Posts filed under: ‘diary pesantren‘




Memori di kelas V

Hari ini adalah hari pertamaku duduk di kelas lima (kelas dua aliyah). Tidak terasa ternyata sudah lima tahun aku tinggal di pesantren ini, artinya aku sudah berada di titik ujung dari perjalananku belajar di pesantren selama 6 tahun, ya..tinggal satu langkah lagi aku berada disini.

Kelas lima menjadi salah satu tingkat yang paling penting bagi setiap santriwati di pesantren, karena semua aktifitas seluruh santriwati  di pesantren ini sangat ditentukan oleh kami santriwati kelas lima. Semua ini karena kelas lima adalah pemegang kendali kepengurusan tertinggi dalam struktus organisasi santriwati. Pertengahan tahun ajaran baru di kelas lima biasanya kami semua dilantik menjadi pengurus baru menggantikan kakak-kakak pengurus lama. Kepengurusan dalam organisasi santriwati di pesantren ini memang berbeda dengan kepengurusan OSIS di sekolah luar, kepengurusan OSWAH mencakup semua aktifitas santriwati sehari-hari, sehingga banyak sekali bidang dalam kepengurusan. Mulai dari bagian keamanan, bagian penggerak bahasa, bagian penerangan, bagian pengajaran, bagian koperasi, bagian dapur, bagian kafetaria, bagian penerima tamu, bagian olahraga, bagian kebersihan, bagian kesehatan, perpustakaan, ketrampilan serta fotografi. Mereka semua bekerja 24 jam untuk melayani para santriwati. Bagian keamanan misalnya mereka bertugas untuk mendisiplinkan para santriwati yang harus menjalankan sholat lima waktu di masjid. Bagian keamanan akan mengotrol ke setiap kamar untuk memastikan bahwa tidak ada santriwati yang sholat di kamar. Bagian keamaan juga mengontrol para santriwati yang tidak sholat (mengalami datang bulan). Sebagai bagian keamaanan tingkat pusat dibantu para pengurus rayon, bagian keamanan sesekali melakukan sidak bagi para santriwati jangan sampai mereka mengaku datang bulan hanya karena malas untuk sholat di masjid. Sidak ini dilakukan dengan mengontrol data siapa saja yang telah datang bulan. Karena bagi mereka yang datang bulan harus terdata di pengurus rayon dengan melaporkan kapan mereka mulai datang bulan dan kapan mereka selesai. Dengan demikian bagi yang tidak terdata siap-siap saja diperiksa dan diinterogasi bahkan terkena sanksi. Untuk mempermudah dalam mengontrol santriwati yang datang bulan, bagi para santriwati yang terdata namanya karena datang bulan akan diberikan pin khusus yang dipakai selama masa datang bulan. Pin kecil ini bergambar bunga mawar yang harus selalu dipasang pada jilbab yang dipakai. Sehingga dengan menggunakan pin ini akan mudah ketahuan siapa yang memang datang bulan dan siapa yang tidak, setelah masa datang bulan selesai, mereka harus melaporkan kembali kepada pengurus rayon setempat sembari mengembalikan pin kepada pengurus. Aturan ini memang cukup unik dan mungkin tidak pernah didapatkan di pesantren-pesantren yang lain, tetapi pemberlakuan aturan ini cukup manjur untuk membuat para santriwati disiplin dalam melaksanakan sholat di masjid. Bagian keamanan adalah bagian yang paling ditakuti setelah bagian penggerak bahasa. Hal ini dikarenakan bagian keamanan merupakan pengendali para santriwati untuk selalu berdisiplin. Ada motto bagian keamanan yang tertulis besar di kantor keamanan yakni “Biar santriwati kabur karena tidak tahan disiplin asalkan jangan sampai santriwati kabur dengan kesan pesantren tidak disiplin”. Disiplin, disiplin dan disiplin adalah hal yang paling penting diterapkan dan selalu didengungkan di telinga para santriwati di pesantren ini dan bagian keamananlah yang menjadi tonggaknya.

Sementara teman-teman yang bertugas di bagian penerangan bertugas sebagai pemberi pengumuman dan informasi melalui pengeras suara yang akan terdengar seantero pesantren. Di kamar pengurus bagian penerangan memang sudah terpasang sound system yang mempermudah mereka memberikan pengumuman apapun selama 24 jam, segala macam pengumuman harus melalui bagian penerangan. Pengumuman apapun selalu dibacakan dalam bahasa arab atau inggris. Selain bertugas membacakan pengumuman, bagian penerangan juga bertugas membawahi majalah bulanan santriwati serta majalah dinding tiap-tiap rayon yang selalu dipasang setiap hari jum’at secara bergantian. Karenanya mereka biasanya dipilih karena memang punya kecenderungan dalam bidang jurnalistik. Bagian penerangan juga bertugas untuk memperdengarkan musik-musik yang bisa didengar oleh seluruh santriwati pada jam-jam tertentu. Biasanya musik-musik tersebut diperdengarkan pada jam-jam makan, pada saat sore hari setelah pulang sekolah, ataupun pada momen-momen tertentu seperti pada saat hari libur jum’at, pada saat kerja bakti dan lain sebagainya. Musik yang diperdengarkanpun berbeda-beda sesuai suasana. Ketika makan pagi biasanya musik-musik yang ceria sehingga menambah semangat para santriwati yang akan memulai aktifitas pagi, pada saat makan siang hari biasanya diperdengarkan musik-musik pop, baik Indonesia maupun barat, saat makan malam biasanya diperdengarkan musik-musik arab ataupun nasyid. Khusus pada hari kamis ketika akan memulai aktifitas pramuka, maka yang diperdengarkan adalah lagu-lagu pramuka. Yah..meski sebagai santriwati terkadang kami merasa seperti robot yang selalu tepat waktu dalam hal apapun dengan disiplin yang tinggi, tetapi dengan musik-musik yang diperdengarkan di sela-sela aktifitas kami, setidaknya dapat melonggarkan otot-otot yang tegang sehingga dapat menjalani hari-hari yang penuh dengan aktifitas tinggi dengan hati yang senang.

Sementara itu bagian koperasi dan kafetaria, mereka bertugas untuk menjaga dan mengurus koperasi dan kafetaria. Mereka mengurus barang-barang dagangan yang datang serta mendata keluar masuknya keuangan dengan baik untuk nantinya dilaporkan kepada yayasan di setiap bulannya. Barang-barang yang diperdagangkan biasanya sudah ada yang memasok. Sementara untuk kafetaria, biasanya makanan dan minuman yang diperdagangkan dipasok dari masyarakat yang tinggal di sekitar pesantren. Ada beraneka macam makanan mulai dari somay, bakso, serta jajanan-jajanan yang lainnya. Kalau bagian dapur, mereka bertugas untuk membagi-bagikan lauk para santriwati dengan mengecek kartu makan terlebih dahulu. Bagian pengajaran bertugas untuk mendisiplinkan para santriwati agar tidak sampai terlambat masuk ke dalam kelas. Selain itu mereka juga berhak untuk memukul jaros yang menunjukkan kapan harus masuk kelas, harus istirahat dan harus masuk kelas kembali. Semua kegiatan belajar mengajar, kegiatan ekstra kulikuler serta kegiatan apapun di dalam pesantren sangat tergantung kepada pengurus OSWAH. Meski semua bagian dalam kepengurusan dibawah bimbingan langsung para ustadzah tetapi pelaksana dan pengotrol kegiatan belajar mengajar serta kegiatan ekstrakulikuler para santriwati ditentukan oleh para pengurus ini. Para ustadzah pembimbing hanya berfungsi sebagai penasehat serta penghubung yang akan melaporkan segala sesuatunya kepada pengasuh dan pimpinan pesantren. Jadi para ustadzahpun dibagi menjadi beberapa bagian untuk membawahi setiap bagian dari pengurus Oswah, ada ustadzah bagian koperasi, bagian penerima tamu, bagian pengajaran dan lain sebagainya. Para ustadzahlah yang kemudian melaporkan segala sesuatunya kepada pengurus yayasan.

Selain pengurus OSWAH ada juga pengurus koordinator pramuka, yang juga terdiri dari beberapa bagian, andalan koordinator urusan latihan, urusan kedai pramuka, urusan perlengkapan dan dokumentasi, koordinator pangkalan dan lain sebagainya. Aku sendiri menjabat sebagai salah satu koordinator pramuka urusan latihan. Kegiatan kepramukaan yang membuatku senang dan aktif di dalamnya mengantarkanku sebagai salah satu pengurus pramuka. Sebagai pengurus pramuka, kami bertanggungjawab atas segala sesuatu menyangkut kegiatan kepramukaan. Kamipun juga bertanggungjawab untuk menyiapkan para kontingen, jika mendapatkan undangan untuk perlombaan di bidang kepramukaan. Kami bersama ustadzah bidang kepramukaan juga menyeleksi para santriwati yang akan mewakili pesantren. Selain itu kami juga menyiapkan para kontingen yang terpilih dengan berbagai latihan, mulai dari latihan baris-baris berbaris, latihan pionering, latihan dalam hal P3K, latihan dalam membuat tenda dalam waktu yang sangat singkat, serta mempersiapkan hal-hal teknis lainnya yang juga menyangkut berbagai perlombaan yang akan dilombakan dalam perkemahan nanti. Semuanya dipersiapkan dengan baik sehingga tidak heran jika kontingen dari pesantren ini selalu mendapatkan juara dalam berbagai even kepramukaan.

Hampir setiap tahun pesantren mendapat undangan untuk berbagai even kepramukaan baik di tingkat kabupaten, propinsi maupun tingkat nasional. Mulai dari LT 1(Lomba tingkat 1 untuk tingkat kecamatan) hingga jambore daerah untuk tingkat propinsi dan jambore tingkat nasional yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali, bahkan pesantren juga pernah mendapatkan undangan untuk mewakili Indonesia dalam jambore pramuka tingkat dunia.

Ada momen yang paling mengesankan terkait dengan bidang kepramukaan bagi kami santriwati kelas lima. Di awal kelas lima, semua santriwati kelas lima wajib mengikuti cadika atau dikenal dengan KMD (Kursus Mahir Dasar). Cadika atau KMD ini adalah tahapan yang wajib dilalui dari seorang pramuka tingkat penegak untuk menjadi seorang pembina pramuka. Hal ini karena semua santriwati kelas lima akan menjadi pembina bagi pangkalan masing-masing. Tidak hanya itu, dengan sertifikat resmi yang dikeluarkan oleh kwartir cabang sebagai seorang pembina pramuka, kami bisa menjadi pembina pramuka dimanapun kami berada. KMD ini dilaksanakan selama kurang lebih sepuluh hari. Setiap hari diisi dengan berbagai materi kepramukaan yang nantinya akan diberikan kepada para anggota pramuka. Pemateri dalam KMD ini berasal dari kakak-kakak kwartir cabang setempat.

Dua minggu sebelum KMD dilaksanakan, semua santriwati kelas lima dikumpulkan oleh kakak-kakak koordinator pramuka. Semua santriwati kelas lima dibagi dalam empat kelompok yang namanya hampir mirip-mirip, yakni widya wiwaha, widya wiyaha, widya wiraha dan widya wisaha. Masing-masing kelompok harus menyiapkan diri untuk mengikuti cadika, karenanya kesibukan mulai dirasakan di tiap-tiap kelompok sebelum mulai hari H. Mulai dari menyiapkan umbul-umbul, memesan slayer dan topi dengan warna yang khas dari kelompok masing-masing dan tidak lupa menyiapkan berbagai yel-yel dan lagu-lagu penyemangat untuk kelompok. Aku sendiri termasuk dalam kelompok III widya wiraha yang juga didaulat untuk menjadi koordinator kelompok.

Hari-hari ini memang cukup disibukkan dengan berbagai persiapan cadika, sehingga pekerjaan utama sebagai seorang pelajar untuk belajar agak sedikit terbengkalai. Hafalan-hafalan serta beberapa PR menjadi pekerjaan nomor dua untuk dikerjaan. Tiap sore kami mengadakan perkumpulan di markas, tempat yang kami sebut markas adalah jemuran di atas lantai tiga gedung arrohmah. Setiap kelompok pasti punya markas, untuk menyimpan segala perlengkapan dan atribut yang akan dipakai oleh kelompok. Di sana kami  bertemu, bermusyawarah, mengumpukan ide-ide kreatif dan menyiapkan segala sesuatunya untuk cadika. Setiap kelompok dituntut untuk selalu kreatif dan kompak. Karenanya kami membuat berbagai macam atribut dengan warna khas. Kebetulan kami memilih warna merah dan hijau metalik untuk warna kelompok. Perpaduan kedua warna yang mencolok itu sengaja kami pilih untuk memudahkan dalam koordinasi karena dengan warna yang mencolok akan kelihatan mudah mencari ketika ada anggota kelompok yang terpisah. Selain itu warna yang mencolok juga akan mudah dilihat oleh kakak-kakak pembina sehingga mereka akan melihat kekompakan dan aktifitas kami. Semua atribut, mulai dari slayer, topi, bendera hingga sampul buku semuanya berwarna merah dan hijau metalik. Ya..karena cadika atau KMD adalah kursus mahir dasar, maka meski tidak harus berada di dalam ruangan, tetapi waktu kami banyak digunakan untuk diisi berbagai macam teori dan materi kepramukaan, sehingga kami harus menyediakan buku khusus untuk mencatatnya. Materi-materi kepramukaan tersebut akan kami berikan kepada para anggota pramuka jika kami sudah berhasil melewati KMD dan kemudian dilantik menjadi seorang pembina.

Selama sepuluh hari kegiatan ini berlangsung, lima hari berada di dalam pesantren dan lima hari berada di bumi perkemahan. Pagi, siang dan malam diisi dengan materi-materi kepramukaan, mulai dari sejarah pendiri pramuka, bapak pandu dunia Boden Powell hingga materi tentang sejarah kepramukaan di Indonesia, dari materi tentang makna lambang pramuka hingga materi tentang keIndonesiaan, patriotisme serta persoalan-persoalan lingkungan. Semuanya ada di pramuka dan KMD. Ya..sekali lagi pramuka tidak hanya sekedar persoalan tali-temali, P3K, maupun baris berbaris tetapi pramuka banyak mengajarkan tentang berbagai hal termasuk kemandirian hidup, keluasan dalam berfikir serta kecintaan terhadap tanah air.

Hari ini adalah hari Jum’at, aku dan beberapa teman izin untuk pergi ke kota ponorogo. Aku akan pergi ke kota Ponorogo untuk belanja segala macam keperluan kelompok, mulai dari memesan topi dan slayer hingga membeli berbagai keperluan untuk dibawa ke bumi perkemahan. Semuanya memang harus kami persiapkan jauh-jauh hari, karena ketika hari H cadika sudah dimulai, tidak mungkin lagi kami menyiapkan segala sesuatunya termasuk yang akan dibawa ke bumi perkemahan. Terus terang selama lima tahun tinggal di pesantren, ini adalah kali kedua aku keluar dari pesantren untuk sekedar jalan-jalan ke Ponorogo pada hari jum’at. Kedua kali aku izin keluar pesantrenpun karena memang ada keperluan-keperluan tertentu bukan karena alasan pribadi yang ingin jalan-jalan. Aku termasuk orang yang tidak suka memanfaatkan libur hari jum’at untuk jalan-jalan ke Ponorogo, karena disamping tidak punya uang, aku lebih suka memanfaatkan libur rutin seminggu sekali untuk aktifitas pribadi seperti mencuci, menjemur kasur serta beristirahat, karena hari-hari yang lain sangat padat dengan berbagai aktifitas, sehingga tidur siang menjadi sangat langka dan hanya bisa dilakukan pada hari Jum’at. Meski demikian aku tidak merasa bosan tinggal di pesantren. Karena banyaknya kegiatan yang ada, serta kondisi pesantren yang bagiku sendiri membuatku betah dan merasa nyaman di dalamnya.

Sampai di ponorogo aku segera pergi ke tempat tujuan, yakni berbelanja untuk keperluan kelompok, membeli kertas-kertas sampul, membeli beberapa gabus, cat, tali untuk hiasan di tenda perkemahan, serta beberapa barang-barang lain yang diperlukan. Setelah itu tanpa membuang banyak waktu aku segera kembali ke pesantren.

Hari H cadika telah tiba, kami semua telah mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari persiapan pribadi hingga persiapan untuk kelompok. Karena cadika akan berlangsung selama sepuluh hari, akupun telah mempersiapkan beberapa potong baju pramuka dan berikut kaos kaki dan sepatu hitam. Aku telah meminjam kepada kakak kelas dan adek kelas karena aku hanya punya satu stel baju pramuka. Ya..selama berhari-hari itu kami dituntut untuk memakai baju pramuka lengkap dengan berbagai atributnya, mulai lambang tunas kelapa dan bunga melati lambang bagi anggota pramuka putri yang dipasang di kedua sisi leher baju pramuka, dasi pramuka merah putih, papan nama dan lambang pramuka pesantren yang dipasang pada jilbab, serta tidak lupa kaos kaki dan sepatu hitam. Semuanya harus lengkap tanpa terkecuali. Atribut-atribut ini akan diperiksa setiap saat oleh kakak-kakak pembina, dan jika ada satu atribut yang tidak dipakai, maka tentu saja akan ada hukuman serta menjadi cacatan bagi kelompoknya dan akan masuk daftar pelanggaran. Belum lagi atribut kelompok yang juga harus dipakai karena menunjukkan kekompakan tiap-tiap kelompok, yakni topi dan slayer yang di pasang pada bagian leher di luar jilbab. Bisa dibayangkan, semua hal-hal kecil yang dipakai ini tentunya membutuhkan kerepotan tersendiri karena banyaknya atribut yang harus dipakai.

Setelah makan pagi, kami langsung berkumpul di tiap-tiap kelompok. Kebetulan kelompokku berkumpul di depan panggung. Disana aku mulai memimpin untuk memberikan semangat dengan yel-yel yang telah kami buat. Begitu juga dengan kelompok lain. Suasana memang sangat meriah. Setelah selesai adu yel-yel kami bersiap-siap untuk mendengarkan bunyi sirine dari kakak pembina. Sirine yang berbunyi selama kurang lebih tiga menit itu adalah tanda bagi kami untuk melakukan booking. Booking sebenarnya adalah absensi ala cadika yang cukup unik yakni dengan memasukkan kartu kehadiran ke dalam tempat yang telah disediakan oleh kakak pembina. Kami harus mencari dimana kakak pembina yang membawa tempat absensi itu ke seantero pondok dalam waktu singkat sesuai dengan bunyi sirine. Biasanya akan ada dua kakak pembina yang satu membawa tempat untuk absensi sedang yang satu lagi yang membawa spanduk yang bertuliskan nama kelompok. Tidak jarang juga terjadi salah masuk tempat absensi kelompok lain, hal ini karena nama-nama kelompok yang sengaja dibuat mirip satu sama lain, apalagi tulisan dalam spanduk juga sengaja dibuat sedikit artistik sehingga tidak bisa membacanya kecuali dengan jarak yang agak dekat. Jika dalam waktu kurang lebih tiga menit itu kami tidak bisa memasukkan kartu kedalam tempatnya, maka tentu saja akan ada hukuman yang menanti.

Pagi itu, setelah sirine berbunyi, secara serentak kami semua langsung berlari mencari tempat untuk memasukkan kartu absensi. Kami selalu berlari bersama anggota kelompok, tujuan pertama kami adalah gedung kartini, karena di depan gedung tersebut ada sebuah pohon beringin tua yang biasanya menjadi tempat yang sangat strategis untuk bersembuyi. Sampai disana kami memang mendapati kakak pembina yang membawa tempat absensi tetapi tanpa spanduk yang berarti ini adalah salah satu trik mereka yang akan mengecoh kami yang berada dalam kondisi panik, kemudian kami berlari ke arah gebung fujiyama, gedung yang berada disebelah taman dan berdampingan dengan gedung koperasi, tetapi disana kami tidak mendapati apapun. Setelah itu spontan kami berlari menuju kearah masjid dimana disebelahnya terdapat taman, disana kami mendapati kakak pembina tetapi membawa spanduk yang bertuliskan nama kelompok lain. Akhirnya kami berlari menuju ke arah panggung, tempat kami berkumpul sebelum dilaksanakan booking pagi ini dan ternyata disana telah berdiri kakak pembina dengan membawa spanduk bertuliskan “widya wiraha” ya itu adalah nama kelompok kami. Dengan segera kami memasukkan kartu kedalam tempat yang telah disediakan. Banyak teman-teman yang terjatuh karena berebut untuk memasukkan kartu dengan cepat, ada juga beberapa teman yang telah memasukkan kartu tetapi kartu tersebut jatuh tidak pada tempatnya, bahkan tidak sempat memasukkannya karena suara sirine telah berhenti tanda booking telah selesai.

Tidak lama kemudian, terdengar nama-nama dipanggil di depan kantor panitia untuk siap mendapatkan hukuman karena tidak berhasil memasukkan kartu absensi kedalam tempat yang telah disediakan. Ada beberapa teman dalam kelompokku yang juga yang dipanggil untuk menerima hadiah dari kakak pembina. Hukuman yang diberikan sebenarnya lebih hanya sekedar untuk menguatkan mental. Ada yang disuruh baca puisi cinta di depan monas, (monas adalah tugu kecil yang berada di depan masjid, tempat banyak orang berlalu lalang), ada yang disuruh membaca koran sambil dilagukan, ada yang disuruh menyebutkan dasa darma pramuka dalam bahasa arab dan inggris tanpa teks. Sementara beberapa teman-teman sedang mendapatkan hukuman, yang lain mempersiapkan diri di dalam ruangan yang telah disediakan untuk mendapatkan materi KMD.

Dalam sehari booking dilaksanakan hingga tiga kali setelah selesai makan pagi, siang dan malam. Setelah dilakukan booking baru kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi. Booking menjadi salah satu kegiatan yang seru selama cadika. Tidak hanya itu, selama cadika ketika kami dipanggil oleh kakak pembina dalam waktu dan kondisi apapun, kami harus segera datang memakai seragam pramuka lengkap dengan atributnya. Hal ini membuat kami selalu memakai baju pramuka lengkap setiap saat kecuali saat tidur pada malam hari. Setiap dipanggil oleh kakak pembina selalu disertai dengan hitungan, jika sampai pada hitungan kesepuluh yang dipanggil masih belum menghadap, maka jangan ditanya pasti bakal ada hukuman menanti. Persis seperti tradisi militer yang sangat disiplin, hanya bedanya hukuman yang diberikan kepada kami lebih pada hukuman yang bersifat menguatkan mental dan bukan hukuman fisik. Hal-hal seperti ini sekali lagi yang membuat cadika semakin seru dan menjadi kenangan yang tidak mungkin dapat dilupakan.

Setelah lima hari mendapatkan materi kepramukaan di pesantren, kini tiba saatnya untuk mengikuti kegiatan KMD di alam terbuka, yakni di bumi perkemahan. Senangnya…akhirnya kami dapat menghirup udara di luar pesantren. Kali ini perkemahan dilaksanakan di desa Gandu kurang lebih 4 km dari pesantren, di sebuah lapangan yang luas di tengah desa, di sekeliling lapangan terdapat kebun-kebun pisang milik warga, sehingga suasana menjadi segar. Sehari sebelum keberangkatan ke bumi perkemahan, semua ketua kelompok dikumpulkan oleh kakak pembina untuk mendapatkan kaos baru yang akan dipakai dalam perjalanan. Tahun ini kami mendapatkan kaos dengan warna orange dan hitam. Warna yang cukup mencolok, apalagi untuk orang berkulit hitam seperti diriku, bisa dibayangkan kalau memakai kaos dengan warna-warna yang mencolok. Tetapi semua harus disyukuri, yang penting aku bisa menjalankan aktifitas dengan enjoy dan senang.

Pagi itu, kami semua diberangkatkan ke bumi perkemahan dengan berjalan kaki, kami berbaris persangga, yang setiap sangga berisi sepuluh anggota. Sangga adalah nama lain dari regu, kelompok terkecil dalam pramuka, jika regu digunakan bagi satuan terkecil anggota pramuka penggalang, maka sangga digunakan bagi satuan terkecil anggota pramuka penegak. Selama perjalanan menuju ke bumi perkemahan, kami berusaha untuk selalu berjalan serapi mungkin, dengan berbaris dan memegang tongkat pramuka. Tidak jarang di tengah jalan kami berteriak-teriak menyanyikan yel-yel untuk menambah semangat para anggota kelompok. Segala gerak-gerik kami selalu diawasi dan dinilai oleh kakak pembina. Sehingga kami selalu berusaha untuk menjaga semangat dan kekompakan anggota kelompok dan berharap akan menjadi kelompok terbaik dalam KMD tahun ini.

Sampai di bumi perkemahan kami langsung disambut oleh kakak-kakak pembina. Setelah lapor kepada kakak panitia, kami mendapatkan petunjuk tempat dimana kami harus mendirikan tenda. Begitu sampai pada tempat yang telah disediakan, aku dan beberapa teman segera mendirikan tenda. Dua orang memegang sisi kanan tenda, dan dua orang memegang sisi kiri tenda, sementara satu orang di depan dan di belakang tenda untuk menyambungkan bambu yang dimasukkan ditengah tenda dengan tongkat yang menjadi penyangganya. Setelah bambu dan tongkat telah tersambung dengan tali, baru kemudian dipasang patok-patok untuk memperkuat tenda. Patok yang berada di setiap pojok depan dan belakang di pasang terlebih dahulu, baru kemudian patok yang ada di sisi depan belakang dan samping di pasang. Setelah tenda berdiri, kami baru memasang tikar dan memasukkan tas-tas serta perlengkapan kami kedalam tenda. Selain itu tenda juga kami hias agar kelihatan cantik, di dalam tenda disekat dengan menggunakan jilbab atau kain panjang, sehingga ketika pintu tenda dibuka akan terlihat seperti rumah yang disekat dengan korden. Di bagian depan kami hiasan dengan meletakkan boneka, jam weker, serta barang-barang lainnya untuk mempercantik tenda, hal ini juga dilakukan oleh teman-teman yang lain dengan tendanya. Setelah selesai dengan urusan  mendirikan tenda, aku dan beberapa teman bersiap untuk membuat gapura dengan menggunakan tongkat. Gapura tersebut didirikan di depan kelima tenda yang merupakan tenda teman-teman dalam satu kelompok. Teman-teman dari kelompok lain juga mendirikan tenda, sehingga ketika masuk ke dalam area perkemahan seolah-seolah akan memasuki sebuah kompleks perumahan. Dalam satu kompleks akan terdapat sebuah gapura yang didalamnya terdiri dari beberapa tenda.

Setelah gapura yang terbuat dari tongkat sudah jadi, tidak lupa kami memasang bendera kelompok di tengah-tengahnya dan bendera segitiga kecil merah putih yang kami memasukkan kedalam benang terlebih dahulu  sebelum dipasang di sisi kanan dan sisi kiri. Setelah bendera dipasang barulah gapura didirikan dengan menggunakan patok. Setelah gapura berdiri, kemudian di bagian tengah, kami memasang nama kelompok yang terbuat dari gabus yang diberi cat warna khas kelompok yakni hijau dan merah metalik. Sementara itu di bagian kaki gapura, kanan dan kiri, kami memasang dua tampah dari bambu yang ditempel kertas emas warna merah hijau bertuliskan angka tiga yang menunjukkan bahwa kami adalah kelompok tiga. Akhirnya gapura tersebut dapat diselesaikan dengan cepat karena membuat pionering seperti itu memang sudah menjadi hal yang biasa, sehingga tidak ada kesulitan bagi kami.

Selesai membuat gapura, kamipun langsung membuat hiasan lain untuk mempercantik area perkemahan, dengan membuat taman dan kolam-kolam buatan. Kolam-kolam buatan tersebut terbuat dari gabus yang diberi cat berwarna merah, dipasang diatas batu-batuan yang didalamnya diberi plastik terlebih dahulu, sehingga air yang akan dimasukkan tidak akan terserap oleh tanah. Sementara taman-taman dibuat dengan kulit padi yang sebelumnya di cat berwarna hijau, sehingga terkesan seperti rumput yang diatasnya diletakkan beberapa pot bunga serta hiasan lainnya. Semuanya telah kami persiapkan jauh-jauh hari sebelum kegiatan ini dilakukan. Bisa dibayangkan juga perjalanan kurang lebih 4 km dengan berjalan kaki dari pesantren menuju bumi perkemahan dengan membawa berbagai perlengkapan seperti itu, cukup menguras tenaga.

Setelah semua selesai, barulah kami bersiap diri untuk persiapan pribadi sholat dhuhur dan makan siang. Sholat dhuhur tetap dilakukan secara berjamaah sedangkan untuk makan selama di bumi perkemahan telah disediakan oleh panitia. Pada dasarnya semua aktifitas sehari-hari tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan di dalam pesantren, hanya tempat yang membedakannya. Sementara untuk kamar mandi selama di bumi perkemahan, dibuat kamar mandi darurat yang terbuat partisi dengan pancuran yang terbuat dari pipa panjang yang dihubungkan dengan sumur, semuanya serba darurat. Selain itu di dalam tenda meski tidak senyaman  di dalam kamar karena hanya beralaskan tikar dengan bantal tas-tas ransel yang kami bawa, tetapi suasana yang berbeda menjadikan suasana tetap seru dan asyik.

Melewati kegiatan KMD di bumi perkemahan memang sangat menyenangkan karena berada di ruang terbuka. Selain tetap diberikan materi kepramukaan, ada beberapa kegiatan menyenangkan lainnya yang pasti ada saat ajang kepramukaan, yakni penjelajahan atau wade game dan malam api unggun pada malam terakhir yang kemudian dilanjutkan renungan malam pada dini harinya.

Berbagai perlengkapan untuk penjelajahan telah kami persiapkan sejak pagi hari, mulai dari papan jalan untuk mempermudah kita dalam menulis dan mengerjakan tugas-tugas pada setiap pos, alat-alat tulis, buku saku pramuka, untuk membantu memecahkan sandi-sandi yang meski sudah hafal di luar kepala terkadang masih ada yang terlupa, tongkat dengan bendera kecil yang menunjukkan nama sangga, tongkat ini sangat membantu jika kami harus melewati sungai, kemudian tidak lupa kami juga membawa bekal dalam perjalanan berupa minum air putih dan beberapa jenis snack.

Penjelajahan kali ini dimulai dari bumi perkemahan dengan petunjuk semaphore pada awalnya. Semua peserta wade game berkumpul dalam satu area untuk melihat kode semaphore dari kakak pembina. Kode petunjuk dari bendera semaphore ini sangat cepat, sehingga bagi yang tidak hafal pasti akan merasa kesulitan. Setelah selesai maka kami menuliskan apa yang telah diberikan melalui bendera semaphore di atas selembar kertas kemudian kami segera memberikan kepada kakak pembina. Ini merupakan tugas kami di pos pertama, jika kami cepat mengerjakannya, maka otomatis kami akan segera diberangkatkan menuju pos berikutnya. Menghadap kakak pembina dimulai dengan sikap hormat ala militer dan laporan dari pemimpin sangga, kemudian barulah kami diberikan tugas kami. Setelah itu biasanya kakak pembina akan memberikan sedikit nasehat dan segera memberangkatkan kami yang juga diakhiri dengan sikap hormat yang dipimpin oleh ketua sangga. Begitu seterusnya, setiap datang di pos yang baru, kami harus melaporkan kepada kakak pembina, memberikan tugas yang diberikan dari pos sebelumnya, dan meminta tugas baru yang akan diberikan pada pos yang baru di datangi.

Perjalanan kali ini ditempuh dengan melewati tiga pos lagi. Selama perjalanan kami selalu bernyanyi, bertepuk tangan untuk menambah semangat dan menghilangkan rasa lelah. Tidak jarang ketika sampai di perempatan atau di pertigaan kami bingung mencari petunjuk arah, karena kakak pembina selalu memberikan petunjuk di tempat yang tersembunyi, seperti di balik pohon, di atas ranting kecil, atau dengan di pagar bagian bawah. Tapi kami semua adalah anggota pramuka yang sudah sangat terlatih, jadi hal-hal seperti itu adalah hal yang kecil yang pasti akan dapat kami selesaikan.

Setelah sampai pada pos kedua, ternyata kami adalah sangga pertama yang sampai di pos ini. Karena kami tidak mendapati teman-teman yang lain berada disitu. Seperti biasa kami segera melapor kepada kakak pembina dan mendapatkan tugas untuk mengerjakan tugas yang akan diberikan kepada kakak pembina yang ada di pos selanjutnya. Sebelum kembali berangkat menuju pos selanjutnya, kami disuruh berkumpul dengan satu kakak pembina, disana mata kami ditutup, setelah itu kami disuruh mencium bau dari benda-benda yang diberikan kemudian menyebutkan namanya. Beberapa benda tersebut diantaranya kunyit, kencur, bawang putih, jahe, dan masih banyak lagi. Cukup sulit bagi kami untuk membedakan bau dari bumbu-bumbu dapur tersebut, karena sepertinya mirip sekali. Setelah selesai melatih penciuman, baru kami di berangkatkan ke pos berikutnya.

Sepanjang perjalanan menuju pos tiga, kami tetap melaluinya dengan semangat, sesekali kami berhenti untuk menikmati pemandangan yang sangat indah di sawah dan di pinggir-pinggir sungai kecil sambil mengerjakan tugas yang harus diselesaikan selama perjalanan untuk diberikan kepada kakak pembina di pos selanjutnya. Kami juga melewati bukit kecil yang jika melihat kebawah sungguh akan terlihat pesona alam indah dan mengagumkan. Tugas yang di berikan kali ini adalah memecahkan beberapa pertanyaan yang ditulis dengan sandi rumput. Tulisan dalam sandi rumput ini memang perlu dibaca dengan jeli, karena perbedaan antara satu huruf dengan huruf yang lain sangat tipis. Akhirnya tugas tersebut selesai kami kerjakan sebelum sampai pada pos tiga.

Sampai di pos tiga, kami segera lapor dan memberikan tugas sandi rumput. Di pos tiga ini kami akan lama berada disitu karena pos tiga adalah pos halang rintang. Ada beberapa halang rintang yang harus kami lalui disana, mulai berjalan dengan kaki satu, merangkak di dalam kawat-kawat berduri dan ban-ban yang telah disediakan dan lain sebagainya. Setelah selesai melewati halang rintang kami diberikan snack dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan ke pos terakhir.

Dari pos tiga menuju pos terakhir kami masih harus mengerjakan tugas yang harus diberikan kepada kakak pembina pada pos terakhir. Tugas tersebut ditulis dengan sandi paku. Kali ini kami disuruh membuat cerita menarik selama perjalanan wadegame berlangsung. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di salah satu gubuk di pinggir sawah untuk mengerjakan tugas tersebut hingga selesai sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus. Tidak kurang dari 20 menit kami mengerjakan tugas sambil beristirahat disitu, kemudian kami segera meneruskan perjalanan dengan segera. Kami berharap akan menjadi sangga pertama yang sampai di bumi perkemahan. Segera kami melangkahkan kaki dengan semangat meski jam menunjukkan pukul 11 siang. Suasana memang cukup terik karena matahari hampir berada di tengah-tengah bumi tetapi karena kami melakukan perjalanan dengan ceria, maka kami tidak pernah merasa kelelahan.

Akhirnya sampai juga kami pada pos terakhir yakni di bumi perkemahan. Tetapi sayang ternyata kami bukanlah sangga pertama yang sampai terlebih dahulu. Ada beberapa sangga yang telah datang sebelumnya. Setelah memberikan laporan dan memberikan tugas, kamipun segera bubar dan menuju ke tenda masing-masing untuk melakukan aktifitas pribadi, makan dan sholat dhuhur.

Setelah melewati berbagai kegiatan selama lima hari, tidak terasa hari ini adalah dari terakhir kami berada di bumi perkemahan.  Berbagai persiapan dilakukan untuk pesta api unggun nanti malam sebagai tanda akhir dari semua kegiatan cadika atau KMD. Persiapan tidak hanya dilakukan oleh kakak-kakak pembina, tetapi juga oleh para peserta KMD karena kami disuruh untuk menampilkan atraksi terbaik dari tiap-tiap kelompok.

Acara  api unggun berlangsung dengan meriah. Saat api dinyalakan kami semua bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu “api kita sudah menyala, api kita sudah menyala, api, api, api, api, api kita sudah menyala” kemudian kami semua berdiri mengelilingi api dengan bergandeng tangan dan bersama-sama menyanyikan lagu syukur. Suasana menjadi sangat syahdu di tengah malam yang gelap yang hanya disinari oleh nyala api dengan taburan bintang dan cahya rembulan. Setelah selesai menyanyikan lagu syukur acara dilanjutkan dengan  pembacaan dasa darma pramuka oleh adik-adik penggalang. Sebanyak dua puluh orang pasukan penggalang berlari dengan serentak mengelilingi api unggun. Mereka datang dari dua arah yang berbeda dan bertemu di sekeliling api unggun sambil membawa obor. Setelah berhenti di tempat masing-masing dan mengucapkan salam pramuka, dengan serentak mereka berteriak secara bersama-sama “Dasa darma pramuka, pramuka itu” kemudian satu persatu menyebutkan sepuluh darma pramuka, setelah selesai mereka kembali menyebutkan dasa darma tetapi dalam bahasa Inggris. Setelah selesai membacakan dasa darma dalam bahasa Inggris kemudian dilanjutkan dengan dasa darma dalam bahasa arab. Kemudian setelah itu memberi salam dan berlari satu putaran mengelilingi api unggun sebelum akhirnya kembali ke tempat semula.

Setelah pembacaan dasa darma pramuka, acara dilanjutkan dengan atraksi dari setiap kelompok, kemudian dilanjutkan dengan pesan dan kesan selama mengikuti KMD sebelum akhirnya ditutup secara resmi oleh pimpinan pesantren. Setelah acara api unggung telah usai, kami semua segera bergegas ke tenda masing-masing untuk beristirahat.

Malam ini adalah malam terakhir kami tinggal di bumi perkemahan, malam yang pasti berbeda dengan malam sebelumnya, karena biasanya akan ada renungan malam. Oleh karena itu kami semua bersiap-siap baik persiapan mental maupun persiapan lainnya. Aku menginstruksikan kepada semua anggota kelompok untuk tidur dengan baju pramuka lengkap dengan kaos kaki dan sepatu. Karena biasanya pada malam terakhir kami akan dibangunkan secara mendadak dan dalam waktu lima menit harus sudah berada dilapangan menggunakan pakaian pramuka lengkap segala atributnya. Bisa dibayangkan kalau kami tidak mempersiapkan diri sebelum tidur dan harus memakai pakaian pramuka lengkap dari jilbab hingga sepatu hitam dan kaos kaki, tentunya akan kesulitan karena penerangan yang apa adanya di dalam bumi perkemahan. Pengalaman selama berkemah di pesantren selama ini telah membuatku paham dengan apa yang harus kami lakukan.

Aku sendiri pernah mengalami kebingungan pada saat pertama kali berkemah di pesantren. Saat itu aku mengikuti perkemahan dalam rangka khutbatul ‘Arsy untuk mewakili pangkalan 08. Karena aku belum pernah mengikuti kegiatan renungan malam sebelumnya. Saat itu aku tidak mempersiapkan diri dan ketika kakak-kakak pembina membangunkan semua peserta perkemahan di tengah malam, aku dan teman-teman dalam satu tenda sangat kaget dan bingung. Kemudian kakak pembina meminta kami semua untuk berkumpul di lapangan dalam hitungan kesepuluh. Alhasil banyak dari kami yang tidak memakai pakaian lengkap. Ada yang memakai sepatu kiri semua, ada yang pakai sepatu tetapi tidak memakai kaos kaki dan lain sebagainya. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi aku pribadi ketika mengikuti perkemahan.

Seperti yang sudah diprediksi, malam ini kami semua dibangunkan oleh kakak pembina untuk berkumpul di lapangan. Aku dan teman-teman satu kelompok langsung pergi menuju lapangan tanpa harus bersibuk-sibuk ria memakai atribut dan seragam pramuka. Setelah kakak pembina memeriksa atribut kami, mereka memberi pengarahan. Kemudian kami disuruh berjalan sesuai dengan rute yang telah diberikan. Satu persatu kami harus berjalan sendiri dengan di beri jarak sekitar dua meter antara satu sama lain. Sehingga tidak akan terjadi diantara kami saling mengobrol, yang ada nyali dan mental kami diuji dengan berjalan di tengah-ditengah pohon-pohon, melewati semak belukar, terkadang juga harus melewati sungai kecil. Tidak seperti biasanya kali ini kami tidak harus menutup mata, mata kami dibiarkan terbuka lebar untuk melihat apa yang ada disekeliling. Meski dalam hati aku sendiri merasa agak takut, apalagi ketika melewati jalan setapak dengan pohon-pohon yang rimbun di sebelah kanan kiri, sementara angin malam menyapu dengan sepoi-sepoi menebarkan hawa dingin di tengah malam yang gelap serta ikut menggoyangkan daun-daun pada pohon-pohon yang dilalui dan seolah menambah kesan seram, tetapi aku yakin ada kakak-kakak pembina disekitar kami yang senantiasa memantau segala kondisi meski kami tidak melihatnya. Sehingga aku tidak mungkin sendirian, karenanya jika terjadi apa-apa mereka akan menolong. Dengan keyakinan seperti itu aku tidak merasakan takut sama sekali. Setelah hampir dua puluh menit berjalan, sampailah ke sebuah lapangan kecil. Disebelah pojok lapangan terdapat dua pohon beringin besar, kemudian akupun berjalan melewati beringin tersebut. Disana aku sudah melihat beberapa kakak pembina di depan sebuah pemakaman besar di sebelah pohon beringin tersebut. Sebelum memasuki area pemakaman mereka menyuruhku untuk membasuh muda dengan air yang telah disediakan, sehingga mau tidak mau mata tidak akan bisa mengantuk dan harus melihat apa yang ada disekeliling. Akupun dibimbing untuk masuk ke area pemakaman, di sana beberapa teman sudah ada yang datang duluan. Akupun dipersilahkan untuk duduk di depan salah satu makam. Sambil menunggu semua teman-teman masuk area pemakaman, aku membuka permen yang kebetulan ada di dalam saku celana, untuk mengusir rasa takut yang tiba-tiba datang. Ya..meskipun semua peserta cadika masuk ke area pemakaman, tetapi kami tetap tidak boleh bersuara dan kami semua duduk di depan makam dengan berjarak, sehingga tidak memungkinkan bagi kami untuk saling bicara. Rasa takutku tiba-tiba datang ketika melihat gundukan tanah makam yang sepertinya masih basah, tidak jauh dari tempatku duduk. Sementara jarak sekitar satu meter setengah di belakangku terdapat tempat keranda. Aku berusaha untuk memejamkan mata agar bisa tidur tetapi ketika mata terpejam rasa takut itu semakin bertambah, karena berbagai fikiran aneh yang berkecamuk di kepala. Akhirnya aku kembali membuka mata dan melihat teman-teman yang tidak jauh dari tempatku. Mereka semua menundukkan kepala, aku tidak tahu apakah menundukkan kepala merupakan ekspresi dari rasa takut mereka, atau malah karena mereka mengantuk dan tertidur.

Setelah semua masuk di dalam area pemakaman, akhirnya dua dari kakak pembina membacakan puisi tentang kematian, mereka membaca puisi saling bersahut-sahutan  dengan suara yang cukup dapat menghentakkan dada. Tidak jarang beberapa orang dari kami ikut menangis terharu mendengarkan mereka berpuisi. Setelah selesai membacakan puisi, salah satu ustadzah memberikan tausyiah dan masehat kepada kami semua. Intinya mengingatkan kami untuk selalu berbuat kebaikan, karena setiap manusia yang hidup pasti akan mengalami kematian yang tentunya akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama di dunia. Setelah tausyiah selesai, kemudian dilanjutkan dengan do’a bersama dan akhirnya acara renungan malampun telah selesai.

Jam sudah menunjukkan waktu hampir shubuh, sehingga menghantarkan kami untuk langsung mengambil air wudhu dan bersiap untuk sholat shubuh berjamaah. Setelah sholat shubuh, acara dilanjutkan dengan berolah raga, setelah itu baru makan dan bersiap-siap untuk mengikuti upacara penutupan KMD.

Upacara penutupanpun dilaksanakan, senang rasanya akhirnya kegiatan KMD ini dapat berjalan dengan lancar, haru karena kegiatan ini harus berakhir karena banyak sekali hal-hal seru, lucu dan menyenangkan kami lakukan selama kegiatan ini berlangsung. Dengan mengikuti KMD, akhirnya kamipun resmi menjadi seorang pembina pramuka dan bukan lagi seorang anggota pramuka penegak. Di akhir upacara penutupan, panitia mengumumkan kelompok terbaik selama KMD. Akhirnya kelompokku “widya wiraha” berhasil menjadi kelompok terbaik. Selama kegiatan, kami memang terlihat sangat kompak dalam hal apapun. Kami jarang melakukan pelanggaran, dan yang lebih penting lagi kami selalu disiplin dalam melakukan segala aktifitas, baik dalam kegiatan kepramukaan maupun dalam aktifitas pribadi seperti sholat berjama’ah. Sebagai ketua kelompok akupun maju ke depan untuk menerima bendera kemenangan dan hadiah untuk dibagikan kesemua anggota kelompok.

Setelah semua selesai, akhirnya kami semua berbenah diri untuk perjalanan kembali ke pesantren. Tenda-tenda, gapura, pagar-pagar buatan, semuanya dibongkar dan dibersihkan. Lapangan kembali bersih seperti saat pertama kali kami datang. Setelah berkemas-kemas, akhirnya kami pulang kembali ke pesantren dengan berjalan kaki. Meskipun sudah selesai kegiatan, kami tetap harus berjalan dengan berbaris sesuai sangga masing-masing. Sehingga tetap terlihat rapi dan tidak memenuhi jalan raya, hingga akhirnya sampai ke pesantren.

Sampai di pesantren, akupun langusng pergi menuju kamar, dan tanpa harus berlama-lama duduk untuk melepas lelah, aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan, berganti pakaian, dan langsung tidur.

Berbagai kenangan ketika kami kelas lima memang tidak pernah kami lupakan, kelas lima memang menjadi pengendali dari seluruh aktifitas santriwati. Tidak hanya aktifitas belajar mengajar, tetapi juga aktifitas ekstra kulikuler serta event-event besar pesantren. Mulai dari kegiatan muhadloroh, pramuka, hingga aktifitas rutin sehari-hari santriwati mulai dari sholat lima waktu di masjid, olahraga, memberikan mutarodifat (kosakata bahasa arab) dan vocabularies (kosakata dalam bahasa Inggris) setiap harinya hingga kepanitiaan dalam event besar pesantren, di mulai dari tahun ajaran baru yakni khutbatul ‘Arsy, bazar oswah dan bazar akbar, ulang tahun pesantren yang biasanya selalu mengadakan berbagai event besar, hingga panitia KMD dan khutbatul wada’, semua ditangani oleh kami kelas lima. Meski para ustadzah juga berperan penting dalam membimbing kami, tetapi kami selalu dilibatkan dalam segala hal terutama dalam hal teknis acara.

Berada di kelas lima seolah berada dalam puncak tertinggi, hal ini karena di kelas kami tidak lagi bergelut dalam organisasi. Di kelas enam, kami hanya difokuskan pada belajar dan kegiatan khusus kelas enam. Aku sendiri heran, bisa melewati berbagai aktifitas yang sangat padat di luar aktifitas kami sebagai pelajar yang banyak membutuhkan perhatian, tenaga dan pikiran yang tidak sedikit. Tetapi ternyata kami bisa melewati semua dengan baik. Tidak ada lagi waktu kami yang tersisa untuk hal-hal yang tidak berguna, semuanya berjalan penuh makna. Lagi-lagi semua adalah pembelajaran, karena belajar tidak hanya melalui buku atau selalu berada di ruang kelas. Kapanpun dan dimanapun kami bisa belajar, karena kami juga belajar tentang hidup, belajar untuk selalu menghargai waktu, belajar untuk selalu siap mengorbankan diri demi kepentingan umum dan masyarakat yang lebih luas.

Begitulah kehidupan pesantren, semua hal membuat kami selalu merasa belajar dan belajar serta mengambil hikmah dari apa yang telah kami lakukan. Meski kadang merasa terpaksa, tertekan bahkan terampas waktu kami sebagai remaja untuk bersenang-senang sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para remaja pada umumnya, tetapi kami yakin apa yang telah kami lakukan adalah bekal dan fondasi yang akan mengantarkan kami pada kehidupan selanjutnya. Jika saat itu kami tidak menyadari akan manfaatnya, maka suatu saat kelak kami pasti akan tahu dan merasakannya.

Add a comment Desember 24, 2010

Ujian Lisan

Hari ini adalah hari tenang. Biasanya para santriwati  pada jam-jam segini sudah pada antri untuk beli jajanan di kafetaria, tapi hari ini berjalan biasa saja, tidak ada antrian disana sini. Ya..begitulah kalau sedang musim ujian lisan. Setiap semester di pesantren ini selalu diadakan ujian lisan. Ujian lisan diadakan sebelum ujian tulis selama kurang lebih seminggu. Setiap santriwati mendapatkan jatah untuk ujian lisan dua kali yakni untuk mata pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Arab. Ujian lisan dalam bahasa Inggris meliputi speaking, reading, grammar, vocabularies dan kata2 mutiara dalam bahasa Inggris. Sedangkan untuk ujian lisan bahasa arab, mata pelajaran yang diuji meliputi muhaddatsah (percakapan), mahfudhot (kata-kata mutiara), mutholaah (cerita) serta nahwu dan shorof (tata bahasa). Semua mata pelajaran yang telah diuji dalam ujian lisan itu tetap akan diujikan dalam ujian tulis. Karenanya untuk beberapa mata pelajaran yang telah diujikan dalam ujian lisan akan mempermudah kami pada ujian tulis nantinya.

Ujian yang diadakan sebelum ujian tulis ini diawali dengan seremonial upacara di hari pertama. Dalam upacara ini biasanya dibuka oleh ibu pengasuh atau bapak direktur yang intinya memberikan berbagai wejangan kepada kami sebelum menghadapi ujian. Upacara ini diikuti oleh seluruh santriwati ini biasanya diadakan di depan masjid kebanggaan kami “masjid al-Marzuqoh”. Para ustad dan ustadzah berdiri di teras masjid, sementara para santriwati berdiri di halaman masjid hingga monas (tugu kecil yang berada di halaman masjid). Upacara ini hanya berlangsung sekitar setengah sampai satu jam. Setelah upacara selesai, para santriwati membubarkan diri dan mulai mencari tempat ujian masing-masing. Biasanya ujian dilaksanakan sesuai dengan urutan nama-nama absen di kelas. Urutan nama-nama ini bisa dari atas dan bisa dari urutan bawah dan para ustadz dan ustadzah yang akan menguji biasanya akan menempelkan nama-nama yang akan diuji hari itu. Bagi yang tidak mendapatkan giliran untuk ujian hari ini, maka akan mendapat giliran pada hari berikutnya.

Jika musim ujian tiba, suasana pesantren memang lain. Dimana-mana para santriwati membawa buku sambil sesekali terlihat mulutnya bergerak-gerak menghafalkan sesuatu. Di pojok-pojok masjid, di taman-taman, di bawah pohon, bahkan di pojok-pojok jemuran akan didapati para santriwati yang asyik dengan bukunya. Pada masa ujian seperti ini aktifitas ekstrakulikuler memang terhenti sama sekali, sehingga waktu terasa lebih longgar dan tidak di kejar-kejar oleh sang jaros. Hanya saja kewajiban untuk sholat lima waktu di masjid yang tidak mungkin berhenti. Para santriwati juga tidak harus tidur pada jam setengah sepuluh malam seperti hari-hari biasanya. Mereka bebas untuk tidur kapan saja di musim ujian. Hanya saja untuk bangun pagi jam empat tetap diwajibkan untuk bangun.

Di musim ujian seperti ini, rutinitaskupun berubah. Aku lebih suka untuk tidur lebih awal dan bangun di tengah malam. Terkadang aku bangun bangun disaat bel untuk untuk tidur terdengar atau bangun jam 12 malam dan belajar hingga waktu shubuh tiba. Pada jam-jam itu, suasana pesantren lebih sepi, meski tetap terlihat beberapa santriwati yang masih lalu lalang dan belajar hingga larut. Pada saat itu adalah saat yang paling baik bagiku untuk menghafal. Aku bisa menghafal dengan suara keras-keras tanpa ada yang mengganggu.

Setelah jaros shubuh terdengar, maka akupun segera menutup buku dan bergegas mengambil air wudhu untuk kemudian sholat shubuh. Baru setelah sholat shubuh, aku memejamkan mataku untuk mengganti jam tidurku yang sedikit kacau hingga jaros untuk makan tiba. Setelah makan baru kemudian aku mandi, pada saat-saat ujian lisan seperti inilah aku baru bisa merasakan mandi agak siang tanpa mengantri, seperti hari-hari libur. Karena pada hari-hari biasa aku biasa bangun sebelum jaros sholat shubuh jam empat berbunyi untuk mengantri mandi, karena antrian mandi setelah sholat shubuh akan semakin panjang, sehingga waktu yang paling aman untuk mandi pagi adalah pada jam 3 hingga jam 4 pagi.

Setelah mandi, akupun bergegas untuk pergi ke kelas tempat ujian lisan berlangsung. Aku melihat-lihat jadwal, kapan aku akan mendapat giliran untuk diuji secara lisan. Jika melihat teman-teman yang sudah diuji hari kemaren, kemungkinan hari ini aku akan mendapat giliran untuk ujian lisan. Kebetulan nama absensiku berada di urutan tengah, sehingga jarang sekali aku mendapat giliran ujian lisan pada hari pertama.

Siang hari akupun kembali ke kelas untuk melihat giliran ujian lisan, dan ternyata memang hari ini aku mendapatkan giliran ujian lisan bahasa arab. Akupun segera kembali ke kamar dan mempersiapkan diri, memakai baju seragam sekolah lengkap dengan sepatu, pin dan tidak lupa papan nama. Sembari menunggu giliran untuk dipanggil, akupun membuka kembali buku-buku yang telah aku pelajari tadi malam untuk mengulang kembali hafalan-hafalan. Kini giliran aku untuk masuk ke ruang ujian. Meski sudah terbiasa dengan ujian lisan, tetapi rasa deg-degan selalu saja timbul ketika akan memasuki ruangan. Sebelum masuk ke dalam ruangan, akupun mengucapkan salam dari depan pintu. Setelah dijawab dan dipersilahkan masuk, barulah aku masuk ke dalam ruangan. Disana sudah ada dua orang ustadzah yang duduk berdampingan dan siap untuk mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Seperti biasanya, sebelum memasuki pertanyaan tentang pelajaran,, di awal pertanyaan aku akan ditanya nama, nomor ujian, asal daerah, aktifitas sehari-hari, hobi, hingga latar belakang keluarga serta pengalaman-pengalaman lainnya. Hal ini adalah cara untuk menguji percakapan dalam bahasa arab. Setelah itu akupun ditanya tentang pelajaran mahfudzot (kata-kata mutiara dalam bahasa Arab). Pelajaran mahfudzot adalah salah satu pelajaran favorit sebagian besar santriwati. Di kelas para ustadzah mengajarkan dengan semangat, kami harus berteriak-teriak untuk menirukan para ustadzah menyampaikan kata-kata mutiara, seperti man jadda wa jada (barang siapa bersungguh-sungguh pasti ia dapat), lan tarji’a ayyamulladzi madzot (tidak akan kembali hari yang telah lalu), dan lain sebagainya. Semakin tinggi kelas, maka kata-kata mutiara yang diberikan juga semakin panjang. Kata-kata mutiara tersebut tidak hanya memberi semangat dalam diri kami semua karena cara mengajar para ustadzah, tetapi juga memberi semangat hidup karena maknanya yang mendalam. Kata-kata mutiara tersebut menjadi petunjuk dalam perjalanan kami selanjutnya terutama setelah keluar dari pesantren ini.

Setelah menguji pelajaran mahfudhot, para ustadzah mengujiku dengan pelajaran muthola’ah. Muthola’ah adalah pelajaran yang berisi tentang cerita-cerita dalam bahasa arab. Cerita-cerita dalam bahasa arab tersebut tidak hanya mengajarkan hikmah yang ada di dalamnya. Tetapi dengan cerita-cerita tersebut, kami juga dilatih untuk memahami teks arab serta menceritakan kembali cerita-cerita tersebut dengan bahasa kami sendiri. Pelajaran muthola’ah adalah pelajaran di pondok yang sangat seru. Karena para ustadzah selalu menceritakan isi cerita dalam buku muthola’ah dengan intonasi dan ekspresi yang sangat baik. Sehingga meski dijelaskan dalam bahasa arab, kami tidak mengalami kesulitan untuk memahami arti dan maknanya. Baik mahfudhot maupun muthola’ah adalah sama-sama pelajaran yang menyenangkan dan dijamin tidak mengantuk di dalam kelas. Dalam ujian lisan kali ini, aku disuruh untuk menceritakan kembali cerita tentang al-Asadu wal fa’ru (singa dan tikus), seekor singa yang dikenal sebagai raja hutan dan selalu ditakuti oleh seluruh penghuni hutan terperangkap dalam sebuah jaring seorang pemburu dan akhirnya diselamatkan oleh seekor tikus yang kecil tetapi mempunyai gigi yang tajam sehingga dapat membuka jaring-jaring pemburu dengan gigi runcingnya. Cerita ini memberikan pelajaran bahwa sekecil dan selemah apapun makhluk yang ada di bumi ini, mereka tetap mempunyai kelebihan tersendiri sehingga kita tidak boleh sombong dan meremehkan siapapun yang dianggap lebih rendah atau lebih lemah karena bisa jadi suatu saat akan membutuhkannya. Dengan cukup lancar akupun dapat menceritakan kembali cerita tentang singa dan tikus dalam bahasa arab tanpa ada kesulitan berikut maksud dan hikmah dari cerita tersebut.

Setelah menguji pelajaran muthola’ah, ustadzah mengujiku dengan pelajaran nahwu. Pelajaran nahwu adalah pelajaran tata bahasa arab. Kapan satu kata dalam bahasa arab itu harus berharokat fathah, dhommah atau sukun, atau dhomir apa yang seharusnya harus dipakai, semua ada dalam pelajaran nahwu. Akupun disuruh untuk menyebutkan suatu kaidah tertentu dalam bahasa arab dan memberikan contoh-contohnya. Setelah itu ustadzah juga menyuruhku untuk mengi’rab salah satu kalimat panjang dalam bahasa arab. I’rab adalah menerangkan secara detail tata bahasa dalam kalimat bahasa arab berikut alasan-alasannya. Sedikit menemui kesulitan aku menjawab pertanyaan dalam pelajaran ini, tapi alhamdulillah secara umum aku bisa melaluinya dengan lancar. Setelah hampir 45 menit di dalam ruangan ujian, akhirnya akupun dipersilahkan untuk keluar. Tidak lupa aku mengucapkan salam sebelum meninggalkan ruang kelas. Ucapan salam akan dinilai sebagai salah satu adab sopan santun, sehingga jangan sampai lupa mengucapkan salam kepada para ustadzah pada saat masuk dan keluar ruang ujian.

Satu ujian lisan telah terlewati, kini aku tinggal mempersiapkan ujian lisan selanjutnya yakni ujian bahasa Inggris. Di tengah perjalanan dari ruang kelas menuju kamar, aku bertemu dengan teman sekelas Rina. Melihatku Rina langsung menghampiri dan mengatakan bahwa aku mendapat giliran untuk ujian bahasa inggris sore ini. Dengan setengah kaget, aku langsung membalik arah menuju ruang tempat ujian lisan bahasa Inggris dilaksanakan. Di depan ruang ujian, namaku tertera di urutan ketiga. Tanpa sempat membuka buku kembali, akupun mempersiapkan diri untuk masuk ke ruangan, karena sebentar lagi aku akan dipanggil untuk masuk ke ruang ujian. Tidak seperti biasanya, ternyata ujian lisan kali ini dimulai dari urutan tengah nama-nama absen. Hal ini membuatku merasa tidak siap menghadapinya, tapi apa boleh buat hari ini aku harus menghadapi dua ujian sekaligus dalam satu hari.

Panggilan dari dalam ruang ujianpun terdengar, akupun masuk ke dalam ruang kelas dan tidak lupa mengucapkan salam. Setelah diawali dengan obrolan pembuka dalam bahasa Inggris, para ustadzah mulai fokus mencecarku dengan materi pelajaran bahasa Inggris yang selama satu semester ini aku pelajari di kelas. Dimulai dari reading, aku disuruh membaca sebuah cerita dalam bahasa inggris dan menjelaskan kembali isi cerita tersebut dengan bahasa inggris sendiri. Setelah menguji reading, akupun ditanya tentang grammar yang ada dalam reading tersebut. Pertanyaan yang agak sulit bagiku karena pelajaran bahasa inggris baru aku temui di pesantren ini. Sementara pelajaran bahasa arab, aku telah memperolehnya di madrasah ibtidaiyyah dan madrasah diniyyah sebelum aku sekolah di pesantren ini, sehingga lebih mudah untuk menangkap pelajaran bahasa arab daripada bahasa inggris.

45 menit aku berada di ruang ujian serasa berjam-jam. Hal ini karena aku kurang mempersiapkannya. Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu telah tiba. Ujian lisan bahasa Inggris telah selesai dan akupun dipersilahkan untuk keluar ruang ujian. Perasaan lega sekaligus kecewa menyelimuti karena aku tidak merasa puas dengan jawaban-jawaban yang aku berikan dalam ujian, lega karena apapun hasilnya aku telah melewati ujian lisan. Kini masih ada waktu beberapa hari guna mempersiapkan ujian tulis dan untuk memperbaiki nilai ujian lisan terutama mata pelajaran bahasa inggris.

Meski ujian tulis masih akan dilaksanakan minggu depan, tetapi aku tetap harus mempersiapkannya mulai sekarang. Hari tenang memang dirasa seperti hari libur, tetapi hari-hari itu selalu aku pergunakan untuk belajar dan belajar. Tidak waktu yang aku sia-siakan. Sambil mengantri mandi dan mencuci akupun memanfaatkannya untuk membuka buku. Dimanapun aku berada tidak lupa selalu membawa buku. Aku memang tipe anak rajin, karena aku menyadari tanpa kerja keras belajar dan rajin aku tidak akan mampu mendapatkan hasil yang maksimal. Sebenarnya aku iri melihat beberapa teman sekelasku, tanpa harus bersusah payah belajar mereka bisa. May, salah satu temanku asal Surabaya, sering tidur di dalam kelas, dikenal sangat pemalas, tetapi dia juga dikenal seorang yang sangat cerdas. Tanpa harus banyak belajar dan membuka buku, dia bisa memahami semua pelajaran dengan sangat baik. Tidak hanya bahasa arab tetapi juga bahasa inggris. Dia menjadi tempat bertanya bagi teman-teman yang kurang memahami pelajaran dengan baik. Berbeda dengan aku, jika aku terlena sedikit saja dan tidak memanfaatkan waktuku dengan baik, sudah bisa dilihat hasil yang akan aku perolehpun tidak maksimal. Tapi aku bersyukur, karena Allah memberiku kesempatan untuk terus berusaha hingga titik maksimal, hingga Dia juga akan memberikan hasil yang sesuai dengan kerja kerasku.

Add a comment Desember 24, 2010

Perpulangan menjelang ramadhan

Bulan ramadhan sebentar lagi akan tiba dan kami semua menyambutnya dengan gembira. Kegembiraan ini bukan karena datangnya bulan puasa, tetapi lebih karena bulan ramadhan yang selalu bertepatan dengan liburan kami semua. Hari libur utama bagi kami santriwati adalah bulan puasa. Kami tidak pernah libur diluar liburan bulan ramadhan dan libur akhir tahun ajaran baru karena tidak ada libur cawu (catur wulan setelah ujian) ataupun libur tanggal merah dalam memperingati hari besar, kecuali hari raya idul adha dan 17 agustus, itupun kami tidak diperbolehkan untuk pulang dan tetap harus tinggal di pesantren, hanya saja aktifitas belajar mengajar tidak diadakan.

Berbeda dengan hari libur yang lain, liburan Ramadhan memang merupakan liburan yang paling panjang. Jika liburan akhir tahun ajaran baru hanya kurang lebih seminggu, maka liburan Ramadhan dimulai dari sepuluh hari sebelum bulan ramadhan dan berakhir hingga tanggal sepuluh syawal dengan total 50 hari. Liburan yang panjang dan memuaskan bahkan terkadang malah sampai membosankan dan membuat kangen untuk segera beraktifitas di pesantren. Kebijakan menyatukan liburan menjadi satu dalam liburan Ramadhan adalah karena memberi kesempatan bagi para santriwati terutama yang berasal dari luar jawa untuk dapat berlibur dan pulang ke kampung halaman. Kalau aku yang tinggal di Magetan, hanya membutuhkan waktu 2 sampe 3 jam hingga sampai ke rumah, tetapi bagi teman-teman lain yang berada di luar jawa butuh waktu berhari-hari untuk sampai ke kampung halamannya. Bahkan teman-teman yang berasal dari Ambon dan Irian harus rela menyesuaikan jadwal kapal yang hanya ada seminggu bahkan dua minggu sekali. Sehingga tidak jarang mereka harus pulang belakangan atau malah pulang lebih dahulu, belum lagi kembalinya mereka ke pesantren sudah dapat dipastikan tidak pernah tepat waktu, terkadang harus kembali di saat teman-teman lain masih menikmati liburan dan sebaliknya harus telat dari jadwal liburan karena lagi-lagi harus menyesuaikan dengan jadwal kapal.

Pulang liburan tidak hanya sekedar pulang. Ada banyak PR yang harus kami kerjakan di rumah, mulai dari tugas sekolah hingga, hingga tugas-tugas lain seperti mengikuti aktifitas di masjid selama bulan ramadhan mulai dari ceramah, tadarus dan lain sebagainya. Sehingga 50 hari liburan bukanlah liburan yang tanpa aktifitas sama sekali.

Seperti biasanya sebelum hari libur tiba, ada satu rutinitas yang wajib diikuti oleh semua santriwati sebelum mudik ke rumah masing-masing yakni pemberian etiket. Selama 2 sampai tiga hari semua santriwati dikumpulkan di depan masyroh (panggung). Disana sudah dipasang tenda (terop) yang diisi dengan bangku-bangku sekolah. Semua santriwati duduk diatur sesuai kelas masing-masing. Sebagaimana acara dalam rangka khutbatul ‘Arsy (pekan perkenalan), selama dua sampai tiga hari kami semua diberikan ceramah umum yang langsung diberikan oleh para pimpinan pesantren secara bergantian, mulai dari ibu pengasuh, direktur dan ketua yayasan pesantren. Hanya saja yang membedakan dengan khutbatul ‘Arsy adalah materinya. Jika dalam pekan perkenalan materi dan ceramah yang diberikan berkenaan dengan pesantren serta tujuan belajar di pesantren, maka dalam ceramah menyambut liburan ini yang diberikan adalah ceramah seputar etika sebagai bekal kami selama liburan. Semua santriwati diberi buku etiket sebagai pegangan. Materi etiket yang diberikan menyangkut hal-hal yang sangat tehnis dalam kehidupan sehari-hari, seperti bagaimana sikap kita terhadap orang tua, kakak, adik dan keluarga yang lain, bagaimana sikap kita selama perjalanan, bagaimana jika kita bertemu dengan lawan jenis, hingga bagaimana jika diajak bersalaman dan berkenalan dengan lawan jenis baik ketika dalam perjalanan, dan lain sebagainya. Pemberian etiket ini selalu dilakukan setiap kali santriwati akan liburan dengan materi yang diambil dalam buku etiket yang disusun oleh pesantren sendiri. Meski sudah bertahun-tahun menjadi santriwati, semua tetap wajib untuk mengikutinya. Meski materi etiket yang disampaikan selalu sama setiap tahunnya, semua santriwati tetap wajib mendengarkannya.

Setiap ada kegiatan ceramah umum seperti ini, kami tidak akan bisa menghindarinya, bagian keamanan akan memeriksa ke setiap kamar dan sudut pesantren untuk memastikan bahwa semua santriwati mengikuti kegiatan ini. Bagian pengajaran akan memeriksa apakah para santriwati masih mempunyai buku etiket atau tidak, karena buku etiket tidak hanya menjadi panduan dari apa yang akan disampaikan oleh para pimpinan pesantren, tetapi juga bisa dibaca sendiri sewaktu-sewaktu jika dibutuhkan. Sementara para pengurus OSWAH mendapatkan giliran untuk menjaga dan berkeliling untuk memastikan bahwa semua santriwati mendengarkan apa yang disampaikan oleh para pimpinan pesantren tanpa mengantuk dan mengobrol sendiri. Sehingga selama acara pemberian etiket ini bisa dipastikan semua santriwati diam mendengar dan memperhatikan tanpa mengantuk.

Hari-hari menjelang liburan para santriwati juga banyak yang disibukkan dengan persiapan perpulangan bersama konsulat masing-masing. Para santriwati yang berasal dari berbagai daerah terutama dari luar jawa sebagian besar akan pulang bersama rombongan yang didampingi oleh ustad atau ustadzah yang juga berasal dari daerah yang sama. Kami memang tidak diperbolehkan keluar dari pesantren sendirian, harus ada orang tua atau saudara yang menjemput, kalaupun orang tua tidak bisa menjemput sendiri bisa diwakili oleh wali yang ditunjuk oleh orang tua dan diberikan mandat dari orang tua, atau bisa juga mengikuti rombongan dari konsulat masing-masing. Hanya saja bagi para orang tua yang tidak bisa menjemput sendiri putrinya harus memberikan surat kuasa kepada wali pengganti yang menjemputnya. Surat kuasa tersebut akan diperiksa secara ketat, sehingga tidak akan ada yang berani membuat surat kuasa palsu. Meskipun pulang bersama rombongan konsulat, surat kuasa dari orang tua tetap menjadi syarat utama untuk mendapatkan kartu izin agar bisa pulang liburan ke rumah.

Beberapa konsulat memang mengadakan perpulangan bersama untuk mempermudah para orang tua yang tidak bisa menjemput langsung putrinya ke pesantren dan hanya cukup menjemput di kota masing-masing. Bahkan beberapa konsulat bekerjasama dengan beberapa pondok pesantren lain dari kota yang sama seperti pondok pesantren Darussalam Gontor dan pondok pesantren Ar-risalah. Karena pondok pesantren tersebut selain mempunyai akar yang sama dalam hal pimpinan juga mempunyai sistem yang sama dan dapat dipastikan mempunyai kesamaan hari libur. Meski dengan bis yang berbeda dan tetap dalam penjagaan para ustad dan ustadzah, teman-teman yang pulang bersama-sama rombongan konsulat yang berbarengan dengan ponpes lain seperti gontor dan arrisalah, sudah pasti akan merasa senang. Apalagi mereka adalah para santri putra, dan kami semua adalah santri putri, bisa dipastikan akan terjadi kasak-kusuk dan menjadi kesempatan besar untuk melihat lawan jenis meski dalam tempat yang berbeda.

Diantara konsulat yang mengadakan perpulangan bersama adalah konsulat Jakarta, biasanya konsulat Jakarta membawa rombongan terbesar santriwati hingga empat bis besar, hal ini karena konsulat Jakarta adalah konsulat dengan jumlah santriwati paling banyak di pesantren ini. Konsulat lain yang juga mengadakan perpulangan bersama adalah konsulat jawa barat, konsulat jatim dalam hal ini adalah konsulat Surabaya dan Madura, konsulat jambi, Riau, Padang, Lampung, Kalimantan, Ambon, dan Papua. Selain itu setiap daerah biasanya juga akan mengadakan halal bihalal setelah bulan syawal bersama para wali murid. Dalam acara halal bihalal tersebut berbabagai atraksi digelar, mulai dari pidato bahasa Indonesia, Arab dan Inggris hingga tari-tarian dan lain sebagainya. Karenanya tiap-tiap konsulat akan disibukkan dengan persiapan dan latihan sebelum hari H perpulangan tiba.

Saat hari libur tiba, semua santriwati disibukkan dengan berkemas-kemas barang pribadi yang akan dibawa pulang, ada juga yang mengantri untuk mendapatkan kartu izin, ada juga yang duduk-duduk sambil menunggu kedatangan orang tua yang menjemput. Sementara para ustadzah juga ikut disibukkan dengan acara perpulangan ini. Terutama para ustadzah yang ada di bagian administrasi karena bagi santriwati yang ingin pulang berlibur harus melunasi uang administrasi terlebih dahulu termasuk SPP, uang kalender, dan lain sebagainya.

Di bagian penerimaan tamu kesibukan juga terlihat. Para pengurus dan ustadzah di bagian penerima tamu terlihat sibuk menerima tamu para wali santri yang ingin menjemput putrinya. Sementara pengurus bagian penerangan tidak pernah beranjak dari mic untuk memanggil santriwati yang telah dijemput oleh orang tuanya ke ruang tamu. Para santriwati yang memakai baju atas bawah batik atau memakai jubah berwarna ungu bersliweran, ya..kami memang diwajibkan memakai baju seragam khusus untuk keluar pesantren dan tetap lengkap dengan papan nama, pin dan tentu saja harus memakai sepatu.

Pagi ini teman-teman santriwati yang berasal dari konsulat Jakarta akan diberangkatkan. Teman-teman yang lain ikut mengantarkan mereka di pintu gerbang. Sebelum berangkat salah satu pimpinan pesantren memimpin do’a dan memberikan sedikit wejangan agar selamat sampai tujuan. Setelah selesai do’a para santriwati yang akan pulang ke Jakarta memasuki bis-bis yang telah disediakan. Empat bis besar telah terparkir di halaman pesantren, di salah satu dinding bis terpasang spanduk yang bertuliskan perpulangan bersama santriwati pesantren putri al-Mawaddah Ponorogo Jatim Indonesia. Akhirnya mereka meninggalkan pesantren dengan lambaian tangan. Sebelum meninggalkan kota Ponorogo, mereka terlebih dahulu bergabung dengan bis-bis yang lain dari pondok pesantren Gontor dan Arrisalah dan bersama-sama pergi menuju kampung halaman.

Setelah konsulat Jakarta di berangkatkan, tiba giliran konsulat Jawa barat. Santriwati yang berasal dari propinsi Jawa barat ini terdiri dari dua bis besar yang dibagi berdasarkan kota-kota yang saling berdekatan. Tidak seperti konsulat Jakarta, kali ini teman-teman santriwati dari Jawa barat tidak pulang bersama rombongan dari pondok pesantren lain. Setelah konsulat Jawa barat diberangkatkan, giliran teman-teman dari konsulat Jambi yang akan berangkat menuju kampung halaman mereka. Mereka terdiri dari dua bis yang di dalamnya juga termasuk beberapa santriwati dari daerah sekitar kota Jambi seperti Kerinci dan lain sebagainya. Teman-teman yang berasal dari daerah Jambi ini biasanya memang selalu pulang bersama dengan santri dari pondok pesantren Gontor dan Ar-Risalah. Setelah teman-teman dari konsulat Jambi diberangkatkan, menyusul teman-teman dari Riau dan Lampung. Mereka semua yang diberangkatkan biasanya memang menggunakan transportasi darat hingga kota tujuan. Sementara para santriwati dari daerah kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Papua biasanya mereka menggunakan transportasi laut dan pesawat untuk sampai ke kota tujuan, sehingga keberangkatan mereka selalu menyesuaikan jadwal alat transporasi yang digunakan sehingga seringkali tidak pada hari H perpulangan.

Dibalik semangat dan cerianya wajah santriwati yang ingin pulang berlibur, ada juga wajah-wajah sendu bahkan tidak jarang diantara mereka menangis, mereka adalah para santriwati kelas tiga tsanawiyah dan kelas enam atau santriwati akhir pesantren. Mereka memang harus bermukim pada bulan ramadhan selama dua puluh hari. Ada beberapa kegiatan yang diberikan kepada santriwati kelas tiga dan kelas enam, diantaranya adalah belajar kitab kuning. Kitab kuning memang hanya dipelajari pada saat bulan Ramadhan karena memang tidak ada kurikulum kitab kuning yang diajarkan pada pelajaran kami sehari-hari. Selain itu kelas tiga dan kelas enam memang masih harus masuk sekolah untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir tahun. Begitu banyak kegiatan yang diadakan di pesantren sehingga bulan Ramadhan akan semakin bermakna bagi para santriwati. Para santriwati kelas tiga dan kelas enam ini baru diperbolehkan untuk pulang berlibur seminggu sebelum hari raya.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, akupun masih duduk-duduk di depan masjid bersama beberapa teman sambil menunggu orang tua yang akan datang menjemput. Kondisi pesantren sudah tidak seramai tadi pagi karena sebagian dari mereka memang sudah pergi meninggalkan pesantren. Banyak dari wali santri yang sudah datang sejak kemaren bahkan dua hari yang lalu. Mobil-mobil pribadi, tukang ojek, becak, hingga delman berlalu lalang di depan gerbang. Pesantren ini memang terletak agak masuk dari jalan besar beberapa ratus meter, sehingga memberikan peluang bagi tukang ojek, pak kusir dan tukang becak yang sebagian besar dari mereka adalah penduduk asli desa Coper tempat pesantren ini berada. Menggunakan jasa mereka memang tidak perlu harus tawar menawar harga, karena telah ada standar harga yang di pasang di pangkalan ojek pas di sebelah pesantren. Para tukang ojek ini juga memakai kaos yang sama. Kaos yang memang diberikan dari pesantren ini sengaja diberikan kepada para tukang ojek agar para wali santri dan siapapun yang menggunakan jasa mereka merasa aman karena para tukang ojek ini telah bekerja sama dengan baik dengan pihak pesantren.

Akhirnya jaros untuk sholat dhuhurpun terdengar, aku dan teman-temanpun segera mengambil air wudhu dan pergi ke masjid. Meski liburan, tetapi aktifitas pesantren tetap berjalan seperti biasanya, kewajiban untuk sholat di masjid lima waktu juga tetap berjalan. Masjid yang biasanya ramai dan penuh hingga teras, kini terlihat sepi. Setelah selesai sholat berjama’ah akhirnya akupun dipanggil ke ruang tamu. Segera aku berjalan dengan tergesa-gesa ke kamar dan mengganti mukena. Di ruang tamu sudah terlihat bapak menunggu. Segera aku mencium tangan beliau, setelah berbincang sebentar akupun bergegas menuju ruang administrasi untuk menyelesaikan uang SPP yang belum terbayar semenjak tiga bulan terakhir. Aku memang anak seorang petani yang hidup pas-pasan, sehingga tidak jarang aku harus menunggak uang SPP hingga batas akhir perpulangan karena aku akan terancam tidak bisa pulang jika tidak melunasi uang SPP. Tidak hanya melunasi uang SPP, ada beberapa iuran lainnya yang harus dibayarkan sebelum pulang, seperti membayar uang kalender (setiap liburan kami selalu membawa kalender pesantren untuk media informasi), serta membayar iuran-iuran yang lain. Setiap tahun memang selalu ada saja iuran yang harus dibayar diluar SPP bulanan dan uang makan, seperti membayar baju seragam konsulat yang berbeda antara anggota dan pengurusnya, seragam pengurus ketika kelas lima, seragam pengurus majalah, seragam kaos panitia mulai dari panitia bazar, panitia KMD, panitia khutbatul arsy, dan lain sebagainya.

Setelah urusan administrasi selesai, akupun segera menuju kamar untuk berkemas-kemas dan berganti baju seragam batik, seragam khas untuk keluar dari pesantren. Tidak lupa akupun berpamitan dengan beberapa teman-teman dan para ustadzah yang masih terlihat di pesantren.

Tidak seperti teman-teman yang lain yang pulang ke rumah dengan dijemput mobil ataupun pulang dengan rombongan  konsulat. Jarak pesantren dan rumah yang bisa dijemput dalam waktu kurang lebih dua atau tiga jam membuatku dijemput dengan menggunakan motor karena memang orang tuaku tidak mempunyai mobil. Sementara untuk pulang dengan bis justru akan menambah banyak ongkos dan memerlukan waktu lebih lama karena harus menggunakan jasa ojek, harus berganti bis dan lain sebagainya. Sehingga motor menjadi satu-satunya pilihan kendaraan yang paling nyaman.

Ada rasa senang dan rasa rindu yang menyeruak dengan kampung halaman, tapi ada rasa berat meninggalkan pesantren dan berpisah dengan teman-teman, semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu ketika aku mulai keluar dari gerbang pesantren meski hanya keluar hanya kurang lebih dua bulan. Akhirnya…aku akan liburan ….

Add a comment Desember 24, 2010

Horee..Tinggal Satu Tahun Lagi

Memulai hari dengan semangat. Pagi ini adalah hari pertamaku memasuki kelas yang baru. Kelas VI IPA atau biasa dikenal dengan kelas III aliyah jurusan IPA. Ya kelas yang letaknya berbeda dengan kelasku sebelumnya. Karena kelas ini terpisah lokalnya dengan kelas-kelas yang lain. Kelas yang sedikit istimewa karena hanya ada satu kelas. Kelas yang sedikit bergengsi meskipun sebenarnya secara kualitas tidak berbeda dengan kelas lain. Tapi tetap saja bergengsi, karena di dalamnya berisi santriwati yang sebagian besar berasal dari kelas A. Kelas favorit yang biasa diisi oleh anak-anak pintar. Ya di pesantren ini memang berlaku pengelompokan kelas sesuai dengan kemampuan santriwati. Kemampuan ini tentunya dilihat dari nilai rapor kami setiap semesternya. Bagi mereka yang mempunyai nilai tinggi, akan berkumpul di dalam satu kelas tersendiri, yakni kelas A. Sebaliknya bagi anak yang nilainya kurang ia akan menempati kelas berikutnya B,C, D bahkan E. Di kelas tingkat bawah ini berkumpul anak-anak yang dianggap kurang pintar dan pembuat onar.

Kelas VI IPA, Kelas kami ini juga sering disebut sebagai laboratorium. Di dalamnya terdapat beberapa alat peraga seperti tengkorak manusia beserta isinya, tabung-tabung dan gelas untuk meneliti reaksi kimia dan masih banyak lagi. Sayang alat ini tidak pernah di gunakan hingga kami meninggalkan kelas. Ya kelas VI IPA yang hanya sekedar nama. Karena pada praktiknya terlalu berat bagi kami untuk mempelajari mata pelajaran IPA, karena pelajaran agama di pesantren yang disertai berbagai hafalan telah mengisi sebagian besar otak kami. Sehingga nyaris tidak tersisa sedikitpun ruang untuk mata pelajaran IPA, seperti matematika, kimia dan fisika. Tengkorak manusia yang berada di dalam kelas yang sedianya diperuntukkan untuk praktikum tidak pernah tersentuh. Perlahan namun pasti satu persatu bagian dari tengkorak manusia itu rusak tanpa kami pakai. Tengkorak yang kami namai si ucok ini berdiri di depan kelas seolah mencemooh kami yang tidak pernah sekalipun menyentuhnya untuk di pelajari. Kami lebih sering menggunakannya untuk main sandiwara jika kelas sedang kosong.

Ya, tidak ada jadwal praktikum buat kami anak jurusan IPA, karena banyaknya mata pelajaran yang harus kami pelajari mulai dari pelajaran fiqih, tarikh, mutholaah, bahasa arab, hadis, balaghoh, tarbiyah, ilmu manthiq dan masih banyak lagi mata pelajaran agama, ditambah dengan mata pelajaran matematika, biologi dan lain sebagainya. Semuanya bercampur menjadi satu.  Jam pertama mutholaah, jam kedua fisika, jam ketiga tarbiyah dan seterusnya hingga jam ke tujuh, membuat otak kami sesak dijejali berbagaimacam ilmu pengetahuan.

Entah apa yang sebenarnya ada dalam pikiran para pengasuh dan direktur ketika akan membuka jurusan ini. Jurusan yang menurutku hanya untuk gengsi dan menaikkan nilai jual sekolah kepada masyarakat. Ya kami dipromosikan sebagai pesantren plus yang mengadopsi kurikulum gontor ditambah dengan kurikulum nasional. Hal ini membuat otak kami seperti sebuah ember yang siap dituang berbagai macam air, mulai dari teh, kopi, susu, yang semuanya bercampur menjadi satu sehingga tidak ada rasa yang dominan, bahkan cenderung merusak rasa.

Pesantren ini memang dianggap sebagai pesantren modern, yang dirancang khusus untuk putri. Selama ini pesantren modern selalu dialamatkan pada pondok Gontor. Pondok yang berdiri sudah sejak lama dan menghasilkan alumni yang tersebar di seluruh nusantara memang di kenal sebagai parameter pesantren modern di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, para alumni pondok Gontor ini telah banyak menjadi tokoh nasional yang berpengaruh, sebut saja Nurkholis Majid, Hidayat Nurwahid, Din Syamsuddin, Hasyim Muzadi bahkan hingga Abu Bakar Ba’asyir. Dari tokoh yang dianggap modernis bahkan cenderung liberal hingga tokoh yang dianggap radikal fundamentalis. Mereka semua adalah didikan dari lembaga pendidikan yang menyatakan dirinya sebagai pondok pesantren modern di sebuah kota kecil di Jawa Timur-Ponorogo.  Tidak mengherankan jika citra Gontor yang demikian itu memberikan pesona bagi para orang tua yang ingin menjadikan putra-putrinya sebagai insan yang berguna di masa mendatang.

Pesantren kami memang masih dianggap saudara dengan pondok modern Gontor. Ya pendiri pesantren ini juga didirikan oleh salah satu istri dari pendiri pondok Gontor. Letak pesantren kamipun tidak terlalu jauh dengan Gontor hanya sekitar 5 km. Bahkan pengasuh pesantren kami tinggal di dalam pondok Gontor. Sehingga beliau hanya sesekali saja melihat santrinya. Urusan pengasuhan lebih banyak di tangani oleh para ustadzah yang tinggal di dalam pesantren.

Hubungan pesantren kami yang khusus putri dengan pondok Gontor yang khusus putra ini seperti saudara sepupu yang kadang harus menjaga jarak tetapi terkadang juga saling membutuhkan satu sama lain. Ketika pesantren kami membangun masjid, maka berbondong-bondonglah santri Gontor ikut serta mengecor masjid. Ketika santri Gontor melakukan hajatan besar khutbatul arsy, tidak lupa mereka akan selalu mengundang kami untuk meramaikan upacara pembukaannya. Tidak jarang hal ini menjadi berkah yang luar biasa bagi kami yang setiap harinya tidak pernah melihat makhluk Tuhan yang berbeda jenis dengan kami. Meskipun kami tidak saling kenal dan tidak bertegur sapa tetapi bagi kami melihat mereka saja sudah menjadi anugerah terindah.

Pesantren memang telah banyak memberiku segalanya. Kami diajari untuk bisa mengatur diri kami sendiri, mandiri, menghargai orang lain dan disiplin. Dan tidak terasa sudah hampir enam tahun aku hidup di dalam kehidupan pesantren. Ternyata aku termasuk orang yang bisa bertahan disini, diantara sekian banyak teman-temanku yang hanya bisa bertahan 3 tahun atau hanya mampu menyelesaikan pendidikan sampai tingkat tsanawiyah.

Waktu memang begitu cepat berlalu. Tahun ini adalah tahun terakhirku di pesantren. Tahun ini adalah tahun yang terberat bagi kami sebelum meninggalkan pesantren. Banyak ujian yang harus kami lalui. Mulai dari hafalan juz ‘amma, ujian mengajar atau yang sering kami sebut dengan amaliyah, ujian pondok yang menguji seluruh mata pelajaran pondok mulai dari kelas satu hingga kelas enam yang pastinya semuanya butuh untuk di hafalkan, dan yang tidak kalah penting adalah ujian negara yang menguji mata pelajaran IPA sebagai mata pelajaran utama jurusan kami, matematika, fisika, kimia, biologi yang pastinya membuat otak kami kian bebal.

Selain rangkaian ujian yang harus kami lewati sebagai santriwati tingkat akhir di pesantren, kami juga di hadapkan dengan rangkaian kegiatan yang yang dilalui mulai dari awal tahun ajaran baru hingga detik-detik akhir kami meninggalkan pesantren. Semuanya terjadwal dengan rapi di awal kami memasuki kelas baru. Kelas tingkat paling tinggi di pesantren. Kelas VI. Kegiatan tersebut menuntut kami untuk membuat kepanitian untuk mempermudah dalam pelaksanaannya. Mulai dari panitia pagelaran panggung gembira, rihlah ilmiyah, fathul kutub, hingga khitbatul wada’. Semua anggota kelas VI A,B,C,D dan E mendapat bagian dalam kepanitiaan, sehingga seluruh rangkaian kegiatan kelas VI dapat berjalan dengan baik dan lancar hingga akhir.

Add a comment Desember 24, 2010

Pagelaran panggung gembira

Pagelaran Panggung gembira adalah pagelaran penutup dari rangkaian acara Khutbatul ‘Arsy. Kesibukan dalam mempersiapkan panggung gembira sudah di mulai jauh-jauh hari, di sela-sela kesibukan kami para satriwati kelas enam yang juga menjadi panitia Khitbatul ‘Arsy yang harus mempersiapkan upacara pembukaan hingga berbagai atraksi yang ditampilkan. Jadi harus pandai-pandai berbagi waktu.

Sebagai pagelaran akbar di akhir tahun kami di pesantren, kami sangat antusias menyiapkan atraksi kreatif kami dalam panggung gembira. Semua santriwati kelas enam yang berjumlah hampir 200 orang di libatkan untuk menyukseskan acara tersebut. Untuk itu kami membagi kepanitian menjadi beberapa bagian, seperti bagian acara, bagian dekorasi, penanggung jawab drama, pop song, tari dan lain sebagainya. Sebagai salah satu penanggung jawab acara, aku dan beberapa teman bertanggung jawab terhadap suksesnya acara PG. Aku mengkoordinir para penanggung jawab tiap-tiap atraksi yangn akan di tampilkan. Selain itu aku juga bertanggung jawab untuk membuat acara pembukaan PG dengan meriah.

Pengalaman kami di tahun sebelumnya dalam drama arena (pertunjukan yang di gelar pada saat kami kelas lima) menjadi sangat penting. Apa aja kekurangan pada acara kami setahun yang lalu menjadi pelajaran berharga untuk membuat pagelaran kali ini menjadi lebih baik.

Dalam panggung gembira ini, melanjutkan pagelaran yang kami dalam dalam drama arena setahun yang lalu, kami mengambil setting Eropa. Semua acara, dekorasi panggung, back ground, kostum menyesuaikan menjadi ala eropa. Teman-teman di bagian dekorasi membuat berbagai macam background mulai dari yang berlukiskan gedung-gedung  Eropa Kuno, sampai dengan lukisan taman bunga Tulip. Tidak hanya itu, dekorasi panggungpun dihias dengan membuat taman-taman buatan yang ada air mancur di dalamnya, sebuah jembatan buatan serta ribuan bunga tulip yang terbuat dari kertas krep beraneka warna yang tampak seperti bunga tulip hidup yang memenuhi taman dan mengelilingi air mancur. Di tambah dengan hiasan lampu yang berwarna-warni menambah kesan semarak dekorasi panggung.

Karena kami tidak mempunyai dana yang besar untuk membeli, maka kreatifitas kami di uji disini. Untuk membuat background lukisan, kami menggunakan kertas bekas  bungkus semen yang banyak terdapat di pesantren. Beberapa kertas pembungkus semen tersebut dirobek pada sisi bawahnya sehingga terbuka,  kemudian di lem antara satu dengan yang lain sampai sebesar back ground panggung. Setelah itu baru kemudian di lukis di atasnya dengan cat. Hiasan panggung yang terdiri dari ribuan bunga tulip yang membentuk seperti taman bunga tulip di buat dengan kertas krep berwarna-warni. Satu bunga terdiri dari lima kelopak yang ditali dengan benang di atas satu batang lidi. Kemudian lidi tersebut di bungkus dengan kertas krep berwarna hijau agar terlihat seperti tangkai bunga. Sementara daun-daun bunga tulip dibuat dari daun kelapa yang dipotong dengan ketinggian yang sama dengan bunga tulip dan kemudian ditancapkan dipinggir-pinggir pelepah pisang sementara ribuan bunga tulip kertas ini, disematkan di atas tengah pelepah pisang. Di malam hari dengan lampu-lampu yang berwarna warni, sungguh bunga-bunga tulip kertas ini tampak  seperti bunga tulip hidup.

Sebagai santriwati di pesantren khusus putri, semua hal kami lakukan secara mandiri. Seringkali kami para santriwati dijuluki dengan perempuan-perempuan yang kuat dan perkasa. Dalam berbagai even, kami terbiasa melakukannya sendiri, konsep acara, membuat gapura, memasang back ground, mengangkat batu bata dengan menggunakan gerobak untuk membuat taman-taman, semua kami lakukan sendiri tanpa campur tangan laki-laki. Kami memang telah terlatih untuk mandiri dalam berbagai macam hal.

Acara Panggung Gembira ini di mulai pukul 19.30 WIB. Acara di mulai dengan penjemputan pengasuh pesantren dari gerbang depan pesantren menuju tempat acara. Penjemputan dengan memakai kereta kuda ini di iringi dengan pasukan pengawal khusus dan pasukan drum band.  Pasukan drum band memakai baju putih-putih dengan sayap-sayap di kedua lengan baju yang dibuat dari jilbab berikut memakai topi panjang khas Eropa. Bak pengawalan seorang presiden, suasana sangat khidmat, tidak ada suara apapun kecuali suara drum band pengiring.

Memasuki tempat acara, semua santriwati berdiri memberikan sambutan, lampu lampu sengaja di matikan, diganti dengan nyala kembang api dari segala penjuru. Kebetulan panggung tempat berlangsungnya pagelaran Panggung gembira di kelilingi oleh tiga gedung bertingkat yang membentuk letter U, sehingga dari atas ketiga gedung itulah berbagai jenis kembang api di nyalakan. Kontan suasana menjadi riuh, sampai akhirnya para pengawal menghentikan langkahnya di depan panggung dan kemudian berhadap-hadap sambil memberikan hormat, bersamaan dengan itu, lampu-lampupun kembali dinyalakan. Sementara ibunda (panggilan para santri kepada ibu pengasuh) disusul oleh empat peri cantik yang memakai baju serba putih lengkap dengan sayap-sayapnya serta mahkota yang terbuat kertas emas. Kemudian ibunda naik ke atas panggung setelah melewati taman bunga tulip yang sangat indah dengan air mancur buatannya. Dari atas panggung, turunlah salju-salju buatan yang terbuat dari gabus yang di potong kecil-kecil yang di lemparkan dari jendela kamar as-Sakinah 7 yang letaknya tepat di atas panggung. Sampai di atas panggung, back ground terbuka perlahan-lahan dan di dalamnya terdapat bunga tulip raksasa berwarna orange. Bunga tulip raksasa ini terbuat dari karton yang paling tebal yang dipotong-potong besar dan dibentuk menjadi empat kelopak bunga tulip. Antar satu kelopak dengan kelopak yang lainnya disambung dengan kawat. Kemudian keempat kelopak tersebut dicat berwarna orange. Bunga tulip raksasa yang diletakkan di tengah-tengah panggung tersebut terlihat dari depan panggung seperti bunga tulip raksasa sungguhan. Kemudian perlahan-lahan kelopak bunga tulip terbuka karena keempat kelopaknya ditarik oleh benang dari balik panggung, sehingga terlihat seperti bunga raksasa yang mekar dalam sebuah taman bunga lalu muncullah seorang putri cantik yang memberikan jas bulu panjang  dan mengenakannya pada ibunda pengasuh, selain itu sang putri juga memberikan bunga tulip berwarna merah yang terbuat dari kaca sebagai tanda mata. Jas bulu panjang yang berwarna putih tersebut menambah kental suasana yang seolah-olah berada di belahan bumi eropa. Setelah menerima tanda mata, kemudian ibu pengasuh diantar oleh sang putri dan keempat peri cantik menempati tempat duduk yang telah disediakan di depan panggung. Bersamaan dengan itu semua lampu-lampu yang sebelumnya dimatikan kemudian kembali dinyalakan.

Setelah acara pembukaan tersebut, pembawa acara mengambil alih dan memandu acara. Sebagaimana acara apapun di pesantren, selalu di awali dengan membaca ayat suci al-Qur’an yang dilanjutkan dengan menyanyikan lagu mars pesantren al-Mawaddah. Setelah itu pembawa acara akan menyerahkan kepada pembawa acara kedua yang akan memandu acara inti pagelaran panggung gembira dengan lebih segar dan santai sembari menampilkan berbagai atraksi kreatif kami sebagai santriwati tingkat akhir.

Ada beberapa atraksi yang kami tampilkan, yakni pop song (vocal group) yang menyanyikan lagu ciptaan kami sendiri. Pop song ini terdiri dari 30 orang yang memakai baju putih dengan rompi berwarna cerah dan rok yang juga berwarna putih lengkap dengan topi bundar dan pita besar di atasnya. Yang kami sebut dengan rompi dan topi itu sebenarnya terbuat dari kertas karton yng di lapisi dengan kertas emas warna, sedangkan pita besar yang menghiasi topi tersebut terbuat dari kertas krep dengan warna yang senada dengan rompi. Meski demikian dari area penonton semuanya tampak seperti sungguhan, sehingga tidak terlihat jika hiasan dalam kostum yang dipakai tersebut sebenarnya hanya terbuat dari kertas krep.

Atraksi selanjutnya adalah tari-tarian. Ada dua tarian yang di tampilkan. Yang pertama adalah tari cheer leader. Tari cheer leader memang belum pernah ditampilkan sebelumnya di pesantren ini. Ya..meskipun kami adalah santriwati, kami memang tetap diperbolehkan mengekspresikan diri sejauh tetap menutup aurat. Tarian ini memang cukup menghebohkan dan mendapat sambutan yang meriah dari para penonton. Jika biasanya para penari cheer leader memakai rok mini, maka para penari cheer leader ini memakai baju yang dilengkapi dengan rompi dan celana putih yang kemudian memakai kertas krep didepannya  yang panjangnya hanya sampai di atas lutut. Kertas krep tersebut berwarna orange dan ditempeli dengan potongan-potongan kertas emas dengan artistik, sehingga terkesan seorang seperti rok mini. Tidak lupa jilbab para penari di hiasi dengan topi dengan warna yang senada yang diberi hiasan seperti bunga matahari di tengahnya. Semuanya di buat dari kertas karton dan kertas krep. Para penonton semakin histeris ketika beberapa penari naik di atas punggung penari yang lain hingga tinggi membentuk sebuah formasi. Pada awalnya memang punya kesulitan untuk bisa membuat formasi yang bertingkat-tingkat apalagi kami semua adalah perempuan. Tetapi dengan latihan yang terus menerus, tarian ini akhirnya sukses di bawakan.

Setelah atraksi tarian cheer berhasil di bawakan para penari dengan baik. Kemudian dilanjutkan dengan atraksi lainnya yakni tarian daerah. Dalam tarian ini, melibatkan jumlah penari sebanyak 20 orang, hampir memenuhi panggung. Kedua puluh orang penari tersebut memakai kostum yang berbeda-beda. Ada yang memakai baju khas padang, ada yang memakai bagi baju khas bali, baju khas jawa, baju khas Ambon dan lain sebagainya. Mereka menari bersama dengan diiringi musik gabungan yang terdiri atas berbagai berbagai musik daerah. Meski semua penari menari secara bersama-sama tetapi ketika salah satu musik daerah terdengar, maka penari yang memakai baju daerah yang bersangkutan maju kedepan, begitu seterusnya hingga akhir.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pertunjukan wayang orang. Wayang orang adalah salah satu pertunjukan wajib bagi para santriwati kelas enam dalam panggung gembira. Meski banyak santriwati dari berbagai daerah di luar jawa yang tidak mengerti makna wayang orang tetapi untuk mempermudah jalan ceritanya teks wayang orang yang biasanya memakai bahasa jawa kemudian diganti dengan teks berbahasa asing (arab atau Inggris). Pertunjukan wayang orang menjadi salah satu pertunjukan yang membutuhkan banyak persiapan. Disamping persiapan kostum yang khas jawa untuk pertunjukan, (mulai dari pakaian hingga aksesoris para pemain wayang seperti topi dengan bentuknya yang khas, selendang dan lain-lain), para pemain juga harus banyak belajar tentang wayang orang yang tidak hanya hafal teks skenario dalam ceritanya tetapi yang lebih sulit adalah belajar gerak tari dan lenggak-lenggok khas pemain wayang, sehingga dapat seperti para pemain wayang sungguhan. Khusus untuk  pertunjukan wayang orang ini, kami harus memanggil guru wayang untuk mengajarkan gerak tari jawa, berikut logat bicaranya serta lenggak lenggok pemain wayang yang tentu saja berbeda dengan pertunjukan drama ataupun lainnya. Pendiri pesantren kami memang mewajibkan pertunjukan wayang orang dalam setiap pagelaran panggung gembira, disamping almarhum kyai Sahal adalah salah satu penggemar wayang orang, pagelaran ini dimaksudkan untuk mengingatkan kepada kami bahwa dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. Karena pesantren kami berada di jawa, maka kami harus bisa beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat. Akhirnya satu sesi pertunjukan wayang telah dapat dilewati dengan baik, meskipun masih banyak kekurangan, tetapi sangat dapat dimaklumi karena memang mereka bukan pemain wayang yang sebenarnya.

Puncak acara pagelaran panggung gembira diisi dengan drama berbahasa asing dan untuk pagelaran kali ini kami memilih bahasa inggris sebagai bahasa pengantarnya mengikuti setting eropa yang kami pilih. Drama yang berjudul “please for give me” dengan peran utama pangeran Richad dan putri Laura sangat menarik perhatian penonton. Meski malam telah semakin larut, tetapi para santriwati yang menonton acara tetap terjaga dengan setia mengikuti setiap adegan dalam drama. Drama yang dibumbui dengan cerita percintaan memang sangat diminati oleh para santriwati karena mereka semua adalah para remaja yang sedang dalam masa-masa puberitas. Drama ini juga memerlukan persiapan yang rumit, karena mulai dari jalan cerita, menerjemahkan teks skenario dalam bahasa asing hingga kostum yang dipakai oleh para pemain adalah betul-betul karya kami santriwati kelas enam tingkat akhir pesantren. Sebagai puncak acara dalam pagelaran panggung gembira, kami akan mempersembahkan karya kami yang terakhir.

Ada empat orang yang aku sendiri sebagai seksi acara yang menentukan untuk menjadi orang dibalik layar dalam drama ini. Mereka adalah teman-teman sekelasku, keempat orang tersebut berbagi tugas, satu sebagai penulis skenario, satu lagi sebagai penerjemah teks skenario kedalam bahasa asing, satu lagi sebagai sutradara yang mengarahkan setiap adegan yang harus diperankan oleh para pemain dan satu lagi sebagai perancang kostum para pemain. Mereka sangat kompak satu dengan yang lain, sehingga puncak acara dalam panggung gembira dapat terlewati dengan sukses.  Tidak sedikit penonton yang akhirnya menitikkan air mata, merasa terharu dan larut dengan adegan yang diperankan oleh para pemain drama.

Kesibukan pada saat drama memang tidak hanya melibatkan para seksi drama yang empat orang, tetapi juga melibatkan bagian yang lain seperti bagian dekorasi dan bagian penerangan. Bagian dekorasi membuatkan beberapa background khusus untuk drama sesuai dengan setting adegan. Ketika adegan berada di sebuah kerajaan, di taman, ataupun di sungai, maka background panggungpun menyesuaikan. Butuh kerjasama yang baik memang untuk mengganti setiap background pada setiap adegan. Dua orang standby di sisi kanan panggung dan dua orang lagi standby disisi kiri panggung. Mereka bertugas khusus untuk mengganti background dengan menarik ulur tali background yang diinginkan. Sementara satu orang lagi bertugas untuk memberi pengarahan background apa yang akan ditampilkan dalam setiap adegan. Sementara bagian penerangan adalah teman-teman yang bertugas di bagian soundsystem yang bertugas untuk memutar musik ataupun lagu-lagu instrumental yang melengkapi setiap adegan drama.

Panggung pertunjukan memang terdiri dari dua, sehingga memudahkan teman-teman yang bekerja dibalik layar. Satu panggung utama dan satu lagi panggung kecil yang berada di depan panggung utama yang dipenuhi dengan taman bunga tulip lengkap dengan air mancurnya. Ketika para pemain drama sedang berada di panggung depan, maka panggung utama akan ditutup. Pada saat panggung utama ditutup, maka para kru drama mempersiapkan berbagai peralatan yang akan digunakan oleh para pemain drama untuk sesi adegan berikutnya dipanggung utama, seperti kursi, papan, dan lain sebagainya. Pada saat itu juga teman-teman yang bertugas sebagai penarik background akan menurunkan background yang sesuai dengan adegan yang akan dimainkan berikutnya. Begitu seterusnya sehingga pergantian background serta kesibukan para kru drama di belakang layar tidak akan terlihat oleh para penonton. Meski semua serba manual, tetapi dengan kerjasama yang baik, semuanya dapat dilalui dengan lancar dan sukses.

Setelah puncak acara terlewati dapat terlewati dengan baik, kini saatnya acara berikutnya yakni evaluasi. Evaluasi ini diberikan oleh ibu pengasuh atas semua penampilan kami di panggung. Mulai dari pertunjukan, MC yang membawakan, hingga dekorasi, semuanya tidak lepas dari evaluasi sebagai pelajaran bagi adik-adik di tahun mendatang yang pasti akan menggelar pertunjukan yang sama. Kata sukses yang keluar dari ibu pengasuh atas pagelaran yang ditampilkan menjadi puncak kebahagiaan kami semua, apa yang kami lakukan dengan segala persiapan yang banyak membutuhkan perhatian, kekuatan fisik, kreativitas hingga kekompakan dari semua santriwati kelas enam yang berjumlah kurang lebih 250 santriwati akhirnya  tidak sia-sia. Kami memang sudah mempersembahkan penampilan terbaik kami sebagai kenang-kenangan yang tidak pernah kami lupakan.

1 komentar Desember 24, 2010

Menikmati Bulan Ramadhan di pesantren

Tahun ini aku kembali merasakan untuk menikmati bulan Ramadhan di pesantren setelah sebelumnya di kelas tiga aku juga pernah mengalaminya. Sepi memang sangat terasa di pesantren apalagi pada bulan ramadhan. Biasanya dimana-mana didapati lautan jilbab, tetapi di bulan ramadhan tidak akan ditemui. Meskipun demikian, aktifitas santriwati dalam sehari-hari tetap tidak berubah. Kami tetap harus sholat berjamaah lima waktu, tetap harus sekolah, tetap akan mengalami hukuman jika kami terlambat, semuanya tidak ada yang berubah, hanya saja kami merasa lebih santai dan tidak perlu terburu-buru karena kami tidak mendapati antrian panjang untuk mandi, mencuci, berwudhu, mengambil nasi di dapur dan lain sebagainya.

Perasaan rasa sepi itu memang akan terobati dengan berbagai tambahan kegiatan di bulan ramadhan, mulai dari kuliah shubuh, belajar kitab kuning di pagi hari, tadarus serta ada satu kegiatan khusus yang dirancang selama bulan ramadhan untuk kelas enam sebagai santriwati akhir di pesantren. Diantaranya ada fathul kutub, pelatihan guru TPA serta berbagai pembekalan-pembekalan lainnya yang berguna bagi kami ketika keluar dari pesantren ini.

Fathul kutub yang berarti adalah membuka buku adalah kegiatan yang khusus diisi oleh KH Hasan Abdullah Sahal pimpinan pondok modern Gontor untuk mengajarkan berbagai kitab secara umum. Mulai dari kitab-kitab hadis, kitab Rijalil hadis, kamus-kamus seperti kamus berbahasa arab, fathurrohman (kamus untuk mencari ayat-ayat dalam al-Qur’an dan lain sebagainya. Bukan mengajari isi dari kitab-kitab secara mendetail tetapi lebih mengajarkan pada bagaimana cara membaca dan mempelajarinya. Fathul kutub ini berlangsung selama seminggu. Semua santriwati kelas enam dikumpulkan menjadi satu dengan formasi meja melingkar sehingga sang ustad berada di tengah-tengah. Tidak jarang aku merasakan ngantuk yang teramat sangat dan sampai tertidur karena hawa panas dan terbawa kondisi sebagai orang yang berpuasa.

Selain fathul kutub ada satu kegiatan lain yang sangat menyenangkan bagi kami, yakni pelatihan guru TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Dalam pelatihan tersebut dijamin tidak ada yang mengantuk meski kami dalam kondisi berpuasa, karena disitu kami diberikan pembekalan cara-cara mengajar TPA serta diajarkan berbagai lagu-lagu untuk anak-anak TPA dengan diiringi musik orgen yang dimainkan oleh sang tutor. Kami juga diajarkan berbagai macam tepuk untuk anak-anak TPA, seperti tepuk anak sholeh dan lain sebagainya. Beban berat yang selama ini melanda santriwati kelas enam karena berbagai ujian yang akan dijalani seolah sirna sudah. Semuanya gembira, semuanya menjadi ceria dalam pelatihan guru-guru TPA. Tutor yang mengajar terlihat sangat santai dalam pembawaannya. Hal ini memang penting untuk ditiru karena jika kelak kami menjadi seorang guru TPA, kami dituntut untuk selalu ceria, santai sehingga anak-anak bisa senang dan tanpa beban ketika diajarkan membaca al-Qur’an. Tutor-tutor tersebut didatangkan langsung dari AMM Yogyakarta yang dikenal memperkenalkan metode iqro’ yang banyak dipakai oleh para guru TPA maupun orang tua yang ingin mengenalkan al-Qur’an dan cara membacanya sejak dini.

Masih ada lagi pembekalan-pembekalan yang diberikan bagi santriwati kelas enam diantaranya pembekalan dalam hal kerumahtanggaan seperti bagaimana cara memandikan bayi, cara merias dan merawat wajah agar dapat selalu tampil  cantik dan alami, cara menata meja makan dan lain sebagainya. Hal ini diberikan untuk mempersiapkan  para calon alumni agar bisa menjadi seorang perempuan yang terampil dalam hal-hal kerumahtanggaan, apalagi bagi mereka setelah lulus dan segera akan menikah, karena memang tidak jarang dari teman-teman santriwati yang lulus kemudian langsung menikah. Selain pembekalan masalah kerumahtanggaan kami juga diajarkan hal-hal keagamaan praktis yang sangat berguna dalam masyarakat, diantaranya memandikan dan mengkafani jenazah. Kami memang diberi bekal agar selalu siap terjun dalam bermasyarakat.

Begitu banyak kegiatan dilakukan pada bulan ramadhan, sehingga bulan ramadhan menjadi lebih bermakna, apalagi ini adalah ramadhan terakhir, sebelum akhirnya kami akan meninggalkan pesantren ini.

Pesantren sendiri juga mengadakan berbagai kegiatan yang harus diikuti oleh para santriwati secara umum, baik santriwati kelas enam maupun santriwati kelas tiga yang bermukim di pesantren. Diantaranya adalah simaan al-Al-Qur’an yang selalu diadakan pada tanggal 17 Ramadhan. Pihak pesantren mengundang beberapa orang hafidzah untuk membaca al-Qur’an, dimulai setelah sholat Shubuh, kemudian kami semua menyimak apa yang telah dibaca oleh para penghafal al-Qur’an, hingga waktu berbuka tiba para penghafal al-Qur’an ini akan menyelesaikan bacaannya hingga juz 30. Biasanya setelah sholat shubuh kami semua menyimak bersama-sama hingga pukul 7 pagi, kemudian setelah itu acara menyimak digilir tiap-tiap kelas hingga pada jaros jam lima sore kami semua sudah diwajibkan untuk berkumpul di masjid dan menyimak hingga selesai. Beberapa teman masih asing dengan kegiatan simaan ini. Aku pribadi sudah terbiasa dengan kegiatan simaan al-Qur’an sejak sebelum mondok di pesantren. Tradisi simaan al-Qur’an sering diadakan di masjid-masjid di desa. Jika ada simaan, maka semua anak sekolah akan dipulangkan lebih cepat dan diharapkan untuk bisa mengikuti acara simaan. Meski simaan al-Qur’an diadakan di masjid tetanga desa yang jaraknya cukup jauh, kami tetap dipulangkan lebih awal. Akupun bersama teman-teman sekolah biasanya pergi bersama-sama dengan berjalan kaki meski jaraknya cukup jauh untuk mengikuti acara simaan tersebut. Ya karena kami selalu diajarkan bahwa menyimak al-Qur’an akan mempunyai pahala yang sama dengan orang yang membacanya.

Selain kegiatan simaan al-Qur’an, pesantren juga membuka kegiatan pesantren kilat bagi para pelajar mulai dari SD, SMP maupun SMA yang ingin bermukim dan merasakan hidup di pesantren. Dalam kegiatan pesantren kilat ini, para pelajar diajarkan tentang berbagai hal terkait dengan persoalan agama, mulai dari hal-hal yang praktis hingga pengetahuan keagamaan secara umum. Biasanya beberapa santriwati kelas enam ikut dilibatkan dalam kepanitiaan pesantren kilat ini. Biasanya pesantren kilat ini dikoordinir oleh sekolah masing-masing yang berkeinginan mengadakan kegiatan ramadhan bagi anak didiknya di pesantren, meski demikian ada juga yang mengikuti dan mendaftar pesantren kilat secara individual. Memang tidak banyak yang mengikuti kegiatan pesantren kilat ini tetapi telah membuat suasana pesantren lebih semarak di bulan ramadhan.

Akhirnya Ramadhan di pesantren dirasakan sangat menyenangkan. Banyaknya kegiatan terutama bagi kami santriwati kelas enam membuat bulan ramadhan semakin bermakna dan menjadi kenangan yang tidak pernah kami lupakan. Ada rasa sedih memang ketika awal liburan tiba, ketika melihat adik-adik kelas pulang berlibur, tetapi ketika sudah dijalani ternyata menjadi hal yang indah dan sangat menyenangkan.

Add a comment Desember 24, 2010

Rihlah Ilmiyah

Saat ini semua santriwati kelas enam di kumpulkan di aula. Disana kami sedang membahas agenda rutin kelas enam yaitu rihlah ilmiyah. Selama enam tahun di pesantren, kami hanya mendapatkan waktu sekali untuk piknik dan jalan-jalan yakni dalam rihlah ilmiyah. Rihlah ilmiyah tidak hanya menjadi ajang jalan-jalan dan merilekskan pikiran di sela-sela berbagai macam ujian dan kegiatan-kegiatan kelas enam lainnya tetapi juga menjadi ajang untuk mencari informasi tentang perguruan tinggi bagi yang ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi setelah lulus dari pesantren. Untuk tahun ini rihlah ilmiyah di bagi menjadi dua daerah, Yogyakarta dan jawa tengah dan jawa timur. Sehingga para santriwati kelas enam di pisah menjadi dua bagian dan hari ini adalah penentuan dimana aku mendapatkan bagian di daerah Yogya jateng seperti yang aku inginkan. Rihlah ilmiyah sendiri berlangsung selama empat hari empat malam.

Beberapa teman-teman yang menjadi panitia rihlah mulai memperlihatkan kesibukannya. Mulai dari mempersiapkan fandel untuk kenang-kenangan bagi lembaga yang akan dikunjungi, membuat spanduk untuk di pasang di bus, hingga mengkonfirmasi tempat-tempat yang akan dikunjungi. Panitia juga menentukan baju-baju apa yang akan kami kenakan di tiap-tiap kunjungan. Kami semua memang harus berseragam setiap harinya, bahkan dalam rihlah ilmiyah. Penyeragaman dalam pakaian memang memudahkan para panitia untuk mengecek anggotanya terutama jika berada di tempat-tempat wisata yang ramai. Bagi orang-orang di luar pesantren yang melihat kami memakai baju seragam lengkap dengan sepatu dan atribut pesantren berada di pusat-pusat perbelanjaan atau tempat wisata mungkin akan merasa lucu dan udik. Tapi bagi kami para santriwati, kami tetap merasa percaya diri dengan penyeragaman ini karena memang kami terbiasa dengan seragam dimanapun berada selama masih berstatus santriwati.

Ada beberapa baju seragam yang akan kami pakai selama rihlah, baju seragam kelas enam, baju batik, beberapa baju jas seragam konsulat. Setiap hari selama rihlah kami memakai baju seragam kecuali pada saat tidur. Semua seragam yang akan dipakai sudah aku persiapkan jauh-jauh hari. Meski tanpa disetrika tetapi semua tampak rapi. Semua santriwati di pesantren ini memang tidak pernah ada budaya menyetrika baju. Selain tidak mungkin ada waktu untuk itu, kami juga dilarang membawa alat-alat listrik apapun itu, mulai dari setrika, radio dan lain sebagainya. Meskipun demikian kami punya strategi tersendiri untuk mengatasi agar baju-baju tidak terlihat kusut, yakni dengan cara segera melipat yang rapi dan tanpa menunggu lebih lama lagi setelah diambil dari jemuran, kalau perlu ditumbuk di bawah bantal beberapa jam sebelum di masukkan kedalam lemari.

Hari yang dinantipun tiba. Ada empat bus yang disiapkan untuk memberangkatkan para santriwati yang akan rihlah. Dua bus untuk ke jawa timur dan dua bus untuk yogya dan jawa tengah. Kami berangkat pada malam hari, sehingga sampai di tempat tujuan pada pagi harinya. Tidak lupa akupun membawa bantal karena selama empat hari akan berada lebih banyak tidur di dalam bus.

Pagi hari kami telah sampai di salah satu masjid besar di Ungaran kota Semarang. Disini kami akan beristirahat hingga dua hari. Di masjid tersebut ada ruangan yang cukup besar yang kami pergunakan sebagai kamar dengan beralaskan karpet. Setelah istirahat sebentar dan makan pagi, kamipun bersiap-siap untuk mengawali rihlah ke salah satu universitas di Semarang yakni di universitas diponegoro. Rihlah memang tidak hanya sekedar jalan-jalan ke tempat-tempat wisata tetapi juga mempersiapkan para santriwati yang akan meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Sampai di universitas diponegoro, kami diajak untuk melihat seputar kampus sebelum akhirnya dibawa ke ruangan yang telah disediakan untuk mendapatkan berbagai informasi tentang kampus. Selain itu kami juga diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi tentang berbagai macam hal terkait dengan perkuliahan mulai tentang jurusan, beasiswa dan lain sebagainya.

Selesai kunjungan dari universitas diponegoro, rombongan kamipun menuju ke sebuah pabrik coca cola. Disana kami diajak untuk mengetahui proses pembuatan coca cola hingga proses pengemasan dan siap diedarkan kepada konsumen. Sebuah pengetahuan yang belum pernah kami dapatkan sebelumnya. Di akhir kujungan dari pabrik coca cola, ada doorprize yang di adakan oleh pihak pabrik dengan berbagai hadiah kecil yang menarik seperti kaos pendek, tas, serta bingkisan-bingkisan lainnya. Untuk acara yang satu ini, aku memang tidak berbakat untuk dapat hadiah. Setiap ada doorprize, undian dan sejenisnya sudah dapat dipastikan aku tidak akan pernah beruntung. Selesai doorprize kamipun pulang dengan tidak lupa membawa bingkisan yang diberikan, yang tidak lain isinya adalah minuman kemasan yang dihasilkan dari pabrik tersebut.

Selain mengunjungi pabrik coca cola, kami juga mengunjungi pabrik jamu yang sangat terkenal di kota Semarang. Di salah satu pabrik jamu tradisional tersebut kami juga melihat berbagai proses pembuatan jamu mulai dari bahan baku hingga jamu yang telah diolah dengan baik dalam kemasan. Kami juga dipersilahkan untuk merasakan berbagai produk jamu, ada jamu galian singset, ada jamu sehat, jamu untuk keputihan dan lain sebagainya. Setelah berkeliling di pabrik jamu, kami dibawa ke sebuah museum yang letaknya bersebelahan dengan pabrik jamu. Museum Rekor Indonesia (MURI) yang saat ini tengah menjadi trend bagi pihak-pihak tertentu yang menginginkan untuk diabadikan dalam sebuah rekor di Indonesia. Museum ini memang cukup unik karena mendokumentasikan hal-hal yang unik yang terjadi di Indonesia, mulai dari rambut terpanjang, orang tertinggi, orang terpendek, orang dengan anak terbanyak se indonesia, dan lain sebagainya. Semuanya ada di museum ini. Museum ini didirikan karena selama ini memang belum ada pihak-pihak yang mendokumentasikan beri peristiwa dan kejadian unik di Indonesia. Setelah puas berjalan-jalan hari itu kami pun kembali ke tempat peristirahatan untuk kembali beraktifitas keesokan harinya.

Selain mengunjungi kampus dan pabrik yang ada di kota Semarang, kami juga di ajak mengelilingi Semarang kota lama yang merupakan kota peninggalan Balanda dengan gedung-gedung yang tampak kokoh dan berarsitektur khas eropa. Sayang gedung-gedung tersebut sudah tidak dipergunakan lagi tidak terawat, sehingga banyak dimanfaatkan oleh para pemulung dan para tuna wisma sebagai tempat tinggal.

Dua hari berada di kota Semarang, kamipun melanjutkan perjalanan menuju kota pendidikan Yogyakarta. Perjalanan dari Semarang menuju ke Yogyakarta memakan waktu sekitar tiga jam. Sebelum memasuki kota Yogyakarta, kami singgah terlebih dahulu di kota Magelang. Di kota Magelang kami diajak mengunjungi candi Borobudur yang merupakan candi terbesar umat Budha di dunia. Candi yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia karena pernah masuk dalam salah satu daftar tujuh keajaiban dunia.

Aku dan teman-temanpun melewati pelataran candi yang cukup luas. Setelah itu baru memasuki area candi yang besar. Menaiki anak tangga yang sangat banyak dan membuat kami lelah, apalagi dengan pakaian seragam yang kami kenakan yang berupa baju jas dan rok panjang lengkap dengan sepatu resmi, memang sedikit menyusahkan dan membuat berat langkah kaki yang harus melangkah menaiki anak tangga hingga puncak candi. Tapi hal ini tidak membuatku menyerah untuk melangkah hingga puncak. Karena belum tentu suatu saat aku bisa mengunjungi candi ini. Kelelahan menaiki anak tangga terbayar ketika kami bisa melihat pemandangan yang sangat indah dari puncak candi. Daerah disekitar candi terlihat cantik, sawah yang menghijau, bukit-bukit yang menjulang serta lampu berwarna-warni kota Magelang yang mulai dinyalakan dan terlihat seperti titik-titik cahaya yang memancar. Ya rombongan kami memang masuk ke kota Magelang ketika hari sudah sore, kami merupakan rombongan wisata terakhir yang diperbolehkan masuk area candi karena tidak lama lagi akan segera ditutup. sampai di puncak candi, hari memang sudah senja, langit sore mulai berubah gelap sedikit demi sedikit, warna merah jingga mulai nampak karpet yang terhampar di atas langit. Menikmati suasana menjelang senja dari atas puncak candi memang luar biasa indah.

Setelah sang waktu semakin terlihat senja dan kamipun puas mengitari bagian-bagian candi sambil berfoto-foto untuk mengabadikan kenangan, kamipun harus turun untuk meninggalkan puncak candi borobudur menuju ke pondok pesantren Pabelan Magelang.

Di pondok pesantren modern Pabelan Magelang kami akan menginap malam harinya. Sampai di ponpes Pabelan tersebut, kamipun segera dipersilahkan masuk ke kamar para santriwati yang memang disediakan untuk kami beristirahat. Setelah mandi dan makan malam, kamipun bersiap memakai baju resmi untuk mengadakan pertemuan dengan para pengasuh, santriwati dan pengurus osis. Disana kami berdiskusi dan saling sharing tentang berbagai hal terkait tentang pesantren, mulai dari aktifitas organisasi, kegiatan belajar mengajar hingga kegiatan sehari-hari para santri. Pondok pesantren Pabelan memang cukup unik dan berbeda dengan pesantren kami. Ponpes Pabelan terdiri dari santri putra dan putri, dimana asrama untuk santri dan santriwati di pisahkan oleh dapur. Suatu hal yang tentu saja berbeda dengan pesantren kami yang khusus putri. Disana para santriwati tidak hanya diajarkan untuk belajar dan berorganisasi tetapi para santriwati juga diajarkan untuk beternak ikan dengan memanfaatkan lahan-lahan disekitar pesantren. Tidak heran jika di depan kamar para santriwati terdapat kolam yang berisi berbagai ikan air tawar, mulai dari ikan lele, bawal, nila dan lain sebagainya. Sehingga kebutuhan makan para santriwati bisa di suplai dari ikan-ikan hasil peternakan sendiri. Makan malam dan makan pagi kami di ponpes Pabelan ini juga dengan menggunakan lauk ikan lele dan bawal. Menu yang biasanya hanya bisa kami rasakan seminggu sekali di pesantren.

Pagi harinya, aku bersama beberapa teman dari santriwati pondok pesantren Pabelan berjalan-jalan mengelilingi pesantren sambil menikmati udara segar. Udara yang sangat sejuk ini karena pondok pesantren Pabelan berada di bawah kaki gunung merapi membuat kami betah berada di pesantren tersebut. Kami saling bercerita dan berbagi pengalaman tentang segala macam hal. Memang sangat mengasyikkan, karena kami tidak hanya melihat tapi juga merasakan pengalaman baru yang berbeda di pesantren dan tentunya satu lagi kami juga punya banyak teman-teman baru disini. Sayang..keindahan, kesejukan ponpes serta keramaham orang-orang di dalamnya kami rasakan hanya sebentar, karena tidak lama setelah itu kami harus kembali berkemas dan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Setelah berpamitan kamipun kembali menaiki bus-bus yang akan membawa kami ke Yogyakarta.

Sebelum berangkat menuju Yogyakarta, tidak lupa kami berhenti sebentar di sebuah toko oleh-oleh khas Magelang. Disana teman-teman segera menyerbu beragam makanan khas kota Magelang. Aku sendiri hanya turun melihat-lihat karena aku harus berhati-hati mengeluarkan uang, karena uang saku yang kubawa tidak seberapa, apalagi masih satu hari lagi perjalanan yang di tempuh.

Sampai di Yogyakarta, kami langsung menuju kampus UII (Universitas Islam Indonesia). Di kampus yang cukup elit dan terkenal ini, kami memasuki hall ber-AC yang dingin. Seperti kunjungan kami ke kampus sebelumnya di Semarang, di kampus UII, kami disambut langsung oleh dekan fakultas agama Islam dan diberikan berbagai informasi terkait dengan fakultas agama Islam berikut jurusan-jurusan yang ada di dalamnya, serta berbagai program yang tersedia. Selesai acara tersebut, kami diajak berkeliling di kampus UII yang megah, kami juga di ajak ke ruang senat mahasiswa serta di ajak langsung untuk melihat aktifitas mahasiswa. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi merasakan pengalaman sebagai mahasiswa. Puas berkeliling di kampus UII, kamipun kembali melanjutkan perjalanan dan perjalanan kali ini adalah menuju ke sekolah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta.

Sekolah Muallimat Muhammdiyah Yogyakarta adalah sekolah dengan sistem asrama yang didirikan oleh kyai Ahmad Dahlan, pendiri ormas terbesar Muhammadiyah. Meski sekolah ini berada di salah satu gang sempit di pusat kota Yogyakarta, tetapi murid-murid yang ada berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Pada masanya, sekolah muallimat memang satu-satunya sekolah khusus putri Islam yang cukup terkenal di Indonesia dan tetap bertahan hingga saat ini. Sekolah muallimat ini memang mempunyai hubungan khusus dengan pesantren kami karena ibu pengasuh pesantren kami adalah alumni dari sekolah muallimat ini. Sehingga kunjungan kami ke sekolah ini tidak hanya sekedar untuk studi banding tetapi juga sebagai ajang temu kangen bagi ibu pengasuh pesantren dengan almamaternya dan hampir setiap tahun akan selalu ada kunjungan dari pesantren kami ke madrasah muallimat begitu juga sebaliknya.

Setelah beberapa saat di madrasah ini, kamipun segera melanjutkan perjalanan ke pantai  parang tritis. Senangnya melihat laut yang membiru, lautan pasir yang dikenal dengan nama gumuk pasir terhampar di depan mata laksana berada di sebuah gurun. Tanpa menunggu lebih lama lagi, akupun langsung menjejakkan kaki di pinggiran pantau untuk merasakan datangnya gelombang laut yang datang dengan dahsyatnya. Aku tidak peduli dengan sebagian celana panjang yang sudah basah tersapu ombak, semuanya terasa menyenangkan sehingga tanpa sadar aku menjerit dengan kencang untuk melonggarkan sendi-sendi otot dalam tubuh dan melupakan segala kepenatan yang mendera. Aku betul-betul  merasa segar meski badan terasa capek. Rasanya berada di pinggir pantai membuatku betah sehingga enggan untuk kembali ketika waktu telah mengharuskanku untuk meninggalkan pinggir pantai.

Akhirnya aku harus meninggalkan pantai ini sambil berjanji dalam hati suatu saat aku akan kembali kesini. Perjalanan rihlah ini dilanjutkan kembali untuk kemudian berhenti di suatu tempat yang bernama malioboro. Aku sering mendengar nama itu, tapi aku sendiri belum pernah menjejakkan kaki kesana. Ternyata malioboro adalah sebuah pusat perbelanjaan yang di sebagian besar dipenuhi dengan pedagang batik. Dengan uang yang tersisa, akupun membeli satu baju batik dan celana untuk kenang-kenangan bahwa aku pernah kesini.

Setelah satu baju telah aku dapatkan, aku segera kembali ke tempat parkiran bus, karena aku tidak ingin berlama-lama berada di pusat perbelanjaan, karena aku tidak mungkin bisa belanja lebih banyak lagi. Tidak lupa akupun membeli satu kotak bakpia sebagai oleh-oleh.

Sambil menunggu teman-teman yang lain akupun duduk-duduk sambil merasakan minuman jahe yang bernama wedang ronde yang rasanya tidak jauh beda dengan minuman yang biasa aku beli ketika waktu aku masih kecil yang bernama “cemoe”. Tak terasa jam sudah menunjukkan jam 7 malam, teman-teman sudah banyak yang berkumpul di area parkir bis. Aku lihat teman-teman banyak yang menenteng belanjaan yang cukup banyak, tidak hanya baju batik dan kaos dagadu tetapi juga berbagai macam makanan khas Jogja mulai dari yangko, bakpia dan buah salak. Rupanya mereka sangat terkesan dengan harga-harga barang yang bagi kantong mereka sangat murah. Setelah panitia mengabsen kedatangan teman-teman, kamipun segera naek bus untuk segera kembali ke pesantren tercinta.

Satu hal yang membuatku terkesan yakni suasana Jogja memang telah membuatku jatuh cinta, aku merasa berada dalam lingkungan yang hangat dan enak untuk melanjutkan mimpi-mimpiku melalui sekolah. Ya…aku akan meneruskan kuliah di kota ini, bagaimanapun caranya, batinku dalam hati. Tunggu aku Jogja……….tidak lama lagi aku akan segera kembali.

Perjalanan dari kota gudeg Jogja menuju ke kota Ponorogo memakan waktu hingga kurang lebih enam jam, sehingga sampai di pesantren pada tengah malam. Sesampai di pesantren, kami sudah mendapati teman-teman yang rihlah di kota-kota sekitar Jawa Timur telah datang terlebih dahulu. Setelah mengemasi barang-barang dari bis, akupun segera menuju kamar untuk beristirahat.

Keesokan harinya, aktifitas sehari-hari sebagai santriwati tetap berjalan seperti biasanya. Rasa pegal dan capek di seluruh tubuh sepulang rihlah selama empat hari masih terasa. Kini saatnya kami semua disibukkan untuk membuat laporan hasil rihlah selama ini. Selama rihlah kami memang tidak sekedar jalan-jalan dan bersenang-senang, tetapi kami juga harus mencatat segala aktifitas rihlah hingga hal-hal baru yang kami perolah selama perjalanan dalam sebuah laporan khusus rihlah. Laporan ini dibuat secara individu dan menjadi kewajiban bagi kami semua tanpa terkecuali. Meski tidak banyak mencatat, aku membuat laporan melalui ingatan, aku tidak peduli apakah laporan rihlah ini akan mempengaruhi penilaian kami kelak. Tiga hari waktu yang aku perlukan untuk mengerjakan laporan rihlah, karena harus ditulis secara manual alias dengan tulis tangan. Cukup melelahkan memang menulis tangan dengan rapi diatas kertas folio, tapi alhamdulillah semuanya bisa selesai sesuai dengan deadline yang telah ditentukan. Kini saatnya aku mengumpulkan hasil laporanku ke ustadzah pembimbing kelas enam.

Add a comment Desember 16, 2010

Khutbatul Wada’

Sudah sebulan ini suasana pesantren agak lain. Setiap selesai sholat Isya’ suasana agak sedikit ramai dengan berbagai latihan untuk persiapan salah satu acara besar yakni khutbatul wada’. Istilah khutbatul wada’ merujuk pada masa Rosulullah yang memberikan pidato terakhirnya sebelum beliau meninggal dunia. Di pesantren ini, khutbatul wada’ merupakan ajang perpisahan bagi santriwati kelas enam yang akan meninggalkan pesantren ini dan melanjutkan pendidikannya atau melanjutkan kehidupannya untuk berkarya di dalam masyarakat. Berbagai persiapan telah disiapkan oleh para panitia sejak jauh-jauh hari bahkan sebulan sebelumnya. Mulai dari latihan pop song (vocal group) yang akan menyanyikan beberapa lagu seperti hymne al-mawaddah, oh pondokku, hymne guru, latihan qosidah, menari dan lain sebagainya. Khutbatul wada’ merupakan puncak sekaligus akhir dari rangkaian perjalanan kami sebagai seorang santriwati.

Hari-hari terakhir di pesantren terasa begitu indah dan aku sangat menikmatinya. Aku begitu menikmati aktifitas sebagai santriwati seperti selalu antri mandi, makan, mencuci, yang sebelumnya terasa sangat menjengkelkan. Akupun mulai menikmati suara jaros yang selama ini terkadang mengganggu aktifitasku untuk kemudian harus memenuhi panggilan sang jaros. Semuanya memang terasa begitu indah pada saat-saat terakhir. Karena aku sadar tidak akan pernah mendapatinya lagi di masa-masa mendatang.

Semua rangkaian kegiatan dan berbagai ujian telah kami lewati hingga kelas enam dan kini saatnya menanti puncak dari seluruh aktifitas itu, yakni pada saat khutbatul wada’. Sebagai santriwati yang akan di sahkan menjadi alumni dalam acara khutbatul wada’, akupun ikut menyambut acara khutbatul wada’ dengan berbagai perasaan yang bercampur baur, antara senang karena akhirnya telah berhasil melewati masa-masa di pesantren selama enam tahun, sedih karena terlalu banyak kenangan yang tersimpan disana.

Seminggu sebelum acara khutbatul wada’ digelar, ada satu sesi yang harus kami lewati sebagai santriwati akhir di pesantren. Satu sesi yang membuat hati dan jantung kami terus berdetak sebelum mendapatkan kepastian, yakni penentuan siapakah diantara kami semua yang wajib untuk mengabdikan diri di pesantren ini setelah kelulusan. Satu persatu kami dipanggil oleh ustadzah, diberikan sedikit nasehat dan motivasi dan setelah itu diberikan satu amplop tertutup yang akan kami buka setelah keluar dari ruangan. Amplop itu berisi ketentuan apakah kami wajib mengabdikan diri di pesantren ini minimal satu tahun ataukah kami bebas untuk meninggalkan pesantren ini dan langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mengabdi di pesantren bagi sebagian besar dari kami memang sesuatu yang berat, meski ada juga beberapa dari santriwati yang dengan rela mengajukan diri untuk mengabdikan diri di pesantren. Karenanya setiap wajah lesu yang keluar dari ruangan bisa dipastikan mereka termasuk wajib mengabdikan diri di pesantren, sebaliknya mereka yang luar dari ruangan dengan wajah ceria, maka mereka termasuk tidak mempunyai kewajiban untuk mengabdi, tetapi bisa memilih untuk mengabdi ataukah meninggalkan pesantren sesuai dengan apa yang dicita-citakan.

Kini saatnya giliranku dipanggil, aku langusung masuk dan duduk di tempat yang telah disediakan. Dihadapanku sudah ada dua orang ustadzah yang keduanya adalah ustadzah pembimbing kelas enam. Setelah menanyakan cita-cita serta keinginanku pasca keluar dari pesantren, ustadzah juga memberikan sedikit nasehat dan semangat. Setelah beberapa saat akupun diberikan amplop tertutup untuk aku lihat setelah keluar dari ruangan. Agak sedikit deg-degan memang tapi akhirnya aku merasa lega setelah membawa surat dalam amplop tersebut yang menyatakan bahwa aku tidak wajib untuk mengabdi di pesantren dan bisa langsung melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Sebenarnya semua santriwati diharapkan untuk bisa mengabdikan diri di pesantren. Mengabdi tidak hanya mengajarkan kami untuk menjadi guru yang sesungguhnya tetapi juga mengajarkan kami keikhlasan. Tetapi pesantren memberikan tetap memberikan keleluasaan bagi kami untuk menentukan pilihan. Hanya saja jika pihak pesantren meminta beberapa dari alumninya untuk mengabdi, akan sangat sulit bagi kami untuk menolaknya kecuali dengan alasan yang sangat kuat. Adapun alasan yang kuat untuk bisa menolak mengabdi di pesantren adalah alasan bahwa setelah keluar dari pesantren akan segera menikah. Alasan menikah akan menjadi alasan yang kuat bagi para alumni yang menolak mengabdikan dirinya untuk mengajar di pesantren.

Meski mengabdi dirasakan sesuatu yang berat, tetapi tidak jarang dari para alumni yang justru mengajukan dirinya untuk mengabdi tanpa harus diminta terlebih dahulu. Mengabdikan diri menjadi guru di pesantren memang tidak akan mendapat gaji sebagaimana para guru yang mengajar di sekolah umum. Tetapi pengalaman mengajar akan menjadi pengalaman yang sangat berharga dan memberikan kami bekal di masa mendatang. Meskipun demikian aku lebih memilih untuk mengabdikan diriku di luar pesantren. Aku berkeinginan keras untuk bisa melanjutkan pendidikan sembari harus berfikir mencari penghidupanku sendiri, karena mengandalkan kedua orang tua sepenuhnya adalah sesuatu hal yang tidak mungkin. Untuk itu jauh-jauh hari sebelum acara khutbatul wada’ digelar, aku sudah mengontak beberapa kakak-kakak kelas untuk mencari informasi dimana saya bisa kuliah sambil bekerja. Aku harus berusaha untuk bisa melanjutkan pendidikan, bagaimanapun caranya. Semoga aku bisa mendapatkan jalan untuk itu.

Akhirnya saat yang dinanti-nantikanpun tiba. Acara khutbatul wada’pun semakin dekat. Pesantren terlihat semakin ramai, baik karena adanya persiapan dari panitia maupun karena dua hari sebelum hari H para orang tua wali sudah pada berdatangan di pesantren. Para orang tua memang diundang dalam acara khutbatul wada’ karena khutbatul tidak hanya mewisuda dan melepas santriwati kelas enam tetapi juga merupakan acara penyerahan kembali para santriwati yang telah enam ataupun empat tahun dididik di pesantren kepada para orang tua. Ibu bersama adikku datang dalam acara khutbatul wada’. Mereka datang satu hari sebelum acara. Senang rasaya melihat ibuku datang, sementara adikku yang setahun lagi akan masuk pesantren memang sengaja diajak oleh ibu untuk mengenalkan kehidupan pesantren padanya.

Sementara kesibukan semakin terlihat disana sini terutama oleh para panitia. Mulai dari mendekorasi panggung, melatih santriwati yang akan tampil, menyiapkan konsumsi dan lain sebagainya. Sore hari sebelum hari H, semua santriwati kelas enam serta para pengisi acara dalam khutbatul wada’ melakukan gladi bersih, mulai dari acara pembukaan hingga penutupan. Gladi bersih ini diadakan agar semua dapat dengan baik dan lancar.

Acara khutbatul wada’ diadakan dalam dua sesi. Pada pagi hari dan malam hari. Acara pada pagi hari seringkali disebut sebagai walimah atau resepsi khutbatul wada’, karena berisi banyak pertunjukan dan hiburan dari para santriwati, sehingga tidak hanya diikuti oleh santriwati kelas enam dan orang tuanya tetapi juga diikuti oleh seluruh santriwati dan para ustadzah. Sementara acara pada malam hari khusus hanya diikuti oleh  santriwati kelas, para ustadzah serta orang tua wali murid. Acara pada malam hari merupakan acara puncak khutbatul wada’ yang di dalamnya hanya berisi pidato-pidato yang berisi wejangan, mulai dari ibu pengasuh, bapak direktur, bapak ketua yayasan dan satu lagi yang paling penting yakni pidato dari salah satu pendiri pesantren ini yakni bapak KH. Hasan Abdullah Sahal yang juga merupakan salah satu pimpinan pondok modern Gontor.

Pagi ini para orang tua dan semua santriwati telah menempati tempat yang telah disediakan. Sementara kami santriwati kelas enam masih belum memasuki tempat acara hingga semua telah siap. Setelah MC mempersilahkan untuk masuk ke tempat acara, barulah kami semua masuk dengan berbaris satu persatu diiringi dengan musik kitaro yang syahdu, sembari MC menyebutkan nama kami satu persatu berikut daerah asalnya. Dengan memakai baju kebesaran kami yakni baju seragam khusus kelas enam lengkap dengan kalung wisuda kami menuju tempat acara khutbatul wada’. Setelah semua duduk di tempat maka acara demi acara dimulai. Seperti acara-acara yang lain, selalu ada tari persembahan di awal acara sebagai tanda penghormatan bagi para tamu yang datang. Tari persembahan kali ini adalah tari sekapur sirih yang merupakan tarian yang berasal dari daerah propinsi Jambi. Karena acara khutbatul wada’ pada pagi hari merupakan acara resepsi, maka banyak acara-acara hiburan yang merupakan penampilan dari para santriwati, seperti tari-tarian, kosidah modern yang memakai penari-penari kipas, musik kolaborasi, dan lain sebagainya.

Ada saat-saat yang membuatku terharu, yakni saat para vocal group menyanyikan lagu hymne guru dan hymne oh pondokku. Kedua lagu itu biasanya hanya dinyanyikan pada momen-momen tertentu seperti khutbatul wada’. Dengan diiringi orgen yang juga dimainkan oleh seorang satriwati, lagu-lagu yang dinyanyikan memang terasa indah terdengar. Di akhir acara resepsi khutbatul wada’ ini, juga diumumkan lima orang santriwati terbaik untuk pelajaran pondok dan lima orang santriwati untuk pelajaran umum. Meski agak sedikit kecewa, karena aku tidak termasuk disana padahal aku merasa usaha yang aku lakukan selama ini untuk menjadi seorang the best telah maksimal, tapi ibuku selalu membesarkan hatiku dengan menghargai semua proses yang telah aku lakukan selama ini.

Acara resepsi khutbatul wada’ telah usai, tinggal satu acara puncak khutbatul wada’ yang sebenarnya pada malam harinya. Akupun segera pergi ke kamar dan mulai berbenah karena besok harus meninggalkan pesantren ini untuk selama-lamanya. Suasana kamar santriwati kelas enam secara umum sangat berantakan. Semua orang mulai mengemasi barang masing-masing dan sibuk dengan kedatangan orang tua masing-masing. Kardus-kardus, ember, kasur berserakan dimana-mana karena sudah tidak ada lagi jadwal piket bagi kami. Debu-debu juga dimana-mana sehingga membuat kami tidak betah berlama-lama di kamar. Kamar hanya menjadi tempat untuk meletakkan barang-barang, sehingga sebagian besar dari kami tidak tidur di kamar melainkan tidur bersama orang tua di kamar yang memang khusus disediakan untuk para tamu.

Setelah isya’ acara khutbatul wada’ kembali dilaksanakan. Semua santriwati akhir dan para orang tua serta para ustadzah duduk di depan panggung untuk mengikuti. Acara ini berisi pidato dan wejangan-wejangan dari para pimpinan pesantren, satu persatu mereka memberikan pidatonya hingga berakhir pada larut malam. Tidak ada hiburan, yang ada hanya khutbah dan khutbah. Acara ini diakhiri dengan acara salam-salaman dengan para pimpinan pesantren, para ustadzah, dan sesama santriwati kelas enam. Dengan diiringi suara sholawat, kami mulai berbaris untuk saling bersalaman. Dimulai dengan menyalami para pimpinan pesantren, para ustadzah baru kemudian sesama kelas enam. Suasana haru sangat terasa,  terdengar suara isak tangis di sela-sela gema sholawat dari para santriwati dan juga para ustadzah yang tidak kalah kerasnya, akupun tak kuasa menahan air mata, tidak terasa enam tahun sudah aku tinggal di pesantren ini dan malam itu adalah malam terakhir bagi kami semua. Ternyata enam tahun begitu cepat berlalu hingga akhirnya mau tidak mau kami harus meninggalkan pesantren ini.

Acara malam khutbatul wada’ akhirnya benar-benar selesai pada dini hari. Tidak jarang dari teman-teman yang akhirnya begadang hingga pagi untuk sekedar bernostalgia dan mengulang kembali kenangan enam dari enam tahun yang lalu, saling mengobrol karena bisa jadi kami tidak tahu, apakah kami bisa bertemu kembali dengan teman-teman suatu saat kelak terutama teman-teman yang berasal dari luar jawa. Rasanya baru kemaren kami makan bersama, terkena jasus, ikut KMD, sibuk dalam panitia bazar, merasakan ramadhan di pesantren, bernyanyi bersama dalam pelatihan guru TPA, semuanya begitu terasa indah pada detik-detik terakhir.

Esok harinya, usai acara pelepasan khutbatul wada’ terlihat kesibukan para santriwati kelas enam yang kini sudah resmi menjadi alumni. Ada yang berbenah dan mengemasi barang-barang mereka, ada yang sibuk menyelesaikan urusan administrasi, ada yang mengantri untuk mengambil ijazah serta legalisir, dan ada juga yang menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke kota Ponorogo, Madiun dan sekitarnya bersama orang tuanya terutama bagi mereka yang berasal dari luar jawa dan akan pulang kembali ke daerah asalnya, sehingga tidak melewatkan  momen untuk jalan-jalan. Aku sendiri antri untuk mengurusi berbagai urusan administrasi yang ternyata cukup banyak dan ribet. Mulai dari membayar iuran makan bulanan dan SPP yang menunggak beberapa bulan, iuran untuk rangkaian kegiatan kelas enam, iuran untuk fandel, kalender, hingga pembayaran untuk legalisir ijazah. Aku memang hanya seorang anak petani yang tidak mempunyai banyak sawah, sehingga urusan menunggak SPP dan uang makan bulanan sudah biasa. Biasanya bapak akan datang ke pondok ketika selesai masa panen untuk membayar uang sekolahku. Kali ini aku harus benar-benar melunasi semuanya karena akan meninggalkan pesantren ini untuk selamanya.

Tidak mudah bagi bapak dan ibu untuk menyekolahkan aku di pesantren ini, karena bagi kedua orang tuaku pesantren ini memang cukup mahal. Tidak heran jika teman-temanku berasal dari kalangan menengah keatas, mereka adalah anak-anak pegawai, anak pengusaha bahkan juga anak pejabat daerah. Karenanya cukup aku yang bersekolah di pesantren ini, sementara kedua adikku bersekolah di madrasah  tsanawiyah yang tidak jauh dari rumah, sehingga urusan biaya pendidikan dapat diminimalisir.

Usai menyelesaikan berbaga urusan administrasi, akupun segera bergegas menuju tempat pengambilan ijazah berikut legalisirnya. Ternyata antrian masih cukup panjang, akupun menunggu tanpa bisa banyak bercengkrama dengan teman-teman karena mereka telah disibukkan dengan urusan masing-masing. Seletah sekian menunggu, akhirnya namaku dipanggil juga, segera aku masuk ke kantor untuk mengambil berkas ijazah dan langsung pergi menuju ke ruang tamu untuk menemui ibu yang juga telah lama menungguku.

Menjelang senja segala urusan akhirnya selesai. Saatnya aku meninggalkan pesantren tercinta. Setelah berpamitan dengan beberapa ustadzah dan teman-teman, akupun pulang ke kampung halaman dengan membawa banyak sekali barang-barang terutama kardus-kardus yang berisi buku-buku. Apalagi tidak seperti sebagaian besar teman-teman pulang dengan menggunakan mobil pribadi, aku harus bersusah payah naik kendaraan umum (bus), bahkan harus berganti bus hingga dua kali dan bersambung dengan becak atau ojek hingga sampai ke rumah. Aku tidak tahu perasaanku saat sampai di rumah, antara capek, lega, sedih,  tapi apapun itu, semuanya tetap aku syukuri karena aku bisa menyekesaikan pendidikan di pesantren selama enam tahun, meski kesulitan ekonomi mendera keluargaku. Ketekadan orang tua disertai dengan do’a mereka memang membuat aku beserta kedua adikku bisa menyelesaikan pendidikan meski dengan segala keterbatasan dan keprihatinan.

 

 

 

 

 

 

1 komentar Desember 16, 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

November 2014
S S R K J S M
« Feb    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.