamannya karena memang Abu Thalib adalah seorang yang miskin dan mempunyai anak yang banyak, karenanya dia merelakan beberapa putranya untuk diasuh oleh saudaranya, termasuk Ali bin Abi Thalib yang diasuh oleh Rosulullah Saw.

Ja’far bersama istrinya Asma turut serta dalam hijrah pertama kaum muslimin ke negeri Habasya. Negeri yang dipimpin oleh seorang raja Nasrani yang dikenal adil, sehingga sang raja bisa menerima kehadiran kaum muslimin dengan baik dan dengan tangan terbuka. Kepergian kaum muslimin ke negeri Habasya melahirkan kecemasan tersendiri dikalangan kaum musyrikin. Mereka takut jika kaum muslimin akan bertambah kuat setelah berada di sana. Karenanya kaum musyrikin mengutus beberapa orang untuk menghadap raja Negus dan membujuknya untuk menolak kedatangan kaum muslimin dan mengembalikan mereka ke negerinya. Utusan kaum kafir Quraisy ini juga membawa sejumlah hadiah yang akan diberikan kepada para pembesar dan pendeta Habasya agar niat mereka bisa dikabulkan. Pada saat yang sama utusan kaum muslimin yang salah satunya diwakili oleh Ja’far bin Abi Thalib juga sedang menghadap sang raja.

Pada saat raja Negus, dihadapkan dengan utusan Quraisy dan kaum muhajirin Islam, utusan Quraisy mengatakan tuduhan terhadap kaum muslimin bahwa kaum muslimin itu adalah orang-orang bodoh dan tolol yang meninggalkan agama nenek moyang mereka tetapi tidak pula hendak memasuki agama yang dianut oleh raja Negus dan bahkan datang dengan agama baru yang mereka ada-adakan sehingga utusan itu meminta mereka dikembalikan pada kaumnya. Negus pun bertanya kepada kaum muslimin, agama apakah yang menyebabkan mereka meninggalkan bangsanya tetapi juga tidak memandang perlu pula terhadap agamanya(Nasrani). Mendengar pertanyaan raja Habasya tersebut,
Ja’far pun bangkit berdiri untuk menunaikan tugas yang telah diamanahkan padanya oleh kawan-kawannya sesama Muhajirin yang mereka tetapkan dalam rapat yang diadakan sebelumnya. Dengan pandangan ramah penuh kecintaan kepada baginda raja yang telah baik menerima mereka, beliau berkata: “Wahai paduka yang mulia! Dahulu kami memang orang-orang jahil dan bodoh; kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan pekerjaan-pekerjaan keji, memutuskan silaturahmi, menyakiti tetangga dan orang yang berhampiran. Yang kuat waktu itu memakan yang lemah. Hingga datanglah masanya Allah mengirimkan Rasul-Nya kepada kami dari kalangan kami. Kami kenal asal-usulnyam kejujurannya, ketulusan dan kemuliaan jiwanya. Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah dan mengabdikan diri pada-Nya, dan agar membuang jauh-jauh apa yang pernah kami sembah bersama bapak-bapak kami dulu, berupa batu-batu dan berhala. Beliau menyuruh kami bicara benar, menunaikan amanah, menghubungkan silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga dan menahan diri dari menumpahkan darah yang dilarang Allah. Dilarangnya kami berbuat keji dan zina, mengeluarkan ucapan bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh berbuat jahat terhadp wanita yang baik-baik. Lalu kami benarkan ia dan kami beriman kepadanya, dan kami ikuti dengan taat apa yang disampaikannya dari Tuhannya. Lalu kami beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak kami persekutukan sedikitpun juga, dan kami haramkan apa yang dihalalkan-Nya untuk kami. Karenanya kaum kami memusuhi kami dan menggoda kami dari agama kami, agar kami kembali menyembah berhala lagi, dan kepada perbuatan-perbuatan jahat yang pernah kami lakukan dulu. Maka sewaktu mereka memaksa dan menganiaya kami, dan menggecet hidup kami dari agama kami, kami keluar hijrah ke negeri paduka, dengan harapan akan mendapatkan perlindungan paduka dan terhindar dari perbuatan mereka.”

Ja’far mengucapkan kata-kata yang mempesona itu laksana cahaya sehingga membangkitkan perasaan dan keharuan pada jiwa raja Negus. Ketika raja Negus menanyakan wahyu yang dibawa dari Rasulullah, Ja’far langsung membacakan bagian dari surat Maryam. Mendengarnya, sang rajapun langsung menangis, begitu pula dengan para pendeta dan pembesar lainnya. Selanjutnya Negus mengatakan kepada kaum Quraisy bahwa sesungguhnya yang dibaca tadi dan yang dibawa oleh Isa a.s. sama memancar dari satu pelita, karena itu utusan Quraisy dipersilahkan pergi dan beliau tidak akan menyerahkan kaum muslimin kepada mereka.

Tetapi keesokan harinya utusan kaum Quraisy itu datang kembali menghadap Raja Negus hendak memojokkan kaum muslimin telah mengucapkan suatu ucapan keji yang merendahkan kedudukan Isa sehingga hal itu cukup menggoncangkan raja Negus dan para pengikutnya. Raja Negus pun memanggil kaum muslimin kembali untuk menanyai bagaimana sebenarnya pandangan Agama Islam tentang Isa al-Masih.
Ja’far pun kemudian berdiri dan berkata: ”Kami akan mengatakan tentang Isa a.s , sesuai dengan keterangan yang dibawa Nabi kami Muhammad saw, bahwa
“Isa adalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya serta kalimah-Nya yang ditiupkan-Nya kepada Maryam dan ruh daripada-Nya…”. Mendengar ucapan Ja’far, raja Negus bertepuk tangan tanda setuju seraya mengumumkan bahwa memang begitulah yang dikatakan al-Masih tentang dirinya. Akhirnya raja Neguspun mempersilahkan kaum muslimin itu untuk tinggal bebas di negerinya dan akan melindungi mereka serta mengusir para utusan Quraisy dengan mengembalikan hadiah-hadiahnya.

Ja’far juga dikenal dengan julukan bapak orang miskin. Julukan ini diberikan kepadanya karena sikap kedermawanan dan kepeduliannya yang tinggi terhadap orang-orang miskin. Dia tidak pernah menggenggam harta bendanya sendirian, tetapi melibatkan kaum muslimin untuk ikut memilikinya. Dia sering menanggung makanan kaum fakir miskin dan sering menjenguk serta menjamin kebutuhan mereka.

Ja’far juga seorang yang terkenal dengan keberaniannya. Dia selalu mengikuti berbagai peperangan yang terjadi di masa Rosulullah Saw. Sehingga dia menjadi syahid dalam pertempuran Mu’tah. Dalam pertempuran pertama melawan bangsa Romawi tersebut, Ja’far menjadi panglima perang bersama Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawanah. Setelah Zaid tewas di medan peperangan, Ja’far kemudian mengambil bendera kepemimpinan. Dengan gagah berani dan pantang menyerah dia terus menghunuskan pedangnya kekanan dan ke kiri kearah pasukan lawan, hingga akhirnya salah satu tangannya terputus, kemudian dengan sigap, bendera kepemimpinan beralih di tangan kirinya hingga akhirnya tangan kirinyapun terputus, sebelum akhirnya dia tewas menjadi syahid.

Ketika rosulullah Saw mendengar Ja’far bin Abi Thalib dan beberapa sahabat tewas di medan perang, beliau datang ke rumah Ja’far dan menemui istri dan anak-anaknya. Saat itu istri Ja’far Asma sedang membuat adonan kue untuk menyambut kedatangan suaminya Ja’far dari medan peperangan. Anak-anakpun sudah dimandikan dengan rapi. Kemudian Rosulullah berkata kepada Asma: “Kemana anak-anakmu? Bawa kemari”. Setelah anak-anak dibawa kehadapan beliau, Rosulullah Saw mendekap mereka sambil menitikkan air mata. Suasana menjadi begitu mengharukan. Kemudian Asma bertanya kepada Rosulullah Saw: “Wahai Rosulullah, demi ayah ibuku, aku tidak tahu kenapa suasanya jadi menjadi begitu mengharukan. Apa yang membuat engkau menangus seperti ini?, jangan-jangan telah datang berita tentang Ja’far dan para sahabat yang lain dari medan pertempuran?.

Rosulullah Sawpun menjawab: “Betul wahai Asma, tabahkan hatimu, Ja’far bin Abi Thalib dan beberapa orang sahabat telah menjadi syahid”. Sontak Asmapun menangis tersedu-sedu. Rosulullahpun menasihatinya untuk selalu tabah dan berserah diri kepada Allah. Kemudian beberapa anggota keluarga Rosulullah seperti Fatimah putrinya juga segera datang dengan bercucuran airmata untuk menghibur dan mengucapkan bela sungkawa kepada Asma’.

Ja’far meninggal dalam usia 41 tahun. Dia menjadi syahid yang pasti akan diganjar surga oleh Allah karena telah berjuang dengan membawa panji-panji kebenaran[1].


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_bin_Abi_Thalib, http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/06/18/ja%E2%80%99far-bin-abi-thalib/, Hilmi Ali Sya’ban, Ibid, hlm 5-53

1 komentar April 15, 2010

32. Ammar bin Yasir

Ammar bin Yasir adalah putra dari Yasir bin Amir dari seorang ibu Sumayyah binti Khayyat. Sebagai anak yang lahir dari keluarga yang fakir dan berasal dari kelas paling rendah dalam strata sosial masyarakat Arab masa itu, maka sejak kecil Ammar juga sudah sangat akrab dengan berbagai penderitaan. Sosok Ammar digambarkan sebagai seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru, dia adalah seorang yang amat pendiam dan tak suka banyak bicara

Setiap hari Rasulullah saw. berkunjung ke tempat disiksanya keluarga Yasir, mengagumi ketabahan dan kepahlawanannya, hati beliaupun hancur menyaksikan mereka menerima siksaan yang sangat menyakitkan. Ketika Rasulullah saw. mengunjungi mereka, ‘Ammar berkata kepada Rosulullah: “WahaiRasulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak”. Mendengar keluhan dari mulut Ammar Rasulullah saw berkata:
“Shabarlah, wahai Abal Yaqdhan, Shabarlah, wahai heluarga Yasir, tempat yang dijanjikan bagi halian ialah Surga.

Siksaan yang diami oleh ‘Ammar banyak dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat. Pernah suatu ketika Ammar disiksa sampai-sampai ia tak menyadari apa yang diucapkannya. Ammar juga pernah dibakar dengan api oleh orang-orang musyrik. Ketika itu Rosulullah Saw lewat di tempat tersebut dan melihat kejadian penyiksaan itu. Kemudian Rosulullah Saw memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda: “Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh ‘Ammar, sebagaimana dulu hamu juga sejuk dingin di tubuh Ibrahim…!”.

Pernah di hari yang lain, Ammar dipukul oleh tukang-tukang cambuk dengan sekuat tenaga mereka. Kemudian dibakar dengan besi yang sangat panas, disalib di atas pasir panas dengan ditindih batu laksana bara merah, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka.
Pada hari itu, ketika ia telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepadanya: “Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!”. Dengan kondisi yang tidak sadar Ammar mengikutinya tanpa mengetahui apa yang diucapkannya. Ketika ia siuman sebentar akibat dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya, segeralah dia memohon ampun atas apa yang telah diucapkannya.

Ketika itu Rasulullah saw. Sedang menemui Ammar dan mendapatinya ia sedang menangis, maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau dan bertanya kepada Ammar: “Orang-orang hafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu …?”, Ammarpun menjawab:
“Benar': wahai RasuIullah’. Kemudian Rasulullah Saw tersenyum sambil berkata: “Jika mereka memaksaimu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi ….!”
Lalu Rasulullah Saw membacakan sebuah kepadanya sebuah ayat mulia, yakni:
“Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan ..”.(Q.S. 16 an-Nahl: 106). Mendengar sabda Rosulullah Saw Ammarpun merasakan ketenangan.

Setelah Rosulullah berhijrah di Madinah. Ammarpun mengikuti beliau berhijrah dan tinggal di Madinah. Ammar selalu aktif mengikuti berbagai peperangan baik pada masa Rosulullah Saw, maupun peperangan yang terjadi setelah wafatnya beliau. Mulai dari perang Badar, perang Uhud, perang Khondaq, perang tabuk dan lain sebagainya. Dia juga berada pada barisan terdepan ketika berperang melawan para murtaddin setelah wafatnya Rosulullah Saw, bahkan salah satu telinganya terpotong pada saat perang tersebut. Ammar juga berada dalam barisan pasukan muslim ketika terjadi peperangan besar kaum muslimin melawan bangsa Romawi dan Persia.

Ammar juga dikenal sebagai seorang yang zuhud dan tidak memikirkan tentang hal-hal keduniawian. Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, Ammar dipercaya sebagai Amir di kufah dengan Abdullah bin Mas’ud sebagai bendaharanya. Ketika sang khalifah mengangkat Ammar dan Abdullah bin Mas’ud, Umar mengirimkan surat kepada para penduduk Kufah yang isinya adalah sebagai berikut: “Saya kirim kepada tuan-tuan ‘Ammar bin Yasir sebagai Amir, dan Ibnu Mas’ud sebagai bendahara dan wazir… Keduanya adalah orang-orang pilihan, dari golongan sahabat Muhammad SAW, dan termasuk pahlawan-pahlawan Badar!”

Selama menjadi seorang Amir, Ammar tetaplah menjadi seorang yang biasa saja dan tidak rakus dengan jabatan dan harta. Meski sebagai seorang pemimpin ‘Ammar bin Yasir biasa membeli sayuran di pasar, lalu mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung dan membawanya pulang. Suatu ketika, salah seorang awam berkata (menghina) kepada ‘Ammar bin Yasir, “Hai, yang telinganya terpotong!” Mendengar omongan orang itu, sang amir yang tidak kelihatan keamirannya, berkata, “Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik karena ia ditimpa kecelakaan waktu perang fi sabilillah.”

Ammar adalah sahabat kesayangan Rosulullah Saw. Bahkan beliau sering membanggakan Ammar dihadapan para sahabat yang lain dengan berkata: “Diri ‘Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang pungungnya!”. Pernah suatu ketika terjadi selisih faham antara Khalid bin Walid dengan ‘Ammar, Rasullah bersabda:
“Siapa yang memusuhi ‘Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah; dan siapa yang membenci ‘Ammar, maka ia akan dibenci Allah!”. Mendengar perkataan Rosulullah Saw, maka tidak ada pilihan bagi Khalid bin Walid, pahlawan Islam itu, selain segera mendatangi ‘Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf.

Pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib, Ammar berada dibelakang sang khalifah untuk turut serta dalam perang shiffin. Padahal saat usia Ammar sudah tidak muda lagi yakni telah berumur 93 tahun, tetapi semangat Ammar masih sangat tinggi, sehingga diapun bertekad untuk turut serta dalam peperangan demi membela kebenaran. Akhirnya Ammarpun tewas menjadi syahid dalam perang shiffin tersebut. Begitulah sosok Ammar, seorang yang menggapai kemuliaan karena keteguhan dan kekuatannya dalam membela ajaran agamanya. Ajaran agama yang benar. Dia tidak takut kepada siapapun dan apapun kecuali kepada Allah. Dia selalu memasrahkan dirinya kepada sang Maha hidup, sehingga dia selalu siap berkorban seluruh jiwa dan raganya untuk menegakkan kebenaran[1].


[1] http://sabdaislam.wordpress.com/2009/12/01/045-ammar-bin-yasir/, http://www.perindu-syurga.co.cc/2009/12/ammar-bin-yasir.html, http://id.wikipedia.org/wiki/Ammar_bin_Yasir, http://tokohtokohislam.blogspot.com/2009/07/amar-bin-yasir-radhiallahu-anhu.html

Add a comment April 15, 2010

31. Yasir bin Amir

Yasir bin ‘Amir adalah seorang sahabat Nabi Saw yang termasuk golongan orang fakir dan papa. Dia bersama keluarganya (istrinya Sumayyah dan putranya Ammar bin Yasir) adalah termasuk golongan orang yang pertama diberikan cahaya untuk masuk Islam. KeIslaman Yasir bin Amir dimulai ketika dia berangkat meninggalkan negerinya di Yaman untuk mencari dan menemui salah seorang saudaranya. Sesampainya di Makkah, rupanya dia merasa cocok untuk tinggal di kota dimana Rosulullah Saw lahir dan menerima wahyu kenabian yang akhirnya membuatnya tertarik untuk mengikuti ajaran Rosulullah Saw. Setelah Bermukim disana, dia mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah Ibnul Mughirah.

Kemudian Abu Hudzaifah mengawinkan dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayah binti Khayyath, dan dari perkawinan yang penuh berkah ini, dikarunia seorang putra bernama ‘Ammar. Keislaman Yasir bersama keluarganya membuatnya harus melalui ujian yang sangat berat. Sebagai seorang fakir dan budak yang tidak mempunyai pelindung, Yasir bersama istri dan anaknya mendapatkan siksaan yang cukup berat dari orang-orang kafir Quraisy. Tetapi kekejaman dan kebiadaban yang ditimpakan kepada Yasir, istri serta putranya Ammar tidak membuatnya luntur dan kembali kepada kepercayaan nenek moyangnya.

Orang-orang Quraisy memang melakukan pertentang terhadap kaum muslimin sesuai dengan kapasitasnya dan kedudukannya. Seandainya mereka ini golongan bangasawan dan berpengaruh, mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Abu Jahal, misalnya, menggertak dengan ungkapan, “Kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal mereka lebih baik daripadamu! Akan kami uji sampai dimana ketabahanmu; akan kami jatuhkan kehormatanmu; akan kami rusak perniagaanmu; dan akan kami musnahkan harta bendamu!” Setelah itu, mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf yang amat sengit. Sementara, sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Mekah yang rendah martabatnya dan yang miskin; atau dari golongan budak belian, mereka didera dan disulutnya dengan api bernyala.

Keluarga Yasir memang telah ditakdirkan oleh Allah SWT termasuk dalam golongan yang kedua ini. Karenanya tidak mengherankan jika setiap hari, Yasir, Sumayyah, dan ‘Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai adzab dan siksa. Hingga akhirnya Yasir dan Sumayyah menjadi syahid di tangan orang-orang yang mendzaliminya.

Begitulah sosok Yasir, seorang yang miskin yang terus menerus mengalami siksaan dan kebiadaban dari orang-orang kafir Quraisy.Tetapi dia tetap teguh mempertahankan keimanannya meski harus melewati hari-hari yang berat dan sangat menyakitkan. Keyakinan akan kebenaran agama yang dibawa Muhammad Saw, serta janji Allah yang akan memberikan tempat yang layak bagi hamba yang sholeh menjadikannya kuat melawan segala ujian yang menimpanya. Sebuah contoh teladan yang baik bagi semua umat muslim.

Add a comment April 15, 2010

30. Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam

Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam adalah termasuk sahabat Nabi yang pertama-tama masuk Islam. Dia adalah seorang pengusaha yang cukup berpengaruh, berasal dari suku Makhzum dari kota Mekkah.

Pada awal penyebaran Islam, Rosulullah Saw masih menyebarkan agama secara sembunyi-sembunyi. Muhammad mulai merasa perlu mencari sebuah tempat bagi para pemeluk Islam dapat berkumpul bersama. Di tempat itu akan diajarkan kepada mereka tentang prinsip-prinsip Islam, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, menerangkan makna dan kandungannya, menjelaskan hukum-hukumnya dan mengajak mereka untuk melaksanakan dan mempraktikkannya. Pada akhirnya Muhammad memilih sebuah rumah di bukit Shafa milik Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Semua kegiatan itu dilakukan secara rahasia tanpa sepengetahuan siapa pun dari kalangan orang-orang kafir.
Rumah milik Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam ini merupakan Madrasah pertama sepanjang sejarah Islam, tempat ilmu pengetahuan dan amal saleh diajarkan secara terpadu oleh sang guru pertama, yaitu Muhammad Rasulallah Saw. Beliau sendiri yang mengajar dan mengawasi proses pendidikan disana. . Akhirnya rumah Al-Arqam yang sebelumnya disebut Dar al-Arqam (rumah Al-Arqam), setelah dia memeluk Islam  disebut dengan Dar al-Islam (Rumah Islam)[1].


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Abdillah_al-Arqam_bin_Abi_al-Arqam

Add a comment April 15, 2010

29. Sa’id bin Al-Ash

Sa’id bin Al-Ash adalah salah sahabat Rosulullah Saw yang berasal dari keturunan Bani Umayyah. Nama lengkapnya adalah Said bin Ash bin Said bin Ash bin Umayyah bin Abdu Syams. Dia termasuk golongan sahabat yang pertama masuk Islam.

Said dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan dan berkelakuan baik. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa Suatu ketika, Muhammad bin Jahm al-Barmaki (gubernur di masa Khalifah Al-Ma’mun) bermaksud menjual rumahnya. Beberapa orang berkumpul dan salah seorang di antara mereka membayar rumah itu seharga 50.000 dirham. Muhammad bin Jahm berkata kepada si pembeli, “Ambillah rumah ini dan berbahagialah serta bersenang-senanglah!” “Mengapa demikian?” tanya si pembeli heran. Dijawab oleh Muhammad bin Jahm al-Barmaki, “Karena rumah ini berdampingan dengan rumah Sa’id bin al-‘Ash,” Lalu pembeli bertanya kembali, “Bagaimana perilakunya terhadap para tetangga?”. “Jika kamu meminta sesuatu dia pasti akan memberi. Bila kamu tidak meminta, dia akan menawarkan diri. Bila kamu menyakitinya ia akan membalasnya dengan kebaikan. Dan bila ia berbuat baik kepadamu, ia tidak akan menceritakannya kepada orang lain.” Cerita ini sampai ke telinga Sa’id bin al-‘Ash. Ia pun memberi Muhammad bin Jahm 100.000 dirham seraya berkata, “Ambillah uang ini dan urungkan niatmu untuk menjual rumah!”

Begitulah sosok Said, yang tidak pernah berfikir panjang untuk mengeluarkan sebagian hartanya. Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan (tahun 30 H), sang khalifah mengangkatnya sebagai penguasa di Kufah. Said termasuk pembantu khalifah dalam program pengkodifikasian Al-Qur’an. Said wafat di Madinah pada tahun 59 H atau 679 M[1].


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Sa%E2%80%99id_bin_Al-Ash

Add a comment April 15, 2010

28. Abu Dzar Al-Ghiffari

Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah bin Sakan, tetapi dia dikenal dengan sebutan Abu Dzar al-Ghiffari. Dia adalah sahabat Rosulullah yang berasal dari suku ghiffar dan termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam. Sebelum menjadi seorang muslim, Abu Dzar dikenal sebagai seorang perampok yang suka merampok para kabilah yang pedagang yang melewati padang pasir. Suku Ghiffar memang sudah dikenal sebagai binatang buas malam dan hantu kegelapan. Jika bertemu dengan mereka, jarang sekali orang yang selamat dari perampokan.

Meski dia adalah seorang perampk, tetapi hidayah Allah telah menghampiri diri Abu Dzar. Sebelum Rosulullah Saw diangkat menjadi utusan Allah dengan ajaran Islam, Abu Dzar memang sudah tidak percaya dengan berhala-berhala buatan yang menjadi sesembahan sebagian besar masyarakat jazirah Arab. Karenanya ketika dia mendengar akan hadirnya seorang yang membawa kebenaran. Diapun ingin pergi dan bertemu dengan beliau. Dengan langkah yang terhuyung karena lemah setelah melewati perjalanan yang cukup jauh. Perjalanan dari kampung halamannya ke Makkah memang merupakan perjalanan panjang dengan medan yang sulit ditambah dengan teriknya panas matahari serta udara padang pasir membuat siapapun akan merasa sangat kelelahan dan membuat kondisi fisik menjadi lemah. Setelah Abu Dzar telah sampai ke kota Makkah. Dia menyamar seolah-olah ia adalah seorang yang hendak melakukan thawaf keliling berhala-berhala besar di Kabah atau seolah-olah musafir yang sesat dalam perjalanan atau lebih tepat orang yang telah menempuh jarak amat jauh, yang memerlukan istirahat dan menambah perbekalan. karena seandainya orang-orang Mekah mengetahui kedatangannya untuk menemui Muhammad Saw dan mendengar keterangannya, pastilah mereka akan membunuhnya. Tetapi, lelaki ini tak perduli apakah akan dibunuh atau dianiaya asalkan ia dapat menjumpai laki-laki yang dicarinya dan menyatakan iman kepadanya. Kebenaran dan dakwah yang diberikan Muhammad SAW dapat memuaskan hatinya.

Dia terus melangkah sambil memasang telinga, dan setiap didengarnya orang memerkatakan Muhammad  SAW, ia pun mendekat dan menyimak dengan hati-hati; hingga dari cerita yang tersebar di sana-sini, diperolehnya petunjuk yang dapat menunjukkan tempat persembunyian Muhammad SAW, dan mempertemukannya dengan beliau.

Di pagi suatu hari ia pergi ke tempat itu, didapatinya Muhammad SAW sedang duduk seorang diri. Didekatinya Rasulullah, dan berkata, “Selamat pagi wahai kawan sebangsa!” “Alaikum salam, wahai sahabat”, jawab Rasulullah. Kemudian Abu Dzar berkata, “Bacakanlah kepadaku hasil gubahan Anda!” Mendengar hal itu Rosulullah menjawab: “Ia bukan syair hingga dapat digubah, tetapi adalah Quran yang mulia!”.

Kemudian Dibacakanlah oleh Rasulullah Saw ayat-ayat al-Qur’an, sedangkan Abu Dzar mendengarkan dengan penuh perhatian, hingga tidak berselang lama ia pun berseru, “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.” Setelah itu Rosulullah bertanya: “Anda dari mana, saudara sebangsa?”, “Dari Ghifar,” jawab Abu Dzar.

Akhirnya Abu Dzar telah resmi menyatakan dirinya sebagai seorang muslim. Setelah itu Rosulullah Saw menyuruhnya untuk kembali ke kampung halamannya hingga Rosulullah akan memberi perintah setelah dia sampai disana. Tetapi Abu Dzar berkata kepada beliau: “Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid!”

Sebagai seorang yang radikal dan revolusioner, dia kemudian pergi menuju masjidil haram dan menyerukan dengan sekeras-kerasnya, “Asyhadu Alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.” Pada saat itu Rosulullah masih berdakwah dengan sembunyi-sembunyi, sehingga teriakan Abu Dzar tersebut merupakan teriakan pertama tentang agama Islam yang menentang kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakkan telinga mereka. Kalimat itu diserukan oleh seorang perantau asing yang di Mekah tidak mempunyai bangsa, sanak keluarga, maupun pembela. Dan sebagai akibatnya, ia mendapat perlakuan dari mereka yang sebetulnya telah dimaklumi akan ditemuinya. Orang-orang musyrik mengepung dan memukulnya hingga rebah.

Berita mengenai peristiwa yang dialami Abu Dzar itu akhirnya sampai juga kepada paman Nabi Saw, Abbas bin Abdul Muthalib. Ia segera mendatangi tempat terjadinya peristiwa tersebut, dengan menggunakan diplomasi halus Abbas bin Abdul Muthalib berusaha membebaskannya dari cengkraman kaum kafir Quraisy, maka kemudian berkatalah Abbas kepada mereka, “Wahai kaum Quraisy! Anda semua adalah bangsa pedagang yang mau tak mau akan singgah di kampung Bani Ghifar. Dan, orang ini salah seorang warganya, bila ia bertindak akan dapat menghasut kaumnya untuk merampok kafilah-kafilahmu nanti!”

Mereka pun akhirnya menyadari hal itu, kemudian pergi meniggalkannya. Tetapi Abu Dzar memang seorang yang berani dan tidak mengenal rasa takut. Karenanya dia mengulang kejadian yang sama pada hari berikutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang dua orang wanita sedang thawaf keliling berhala-berhala Usaf dan Na-ilah sambil memohon kepadanya. Abu Dzar segera berdiri menghadangnya, lalu di hadapan mereka berhala-berhala itu dihina sejadi-jadinya. Kedua wanita itu memekik dan berteriak, hingga orang-orang gempar dan berdatangan laksana belalang, dan seperti yang pernah dialami sebelumnya oleh Abu Dzar, mereka lalu menghujani Abu Dzar dengan pukulan hingga tak sadarkan diri. Ketika ia siuman, maka yang diserunya tiada lain hanyalah, “Tiada Tuhan yang haq diibadahi, melainkan Allah, dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.”

Rasulullah SAW sangat memaklumi watak dan tabiat murid barunya yang ulung serta mempunyai keberaniannya yang menakjubkan dalam melawan kebathilan. Sayang saatnya belum tiba,  karenanya Rosulullah Saw kembali memerintahkannya untuk pulang, sampai akhirnya nanti Rosulullah memerintahkan untuk berdakwah secara terang-terangan.

Setelah itu, diapun kembali ke kampung halamannya dan ikut menyampaikan ajaran kebenaran dari Rosulullah Saw kepada orang-orang di sekitarnya. Diantara para muallaf yang masuk Islam melalui dia, adalah : Ali-al-Ghifari, Anis al-Ghifari, Ramlah al-Ghifariyah. Pernah suatu hari Abu Dzar berkata di hadapan banyak orang, “Ada tujuh
wasiat Rasulullah SAW yang selalu kupegang teguh. Aku disuruhnya agar
menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri dengan mereka. Dalam
hal harta, aku disuruhnya memandang ke bawah dan tidak ke atas (pemilik
harta dan kekuasaan). Aku disuruhnya agar tidak meminta pertolongan
dari orang lain. Aku disuruhnya mengatakan hal yang benar seberapa
besarpun resikonya. Aku disuruhnya agar tidak pernah takut membela agama
Allah. Dan aku disuruhnya agar memperbanyak menyebut  la haula walaa
quwwata illa billah’.

Abu Dzar selalu membawa pedang yang sangat tajam di pinggangnya yang
digunakannya untuk menebas musuh-musuh Islam. Ketika Rasulullah bersabda
padanya, “Maukah kamu kutunjukkan yang lebih baik dari pedangmu? (Yaitu)
Bersabarlah hingga kamu bertemu denganku di akhirat?” Sejak itulah
ia mengganti pedangnya dengan lidahnya yang ternyata lebih tajam dari
pedangnya.

Keberanian Abu Dzar juga ditunjukkan ketika dia berani mengkritik pemerintahan Ustman bin Affan. Ketika itu dia berteriak di jalanan, lembah, padang pasir dan sudut
kota menyampaikan protesnya kepada para penguasa yang rajin menumpuk
harta di masa kekhalifahan Ustman bin Affan. Setiap kali turun ke jalan,
keliling kota, ratusan orang mengikuti di belakangnya, dan ikut
me­­neriakkan kata-katanya yang menjadi panji yang sangat terkenal dan
sering diulang-ulang, “Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang
menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan api neraka,
kening dan pinggang mereka akan diseterika di hari kiamat!”

Teriakan-teriakannya telah menggetarkan seluruh penguasa di jazirah
Arab. Ketika para penguasa saat itu melarangnya, dengan lantang ia
berkata, “Demi Allah yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya! Sekiranya
tuan-tuan sekalian menaruh pedang diatas pundakku, sedang mulutku masih
sempat menyampaikan ucapan Rasulullah yang kudengar darinya, pastilah
akan kusampaikan sebelum tuan-tuan menebas batang leherku”. Sepak terjangnya menyebabkan penguasa tertinggi saat itu Ustman bin
Affan turun tangan untuk menengahi. Bahkan Ustman bin Affan menawarkan tempat
tinggal dan berbagai kenikmatan, tetapi Abu Dzar yang zuhud berkata, “aku
tidak butuh dunia kalian!”.

Abu Dzar memang tidak hanya seorang yang berani tetapi dia juga seorang yang zuhud dan tidak pernah berfikir tentang dunia. Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak ada di dunia ini orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar”, pada saat yang lain Rosulullah SAW juga pernah bersabda, “Abu Dzar – di antara umatku – memiliki sifat zuhud seperti Isa ibn Maryam”.

Kezuhudannya juga diperlihatkannya ketika Abu Dzar menjelang detik-detik kematiannya. Saat itu istrinya menangis. Abu Dzar kemudian bertanya, “Mengapa
engkau menangis wahai istriku?, sang istripun menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, engkau sekarat di hamparan padang pasir sedang aku tidak mempunyai kain
yang cukup untuk mengkafanimu dan tidak ada orang yang akan membantuku
menguburkanmu”. Namun akhirnya datanglah pertolongan dari Allah melalui serombongan musafir yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud ra (salah seorang sahabat Rasulullah SAW juga). Abdullah bin Mas’ud pun membantunya dan berkata,
“Benarlah ucapan Rasulullah!. Kamu berjalan sebatang kara, mati sebatang
kara, dan nantinya (di akhirat) dibangkitkan sebatang kara”.

Begitulah kisah seorang sahabat Nabi Saw  Abu Dzar, sosok yang selalu berani dalam menyerukan kebenaran yang diyakini. Dia tidak pernah takut dengan apapun bahkan nyawanya sendiri menjadi taruhannya karena dia yakin bahwa Allah akan selalu bersama dengan orang-orang yang berada di jalan kebenaran[1].


[1] http://www.majalahdzikir.com/index.php?option=com_content&task=view&id=547&Itemid=95, http://www.bimasislam.depag.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=176&catid=49:artikel&Itemid=92&Itemid, http://sunatullah.com/sahabat-nabi/abu-dzar-al-ghiffari.html, http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Dzar_Al-Ghifari

Add a comment April 15, 2010

26. Abu Ubaidah bin al-Jarrah (Seorang kepercayaan Umat)

Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin al-Jarah bin Hilal al-Fahry al-Qursy, biasanya dipanggil dengan sebutan Abu Ubaidillah. Dia adalah salah satu sahabat Rosulullah Saw yang berasal dari kaum Quraisy. Lahir di Makkah dari sebuah keluarga yang terhormat. Abu Ubaidah adalah seorang yang berperawakan tinggi, kurus, dan tidak terlalu berisi. Jenggotnya tidak tebal. Orangnya pemurah dan sederhana. berwibawa, bermuka ceria, rendah diri dan sangat pemalu. Dia juga termasuk orang yang berani ketika dalam kesulitan. Meski seorang yang pemalu dia disenangi oleh semua orang yang melihatnya, sehingga siapapun yang mengikutinya akan merasa tenang.

Masuknya Abu Ubaidillah ke dalam ajaran Islam adalah berkat peran dari Abu Bakar Al-Shiddiq. Karena dia telah berteman dan mengenal sejak lama Abu Bakar, sehingga tidak sulit bagi Abu Ubaidillah untuk menerima ajakan Abu Bakar untuk mempercayai ajaran baru yang dibawa oleh Muhammad Saw. Sebagaimana sahabat yang lain, keislaman Abu Ubaidillah juga tidak lepas dari tantangan dan siksaan dari orang-orang kafir Quraisy. Meski dia berasal dari keluarga yang cukup terhormat di mata kaum Quraisy. Ayahnya sendiri sangat menentang keputusannya untuk meninggalkan ajaran nenek moyangnya. Dia terus menerus dibujuk oleh ayahnya untuk kembali kepada ajarannya semula, hingga ayah Abu Ubaidillah mempersempit ruang geraknya. Tetapi semua cobaan dapat dilalui dengan sabar dan tawakkal kepada Allah SWT.

Pada saat Rosulullah Saw menyuruh kaum muslimin untuk berhijrah ke Habasyah dalam rangka menghindari berbagai tantangan dan siksaan dari kaum kafir Quraisy yang semakin berat, Abu Ubadillahpun turut serta dalam rombongan para sahabat untuk berhijrah. Abu Ubaidillah juga salah satu sahabat yang sangat aktif dalam mengikuti berbagai peperangan pada masa Rosulullah Saw, mulai perang badar, Uhud dan lain sebagainya. Dalam perang Badar dia berperang melawan ayahnya sendiri yang menjadi salah satu tentara dari pasukan kaum kafir. Sedangkan pada saat terjadi perang Uhud, ketika wajah Rosulullah terkena dua rantai besi hingga berdarah, dengan cepat Abu Ubaidillah berusaha mencabutnya dari wajah Rosulullah, dia mencabut dengan gigi sehingga dua giginya patah. Pada masa kholifah Abu Bakar al-Shiddiq, dia juga ikut dalam rombongan tentara melawan para murtaddin (orang-orang yang keluar dari agama Islam). Abu Ubadillah juga termasuk salah satu komandan tentara Islam yang diutus Abu Bakar dalam penaklukan Islam. Selama ikut dalam peperangan, beliau berhasil mentaklukan Damaskus, Hamsh, Antokia, Ladhakia, Hebron hingga seluruh Syam.

Abu Ubaidillah mendapat julukan Aminul Ummah (Orang yang dipercaya bagi kaumnya) dan Amirul Umaro (pemimpin para pemimpin) dari Rosulullah Saw. Julukan tersebut diberikan oleh Rosulullah Saw berkenaan dengan suatu peristiwa dimana pada suatu hari delegasi Najran dari Yaman datang untuk menyatakan keislaman mereka, dan meminta kepada Nabi SAW agar mengutus bersama mereka orang yang mengajarkan kepada mereka al-Qur’an, Sunnah dan Islam, maka Nabi SAW mengatakan kepada mereka, “Aku benar-benar akan mengutus bersama kalian seorang pria yang sangat dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya.” Semua sahabat berharap bahwa dialah yang bakal dipilih oleh Rasulullah SAW termasuk Umar bin Khattab. Ternyata persaksian ini menjadi keberuntungannya. Setelah Rosulullah Saw melaksanakan sholat dzuhur bersama para sahabat, beliau menengok ke kanan dan ke kiri hingga pandangannya tertuju pada Abu Ubaidillah dan beliau meminta Abu Ubaidillah untuk pergi bersama mereka. Pada watku beliau Abu Ubaidillah berdiri, Rasulullah bersabda; “Inilah orang kepercayaan umat Islam.”

Setelah Rosulullah Saw wafat, para sahabat berkumpul pada hari Saqifah untuk memilih seorang kholifah. Pada saat itu Abu Bakar berkata: “Saya rela salah satu dari dua orang ini; Umar bin Khottob dan Abu ‘Ubaidah untuk memimpin Islam. Kemudian Umar bin Al-Khattab ra mengatakan kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah, “Hulurkan tanganmu! Agar saya baiat kamu, karena saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh dalam setiap kaum terdapat orang yang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah.’ Kemudian Abu Ubaidah menjawab, “Saya tidak mungkin berani mendahului orang yang dipercayai oleh Rasulullah SAW menjadi imam kita di waktu shalat (Saidina Abu Bakar as-Shiddiq ra), oleh sebab itu kita sayogyanya membuatnya jadi imam sepeninggalan Rasulullah SAW.” Akhirnya keputusan itu di terima oleh semua pihak dan akhirnya Abu Bakar di baiat menjadi khalifah.

Kepribadian dan keluhuran budi pekerti Abu Ubaidillah memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Rosulullah Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidillah bin Al-Jarrah”. Ketika Umar bin Khattab sang khalifah hendak menghembuskan nafas terakhirnya, dia juga berkata: “Seandainya Abu Ubaidillah bin Al-Jarrah masih hidup, niscaya aku menunjuknya sebagai penggantiku. Jika Rabbku bertanya kepadaku tentang dia, maka aku jawab, ‘Aku telah menunjuk kepercayaan Allah dan kepercayaan RasulNya sebagai penggantiku.” Abdullah bin Mas’ud, salah satu sahabat Rosulullah Saw juga sangat bangga dengannya. Dia berkata: “Paman-pamanku yang paling setia sebagai sahabat Rasulullah saw. Cuma tiga orang. Mereka adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah,”.

Abu Ubaidillah juga dikenal dengan kezuhudannya.Dalam satu kisah disebutkan ketika Abu Ubaidillah menjabat sebagai seorang gubernur Syam. Umar bin Khattab sang khalifah pada saat itu hendak berkunjung ke rumahnya. ” Hai Abu Ubaidah, bolehkah aku datang ke rumahmu?” tanya Umar. Jawab Abu Ubaidah, “Untuk apakah kau datang ke rumahku? Sesungguhnya aku takut kau tak kuasa menahan air matamu begitu mengetahui keadaanku nanti.” Namun Umar memaksa dan akhirnya Abu Ubaidahpun mengizinkan Umar berkunjung ke rumahnya. Ketika Umar bin Khattab sampai di rumah Abu Ubaidillah, dia sangat terkejut. Ia mendapati rumah Sang Gubernur Syam kosong melompong. Tidak ada perabotan sama sekali. Melihat hal tersebut, kemudian
Umar bertanya, “Hai Abu Ubaidah, di manakah penghidupanmu? Mengapa aku tidak melihat apa-apa selain sepotong kain lusuh dan sebuah piring besar itu, padahal kau seorang gubernur?”, “Adakah kau memiliki makanan?” tanya Umar lagi. Abu Ubaidah kemudian berdiri dari duduknya menuju ke sebuah ranjang dan memungut arang yang didalamnya. Umar pun meneteskan air mata melihat kondisi gubernurnya seperti itu. Abu Ubaidah pun berujar, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kau ke sini hanya untuk menangis.” Umar berkata, “Ya Abu Ubaidah, banyak sekali di antara kita orang-orang yang tertipu oleh godaan dunia.”

Suatu ketika Umar mengirimi uang kepada Abu Ubaidah sejumlah empat ribu dinar. Orang yang diutus Umar melaporkan kepada Umar, “Abu Ubaidah membagi-bagi uang kirimanmu.” Kemudian Umar berkata, “Alhamdulillah, puji syukur kepada-Nya yang telah menjadikan seseorang dalam Islam yang memiliki sifat seperti dia.” Begitulah Abu Ubaidah. Hidup baginya adalah pilihan. Ia memilih zuhud dengan kekuasaan dan harta yang ada di dalam genggamannya. Baginya jabatan bukan aji mumpung buat memperkaya diri. Tapi, kesempatan untuk beramal lebih intensif guna meraih surga.

Ketika di negeri Syam sedang terjangkit wabah penyakit, Umar bin Khattab mengirim surat untuk memanggil Abu Ubaidah. Namun Abu Ubaidah menyatakan keberatannya sesuai dengan isi surat yang dikirimkannya kepada khalifah yang berbunyi, “Hai Amirul Mukminin! Sebenarnya saya tahu, kalau kamu memerlukan saya, akan tetapi seperti kamu ketahui saya sedang berada di tengah-tengah tentera Muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusannya terhadap saya dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, tolonglah saya dibebaskan dari rencana baginda dan izinkanlah saya tinggal di sini.”

Setelah Umar ra membaca surat itu, beliau menangis, sehingga para hadirin bertanya, “Apakah Abu Ubaidah sudah meninggal?” Umar menjawabnya, “Belum, akan tetapi kematiannya sudah di ambang pintu.”

Akhirnya Abu Ubaidah meninggal karena wabah penyakit tersebut. Menjelang kematian Abu Ubaidah ra, beliau memesankan kepada tenteranya, “Saya pesankan kepada kalian sebuah pesan. Jika kalian terima, kalian akan baik, ‘Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, puasalah di bulan Ramadhan, berdermalah, tunaikanlah ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah kalian, sampaikanlah nasihat kepada pimpinan kalian, jangan suka menipunya, janganlah kalian terpesona dengan keduniaan, karena betapa pun seorang melakukan seribu upaya, beliau pasti akan menemukan kematiannya seperti saya ini. Sungguh Allah telah menetapkan kematian untuk setiap pribadi manusia, oleh sebab itu semua mereka pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat”. Kemudian beliau melihat kepada Muaz bin Jabal ra dan mengatakan, “Ya Muaz! Imamilah shalat mereka.” Setelah itu, Abu Ubaidah ra pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Sepeninggalan Abu Ubaidah, Muaz bin Jabal ra berpidato di hadapan kaum Muslimin yang berbunyi, “Hai sekalian kaum Muslimin! Kalian sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang dari beliau. Oleh sebab itu kasihanilah beliau, semoga kamu akan dikasihani Allah.”

Pada saat Umar bin Khaththab RA mendengar kematian Abu Ubaidah, dia memejamkan kedua matanya dalam keadaan penuh dengan air mata. Air mata pun mengalir, lalu dia membuka kedua matanya dalam kepasrahan. Ia memo-honkan rahmat Allah untuk sahabatnya dalam keadaan air mata mengalir dari kedua matanya, air mata orang-orang shalih. Air mata mengalir karena kematian orang-orang yang shalih. Umar  bin Khaththab RA berkata, “Seandainya aku boleh berangan-angan, maka aku hanya mengangankan sebuah rumah yang dipenuhi orang-orang semisal Abu Ubaidah”.

Begitulah sosok seorang zuhud dan bijak Abu Ubaidah. Dia dapat menjadi contoh teladan bagi para pemimpin bahwa menjadi pemimpin bukanlah jalan untuk memperkaya diri sendiri, tetapi seorang pemimpin hanyalah seorang pelayan dari masyarakat yang seharusnya bersikap wajar dan tidak berlebih-lebihan[1].


[1] http://sirah.blogsome.com/2005/09/28/abu-ubaidah-bin-jarrah-radhiallahu-anh/, http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Ubaidah_bin_al-Jarrah, http://www.2lisan.com/agama/sahabat-rasul-saw/abu-ubaidah-bin-al-jarrah/, http://74.125.113.132/search?q=cache:kuPtxdP9ZFIJ:rinialfatih.multiply.com/journal/ite, http://halaqah-online.com/v3/index.php?option=com_content&view=article&id=586:abu-ubaidah-bin-al-jarrah&catid=66:sirah-tokoh-sahabat-nabi&Itemid=536

3 komentar April 15, 2010

25. Said bin Zayd bin Amru

Nama lengkapnya adalah Said bin Zayd bin Amru bin Nufail Al Adawi. Dia adalah salah satu Rosulullah Saw yang berasal dari kaum Quraisy dan termasuk golongan kedalam golongan sepuluh sahabat yang dijanjikan akan masuk surga. Said dilahirkan di Makkah 22 tahun sebelum hijriyah dan sering kali dipanggil dengan sebutan Abul Awaar.

Said adalah putra Zaid seorang yang selama hidupnya selalu mencari kebenaran akan agama yang haq. Dia juga tidak mempercayai akan agama yang dianut oleh nenek moyangnya. Zaid juga dikenal sebagai penyelamat bayi perempuan pada masa jahiliyah, karena di masa itu mempunyai bayi perempuan dianggap sebuah aib besar yang dapat meruntuhkan kehormatan keluarga. Zaid menyelamatkan para bayi perempuan dengan mengangkatnya sebagai anak dan kemudian mengasuhnya.

Ketidakpercayaan Zaid terhadap ajaran nenek moyangnya dapat dibuktikan dalam sebuah peristiwa yakni; suatu hari Zaid bin Amr bin Nufail berdiri di tengah-tengah orang banyak yang berdesak-desakan menyaksikan kaum Quraisy berpesta merayakan salah satu hari besar mereka. Kaum pria memakai serban sundusi yang mahal, yang kelihatan seperti kerudung Yaman yang lebih mahal. Kaum wanita dan anak-anak berpakaian bagus warna menyala dan mengenakan perhiasan indah-indah. Hewan-hewan ternak pun dipakaikan bermacam-macam perhiasan dan ditarik orang-orang untuk disembelih di hadapan patung-patung yang mereka sembah.

Kemudian Zaid bersandar ke dinding Kabah dan berkata, “Hai kaum Quraisy! hewan itu diciptakan Allah. Dialah yang menurunkan hujan dari langit supaya hewan-hewan itu minum sepuas-puasnya. Dialah yang menumbuhkan rumput-rumputan supaya hewan – hewan itu makan sekenyang-kenyangnya. Kemudian, kalian sembelih hewan-hewan itu tanpa menyebut nama Allah. Sungguh bodoh dan sesat kalian.”

Al-Khattab, ayah Umar bin Khottob, berdiri menghampiri Zaid, lalu ditamparnya Zaid. Kata Al-Khattab, “Kurang ajar kau! kami sudah sering mendengar kata-katamu yang kotor itu, namun kami biarkan saja. Kini kesabaran kami sudah habis!” Kemudian, dihasutnya orang-orang bodoh supaya menyakiti Zaid. Zaid benar-benar disakiti mereka dengan sungguh-sungguh sehingga dia terpaksa menyingkir dari kota Mekah ke Bukit Hira. Al-Khattab menyerahkan urusan Zaid kepada sekelompok pemuda Quraisy untuk menghalang-halanginya masuk kota. Karena itu, Zaid terpaksa pulang dengan sembunyi-sembunyi.

Dalam kisah lain disebutkan juga bahwa suatu hari Zaid bin Amr bin Nufail berkumpul ketika orang-orang Quraisy tengah bersama-sama dengan Waraqah bin Naufal. Abdullah bin Jahsy, Utsman bin Harits, dan Umaimah binti Abdul Muthallib, bibi Muhammad saw. Mereka berbicara tentang kepercayaan masyarakat Arab yang sudah jauh tersesat. Pada saat itu Zaid berkata, “Demi Allah! sesungguhnya Saudara-Saudara sudah maklum bahwa bangsa kita sudah tidak memiliki agama. Mereka sudah sesat dan menyeleweng dari agama Ibrahim yang lurus. Karena itu, marilah kita pelajari suatu agama yang dapat kita pegang jika Saudara-Saudara ingin beruntung.”

Keempat orang itu akhirnya pergi menemui pendeta-pendeta Yahudi, Nasrani, dan pemimpin-pemimpin agama lain untuk menyelidiki dan mempelajari agama Ibrahim yang murni. Waraqah bin Naufal akhirnya meyakini agama Nasrani sebagai agama yang dipegannya. Sementara Abdullah bin Jahsy dan Utsman bin Harits tidak menemukan apa-apa. Adapun Zaid bin Amr bin Nufail mengalami kisah tersendiri ketika sedang dalam pencarian agama tersebut. Zaid mempelajari agama Yahudi dan Nasrani. Tetapi, keduanya ditinggalkannya karena dia tidak memperoleh sesuatu yang dapat menenteramkan hati dan menjawab kegelisahan-kegelisahannya. Kemudian Zaidpun berkelana ke berbagai pelosok mencari agama Ibrahim. Ketika dia sampai ke negeri Syam, dia diberitahu tentang seorang Rahib yang mengerti ilmu kitab. Kemudian dia mendatangi sang Rahib untuk menceritakan kepadanya tentang kegelisahannya tentang agama nenek moyangnya serta pengalamannya dalam mempelajari agama Yahudi dan Nasrani.

Mendengar cerita dari Zaid, kemudian sang Rahib tersebut berkata: “Saya tahu engkau sedang mencari agama Ibrahim, hai putra Mekah?”, Zaid pun menjawab: “Betul, itulah yang saya inginkan.” Kemudia sang Rahib berkata: “Anda mencari agama yang dewasa ini sudah tak mungkin lagi ditemukan. Tetapi, pulanglah Anda ke negeri Anda. Allah akan membangkitkan seorang nabi di tengah-tengah bangsa Anda untuk menyempurnakan agama Ibrahim. Bila Anda bertemu dengan dia, tetaplah Anda bersamanya.”

Mendengar keterangan dari rahib tersebut, akhirnya Zaid berhenti berkelana dan dia memutuskan untuk kembali ke Mekah menunggu nabi yang dijanjikan. Ketika Zaid sedang dalam perjalanan pulang. Allah mengutus Muhammad menjadi nabi dan rasul dengan agama yang hak. Tetapi, Zaid belum sempat bertemu dengan beliau, dia dihadang perampok-perampok Badui di tengah jalan dan terbunuh sebelum ia kembali ke Mekah. Waktu dia akan menghembuskan napasnya yang terakhir, Zaid menengadah ke langit dan berkata, “Wahai Allah, jika Engkau mengharamkanku dari agama yang lurus ini, janganlah anakku Sa’id diharamkan pula daripadanya.”

Do’a Zaid inipun dikabulkan oleh Allah. Putra kesayangannya Said akhirnya menjadi seorang muslim bahkan menjadi pelopor dari keislaman orang-orang Quraisy lainnya. Sebagai seseorang yang dididik dari keluarga yang tidak mempercayai tradisi agama nenek moyangnya, tentu membuat Said begitu mudah untuk menjadi muslim begitu dia mendengar Nabi Saw menyerukan dakwah kepada agama kebenaran. Karenanya Said termasuk golongan orang yang pertama-tama masuk Islam. Dia mempercayai ajaran baru yang di bawa oleh seorang utusan Allah Muhammad Saw di saat banyak orang masih  meragukannya.

Masuknya Said kedalam Islam tidak lepas dari berbagai siksaan dari orang-orang kafir yang tidak rela kehilangan pengikut agama nenek moyangnya. Dia menyatakan dirinya sebagai seorang muslim bersama istrinya Fatimah binti Khattab, adik perempuan Umar bin Khattab, seorang pemuka Qurasiy yang pada saat itu sangat membenci ajaran baru yang dibawa oleh Muhammad. Said menjadi seorang muslim dalam usia 20 tahun. Dia tetap teguh dalam keimanannya ketika mengalami berbagai siksaan. Bahkan keteguhan Said bersama istrinya dalam meyakini ajaran agamanya telah meluluhkan hati Umar bin Khattab seorang yang mempunyai hati yang keras dan pada saat itu menjadi salah satu penghalang yang berat bagi dakwah Rosulullah Saw.

Said adalah seorang yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi kepentingan agamanya. Dia ikut serta dalam hijrah kaum muslimin baik hijrah ke negeri Habasya maupun hijrah ke Madinah. Dia juga selalu mengikuti peperangan pada masa Nabi Saw, kecuali perang Badar karena saat itu dia bersama Thalhah bin Ubaidillah mendapat tugas dari Rosulullah Saw untuk mengintai orang-orang Quraisy. Said juga ikut serta dalam salah satu perang terbesar dalam sejarah umat muslim yakni perang Yarmuk yang menggulingkan kekuasaan bangsa Romawi masa itu, dia juga mengikuti perang dalam menggulingkan kekuasaan Persia yang semuanya terjadi pada pemerintahan khalifah Umar bin Khattab. Said juga mengikuti perang dalam menaklukkan Damsyiq, bahkan Abu Ubaidah bin Jarrah mengangkat Sa’id bin Zaid menjadi wali di sana. Dialah wali kota pertama dari kaum muslimin setelah kota itu dikuasai.

Said juga seorang ahli ibadah yang doanya seringkali dikabulkan oleh Allah. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Bani Umayah, merebak suatu isu dalam waktu yang lama di kalangan penduduk Yatsrib terhadap Sa’id bin Zaid. Yakni, seorang wanita bernama Arwa binti uwais telah menuduh Sa’id bin Zaid merampas tanahnya dan menggabungkannya dengan tanah Said sendiri. Wanita tersebut menyebarkan tuduhannya itu kepada seluruh kaum muslimin, dan kemudian mengadukan perkaranya kepada Wali Kota Madinah, yang pada saat itu adalah Marwan bin Hakam. Marwan menerima pengaduan tersebut dan kemudian mengirimkan beberapa petugas kepada Sa’id untuk menanyakan perihal tuduhan wanita tersebut. Sahabat Rasulullah Saw ini merasa prihatin atas fitnah yang dituduhkan kepadanya itu.

Kemudian Sa’id berkata: “Dia menuduhku menzaliminya (meramapas tanahnya yang berbatasan dengan tanah saya). Bagaimana mungkin saya menzaliminya, padahal saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang mengambil tanah orang lain walaupun sejengkal, nanti di hari kiamat Allah memikulkan tujuh lapis bumi kepadanya. Wahai Allah! dia menuduh saya menzaliminya. Seandainya tuduhan itu palsu, butakanlah matanya dan ceburkan dia ke sumur yang dipersengketakannya dengan saya. Buktikanlah kepada kaum muslimin sejelas-jelasnya bahwa tanah itu adalah hak saya dan bahwa saya tidak pernah menzaliminya.”

Tidak berapa lama kemudian, terjadi banjir yang belum pernah terjadi seperti itu sebelumnya. Maka, terbukalah tanda batas tanah Sa’id dan tanah Arwa yang mereka perselisihkan. Sehingga kaum muslimin memperoleh bukti bahwa Sa’idlah yang benar, sedangkan tuduhan wanita itu adalah palsu. Hanya sebulan sesudah peristiwa itu, wanita tersebut menjadi buta. Ketika dia berjalan meraba-raba di tanah yang dipersengketakannya, dia pun jatuh ke dalam sumur.

Begitulah sosok seorang Said bin Zaid, salah satu sahabat Rosulullah Saw yang dijanjikan akan masuk surga. Dia meninggal dalam usia 73 tahun di Madinah pada tahun 51 H[1].


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Said_bin_Zayd_bin_Amru, http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-sahabat-nabi/said-bin-zaid-bin-amru-bin-nufail.html, http://sufiimaan.blogspot.com/2009/12/sahabat-said-bin-zayd-bin-amru-bilal.html, http://sunatullah.com/sahabat-nabi/sa%E2%80%99id-bin-zaid.html,

Add a comment April 15, 2010

24. Utsman bin Mazh’un

Ustman bin Mazh’un adalah salah satu sahabat Nabi Saw yang termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam. Dia termasuk cendekiawan Arab pada masa Jahiliyah. Sebagaimana sahabat Rosulullah lain, masuknya Utsman ke dalam ajaran Islam juga menuai siksaan dan penderitaan dari orang-orang kafir Quraisy. Karenanya ketika Rosulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk berhijrah ke Habasyah dalam rangka menghindari siksaan kaum kafir Quraisy yang semakin menjadi-jadi, berangkatlah Utsman dan putranya Said bin Utsman bersama rombongan para sahabat untuk melakukan hijrah pertama kaum muslimin. Bahkan Rosulullah meminta Utsman untuk menjadi pemimpin rombongan kaum muslimin yang berhijrah. Negeri Habasyah dipilih sebagai tempat berhijrah kaum muslimin karena meskipun Habasyah dipimpin oleh seorang raja yang beragama Nasrani yakni raja Negus, tetapi tidak ada orang yang dianiaya disitu, sehingga raja Neguspun dapat menerima kaum muslimin dengan baik.

Setelah mendengar isu bahwa kota Makkah sudah cukup aman bagi kaum muslimin, para sahabat yang telah lama meninggalkan kota Makkahpun ingin segera kembali ke kampung halaman mereka. Dengan  perasaan rindu yang tidak dapat dibendung, mereka meminta izin Raja Negus untuk kembali ke Makkah. Sesampai di kota Makkah, ternyata informasi yang mereka dengar tidak benar, orang-orang kafir justru semakin senang menyiksa, mereka seperti menemukan kembali buronan yang dicari-cari. Mereka memasang jebakan untuk menyambut kedatangan kaum muslimin ke Makkah. Sementara kaum  muslimin dalam kondisi yang lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa, sehingga siksaan demi siksaan diterima pengikut Rosulullah dengan lapang dada.

Kesulitan dan siksaan tersebut tidaklah dirasakan oleh Ustman karena dia telah mendapatkan jaminan dari pamannya Walid bin Mughirah, seorang tokoh Quraisy. Jaminan dari seorang tokoh memang sangat berpengaruh bagi kaum Quraisy masa itu. Perlindungan menjadi tradisi masyarakat Arab. Siapa pun dan seberapa rendah kelas seseorang, jika masuk dalam perlindungan tokoh waktu itu, mereka akan aman. Tidak boleh mendapat gangguan sekecil apa pun. Meski berada dalam perlindungan pamannya, tetapi Ustman merasa tidak nyaman melihat saudara-saudaranya sesama muslim mendapat perlakuan kasar, kekerasan dan siksaan dari kaum kafir Quraisy. Untuk itu, dia meminta kepada pamannya untuk melepas perlindungan atas dirinya, agar diapun dapat merasakan siksaan yang diterima oleh saudara-saudaranya yang seiman. Ustman berkata kepada pamannya: “Wahai Abu Abdi Syam (sebutan penghormatan bagi Walid bin Mughirah), sejak saat ini aku melepaskan perlindungan yang telah engkau berikan padaku. Karena aku tidak ingin mendapatkan perlindungan selain dari-Nya. Umumkanlah hal ini, seperti waktu engkau umumkan perlindungan atasku sebelumnya,” kata Utsman dengan suara lantang. Walid tak menyangka kemenakannya akan mengatakan itu. Kemudian Walidpun bertanya kepada keponakannya, “Mengapa wahai keponakanku?’ Mungkin ada salah seorang anak buahku yg mengganggumu?’, ‘Tidak’ ujar Utsman bin Mazh’un. ‘Hanya saja saya ingin berlindung kepada Allah dan tidak suka lagi kepada lain-Nya. Karenanya pergilah Anda ke masjid serta umumkanlah maksudku ini secara terbuka seperti Anda dahulu mengumumkan perlindungan terhadap diriku!”

Setelah Ustman dapat meyakinkan pamannya,  akhirnya mereka berdua pergi ke masjid, dan Walid mengumumkan kepada semua orang bahwa dia telah melepas perlindungannya atas Ustman bin Mazh’un. Tidak lama setelah Walid mengumumkan pelepasan perlindungan atas diri Ustman, Kaum Quraisy lantas berdatangan ke arahnya dan mulai menyiksanya. Utsmanpun menerimanya dengan lapang dada. Ia justru bangga karena ia kini menerima nasib sama dengan saudara-saudara seimannya. Ia nikmati siksaan demi siksaan itu bagaikan belaian. Siksaan demi siksaan diterimanya persis di depan sang paman. “Ayolah, Utsman, kalau kamu menghendaki keselamatan, masuklah ke dalam perlindunganku kembali.” Tetapi Utsman menolak tawaran itu. Dengan tenang ia berkata, “Mataku yang sehat ini memerlukan pukulan seperti yang telah dirasakan saudara-saudaraku seiman. Sebenarnya aku berada dalam perlindungan Allah, yang lebih kuat dari perlindungan yang bisa engkau berikan untukku.” Kemudian Ustman pulang ke rumahnya sambil mendendangkan sebuah pantun:

“Andaikata dalam mencintai ridla Ilahi
Mataku ditinju tangan jahil orang mulhidi
Maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Karena siapa yang diridhai-Nya pasti berbahagia
Hai ummat, walau menurut katamu daku ini sesat
Daku ‘kan tetap dalam agama Rasul, Muhammad
Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan agama yang haq
walaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena.”

Ketika Rosulullah Saw memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah, Utsmanpun ikut serta dalam hijrah tersebut. Di Madinah, Utsman bin Mazh’un menjadi sangat tekun dan rajin beribadah: malam harinya bagai rahib dengan ibadah shalat dan dzikirnya; siang harinya bagai pahlawan dengan berjuang membela kebenaran. Dia sangat dikenal dengan kezuhudannya dan tidak memikirkan kesenangan duniawi.

Suatu hari Ustman sedang masuk masjid dengan pakaian yang compang camping dan beberapa sobekan yang ditambal dengan kulit unta. Dia mendengar Rosulullah Saw sedang bercakap-cakap dengan para sahabat dan berkata kepada mereka: “Bagaimana pendapat Kalian, bila Kalian punya pakaian satu stel untuk pakaian pagi dan sore hari diganti dengan stelan lainnya … kemudian disiapkan di depan kalian suatu perangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya yang telah diangkat … serta kalian dapat menutupi rumah-rumah kediaman kalian sebagaimana Ka’bah bertutup?” Kemudian para sahabat menjawab: “Kami ingin hal itu dapat terjadi, wahai Rasulullah, hingga kita dapat mengalami hidup makmur dan bahagia!”, mendengar jawaban para sahabat kemudian Rasulullah sawpun bersabda: “Sesungguhnya hal itu telah terjadi, kemudian Kalian sekarang ini lebih baik dari keadaan Kalian waktu lalu.”

Mendengar ucapan yeng menginginkan kecukupan, Ustman tidak pernah terpengaruh, bahkan dia sangat istiqomah dengan kezuhudannya, sehingga saking zuhudnya, dia hendak menahan diri untuk menggauli istrinya sampai Rasulullah Sawpun memanggil dan menyampaikan kepadanya “Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak atas dirimu.”

Ustman adalah salah satu sahabat yang sangat dicintai oleh Rosulullah Saw. Pada saat dia sedang menghadapi detik-detik kematian menuju kehadapan sang khalik, Rosulullah Saw sempat membungkuk dan menciumnya dengan air mata yang membasahi kedua pipi beliau. Rosulullahpun bersabda: “Semoga Allah memberimu rahmat wahai Abu Saib..Kamu pergi meninggalkan dunia tak satu keuntungan pun yg kamu peroleh daripadanya serta tak satu kerugian pun yg dideritanya daripadamu.” Ustman meninggal dengan wajah yang memancarkan sinar dan senyuman pada tahun 2 Hijriyah (624 M). Dia adalah muhajirin pertama yang meninggal di Madinah dan sahabat Rosulullah yang pertama yang dimakamkan di baqi’.

Sepeninggal Ustman, Rosulullah Saw tidak pernah melupakan sahabatnya tersebut, bahkan ketika putrinya Rukayyah akan menghadap sang khalik, Rosulullah Saw berkata: : “Pergilah susul pendahulu hita yang pilihan. Utsman bin Mazh’un”[1].


[1] http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2009/12/utsman-bin-mazh.html, http://sunatullah.com/sahabat-nabi/utsman-bin -mazh%E2%80%99un.html, http://blog.re.or.id/utsman-bin-mazh-un.htm, http://id.wikipedia.org/wiki/Utsman_bin_Mazh%27un, http://abughifari.wordpress.com/2008/09/15/utsman-bin-mazhun/

Add a comment April 15, 2010

23. Bilal bin Rabah (Mutiara hitam bersuara emas)

Bilal ibn Rabah adalah seorang budak yang berasal dari Habasyah (sekarang disebut Ethiopia). Bilal dilahirkan di daerah Sarah kira-kira 34 tahun sebelum hijrah dari seorang ayah yang dikenal dengan panggilan Rabah. Sedangkan ibunya dikenal dengan Hamamah. Hamamah ini adalah seorang budak wanita yang berkulit hitam yang tinggal di Mekkah. Oleh karenanya, sebagian orang memanggilnya dengan nama Ibnu Sauda (Anaknya budak hitam).

Masa kecil Bilal dihabisakan di Makkah, sebagai putra dari seorang budak, Bilal melewatkan masa kecilnya dengan bekerja keras dan menjadi budak. Sosok Bilal digambarkan sebagai seorang yang berperawakan khas Afrika yakni tinggi, besar dan hitam. Dia menjadi budak dari keluarga bani Abduddar. Kemudian saat ayah mereka meinggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang yang menjadi tokoh penting kaum kafir.

Bilal termasuk orang yang teguh dengan pendiriannya. Ketika Rosulullah Saw mulai menyampaikan risalahnya kepada penduduk Makkah. Bilal termasuk golongan orang yang pertama-tama masuk Islam. Masuknya Bilal ke dalam ajaran Islam mengakibatkan penderitaan yang mendalam karena berbagai siksaan yang diterima dari majikannya. Apalagi sang majikan Umayyah bin Khalaf termasuk tokoh penting kaum kafir Quraisy. Siksaan yang diterima Bilal memang cukup berat, hal ini karena Bilal adalah seorang budak yang lemah dan tidak mempunyai kuasa apapun. Berbeda dengan para sahabat Nabi Saw yang lain seperti Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib yang mempunyai keluarga dan siap melindungi menghadapi ulah kaum kafir yang senantiasa mengganggu dan menghalangi kaum muslimin dengan berbagai cara.

Penyiksaan kaum kafir Quraisy terhadap para budak yang mustad’afin memang sangat kejam. Hal ini juga dirasakan oleh Bilal bin Rabah yang diperlakukan secara kejam oleh Umayyah bin Khalaf beserta para algojonya. Bilal dicambuk hingga tubuhnya yang hitam tersebut melepuh. Tetapi dengan segala keteguhan hati dan keyakinannya, dia tetap mempertahankan keimanannya meski harus menahan berbagai siksaan tanpa bisa melawan sedikitpun. Setiap kali dia dicambuk, dia hanya bisa mengeluarkan kata-kata: “ahad, ahad (Tuhan yangEsa)”. Tidak hanya sekedar dicambuk, kemudian Umayyahpun menjemur Bilal tanpa pakaian di tengah matahari yang sangat terik dengan menaruh batu yang besar di atas dadanya. Dengan segala kepasrahan, lagi-lagi Bilalpun hanya bisa berkata: “ahad, ahad”. Setiap kali menyiksa Bilal, Umayyah selalu mengingatkannya untuk kembali pada ajaran nenek moyang, dan Tuhannya Latta, Uzza, tetapi Bilal tidak pernah menyerah dengan keadaan. Dia tetap kukuh dan terus berkata: “ahad, ahad” setiap kali siksaan itu datang kepadanya. Semakin Bilal teguh dan kuat, semakin keras Umayyah menyiksa Bilal. Bahkan dia mengikatkan sebuah tali besar di leher Bilal lalu menyerahkannya kepada orang-orang bodoh dan anak-anak. Umayyah menyuruh mereka untuk membawa keliling Bilal ke seluruh perkampungan Mekkah serta menariknya ke seluruh dataran yang ada di kota tersebut.

Akhirnya Allah mengakhiri siksaan demi siksaan yang dialami oleh Bilal melalui Abu Bakar al-Shiddiq. Suatu hari, disaat Bilal kembali disiksa oleh majikannya Umayyah, Abu Bakar sedang lewat tidak jauh dari tempat penyiksaannya. Melihat hal tersebut, Abu Bakar bermaksud membeli Bilal dari Umayyah bin Khalaf. Lalu Umayyahpun meninggikan harganya karena ia menduga bahwa Abu Bakar tidak akan mampu untuk membayarnya.

Namun Abu Bakar mampu membayarnya dengan 9 awqiyah dari emas. Umayyah berkata kepada Abu Bakar setelah perjanjian jual-beli ini usai: “Kalau engkau tidak mau mengambil Bilal kecuali dengan 1 awqiyah emas saja, pasti sudah aku jual juga.” Kemudian Abu Bakar menjawab: “Jika engkau tidak mau menjualnya kecuali dengan 100 awqiyah, pasti aku akan tetap membelinya!”

Begitu Abu Bakar As Shiddiq memberitahukan Rasulullah Saw bahwa dia telah membeli Bilal dan menyelamatkannya dari tangan penyiksa, maka Nabi Saw bersabda: “Libatkan aku dalam pembebasannya, wahai Abu Bakar!” As Shidiq lalu menjawab: “Aku telah membebaskannya, ya Rasulullah.”

Begitulah akhirnya Bilalpun menjadi seorang yang merdeka dan selamat dari siksaan sang majikan. Kebebasannya menjadikan Bilal seorang yang semakin taat mengikuti ajaran agama Allah dan rosulnya. Ketika Rosulullah Saw berhijrah ke Madinah. Bilalpun turut serta berhijrah ke Madinah untuk menjauhi siksaan kaum kafir Quraisy Makkah. Dia mengabdikan diri sepanjang hidupnya kepada Rosul yang sangat dicintainya. Dia menjadi pengikut Rosul yang setia dan selalu mengikuti setiap peperangan yang terjadi pada masa itu. Bahkan dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana akhirnya Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf mantan majikannya tewas di tangan pedang kaum muslimin.

Ketika Rosulullah Saw selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal bin Rabah ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam. Bilalpun menjadi Muadzin tetap pada masa Rosulullah Saw. Suaranya yang begitu merdu sangat menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Rosulullahpun sangat menyukai suara Bilal. Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Ketika Rosulullah Saw akan menaklukkan kota Makkah, Bilalpun berada di samping beliau. Saat Rasulullah Saw memasuki Ka’bah, Beliau hanya didampingi oleh 3 orang saja, mereka adalah: Utsman bin Thalhah sang pemegang kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid orang kesayangan Rasulullah dan anak dari orang kesayangan Beliau Zaid bin Haristah, serta Bilal bin Rabah sang muadzin Rasulullah Saw. Kemudian Rosulullah Saw menyuruh Bilal untuk naik di atas ka’bah dan menyerukan kalimat tauhid. Bilal menyerukan adzan dengan suara yang keras dan menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya. Ribuan leher manusia melihat ke arah Bilal. Ribuan lisan manusia yang mengikuti ucapan Bilal dengan hati yang khusyuk.

Pada suatu hari, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid. Begitulah sosok Bilal, dia selalu berada di belakang Rosulullah dalam kondisi apapun. Kecintaannya terhadap Rosulullah Saw pernah membuatnya terbuai dalam mimpi bertemu dengan Rosul sepeninggal beliau. Dalam mimpinya itu, Rasulullah Saw berkata kepada Bilal: “Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu,” Kemudian Bilalpun menjawab: “Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium harum aroma tubuhmu,” kata Bilal masih dalam mimpin-ya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu. Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal bin Rabah segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan nabi junjungannya.

Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Sehingga kaum muslimin yang mendengarnya ikut larut dalam tangisan pilu. Karena itulah kemudian Bilal memohon kepada Abu Bakar, sang khalifah yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.” Kemudian Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”. Mendengar jawaban Abu Bakar, Bilalpun segera menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.” Akhirnya Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama. Pada saat itu khalifah Umar bin Khattab baru saja menerima kunci kota Yerussalem. Dalam pertemuan tersebut khalifah Umar bin Khattab meminta kepada Bilal untuk mau mengumandangkan adzan dan akhirnya Bilalpun mau menuruti permintaan sang khalifah. Mendengar Bilal menyuarakan adzan, kaum musliminpun merasa sangat terharu, bahkan Umar tidak dapat menahan dirinya untuk tidak menangis tersedu-sedu. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. BiIal adalah pengumandang seruan langit itu.

Peristiwa tersebut merupakan adzan terakhir yang diperdengarkan oleh suara merdu dan syahdu Bilal bin Rabah di hadapan kaum muslimin. Bilal tetap tinggal di Damaskus hingga akhir hayatnya. Menjelang kematiannya untuk menghadap sang Khalik, Bilal seringkali mengucapkan kata-kata secara secara beulang-ulang, kata tersebut adalah:

“Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya
Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya”

Demikianlah kisah seorang Bilal, keteguhan, ketegaran dan keyakinannya akan ajaran kebenaran, telah mengangkat derajadnya dan menjadikannya seorang mulia di sisi Allah dan rosulnya meskipun dia berasal dari seorang budak hitam yang hina dan fakir. Sebuah kisah teladan bagi kita semua[1].


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Bilal_bin_Rabah, http://www.kaunee.com/index.php?option=com_content&view=article&id=249:bilal-bin-rabah&catid=100:riwayat-tokoh&Itemid=140, http://permai1.tripod.com/bilal.html, http://abihumaid.wordpress.com/2008/06/18/bilal-bin-rabah-al-habasyi-wafat-20-h641-m/, http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=310, http://ja-jp.facebook.com/notes/biografi-ulama/kisah-sahabat-bilal-bin-rabah-rodhiallu-anhu-/10150094065860602,

1 komentar April 15, 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.