Arsip untuk Desember 2010




Pagelaran panggung gembira

Pagelaran Panggung gembira adalah pagelaran penutup dari rangkaian acara Khutbatul ‘Arsy. Kesibukan dalam mempersiapkan panggung gembira sudah di mulai jauh-jauh hari, di sela-sela kesibukan kami para satriwati kelas enam yang juga menjadi panitia Khitbatul ‘Arsy yang harus mempersiapkan upacara pembukaan hingga berbagai atraksi yang ditampilkan. Jadi harus pandai-pandai berbagi waktu.

Sebagai pagelaran akbar di akhir tahun kami di pesantren, kami sangat antusias menyiapkan atraksi kreatif kami dalam panggung gembira. Semua santriwati kelas enam yang berjumlah hampir 200 orang di libatkan untuk menyukseskan acara tersebut. Untuk itu kami membagi kepanitian menjadi beberapa bagian, seperti bagian acara, bagian dekorasi, penanggung jawab drama, pop song, tari dan lain sebagainya. Sebagai salah satu penanggung jawab acara, aku dan beberapa teman bertanggung jawab terhadap suksesnya acara PG. Aku mengkoordinir para penanggung jawab tiap-tiap atraksi yangn akan di tampilkan. Selain itu aku juga bertanggung jawab untuk membuat acara pembukaan PG dengan meriah.

Pengalaman kami di tahun sebelumnya dalam drama arena (pertunjukan yang di gelar pada saat kami kelas lima) menjadi sangat penting. Apa aja kekurangan pada acara kami setahun yang lalu menjadi pelajaran berharga untuk membuat pagelaran kali ini menjadi lebih baik.

Dalam panggung gembira ini, melanjutkan pagelaran yang kami dalam dalam drama arena setahun yang lalu, kami mengambil setting Eropa. Semua acara, dekorasi panggung, back ground, kostum menyesuaikan menjadi ala eropa. Teman-teman di bagian dekorasi membuat berbagai macam background mulai dari yang berlukiskan gedung-gedung  Eropa Kuno, sampai dengan lukisan taman bunga Tulip. Tidak hanya itu, dekorasi panggungpun dihias dengan membuat taman-taman buatan yang ada air mancur di dalamnya, sebuah jembatan buatan serta ribuan bunga tulip yang terbuat dari kertas krep beraneka warna yang tampak seperti bunga tulip hidup yang memenuhi taman dan mengelilingi air mancur. Di tambah dengan hiasan lampu yang berwarna-warni menambah kesan semarak dekorasi panggung.

Karena kami tidak mempunyai dana yang besar untuk membeli, maka kreatifitas kami di uji disini. Untuk membuat background lukisan, kami menggunakan kertas bekas  bungkus semen yang banyak terdapat di pesantren. Beberapa kertas pembungkus semen tersebut dirobek pada sisi bawahnya sehingga terbuka,  kemudian di lem antara satu dengan yang lain sampai sebesar back ground panggung. Setelah itu baru kemudian di lukis di atasnya dengan cat. Hiasan panggung yang terdiri dari ribuan bunga tulip yang membentuk seperti taman bunga tulip di buat dengan kertas krep berwarna-warni. Satu bunga terdiri dari lima kelopak yang ditali dengan benang di atas satu batang lidi. Kemudian lidi tersebut di bungkus dengan kertas krep berwarna hijau agar terlihat seperti tangkai bunga. Sementara daun-daun bunga tulip dibuat dari daun kelapa yang dipotong dengan ketinggian yang sama dengan bunga tulip dan kemudian ditancapkan dipinggir-pinggir pelepah pisang sementara ribuan bunga tulip kertas ini, disematkan di atas tengah pelepah pisang. Di malam hari dengan lampu-lampu yang berwarna warni, sungguh bunga-bunga tulip kertas ini tampak  seperti bunga tulip hidup.

Sebagai santriwati di pesantren khusus putri, semua hal kami lakukan secara mandiri. Seringkali kami para santriwati dijuluki dengan perempuan-perempuan yang kuat dan perkasa. Dalam berbagai even, kami terbiasa melakukannya sendiri, konsep acara, membuat gapura, memasang back ground, mengangkat batu bata dengan menggunakan gerobak untuk membuat taman-taman, semua kami lakukan sendiri tanpa campur tangan laki-laki. Kami memang telah terlatih untuk mandiri dalam berbagai macam hal.

Acara Panggung Gembira ini di mulai pukul 19.30 WIB. Acara di mulai dengan penjemputan pengasuh pesantren dari gerbang depan pesantren menuju tempat acara. Penjemputan dengan memakai kereta kuda ini di iringi dengan pasukan pengawal khusus dan pasukan drum band.  Pasukan drum band memakai baju putih-putih dengan sayap-sayap di kedua lengan baju yang dibuat dari jilbab berikut memakai topi panjang khas Eropa. Bak pengawalan seorang presiden, suasana sangat khidmat, tidak ada suara apapun kecuali suara drum band pengiring.

Memasuki tempat acara, semua santriwati berdiri memberikan sambutan, lampu lampu sengaja di matikan, diganti dengan nyala kembang api dari segala penjuru. Kebetulan panggung tempat berlangsungnya pagelaran Panggung gembira di kelilingi oleh tiga gedung bertingkat yang membentuk letter U, sehingga dari atas ketiga gedung itulah berbagai jenis kembang api di nyalakan. Kontan suasana menjadi riuh, sampai akhirnya para pengawal menghentikan langkahnya di depan panggung dan kemudian berhadap-hadap sambil memberikan hormat, bersamaan dengan itu, lampu-lampupun kembali dinyalakan. Sementara ibunda (panggilan para santri kepada ibu pengasuh) disusul oleh empat peri cantik yang memakai baju serba putih lengkap dengan sayap-sayapnya serta mahkota yang terbuat kertas emas. Kemudian ibunda naik ke atas panggung setelah melewati taman bunga tulip yang sangat indah dengan air mancur buatannya. Dari atas panggung, turunlah salju-salju buatan yang terbuat dari gabus yang di potong kecil-kecil yang di lemparkan dari jendela kamar as-Sakinah 7 yang letaknya tepat di atas panggung. Sampai di atas panggung, back ground terbuka perlahan-lahan dan di dalamnya terdapat bunga tulip raksasa berwarna orange. Bunga tulip raksasa ini terbuat dari karton yang paling tebal yang dipotong-potong besar dan dibentuk menjadi empat kelopak bunga tulip. Antar satu kelopak dengan kelopak yang lainnya disambung dengan kawat. Kemudian keempat kelopak tersebut dicat berwarna orange. Bunga tulip raksasa yang diletakkan di tengah-tengah panggung tersebut terlihat dari depan panggung seperti bunga tulip raksasa sungguhan. Kemudian perlahan-lahan kelopak bunga tulip terbuka karena keempat kelopaknya ditarik oleh benang dari balik panggung, sehingga terlihat seperti bunga raksasa yang mekar dalam sebuah taman bunga lalu muncullah seorang putri cantik yang memberikan jas bulu panjang  dan mengenakannya pada ibunda pengasuh, selain itu sang putri juga memberikan bunga tulip berwarna merah yang terbuat dari kaca sebagai tanda mata. Jas bulu panjang yang berwarna putih tersebut menambah kental suasana yang seolah-olah berada di belahan bumi eropa. Setelah menerima tanda mata, kemudian ibu pengasuh diantar oleh sang putri dan keempat peri cantik menempati tempat duduk yang telah disediakan di depan panggung. Bersamaan dengan itu semua lampu-lampu yang sebelumnya dimatikan kemudian kembali dinyalakan.

Setelah acara pembukaan tersebut, pembawa acara mengambil alih dan memandu acara. Sebagaimana acara apapun di pesantren, selalu di awali dengan membaca ayat suci al-Qur’an yang dilanjutkan dengan menyanyikan lagu mars pesantren al-Mawaddah. Setelah itu pembawa acara akan menyerahkan kepada pembawa acara kedua yang akan memandu acara inti pagelaran panggung gembira dengan lebih segar dan santai sembari menampilkan berbagai atraksi kreatif kami sebagai santriwati tingkat akhir.

Ada beberapa atraksi yang kami tampilkan, yakni pop song (vocal group) yang menyanyikan lagu ciptaan kami sendiri. Pop song ini terdiri dari 30 orang yang memakai baju putih dengan rompi berwarna cerah dan rok yang juga berwarna putih lengkap dengan topi bundar dan pita besar di atasnya. Yang kami sebut dengan rompi dan topi itu sebenarnya terbuat dari kertas karton yng di lapisi dengan kertas emas warna, sedangkan pita besar yang menghiasi topi tersebut terbuat dari kertas krep dengan warna yang senada dengan rompi. Meski demikian dari area penonton semuanya tampak seperti sungguhan, sehingga tidak terlihat jika hiasan dalam kostum yang dipakai tersebut sebenarnya hanya terbuat dari kertas krep.

Atraksi selanjutnya adalah tari-tarian. Ada dua tarian yang di tampilkan. Yang pertama adalah tari cheer leader. Tari cheer leader memang belum pernah ditampilkan sebelumnya di pesantren ini. Ya..meskipun kami adalah santriwati, kami memang tetap diperbolehkan mengekspresikan diri sejauh tetap menutup aurat. Tarian ini memang cukup menghebohkan dan mendapat sambutan yang meriah dari para penonton. Jika biasanya para penari cheer leader memakai rok mini, maka para penari cheer leader ini memakai baju yang dilengkapi dengan rompi dan celana putih yang kemudian memakai kertas krep didepannya  yang panjangnya hanya sampai di atas lutut. Kertas krep tersebut berwarna orange dan ditempeli dengan potongan-potongan kertas emas dengan artistik, sehingga terkesan seorang seperti rok mini. Tidak lupa jilbab para penari di hiasi dengan topi dengan warna yang senada yang diberi hiasan seperti bunga matahari di tengahnya. Semuanya di buat dari kertas karton dan kertas krep. Para penonton semakin histeris ketika beberapa penari naik di atas punggung penari yang lain hingga tinggi membentuk sebuah formasi. Pada awalnya memang punya kesulitan untuk bisa membuat formasi yang bertingkat-tingkat apalagi kami semua adalah perempuan. Tetapi dengan latihan yang terus menerus, tarian ini akhirnya sukses di bawakan.

Setelah atraksi tarian cheer berhasil di bawakan para penari dengan baik. Kemudian dilanjutkan dengan atraksi lainnya yakni tarian daerah. Dalam tarian ini, melibatkan jumlah penari sebanyak 20 orang, hampir memenuhi panggung. Kedua puluh orang penari tersebut memakai kostum yang berbeda-beda. Ada yang memakai baju khas padang, ada yang memakai bagi baju khas bali, baju khas jawa, baju khas Ambon dan lain sebagainya. Mereka menari bersama dengan diiringi musik gabungan yang terdiri atas berbagai berbagai musik daerah. Meski semua penari menari secara bersama-sama tetapi ketika salah satu musik daerah terdengar, maka penari yang memakai baju daerah yang bersangkutan maju kedepan, begitu seterusnya hingga akhir.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pertunjukan wayang orang. Wayang orang adalah salah satu pertunjukan wajib bagi para santriwati kelas enam dalam panggung gembira. Meski banyak santriwati dari berbagai daerah di luar jawa yang tidak mengerti makna wayang orang tetapi untuk mempermudah jalan ceritanya teks wayang orang yang biasanya memakai bahasa jawa kemudian diganti dengan teks berbahasa asing (arab atau Inggris). Pertunjukan wayang orang menjadi salah satu pertunjukan yang membutuhkan banyak persiapan. Disamping persiapan kostum yang khas jawa untuk pertunjukan, (mulai dari pakaian hingga aksesoris para pemain wayang seperti topi dengan bentuknya yang khas, selendang dan lain-lain), para pemain juga harus banyak belajar tentang wayang orang yang tidak hanya hafal teks skenario dalam ceritanya tetapi yang lebih sulit adalah belajar gerak tari dan lenggak-lenggok khas pemain wayang, sehingga dapat seperti para pemain wayang sungguhan. Khusus untuk  pertunjukan wayang orang ini, kami harus memanggil guru wayang untuk mengajarkan gerak tari jawa, berikut logat bicaranya serta lenggak lenggok pemain wayang yang tentu saja berbeda dengan pertunjukan drama ataupun lainnya. Pendiri pesantren kami memang mewajibkan pertunjukan wayang orang dalam setiap pagelaran panggung gembira, disamping almarhum kyai Sahal adalah salah satu penggemar wayang orang, pagelaran ini dimaksudkan untuk mengingatkan kepada kami bahwa dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. Karena pesantren kami berada di jawa, maka kami harus bisa beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat. Akhirnya satu sesi pertunjukan wayang telah dapat dilewati dengan baik, meskipun masih banyak kekurangan, tetapi sangat dapat dimaklumi karena memang mereka bukan pemain wayang yang sebenarnya.

Puncak acara pagelaran panggung gembira diisi dengan drama berbahasa asing dan untuk pagelaran kali ini kami memilih bahasa inggris sebagai bahasa pengantarnya mengikuti setting eropa yang kami pilih. Drama yang berjudul “please for give me” dengan peran utama pangeran Richad dan putri Laura sangat menarik perhatian penonton. Meski malam telah semakin larut, tetapi para santriwati yang menonton acara tetap terjaga dengan setia mengikuti setiap adegan dalam drama. Drama yang dibumbui dengan cerita percintaan memang sangat diminati oleh para santriwati karena mereka semua adalah para remaja yang sedang dalam masa-masa puberitas. Drama ini juga memerlukan persiapan yang rumit, karena mulai dari jalan cerita, menerjemahkan teks skenario dalam bahasa asing hingga kostum yang dipakai oleh para pemain adalah betul-betul karya kami santriwati kelas enam tingkat akhir pesantren. Sebagai puncak acara dalam pagelaran panggung gembira, kami akan mempersembahkan karya kami yang terakhir.

Ada empat orang yang aku sendiri sebagai seksi acara yang menentukan untuk menjadi orang dibalik layar dalam drama ini. Mereka adalah teman-teman sekelasku, keempat orang tersebut berbagi tugas, satu sebagai penulis skenario, satu lagi sebagai penerjemah teks skenario kedalam bahasa asing, satu lagi sebagai sutradara yang mengarahkan setiap adegan yang harus diperankan oleh para pemain dan satu lagi sebagai perancang kostum para pemain. Mereka sangat kompak satu dengan yang lain, sehingga puncak acara dalam panggung gembira dapat terlewati dengan sukses.  Tidak sedikit penonton yang akhirnya menitikkan air mata, merasa terharu dan larut dengan adegan yang diperankan oleh para pemain drama.

Kesibukan pada saat drama memang tidak hanya melibatkan para seksi drama yang empat orang, tetapi juga melibatkan bagian yang lain seperti bagian dekorasi dan bagian penerangan. Bagian dekorasi membuatkan beberapa background khusus untuk drama sesuai dengan setting adegan. Ketika adegan berada di sebuah kerajaan, di taman, ataupun di sungai, maka background panggungpun menyesuaikan. Butuh kerjasama yang baik memang untuk mengganti setiap background pada setiap adegan. Dua orang standby di sisi kanan panggung dan dua orang lagi standby disisi kiri panggung. Mereka bertugas khusus untuk mengganti background dengan menarik ulur tali background yang diinginkan. Sementara satu orang lagi bertugas untuk memberi pengarahan background apa yang akan ditampilkan dalam setiap adegan. Sementara bagian penerangan adalah teman-teman yang bertugas di bagian soundsystem yang bertugas untuk memutar musik ataupun lagu-lagu instrumental yang melengkapi setiap adegan drama.

Panggung pertunjukan memang terdiri dari dua, sehingga memudahkan teman-teman yang bekerja dibalik layar. Satu panggung utama dan satu lagi panggung kecil yang berada di depan panggung utama yang dipenuhi dengan taman bunga tulip lengkap dengan air mancurnya. Ketika para pemain drama sedang berada di panggung depan, maka panggung utama akan ditutup. Pada saat panggung utama ditutup, maka para kru drama mempersiapkan berbagai peralatan yang akan digunakan oleh para pemain drama untuk sesi adegan berikutnya dipanggung utama, seperti kursi, papan, dan lain sebagainya. Pada saat itu juga teman-teman yang bertugas sebagai penarik background akan menurunkan background yang sesuai dengan adegan yang akan dimainkan berikutnya. Begitu seterusnya sehingga pergantian background serta kesibukan para kru drama di belakang layar tidak akan terlihat oleh para penonton. Meski semua serba manual, tetapi dengan kerjasama yang baik, semuanya dapat dilalui dengan lancar dan sukses.

Setelah puncak acara terlewati dapat terlewati dengan baik, kini saatnya acara berikutnya yakni evaluasi. Evaluasi ini diberikan oleh ibu pengasuh atas semua penampilan kami di panggung. Mulai dari pertunjukan, MC yang membawakan, hingga dekorasi, semuanya tidak lepas dari evaluasi sebagai pelajaran bagi adik-adik di tahun mendatang yang pasti akan menggelar pertunjukan yang sama. Kata sukses yang keluar dari ibu pengasuh atas pagelaran yang ditampilkan menjadi puncak kebahagiaan kami semua, apa yang kami lakukan dengan segala persiapan yang banyak membutuhkan perhatian, kekuatan fisik, kreativitas hingga kekompakan dari semua santriwati kelas enam yang berjumlah kurang lebih 250 santriwati akhirnya  tidak sia-sia. Kami memang sudah mempersembahkan penampilan terbaik kami sebagai kenang-kenangan yang tidak pernah kami lupakan.

1 komentar Desember 24, 2010

Amaliyah

Hari ini adalah hari pertama dimulainya amaliyah. Pagi-pagi aku telah bersiap-siap bersama teman-teman kelompok. Dengan memakai seragam khusus kelas enam kami semua sudah mulai berkumpul di depan masjid. Setiap anak kelas enam pasti punya baju seragam tersendiri, yang semuanya kami sendiri yang menentukan warna dan desainnya. Kebetulan baju angkatanku berwarna ungu dengan corak kotak-kotak. Sebetulnya sih aku tidak terlalu suka dengan warna baju itu, tetapi mayoritas teman-teman ternyata lebih memilih warna ungu daripada warna lainnya. Baju tersebut adalah baju kebesaran kami, setiap kegiatan resmi selama kelas enam kami selalu memakai baju tersebut, mulai dari amaliyah, rihlah ilmiyah hingga berakhir pada saat khutbatul wada’ kami selalu memakai baju itu. Bisa dibayangkan jika sebanyak kurang lebih dua ratus orang memakai baju setelan atas bawah dengan corak kotak-kotak dan berwarna ungu membuat isi pesantren seolah-seolah menjadi berwarna ungu. Warna yang seringkali disebut sebagai warna janda.

Rasa deg-degan mengalir di seluruh tubuhku, bahkan sejak semalam. Hari ini adalah giliranku untuk praktek mengajar. Kebetulan aku mendapat tugas untuk mengajar bahasa Inggris kelas tiga pintas atau setara dengan kelas satu aliyah. Selama berhari-hari aku latihan mengajar. Meski pada saat kelas lima aku pernah disuruh untuk mengajar adik-adik kelas tsanawiyah tetapi tentu suasananya akan sangat berbeda dalam amaliyah, karena gerak-gerikku sebagai pengajar dinilai oleh ustadzah.

Dua hari sebelumnya aku sudah menghubungi kelas yang akan menjadi tempat praktek mengajarku. Aku minta adik-adik kelas untuk membersihkan kelas dan memperhatikanku dengan baik ketika aku sedang menjelaskan pelajaran kepada mereka, jangan sampai mereka ngantuk sehingga tidak bisa mengerti dengan apa yang akan aku sampaikan. Salah satu ciri kesuksesan seorang guru adalah ketika murid-muridnya merasa antusias dengan materi pelajaran karena cara penyampaian yang baik serta bisa memahami apa yang telah disampaikan oleh guru. Karenanya aku berharap adik-adik kelas ini dapat membantuku menjadi murid yang baik dan pintar ketika aku mengajar. Aku akan memberikan materi baru untuk meneruskan materi yang diajarkan oleh ustadzah. Dengan demikian para ustadzah yang akan menilai bisa melihat seberapa paham adik-adik dengan materi baru yang disampaikan olehku.

Dalam amaliyah, semua santriwati kelas enam dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 15 hingga 20 orang. Jika ada salah satu teman sedang praktek mengajar, maka teman-teman lain akan ikut masuk kelas dan berdiri di belakang murid-murid kelas. Mereka tidak hanya diam melihat teman yang lain sedang praktik, tapi mereka menjadi tim pengawas bagi teman yang sedang amaliyah dan memberikan catatan terutama jika terjadi kesalahan, baik catatan kesalahan secara metode dan tehnis mengajar maupun catatan tentang para murid-murid yang mungkin masih tidak paham, mengantuk, tidak memperhatikan guru di kelas dan lain sebagainya.

Akhirnya..bel pergantian pelajaran terdengar. Saatnya giliranku memasuki kelas, dadaku  semakin bergetar dan seolah terdengar keras di telinga, apalagi ustadz dan ustadzah yang membimbing kelompokku dan memberikan penilaian dikenal sebagai ustadzah senior yang sangat kritis serta pelit dalam memberikan nilai. Akhirnya saat amaliyahpun tiba, dengan mengucapkan bismillah dalam hati aku masuk kedalam kelas. Setelah mengucapkan salam kepada anak-anak, menanyakan tentang kesehatan mereka, menanyakan adakah diantara mereka yang sakit dan tidak masuk kelas, setelah itu akupun memberikan pertanyaan tentang materi sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memperlihatkan apakah para murid siap untuk mendapatkan materi yang baru. Setelah itu barulah aku memberikan materi baru. Ada tehnis dan aturan-aturan tertentu dalam memberikan materi pelajaran yang setiap mata pelajaran tehnis dan aturan-aturan tersebut tidak sama. Teori mengajar memang telah kami peroleh sebelumnya di kelas lima dan saat ini adalah waktu untuk mempraktekkanya. Biasanya mata pelajaran yang akan diberikan dalam amaliyah adalah mata pelajaran yang berkaitan dengan pelajaran pondok. Istilah pelajaran pondok ini merujuk pada mata pelajaran yang diambil dari kurikulum pesantren dan bukan mata pelajaran yang diambil dari kurukulum negara atau depag sebagai institusi yang menaungi pesantren seperti pelajaran bahasa arab, mutholaah, bahasa Inggris, mahfudhot, fikih dan lain sebagainya. Yang kesemuanya memang diharuskan mengajar dalam bahasa arab atau Inggris.

Karena pelajaran yang aku berikan adalah bahasa Inggris, ada beberapa aturan dalam memberikan materi bahasa Inggris, diantaranya adalah guru yang mengajar tidak boleh menggunakan bahasa Indonesia sedikitpun. Semua materi harus disampaikan dalam bahasa Inggris. Kebetulam materi bahasa Inggris yang diberikan dalam bentuk cerita. Memang sebagian besar buku bahasa Inggris di pesantren berisi tentang cerita-cerita. Sehingga para guru dituntut untuk bisa menceritakan setiap cerita dengan baik. Sebelum bercerita akupun mengawalinya dengan memberikan beberapa vocabularies yang sulit. Beberapa vocab sulit yang diberikan juga harus diterangkan dalam bahasa Inggris. Setelah memahami dan mengerti beberapa vocabularies baru kemudian aku menerangkan cerita yang ada di dalam buku panduan.

Dalam bercerita, aku berusaha untuk sedikit kreatif dengan tidak hanya memakai metode ceramah seperti biasanya. Tetapi aku menggunakan alat peraga. Alat peraga yang berupa tongkat telah aku siapkan sebelumnya, hal ini menjadi penting untuk bisa lebih memahamkan kepada murid-murid tentang cerita dalam buku.

Usai bercerita aku meminta para murid-murid ini untuk menulis vocab dalam buku catatan mereka dan bukan menuliskannnya pada buku panduan. Setelah itu baru memberikan beberapa pertanyaan terkait dengan cerita yang telah aku jelaskan. Selain tehnik penyampaian yang dinilai, posisi gurupun juga tidak lepas dari penilaian. Seorang guru harus berjalan berkeliling kelas sambil melihat apakah para murid ada yang tidak memperhatikan, tidak mencatat, tidak membawa buku atau bahkan mengantuk. Jangan sampai sang guru lengah dan tidak mengetahui jika salah satu muridnya ada yang mengantuk dan tidak memperhatikan. Selain itu sebagai seorang guru akupun harus bisa memperhitungkan waktu dengan baik. Bagaimana waktu yang hampir satu jam itu dapat dimanfaatkan dengan baik, mulai dari pemberian vocabularies, penjelasan materi, memberi waktu murid-murid untuk mencatat hingga memberi pertanyaan untuk menguji para murid akan materi yang telah disampaikan. Sehingga semuanya bisa tepat waktu tanpa kurang maupun lebih.

Kali ini aku masih punya waktu lima menit lagi sebelum bel tanda pelajaran selesai berbunyi. Padahal aku telah memberikan beberapa pertanyaan terkait materi yang telah aku sampaikan. Rasanya lama sekali bel pergantian pelajaran itu berbunyi. Waktu lima menit itupun aku pergunakan untuk berkeliling kelas dan memeriksa catatan para murid satu persatu hingga akhirnya terdengar jaros berbunyi.

Teng teng..teng..teng..

Rasanya begitu lega hatiku telah menyelesaikan ujian praktek mengajar hari ini. Meski aku belum sendiri belum tahu hasilnya, tetapi paling tidak aku telah berusaha menjalani dan  menyelesaikannya dengan baik.

Amaliyah merupakan satu dari rangkaian aktifitas wajib bagi santriwati akhir di pesantren ini. Amaliyah adalah ujian praktek mengajar yang merupakan perwujudan dari pelajaran tarbiyah pada kelas empat dan kelas lima. Dalam pelajaran tarbiyah tersebut memang diajarkan tentang teori pendidikan dan pengajaran. Amaliyah menjadi sesuatu yang mendebarkan, menegangkan dan ditakuti oleh setiap santriwati kelas enam. Karenanya semua teman-teman pasti akan mempersiapkan jauh-jauh hari ketika sudah mengetahui mata pelajaran apa yang akan disampaikan dalam amaliyah. Saking tegangnya…tidak jarang para santriwati ini bermimpi dan mengigau seolah sedang amaliyah. Seperti salah seorang teman sekamarku Diana. Dia memang dikenal seorang yang latah dan lucu, meski sebenarnya dia adalah seorang anak yang cerdas. Menjelang amaliyah hampir setiap malam dia mengigau seolah sedang praktek amaliyah. Kebetulan dia dapat mata pelajaran mutholaah. Mutholaah adalah pelajaran yang berisi cerita-cerita dalam bahasa Arab. Makanya ketika mengigaupun, dia mengigau dalam bahasa Arab seperti yang terjadi kemaren malam, dia berteriak “assalamu’alaikum Wr.Wb..kaifa haalukunna”? Setelah terdiam sebentar diapun berteriak kembali “al-Asadu wal Fa’ru” (merupakan salah satu judul cerita dalam bahasa arab yang akan disampaikan dihadapan murid-murid barunya), dia mengulang teriakannya hingga berkali-kali sampai akhirnya satu kamarpun terbangun dan menertawakan diana yang masih belum sadar bahwa dia sedang mengigau.

Amaliyah memang selalu menjadi momok bagi setiap santriwati akhir di pesantren ini. Akan selalu ada banyak peristiwa-peristiwa lucu yang mengiringi setiap praktek amaliyah ini.  Biasanya setelah amaliyah selesai dilakukan, semua anggota kelompok bersama para ustadz dan ustadzah pembimbing berkumpul dan membahas untuk melakukan evaluasi. Evaluasi ini diberikan tidak hanya oleh para ustadz dan ustadzah serta teman-teman dalam satu kelompok. Ada yang lupa ketika memberikan salam pulang kepada para murid karena mungkin saking pengennya untuk mengakhiri praktek mengajar dan ingin segera keluar dari ruang kelas, ada yang lupa terhadap materi yang diberikan, sehingga dia harus menerangkan dengan berputar-putar, dan lain sebagainya, semua itu akan masuk penilaian dan evaluasi setelah amaliyah dilakukan.

Seperti siang ini, setelah amaliyah dan kamipun mengadakan evaluasi. Beberapa teman yang praktek mengajar hari ini termasuk aku tidak lepas dari kritik yang diberikan oleh teman-teman. Meski ustadz pembimbing memberikan sedikit pujian karena aku bisa menyampaikan cerita dengan baik dan menggunakan alat peraga, tetapi ada beberapa kritik yang diberikan oleh teman-teman diantaranya ada beberapa murid yang lepas dari pantauanku selama menjadi guru, sehingga mereka mengobrol dan kurang memperhatikan ketika aku sedang menyampaikan materi pelajaran. Kritik dan evaluasi memang sangat penting untuk diberikan sebagai perbaikan serta panduan jika suatu saat kami menjadi seorang guru. Yaa…Bagaimanapun juga amaliyah telah banyak memberikan pengalaman bagi kami dan mengajarkan kami untuk bisa menjadi guru yang baik. Ini adalah salah satu bekal yang diberikan oleh pesantren bagi para santriwatinya yang akan keluar dan suatu saat nanti akan berkiprah di masyarakat.

Add a comment Desember 24, 2010

Menikmati Bulan Ramadhan di pesantren

Tahun ini aku kembali merasakan untuk menikmati bulan Ramadhan di pesantren setelah sebelumnya di kelas tiga aku juga pernah mengalaminya. Sepi memang sangat terasa di pesantren apalagi pada bulan ramadhan. Biasanya dimana-mana didapati lautan jilbab, tetapi di bulan ramadhan tidak akan ditemui. Meskipun demikian, aktifitas santriwati dalam sehari-hari tetap tidak berubah. Kami tetap harus sholat berjamaah lima waktu, tetap harus sekolah, tetap akan mengalami hukuman jika kami terlambat, semuanya tidak ada yang berubah, hanya saja kami merasa lebih santai dan tidak perlu terburu-buru karena kami tidak mendapati antrian panjang untuk mandi, mencuci, berwudhu, mengambil nasi di dapur dan lain sebagainya.

Perasaan rasa sepi itu memang akan terobati dengan berbagai tambahan kegiatan di bulan ramadhan, mulai dari kuliah shubuh, belajar kitab kuning di pagi hari, tadarus serta ada satu kegiatan khusus yang dirancang selama bulan ramadhan untuk kelas enam sebagai santriwati akhir di pesantren. Diantaranya ada fathul kutub, pelatihan guru TPA serta berbagai pembekalan-pembekalan lainnya yang berguna bagi kami ketika keluar dari pesantren ini.

Fathul kutub yang berarti adalah membuka buku adalah kegiatan yang khusus diisi oleh KH Hasan Abdullah Sahal pimpinan pondok modern Gontor untuk mengajarkan berbagai kitab secara umum. Mulai dari kitab-kitab hadis, kitab Rijalil hadis, kamus-kamus seperti kamus berbahasa arab, fathurrohman (kamus untuk mencari ayat-ayat dalam al-Qur’an dan lain sebagainya. Bukan mengajari isi dari kitab-kitab secara mendetail tetapi lebih mengajarkan pada bagaimana cara membaca dan mempelajarinya. Fathul kutub ini berlangsung selama seminggu. Semua santriwati kelas enam dikumpulkan menjadi satu dengan formasi meja melingkar sehingga sang ustad berada di tengah-tengah. Tidak jarang aku merasakan ngantuk yang teramat sangat dan sampai tertidur karena hawa panas dan terbawa kondisi sebagai orang yang berpuasa.

Selain fathul kutub ada satu kegiatan lain yang sangat menyenangkan bagi kami, yakni pelatihan guru TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Dalam pelatihan tersebut dijamin tidak ada yang mengantuk meski kami dalam kondisi berpuasa, karena disitu kami diberikan pembekalan cara-cara mengajar TPA serta diajarkan berbagai lagu-lagu untuk anak-anak TPA dengan diiringi musik orgen yang dimainkan oleh sang tutor. Kami juga diajarkan berbagai macam tepuk untuk anak-anak TPA, seperti tepuk anak sholeh dan lain sebagainya. Beban berat yang selama ini melanda santriwati kelas enam karena berbagai ujian yang akan dijalani seolah sirna sudah. Semuanya gembira, semuanya menjadi ceria dalam pelatihan guru-guru TPA. Tutor yang mengajar terlihat sangat santai dalam pembawaannya. Hal ini memang penting untuk ditiru karena jika kelak kami menjadi seorang guru TPA, kami dituntut untuk selalu ceria, santai sehingga anak-anak bisa senang dan tanpa beban ketika diajarkan membaca al-Qur’an. Tutor-tutor tersebut didatangkan langsung dari AMM Yogyakarta yang dikenal memperkenalkan metode iqro’ yang banyak dipakai oleh para guru TPA maupun orang tua yang ingin mengenalkan al-Qur’an dan cara membacanya sejak dini.

Masih ada lagi pembekalan-pembekalan yang diberikan bagi santriwati kelas enam diantaranya pembekalan dalam hal kerumahtanggaan seperti bagaimana cara memandikan bayi, cara merias dan merawat wajah agar dapat selalu tampil  cantik dan alami, cara menata meja makan dan lain sebagainya. Hal ini diberikan untuk mempersiapkan  para calon alumni agar bisa menjadi seorang perempuan yang terampil dalam hal-hal kerumahtanggaan, apalagi bagi mereka setelah lulus dan segera akan menikah, karena memang tidak jarang dari teman-teman santriwati yang lulus kemudian langsung menikah. Selain pembekalan masalah kerumahtanggaan kami juga diajarkan hal-hal keagamaan praktis yang sangat berguna dalam masyarakat, diantaranya memandikan dan mengkafani jenazah. Kami memang diberi bekal agar selalu siap terjun dalam bermasyarakat.

Begitu banyak kegiatan dilakukan pada bulan ramadhan, sehingga bulan ramadhan menjadi lebih bermakna, apalagi ini adalah ramadhan terakhir, sebelum akhirnya kami akan meninggalkan pesantren ini.

Pesantren sendiri juga mengadakan berbagai kegiatan yang harus diikuti oleh para santriwati secara umum, baik santriwati kelas enam maupun santriwati kelas tiga yang bermukim di pesantren. Diantaranya adalah simaan al-Al-Qur’an yang selalu diadakan pada tanggal 17 Ramadhan. Pihak pesantren mengundang beberapa orang hafidzah untuk membaca al-Qur’an, dimulai setelah sholat Shubuh, kemudian kami semua menyimak apa yang telah dibaca oleh para penghafal al-Qur’an, hingga waktu berbuka tiba para penghafal al-Qur’an ini akan menyelesaikan bacaannya hingga juz 30. Biasanya setelah sholat shubuh kami semua menyimak bersama-sama hingga pukul 7 pagi, kemudian setelah itu acara menyimak digilir tiap-tiap kelas hingga pada jaros jam lima sore kami semua sudah diwajibkan untuk berkumpul di masjid dan menyimak hingga selesai. Beberapa teman masih asing dengan kegiatan simaan ini. Aku pribadi sudah terbiasa dengan kegiatan simaan al-Qur’an sejak sebelum mondok di pesantren. Tradisi simaan al-Qur’an sering diadakan di masjid-masjid di desa. Jika ada simaan, maka semua anak sekolah akan dipulangkan lebih cepat dan diharapkan untuk bisa mengikuti acara simaan. Meski simaan al-Qur’an diadakan di masjid tetanga desa yang jaraknya cukup jauh, kami tetap dipulangkan lebih awal. Akupun bersama teman-teman sekolah biasanya pergi bersama-sama dengan berjalan kaki meski jaraknya cukup jauh untuk mengikuti acara simaan tersebut. Ya karena kami selalu diajarkan bahwa menyimak al-Qur’an akan mempunyai pahala yang sama dengan orang yang membacanya.

Selain kegiatan simaan al-Qur’an, pesantren juga membuka kegiatan pesantren kilat bagi para pelajar mulai dari SD, SMP maupun SMA yang ingin bermukim dan merasakan hidup di pesantren. Dalam kegiatan pesantren kilat ini, para pelajar diajarkan tentang berbagai hal terkait dengan persoalan agama, mulai dari hal-hal yang praktis hingga pengetahuan keagamaan secara umum. Biasanya beberapa santriwati kelas enam ikut dilibatkan dalam kepanitiaan pesantren kilat ini. Biasanya pesantren kilat ini dikoordinir oleh sekolah masing-masing yang berkeinginan mengadakan kegiatan ramadhan bagi anak didiknya di pesantren, meski demikian ada juga yang mengikuti dan mendaftar pesantren kilat secara individual. Memang tidak banyak yang mengikuti kegiatan pesantren kilat ini tetapi telah membuat suasana pesantren lebih semarak di bulan ramadhan.

Akhirnya Ramadhan di pesantren dirasakan sangat menyenangkan. Banyaknya kegiatan terutama bagi kami santriwati kelas enam membuat bulan ramadhan semakin bermakna dan menjadi kenangan yang tidak pernah kami lupakan. Ada rasa sedih memang ketika awal liburan tiba, ketika melihat adik-adik kelas pulang berlibur, tetapi ketika sudah dijalani ternyata menjadi hal yang indah dan sangat menyenangkan.

Add a comment Desember 24, 2010

Pemeriksaan Buku

Besok adalah hari pemeriksaan buku. Akupun disibukkan dengan merapikan catatan-catatan serta buku-buku yang selama ini dipakai dalam belajar selama enam tahun di pesantren. Pemeriksaan buku ini adalah bagian dari rangkaian penilaian bagi kami santriwati kelas enam. Semua buku-buku kami diperiksa. Tidak hanya buku panduan atau cuku cetak, tetapi juga buku tulis yang berisi semua catatan-catatan selama kami belajar. Bisa dibayangkan betapa sibuknya kami, karena pemeriksaan buku ini tidak hanya buku-buku kelas enam yang diperiksa kelengkapannya tetapi semua buku-buku mulai kami masih berada di tingkat pertama di pesantren.

Pemeriksaan kelengkapan buku berikut catatannya ini sebagai upaya agar kami bisa mempelajari kembali semua pelajaran dari kelas satu hingga kelas enam dengan baik. Karena di akhir tahun pelajaran ini kami tidak hanya dihadapkan dengan ujian negara yang disebut ebtanas, tetapi juga ujian pondok yang meliputi semua pelajaran dari kelas satu hingga kelas enam di pesantren.

Beban kami sebagai santriwati akhir di pesantren memang berat. Banyak tahapan ujian yang harus dilalui, mulai ujian mengajar, ujian hafalan juz ‘amma, ujian akhir nasional (ebtanas), ujian dalam praktek ibadah, hingga ujian pondok yang menguji semua pelajaran pondok mulai dari kelas satu hingga kelas enam.

Hampir menjadi tradisi bagi kami di kelas enam untuk menjilid buku-buku untuk mempersiapkan pemeriksaan buku serta mempermudah bagi kami untuk mempelajarinya jika ujian akhir kelas enam tiba. Tidak hanya buku cetak yang dijilid tetapi juga buku-buku catatan. Buku-buku tersebut dijilid sesuai dengan mata pelajaran yang setiap jilidnya terdiri dari buku kelas satu hingga kelas enam. Memang menjilid buku membuat lebih praktis, tidak hanya praktis untuk belajar tetapi juga praktis karena tidak mudah hilang. Meski praktis tetapi bagi santriwati dengan uang saku yang selalu pas-pasan bahkan sering kurang, aku tidak mengikuti tradisi menjilid buku ini. Bagiku menjilid buku memerlukan biaya yang tidak sedikit karena banyak sekali biaya yang harus dikeluarkan untuk berbagai kegiatan selama kami kelas enam. Karenanya aku cukup dibuat repot ketika pemeriksaan buku akan dilaksanakan. Meski semua buku berada di dalam lemari, tetapi aku harus mencari-cari buku-buku yang satu sama lain kocar kacir dan sebagian lagi tidak aku punya. Akupun mencari akal untuk meminjam buku-buku yang tidak aku punya kepada adik-adik kelas. Sedangkan untuk buku-buku kelas enam, aku memang telah melengkapinya.

Sementara untuk buku-buku catatan. Sebagian buku catatan yang telah hilang akupun kembali menuliskannya. Buku-buku catatan biasanya terdiri dari atas catatan berbagai vocabularies atau mutarodifat (kosakata dalam bahasa arab dan inggris) disamping juga khulashoh atau ringkasan-ringkasan. Hal ini karena semua buku pelajaran di pesantren ini berbahasa arab dan inggris dan kami memang dilarang untuk membuat catatan dalam buku cetak, sehingga segala kosakata sulit akan dicatat dalam  buku tulis secara rapi. Hasilnya bisa dilihat, semua buku-buku cetak dalam bahasa arab dan inggris bebas dari segala coretan-coretan atau bebas dari jenggot-jenggot yang sengaja dibuat.

Pemeriksaan buku catatan biasanya juga dlakukan oleh para ustadzah yang mengajar sebelum diadakan ujian semester. Pemeriksaan catatan ini dilakukan terutama bagi para santriwati kelas satu hingga kelas tiga. Para ustadzah memeriksa catatan agar para santriwati siap menghadapi ujian. Pemeriksaan buku juga merupakan salah satu bentuk tanggung jawab guru selama pengajaran berlangsung.

Akhirnya hari pemeriksaan bukupun tiba. Pemeriksaan dilakukan di depan kamar masing-masing, karena banyaknya buku yang akan diperiksa, sehingga tidak memungkinkan bagi kami untuk membawa ke dalam kelas. Para ustadz dan ustadzahlah yang mendatangi teras kamar kami. Satu persatu buku-buku kami diperiksa dengan teliti. Aku sengaja berada di dalam kamar karena aku masih menyiapkan buku2 yang tidak terjilid itu dengan rapi, ada beberapa buku yang memang tidak ada, sementara ada beberapa catatan yang juga tidak lengkap karena terutama catatan pelajaran waktu tsanawiyah yang banyak hilang. Selama enam tahun dengan perpindahan kamar setiap setengah tahun sekali membuat banyak buku-buku yang hilang.

Saat giliran buku-bukuku diperiksa, masih banyak buku-buku yang sebenarnya tidak aku punya, tetapi ternyata ustadzah yang memeriksa tidak jeli, sehingga dalam pemeriksaan ini akupun dapat lolos dan diberikan kertas tanda kelengkapan. Meski sebenarnya tidak ada sangsi bagi yang tidak lengkap, tetapi hal ini mempengaruhi penilaian kami kelas enam secara keseluruhan. Semoga pemeriksaan buku tidak hanya sekedar ritual yang harus dijalani  oleh para santriwati kelas enam tetapi lebih kepada memeriksa persiapan kelas enam dari berbagai hal dalam menghadapi ujian.

Add a comment Desember 24, 2010

Rihlah Ilmiyah

Saat ini semua santriwati kelas enam di kumpulkan di aula. Disana kami sedang membahas agenda rutin kelas enam yaitu rihlah ilmiyah. Selama enam tahun di pesantren, kami hanya mendapatkan waktu sekali untuk piknik dan jalan-jalan yakni dalam rihlah ilmiyah. Rihlah ilmiyah tidak hanya menjadi ajang jalan-jalan dan merilekskan pikiran di sela-sela berbagai macam ujian dan kegiatan-kegiatan kelas enam lainnya tetapi juga menjadi ajang untuk mencari informasi tentang perguruan tinggi bagi yang ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi setelah lulus dari pesantren. Untuk tahun ini rihlah ilmiyah di bagi menjadi dua daerah, Yogyakarta dan jawa tengah dan jawa timur. Sehingga para santriwati kelas enam di pisah menjadi dua bagian dan hari ini adalah penentuan dimana aku mendapatkan bagian di daerah Yogya jateng seperti yang aku inginkan. Rihlah ilmiyah sendiri berlangsung selama empat hari empat malam.

Beberapa teman-teman yang menjadi panitia rihlah mulai memperlihatkan kesibukannya. Mulai dari mempersiapkan fandel untuk kenang-kenangan bagi lembaga yang akan dikunjungi, membuat spanduk untuk di pasang di bus, hingga mengkonfirmasi tempat-tempat yang akan dikunjungi. Panitia juga menentukan baju-baju apa yang akan kami kenakan di tiap-tiap kunjungan. Kami semua memang harus berseragam setiap harinya, bahkan dalam rihlah ilmiyah. Penyeragaman dalam pakaian memang memudahkan para panitia untuk mengecek anggotanya terutama jika berada di tempat-tempat wisata yang ramai. Bagi orang-orang di luar pesantren yang melihat kami memakai baju seragam lengkap dengan sepatu dan atribut pesantren berada di pusat-pusat perbelanjaan atau tempat wisata mungkin akan merasa lucu dan udik. Tapi bagi kami para santriwati, kami tetap merasa percaya diri dengan penyeragaman ini karena memang kami terbiasa dengan seragam dimanapun berada selama masih berstatus santriwati.

Ada beberapa baju seragam yang akan kami pakai selama rihlah, baju seragam kelas enam, baju batik, beberapa baju jas seragam konsulat. Setiap hari selama rihlah kami memakai baju seragam kecuali pada saat tidur. Semua seragam yang akan dipakai sudah aku persiapkan jauh-jauh hari. Meski tanpa disetrika tetapi semua tampak rapi. Semua santriwati di pesantren ini memang tidak pernah ada budaya menyetrika baju. Selain tidak mungkin ada waktu untuk itu, kami juga dilarang membawa alat-alat listrik apapun itu, mulai dari setrika, radio dan lain sebagainya. Meskipun demikian kami punya strategi tersendiri untuk mengatasi agar baju-baju tidak terlihat kusut, yakni dengan cara segera melipat yang rapi dan tanpa menunggu lebih lama lagi setelah diambil dari jemuran, kalau perlu ditumbuk di bawah bantal beberapa jam sebelum di masukkan kedalam lemari.

Hari yang dinantipun tiba. Ada empat bus yang disiapkan untuk memberangkatkan para santriwati yang akan rihlah. Dua bus untuk ke jawa timur dan dua bus untuk yogya dan jawa tengah. Kami berangkat pada malam hari, sehingga sampai di tempat tujuan pada pagi harinya. Tidak lupa akupun membawa bantal karena selama empat hari akan berada lebih banyak tidur di dalam bus.

Pagi hari kami telah sampai di salah satu masjid besar di Ungaran kota Semarang. Disini kami akan beristirahat hingga dua hari. Di masjid tersebut ada ruangan yang cukup besar yang kami pergunakan sebagai kamar dengan beralaskan karpet. Setelah istirahat sebentar dan makan pagi, kamipun bersiap-siap untuk mengawali rihlah ke salah satu universitas di Semarang yakni di universitas diponegoro. Rihlah memang tidak hanya sekedar jalan-jalan ke tempat-tempat wisata tetapi juga mempersiapkan para santriwati yang akan meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Sampai di universitas diponegoro, kami diajak untuk melihat seputar kampus sebelum akhirnya dibawa ke ruangan yang telah disediakan untuk mendapatkan berbagai informasi tentang kampus. Selain itu kami juga diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi tentang berbagai macam hal terkait dengan perkuliahan mulai tentang jurusan, beasiswa dan lain sebagainya.

Selesai kunjungan dari universitas diponegoro, rombongan kamipun menuju ke sebuah pabrik coca cola. Disana kami diajak untuk mengetahui proses pembuatan coca cola hingga proses pengemasan dan siap diedarkan kepada konsumen. Sebuah pengetahuan yang belum pernah kami dapatkan sebelumnya. Di akhir kujungan dari pabrik coca cola, ada doorprize yang di adakan oleh pihak pabrik dengan berbagai hadiah kecil yang menarik seperti kaos pendek, tas, serta bingkisan-bingkisan lainnya. Untuk acara yang satu ini, aku memang tidak berbakat untuk dapat hadiah. Setiap ada doorprize, undian dan sejenisnya sudah dapat dipastikan aku tidak akan pernah beruntung. Selesai doorprize kamipun pulang dengan tidak lupa membawa bingkisan yang diberikan, yang tidak lain isinya adalah minuman kemasan yang dihasilkan dari pabrik tersebut.

Selain mengunjungi pabrik coca cola, kami juga mengunjungi pabrik jamu yang sangat terkenal di kota Semarang. Di salah satu pabrik jamu tradisional tersebut kami juga melihat berbagai proses pembuatan jamu mulai dari bahan baku hingga jamu yang telah diolah dengan baik dalam kemasan. Kami juga dipersilahkan untuk merasakan berbagai produk jamu, ada jamu galian singset, ada jamu sehat, jamu untuk keputihan dan lain sebagainya. Setelah berkeliling di pabrik jamu, kami dibawa ke sebuah museum yang letaknya bersebelahan dengan pabrik jamu. Museum Rekor Indonesia (MURI) yang saat ini tengah menjadi trend bagi pihak-pihak tertentu yang menginginkan untuk diabadikan dalam sebuah rekor di Indonesia. Museum ini memang cukup unik karena mendokumentasikan hal-hal yang unik yang terjadi di Indonesia, mulai dari rambut terpanjang, orang tertinggi, orang terpendek, orang dengan anak terbanyak se indonesia, dan lain sebagainya. Semuanya ada di museum ini. Museum ini didirikan karena selama ini memang belum ada pihak-pihak yang mendokumentasikan beri peristiwa dan kejadian unik di Indonesia. Setelah puas berjalan-jalan hari itu kami pun kembali ke tempat peristirahatan untuk kembali beraktifitas keesokan harinya.

Selain mengunjungi kampus dan pabrik yang ada di kota Semarang, kami juga di ajak mengelilingi Semarang kota lama yang merupakan kota peninggalan Balanda dengan gedung-gedung yang tampak kokoh dan berarsitektur khas eropa. Sayang gedung-gedung tersebut sudah tidak dipergunakan lagi tidak terawat, sehingga banyak dimanfaatkan oleh para pemulung dan para tuna wisma sebagai tempat tinggal.

Dua hari berada di kota Semarang, kamipun melanjutkan perjalanan menuju kota pendidikan Yogyakarta. Perjalanan dari Semarang menuju ke Yogyakarta memakan waktu sekitar tiga jam. Sebelum memasuki kota Yogyakarta, kami singgah terlebih dahulu di kota Magelang. Di kota Magelang kami diajak mengunjungi candi Borobudur yang merupakan candi terbesar umat Budha di dunia. Candi yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia karena pernah masuk dalam salah satu daftar tujuh keajaiban dunia.

Aku dan teman-temanpun melewati pelataran candi yang cukup luas. Setelah itu baru memasuki area candi yang besar. Menaiki anak tangga yang sangat banyak dan membuat kami lelah, apalagi dengan pakaian seragam yang kami kenakan yang berupa baju jas dan rok panjang lengkap dengan sepatu resmi, memang sedikit menyusahkan dan membuat berat langkah kaki yang harus melangkah menaiki anak tangga hingga puncak candi. Tapi hal ini tidak membuatku menyerah untuk melangkah hingga puncak. Karena belum tentu suatu saat aku bisa mengunjungi candi ini. Kelelahan menaiki anak tangga terbayar ketika kami bisa melihat pemandangan yang sangat indah dari puncak candi. Daerah disekitar candi terlihat cantik, sawah yang menghijau, bukit-bukit yang menjulang serta lampu berwarna-warni kota Magelang yang mulai dinyalakan dan terlihat seperti titik-titik cahaya yang memancar. Ya rombongan kami memang masuk ke kota Magelang ketika hari sudah sore, kami merupakan rombongan wisata terakhir yang diperbolehkan masuk area candi karena tidak lama lagi akan segera ditutup. sampai di puncak candi, hari memang sudah senja, langit sore mulai berubah gelap sedikit demi sedikit, warna merah jingga mulai nampak karpet yang terhampar di atas langit. Menikmati suasana menjelang senja dari atas puncak candi memang luar biasa indah.

Setelah sang waktu semakin terlihat senja dan kamipun puas mengitari bagian-bagian candi sambil berfoto-foto untuk mengabadikan kenangan, kamipun harus turun untuk meninggalkan puncak candi borobudur menuju ke pondok pesantren Pabelan Magelang.

Di pondok pesantren modern Pabelan Magelang kami akan menginap malam harinya. Sampai di ponpes Pabelan tersebut, kamipun segera dipersilahkan masuk ke kamar para santriwati yang memang disediakan untuk kami beristirahat. Setelah mandi dan makan malam, kamipun bersiap memakai baju resmi untuk mengadakan pertemuan dengan para pengasuh, santriwati dan pengurus osis. Disana kami berdiskusi dan saling sharing tentang berbagai hal terkait tentang pesantren, mulai dari aktifitas organisasi, kegiatan belajar mengajar hingga kegiatan sehari-hari para santri. Pondok pesantren Pabelan memang cukup unik dan berbeda dengan pesantren kami. Ponpes Pabelan terdiri dari santri putra dan putri, dimana asrama untuk santri dan santriwati di pisahkan oleh dapur. Suatu hal yang tentu saja berbeda dengan pesantren kami yang khusus putri. Disana para santriwati tidak hanya diajarkan untuk belajar dan berorganisasi tetapi para santriwati juga diajarkan untuk beternak ikan dengan memanfaatkan lahan-lahan disekitar pesantren. Tidak heran jika di depan kamar para santriwati terdapat kolam yang berisi berbagai ikan air tawar, mulai dari ikan lele, bawal, nila dan lain sebagainya. Sehingga kebutuhan makan para santriwati bisa di suplai dari ikan-ikan hasil peternakan sendiri. Makan malam dan makan pagi kami di ponpes Pabelan ini juga dengan menggunakan lauk ikan lele dan bawal. Menu yang biasanya hanya bisa kami rasakan seminggu sekali di pesantren.

Pagi harinya, aku bersama beberapa teman dari santriwati pondok pesantren Pabelan berjalan-jalan mengelilingi pesantren sambil menikmati udara segar. Udara yang sangat sejuk ini karena pondok pesantren Pabelan berada di bawah kaki gunung merapi membuat kami betah berada di pesantren tersebut. Kami saling bercerita dan berbagi pengalaman tentang segala macam hal. Memang sangat mengasyikkan, karena kami tidak hanya melihat tapi juga merasakan pengalaman baru yang berbeda di pesantren dan tentunya satu lagi kami juga punya banyak teman-teman baru disini. Sayang..keindahan, kesejukan ponpes serta keramaham orang-orang di dalamnya kami rasakan hanya sebentar, karena tidak lama setelah itu kami harus kembali berkemas dan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Setelah berpamitan kamipun kembali menaiki bus-bus yang akan membawa kami ke Yogyakarta.

Sebelum berangkat menuju Yogyakarta, tidak lupa kami berhenti sebentar di sebuah toko oleh-oleh khas Magelang. Disana teman-teman segera menyerbu beragam makanan khas kota Magelang. Aku sendiri hanya turun melihat-lihat karena aku harus berhati-hati mengeluarkan uang, karena uang saku yang kubawa tidak seberapa, apalagi masih satu hari lagi perjalanan yang di tempuh.

Sampai di Yogyakarta, kami langsung menuju kampus UII (Universitas Islam Indonesia). Di kampus yang cukup elit dan terkenal ini, kami memasuki hall ber-AC yang dingin. Seperti kunjungan kami ke kampus sebelumnya di Semarang, di kampus UII, kami disambut langsung oleh dekan fakultas agama Islam dan diberikan berbagai informasi terkait dengan fakultas agama Islam berikut jurusan-jurusan yang ada di dalamnya, serta berbagai program yang tersedia. Selesai acara tersebut, kami diajak berkeliling di kampus UII yang megah, kami juga di ajak ke ruang senat mahasiswa serta di ajak langsung untuk melihat aktifitas mahasiswa. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi merasakan pengalaman sebagai mahasiswa. Puas berkeliling di kampus UII, kamipun kembali melanjutkan perjalanan dan perjalanan kali ini adalah menuju ke sekolah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta.

Sekolah Muallimat Muhammdiyah Yogyakarta adalah sekolah dengan sistem asrama yang didirikan oleh kyai Ahmad Dahlan, pendiri ormas terbesar Muhammadiyah. Meski sekolah ini berada di salah satu gang sempit di pusat kota Yogyakarta, tetapi murid-murid yang ada berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Pada masanya, sekolah muallimat memang satu-satunya sekolah khusus putri Islam yang cukup terkenal di Indonesia dan tetap bertahan hingga saat ini. Sekolah muallimat ini memang mempunyai hubungan khusus dengan pesantren kami karena ibu pengasuh pesantren kami adalah alumni dari sekolah muallimat ini. Sehingga kunjungan kami ke sekolah ini tidak hanya sekedar untuk studi banding tetapi juga sebagai ajang temu kangen bagi ibu pengasuh pesantren dengan almamaternya dan hampir setiap tahun akan selalu ada kunjungan dari pesantren kami ke madrasah muallimat begitu juga sebaliknya.

Setelah beberapa saat di madrasah ini, kamipun segera melanjutkan perjalanan ke pantai  parang tritis. Senangnya melihat laut yang membiru, lautan pasir yang dikenal dengan nama gumuk pasir terhampar di depan mata laksana berada di sebuah gurun. Tanpa menunggu lebih lama lagi, akupun langsung menjejakkan kaki di pinggiran pantau untuk merasakan datangnya gelombang laut yang datang dengan dahsyatnya. Aku tidak peduli dengan sebagian celana panjang yang sudah basah tersapu ombak, semuanya terasa menyenangkan sehingga tanpa sadar aku menjerit dengan kencang untuk melonggarkan sendi-sendi otot dalam tubuh dan melupakan segala kepenatan yang mendera. Aku betul-betul  merasa segar meski badan terasa capek. Rasanya berada di pinggir pantai membuatku betah sehingga enggan untuk kembali ketika waktu telah mengharuskanku untuk meninggalkan pinggir pantai.

Akhirnya aku harus meninggalkan pantai ini sambil berjanji dalam hati suatu saat aku akan kembali kesini. Perjalanan rihlah ini dilanjutkan kembali untuk kemudian berhenti di suatu tempat yang bernama malioboro. Aku sering mendengar nama itu, tapi aku sendiri belum pernah menjejakkan kaki kesana. Ternyata malioboro adalah sebuah pusat perbelanjaan yang di sebagian besar dipenuhi dengan pedagang batik. Dengan uang yang tersisa, akupun membeli satu baju batik dan celana untuk kenang-kenangan bahwa aku pernah kesini.

Setelah satu baju telah aku dapatkan, aku segera kembali ke tempat parkiran bus, karena aku tidak ingin berlama-lama berada di pusat perbelanjaan, karena aku tidak mungkin bisa belanja lebih banyak lagi. Tidak lupa akupun membeli satu kotak bakpia sebagai oleh-oleh.

Sambil menunggu teman-teman yang lain akupun duduk-duduk sambil merasakan minuman jahe yang bernama wedang ronde yang rasanya tidak jauh beda dengan minuman yang biasa aku beli ketika waktu aku masih kecil yang bernama “cemoe”. Tak terasa jam sudah menunjukkan jam 7 malam, teman-teman sudah banyak yang berkumpul di area parkir bis. Aku lihat teman-teman banyak yang menenteng belanjaan yang cukup banyak, tidak hanya baju batik dan kaos dagadu tetapi juga berbagai macam makanan khas Jogja mulai dari yangko, bakpia dan buah salak. Rupanya mereka sangat terkesan dengan harga-harga barang yang bagi kantong mereka sangat murah. Setelah panitia mengabsen kedatangan teman-teman, kamipun segera naek bus untuk segera kembali ke pesantren tercinta.

Satu hal yang membuatku terkesan yakni suasana Jogja memang telah membuatku jatuh cinta, aku merasa berada dalam lingkungan yang hangat dan enak untuk melanjutkan mimpi-mimpiku melalui sekolah. Ya…aku akan meneruskan kuliah di kota ini, bagaimanapun caranya, batinku dalam hati. Tunggu aku Jogja……….tidak lama lagi aku akan segera kembali.

Perjalanan dari kota gudeg Jogja menuju ke kota Ponorogo memakan waktu hingga kurang lebih enam jam, sehingga sampai di pesantren pada tengah malam. Sesampai di pesantren, kami sudah mendapati teman-teman yang rihlah di kota-kota sekitar Jawa Timur telah datang terlebih dahulu. Setelah mengemasi barang-barang dari bis, akupun segera menuju kamar untuk beristirahat.

Keesokan harinya, aktifitas sehari-hari sebagai santriwati tetap berjalan seperti biasanya. Rasa pegal dan capek di seluruh tubuh sepulang rihlah selama empat hari masih terasa. Kini saatnya kami semua disibukkan untuk membuat laporan hasil rihlah selama ini. Selama rihlah kami memang tidak sekedar jalan-jalan dan bersenang-senang, tetapi kami juga harus mencatat segala aktifitas rihlah hingga hal-hal baru yang kami perolah selama perjalanan dalam sebuah laporan khusus rihlah. Laporan ini dibuat secara individu dan menjadi kewajiban bagi kami semua tanpa terkecuali. Meski tidak banyak mencatat, aku membuat laporan melalui ingatan, aku tidak peduli apakah laporan rihlah ini akan mempengaruhi penilaian kami kelak. Tiga hari waktu yang aku perlukan untuk mengerjakan laporan rihlah, karena harus ditulis secara manual alias dengan tulis tangan. Cukup melelahkan memang menulis tangan dengan rapi diatas kertas folio, tapi alhamdulillah semuanya bisa selesai sesuai dengan deadline yang telah ditentukan. Kini saatnya aku mengumpulkan hasil laporanku ke ustadzah pembimbing kelas enam.

Add a comment Desember 16, 2010

Khutbatul Wada’

Sudah sebulan ini suasana pesantren agak lain. Setiap selesai sholat Isya’ suasana agak sedikit ramai dengan berbagai latihan untuk persiapan salah satu acara besar yakni khutbatul wada’. Istilah khutbatul wada’ merujuk pada masa Rosulullah yang memberikan pidato terakhirnya sebelum beliau meninggal dunia. Di pesantren ini, khutbatul wada’ merupakan ajang perpisahan bagi santriwati kelas enam yang akan meninggalkan pesantren ini dan melanjutkan pendidikannya atau melanjutkan kehidupannya untuk berkarya di dalam masyarakat. Berbagai persiapan telah disiapkan oleh para panitia sejak jauh-jauh hari bahkan sebulan sebelumnya. Mulai dari latihan pop song (vocal group) yang akan menyanyikan beberapa lagu seperti hymne al-mawaddah, oh pondokku, hymne guru, latihan qosidah, menari dan lain sebagainya. Khutbatul wada’ merupakan puncak sekaligus akhir dari rangkaian perjalanan kami sebagai seorang santriwati.

Hari-hari terakhir di pesantren terasa begitu indah dan aku sangat menikmatinya. Aku begitu menikmati aktifitas sebagai santriwati seperti selalu antri mandi, makan, mencuci, yang sebelumnya terasa sangat menjengkelkan. Akupun mulai menikmati suara jaros yang selama ini terkadang mengganggu aktifitasku untuk kemudian harus memenuhi panggilan sang jaros. Semuanya memang terasa begitu indah pada saat-saat terakhir. Karena aku sadar tidak akan pernah mendapatinya lagi di masa-masa mendatang.

Semua rangkaian kegiatan dan berbagai ujian telah kami lewati hingga kelas enam dan kini saatnya menanti puncak dari seluruh aktifitas itu, yakni pada saat khutbatul wada’. Sebagai santriwati yang akan di sahkan menjadi alumni dalam acara khutbatul wada’, akupun ikut menyambut acara khutbatul wada’ dengan berbagai perasaan yang bercampur baur, antara senang karena akhirnya telah berhasil melewati masa-masa di pesantren selama enam tahun, sedih karena terlalu banyak kenangan yang tersimpan disana.

Seminggu sebelum acara khutbatul wada’ digelar, ada satu sesi yang harus kami lewati sebagai santriwati akhir di pesantren. Satu sesi yang membuat hati dan jantung kami terus berdetak sebelum mendapatkan kepastian, yakni penentuan siapakah diantara kami semua yang wajib untuk mengabdikan diri di pesantren ini setelah kelulusan. Satu persatu kami dipanggil oleh ustadzah, diberikan sedikit nasehat dan motivasi dan setelah itu diberikan satu amplop tertutup yang akan kami buka setelah keluar dari ruangan. Amplop itu berisi ketentuan apakah kami wajib mengabdikan diri di pesantren ini minimal satu tahun ataukah kami bebas untuk meninggalkan pesantren ini dan langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mengabdi di pesantren bagi sebagian besar dari kami memang sesuatu yang berat, meski ada juga beberapa dari santriwati yang dengan rela mengajukan diri untuk mengabdikan diri di pesantren. Karenanya setiap wajah lesu yang keluar dari ruangan bisa dipastikan mereka termasuk wajib mengabdikan diri di pesantren, sebaliknya mereka yang luar dari ruangan dengan wajah ceria, maka mereka termasuk tidak mempunyai kewajiban untuk mengabdi, tetapi bisa memilih untuk mengabdi ataukah meninggalkan pesantren sesuai dengan apa yang dicita-citakan.

Kini saatnya giliranku dipanggil, aku langusung masuk dan duduk di tempat yang telah disediakan. Dihadapanku sudah ada dua orang ustadzah yang keduanya adalah ustadzah pembimbing kelas enam. Setelah menanyakan cita-cita serta keinginanku pasca keluar dari pesantren, ustadzah juga memberikan sedikit nasehat dan semangat. Setelah beberapa saat akupun diberikan amplop tertutup untuk aku lihat setelah keluar dari ruangan. Agak sedikit deg-degan memang tapi akhirnya aku merasa lega setelah membawa surat dalam amplop tersebut yang menyatakan bahwa aku tidak wajib untuk mengabdi di pesantren dan bisa langsung melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Sebenarnya semua santriwati diharapkan untuk bisa mengabdikan diri di pesantren. Mengabdi tidak hanya mengajarkan kami untuk menjadi guru yang sesungguhnya tetapi juga mengajarkan kami keikhlasan. Tetapi pesantren memberikan tetap memberikan keleluasaan bagi kami untuk menentukan pilihan. Hanya saja jika pihak pesantren meminta beberapa dari alumninya untuk mengabdi, akan sangat sulit bagi kami untuk menolaknya kecuali dengan alasan yang sangat kuat. Adapun alasan yang kuat untuk bisa menolak mengabdi di pesantren adalah alasan bahwa setelah keluar dari pesantren akan segera menikah. Alasan menikah akan menjadi alasan yang kuat bagi para alumni yang menolak mengabdikan dirinya untuk mengajar di pesantren.

Meski mengabdi dirasakan sesuatu yang berat, tetapi tidak jarang dari para alumni yang justru mengajukan dirinya untuk mengabdi tanpa harus diminta terlebih dahulu. Mengabdikan diri menjadi guru di pesantren memang tidak akan mendapat gaji sebagaimana para guru yang mengajar di sekolah umum. Tetapi pengalaman mengajar akan menjadi pengalaman yang sangat berharga dan memberikan kami bekal di masa mendatang. Meskipun demikian aku lebih memilih untuk mengabdikan diriku di luar pesantren. Aku berkeinginan keras untuk bisa melanjutkan pendidikan sembari harus berfikir mencari penghidupanku sendiri, karena mengandalkan kedua orang tua sepenuhnya adalah sesuatu hal yang tidak mungkin. Untuk itu jauh-jauh hari sebelum acara khutbatul wada’ digelar, aku sudah mengontak beberapa kakak-kakak kelas untuk mencari informasi dimana saya bisa kuliah sambil bekerja. Aku harus berusaha untuk bisa melanjutkan pendidikan, bagaimanapun caranya. Semoga aku bisa mendapatkan jalan untuk itu.

Akhirnya saat yang dinanti-nantikanpun tiba. Acara khutbatul wada’pun semakin dekat. Pesantren terlihat semakin ramai, baik karena adanya persiapan dari panitia maupun karena dua hari sebelum hari H para orang tua wali sudah pada berdatangan di pesantren. Para orang tua memang diundang dalam acara khutbatul wada’ karena khutbatul tidak hanya mewisuda dan melepas santriwati kelas enam tetapi juga merupakan acara penyerahan kembali para santriwati yang telah enam ataupun empat tahun dididik di pesantren kepada para orang tua. Ibu bersama adikku datang dalam acara khutbatul wada’. Mereka datang satu hari sebelum acara. Senang rasaya melihat ibuku datang, sementara adikku yang setahun lagi akan masuk pesantren memang sengaja diajak oleh ibu untuk mengenalkan kehidupan pesantren padanya.

Sementara kesibukan semakin terlihat disana sini terutama oleh para panitia. Mulai dari mendekorasi panggung, melatih santriwati yang akan tampil, menyiapkan konsumsi dan lain sebagainya. Sore hari sebelum hari H, semua santriwati kelas enam serta para pengisi acara dalam khutbatul wada’ melakukan gladi bersih, mulai dari acara pembukaan hingga penutupan. Gladi bersih ini diadakan agar semua dapat dengan baik dan lancar.

Acara khutbatul wada’ diadakan dalam dua sesi. Pada pagi hari dan malam hari. Acara pada pagi hari seringkali disebut sebagai walimah atau resepsi khutbatul wada’, karena berisi banyak pertunjukan dan hiburan dari para santriwati, sehingga tidak hanya diikuti oleh santriwati kelas enam dan orang tuanya tetapi juga diikuti oleh seluruh santriwati dan para ustadzah. Sementara acara pada malam hari khusus hanya diikuti oleh  santriwati kelas, para ustadzah serta orang tua wali murid. Acara pada malam hari merupakan acara puncak khutbatul wada’ yang di dalamnya hanya berisi pidato-pidato yang berisi wejangan, mulai dari ibu pengasuh, bapak direktur, bapak ketua yayasan dan satu lagi yang paling penting yakni pidato dari salah satu pendiri pesantren ini yakni bapak KH. Hasan Abdullah Sahal yang juga merupakan salah satu pimpinan pondok modern Gontor.

Pagi ini para orang tua dan semua santriwati telah menempati tempat yang telah disediakan. Sementara kami santriwati kelas enam masih belum memasuki tempat acara hingga semua telah siap. Setelah MC mempersilahkan untuk masuk ke tempat acara, barulah kami semua masuk dengan berbaris satu persatu diiringi dengan musik kitaro yang syahdu, sembari MC menyebutkan nama kami satu persatu berikut daerah asalnya. Dengan memakai baju kebesaran kami yakni baju seragam khusus kelas enam lengkap dengan kalung wisuda kami menuju tempat acara khutbatul wada’. Setelah semua duduk di tempat maka acara demi acara dimulai. Seperti acara-acara yang lain, selalu ada tari persembahan di awal acara sebagai tanda penghormatan bagi para tamu yang datang. Tari persembahan kali ini adalah tari sekapur sirih yang merupakan tarian yang berasal dari daerah propinsi Jambi. Karena acara khutbatul wada’ pada pagi hari merupakan acara resepsi, maka banyak acara-acara hiburan yang merupakan penampilan dari para santriwati, seperti tari-tarian, kosidah modern yang memakai penari-penari kipas, musik kolaborasi, dan lain sebagainya.

Ada saat-saat yang membuatku terharu, yakni saat para vocal group menyanyikan lagu hymne guru dan hymne oh pondokku. Kedua lagu itu biasanya hanya dinyanyikan pada momen-momen tertentu seperti khutbatul wada’. Dengan diiringi orgen yang juga dimainkan oleh seorang satriwati, lagu-lagu yang dinyanyikan memang terasa indah terdengar. Di akhir acara resepsi khutbatul wada’ ini, juga diumumkan lima orang santriwati terbaik untuk pelajaran pondok dan lima orang santriwati untuk pelajaran umum. Meski agak sedikit kecewa, karena aku tidak termasuk disana padahal aku merasa usaha yang aku lakukan selama ini untuk menjadi seorang the best telah maksimal, tapi ibuku selalu membesarkan hatiku dengan menghargai semua proses yang telah aku lakukan selama ini.

Acara resepsi khutbatul wada’ telah usai, tinggal satu acara puncak khutbatul wada’ yang sebenarnya pada malam harinya. Akupun segera pergi ke kamar dan mulai berbenah karena besok harus meninggalkan pesantren ini untuk selama-lamanya. Suasana kamar santriwati kelas enam secara umum sangat berantakan. Semua orang mulai mengemasi barang masing-masing dan sibuk dengan kedatangan orang tua masing-masing. Kardus-kardus, ember, kasur berserakan dimana-mana karena sudah tidak ada lagi jadwal piket bagi kami. Debu-debu juga dimana-mana sehingga membuat kami tidak betah berlama-lama di kamar. Kamar hanya menjadi tempat untuk meletakkan barang-barang, sehingga sebagian besar dari kami tidak tidur di kamar melainkan tidur bersama orang tua di kamar yang memang khusus disediakan untuk para tamu.

Setelah isya’ acara khutbatul wada’ kembali dilaksanakan. Semua santriwati akhir dan para orang tua serta para ustadzah duduk di depan panggung untuk mengikuti. Acara ini berisi pidato dan wejangan-wejangan dari para pimpinan pesantren, satu persatu mereka memberikan pidatonya hingga berakhir pada larut malam. Tidak ada hiburan, yang ada hanya khutbah dan khutbah. Acara ini diakhiri dengan acara salam-salaman dengan para pimpinan pesantren, para ustadzah, dan sesama santriwati kelas enam. Dengan diiringi suara sholawat, kami mulai berbaris untuk saling bersalaman. Dimulai dengan menyalami para pimpinan pesantren, para ustadzah baru kemudian sesama kelas enam. Suasana haru sangat terasa,  terdengar suara isak tangis di sela-sela gema sholawat dari para santriwati dan juga para ustadzah yang tidak kalah kerasnya, akupun tak kuasa menahan air mata, tidak terasa enam tahun sudah aku tinggal di pesantren ini dan malam itu adalah malam terakhir bagi kami semua. Ternyata enam tahun begitu cepat berlalu hingga akhirnya mau tidak mau kami harus meninggalkan pesantren ini.

Acara malam khutbatul wada’ akhirnya benar-benar selesai pada dini hari. Tidak jarang dari teman-teman yang akhirnya begadang hingga pagi untuk sekedar bernostalgia dan mengulang kembali kenangan enam dari enam tahun yang lalu, saling mengobrol karena bisa jadi kami tidak tahu, apakah kami bisa bertemu kembali dengan teman-teman suatu saat kelak terutama teman-teman yang berasal dari luar jawa. Rasanya baru kemaren kami makan bersama, terkena jasus, ikut KMD, sibuk dalam panitia bazar, merasakan ramadhan di pesantren, bernyanyi bersama dalam pelatihan guru TPA, semuanya begitu terasa indah pada detik-detik terakhir.

Esok harinya, usai acara pelepasan khutbatul wada’ terlihat kesibukan para santriwati kelas enam yang kini sudah resmi menjadi alumni. Ada yang berbenah dan mengemasi barang-barang mereka, ada yang sibuk menyelesaikan urusan administrasi, ada yang mengantri untuk mengambil ijazah serta legalisir, dan ada juga yang menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke kota Ponorogo, Madiun dan sekitarnya bersama orang tuanya terutama bagi mereka yang berasal dari luar jawa dan akan pulang kembali ke daerah asalnya, sehingga tidak melewatkan  momen untuk jalan-jalan. Aku sendiri antri untuk mengurusi berbagai urusan administrasi yang ternyata cukup banyak dan ribet. Mulai dari membayar iuran makan bulanan dan SPP yang menunggak beberapa bulan, iuran untuk rangkaian kegiatan kelas enam, iuran untuk fandel, kalender, hingga pembayaran untuk legalisir ijazah. Aku memang hanya seorang anak petani yang tidak mempunyai banyak sawah, sehingga urusan menunggak SPP dan uang makan bulanan sudah biasa. Biasanya bapak akan datang ke pondok ketika selesai masa panen untuk membayar uang sekolahku. Kali ini aku harus benar-benar melunasi semuanya karena akan meninggalkan pesantren ini untuk selamanya.

Tidak mudah bagi bapak dan ibu untuk menyekolahkan aku di pesantren ini, karena bagi kedua orang tuaku pesantren ini memang cukup mahal. Tidak heran jika teman-temanku berasal dari kalangan menengah keatas, mereka adalah anak-anak pegawai, anak pengusaha bahkan juga anak pejabat daerah. Karenanya cukup aku yang bersekolah di pesantren ini, sementara kedua adikku bersekolah di madrasah  tsanawiyah yang tidak jauh dari rumah, sehingga urusan biaya pendidikan dapat diminimalisir.

Usai menyelesaikan berbaga urusan administrasi, akupun segera bergegas menuju tempat pengambilan ijazah berikut legalisirnya. Ternyata antrian masih cukup panjang, akupun menunggu tanpa bisa banyak bercengkrama dengan teman-teman karena mereka telah disibukkan dengan urusan masing-masing. Seletah sekian menunggu, akhirnya namaku dipanggil juga, segera aku masuk ke kantor untuk mengambil berkas ijazah dan langsung pergi menuju ke ruang tamu untuk menemui ibu yang juga telah lama menungguku.

Menjelang senja segala urusan akhirnya selesai. Saatnya aku meninggalkan pesantren tercinta. Setelah berpamitan dengan beberapa ustadzah dan teman-teman, akupun pulang ke kampung halaman dengan membawa banyak sekali barang-barang terutama kardus-kardus yang berisi buku-buku. Apalagi tidak seperti sebagaian besar teman-teman pulang dengan menggunakan mobil pribadi, aku harus bersusah payah naik kendaraan umum (bus), bahkan harus berganti bus hingga dua kali dan bersambung dengan becak atau ojek hingga sampai ke rumah. Aku tidak tahu perasaanku saat sampai di rumah, antara capek, lega, sedih,  tapi apapun itu, semuanya tetap aku syukuri karena aku bisa menyekesaikan pendidikan di pesantren selama enam tahun, meski kesulitan ekonomi mendera keluargaku. Ketekadan orang tua disertai dengan do’a mereka memang membuat aku beserta kedua adikku bisa menyelesaikan pendidikan meski dengan segala keterbatasan dan keprihatinan.

 

 

 

 

 

 

1 komentar Desember 16, 2010

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.