Perdamaian dalam Perspektif al-Qur’an dan Bible (Upaya membangun dialog antar agama di Indonesia)

Februari 12, 2011 zunlynadia

Pengantar

Akhir-akhir ini hubungan antar umat beragama di Indonesia kembali diuji. Penyerangan terhadap kelompok ahmadiyah, pembakaran gereja, demostrasi anarkis, hingga penyerangan terhadap jamaah gereja, peledakan bom, hingga teror-teror yang mengarah pada isu hubungan antar agama. Apa yang terjadi selama ini sangat mengiris nurani kemanusiaan. Bagaimana tidak, kasus penyerangan terhadap jamaah ahmadiyah di Cikeusik baru-baru ini misalnya memperlihatkan bagaimana bringas dan kejinya mereka melakukan kekerasan, ketika diantara jamaah sudah babak belur dan meninggalpun masih juga dipukul bahkan ditelanjangi bak seorang penjahat. Apa sebenarnya yang terjadi dengan negeri yang plural dan majemuk ini? Sudah hilangkah rasa kemanusiaan sehingga kekerasan seolah sudah menjadi hal yang lumrah? Adakah sesuatu yang salah dalam ajaran agama?

Pertanyaan-pertanyaan diatas terus menerus menggelayut di benak penulis. Bagaimana mungkin seorang yang beragama justru menjadi “preman” yang siap untuk menyerang siapa saja yang berbeda agama dan keyakinan. Apakah religiusitas seseorang justru akan menghantarkannya menjadi seorang yang membenci orang lain yang berbeda agama. Kegelisahan-kegelisahan ini membuat penulis mencoba untuk mengetahui lebih jauh tentang konsep perdamaian yang ada dalam ajaran agama (dalam hal ini adalah Islam dan Kristen) serta bagaimana konsep perdamaian itu diterapkan dalam kehidupan pemeluknya.

 

Perdamaian dalam Perspektif Al-Qur’an

Perdamaian merupakan salah satu ajaran pokok dalam ajaran Islam. Perintah untuk selalu berdamai tidak hanya terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an tetapi juga dicontohkan langsung dalam kehidupan Rosulullah Saw. Sebagaimana diketahui Muhammad adalah sosok yang sangat dikenal dengan kepribadian dan budi pekertinya yang baik. Ada banyak peristiwa bersejarah yang memperlihatkan pribadi Rasulullah sebagai seorang juru damai. Bahkan jauh sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi. Banyak perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Muhammad selama menjalankan misi dakwahnya dimana hal tersebut bertujuan untuk menghindari konflik dan berupaya membangun perdamaian. Mulai dari perjanjian Hudaibiyah, piagam Madinah, Perjanjian dengan delegasi Najran dan masih banyak lagi.

Kata Islam sendiri juga diambil dari kata “salama” yang berarti selamat dan juga “silm dan salaam” (damai) yang secara jelas menegaskan bahwa karakter dasar dari ajaran Islam adalah menyebarkan perdamaian.

Dalam ungkapan teks agama, perdamaian sering dibahaskan dengan al-aman, Dalam terminologi al-amān, adalah sebuah kesepakatan untuk menghentikan peperangan dan pembunuhan dengan pihak musuh. Selain al-aman, masih ada beberapa istilah lain yang juga merujuk pada perdamaian yakni al-sulh, al-hudnah, al-mu’ahadah dan aqd al-zimmah. Banyak ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang menunjukkan ajaran perdamaian. Meski diantara ayat-ayat tersebut tidak secara eksplisit menyatakan perintah perdamaian akan tetapi secara tersirat ayat tersebut mengajak umat muslim untuk membuat perdamaian. Misalnya ayat-ayat tentang berbuat adil, larangan untuk berbuat kekerasan[1], serta ayat-ayat tentang hubungan antar agama[2] serta universalitas agama.

Jika melihat teks-teks yang ada dalam al-Qur’an, maka akan terlihat wajah Islam yang damai dan menjadi penebar kedamaian. Dalam ayat tentang universalitas agama misalnya, terlihat bahwasanya Islam mengakui adanya pluralitas[3]. Islam juga mengajarkan umatnya untuk tidak memaksakan kehendak dalam beragama[4]. Bahkan Islam juga mengajarkan bagaimana cara berhubungan dengan pemeluk agama lain. Ungkapan salam yang selalu diucapkan oleh kaum muslimin tidak hanya sekedar ucapan salam tetapi lebih dari itu, yakni merupakan perintah untuk selalu menebarkan perdamaian dimanapun berada. Namun demikian dalam tataran praktis wajah damai Islam yang merupakan salah ajaran yang paling penting dalam agama Islam ini sering dinodai oleh praktik-praktik kekerasan dan pemaksaan oleh beberapa oknum dengan mengatasnamakan agama dan dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar. Sebuah konsep dakwah yang diwajibkan bagi setiap umat muslim. Prilaku-prilaku demikian ini membuat wajah Islam dinodai dan dipersepsikan sebagai agama kekerasan. Sebagaimana yang ditulis oleh Max Weber bahwa Islam adalah agama yang memiliki etos keprajuritan, tetapi tidak memiliki etos kewiraswastaan. Penyebaran Islam bahkan sering difahami dengan gambaran seseorang yang “memegang al-Quran di tangan kanan dan pedang di tangan kirinya”. Pendapat Max Weber ini memang tidak “sepenuhnya salah” ketika melihat prilaku radikalisme agama di kalangan kaum muslimin sehingga berwujud pada munculnya kekerasan serta pemaksaan dalam beragama. Namun pendapat ini jelas merupakan pendapat yang sangat tidak diterima ketika melihat secara menyeluruh ajaran Islam serta ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur’an. Artinya jelas bukan ajaran Islam yang memiliki etos keprajuritan karena sesungguhnya Islam adalah agama perdamaian.

Dalam mengajarkan perdamaian, ayat-ayat di dalam al-Qur’an tidak banyak menyebut kata perdamaian secara eksplisit, akan tetapi banyak sekali ayat-ayat yang mengajarkan untuk senantiasa berbuat baik dan menekankan adanya keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama manusia dimana jika ajaran-ajaran ini dilakukan dengan baik tentu saja akan berimplikasi pada perdamaian di dunia. Perintah atau anjuran berbuat baik kepada sesama adalah modal awal membangun perdamaian. Perbuatan baik kepada sesama adalah pintu utama dalam mewujudkan perdamaian. Perdamaian tidak akan tercipta dengan kezaliman karena akan selalu muncul perlawanan dari orang yang dizalimi. Ibarat kata pepatah, semut pun akan marah jika diinjak. Oleh karena itu, perintah Islam kepada umatnya agar beramal saleh merupakan fondasi bagi terwujudnya perdamaian dunia.

Dalam perintah dalam shalat misalnya, sebagai bentuk ibadah tertinggi dalam Islam. Shalat dimulai dengan takbir, yaitu menjunjung tinggi Asma Allah menhunjam erat ke dalam jiwa sang pelaku. Maka shalat adalah bentuk dzikir (mengingat Allah) tertinggi, yang dengannya seorang Muslim merasakan kedamaian bathin yang tak terhingga. Namun kedamaian jiwa tidak berakhir, tetapi harus diteruskan dengan kedamaian yang lebih luas, yaitu kedamaian sosial. Untuk itu, shalat tak akan menjadi valid ketika tidak diakhiri dengan komitmen menyebarkan perdamaian kepada sesama. Salam yang diucapkan di akhir shalat adalah bentuk komitmen tertinggi dari seorang Muslim dalam mewujudkan perdamaian sosial.

Demikianlah konsep damai yang ada dalam al-Qur’an. Semua ajaran, perintah yang ada dalam ajaran Islam sebenarnya berujung pada terciptanya perdamaian dan keadilan di dunia. Kedatangan Islam di tengah bangsa arab yang pada masa itu jelas mempunyai misi perdamaian. Bangsa Arab yang saat itu terpecah belah kedalam suku-suku dan suka berperang menjadi sebuah satu komunitas dibawah konsep keumatan. Sehingga semua manusia disamakan kedudukannya kecuali atas dasar iman. Disinilah kemudian kedatangan Islam membawa pergeseran yang cukup fundamental dalam system sosial bangsa Arab dari yang awalnya terpusat pada pertalian atas dasar kekeluargaan menjadi pertalian atas dasar keimanan dibawah konsep ummat[5].

Muhammad Abduh dalam al-Islam wa al-Nashraniyyah: bayn al-’Ilm wa al-Madaniyyah juga menulis bahwa ajaran perdamaian Islam mewujud dalam struktur kekuasaan. Sebab dalam sejarah kekuasaan Islam, utamanya pada dinasti Umayyah dan Abbasiyah, ditemukan sejumlah orang-orang Yahudi dan Kristen yang menjadi bendahara, sekretaris, tim dokter, bahkan penasehat raja. Ini tidak lain disemangati, bahwa dalam sistem kekuasaan sekalipun, perdamaian harus diutamakan, karena hampir tidak mungkin membangun tatanan masyarakat yang maju, adil, dan sejahtera tanpa basis perdamaian yang kuat[6]. Ini merupakan fakta sejarah Islam bagaimana sikap tasāmuh (toleran) dan kasih sayang kaum muslimin terhadap pemeluk agama lain, baik yang tergolong ke dalam ahl al-Kitab maupun kaum mushrik, bahkan terhadap seluruh makhluk, Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan dan dan kedamaian[7].

 

Perdamaian dalam Perspektif Bible

Pesan damai sangat terasa bagi umat kristiani, Yesus sebagai tokoh sentral dalam agama Kristen senantiasa mengajarkan umatnya untuk cinta damai. Yesus tidak hanya dikenal sebagi juru selamat tetapi juga diberi gelar sebagai Raja damai karena Dia adalah seorang yang anti terhadap kekerasan. Banyak cerita yang menggambarkan betapa Yesus adalah sang juru damai, bahkan di dalam bible dapat dilihat baha tidak satupun ayat yang mengindikasikan bahwa Yesus pernah mengajak orang untuk berperang. Diantara ajaran Yesus tentang perdamaian adalah Yesus mengajarkan untuk melawan kekerasan tanpa kekerasan. Ajaran melawan kekerasan tanpa kekerasan ini bukan berarti mengajarkan kepasrahan atau tanpa perlawanan, tetapi juga mengajarkan jalan ketiga misalnya dengan menggunakan kekuatan moral daripada kekuatan fisik, mencari alternatif lain daripada menggunakan kekerasan, tidak membalas dendam, dan lain sebagainya[8].

Ada banyak ayat di dalam bible yang menunjukkan secara jelas tertulis bagaimana perdamaian juga menjadi tujuan utama dari ajaran Yesus. Bible berbicara tentang keadilan, pentingnya pemberian maaf serta mengasihi sekalipun terhadap musuh dan lain sebagainya. Yesus sebagai pembawa pesan damai juga memberikan teladan kepada umatnya bagaimana konsep tentang perdamaian itu dipraktekkan dalam kehidupan. Satu-satunya cerita yang menceritakan bahwa Yesus marah adalah ketika Yesus mengambil cambuk dari tali dan mengusir pedagang-pedagang dan penukar uang di halaman Bait Allah[9]. Tindakan ini tentu saja sama sekali tidak membahayakan siapapun kecuali nyawanya sendiri, karena semenjak peristiwa tersebut para pejabat Yahudi sepakat untuk menghukum mati Yesus. Masih banyak lagi cerita-cerita tentang Yesus dalam mengajarkan perdamaian dimana hal tersebut membuat umat kristiani terinspirasi untuk senantiasa membawa membawa misi perdamaian di muka bumi.

Damai dalam pandangan agama kristiani merujuk pada kata eirene dalam bahasa Yunani atau syallom di dalam bahasa Ibrani yang kemudian diterjemahkan menjadi damai sejahtera. Damai tidak hanya berarti bahwa tidak ada perang, pertikaian atau kekacauan, tetapi suasana hati dan lingkungan masyarakat di mana hubungan manusia dengan sesama, lingkungan dan diri sendiri tenang, bahagia dan terbuka kepada sang pemberi damai.

Upaya membangun perdamaian sebagaimana pesan bible ini juga menginspirasi gereja katolik, dimana dalam peribadatan dilengakapi dengan saling menyampaikan salam damai. Pesan damai dalam bible juga menginspirasikan pacem in terris dalam salah satu ensiklik[10]. Pacem in Terris berarti damai di bumi. Ensiklik ini ditulis oleh Paus Yohanes XXIII dan diterbitkan pada tanggal 11 April 1963 yang hingga saat ini masih diperingati dan masih cukup relevan. Didalam Pacem in Terris disebutkan bahwa perdamaian bertumpu pada empat tiang penyangga, yakni kebenaran, keadilan, cinta dan kemerdekaan.

Kebenaran merupakan tiang pertama, karena temasuk di dalamnya pengakuan bahwa manusia itu bukan merupakan penentu dirinya sendiri melainkan bahwa dia dipanggil untuk memenuhi kehendak Tuhan, pencipta segalanya, yang merupakan Sang kebenaran mutlak. Dalam hubungan manusiawi, kebenaran itu mengandaikan ketulusan, yang merupakan syarat untuk saling percaya dan dialog menuju perdamaian.

Perdamaian tidak dapat terjadi tanpa keadilan, hormat kepada martabat dan hak perorangan. Tanpa keadilan baik dalam hubungan pribadi, sosial maupun internasional akan menyebabkan kekacauan dan kekacauan akan menyebabkan kekerasan di bumi. Keadilan juga harus dilengkapi dengan cinta. Dengan cinta, maka sesama manusia akan menjadi saudara, sehingga akan terjadi hubungan untuk saling berbagi baik dalam kesengsaraan maupun kegembiraan. Cinta juga akan membuat manusia untuk sanggup mengampuni dan memaafkan karena pengampunan adalah salah satu faktor yang penting dalam memulihkan perdamaian setelah pecah pertikaian.

Baik kebenaran, keadilan maupun cinta itu mengandaikan adalanya kemerdekaan sebagai salah satu sifat hakiki yang dimiliki dengan manusia. Kemerdekaan akan memungkinkan manusia untuk bertindak berdasarkan akalnya dan memikul tanggungjawab atas segala tindakannya sendiri, karena manusia secara pribadi akan bertanggung jawab dihadapan Tuhan atas segala tindakannya[11].

Dari sini sangat terlihat bagaimana perdamaian yang tertulis dalam teks bible itu kemudian coba dikembangkan oleh umat kristiani (katolik) dalam Pacem Terris, sehingga apa diajarkan oleh Yesus di dalam bible dapat dilaksanaan oleh para jemaat.

Lebih Jauh tentang Perdamaian dalam al-Qur’an dan Bible

Perdamaian tidak hanya bermakna damai dalam arti tidak dalam kondisi peperangan, tetapi perdamaian juga mencakup makna yang lebih luas, yakni suatu kondisi dimana sudah tidak ada lagi kekerasan struktural atau terciptanya keadilan sosial. Perdamaian dalam konsep ini meliputi semua aspek tentang masyarakat yang baik, seperti: terpenuhinya hak asasi yang bersifat universal, kesejahteraan ekonomi, keseimbangan ekologi dan nilai-nilai pokok lainnya. Berdasarkan konsep ini, perdamaian bukan hanya merupakan masalah pengendalian dan pengurangan tercapainya semua aspek tersebut, namun perdamaian merupakan konsep yang cukup luas dan pencapaiannya membutuhkan proses yang panjang. Dari sini dapat dilihat bahwa baik di dalam al-Qur’an maupun dalam bible, perdamaian juga mencakup makna yang luas ini. Disana terdapat konsep keadilan, kasih sayang, hubungan antar agama hingga ayat-ayat yang menjelaskan pada tataran praktis bagaimana cara mengakhiri konflik, pentingnya pemberian maaf dan lain sebagainya.

Perdamaian dalam bahasa al-Qur’an disebut salam dan dalam bahasa bible disebut syalom, merupakan inti ajaran dari kedua agama baik Islam maupun Kristen. kedua kitab tersebut sama-sama mengajarkan bagaimana membangun perdamaian di muka bumi ini, meski dalam prakteknya banyak sekali terjadi konflik yang menyebabkan peperangan dan munculnya banyak kekerasan atas nama agama.  Karena meski di dalam al-Qur’an dan bible terdapat banyak ayat-ayat yang mengajarkan perdamaian tetapi disana juga terdapat ayat-ayat tentang peperangan yang seringkali dijadikan landasan untuk melakukan peperangan dan kekerasan. Didalam al-Qur’an misalnya ayat-ayat tentang jihad seringkali dimaknai sebagai ayat perang, sehingga perintah untuk berjihad ditafsirkan sama dengan perintah untuk berperang. Padahal jihad mempunyai makna yang sangat luas dan tidak hanya bisa dimaknai dengan perang. Disinilah sebenarnya yang menjadi persoalan besar di kalangan umat baik Islam maupun Kristen. Persoalan penafsiran terhadap ayat-ayat yang terdapat di dalam al-Qur’an dan bible, sehingga memunculkan “persoalan” dalam tataran praktis di kalangan umatnya, padahal al-Qur’an dan bible sendiri justru malah memperingatkan umatnya untuk tidak saling membunuh dan berperang. Peperangan hanya diperbolehkan jika dalam kondisi untuk mempertahankan diri.

Disini sengaja penulis tidak berupaya untuk membuat komparasi diantara keduanya dan hanya sekedar memaparkan bagaimana sebenarnya konsep perdamaian itu dalam perspektif al-Qur’an dan Bible, karena pada dasarnya di dalam kedua kitab tersebut banyak sekali ayat-ayat yang terkait dengan perdamaian, sehingga dapat dikatakan bahwa kedua ajaran agama tersebut sama-sama mengajarkan dan mengajak umatnya untuk senantiasa membuat perdamaian di muka bumi. Sang pembawa damai (Muhammad dan Yesus) juga sama-sama memberikan teladan bagaimana perdamaian dapat dicapai meski keduanya sama-sama harus mengalami berbagai pengalaman pahit untuk mewujudkan itu.

Perdamaian dalam konteks Pluralitas agama di Indonesia

Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah panjang perkembangan agama-agama dinodai dengan berbagai peperangan dan kekerasan. Sejarah memang banyak mencatat berbagai macam konflik dan perang di kalangan umat manusia, baik konflik antar suku, negara maupun konflik atas nama agama. Berapa banyak nyawa melayang dan dikorbankan karena tujuan-tujuan yang tidak semestinya. Dalam konflik atas nama agama misalnya, tercatat sebuah perang besar yang disebut dengan “the holy war” atau seringkali dikenal dengan perang salib yang masih meninggalkan trauma bagi sebagian besar pengikut agama baik Islam maupun Kristen. hingga saat ini. Selain itu berapa banyak kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia yang juga melibatkan nama agama secara tidak langsung, seperti kekerasan yang terjadi di Bosnia, Palestina, Irlandia, hingga Irak yang membuat ada jarak dan sekat yang cukup lebar antar pemeluk agama[12].

Apa yang terjadi diatas juga terjadi di Indonesia. Sebagai sebuah negara yang pluralis dan multikultur, dengan bermacam-macam agama, beragam budaya, suku, bahasa, pluralitas dan kemajemukan ini di satu sisi merupakan salah satu kekayaan bangsa yang cukup membanggakan, tetapi disisi lain jika pluralitas dan keragaman ini tidak bisa dikelola dengan baik, maka akan menjadi konflik yang dapat memecah belah kesatuan bangsa ini.

Ada beberapa catatan tentang konflik dan kekerasan yang mengatasnamakan agama di Indonesia, sebutlah konflik di Ambon, Poso, kasus terorisme, pembakaran gereja dan yang baru-baru ini terjadi kekerasan terkait dengan ahmadiyah. Kekerasan atas nama agama ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun, tidak hanya kekerasan antar agama tetapi juga kekerasan diantara umat seagama. Hal ini bisa dilihat dari hasil survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga diantaranya CRCS UGM, Wahid Institute yang menyatakan bahwa angka kekerasan berbasis agama dan diskriminasi terhadap aliran dan agama minoritas baik yang dilakukan oleh individu, kelompok maupun organisasi kemasyarakatan dan keagamaan semakin meningkat[13].

Jika melihat pada teks-teks agama diatas (baca : al-Qur’an dan bible), maka ada semacam “jurang” atau “kesenjangan” antara apa yang ada dalam ajaran agama dengan apa yang telah dipraktekkan oleh para pemeluk agama. Dalam konteks Indonesia terutama dalam hal ini adalah umat Islam, dimana beragam stigma negatif muncul terkait dengan berbagai konflik dan kekerasan atas nama agama. Hal ini sungguh memprihatinkan –untuk tidak mengatakan memalukan-karena sebagai kelompok agama mayoritas bukannya bisa mengayomi kelompok minoritas tetapi justru malah menjadi penebar terror dan kekerasan.

Kekerasan atas nama agama seringkali diawali dengan perasaan curiga terhadap kelompok agama lain. Bagi kalangan muslim stigma bahwa umat kristiani pasti akan menggunakan beragam cara untuk mempengaruhi dan menyebarkan agamanya dan begitu juga sebaliknya bagi umat kristiani, stigma teroris dan preman berjubah membuat mereka tidak nyaman dengan kelompok muslim. Prejudice semacam ini sangat sulit untuk dihilangkan bahkan ada kalanya justru sengaja dipupuk sehingga menjadi semakin kuat.  Hal inilah yang membuat hubungan antar agama seolah sulit menjadi harmonis.

Dari sinilah kemudian perlu adanya membangun sebuah dialog yang intensif antar pemeluk agama. Karena tanpa adanya dialog, saling mengenal antar berbagai pemeluk agama, upaya menghilangkan prasangka-prasangka tentu akan sulit dan selama prasangka-prasangka itu masih ada, maka benturan dan kekerasan antar agama akan terus terjadi.

Berbagai program dialog antar agama seringkali dimunculkan dalam rangka menjembatani berbagai agama ini[14]. Tetapi sampai saat ini dialog antar agama belum menyentuh pada masyarakat bawah yang notabene sebenarnya selalu menjadi korban dari kekerasan yang terjadi. Dialog antar agama hanya sekedar proyek yang cukup melibatkan kalangan atas dan intelektual. Hal inilah yang menyebabkan dialog antar agama mengalami kebuntuan tanpa memberikan kontribusi. Dialog antar agama tidak hanya menjadi  pekerjaan rumah bagi pemerintah, tetapi juga bagi kaum intelektual dan para tokoh agama. Karena tanpa peran kaum intelektual dan agamawan maka dialog antar agama secara luas dan intensif tidak akan terlaksana. Proses dialog yang dilakukan secara terus menerus akan membawa dampak bagi terciptanya perdamaian. Perdamaian yang selalu didambakan semua pihak.

 

Penutup

Ajaran agama sesungguhnya adalah ajaran tentang perdamaian. Namun demikian, pada kenyataannya, apa yang telah diajarkan dalam agama tidak selalu sama dengan apa yang telah dipraktekkan oleh para pemeluknya. Berbagai kekerasan atas nama agama masih terus saja terjadi. Semua bersikukuh sebagai pihak yang benar. Begitu mudahnya isu terkait dengan agama disulut dan memecah perdamaian.

Semua ini terjadi karena masing-masing pemeluk agama mempunyai prasangka dan kecurigaan terhadap pemeluk agama lain. Disinilah kemudian perlu adanya dialog antar umat beragama. Dialog yang terbangun dan dilakukan secara terus-menerus tidak hanya di kalangan atas tetapi juga di masyarakat kalangan bawah. Dengan terbangunnya dialog maka prasangka dan perasaan curiga yang selama ini mengungkung pemeluk agama dan menghalangi toleransi perlahan-lahan akan semakin terbuka, sehingga dengan sendirinya perdamaian akan tercapai.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Armstrong, Karen, Berperang Demi Tuhan, (Jakarta: Serambi dan Mizan, 2001), cet-II.

 

Dumartheray, Roland dkk, Agama dalam Dialog: Pencerahan, Perdamaian dan Masa Depan, Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003, cet-2.

 

Harold Coward and Gordon S Smith (ed.), Religion and Peacebuilding, (USA : State University of NewYork, 2004.

Harun, Hermanto Islam dan Perdamaian dalam http://ibnuharun.multiply.com/journal/item/12

 

Muhaimin AG (ed.), Damai di dunia Damai untuk Semua Perspektif berbagai Agama, Jakarta : Proyek Peningkatan Pengkajian Hidup Umat Beragama, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Departemen Agama RI, 2004.

Suherlan, Ian, Menegakkan Perdamaian dan Keadilan, Buletin No. 185, http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A4473_0_3.

 

Wahid, Abdurrahman dkk, Dialog : Kritik dan Identitas Agama, Yogyakarta: Dian Interfidei, t.th.

 

www.wahidinstitute.org.

 

www.crcs.ugm.ac.id

 

 

 


[1] QS Adz-Dzariyat [51]: 56

[2] QS Al-Kafirun 1-6

[3] QS al-Hujurat [49]: 13

[4] QS Al-Baqarah 256

[5] Harold Coward and Gordon S Smith (ed.), Religion and Peacebuilding, (USA : State University of NewYork, 2004), hlm 130-131

[6] Ian Suherlan, Menegakkan Perdamaian dan Keadilan, Buletin No. 185, http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A4473_0_3.

[7] Hermanto Harun, Islam dan Perdamaian dalam http://ibnuharun.multiply.com/journal/item/12

[8] Muhaimin AG (ed.), Damai di dunia Damai untuk Semua Perspektif berbagai Agama, (Jakarta : Proyek Peningkatan Pengkajian Hidup Umat Beragama, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Departemen Agama RI, 2004), hlm 130-147

[9] Yohanes 2 : 13-25

[10] Istilah ensilik secara etimologis berasal dari bahasa Yunani egkyklios, kyklos yang berarti edaran. Pada dasarnya itu adalah surat edaran. Sekarang ini istilah itu dipergunakan didalam kalangan gereja katolik untuk menunjuk pada surat-surat Paus yang disampaikan kepada umat katolik.

[11] Muhaimin AG (ed.), Op.Cit, hlm 166-167

[12] Lihat Karen Armstrong, Berperang Demi Tuhan, (Jakarta: Serambi dan Mizan, 2001), cet-II.

[13] tentang laporan keberagaman di Indonesia tahun 2010 oleh CRCS UGM bisa dilihat di www.crcs.ugm.ac.id, laporan kebebasan agama yang dibuat oleh The Wahid Institute tahun 2010 bisa dilihat di www.wahidinstitute.org.

 

[14] Roland Dumartheray dkk, Agama dalam Dialog: Pencerahan, Perdamaian dan Masa Depan, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003), cet-2. Lihat juga Abdurrahman Wahid dkk, Dialog : Kritik dan Identitas Agama, (Yogyakarta: Dian Interfidei, t.th)

Entry Filed under: Studi Islam

One Comment Add your own

  • 1. SAYIDATUL MUHSINATIN  |  Juli 17, 2011 pukul 3:18 pm

    Islam dan salam mmg berarti damai,org kristen sering menyebut dg kata damai dlm pesan natal,sementara santi dalam agama hindu berarti juga damai.saya rasa semua memberi pesan damai dlm ajarannya.tetapi ketika ambisi politik seseorang/kelp mengatasnamakan agama baru deh muncul konflik.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

Februari 2011
S S R K J S M
« Jan    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: