JENIS – JENIS HADIS

Desember 28, 2010 zunlynadia

Ditinjau dari sedikit atau banyaknya rawy yang menjadi sumber berita, Hadis terbagi menjadi dua macam, yakni: Hadis Mutawatir dan Hadis Ahad.

 

  1. Hadis Mutawatir

Hadis Mutawatir adalah suatu hadis hasil tanggapan dari pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawy, yang menurut adapt kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk berdusta.

Dari pengertian diatas, maka suatu hadis baru dapat dikatakan mutawatir bila telah memenuhi tiga syarat, yakni:

  1. Pewartaan yang disampaikan oleh rawy-rawy tersebut harus berdasarkan tanggapan pancaindera. Yakni warta mereka sampaikan itu harus benar-benar hasil pendengaran atau penglihatan sendiri. Kalau pewartaan itu hasil pemikiran semata-mata atau hasil rangkuman dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain atau hasil istimbath dari satu dalil dengan dalil yang lain, bukan berita mutawatir.
  2. Jumlah rawy-rawynya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka bersepakat untuk berbohong. Para ulama berbeda-beda pendapatnya menentukan batasan yang diperlukan untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta:
    1. Abu Thayyib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang, karena diqiyaskan dengan banyaknya saksi yang diperlukan Hakin untuk memberi vonis kepada terdakwa.
    2. Ash-habusy Syafi’I menentukan minimal 5 orang, karena mengqiyaskannya dengan jumlah para Nabi yang mendapat gelar ulul ‘azmi.
    3. Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang, berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah dalam surat al-Anfal 65, tenang sugesti Tuhan kepada orang-orang Mu’min yang pada tahan uji, yang hanya dengan berjumlah 20  orang saja mampu mengalahkan orang kafir sejumlah 200 orang.
    4. Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang, karena mereka mengqiyaskan dengan firman Allah:

” Ya Nabi, cukuplah Allah dan orang-orang Mu’min yang mengikutimu (menjadi penolongmu)”.

Keadaan orang-orang mu’min pada waktu itu baru 40 orang. Jumlah sekian itulah merupakan jumlah minimal untuk dijadikan penolong-penolong yang setia dalam mencapai suatu tujuan.

  1. Adanya keseimbangan jumlah antara rawy-rawy dalam tabaqah (lapisan) pertama dengan jumlah rawy-rawi dalam tabaqah berikutnya. Oleh karena itu, kalau sebuah hadis diriwayatkan oleh sepuluh sahabat, misalnya, kemudian diterima oleh lima orang tabi’iy dan seterusnya hanya diriwayatkan oleh dua orang tabi’it-tabi’in, bukan hadis mutawatir. Sebab jumlah rawy-rawynya tidak seimbang antara thabaqah pertama, kedua dan ketiga.

 

Pendapat para Ulama tentang Hadis Mutawatir

 

Karena syarat-syarat hadis Mutawatir itu demikian ketatnya, maka sebagian ulama seperti Ibnu Hibban dan al-Hazimy menganggap bahwa hadis Mutawatir itu tidak mungkin ada. Sedangkan menurut Ibnu Sholah, hadis Mutawatir itu memang ada, hanya jumlahnya terlalu kecil.

Kedua pendapat tersebut tidak dibenarkan oleh Ibnu Hajar, menurut beliau Hadis Mutawatir itu banyak didapati dalam kitab-kitab yang masyhur. Bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun Hadis-hadis Mutawatir, seperti kitab al-Azharu’l-Mutanatsirah fi’l-Akhbari ‘l Mutawatirah, karya As-Suyuti. Dalam kitab tersebut, disusun menurut bab demi dab dan setiap hadis diterangkan sanad-sanadnya yang dipakai oleh pentakhrijnya.

 

Klasifikasi Hadis Mutawatir

 

Para ahli Ushul membagi hadis Mutawatir menjadi dua yakni Mutawatir lafdhy dan Mutawatir Ma’nawy.

Hadis Mutawatir Lafdhy ialah Hadis yang diriwayakan oleh orang banyak yang susunan redaksi dan ma’nanya sesuai benar antara riwayat yang satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain hadis Mutrawatir lafdhy adalah hadis yang mutawatir lafadhnya.

Contoh Hadis Mutawatir lafdhy, antara lain:

Menurut Abu Bakar al-Bazzar, Hadist tersebut diriwayatkan oleh 40 orang sahabat, dan sebagian ulama mengatakan bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh 62 orang sahabat dengan susunan redaksi dan makna yang sama.

 

Hadis Mutawatir-ma’nawy ialah Hadis mutawatir yang rawi-rawinya berlainan dalam menyusun redaksi pemberitaan tetapi berita yang berlainan susunan redaksinya itu terdapat persesuaian prinsip-prinsipnya.

Misalnya Hadis tentang mengangkat tangan pada saat berdo’a:

“Konon Nabi Muhammad Saw tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam do’a-do’a beliau, selain dalam do’a sholat Istisqa. Dan beliau mengangkat tangannya, hingga nampak putih-putih kedua ketiaknya. (HR Bukhari Muslim).

 

Hadis seperti ini, tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Antar lain Hadis-hadis yang ditakhrijkan oleh Imam Ahmad, al-Hakim, dan Abu Dawud yang berbunyi:

 

“Konon Rasulullah Saw mengangkat tangan, sejajar dengan kedua pundak beliau”.

Meski hadis-hadis tersebut berbewda-beda redaksinya, namun karena mempunyai qadar mustarak (titik persamaan) yang sama, yakni keadaan Rosulullah yang mengangkat tangan pada saat berdo’a, maka disebut sebagai hadis Mutawatir-ma’nawy.

 

  1. Hadis Ahad

Hadis Ahad adalah suatu Hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis Mutawatir.

 

Klasifikasi Hadis Ahad menjadi Masyhur, Aziz dan Gharib:

  1. Hadis Masyhur

Yang disebut hadis Masyhur ialah : hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih, tetapi belum mencapai derajad mutawatir.

 

Macam-macam hadis Masyhur

  1. Masyhur dikalangan para Muhaddistin dan lainnya (golongan ulama ahli ilmu dan orang umum).
  2. Masyhur dikalangan ahli-ahli ilmu tertentu misalnya hanya masyhur dikalangan ahli hadis saja, atau ahli fikih saja atau ahli tasawuf saja dan seterusnya.
  3. Masyhur dikalangan orang-orang umum

 

  1. Hadis Aziz

Hadis Aziz adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang, walaupun duao rang rawy tersebut terdapat pada satu thabaqat saja. Kemudian setelah itu, orang-orang pada meriwayatkannya.

Menurut pengertian diatas, yang dikatakan hadis Aziz itu bukan saja yang hanya diriwayatkan oleh dua orang rawy pada setiap thabaqah, yakni sejak dari thabaqah pertama sampai dengan thabaqah terakhir harus terdiri dari dua dua orang, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian muhadditsin, tetapi selagi pada salah satu thabaqah terdapat dua orang rawy, sudah bisa dikatakan hadis Aziz.

 

  1. Hadis Gharib

Yang dimaksud dengan hadis gharib ialah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang rawy.

 

Pembagian hadis Ahad menjadi Masyhur, Aziz dan Gharib, tidak bertentangan dengan pembagian Hadis Ahad menjadi Shahih, Hasan dan Dla’if. Sebab membagi hadis Ahad menjadi tiga macam tersebut, bukan bertujuan langsung untuk menentukan maqbul dan mardudnya (diterima dan ditolaknya) suatu hadis, tetapi bertujuan untuk mengetahui banyak dan sedikitnya sanad. Sedang membagi hadis Ahad kepada Shahih, Hasan dan Dla’if adalah tujuan untuk diterima atau ditolaknya suatu Hadis.

Dengan demikian, Hadis Masyhur dan Aziz itu, masing-masing ada yang shahih, hasan dan dlaif. Juga tidak setiap hadis gharib itu dla’if. Ia adakalanya shahih, apabila memenuhi syarat-syarat yang dapat diterima dan tidak bertentangan dengan hadis yang lebih rajah. Hanya saja pada umumnya hadis gharib itu dla’if, dan kalau ada yang shahih, itupun hanya sedikit sekali.

 

Klasifikasi Hadis Ahad menjadi Shahih, Hasan dan Dla’if

Jika hadis mutawatir sebagaimana yang telah dijelaskan diatas tidak bisa diragukan lagi keshahihannya, bahwa Nabi Muhammad Saw benar-benar bersabda, berbuat atau menyatakan iqrar (persetujuan)nya di hadapan para sahabat, berdasarkan sumber yang banyak sekali, yang mustahil mereka bersepakat untuk berdusta. Olehkarena sumber-sumbernya sudah meyakinkan akan kebenarannya, maka tidak perlu diperiksa dan diselidiki secara mendalam identitas para rawy itu. Hal ini berbeda dengan hadis Ahad yang memberikan faedah “dhanny” (prasangka yang kuat akan kebenarannya), mengharuskan kepada kita untuk mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan seara seksama, mengenai identitas para rawinya, di samping keharusan mengadakan penyelidikan pada segi-segi yang lain, agar hadis ahad tersebut dapat diterima sebagai hujjah atau ditolak, bila ternyata terdapat cacat yang menyebabkan penolakannya. Dari segi ini, hadis ahad terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: Hadis Shahih, Hasan dan Dla’if.

  1. Hadis Shahih

Yang dimaksud dengan Hadis Shahih menurut ahli Hadis adalah hadis yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawy yang adil, sempurna ingatannya, sanadnya bersambung, tidak ber’illat dan tidak janggal.

 

Syarat-syarat hadis Shahih

Menurut pengertian ahli hadis tersebut, bahwa suatu hadis dapat dinilai shahih, apabila telah memenuhi lima syarat:

  1. Rawynya bersifat adil

Keadilan seorang rawy, menurut Ibnu Sama’any harus memenuhi 4 syarat:

  1. Selalu memelihara perbuatan taat dan menjauhi perbuatan ma’siyat.
  2. Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun.
  3. Tidak melakukan perkara-perkara mubah yang dapat menggugurkan iman kepada qadar dan mengakibatkan penyesalan.
  4. Tidak mengikuti pendapat salah satu madzhab yang bertentangandengan dasar syara’

Adapun menurut al-Irsyad pengertian adil adalah berpedang teguh kepada pedoman adab-adab syara’. Sedangkan pengertian adil yang mencakup dua definisi tersebut dikemukakan oleh al-Razi yakni:

“‘Adalah ialah tenaga jiwa, yang mendorong untuk selalu bertindak taqwa, menjauhi dosa-dosa besar, menjauhi kebiasaan-kebiasaan melakukan dosa-dosa kecil dan meninggalkan perbuatan-perbuatan mubah yang dapat menodai muru’ah seperti makan di jalan umum, buang air kecil di tempat yang bukan disediakan untuknya, dan bergurauan yang berlebih-lebihan”.

Dengan demikian ‘Adalah itu merupakan ibarat terkumpulnya beberapa hal yakni:

-         Islam. Karena periwayatan daro seorang kafir, tidak dapat diterima. Sebab ia dianggap tidak dapat dipercaya. Lebih-lebih kedudukan meriwayat hadis itu sangat tinggi lagi mulia.

-         Mukallaf. Karenanya periwayatan dari anak yang belum dewasa, menurut pendapat yang lebih shahih, tidak diterima. Sebab dia belum terjamin dari kedustaan. Demikian pula periwayatan orang gila.

-         Selamat dari sebab-sebab yang menjadikan seseorang fasiq dan dari sebab-sebab yang dapat mencacatkan kepribadian seseorang.

 

Perbedaan adil dalam periwayatan dan persaksian

Keadilan dalam periwayatan hadis, lebih umum daripada adil dalam persaksian (syahadah). Didalam persaksian, dikatakan adil jka terdiri dari dua orang laki-laki yang merdeka, sedang dalam periwayatan cukup seorang saja, bauk orang laki-laki maupun perempuan, seorang budak ataupun orang merdeka, sebagai buktinya, banyak sekali hadis-hadis yang diriwayatkan oleh isteri-isteri Nabi saw atau oleh wanita-wanita lain dan hadis-hadis tersebut diterima oleh seluruh umat Islam, sejajar dengan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh orang laki-laki, asal memenuhi syarat syaratnya sebagai perawi yang adil dan dlabit.

 

  1. Sempurna ingatan / dlabit

Yang dimaksud denagn dlabit ialah orang yang kuat ingatannya, artinya bahwa ingatnya lebih banyak daripada lupanya, dan kebenarannya lebih banyak daripada kesalahannya. Kalau seseorang mempunyai ingatan yang kuat, sejak dari menerima sampai kepada menyampaikan kepada orang lain dan ingatannya itu sanggup dikeluarkan kapan dan dimana saja ia kehendaki, disebut orang yang dlabitush Shadri.

Jika apa yang disampaikan itu berdasarkan pada buku catatannya, maka disebut sebagai orang yang dlabithul Kitab

Para ahli hadis mensyaratkan dalam mengambil suatu hadis, bersifat adil lagi dlabit. Rawy yang memiliki kedua sifat tersebut disebut tsiqah. Orang fasik, ahli bid’ah, dan orang yang tidak dikenal kelakuannya, walaupun ia seorang yang kuat ingatannya, tidak dapat diterima periwayatannya. Demikian juga orang pelupa dan banyak keliru, kendatipun ia terkenal orang yang jujur lagi adil, tidak diterima periwayatannya. Sebab sifat-sifat seperti fasik, bid’ah, banyak salah, pelupa, lengah dan tidak baik hafalan dan bodoh, adalah termasuk sifat-sifat tercela yang dapat mencacatkan ke-tsiqa-an seorang rawy, sehingga karenanya hadis yang mereka riwayatkan adalah dla’if.

Dlabith adalah ibarat terkumpulnya beberapa hal, yakni:

-         Tidak pelupa

-         Hafal terhadap apa yang didiktekan kepada muridnya, bila ia memberikan hadis dengan hafalan, dan terjaga kitabnya dari kelemahan, bila ia meriwayatkan dari kitabnya.

-         Menguasai apa yang diriwayatkan, memahami maksudnya dan mengetahui makna yang dapat mengalihkan maksud, bila ia meriwayatkan menurut maknanya saja.

 

  1. Sanadnya tidak terputus / bersambung

Yang dimaksud dengan sanad bersambung ialah sanad yang selamat dari keguguran. Dengan kata lain, bahwa tiap-tiap rawy dapat saling bertemu dan menerima langsung dari guru yang memberinya.

 

  1. Hadis itu tidak berillat

‘Illat hadis ialah suatu penyakit yang samamr-samar, yang dapat menodai keshahihan hadis. Misalnya meriwayatkan hadis secara secara muttashil (bersambung) terhadap hadis mursal (yang gugur seorang sahabat yang meriwayatkannya) atau terhadap hadis munqathi’ (yang gugur salah seorang rawinya), dan sebaliknya. Selain itu, yang dapat dianggap suatu ‘illat hadis, yaitu suatu sisipan yang terdapat pada matan hadis.

 

  1. Tidak ada kejanggalan

Kejanggalan suatu hadis itu terletak adanya pertentangan antara suatu hadis yang diriwayatkan oleh rawy yang maqbul (yang dapat diterima periwayatannya) denagn hadis yang diriwayatkan oleh rawy yang lebih rajih (kuat) daripadanya.

 

Dengan demikian para ahli hadis telah menetapkan kelima syarat tersebut diatas untuk kategori hadis shahih. Sedangkan para ahli ushul dan ahli fikih tidak mensyaratkan hadis shahih dengan ketiadaan illat dan kejanggalan pada hadis.

 

Klasifikasi Hadis Shahih

Hadis Shahih terbagi menjadi dua bagian:

  1. Shahih li-dzatih dan
  2. Shahih li-ghairih

Hadis shahih yang memenuhi syarat-syarat seperti yang tersebut diatas, disebut hadis shahih li-dzatih.

Kedlabitan seorang rawy yang kurang sempurna menjadikan hadis shahih lidzatih turun nilainya menjadi hadis hasan li-dzatih

Sedangkan yang di maksud hadis shahih li ghairih, ialah:

Hadis yang keadaan rawi-rawinya kurang hafidz dan dlabith, tetapi mereka masih terkenal orang yang jujur, hingga karenanya berderajad hasan, lalu didapati padanya dari jalan lain yang serupa atau lebih kuat, hal-hal yang dapat menutupi kekurangan yang menimpanya itu.

 

2. Hadis Hasan

 

  1. Hadis Qudsy

Yang disebut Hadis Qudsy atau Hadis Rabbany atau Hadis Ilahi adalah sesuatu yang dikabarkan Allah kepada Nabi-Nya dengan melalui ilham atau impian, yang kemudian Nab menyampaikan makna dari ilham atau impian tersebut dalam ungkapan kata beliau sendiri.

Jumlah hadis qudsy itu tidak banyak, hanya berjumlah kurang lebih seratus hadis, yang oleh sebagian ulama dikumpulkan dalam kitab. Misalnya Ibnu Taimiyah mengumpulkan Hadis-hadis qudsy dengan diberi nama al-Kalimu’th Thayyib, sedangkan Dr. Ahmad As-Syarbashy menyusun kitab yang berisikan hadis-hadis qudsy dengan diberi nama “Adamul Hadist al-Qudsiyah”.

 

Perbedaan Hadis Qudsy dengan Hadis Nabawy

 

Hadis Qudsy biasanya diberi ciri-ciri dengan dibubuhi kalimat-kalimat :

  1. Qala (yaqulu) Allahu
  2. Fima yarwihi ‘anillahi Tabaraka wa Ta’ala dan
  3. Lafadh-lafadh lain yang semakna dengan apa yang tersebut diatas, setelah selesai penyebutan rawi yang menjadi sumber (pertama)nya, yakni sahabat

 

Sedang untuk hadis nabawy (biasa), tidak ada tanda-tanda yang demikian itu. Misalnya:

 

“Dari Abu Dzarr Jundab bin Junadah RA dari Nabi Saw berdasarkan berita yang disampaikan Allah Tabaraka wa Ta’ala, bahwa Allah telah berfirman: Wahai hambaku!bAku telah mengharamkan dhalim terhadap diriku sendiri. Aku telah jadikan perbuatan dhalim itu terlarang antara kamu sekalian. Karena itu janganlah kamu saling dhalim-mendhalimi,dan seterusnya (HR Muslim)

 

Perbedaan Hadis Qudsy dengan al-Qur’an

  1. Semua lafadh-lafadh (ayat-ayat) al-Qur’an adalah mu’jizat dan mutawatir, sedang hadis qudsy tidak demikian halnya.
  2. Ketentuan hukum yang berlaku bagi al-Qur’an, tidak berlaku bagi hadis, seperti pantangan menyentuhnya bagi orang yang sedang berhadats kecil, dan pantangan membacanya bagi orang yang berhadats besar. Sedang untuk hadis Qudsy tidak ada pantangannya.
  3. Setiap huruf yang dibaca dari al-Qur’an memberikan hak pahala kepada pembacanya sepuluh kebaikan.
  4. Meriwayatkan al-Qur’an tidak boleh dengan maknanya saja atau mengganti lafadh sinonimnya. Hal ini berbeda dengan hadis.

 

 

 

 

 

 

Entry Filed under: Hadis

Add your own


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: