PENDEKATAN ANTROPOLOGIS DALAM PENELITIAN AGAMA (ISLAM) “Sebuah Upaya Peneguhan Relevansi”

Desember 31, 2010 zunlynadia

Oleh: Syafi’, Yahya, dan Zunly Nadia

A. Belajar dari Jagapura: Sebuah Pengantar[1]

Awal tahun 2009 silam, salah satu penulis sedikit termangu saat mendapatkan tugas untuk membaca al-Qur’an secara estafet di (sekitar) tempat peristirahatan kakek penulis, yang baru saja meninggal dunia. Saat itu penulis mendapatkan putaran waktu keempat, yakni sekitar pukul 22:00 hingga 06:00 WIB. Kegiatan tersebut berlangsung hingga pukul 06:30 WIB pada hari ketujuh, yakni pada saat tim muqaddaman tiba untuk khataman al-Qur’an berikut pembacaan tahlil-nya. Ketermanguan tersebut bukan karena penulis tidak ingin memenjalankannya, melainkan karena munculnya ragam pertanyaan dalam alam pikir penulis, yang mungkin pada saat itu cenderung “liar”.

Pada mulanya, penulis mengira bahwa kegiatan tersebut hanya inisiatif dari bibi penulis, yang notabene cinta dengan al-Qur’an. Beberapa hari sepeninggal kakek penulis, sekelompok orang lain juga terlihat sedang melakukan hal yang sama. Di lain waktu, saat penulis sedang menikmati liburan di kampung halaman, perihal yang sama juga nampak di beberapa makam. Bahkan, suatu hari penulis diminta untuk melakukannya di makam seseorang yang sama sekali tidak penulis kenal dengan tawaran honor bersih Rp. 300.000. Akan tetapi, penulis menolaknya karena dua hari setelahnya harus kembali ke Yogyakarta.

Sesampainya di kota pelajar, penulis mulai sadar bahwa ada tradisi baru yang hidup di masyarakat penulis, yang sekitar 11 tahun sebelumnya tidak pernah penulis jumpai. Saat itu juga penulis melakukan wawancara via Short Massage Sent (SMS) dengan salah satu saudara penulis, yang kebetulan “berprofesi” sebagai pembaca al-Qur’an dalam kegiatan seperti di atas. Dalam diskusi tersebut, penulis bersamanya membincangkan persoalan apakah ritual tersebut dilakukan dalam rangka menahan kedatangan Malaikat Munkar-Mangkir, untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan alam kubur, atau ada persoalan lain yang mendasarinya? Pada saat yang bersamaan, dalam paradigma mereka yang skriptualis tidak ada seruan untuk melakukan hal tersebut. Menurutnya, dengan tegas mengatakan bahwa kegiatan tersebut hanya bersifat ta’abbudi. Namun demikian—dalam pembacaan pendek penulis—ekspresi keberagamaan tersebut tidaklah lahir secara instan. Artinya, ada proses interpretasi panjang terhadap ajaran agama masyarakat setempat yang kemudian terakumulasi menjadi sebuah tradisi. Untuk memahami ritual tersebut, pendekatan etnografis yang bersifat holistik-integratif—yakni model pendekatan yang bertujuan untuk mendapatkan data atas dasar native’s point of view—dan dengan acuan model pendekatan emik—pendekatan yang memandang fenomena sosial budaya atas dasar sudut pandang masyarakat yang menjadi objek kajian,[2] yakni masyarakat Jagapura—barangkali sebagai alternatif pendekatan, di samping juga berbagai pendekatan lain.

Pengalaman sekilas di atas mengindikasikan bahwa studi al-Qur’an maupun hadis dalam bentuk living adalah sebuah keniscayaan yang mesti dirambah oleh para pegiatnya, tanpa meninggalkan juga kajian-kajian yang bersifat teoritis-normatif. Pada saat yang bersamaan, kajian living Qur’an dan living hadis tidak akan mendapatkan hasil maksimal—untuk tidak mengatakan tidak mungkin bisa—jika tidak memanfaatkan pendekatan ilmu-ilmu sosial, termasuk antropologi. Karena demikian, dalam catatan ini penulis bermaksud meneguhkan tentang relevansi pendekatan antropologis dalam penelitian agama. Judul kecil di atas dengan sengaja dibuat karena titik tolak penulis adalah asumsi penerimaan para pembaca atas relevannya pendekatan antropologis dalam penelitian agama. Dalam catatan ini, penulis akan mengawalinya dengan kilasan tentang antropologi, sebagai disiplin ilmu, sebagai sebuah pengantar. Ulasan mengenai relasi agama dan budaya juga akan turut diulas sebagai peneguhan akan relevannya pendekatan antropologis dalam penelitian agama. Sedangkan contoh aplikatifnya penulis deskripsikan secara singkat pada studi al-Qur’an dan hadis melihat pembacanya adalah para pegiat kajian tersebut. Selanjutnya, catatan ini akan ditutup dengan simpulan dan saran untuk para pegiat Qur’anic and prophetic tradition studies dalam memperjelas arah kajian di era kekinian yang lebih kompetitif lagi acap kali berorientasi profit.

B. Antropologi: Ma Huwa, Li Ajli Ma, wa Ma Fih?

Sebelum mendeskripsikan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan antropologi kaitannya dengan penelitian agama, sejarah ringkas tentang antropologi merupakan perihal penting untuk disampaikan dalam catatan ini. Hal ini dilakukan mengingat fakta para pembaca yang beragam dan juga dalam rangka memposisikan maksud antropologi dalam catatan ini. Sehingga, kontroversi terkait dengan antropologi itu sendiri dapat dihindari.

Beberapa kalangan menyebutkan bahwa antropologi[3] muncul pada pertengahan abad XIX, tepatnya sekitat tahun 1860, di mana pada saat itu beberapa karangan yang mengklasifikasikan bahan-bahan mengenai berbagai kebudayaan di dunia dalam berbagai tingkat evolusi. Dalam pada itu, Koentjaraningrat, the father of anthropology di Indonesia, memetakan perkembangan antropologi, yang dalam hemat penulis sangat mudah dipahami, menjadi empat fase, yaitu:[4]

  1. Sebelum era 1800-an. Fase ini dimulai dengan singgahnya bangsa Eropa di benua Afrika, Asia, dan Amerika sekitar awal abad XVI. Dalam persinggahan tersebut, banyak catatan yang dibuat oleh mereka tentang segala aspek yang berkaitan dengan penduduk setempat, baik berupa adat-istiadat, aneka ragam suku, bentuk fisik, dan lain sebagainya. Berbagai catatan tersebut tersusun secara kabur, tidak teliti, atomistik, dan tidak rapi. Namun demikian, hampir semua catatan tersebut berkelindan pada aspek etnografi. Di kemudian hari, catatan-catatan tersebut diupayakan untuk diintegrasikan dengan penyusunan yang rapi.
  2. Pertengahan abad XIX. Fase ini dimulai dengan tersusunnya upaya integrasi catatan-catatan pada fase pertama, di mana susunan tersebut didasarkan pada cara berfikir evolusionis. David N. Gellner mengatakan bahwa para antropolog abad ini berfikir bahwa seluruh masyarakat manusia tertata dalam keteraturan, seolah sebagai eskalator historis raksasa, di mana mereka sendiri berada pada posisi puncak, sedangkan masyarakat Eropa dan lainnya yang kurang berkembang berada di tengah. Sementara masyarakat primitif berada di posisi yang paling bawah.[5] Pada fase ini juga muncul karya-karya hasil penelitian yang mengupas persoalan sejarah penyebaran kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa yang juga masih dianggap sebagai sisa-sisa kebudayaan manusia kuno.
  3. Awal Abad XX. Dalam fase ini antropologi lebih banyak mengamati kebudayaan bangsa di luar Eropa. Hal tersebut terjadi mengingat kolonialisme bangsa Eropa atas non-Eropa semakin memantapkan posisinya. Kondisi demikian menjadikan antropologi sebagai ilmu praktis yang digunakan untuk kepentingan pemerintah kolonial dalam memahami Negara jajahannya.
  4. Pasca-tahun 1930-an. Sasaran penelitian para antropolog pada era ini beralih ke wilayah penduduk pedesaan, baik secara fisik, masyarakat, maupun kebudayaannya. Pedesaan di sini bersifat umum dalam arti tidak hanya di luar Eropa dan Amerika, di dalam dua benua itu pun juga menjadi bagian dari objek kajianannya.

Bertolak dari empat fase perkembangan tersebut, pada era saat ini corak antropologi di masing-masing wilayah nampak berbeda.[6] Pun juga demikian di Indonesia, dasar-dasar antropologinya hingga sekarang belum ditentukan. Kondisi demikian, menurut Koentjaraningrat justru memberikan ruang kebebasan tersendiri, di mana antropolog dapat memilih ragam corak di atas, dan bahkan mengkombinasikannya sekalipun.[7] Berkaitan dengan itu, penulis memposisikan diri pada antropologi model Meksiko dan India, di mana antropologi didefinisikan sebagai ilmu praktis tentang kemanusiaan yang bersama sosiologi digunakan untuk mengumpulkan data tentang kebudayaan-kebudayaan daerah untuk menemukan dasar-dasar bagi suatu kebudayaan nasional dengan kepribadian yang khas serta dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial-budaya dan merencanakan pembangunan nasional.

Secara garis besar antropologi dapat dipetakan menjadi dua macam, antropologi fisik dan budaya. Antropologi fisik atau biologi merupakan antropologi yang mengkaji manusia sebagai mahkluk biologi. Ia mempelajari manusia dari sudut jasmaniah, dalam arti yang seluas-luasnya. Hal yang diselidiki ialah asal-usul manusia, perkembangan evolusi organik, struktur tubuh dan kelompok manusia yang kita sebut ras.[8] Selain itu, antropologi jenis ini juga mempelajari pengaruh lingkungan terhadap struktur tubuh manusia. Dalam hal ini, lingkungan alam dianggap sangat mempengaruhi ekologi manusia. Sementara itu, antropologi budaya dapat didefinisakan dengan ilmu yang mempelajari kebudayaan pada umumnya dan kebudayaan-kebudayaan dalam berbagai bangsa di seluruh dunia. Ilmu ini menyelidiki bagaimana manusia mampu berkebudayaan dan mengembangkan kebudayaanya sepanjang zaman; bagaimana manusia dengan akal dan struktur fisiknya yang unik mampu menciptakan lingkungannya yang tidak diciptakan secara naluriah; dan mengapa suatu bangsa itu cara hidupnya, adat-istiadatnya, sistem kepercayaannya, sistem ekonomi dan hukumnya, keseniannya, sistem moral dan keindahannya, yang dimungkinkan—untuk tidak mengatakan pasti—berbeda antara satu bangsa dengan yang lainnya.[9] Sehingga, cara kerja antropologi budaya adalah mengamati, memahami, dan mendeskripsikan kebudayaan yang terdapat di dalam komunitas manusia. Dari penelitian secara komparatif tentang kebudayaan itu, akhirnya diperoleh sebuah konsepsi tentang kebudayaan manusia pada umumnya, yang merupakan pengertian yang sistematis dan kemudian dapat di gunakan sebagai alat menganalisa masalah kehidupan sosial-kebudayaan manusia.

Selanjutnya, dapatkah agama (Islam) dikaji dengan pendekaatan antropologis, pada saat yang bersamaan ia merupakan produk Tuhan? Sejauh mana relevansi pendekatan antropologis dalam kajian keagamaan? dan bagaimana kerja-kerja oprasionalnya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan diulas dalam dua sub bab selanjutnya sebelum ditutup dengan kesimpulan dan saran-saran.

C. Membincang Agama dalam Studi Kemanusiaan: Sebuah Keniscayaan

Fenomena agama merupakan fenomena kemanusiaan yang bersifat universal.[10] Meskipun pada tataran sosial acap kali mengalami disorientasi, bukan berarti eksistensi agama dalam masyarakat mengasap tanpa jejak. Universalitas tersebut menunjukkan bahwa kajian tentang manusia atau masyarakat tidak akan lengkap tanpa melihat agama sebagai salah satu elemen. Karena itu, kajian tentang persoalan-persoalan sosial dalam suatu masyarakat yang menafikan aspek agama, sebagai salah satu faktor determinan, tidak akan dapat menggambarkannya secara radikal dan komprehensif.

Sebagai sebuah agama, Islam diyakini berasal dari wahyu yang kemudian diadaptasi dengan kondisi real dalam suatu masyarakat. Adaptasi tersebut nampak sangat jelas dalam praktik ritual keagamaan. Ia merupakan ajaran agama yang disampaikan melalui kitab suci al-Qur’an, yang dalam dataran praktis setiap masyarakat mengaplikasikan ajarannya secara berbeda. Persoalan zakat misalnya, al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci bagaimana perintah tersebut diaplikasikan. Di era Nabi dan beberapa generasi setelahnya hanya mewajibkan pada aspek pertanian, perdagangan, dan perhiasan, itu pun hanya jenis-jenis tertentu.[11] Berbeda di era sekarang, pada sektor profesi juga merupakan bagian dari harta yang wajib dizakati.[12] Bahkan, dengan melihat transformasi perdaban manusia, konsep zakat klasik, yang lebih membebankan sektor pertanian daripada yang lain, di era sekarang, oleh beberapa kalangan dianggap sudah saatnya harus direkonstruksi.

Perubahan-perubahan demikian mengindikasikan bahwa agama adalah suatu fenomena abadi di satu sisi, dan di sisi yang lain juga memberikan gambaran bahwa keberadaan agama tidak bisa lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya. Keterkaitan tersebut dimungkinkan terjadi karena agama tidak berada dalam realitas yang hampa. Pemahaman demikian sejalan dengan apa yang telah dinyatakan oleh Atho’ Mudzar tentang bagian Islam yang merupakan produk sejarah.

“Orang dapat berkata, andaikata Islam tidak berhenti di Viena mungkin sejarah Islam di Eropa akan lain. Andaikata Islam terus di Spanyol, sejarahnya lain lagi. Andaikata Islam tidak bergumul dengan budaya Jawa, sejarahnya di Indonesia akan berubah pula. Andaikata Inggris tidak dating ke India, sejarah Islam di anak benua itu akan lain lagi. Demikianlah sebagian wajah Islam di berbagai belahan dunia adalah produk sejarah. Paham muktazilah, kembali kepada pemikiran, sebetulnya juga produk sejarah…. Demikian juga filsafat Islam, kalam, fikih, ushul fikih, juga produk sejarah. Tasawwuf dan akhlak, sebagai ilmu adalah produk sejarah. Akhlak sebagai nilai bersumber dari wahyu, tetapi sebagai ilmu yang disistematisir akhlak adalah produk sejarah.”[13]

Sehingga, bisa dikatakan bahwa mengingkari keterpautan tersebut berarti mengingkari realitas agama sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang berada dalam lingkaran budayanya.

Realitas faktual di atas juga mengandung arti bahwa dinamika agama dalam sebuah masyarakat, baik secara doktrinal maupun praktiknya, mengindikasikan adanya campur tangan manusia dalam konstruksinya. Namun demikian, pernyataan ini tidak serta merta berarti bahwa agama merupakan kreasi murni manusia, melainkan dialektika antara kreasi Tuhan, yang tercermin dalam kitab suci, dan konstruksi manusia berupa interpretasi dari nilai-nilai universal agama yang direpresentasikan pada dataran praktis. Interpretasi yang dilakukan tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang melingkar di sekelilingnya. Dengan melihat kenyataan di atas, pernyataan bahwa agama, pada bagian tertentu, merupakan aspek kebudayaan manusia dapat dibenarkan.[14]

Sebagai sesuatu yang inheren dalam kebudayaan manusia tersebut menjadikan realitas keagamaan seseorang (masyarakan) semakin kompleks. Kompleksitas tersebut sebenarnya menandai adanya kompleksitas dalam kehidupan sosial dan budaya, dan bukan agama in it self. Karenanya, kajian terhadap agama pun tidak bisa tidak juga menjadi semakin kompleks, di mana kompleksitas ini sebenarnya menuntut adanya perkembangan dalam studi agama,[15] dan sebagai salah satu kebutuhan yang mendesak dalam menghadapi kompleksitas ini adalah dibutuhkannya berbagai pendekatan, termasuk di dalamnya adalah pendekatan antropologi.

Sebagai sebuah disiplin ilmu, yang secara sederhana dapat didefinisikan dengan studi tentang manusia (masyarakat) dalam segala perbedaan perilaku, termasuk dirinya sebagai kreator dan produk budaya, [16] antropologi menjadi pendekatan yang sangat signifikan untuk memahami agama (Islam). Dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama (Islam) dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya.[17] Hal ini tidak hanya karena pertemuan keduanya yang telah memunculkan terjadinya perbedaan dalam penafsiran dan praktik keagamaan,[18] tetapi juga karena pergumulannya yang tentu saja akan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan yang dapat terlihat dari berbagai aspek; baik sosial, ekonomi, maupun politik. Dari sini kemudian pendekatan antropologi dapat menjelaskan mengapa interpretasi terhadap ajaran agama berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya.[19]

Dengan demikian, maka sudah barang tentu jika agama yang dipelajari adalah agama sebagai fenomena budaya, bukan ajaran agama sebagai produk Tuhan. Antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap perangkatnya, seperti kepercayaan, ritual, dan kepercayaan kepada yang sakral.[20] Wilayah kajian antropologi kaitannya dengan agama hanya terbatas pada kajian terhadap fenomena yang muncul. Dalam konteks keindonesiaan, menurut Atho Mudzhar, ada lima fenomena agama (Islam) yang dapat dikaji, yaitu:[21]

  1. Scripture atau naskah atau sumber ajaran dan simbol agama;
  2. Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya;
  3. Ritus, lembaga dan ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan, dan waris;
  4. Alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng, peci, dan semacamnya;
  5. Organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja Protestan, Syiah, dan lain-lain.

Kelima obyek di atas dapat dikaji dengan pendekatan antropologi, melihat kelima obyek tersebut memiliki unsur budaya dari hasil pikiran dan kreasi manusia. Namun demikian, peneliti juga harus melihat bagaimana kaitan antara agama dan praktik pertanian, kekeluargaan, politik, magi, dan pengobatan secara bersama-sama. Dengan kata lain, agama tidak bisa diposisikan sebagai sistem otonom yang tidak terpengaruh oleh unsur-unsur sosial lainnya. Inilah ciri dari antropologi modern, yaitu holisme, yakni pandangan bahwa praktik-praktik sosial harus diteliti dalam konteks dan secara esensial dilihat sebagai praktik yang berkaitan dengan yang lain dalammasyarakat yang sedang diteliti.[22] Memang, beberapa tahun terakhir para penganut dekonstruksi posmodernisme beramai-ramai melakukan serangan terhadap metode tersebut, tetapi bukan berarti akurasi metode tersebut diragukan. Di samping karena sebagaian antropolog tetap mempertahankannya sebagai keputusan metodologis, menurut penulis konstruksi keagamaan masyarakat juga rentan dipengaruhi oleh beberapa faktor di atas.

Kajian tentang agama (Islam) dan budaya di Indonesia tentunya dapat mengembangkan konsep-konsep di atas. Sebab bukan saja Islam di Indonesia menawarkan suatu kekayaan realitas keagamaan, tetapi lebih dari itu, Islam di Indonesia dapat dijadikan model dalam menghadapi dua hal; Pertama, model untuk menjembatani antara budaya lokal dan Islam, mengingat Indonesia terdiri dari beberapa etnis budaya. Perbedaan-perbedaan manifestasi Islam di setiap wilayah akan memberikan model bagi penjelajahan teori. Kedua, Islam lokal di Indonesia mungkin bisa dijadikan model untuk melihat hubungan antara Islam dan dunia modern. Situasi pluralitas budaya Indonesia yang Islam dapat dijadikan suatu model bagaimana negara Islam menerima ide-ide global.

  1. D. Memahami al-Qur’an dan Hadis dengan Pendekatan Antropologi

Kajian antropologi adalah kajian yang terpusat pada manusia. Selama ini pendekatan antropologi dalam mengkaji agama kerap digunakan dalam mengkaji praktik-praktik keagamaan dalam masyarakat secara empiris, seperti yang dilakukan oleh Clifford Geertz dalam mengkaji secara etnografis masyarakat Jawa, sehingga memunculkan istilah santri, abangan, dan priyayi,[23] Andrew Beatty yang mengkaji agama melalui praktek slametan,[24] dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana pendekatan antropologi jika diaplikasikan dalam studi al-Qur’an dan hadis yang notabene merupakan teks agama (sacred text)?

Al-Qur’an sebagai sebuah teks sakral yang dipercaya sebagai wahyu Tuhan bagi umat muslim dan Hadis sebagai ucapan dan prilaku Muhammad yang dipercaya sebagai Nabi yang menyampaikan wahyu Tuhan bukanlah teks-teks yang lahir dari ruang hampa. Ada kondisi dan situasi yang melingkupi teks-teks tersebut dalam rangka sebuah “dialog” dengan manusia yang menjadi sasaran dari teks tersebut. Dari sini kemudian memahami teks al-Qur’an dan hadis juga meniscayakan akan adanya pemahaman realitas manusia. Sehingga dalam konteks ini pendekatan antropologi menemukan relevansi dan signifikansinya dalam studi al-Qur’an dan hadis.

Pentingnya mempelajari realitas manusia ini juga terlihat dari pesan Al-Qur’an ketika membicarakan konsep-konsep keagamaan. Al-Qur’an seringkali menggunakan “orang” untuk menjelaskan konsep kesalehan. Untuk menjelaskan tentang konsep takwa, misalnya, al-Qur’an menunjuk pada konsep “muttaqien“. Pun juga demikian untuk menjelaskan konsep sabar, misalnya, al-Qur’an menggunakan kata “shabirin”. Merujuk pada pesan al-Qur’an yang demikian itu, sesungguhnya konsep-konsep keagamaan itu termanifestasikan dalam perilaku manusia.[25] Dengan demikian, maka melihat realitas manusia yang ada dalam konteks, di mana al-Qur’an dan hadis disampaikan dengan realitas manusia saat ini, diharapkan akan terlihat pesan  universal agama yang senantiasa kontekstual dalam berbagai ruang dan waktu (salih li kull zaman wa makan).

Sementara dalam memahami hadis, perangkat-perangkat keilmuan yang ada selama ini juga menuntut adanya perkembangan lebih lanjut. Karena, perkembangan manusia yang sedemikian cepat membuat ulum al-hadis sudah tidak lagi memadai dalam menyelesaikan persoalan umat saat ini. Ketika menemukan hadis-hadis yang saling bertentangan, misalnya, para ulama hadis kerap menempuh metode tarjih, nasikh-mansukh, al-jam’u, dan/atau tawaqquf. Sikap tawaqquf ini sebenarnya masih bisa diberikan solusi dengan cara memberikan takwil terhadap hadis tersebut.[26] Di samping itu, melalui pendekatan modern—baik antropologi, sosiologi, maupun psikologi—para ulama tidak hanya akan mendapatkan pemahaman yang kontekstual, tetapi juga akan bisa membedakan secara jelas; mana hadis yang mutlak dan terbebas dari ruang waktu, yakni hadis yang berkaitan dengan akidah dan ibadah, serta mana hadis yang bersifat nisbi, yang terikat oleh ruang dan waktu, yakni hadis yang menyangkut bidang mua’malah, pergaulan hidup, adat-istiadat, yang lebih mencerminkan suatu tradisi atau sunnah yang hidup dalam suatu fase penggal sejarah tertentu.

Selain itu, pendekatan antropologi juga sangat penting dalam meneliti periwayat hadis. Melihat kondisi mikro dan makro seorang periwayat hadis melalui analisa antropologi juga akan sangat membantu dalam menganalisa bagaimana dan mengapa teks-teks hadis tersebut “muncul”  apalagi jika hadis-hadis tersebut tidak mempunyai asbabul wurud yang jelas. Hadis tentang larangan wanita pergi sendirian yang berbunyi; “Tidak diperbolehkan seorang perempuan bepergian jauh-jauh kecuali ada seorang mahram bersamanya (HR. Bukhari dan Muslim), misalnya, kerap dipahami oleh para ulama sebagai larangan bagi perempuan untuk bepergian yang bersifat sunnah atau mubah, tanpa disertai mahram. Sedangkan untuk bepergian yang bersifat wajib, seperti menunaikan ibadah haji mayoritas ulama hadits menyatakan bahwa wajib hukumnya bagi perempuan disertai mahram atau suaminya. Hadis ini muncul tanpa adanya asbabul wurud secara khusus. Sehingga, memahami hadis ini seharusnya juga melihat lebih jauh konteks sosio kultur Arab pada masa itu.

Kondisi geografis bangsa Arab memang tidak terlalu “bersahabat”, sebagian besar wilayahnya adalah padang pasir dan hanya ada beberapa daerah yang cukup air dan subur. Selain itu posisi bangsa Arab juga jauh dari pusat-pusat kerajaan besar yang pada saat itu kerajaan yang berkuasa adalah kerajaan Romawi Bizantium di wilayah bagian timur dan kerajaan Persia di wilayah bagian barat, karena memang kondisi alamnya yang cukup sulit untuk dijangkau.

Kondisi bangsa arab yang sedemikian ini tentunya juga cukup bepengaruh terhadap kondisi masyarakatnya yang notabene seolah berada dalam suasana perang, baik perang menghadapi ganasnya alam, perang memperebutkan sumber air sebagai sumber kehidupan, perang antar suku/kabilah karena memang kelangsungan hidup mereka sangat tergantung pada alam. Hal inilah yang kemudian menyebabkan pembagian peran dalam masyarakat juga sangat tergantung pada kondisi geografis. Laki-laki yang menjalankan peran publik mulai dari mencari nafkah dan mempertahankan keutuhan kabilah, sedangkan perempuan menjalankan peran domestik, seperti mengasuh anak dan mengatur urusan rumah tangga. Selain itu, situasi perang antar suku, di samping melahirkan struktur dan stratifikasi sosial dengan gejala seperti munculnya konsep bangsawan, budak, harem dan Mawali, juga turut mempengaruhinya.

Dari sini, maka bisa dilihat bahwa posisi perempuan memang tidak pernah diperhitungkan pada masa itu. Perempuan adalah salah satu kelompok dalam masyarakat yang hampir tidak pernah menikmati kebebasan hingga kemudian kedatangan Islam di tanah arab yang membawa misi pembebasan.[27] Meskipun kemunculan Muhammad sebagai sang pembawa kebebasan ini membawa perubahan dan angin segar bagi bangsa Arab, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kontinuitas budaya pra-Islam ke dalam Islam masih terjadi dalam berbagai bidang termasuk yang masih terlihat adalah pada struktur keluarga dan ideology patriarkhi.[28] Sebagaimana masyarakat patriarkhi lainnya, perempuan tidak pernah dicantumkan sebagai nama marga (nasab), betapapun hebatnya perempuan itu. Tinggi rendahnya status sosial ditentukan dari pihak bapak (baca: laki-laki). Jika seorang putri bangsawan menikah dengan laki-laki biasa maka status sosial anak-anaknya akan mengikuti bapaknya. Sementara dalam struktur keluarga, peran dominan laki-laki ada dalam berbagai bidang. Laki-laki sebagai kepala rumah tangga mempunyai hak utama seperti menjadi wali yang “berhak” menentukan jodoh anaknya, mempunyai hak poligami, jika terbunuh nilai tebusannya lebih besar, dan lain sebagainya. Hal-hal yang demikian tentu mempunyai pengaruh besar dalam ajaran-ajaran agama yang dibawa Nabi Saw.

Hadis tentang larangan bepergian sendirian bagi seorang perempuan tentu mempunyai relevansinya pada masa itu, jika dilihat dari kondisi geografis hingga sosio kultur bangsa Arab. Dalam kondisi gurun pasir, tidak ada otoritas atau kekuasaan polisi, yang ada adalah keamanan yang dijamin oleh kelompok atau kabilah masing-masing, apalagi kendaraan yang ada pada masa itu adalah onta, keledai, dan juga kuda. Jadi, bisa dibayangkan jika kemudian seorang perempuan pergi sendirian mengarungi lautan pasir dengan mengendarai seekor keledai, tentu saja keamanan dan keselamatannya sangat dikhawatirkan. Apalagi nilai yang berlaku pada masa itu adalah tabu jika seorang perempuan pergi sendirian, sehingga akan mencemarkan citranya jika dia bepergian sendirian.

Kondisi demikian tentu sangat berbeda dengan perempuan pada saat ini, di mana perempuan tidak lagi bermasalah dengan persoalan keamanan dan keselamatannya karena adanya sistem keamanan yang telah menjamin keselamatan bagi perempuan. Sehingga, sah-sah saja jika perempuan pergi sendiri untuk berbagai macam tujuan termasuk dalam menuntut ilmu, bekerja, dan lain sebagainya. Dengan demikian mahram tidak lagi dipahami sebagai person tetapi juga dipahami sebagai sistem keamanan yang menjamin keselamatan bagi kaum perempuan.

Ini merupakan contoh sederhana dari sebuah pendekatan antropologi dalam memahami hadis, yang tentu saja juga tidak dapat dilepaskan dari pendekatan lain, yakni pendekatan historis dan pendekatan sosiologi. Pendekatan antropologi dalam hal ini adalah memperhatikan pola-pola perilaku pada tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan manusia.[29] Di sini, antropologi ingin membuat uraian yang meyakinkan tentang apa yang sesungguhnya terjadi dengan manusia dalam berbagai situasi. Sedangkan pendekatan historis menekankan pada alasan mengapa Nabi Saw bersabda dilihat dari konteks sosio-kultur bahkan politik masyarakat masa itu. Sementara pendekatan sosiologi lebih menyoroti pada posisi manusia yang membawanya kepada suatu prilaku.[30] Dengan memahami teks-teks bagi al-Qur’an maupun hadis melalui berbagai pendekatan, diharapkan muncul sebuah pemahaman baru yang lebih apresiatif terhadap perkembangan zaman tanpa harus kehilangan semangat dan nilai yang terkandung dalam teks-teks tersebut.

  1. E. Penutup

Simpulan yang dapat diambil dari uraian di atas adalah bahwa meskipun agama sebuah entitas yang bukan semata-mata produk manusia, namun bukan berarti tidak bisa didekati dengan antropologi. Sebaliknya, penggunaan pendekatan tersebut sangat relevan guna melihat sejauh mana kandungan nilai, ragam aplikasi, dan perihal lain yang berkelindan dalam unsur-unsur keagamaan itu sendiri. Bahkan, pembacaan sebuah kebudayaan suatu masyarakat tidak akan radikal-komprehensif tanpa melihat sistem agama (keyakinan) yang ada di dalamnya, karena prilaku seseorang dan/atau masyarakat kerap dipengaruhi oleh konstruksi paham keagamaannya. Terlebih jika melihat agama di Indonesia yang secara mayoritas adalah sinkretis, sudah barang tentu pendekatan antropologi adalah sebuah keniscayaan, di samping juga membutuhkan pendekatan-pendekatan lain, seperti sosiologis, historis, psikologis, feminis, dan lain sebagainya.

Wa Allah A’lam bi al-Shawab

BAHAN BACAAN

Abdullah, Amin (dkk.). Metode Penelitian Agama. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2006.

Abdullah, Taufik dan M. Rusli Karim. Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991.

Abdurrahman, Dudung. Sosial-Humaniora dan Sains dalam Studi Keislaman. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2006.

Beatty, Andrew. Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account. United Kingdong: Cambridge University Press, 1999.

Connolly, Peter (ed.). Aneka Pendekatan dalam Studi Agama. Terj. Imam Khoiri. Yogyakarta: LKiS, 2002.

Geertz, Clifford. Islam Observed: Religious Development in Morocco and Indonesia. USA: The University of Chicago Press, 1971.

____________. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.

____________. Abangan Santri Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Terj. Aswab Mahasin dan Bur Rasuanto. Jakarta: Pustaka Jaya, 1982.

Harsoyo. Pengantar Antropologi. Ttt: Bina Cipta, tt.

Honko, Iauri (ed.). Science of Religion: Studies and Methodology. Ttt: Mouton Publishers, 1979.

Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2005.

_____________. Pengantar Antropologi: Pokok-pokok Etnografi. Jakarta: Rineka Cipta, 2005.

Saefudin, Ahmad Fedyani. Antropologi Kontemporer. Jakarta: prenada Media Grup, 2006.

Morris, Brian. Anthropological Studies of Religion: An Introductory Text. Cambridge: Cambridge University Press, 1987.

Mudzar, M. Atho’. Pendekatan Studi Islam: dalam Teori dan Praktik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.

Munawwar, Said Agil Husein al-. “Metode Pemahaman Hadis; Pendekatan Historis, Sosiologis dan Antropologis”, dalam Jurnal Metafora. Jakarta: HMJ TH Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah , 1998.

Olson, Carl (ed.). Theory and Method in the Study of Religion: A Selection of Critical Readings. Ontario: Nelson Thomson Learning, 2003.

Sujono, Pendekatan Studi Agama dalam Kajian Islam, dalam http://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/03/22/antropologi-agama/. Diakses pada tanggal 23 Desember 2010.

Tibi, Bassam. Islam Kebudayaan dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999.

Umar, Nasaruddin. Argumen Kesetaraan Gender Perspektif  al-Qur’an. Jakarta: Paramadina, 1999.

Zahwu, Abu. Al-Hadis wa al-Muhadditsun. Mesir: Syirkah Mishriyyah, tt.


[1]Jagapura merupakan nama dari sebuah kampung pelosok yang secara teritorial berada di perbatasan Cirebon-Indramayu bagian tengah (2 KM. arah selatan dari pangkalan migas Mundu, Indramayu). Secara administratif ia termasuk dalam wilayah kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Saat ini, kampung Jagapura dibagi menjadi empat wilayah; Jagapura Kidul, Jagapura Lor, Jagapura Wetan, dan Jagapura Kulon. Umumnya, keislaman masyarakat Jagapura beraliran sunni yang bertradisikan Nahdlatul Ulama konservatif. Mata pencahariaan utama masyarakatnya adalah sektor pertanian. Kedekatannya dengan Ibu Kota Jakarta sedikit banyak mempengaruhi transformasi perekonomian masyarakat Jagapura secara perlahan ke sektor perdagangan dan buruh, meski belum sampai menandingi sektor pertanian.

[2]Baca, James P. Spradley, Metode Etnografi (Yogyakarta: Tiara wacana, 1997), hlm. 35-76.

[3]Term antropologi merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa Yunani yang berupa; antrhos (manusia) dan logos (ilmu). Sehingga, secara harfiah ia dapat dimaknai dengan ilmu tentang manusia.

[4]Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 2-4.

[5]David N. Gellner, “Pendekatan Antropologis”, dalam Peter Connolly (ed.), Aneka Pendekatan dalam Studi Agama, terj. Imam Khoiri (Yogyakarta: LKiS, 2002), hlm. 15-16.

[6]Telusuri perbedaan corak tersebut dalam  Koentjaraningrat, op. Cit., hlm. 5-6.

[7]Ibid., hlm. 6-7.

[8]Yang termasuk dalam kategori ini adalah; Palaenontologi, yaitu ilmu yang mempelajari deskripsi dari varitas manusia yang telah tidak ada lagi dan makhluk lain yang masih erat hubungannya denga manusia; Evolusi manusia, yaitu ilmu yang mempelajari proses perkembangan dari tipe-tipe manusia duimulai dari makluk-makluk bukan manusia; Antropometri, yaitu studi tentang teknik pengukuran tubuh manusia; Somatologi, yaitu studi tentang varietas manuisa yang masih hidup dan tentangperbedaan sex dan variasi perseorangan; Antropologi rasial, ilmu yang mempelajari penggolongan manusia dalam kelompok-klompok ras, sejarah ras manusia dan hal-hal tentang percampuran ras, dan lain sebagainya. Harsoyo, Pengantar Antropologi (Ttt: Bina Cipta, tt), hlm.15-16.

[9]Yang termasuk dalam kategori ini adalah; Arkeologi Prasejarah, adalah ilmu yang mempelajari perkembangan kebudayaan manusia di masa lampau ketika belum dapat bahan-bahan tertulis. Cara kerja penelitian antropologi ini tidak berdasarkan pada bahan-bahan tertulis, maka penelitiannya menggunakn bahan-bahan peninggalan materiil yang berupa artefak atau fosil-fosil; Antropologi Linguistik; antropologi linguistik ini digunaklan sebagai penelitian terhadap timbulnya bahasa dan bagaimana terjadinya variasi dalam bahasa-bahasa selama jangka waktu selama berabad-abad. Selain itu, juga merupakan bagian dari kajian mengenai bahasa, akan tetapi khususnya yang terkait dengan keaneka ragamannya. Wilayah kajian ini lebih kecil dibandingkan dengan kajian linguistik secara umum, karena antropologi linguistik memang hanya memfokuskan diri pada kaitannya dengan antropologi, bukan pada semua bahasa; Etnologi, adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia dengan mengadakan pendekatan perbandingan dari kebudayaan-kebudayaan secara individual yang terdapat di muka bumi ini. Etnologi meneliti secara teoritis masalah-masalah persamaan dan perbedaan yang ada antara kebudayaan-kebudayaan setelah diadakan perbandingan; Kebudayaan dan Kepribadian, cabang antropologi ini bertujuan untuk mencari penjelasan terhadap kebutuhan, keinginna, perangsang dan implus-implus serta tingkah laku yang beraneka ragam yang dijalankan orang untuk mencapai kepuasan sosial kultural dan sosial-psikologis. Masalah-masalah yang yang dikemukakan oleh antropologi ini adalah sejahuh mana individu dapat melepaskan diri atau keluar dari batas-batas tradisi dan kebiasaan kebudayaannya dan dengan jalan apakah masyarakat itu membentuk kepribadian anggota-anggotanya. Harsoyo, Pengantar Antropologi…, hlm. 19-23, lihat pula, Yayasan Obor Indonesia, Pokok-pokok Antropologi Budaya, terj. Yasan Obor Indonesia, (Jakarta: Yasan Obor Indonesia, 1996), hlm.10, dan Ahmad Fedyani Saefudin, Antropologi Kontemporer (Jakarta: prenada Media Grup, 2006), hlm. 21

[10]Max Muller, sebagaimana dikutip Brian Morris, mengakui bahwa suatu keyakinan terhadap Tuhan merupakan hal yang universal di kalangan manusia dan bersamaan dengan bahasa ia membentuk dasar identitas etnik. Brian Morris, Anthropological Studies of Religion: An Introductory Text (Cambridge: Cambridge University Press, 1987), hlm. 93.

[11]Lihat, Abu Yahya Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahhab bi Syarkh Minhaj al-Thullab (Surabaya: al-Hidayah, tt), juz I, hlm. 102-113. Periksa juga beberapa hadis yang menjadi landasan konstruksi tersebut dalam, Hasan Sulaiman al-Nuri dan Alawi Abbas al-Maliki, Ibanat al-Ahkam: Syarkh Bulugh al-Maram (Beirut: dar al-Fikr, 2004), juz II, hlm. 213-248.

[12]Jenis zakat ini diposisikan sama dengan sektor perdagangan. Sebab, berprofesi sama halnya dengan menjual jasa. Contoh yang sederhana adalah profesi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

[13]M. Atho’ Mudzar, Pendekatan Studi Islam: dalam Teori dan Praktik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 23.

[14]C. Kluckhohn, sebagaimana dikutip Koentjaraningrat, dalam karyanya, Universal Categories of Culture (1953), mengidentifikasi bahwa terdapat tujuh unsur-unsur pembentuk suatu kebudayaan manusia, yaitu; bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencahariaan hidup, sistem religi, dan kesenian. Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi…, hlm. 80-81. Lihat juga kerangka gambar Koentjaraningrat berikut penjelasannya pada halaman 92-94. Baca juga penjelasan Clifford Geertz tentang agama sebagai sebuah sistem kebudayaan dalam, Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), hlm. 87-125.

[15]Dalam hal ini menarik apa yang diungkapkan oleh Ibrahim Moosa ketika memberikan kata pengantar dalam buku Fazlur Rahman, Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism, yakni sebagai berikut:… “Having raised the question of international relations, politics and economics, that does not mean that scholars of religion must become economics and political scientists. However, the study of religion will suffer if its insights do not take coqnizance of how the discources of politics, economics, and culture impact on the performance of religion and vice-verse”. Ebrahem Moosa “Introduction” dalam Fazlur Rahman, Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism, (Oxford:Oneworld Publication, 2000), hlm 28

[16]Carl Olson, “Antropology”, dalam Carl Olson (ed.), Theory and Method in the Study of Religion: A Selection of Critical Readings (Ontario: Nelson Thomson Learning, 2003), hlm. 238.

[17]Sujono, Pendekatan Studi Agama dalam Kajian Islam, dalam http://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/03/22/antropologi-agama/. Diakses pada tanggal 23 Desember 2010.

[18]Karena pada saat manusia melakukan interpretasi terhadap ajaran agama, maka mereka dipengaruhi oleh lingkungan budaya―primordial―yang telah melekat di dalam dirinya.

[19][1]Pendekatan antropologi dalam kajian komparatif Islam di Indonesia dan Maroko yang dilakukan oleh Clifford Geertz, misalnya, membuktikan adanya pengaruh budaya dalam memahami Islam. Di Indonesia Islam menjelma menjadi suatu agama yang sinkretik, sementara di Maroko Islam mempunyai sifat yang agresif dan penuh gairah. Perbedaan manifestasi agama itu menunjukkan betapa realitas agama sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya. Lihat, Clifford Geertz, Islam Observed: Religious Development in Morocco and Indonesia (USA: The University of Chicago Press, 1971).

[20]M. Atho’ Mudzar, op. Cit., hlm. 15.

[21]Ibid., hlm. 60.

[22]David N. Gellner, op. Cit., hlm. 34.

[23]Lihat, Clifford Geertz, Abangan Santri Priyayi dalam Masyarakat Jawa, terj. Aswab Mahasin dan Bur Rasuanto (Jakarta: Pustaka Jaya, 1982).

[24]Lihat, Andrew Beatty, Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account, (United Kingdong: Cambridge University Press, 1999).

[25]Sujono, loc. Cit.

[26]Orang yang pertama kali berbicara mengenai ta’wil al-hadis adalah Imam Syafi’i. Lihat, Abu Zahwu, Al-Hadis wa al-Muhadditsun (Mesir: Syirkah Mishriyyah, tt), hlm 471. Lihat juga, Said Agil Husein al-Munawwar, “Metode Pemahaman Hadis; Pendekatan Historis, Sosiologis dan Antropologis”, dalam Jurnal Metafora (Jakarta: HMJ TH Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah , 1998), hlm 33.

[27]Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif  al-Qur’an (Jakarta: Paramadina, 1999), hlm. 104-107.

[28]Kontinuitas nilai dalam masyarakat merupakan hal yang wajar, karena setiap kelompok masyarakat tidak bisa bebas dari nilai-nilai lokal dan nilai universal. Kalau beberapa institusi keagamaan pra-Islam di dalam Islam diakomodir di dalam Islam, bukan berarti hal ini adalah kelanjutan dari agama-agama selanjutnya tanpa pesan-pesan baru, tetapi konsep universalitas dalam ajaran Islam antara lain dibangun atas nilai-nilai lokal yang boleh jadi bersumber dari agama-agama sebelumnya. Ibid.

[29]Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), hlm 1.

[30]Said Agil Husein Al-Munawwar…, op. Cit, hlm. 34-35.

Entry Filed under: Studi Islam

One Comment Add your own

  • 1. kidipowardoyo.  |  April 21, 2011 pukul 10:28 am

    Salam. Allah SUDAH mempunyai RENCANA AGUNG-Nya sendiri walu Iblis mengatakan bahwa manusia hanya makhluk bumi ( daging dan tulang.) yang akan menumpahkan darah antar sesamanya dan bikin kerusakan dimuka bumi. s. Az Zujruf Q.S. 43: 37 dengan rekan-rekannya di s. al A’raaf Q.S. 7:27. teruus mengobarkan kedengkiandan pertumpahan darah antar sesama, supaya ternyata “ramalan Iblis.” benbar adanya. Waspadalah. Salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: