Signifikansi Hermeneutika dalam Tafsir al-Qur’an Kontemporer (Sebuah Pengantar)

Januari 23, 2011 zunlynadia

Oleh : Zunly Nadia/SQH

Pendahuluan

Seiring dengan perkembangan zaman, persoalan kemanusiaan juga berkembang semakin kompleks, mulai dari persoalan genetika, eksplorasi ruang angkasa, pendidikan, hubungan antar agama, persoalan gender, HAM, dan lain sebagainya, dimana hampir tidak ada lagi sekat-sekat yang antara manusia karena  teknologi telah membuat semua orang diseluruh dunia berinteraksi dengan mudahnya. Pesatnya perkembangan zaman ini membuat ilmu-ilmu keIslaman mau tidak mau harus segera berbenah dan mengikuti arus zaman, dan tanpa terkecuali ilmu tafsir.

Ilmu tafsir juga dituntut untuk selalu berkembang dalam menghadapi kompleksnya persoalan kemanusiaan. Disinilah kemudian gagasan tentang penggunaan hermeneutika menjadi sebuah keniscayaan bagi para penafsir saat ini. Hermeneutika sebagai sebuah metodologi dalam tafsir al-Qur’an dirasa cukup penting dan mendesak untuk dilakukan karena hermeneutika tidak hanya berbicara dalam tataran teks semata melainkan juga mempertimbangkan konteks serta peran subyektifitas seorang penafsir, sehingga tafsir atau kajian terhadap al-Qur’an menjadi kontekstual dan bisa menjawab tantangan zaman.

Namun demikian kehadiran hermeneutik sebagai sebuah metode dalam menafsirkan teks al-Qur’an ini tidak diterima begitu saja dikalangan umat Islam dan justru menimbulkan reaksi bagi sebagian mereka. Bagi yang menolak hermeneutika sebagai salah satu metode dan metodologi dalam menafsirkan al-Qur’an, mereka beranggapan bahwa hermeneutika bukanlah berasal dari tradisi Islam dan merupakan metode yang dipakai dalam mengkaji bible, tentu saja mereka menolak, karena menggunakan hermeneutika dalam mengkaji al-Qur’an sama saja dengan mensejajarkan al-Qur’an dengan bible dan juga teks-teks yang lain seperti teks sastra dan lain sebagainya, padahal al-Qur’an adalah kalam ilahi dan bukan hasil karya cipta manusia.

Dalam makalah ini penulis mencoba akan memaparkan signifikansi hermeneutika dalam kajian tafsir al-Qur’an berikut ragam corak hermeneutika al-Qur’an yang dipakai oleh para penafsir al-Qur’an kontemporer.

 

Seputar Hermeneutika

Kata Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani “Hermeneuo” yang berarti menafsirkan. Kata ini sering diasosiasikan dengan nama salah satu dewa bagi manusia. Hermes adalah utusan para dewa di langit untuk membawa pesan kepada manusia[1]. Hermeneutika secara ringkas biasa diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi tahu dan mengerti. Lebih jelasnya jika melihat dari dari teminologinya, kata hermeneutika ini bisa didefinisikan menjadi sebagai tiga hal, yakni[2]:

  1. Pengungkapan pikiran dalam kata-kata, penerjemahan dan tindakan sebagai penafsir.
  2. Usaha pengalihan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh si pembaca
  3. Pemindahan ungkapan pikiran yang kurang jelas, diubah menjadi bentuk ungkapan yang lebih jelas.

Adapun pengasosiasian etimologis antara hermeneutik dengan hermes secara inhern menggambarkan suatu struktur triadic seni penafsiran, yaitu[3]:

  1. Tanda, pesan atau teks yang menjadi sumber atau bahan dalam penafsiran yang diasosiasikan dengan pesan yang dibawa oleh Hermes.
  2. Perantara atau penafsir (Hermes),
  3. Penyampaian pesan itu oleh sang perantara agar bisa dipahami dan sampai kepada yang menerima.

Masih terkait dengan pengertian hermeneutik, Ben Vedder membedakan empat keberagaman dan kebertingkatan definisinya, sebagimana yang dikutp oleh Sahiron empat terma yang dimaksud adalah hermeneuse, hermeneutic, philosophical hermeneutics, dan hermeneutical philosophy[4].

Hermeneuse didefinisikan sebagai penjelasan atau interpretasi sebuah teks, karya seni dan prilaku seseorang. Dari definisi ini maka hermeneuse merujuk pada aktifitas penafsiran terhadap obyek-obyek tertentu seperti teks, symbol-simbol seni (lukisan, novel, puisi dan lain sebagainya) serta prilaku manusia. Disini hermeneuse tidak terkait secara substansial dengan metode-metode atau hal-hal yang melandasi penafsiran.

Sementara itu hermeneutik merupakan aturan, metode, strategi atau langkah penafsiran, sedangkan Philosophical hermeneutics tidak lagi berbicara persoalan metode tertentu tetapi merupakan hal-hal yang terkait dengan “kondisi-kondisi kemungkinan” yang dengannya seseorang dapat memahami dan menafsirkan sebuah teks, symbol atau prilaku. Lebih jelasnya disini lebih menekankan pad kerangka atau framework dimana sebuah penafsiran didasarkan. Terakhir adalah hermeneutical philosophy atau filsafat hermeneutic yang merupakan bagian dari pemikiran filsafat yang mencoba menjawab problem kehidupan manusia dengan cara menafsirkan apa yang diterima oleh manusia dari sejarah dan tradisi[5]. Dengan keempat tema ini maka hermeneutik merupakan cabang ilmu pengetahuan yang membahas hakekat, metode dan syarat serta prasyarat penafsiran.

Dalam sejarah perkembangannya, hermeneutika dibagi dalam tiga fase[6]:

1. Dari mitologi Yunani ke teologi Yahudi dan Kristen

2. Dari teologi Kristen yang problematik ke gerakan rasionalisasi dan filsafat

3. Dari hermeneutika filosofis menjadi filsafat hermeneutika

 

 

 

Dari Mitologi Yunani ke Teologi Yahudi dan Kristen[7]

Dalam mitologi Yunani, dewa-dewa dipimpin oleh Zeus bersama Maia.Pasangan ini mempunyai anak bernama Hermes. Hermes inilah yang bertugas untuk menjadi perantara dewa dalam menyampaikan pesan-pesan mereka kepada manusia. Metode hermeneutika secara sederhana merupakan perpindahan fokus penafsiran dari makna literal atau makna bawaan sebuah teks kepada makna lain yang lebih dalam. Dalam artian ini, para pengikut aliran filsafat Antisthenes yang didirikan sekitar pertengahan abad ke-4 sebelum masehi telah menerapkan hermeneutika pada epik-epik karya Homer (abad IX SM).

Dasar mereka adalah kepercayaan bahwa dibalik perkataan manusia pun sebenarnya ada inspirasi Tuhan. Kepercayaan tersebut sejatinya refleksi pandangan hidup orang-orang Yunani saat itu. Walaupun hermeneutika sudah diterapkan terlebih dahulu, namun istilah hermeneutika pertama kali ditemui dalam karya Plato (429-347 SM). Dalam Definitione Plato dengan jelas menyatakan hermeneutika artinya “menunjukkan sesuatu” dan dalam Timeus Plato mengaitkan hermeneutika dengan otoritas kebenaran. Stoicisme (300 SM) kemudian mengembangkan hermeneutika sebagai ilmu interpretasi alegoris.

Metode alegoris ini dikembangkan lebih lanjut oleh Philo of Alexandria (20 SM-50M), seorang Yahudi yang disebut sebagai Bapak metode alegoris. Ia mengajukan metode bernama typology yang menyatakan bahwa pemahaman makna spiritual teks tidak berasal dari teks itu sendiri, akan tetapi kembali pada sesuatu yang berada di luar teks. Philo menerapkan metode ini atas Kitab Perjanjian Lama, ia menginterpretasikan “pohon kehidupan” sebagai “takut kepada Tuhan”, “pohon pengetahuan” sebagai “hikmah”, “empat sungai yang mengalir di surga” sebagai “empat kebajikan pokok”, “Habil” sebagai “takwa yang bersumber dari akal”, “Qabil” sebagai “egoisme” dan sebagainya. Keempat Hermeneutika alegoris ini kemudian diadapsi dalam Kristen oleh Origen (185-254 M). Ia membagi tingkatan pembaca Bibel menjadi tiga:

a. Mereka yang hanya membaca makna luar teks.

b. Mereka yang mampu mencapai ruh Bibel.

c. Mereka yang mampu membaca secara sempurna dengan kekuatan

spiritual.

Origen juga membagi makna menjadi tiga lapis, yang kemudian dikembangkan oleh Johannes Cassianus (360-430 M) menjadi empat: makna literal atau historis, alegoris, moral dan anagogis atau spiritual. Namun metode ini ditentang oleh gereja yang berpusat di Antioch. Hingga munculnya St. Augustine of Hippo (354-430 M) yang mengenalkan semiotika. Di antara pemikir Kristen lain yang ikut menyumbangkan pemikirannya dalam asimilasi teori hermeneutika dalam teologi Kristen adalah Thomas Aquinas (1225-1274). Sementara itu, Kristen Protestan membentuk sistem interpretasi hermeneutika yang bersesuaian dengan semangat reformasi mereka. Prinsip hermeneutika Protestan berdekatan dengan teori yang digulirkan Aquinas. Di antaranya keyakinan bahwa kehadiran Tuhan pada setiap kata tergantung pada pengamalan yang diwujudkan melalui pemahaman yang disertai keimanan (self interpreting). Protestan juga berpandangan bahwa Bibel saja cukup untuk memahami Tuhan (sola scriptura), di sisi lain, Kristen Katolik dalam Konsili Trent (1545) menolak pandangan ini dan menegaskan dua sumber keimanan dan teologi Kristen, yaitu Bibel dan tradisi Kristen.

 

2. Dari Teologi Kristen ke Gerakan Rasionalisasi dan Filsafat[8]

Dalam perkembangan selanjutnya, makna hermeneutika bergeser menjadi bagaimana memahami realitas yang terkandung dalam teks kuno seperti Bibel dan bagaimana memahami realitas tersebut untuk diterjemahkan dalam kehidupan sekarang. Satu masalah yang selalu dimunculkan adalah perbedaan antara bahasa teks serta cara berpikir masyarakat kuno dan modern. Dalam hal ini, fungsi hermeneutika berubah dari alat interpretasi Bibel menjadi metode pemahaman teks secara umum. Pencetus gagasan ini adalah seorang pakar filologi Friederich Ast (1778-1841). Ast membagi pemahaman teks menjadi tiga tingkatan:

a. Pemahaman historis, yaitu pemahaman berdasarkan perbandingan satu teks dengan yang lain.

b. Pemahaman ketata-bahasaan, dengan mengacu pada makna kata teks.

c. Pemahaman spiritual, yakni pemahaman yang merujuk pada semangat, mentalitas dan pandangan hidup sang pengarang terlepas dari segala konotasi teologis ataupun psikologis.

Dari pembagian di atas, dapat dicermati bahwa obyek penafsiran tidak dikhususkan pada Bibel saja, akan tetapi semua teks yang dikarang manusia.

 

3. Dari Hermeneutika Filosofis ke Filsafat Hermeneutika[9]

Pergeseran fundamental lain yang perlu dicatat dalam perkembangan hermeneutika adalah ketika hermeneutika sebagai metodologi pemahaman berubah menjadi filsafat. Perubahan ini dipengaruhi oleh corak berpikir masyarakat modern yang berpangkal pada semangat rasionalisasi. Dalam periode ini, akal menjadi patokan bagi kebenaran yang berakibat pada penolakan hal-hal yang tak dapat dijangkau oleh akal atau metafisika.

Babak baru ini dimulai oleh Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768-1834) yang dianggap sebagai bapak hermeneutika modern dan pendiri Protestan Liberal. Salah satu idenya dalam hermeneutika adalah universal hermeneutic. Dalam gagasannya, teks agama sepatutnya diperlakukan sebagaimana teks-teks lain yang dikarang manusia.

Pemikiran Schleiermacher dikembangkan lebih lanjut oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911), seorang filosof yang juga pakar ilmu-ilmu sosial. Setelahnya, kajian hermeneutika berbelok dari perkara metode menjadi ontologi di tangan Martin Heidegger (1889-1976) yang kemudian diteruskan oleh Hans-Georg Gadamer (1900-1998) dan Jurgen Habermas (1929- ).

Pro Kontra Terhadap Hermeneutik

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemunculan hermeneutika dalam kajian al-Qur’an menjadi kontroversial dikalangan umat muslim. Disini penulis akan memaparkan sedikit mengapa sebagian dari kalangan muslim menerima dan menolak hermeneutik dalam mengkaji al-Qur’an.

Ada beberapa hal yang menjadi alasan bagi kalangan muslim yang menolak hermeneutika sebagai salah satu teori dan metode penafsiran dalam al-Qur’an, diantaranya adalah:

  1. Berangkat dari sejarah hermeneutika yang berasal dari penafsiran terhadap mitos Yunani, maka hermeneutika dianggap sebagai sebuah desakan rasionalisasi terhadap sebuah mitos yang kemudian hal ini menemukan relevansinya dalam kitab bible yang dianggap sudah tidak otentik bagi kalangan muslim, karena ditulis oleh manusia sehingga jurang perbedaan dan pertentangan yang cukup tajam di dalam teks  dapat didamaikan dengan hermeneutik. Bagi penolak hermeneutik hal ini tentu saja berbeda dengan al-Qur’an yang tidak mengalami permasalahan dari segi sejarah karena diyakini sebagai wahyu Tuhan/kalam ilahi dan bukan perkataan Muhammad.
  2. Hermeneutika dalam hal ini adalah teori interpretasi yang hanya dapat digunakan terhadap teks-teks yang manusiawi. Sedang konsep al-Quran, wahyu dan sejarahnya membuktikan otentisitas bahwa al-Quran lafzhan wa ma‘nan dari Allah Swt. Konsekuensinya, konsep Hermeneutika tidak dapat diterapkan atas al-Quran.
  3. Tafsir al-Quran yang diterima oleh jumhur selalu bertolak dari arti kosakata bahasa Arab. Al-Quran dan sunnah berbahasa Arab. Tafsir bi al-ra’yi dan alisyârî pun disyaratkan untuk tidak menafikan dan menyimpang jauh dari arti kata yang sebenarnya. Takwil yang dilakukan para ulama pun harus dengan alasan yang menyebabkan sebuah kata tidak dapat diartikan dengan makna aslinya. Dengan nash sebagai titik tolak, al-Quran terhindar dari penafsiran-penafsiran yang liar. Sedang dalam hermeneutika, interpretasi sebuah teks dapat saja berbeda menimbang unsur yang terlibat dalam penafsiran jauh lebih banyak. Perbedaan tempat, waktu dapat menyebabkan perbedaan arti. Belum lagi perbedaan pengetahuan antara penafsir satu dengan lainnya mengenai sisi sejarah teks, psikologis sang pengarang dan sejauh mana kedua faktor tersebut mempengaruhi pemikiran pengarang dalam teks. Sekian faktor tersebut menjadikan hermeneutika lebih bernilai relatif.
  4. Tafsir dianggap lebih mempunyai pondasi tradisi yang kuat. Sumber primer tafsir dalam Islam adalah al-Quran, Rasulullah Saw. dan sahabat. Tafsir yang berasal dari ketiga sumber tersebut ditransmisikan melalui jalur riwayat yang jelas. Rasulullah Saw menjelaskan arti ayat dengan otoritas yang diberikan oleh Allah Swt. Kepada para sahabat. Selanjutnya para sahabat mendirikan madrasah-madrasah tafsir sebagai wadah untuk meneruskan rantai riwayat kepada tabi’in. Usai masa tabi’in, muncul upaya untuk mengkodifikasikan tafsir diikuti dengan penetapan syarat-syarat mufassir. Sementara itu bible dianggap bermasalah dengan persoalan otentisitas, sehingga penggunaan hermeneutika dari tradisi Yunani dianggap untuk mempertahankan status Bibel sebagai kitab suci. Tetapi kemudian ketika hermeneutika mulai diterapkan, “kesucian” Bibel justru dibongkar karena dianggap merintangi upaya penafsiran yang ilmiah. Puncaknya terjadi ketika Schleiermacher menyamakan antara teks bibel dan teks Yunani atau Romawi kuno.

Keempat hal diatas yang menyebabkan sebagian kalangan muslim menolak hermeneutika secara mentah-mentah untuk diterapkan dalam metode tafsir al-Qur’an. Ada ketakutan akan hilangnya kesakralan al-Qur’an jika al-Qur’an ditafsirkan secara hermeneutis. Sehingga mereka lebih suka menyukai metode-metode tafsir yang telah dilakukan dan dirumuskan oleh para ulama terdahulu, tanpa bersusah payah membuat metode baru. Disini metode tafsir al-Qur’an yang sudah ada dianggap sudah final dan tidak perlu dikembangkan. Istilah hermeneutik sendiri juga dipermasalahkan karena memang tidak ada dalam kamus arab atau Islam terutama bagi kalangan muslim yang anti barat, sehingga apapun yang berbau barat akan ditolak secara mentah-mentah[10].

Bagi kalangan yang pro terhadap hermeneutik, mereka melihat hermeneutik sebagai jawaban atas keterpurukan umat muslim karena persoalan dan kemunduran yang terjadi dalam masyarakat muslim saat ini persoalan terhadap penafsiran baik terhadap al-Qur’an maupun hadis. Sehingga diperlukan perangkat-perangkat dan metode-metode baru dalam menafsirkan al-Qur’an. Tentu saja hermeneutika tidak akan merubah al-Qur’an atau mendesakralisasi al-Qur’an tetapi justru hal ini akan membawa penyegaran dalam penafsiran al-Qur’an, sehingga al-Qur’an menjadi lebih kontekstual dan bermakna dalam setiap zaman.

Istilah hermeneutika memang tidak dikenal dalam sejarah keilmuan Islam, tetapi sebenarnya praktek hermeneutika telah dilakukan oleh kalangan muslim sejak lama. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Farid Esack dalam bukunya Membebaskan yang Tertindas: Al-Qur’an, Liberalisme, Pluralism, dimana hal itu dibuktikan, pertama, problematika hermeneutik senantiasa dikaji dan dialami meski tidak dihadapi secara tematis, seperti kajian mengenai asbabun-nuzul dan nasikh mansukh. Kedua, perbedaan antara tafsiran aktual dengan aturan, metode, atau teori interpretasi yang mengaturnya, sudah ada dalam literatur awal tafsir. Ini disistematisasikan dalam prinsip-prinsio tafsir dan ketiga, tafsir tradisional telah di kategorisasi. Beberapa kategori seperti syi’ah, mu’tazilah, ‘Asy’ariyah, dan sebagainya menunjukkan afiliasi ideology, periode, dan aspek historis si penafsir[11].

Namun demikian, meskipun dalam tradisi Islam telah mempraktekkan hermeneutik, tetapi sedikit sekali karya tafsir yang bersifat historis-kritis tentang hubungan antara aspek sosial si penafsir dengan tafsirannya, serta tentang asumsi-asumsi sosiopolitis dan filosofis eksplisit dan implisit yang mendasari kecenderungan teologisnya, hal-hal yang merupakan fokus utama dalam hermeneutika kontemporer[12].

Apa yang telah dijelaskan oleh Farid Esack ini sebenarnya adalah merupakan bantahan bahwa tradisi hermeneutik adalah bukanlah semata-mata merupakan produk keilmuan barat. Meski dalam kenyataanya memang demikian tetapi sebenarnya dalam Islampun akar-akar hermeneutik bukanlah sesuatu yang asing sama sekali karena memang bisa di dapatkan dalam tradisi Islam, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Sehingga penolakan terhadap hermeneutik yang hanya mendasarkan bahwa hermeneutik merupakan metode asing yang coba dipaksakan di dalam kajian al-Qur’an dianggap terlalu berlebihan.

Lebih lanjut ketakutan para penolak hermeneutik yang menganggap penggunaannya (baca hermeneutik) akan menyamakan al-Qur’an dengan teks-teks yang lain termasuk kitab suci agama lain tidak perlu terjadi. Hal ini karena setiap umat beragama memiliki hermeneutika sendiri sebagaimana masing-masing memiliki kitab sucinya sendiri.[13] Sehingga ada hermeneutika al-Qur’an, hermeneutika bible, hermeneutika Upanishad, yang memiliki kekhasan masing-masing yang tidak dimiliki oleh lainnya. Diantara yang berpengaruh dalam penentuan perbedaan antara masing-masing hermeneutika kitab suci adalah hakekat teks atau kitab suci itu sendiri, baik secara historis, teologis, dan linguistik. Dari sini kemudian kitab seci sebagai obyek penafsiran sangatlah menentukan metodologi penafsiran yang dipergunakan. Meskipun metodologi ini ditentukan juga oleh subyek yang menafsirkan tetapi cara pandang subyek terhadap obyek (penafsir terhadap kitab suci), akan sangat berpengaruh terhadap hermeneutika yang diterapkannya.[14] Disinilah kemudian hermeneutika al-Qur’an jelas tidak akan sama dengan hermeneutika bible ataupun hermeneutika teks yang lain, karena al-Qur’an dipandang sebagai wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad untuk semua manusia di segala zaman dan bukan hanya eksklusif bagi zaman Muhammad. Al-Qur’an yang ada sekarang ini juga diyakini sama dengan al-Qur’an yang ada pada zaman Nabi.  Selain itu bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an yakni bahasa Arab dimana penerjemahannya kedalam bahasa lain tetap tidak akan mendapatkan status yang sama dengan al-Qur’an. Hal-hal yang telah disebutkan tersebut tentunya akan membawa hermeneutika al-Qur’an berbeda dengan hermeneutika teks yang lain.

Selain itu hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an ini baru berfungsi setelah Nabi Saw menyampaikan wahyu tersebut. Hermeneutika tidak berurusan dengan sifat hubungan antara Tuhan dan Rasul-Nya dan bagaimana Nabi menerima wahyu tersebut, melainkan dengan kata-kata yang diturunkan dalam sejarah dan disampaikan dari satu manusia kepada manusia lain. Dengan demikian hermeneutika melihat kata-kata tersebut bukan dalam dimensi vertikalnya, tetapi dalam dimensi horizontalnya.[15]

 

Berbagai Corak Hermeneutika al-Qur’an

Ada satu hal yang cukup mendasar yang membedakan antara hermeneutika dengan metode tafsir sebelumnya, yakni hermeneutika bisa dikatakan bergerak dalam tiga horizon, yakni horizon pengarang, horizon, teks dan horizon penerima atau pembaca atau secara prosedural langkah hermeneutika itu menggarap wilayah teks, konteks, dan kontekstualisi, baik yang berkenaan dengan aspek operasional metodologisnya maupun dimensi epistemologis penafsirannya[16]. Sementara dalam tafsir klasik, wilayah yang dikaji lebih banyak bertumpu pada teks. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, meski embrio pendekatan hermeneutik dalam pemikiran Islam sesungguhnya telah ada, tetapi ruang lingkup cakupan bahasannya masih sangat terbatas pada tradisi keilmuan bayani dan belum sampai masuk terkait dengan tradisi burhani[17].

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi asumsi dasar dalam penafsiran al-Qur’an melalui pendekatan hermeneutik, yakni[18]:

  1. Para penafsir adalah manusia. Siapapun yang menafsirkan teks kitab suci adalah manusia biasa yang terikat oleh ruang dan waktu tertentu, dimana hal ini akan berpengaruh terhadap corak penafsirannya. Dengan asumsi ini maka vonis mutlak akan benar dan salahnya penafsiran diharapkan tidak akan terjadi, sehingga lebih mengarah pada pemahaman dan analisa yang kritis terhadap penafsiran.
  2. Penafsiran tidak lepas dari bahasa, sejarah dan tradisi. Sehingga pergulatan umat muslim dengan al-Qur’an juga berada dalam “ruang” ini.
  3. Tidak ada teks yang menjadi wilayah bagi dirinya sendiri.

Dengan tiga asumsi dasar yang dibangun dalam hermeneutika al-Qur’an ini maka hermeneutika diharapkan mampu “kemandegan” dalam keilmuan Islam (baca : ilmu tafsir), yang selama ini dianggap menjadi penyebab kemunduran umat muslim.

Hermeneutika al-Qur’an kontemporer ini diawali dengan munculnya gerakan pembaharuan pada abad ke 18 yang ternyata membawa implikasi pada munculnya suatu penafsiran baru yang diilhami oleh modernitas seperti Ahmad Khan, Amir Ali. Kemudian di Mesir muncul Muhammad Abduh yang menawarkan penafsiran yang bertumpu pada analisis sastra dan sosial. Terma hermeneutika memang belum dikenal dalam tradisi keilmuan Islam. Baru setelah dekade 1960 telah muncul tokoh-tokoh yang serius memikirkan masalah metodologi tafsir. Meskipun kemunculan hermeneutika al-Qur’an ini mulai pada dekade 1960, tetapi kenyataanya baru pada tahun 1970 hermeneutika al-Qur’an mendapat sambutan yang luas tepatnya setelah Fazlur Rahman merumuskan hermeneutika sistematiknya yang dikenal dengan hermeneutika doble movement atau hermeneutika bolak-balik[19]. Metode gerak bolak balik ini secara sederhana dipahami “dari situasi masa kini ke masa al-Qur’an diturunkan dan kembali lagi ke masa kini”. Gerak yang pertama  merupakan tahap pemahaman tekstual al-Qur’an dan konteks sosio-historis ayat-ayatnya dan tahap generalisasi. Gerak pertama disini disebut sebagai tugas pemahaman  (task of understanding). Sedangkan pada gerak kedua merupakan perumusan dan realisasi dalam konteks sosio—historis yang konkret di masa sekarang. Dalam gerak kedua ini bukan hanya berkaitan dengan upaya “penubuhan” (embodied) dalam konteks kekinian tetapi juga sebagai “pengoreksi” terhadap hasil-hal atas penafsiran pada gerakan pertama[20]. Metode gerak bolak-balik ini diterapkan Rahman dalam bukunya Tema Pokok al-Qur’an yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat sosial dan kemanusiaan. Sedangkan untuk ayat-ayat eskatologi dia menggunakan metode sintetik-logik.[21]

Kemunculan Rahman yang merumuskan hermeneutika al-Qur’annya menjadi titik tolak bagi perkembangan hermeneutika al-Qur’an kontemporer. Karena meskipun hermeutika al-Qur’an secara sistematik sudah diperkenalkan pada dekade sebelumnya[22] tetapi pada kenyataannya baru mendapatkan sambutan yang luas setelah Rahman merumuskan hermeneutika al-Qur’annya. Lebih lanjut, Fazlur rahman telah menumbuhkan kesadaran baru dilakangan kaum muslimin tentang bagaimana seharusnya menafsirkan al-Qur’an.

Selain Rahman, terdapat juga beragam corak hermeneutika al-Qur’an yang diperkenalkan diantaranya oleh Hassan Hanafi yang dikenal dengan hermeneutika sosial karena lebih berorientasi pada pemecahan problem sosial, hermeneutika pembebasan Farid Esack, karena berorientasi pada pembebasan kaum Muslimin dari penindasan rezim apartheid, serta hermeneutika feminis Amina Wadud Muhsin karena berorientasi pada pembebasan kaum perempuan dari sistem patriarkhis[23]. Berbagai corak hermeneutika al-Qur’an yang lahir ini tentu saja melahirkan bentuk tafsir yang berbeda yang lahir dari perbedaan konteks sosio kultur sang penafsir. Disini penulis tidak akan menjelaskan secara detail perbedaan beragam corak hermeneutika al-Qur’an tetapi yang perlu digarisbawahi dalam hal ini adalah bahwa hermeneutika al-Qur’an menawarkan sebuah penafsiran yang lebih kontekstual dan berorientasi pada pemecahan atas berbagai persoalan umat kekinian. Meski begitu hermeneutika al-Qur’an tidak begitu saja meninggalkan teks-teks al-Qur’an, tetapi hermeneutika justru akan mendialogkan teks-teks al-Qur’an dengan konteks masyarakat saat ini. Dialektika yang terjadi secara terus-menerus ini kemudian akan menampilkan teks yang lebih bermakna sehingga inspirasi al-Qur’an tidak pernah kering sepanjang zaman. Sebaliknya tanpa adanya persentuhan antara teks dan konteks justru teks akan “mati” dan menjadi tidak bermakna.

 

Signifikansi Hermeneutika dalam diskursus Tafsir al-Qur’an Kontemporer

Bahasa agama (baca al-Qur’an) sebagai representasi bahasa Tuhan bukanlah lahir dalam ruang yang kosong. Hal inilah yang membuat teks-teks al-Qur’an menjadi teks-teks yang bersifat dialogis ketika dibaca, karena memang teks al-Qur’an tersebut memberikan respon terhadap konteks masyarakat arab saat itu. Dalam perkembangannya para pembaca teks al-Qur’an menjadi semakin menemukan “kerumitan” karena jarak, waktu, tempat antara pembaca dengan teks semakin jauh. Teks al-Qur’an yang lahir sekian abad yang lalu di dunia timur tengah kemudian hadir di tengah masyarakat Indonesia kontemporer. Jangankan masyarakat Indonesia yang mempunyai budaya yang jelas-jelas jauh berbeda dengan budaya arab, masyarakat Arab dan Islam secara umum juga menghadapi persoalan yang sama terutama terkait perkembangan dunia dengan berbagai persoalan yang semakin kompleks. Umat muslim seolah tidak berdaya menghadapi perkembangan dunia yang semakin pesat, sehingga bisa dikatakan kondisi umat muslim saat ini menjadi sangat terpuruk diantara dua pilihan terbawa oleh arus zaman atau menghindari pesatnya perkembangan zaman. Hal inilah yang membuat para intelektual muslim seperti Fazlur Rahman, Hassan Hanafi, Farid Esack, Syahroor dan lain sebagainya memberikan tawaran hermeneutik dalam mengkaji al-Qur’an sebagai upaya dalam menjawab tantangan zaman.

Sebagai sebuah teori interpretasi yang kemudian berkembang menjadi sebuah disiplin filsafat, tugas pokok hermeneutika adalah bagaimana menafsirkan sebuah teks klasik atau teks yang asing sama sekali menjadi milik kita yang hidup di zaman dan tempat serta suasana kultural yang berbeda. Disini pra konsepsi dan pra disposisi seorang penafsir dalam memahami teks memiliki peran yang besar dalam membangun makna. Selain itu dalam tradisi hermeneutika teks menawarkan berbagai kemungkinan untuk ditafsirkan berdasarkan sudut pandang serta teori yang hendak dipilihnya[24]. Lebih lanjut dalam diskursus hermeneutika kontemporer, orang tidak lagi berbicara tentang salah atau benarnya suatu pendapat karena makna jauh lebih penting daripada kebenaran. Hal ini kemudian -sebagaimana yang dinyatakan oleh Amin Abdullah- dalam wilayah epistemologis, orang sekarang lebih tertarik untuk menerangkan implikasi dan konsekuensi dari sebuah pendapat yang dipegang teguh oleh seseorang atau kelompok bukan soal benar atau salahnya suatu pendapat.[25] Meskipun demikian tidak berarti hermeneutika mendukung paham relativisme-nihilisme, melainkan justru hendak mencari pemahaman yang benar atas sebuah teks yang ada sebagai “tamu asing”. Dengan kata lain hermeneutika berusaha menemukan gambaran dari sebuah bangunan makna yang benar yang terjadi dalam sejarah yang dihadirkan kepada kita oleh teks.[26]

Dengan demikian peran hermeneutika menjadi cukup signifikan dalam penafsiran teks-teks al-Qur’an.  Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, hermeneutika menjadi kunci untuk menjembatani jarak antara teks dengan konteks saat ini sehingga al-Qur’an tidak lagi gagap dalam menjawab tantangan zaman yang dirasakan semakin berat.

 

Penutup

Demikianlah meski hermeneutika merupakan produk dari keilmuan barat, tetapi kehadiran hermeneutika sebagai sebuah teori interpretasi cukup signifikan dalam mengembangkan penafsiran al-Qur’an. Hal ini karena dalam hermeneutika tidak hanya mempertimbangkan teks tetapi juga konteks dan kontekstualisasi, sehingga dengan menggunakannya teks-teks al-Qur’an menjadi kontekstual dalam menghadapi tantangan zaman

Daftar Pustaka

Abdullah, Amin, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Paradigma Integratif-Interkonektif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet II,  2010.

 

Esack, Farid, Membebaskan yang Tertindas: Al-Qur’an, Liberalisme, Pluralisme, Bandung : Mizan, 2000.

 

Faiz, Fahruddin Teks, Konteks dan Kontekstualisasi (Hermeneutika modern dalam Ilmu Tafsir al-Qur’an Kontemporer), dalam buku Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural, Yogyakarta: Panitia Dies IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ke 50, 2002

 

Hanafi, Hassan, Muqaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab, Kairo: al-Dar al-Fanniyah, 1991.

 

Hidayat, Komaruddin, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, Jakarta: Paramadina, 1996.

 

Kurdi dkk, Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadis, Yogyakarta:: Elsaq press, 2010.

 

Nur Ichwan, Moch, Hermeneutika al-Qur’an: Analisis Peta Perkembangan Metodologi Tafsir al-Qur’an Kontemporer, Skripsi Jurusan Tafsir Hadis IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1995

 

Palmer, Richad E, Hermeneutika : Teori Baru Mengenai Interpretasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

 

Prilakusuma, Angga dalam Telaah Kritis Aplikasi Hermeneutika Dalam Tafsir Al-Qur’an, dalam http://inzacky.indrawebmaster.com/data_ikpm/Hermeneutika.pdf.

 

 

Rahman, Fazlur, Islam dan Modernitas: tentang Transformasi Intelektual, terj. Ahsin Muhammad, Bandung: Pustaka, 1985.

 

——————, Tema Pokok Al-Qur’an, terj. Anas Mahyudin, Bandung: Pustaka, 1983.

 

Syamsudin, Sahiron, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an, Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009.

 

http://www.youtube.com/watch?v=yvxcAka1j8U,

 


[1] Dalam Islam, nama Hermes sering diidentikkan dengan Nabi Idris, yang dikenal sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan dan mengetahui tulisan, teknologi, astrologi, dan lain-lain. Moch Nur Ihwan, Hermeneutika al-Qur’an: Analisis Peta Perkembangan Metodologi Tafsir al-Qur’an Kontemporer, Skripsi Jurusan Tafsir Hadis IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1995, hlm 27

[2] Fahruddin Faiz, Teks, Konteks dan Kontekstualisasi (Hermeneutika modern dalam Ilmu Tafsir al-Qur’an Kontemporer), dalam buku Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural, (Yogyakarta: Panitia Dies IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ke 50, 2002), hlm 41

[3] Ibid., hlm 42

[4] Dr. Phill, Sahiron Syamsudin MA, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009), hlm 7

[5] Ibid., hlm 7-10.

[6] Untuk memudahkan dalam memahami sejarah perkembangan hermeneutika disini penulis merujuk pada Hamid Fahmi Zarkasyi yang dikutip oleh Angga Prilakusuma dalam Telaah Kritis Aplikasi Hermeneutika Dalam Tafsir Al-Qur’an, dalam http://inzacky.indrawebmaster.com/data_ikpm/Hermeneutika.pdf. Pembagian sejarah perkembangan hermeneutik ini agak mirip dengan apa yang ditulis oleh Sahiron Syamsuddin yang membaginya dalam (1) Hermeneurika teks mitos, (2) Hermeneutika teks Bibel dan (3) Hermeneutika umum, lihat Dr. Phill Sahiron Syamsuddin, Ibid., hlm 11. Sementara itu meski mempunyai tujuan yang sama Richad E Palmer mempunyai kategori yang berbeda dalam menjelaskan sejarah perkembangan hermeneutika, dia membaginya dalam  enam bentuk yakni (1) Hermeneutika sebagai teori eksegesis bible, (2) Hermeneutika sebagai metodologi filologi, (3) Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistic, (4) Hermeneutika sebagai fondasi metodologis geisteswessenshaften, (5)Hermeneutika sebagai fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial, (6) Hermeneutika sebagai system interpretasi, baik recollektif maupun iconoclastic. Lihat Richad E Palmer, Hermeneutika : Teori Baru Mengenai Interpretasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm 38-49

[7] Angga.., Ibid.

[8] Ibid.,

[9] Ibid.,

[10] Di Indonesia, sebagai contoh tokoh yang  saat ini cukup tegas dalam menolak penggunaan hermeneutik  dengan penafsiran al-Qur’an adalah Adian Husaini, Roem Rowi dan lain sebagaianya. Adian Husaini sering menyatakan betapa bahayanya metode hermeneutika dalam menafsirkan al-Qur’an, dia bahkan menunjuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Syarif hidayatullah Jakarta sebagai “agen barat” yang mempromosikan hermeneutik dan menjadikannya sebagai mata kuliah wajib. Tidak heran jika dalam hal ini orang-orang seperti Amin Abdullah dkk menjadi sasaran kritik tajam dari Adian Husaini. Lihat dalam http://www.youtube.com/watch?v=yvxcAka1j8U,

[11] Farid Esack, Membebaskan yang Tertindas: Al-Qur’an, Liberalisme, Pluralisme, (Bandung : Mizan, 2000), hlm 94-95

[12] Ibid.,

[13] Pendapat ini juga dikemukakan oleh S.J Samarta sebagaimana yang dikutip oleh Moch NurIkhwan., Op.Cit, hlm 48

[14] Ibid.,

[15] Fahruddin Faiz, Op.Cit hlm 53

[16] Ibid., hlm 44

[17] Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Paradigma Integratif-Interkonektif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet II,  2010), hlm 244-245

[18] Fahruddin Faiz, Op.Cit., hlm 49-50

[19] NurIkhwan, Op.Cit., hlm 42-44

[20] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: tentang Transformasi Intelektual, terj. Ahsin Muhammad, (Bandung: Pustaka, 1985), hlm 7-8.

[21] Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Qur’an, terj. Anas Mahyudin, (Bandung: Pustaka, 1983), hlm 9-10.

[22] Sebelum Fazlur Rahman, Arkoun telah menawarkan “cara baca” semiotik dalam penafsiran al-Qur’an dan Hassan Hanafi telah mempublikasikan tiga karyanya tentang hermeneutika, yang pertama terkait dengan metode yang digunakan dalam upaya rekonstruksi ilmu usul al-Fiqh, karya keduanya tentang hermeneutika fenomenologis dalam menafsirkan fenomena keagamaan dan keberagamaan dan yang terakhir tekait dengan kajian kritis tehadap hermeneutika eksistensial dalam konteks penafsiran perjanjian baru. NurIkhwan, Op.cit., hlm 44, Lihat juga Hassan Hanafi, Muqaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab, (Kairo: al-Dar al-Fanniyah, 1991), hlm 84-86.

[23] Lihat Kurdi dkk, Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadis, (Yogyakarta:: Elsaq press, 2010)

[24] Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama, (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm 17-18

[25] Amin Abdullah, Op.Cit., hlm 257-258

[26] Komaruddin Hidayat., Op.Cit., hlm 18

Entry Filed under: Studi Islam

One Comment Add your own

  • 1. daniel  |  Maret 21, 2013 pukul 1:42 pm

    After looking into a few of the blog posts on your site, I truly like your way of blogging.
    I added it to my bookmark webpage list and will be checking back soon.
    Please visit my web site too and tell me what you think.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

Januari 2011
S S R K J S M
« Des   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: