Pengertian Hadis

Desember 28, 2010 zunlynadia

  1. Hadis adalah segala sesuatu yang bersumber atau disandarkan kepada nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan, maupun sifat-sifatnya..

Dari pengertian di atas, terdapat empat macam unsur dalam hadis nabi, yaitu: perkataan, perbuatan, pernyataan dan sifat-sifat nabi.

  1. perkataan. Yang dimaksud perkataan Nabi Muhammad s.a.w  ialah perkataan yang pernah beliau ucapkan dalam berbagai bidang. Seperti bidang hokum (syariat), akhlaq, aqidah, pendidikan, dan sebagainya. Sebagai contoh perkataan beliau yang mengandung hokum syariat, misalnya sabda beliau: “sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung dengan niatnya”

Dengan demikian hokum yang terkandung dalam perkataan Nabi diatas adalah kewajiban niat dalam segala amal perbuatan untuk mendapat pengakuan syah dari syara’.

Kemudian contoh sabda Nabi yang mengandung akhlak misalnya sabda beliau : “Perhatikan tiga hal: barang siapa yang sanggup menghimpunnya niscaya akan mencangkup iman yang sempurna, yakni 1. jujur terhadap diri sendiri, 2. Mengucap salam perdamaian pada seluruh dunia dan 3. Mendermakan apa yang menjadi kepentingan umum (HR. Bukhari).

Dari sabda Nabi tersebut menganjurkan seseorang untuk berakhlak luhur, jujur, cinta perdamaian dan dermawan.

  1. Perbuatan. Yang dimaksud perbuatan Nabi Muhammad Saw adalah berupa penjelasan praktis berupa peraturan-peraturan syariat yang belum jelas cara pelaksanaannya, miusalnya cara bersembahyang dan cara menghadap kiblat dalam sembahyang sunat diatas kendaraan yang sedang berjalan, dimana semua itu telah dipraktikkan oleh Nabi dengan perbuatan beliau dihadapan para sahabat
  2. Taqrir/pernyataan. Yang dimaksud dengan taqrir/pernyataan Nabi ialah keadaan beliau mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat dihadapan beliau.

Contoh taqrir Nabi Muhammad Saw tentang perbuatab sahabat yang dilakukan dihadapannya adalah tindakan salah seorang sahabat yang bernama Khalid bin Walid, dalam salah satu jamuan makan, menyajikan masakan daging biawak dan mempersilahkan kepada Nabi untuk menikmatinya bersama para undangan. Beliau menjawab: Tidak, berhubung binatang nini tidak terdapat di kampong kaumku, dan aku jijik padanya. Kata Khalid: “segera aku memotongnya dan memakannya sedang Rosulullah Saw melihat kepadaku” (HR Bukhari dan Muslim).

Tindakan Khalid dan para sahabat memakan daging biawak tersebut, disaksikan oleh Nabi, dan beliau tidak menyanggahnya. Keengganan beliau menyanggahnya disebabkan karena jijik.

Adapun yang termasuk taqrir qauliyah adalah apabila seorang sahabat berkata: ” Aku berbuat demikian atau sahabat pada berbuat behgitu” dihadapan Rosul, dan beliau tidak mencegahnya atau melarangnya.

Akan tetapi diamnya Rosulullah terhadap perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh para sahabat ada syaratnya yaitu sahabat tersebut harus taat pada agama karena diamnya Nabi terhadap apa yang dilakuakan dan diucapkan oleh orang munafiq, bukan berarti memberi persetujuan. Karena sering sekali Nabi mendiamkan apa yang dilakukan oleh oleh orang munafiq karena beliau tahu sanggahan dan ucapan tidak akan memberikan manfaat kepadanya.

    1. Sifat-sifat, keadaan-keadaan dan himmah (hasrat) Rasulullah Saw.

Sifat-sifat dan keadaan beliau yang termasuk unsure Hadis, ialah:

  1. Sifat-sifat beliau yang dilukiskan oleh para sahat dan ahli tarikh, seperti sifat-sifat dan bentuk jasmaniyah beliau dilukiskan sebagai berikut:

“Rosulullah itu adalah sebaik-baik manusia mengenai paras mukanya dan bentuk tubuhnya. Beliau bukan orang yang tinggi dan bukan pula orang pendek. (HR. Bukhari Muslim).

  1. Silsilan-silsilah, nama-nama dan tahun kelahiran yang telah ditetapkan oleh para sahabat dan ahli tarikh.
  2. Himmah (hasrat) beliau yang belum sempat direalisir. Misalnya hasrat beliau untuk berpuasa pada tanggal 9 ‘Asyura, seperti yang diriwayatkan Ibnu Abbas:

“Dikala Rosululah berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk dipuasai, para sahabat menghadap kepada Nabi, mereka berkata: “Ya Rosulullah, bahwa hari ini adalah yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani”. Sahut Rasulullah: “Tahun yang akan dating, Insya Allah aku akan berpuasa tanggal sembilan” (HR Muslim dan Abu Dawud)

Tetapi Rosulullah tidak menjalankan puasa pada tahun depan, disebabkan beliau telah wafat.

Menurut Imam Syafi’I, menjalankan himmah itu disunatkan, karena ia termasuk salah satu bagian sunnah, yakni: sunnah-hammiyah.

Dengan memperhatikan macam-macam unsur al-Hadist, para ulama hadis membagi hadist secara berturut-berturut  adalah:

  1. Sunnah – qauliyah
  2. Sunnah – fi’liyah
  3. Sunnah – Taqririyah
  4. Sunnah – hammiyah

Adapun pengertian Hadis secara luas, sebagaimana yang dikemukakan oleh sebagian para ahli hadis, tidak hanya mencangkup sesuatu yang dimarfu’kan kepada Nabi Muhammad saja, tetapi juga perkataan, perbuatan, dan taqrir yang disandarkan kepada sahabat dan tabi’iy pun disebut hadis. Dengan demikian hadis menurut pengertian ini, meliputi segala berita yang marfu’, mauquf (yang disandarkan kepada sahabat) dan maqthu’ (yang disandarkan kepada tabi’iy).

 

Entry Filed under: Hadis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: